303 research outputs found

    Eksistensi Parmin Sebagai Penambang Emas Lebong Tandai Dalam Dokumenter Potret "Emas di Tanah Terlarang"

    No full text
    Karya tugas akhir penyutradaraan dokumenter genre potret "Emas Di Tanah Terlarang merupakan sebuah karya film dokumenter potret Program dokumenter adalah sebuah program yang memaparkan fakta kehidupan manusia yang bernilai esensial dan eksistensial Penciptaan karya film dokumenter "Emas Di Tanah Terlarang bertujuan untuk memberikan alternatıf tayangan bagi penonton yang didalamnya memilikı nılai informatıf dari kehidupan seorang penambang emas dalam sebuah visualObjek penciptaan karya film dokumenter "Emas Di Tanah Terlarang" adalah nilai kehidupan dari seorang penambang emas yang bernama Parmin yang setiap harinya menambang mengumpulkan bongkahan batu demi menafkahi keluarganya, yang dikemas dalam genre potret Karya ini menggunakan struktur penuturan pent kronologis yang menampilkan penceritaan melalui urutan kegiatan sesuai dengan berjalannya waktu dan perjalanan yang dilalui Parmin. Karya dokumenter "Emas Di Tanah Terlarang juga menggunakan teknik expository dimana terdapat narası Parmin yang akan menjelaskan proses perjalanannya Struktur penuturan kronologis dan menggunakan teknik expository dipilih karena mengingat begitu banyak masalah sosial dan masalah batin antara penambang dan pengepul yang harus dipaparkan sehingga masalah-masalah tersebut harus difokuskan, sehingga informası akan tersampaikan dengan baik kepada penonto

    Eksistensi Parmin Sebagai Penambang Emas Lebong Tandai Dalam Dokumenter Potret "Emas di Tanah Terlarang"

    Full text link
    Karya tugas akhir penyutradaraan dokumenter genre potret “Emas Di Tanah Terlarang” merupakan sebuah karya film dokumenter potret. Program dokumenter adalah sebuah program yang memaparkan fakta kehidupan manusia yang bernilai esensial dan eksistensial. Penciptaan karya film dokumenter “Emas Di Tanah Terlarang” bertujuan untuk memberikan alternatif tayangan bagi penonton yang didalamnya memiliki nilai informatif dari kehidupan seorang penambang emas dalam sebuah visual. Objek penciptaan karya film dokumenter “Emas Di Tanah Terlarang” adalah nilai kehidupan dari seorang penambang emas yang bernama Parmin yang setiap harinya menambang mengumpulkan bongkahan batu demi menafkahi keluarganya, yang dikemas dalam genre potret. Karya ini menggunakan struktur penuturan kronologis yang menampilkan penceritaan melalui urutan kegiatan sesuai dengan berjalannya waktu dan perjalanan yang dilalui Parmin. Karya dokumenter “Emas Di Tanah Terlarang” juga menggunakan teknik expository dimana terdapat narasi Parmin yang akan menjelaskan proses perjalanannya. Struktur penuturan kronologis dan menggunakan teknik expository dipilih karena mengingat begitu banyak masalah sosial dan masalah batin antara penambang dan pengepul yang harus dipaparkan sehingga masalah-masalah tersebut harus difokuskan, sehingga informasi akan tersampaikan dengan baik kepada penonton

    Restitution des résultats de la recherche Prostitution des mineurs et nouvelles formes de proxénétisme (PARMIN)

    No full text
    La forge numérique. (2024, 10 juin). Restitution des résultats de la recherche Prostitution des mineurs et nouvelles formes de proxénétisme (PARMIN) , in Perspectives interdisciplinaires sur la prostitution des mineur(e)s et réflexions institutionnelles. [Vidéo]. Canal-U. https://doi.org/10.60527/fqsj-mg23.International audienceEn replay sur Canal U https://www.canal-u.tv/chaines/la-forge-numerique/restitution-des-resultats-de-la-recherche-prostitution-des-mineurs-et</a

    Pengembangan Model Science Integrated Learning (SIL) untuk Meningkatkan Kemandirian Kerja Ilmiah pada Materi Etnosains Program Studi Pendidikan IPA

    Full text link
    Parmin. 2017. Pengembangan Model Science Integrated Learning (SIL) untuk Meningkatkan Kemandirian Kerja Ilmiah pada Materi Etnosains Program Studi Pendidikan IPA.Disertasi.Promotor: Prof. Dr. rer.nat. Sajidan, M.Si.; Ko-Promotor: Prof. Dr. Ashadi; Ko-Promotor: Prof. Dr. Sutikno, M.T. Program Studi Pendidikan IPA, Program Pascasarjana Universitas Sebelas Maret Surakarta. ABSTRAK Penelitian ini bertujuan untuk: 1) mengembangkan desain Model Science Integrated Learning (SIL), 2) menguji tingkat kelayakan Model SIL berdasarkan penilaian pakar pembelajaran IPA, 3) menganalisis karakteristik materi ajar etnosains yang sesuai dengan Model SIL, 4) menguji keefektifan Model SIL pada materi etnosains, dan 5) menguji dampak penerapan Model SILterhadap kemandirian kerja ilmiah mahasiswa Program Studi Pendidikan IPA. Penelitian dan pengembangan Model SIL menggunakan prosedur Borg and Gall. Sasaran penerapan model adalah mahasiswa semester lima di tiga perguruan tinggi yang menyelenggarakan Program Studi S1 Pendidikan IPA yaitu; Universitas Negeri Semarang (UNNES), Universitas Negeri Yogyakarta (UNY), dan Universitas Negeri Surabaya (UNESA). Data yang dikumpulkan dalam penelitian ini meliputi; validasi model, keefektifan implementasi model, keterlaksanaan sintaks, sistem sosial, prinsip reaksi, sistem pendukung, dan dampak instruksional serta dampak pengiring dan kemandirian kerja ilmiah mahasiswa. Keefektifan sintaks model diuji dengan uji t test menggunakan Statistical Package for the Social Sciences (SPSS). Data kemandirian kerja ilmiah mahasiswa dianalisis dengan teknik deskriptif sesuai kriteria ideal yaitu; mean ideal dan standar deviasi ideal. Model pembelajaran dikemas dalam bentuk buku pedoman penerapan Model SIL yang dilengkapi dengan materi ajar, silabus, rencana pembelajaran semester, dan instrumen penilaian. Model hasil pengembangan bermanfaat untuk memenuhi kebutuhan perangkat pembelajaran dalam pencapaian pembelajaran Matakuliah Etnosains di Program Studi Pendidikan IPA. Hasil penelitian meliputi; 1) Model SIL memiliki 6 (enam) sintaks pembelajaran yang meliputi; eksplorasi, integrasi konsep, eksperimen, analisis, pengambilan tindakan, dan refleksi; 2) Model SILdinilai sangat layak oleh pakar dengan nilai 92 dari nilai maksimal 100. SIL sebagai model pembelajaran memiliki enam komponen meliputi; sintakmatik, sistem sosial, prinsip reaksi, sistem pendukung, dampak instruksional, dan dampak pengiring; 3) karakteristik materi etnosains yang sesuai dengan Model SIL dengan mengintegrasikan pengetahuan asli masyarakat yang telah direkonstruksi. Variasi yang terjadi pada materi etnosains karena perbedaan pengetahuan asli yang dimiliki masyarakat di setiap daerah; 4) Model SIL efektif diterapkan pada mahasiswa dalam pembelajaran etnosains di tiga Program Studi Pendidikan IPA yaitu; Universitas Negeri Semarang, Universitas Negeri Yogyakarta, dan Universitas Negeri Surabaya dengan keseluruhan persentase keefektifan 29% kategori sangat efektif, dan 71% kategori efektif; dan 5) model SILmemiliki pengaruh terhadap kemandirian kerja ilmiah mahasiswa Program Studi Pendidikan IPA. Kata kunci: Science Integrated Learning, kemandirian kerja ilmiah, dan etnosain

    Support for “Islamic State” in Indonesian prisons

    Full text link
    This report examines how alliances for and against the "Islamic State" developed among inmates in Indonesian prisons. Introduction A study of networks in Indonesian prisons that support the Islamic State (IS) suggests that relatively simple interventions by prison officials may be able to limit the influence of hardline ideologues. Only a minority of those convicted of terrorism in Indonesia support IS openly, and there is nothing to suggest that their numbers are increasing. If anything, they are declining. The need to understand the dynamics of prison networks is still urgent, however, because pro-IS inmates can constitute key nodes for encouraging or facilitating travel to Syria and because those who support IS generally support the use of violence at home.1 Preventing the growth of IS influence in prisons is therefore a way of reducing the security threat more generally. Indonesian officials are well aware of the problem, and there have been noticeable improvements in supervision of extremist inmates. The challenges are huge, however, and resources are limited. It may be time to take another look at donor assistance in a way that would avoid some of the problems that have plagued past efforts and see if there is a way to encourage local initiatives, locally developed. Indonesia also needs to adopt a law that would make it a crime to travel abroad to join or assist foreign terrorist organisations, although some makeshift solutions are planned that would draw on existing provisions of the Criminal Code. Without such a ban, however, the triangular link between prisons, extremist groups and groups like IS will persist. After the announcement on 29 June 2014 that the organisation called Islamic State of Iraq and Greater Syria (ISIS) had changed its name to Islamic State and declared its leader to be the caliph of all Muslims, ceremonies to pledge loyalty took place in jihadi communities around Indonesia, including in several prisons. The most publicised of these ceremonies took place in Pasir Putih Prison, a “super maximum security” facility on the island of Nusakambangan off the southern coast of Java, where 24 prisoners, including Indonesia’s best known extremist cleric, Abu Bakar Ba’asyir, swore allegiance on 2 July 2014. This report examines the process by which inmates in two prisons in the Nusakambangan complex, Pasir Putih and Kembang Kuning, chose sides after IS was established. For some, choosing for or against was a question of principle, but for many, more personal and pragmatic interests came into the calculus, such as access to extra food. The most militant inmates often have the best supply networks, with donations and contributions coming in on a regular basis through visitors. If that supply dries up, a leader’s hold on his followers can weaken, as Ba’asyir found when his organisation, Jamaah Anshorul Tauhid (JAT), splintered as a result of his oath to IS. When JAT members stopped sending extra provisions, the less ideologically inclined of Ba’asyir’s followers were willing to align with whoever could fill the gap. For many of the extremists, separation from their families and particularly from their children is the hardest part of incarceration, and desire for contact can be a powerful incentive for cooperation. Personal feuds are also important. On the principle of “the enemy of my enemy is my friend”, some inmates joined the IS camp because they had a dispute with someone who was anti-IS. Again, it is critically important for prison officials to try to understand who is on the outs with whom over what, so they can assess the consequences and use it to their advantage. Differences over points of theology and doctrine do of course take place—one of most heated is between takfir mu’ayyan and takfir am, basically whether one brands individuals as nonbelievers (kafir) by virtue of their membership in a group or on the basis of their own misdeeds. The IS supporters are proponents of takfir mu’ayyan and thus see all agents of state, including police and prison officials, as enemies. But while such ideological convictions are deeply held by a few, many in the pro-IS camp have only a weak grasp of doctrine and their decision to join was influenced by more mundane factors. The Nusakambangan case studies show how alliances can change as the result of the arrival of new inmates, a fight, or a change in government policy. Prison officials need to understand the circumstances that can lead to solidarity among inmates in the face of a perceived threat or the break-up of once-solid friendships. And crucially, they need to realise that no matter how well they understand individuals and alliances in prison, everything can change once a prisoner is released

    PENGEMBANGAN MODUL PEMBELAJARAN IPA TERPADU BERWAWASAN SAINS, LINGKUNGAN, TEKNOLOGI DAN MASYARAKAT

    Full text link
    The research objective to develop an Integrated Science course module minded Science, Environment, Technology and Society. Module develop feasible by experts, students when learning showed good activity and positive impact on the control modul learning materials. The inference module compiled research that effectively used in learning

    Lesson Study untuk Meningkatkan Kualitas Perangkat Pembelajaran IPA pada Tingkat MI

    No full text
    Implementasi lesson study di Madrasah Ibtidaiyah Maqqrijul Huda Pati untuk mengembangkan kerjasama antar guru dalam menyusun perangkat pembelajaran IPA yang terdiri dari: silabus, rencana pelaksanaan pembelajaran, dan lembar kerja siswa. Berdasarkan data penelitian semua perangkat pembelajaran yang dihasilkan melalui lesson study dinyatakan layak digunakan dalam pembelajaran IPA

    WORK ENGAGEMENT IN SMES: DOES WORK SPIRITUALITY PLAY A ROLE AS A MEDIATING VARIABLE?

    Full text link
    This study aims to determine the effect of job crafting and social skills on work engagement with work spirituality as an intervening variable for MSME employees in Kebumen Regency. The population in this study were all MSME actors in Kebumen Regency. The sampling technique was based on the slovin formula and the results obtained were 71 employees. Data collection techniques by distributing questionnaires. The analysis used is validity test, reliability test, classic assumption test, hypothesis test, Sobel test, and path analysis. The data processing tool used is SPSS for Windows version 25.0. The results of this study indicate that social skills and job crafting have a positive effect on work spirituality, social skills have a positive effect on work engagement. However, the results of this study could not prove the effect of job crafting on work spirituality, and did not find a role for work spirituality as a mediation

    PERLUNYA MENGENAL EMOSI SISWA DALAM PENERAPAN METODE PEMBELAJARAN PENDIDIKAN AGAMA ISLAM DI MADRASAH IBTIDAIYAH UYUNUL ULUM DESA GAYAM KECAMATAN NGASEM KABUPATEN

    No full text
    Guru diharapkan dapat mengenai emosi siswa sehingga dapat mempermudah proses belajar mengajar. Sedangan untuk siswa diharapkan dapat menahan emosinya dalam proses pembelajaran. Guru dan siswa diharapkan dapat berinteraksi dengan baik, sehingga efektivitas metode pembelajaran dapat terlaksana dengan baik. Mengingat perlunya mengenal emosi siswa mempunyai korelasi yang cukup signifikan terhadap penerapan metode pembelajaran pendidikan agama Islam di Madrasah lbtidaiyah Uyunul Ulum Desa Gayam Kecamatan Ngasem Kabupaten Bojonegoro, maka guru diharapkan lebih meningkatkan dalam mengenal emosi anak didiknya. Emosi siswa Madrasah lbtidaiyah Uyunul Ulum Desa Gayam Kecamatan Ngasem Kabupaten Bojonegoro secara umum dapat diarahkan kepada hal yang positif, sehingga dapat menjadi siswa yang baik. Penerapan metode pembelajaran pendidikan agama Islam di Madrasah Ibtidaiyah Uyunul Ulum Desa Gayam Kecamatan Ngasem Kabupaten Bojonegoro dapat dilaksanakan dengan baik. Bahwa berdasarkan perhitungan korelasi perlunya mengenal emosi siswa dalam penerapan metode pembelajaran pendidikan agama Islam di Madrasah lbtidaiyah Uyunul Ulum Desa Gayam Kecamatan Ngasem Kabupaten Bojonegoro adalah sebesar 0,672, ini berarti bahwa terdapat korelasi yang cukup antara perlunya mengenal emosi siswa dengan penerapan metode pembelajaran
    corecore