1,721,020 research outputs found

    POLEMIK LAHIRNYA KONSEP QIRĀ‘AH SAB’AH DALAM DISIPLIN ILMU QIRĀ‘AH

    No full text
    Qirā'ah is a very important science in the study of the  Ulūm al-Qur‘ān.The importance of this science lies not only on  the mehod of how to recite the Qur’an but also on the method of how to understabd  the meaning of the Koran. In this regard, understanding the formation of qirā‘ah  history in its present form  becomes important, especially  because  so rich treasures that the qirā‘ah possesses that appeared during the codification of official qirā'ah. The standardization of this qirâ'ah, on the one hand, gives the muslims a lot ease in reading the Koran; on the other hand, it burries the treasures of the qirā'ah science very dynamic during qirā'ah sab'ah codification. This paper discusses the crucial issues related to qirā‘ah, including the dark side of its birth to the critical and the objective reading towards the science. Kata Kunci: Aḥruf, Qirā‘ah Sab’ah, Qirā‘ah ‘Asyrah, riwayat, kodifikasi (tadwīn

    Budaya Sekolah Islami (BUSI): Studi Kasus di SMA Islam Sultan Agung 1 Semarang

    Full text link
    The value crisis has affected the Indonesian people in all areas of life including education. These conditions lead to the importance of intensive value education in schools. This paper aims to find out the concept of Islamic School Culture (Busi) and its implementation pattern in SMA Islam Sultan Agung 1 Semarang. The type of this research is descriptive qualitative. The result of the research shows that Busi in Sultan Agung 1 Semarang Islamic High School includes iqra 'culture, congregational prayer culture, thaharah culture, social interaction culture, and exemplary culture. The implementation pattern has been using top down with three step: socialization, habituation and monitoring. This pattern has succeeded in applying these Islamic values to unite in other school cultural activities in accordance with the vision, mission and objectives of the institution.   Abstrak Krisis nilai telah menimpa bangsa Indonesia pada semua bidang kehidupan  termasuk dunia pendidikan. Kondisi seperti ini menyebabkan pentingnya pendidikan nilai secara intensif di sekolah-sekolah. Tulisan ini bertujuan untuk mengetahui konsep Budaya Sekolah Islami (Busi) dan pola pelaksanaannya di SMA Islam Sultan Agung 1 Semarang. Jenis penelitian ini adalah deskriptif kualitatif. Hasil penelitian menunjukkan bahwa Busi di SMA Islam Sultan Agung 1 Semarang meliputi budaya iqra, budaya shalat berjamaah, budaya thaharah, budaya pergaulan islami, dan budaya keteladanan.  Pola Pelaksanaan Busi dilaksanakan secara top down dengan tahapan sosialisasi, pembiasaan dan monitoring. Pola ini telah berhasil menerapkan nilai-nilai Islam tersebut menyatu dalam aktifitas budaya sekolah yang lain sesuai dengan visi, misi dan tujuan lembag

    KONTRIBUSI M. NATSIR TERHADAP PENDIDIKAN ISLAM DI INDONESIA : PENDIDIKAN BERBASIS TAUHID

    Full text link
    Dikotomi pendidikan merupakan persoalan yang menonjol pada masa permulaan abad ke-20. Yang merupakan konsekuensi dari kebijakan Politik Etis yang resminya dimulai tahun 1901, pemerintah Belanda melakukan perluasan sistem sekolah Barat. Sementara itu, pondok pesantren yang sudah ratusan tahun menjadi lembaga pendidikan penduduk asli tidak mengalami perubahan berarti. Penelitian ini dilakukan dengan tujuan untuk mengetahui bagaimana konsep yang ditawarkan M. Natsir dalam menjembatani persoalan dikotomi pendidikan dan persoalan pendidikan umat Islam di Indonesia pada saat itu, apa saja yang telah dilakukan M. Natsir dalam upaya merealisasikan yang berbasis Tauhid, kalau dikaitkan dengan sekarang dan masa yang akan datang sejauhmana relevansi pendidikan berbasis Tauhid yang ditawarkan M. Natsir. Metode penelitian ini menggunakan studi perpustakaan atau library research yakni suatu penelitian yang berusaha mengkaji secara mendalam permasalahan yang terdapat dalam buku-buku yaang menunjang di perpustakaan. Buku-buku dalam penellitian ini diambil dari sumber primer dan sumber sekunder. M. Natsir memiliki gagasan pendidikan yang didasari dengan Tauhid sebagaimana tertuang dalam ceramahnya: “Mengenal Tuhan, mentauhidkanTuhan, mempercayai dan menyerahkan pada Tuhan harus menjadi dasar bagi tiap-tiap pendidikan yang hendak diberikan pada generasi yang akaan kita didik, jika ita sebagai guru, ibu-bapak yang cinta kepada anaknya yang telah dipercayakan Allah kepada kita” Usaha-usaha yang telah dilakukan Mohammad Natsir dalam merealisasikan gagasnnya itu dengan menddirikan Sekolah Frobel (Taman Kanak-kanak), HIS (Holland Islandsch School = SD), MULO (Meer Uitgebreid Lager School = SMP), serta pertukangan, kursus-kursus, dan ceramaah-ceramah. M. Natsir juga terlibat dalam persiapan mendirikan Sekolah Tinggi Islam di zaman penjajahan Jepang, yang kemudian menjadi UII di Yogyakarta yang sekarang menjadi salah satu Perguruan Tinggi tertua. Setelah kurang lebih 30 tahun M. Natsir mengupayakan perkembangan pendidkan dari bentuk Pesantren ke bentuk Madrasah dan Sekolah Islam, Departemen Agama dan Departemen Pendidikan Dan Kebudayaan dan Departemen Dalam Negeri mengeluarkan SK bersama yang isinya mewajibkan Madrasah untuk melengkapi kurikulumnya dengan ilmu pengetahuan umum. Agar lulusan Madrasah bisa memasuki pendidikaan lanjutan umum. Pendidikan yang menanamkan nlai-nilai Tauhid kepada anak didiknya agar menjadi manusia yang siap dan tangguh, kuat ipteknya dan kuat imtaknya, sudah seharusnya diberikan kepada generasi sekarang dan generasi masa yang akan datang

    Pembentukan akhlak Nabi Muhammad saw. pada masa kanak-kanak dan remaja dalam sīrah nabawiyah

    Full text link
    Studi ini bertujuan untuk mengungkap pembentukan akhlak Nabi Muhammad SAW, faktor-faktor pembentuk akhlak Nabi Muhammad SAW, dan akhlak Nabi Muhammad SAW pada masa kanak-kanak dan remaja dalam Sīrah Nabawiyah. Jenis penelitian ini adalah kepustakaan dengan pendekatan kualitatif. Sumber data diperoleh dari literatur Sīrah Nabawiyah. Ruang lingkup kajiannya adalah masa kanak-kanak dan remaja Nabi Muhammad SAW. Fokus penelitiannya adalah pembentukan akhlak, faktor-faktor pembentuk akhlak dan akhlak Nabi Muhammad SAW pada masa kanak-kanak dan remaja. Analisis datanya menggunakan analisis deskriptif dan untuk mengungkap pembentukan akhlak Nabi Muhammad SAW digunakan analisis interpretasi. Temuan penelitian: a) Pembentukan akhlak Nabi Muhammad SAW pada masa kanak-kanak dan remaja adalah berada pada pendidikan Allah (al-Tarbiyah al-Rabbaniyyah), peristiwa yang dialami oleh beliau menunjukkan tanda bahwa peran serta Allah yang sangat besar dalam pembentukan akhlak Nabi Muhammad SAW. dan terkandung makna bahwa proses pembentukannya melalui pembiasaan, keteladanan, kedisiplinan, latihan, dan nasehat; b) Faktor-faktor pembentuk akhlak Nabi Muhammad SAW pada masa kanak-kanak dalam Sīrah Nabawiyah adalah; faktor nasab yang mulia dan terhormat, lingkungan masyarakat yang ideal untuk masa itu, dan keluarga yang terbaik; dan c) akhlak Nabi Muhammad SAW pada masa kanak-kanak dan remaja telah menunjukkan akhlak yang terbaik dan mulia karena perilakunya mendapatkan penjagaan (‘Iṣmah) dari Allah SWT. ABSTRACT: This study aims to reveal the moral formation of the Prophet Muhammad SAW, the factors that form the character of the Prophet Muhammad SAW, and the character of the Prophet Muhammad SAW in childhood and adolescence in Sīrah Nabawiyah. This type of research is literature with a qualitative approach. The source of the data was obtained from the Sīrah Nabawiyah literature. The scope of the study is the childhood and youth of the Prophet Muhammad SAW. The focus of his research is the formation of morals, the factors that form the character and morals of the Prophet Muhammad SAW in childhood and adolescence. Analysis of the data uses descriptive analysis and to reveal the moral formation of the Prophet Muhammad SAW used interpretation analysis. Research findings: a) The moral formation of the Prophet Muhammad SAW in childhood and adolescence is in the education of Allah (al-Tarbiyah al-Rabbaniyyah), the events experienced by him show signs that God's role is very large in the formation of the character of the Prophet Muhammad SAW. and it implies that the process of formation is through habituation, example, discipline, training, and advice; b) The factors that form the character of the Prophet Muhammad SAW during his childhood in Sīrah Nabawiyah are; a noble and honorable lineage factor, an ideal community environment for that time, and the best family; and c) the character of the Prophet Muhammad SAW in childhood and adolescence has shown the best and noble character because his behavior is protected ('Iṣmah) from Allah SWT

    PENGGUNAAN MEDIA BERBASIS KOMPUTER DALAM MENINGKATKAN HASIL BELAJAR SISWA KELAS III PADA MATA PELAJARAN AL-QURAN HADITS DI MADRASAH IBTIDAIYAH AZ-ZAHIR PALEMBANG. (Skripsi)

    Full text link
    Belajar merupakan suatu keharusan bagi setiap umat Islam. Adapun tujuan belajar adalah agar terciptanya perubahan tingkah laku ke arah yang lebih baik. Dalam proses pembelajaran, guru diharapkan bisa mewujudkan suasana belajar yang menyenangkan sehingga proses pembelajaran berjalan dengan efektif dan efesien. Guru dituntut untuk kreatif memilih dan menggunakan model, metode, media sesuai dengan karakteristik yang telah ditentukan. Skripsi ini membahas tentang Penggunaan Media Berbasis Komputer dalam Meningkatkan Hasil Belajar Siswa Kelas III pada Mata Pelajaran Al-Quran Hadits di Madrasah Ibtidaiyah Az-Zahir Palembang. Permasalahan dalam penelitian ini adalah bagaimana penggunaan media berbasis komputer pada mata pelajaran Al-Quran Hadits kelas III Madsarah Ibtidaiyah Az-Zahir Palembang? bagaimana hasil belajar siswa sebelum menggunakan media berbasis komputer pada mata pelajaran Al-Quran Hadits kelas III di Madrasah Ibtidaiyah Az-Zahir Palembang? Bagaimana pengaruh penggunaan media berbasis komputer terhadap hasil belajar siswa pada mata pelajaran Al-Quran Hadits kelas III Madrasah Ibtidaiyah Az-Zahir Palembang? Penelitian ini merupakan jenis penelitian eksperimen dengan pendekatan kuantitatif. Populasi dalam penelitian ini berjumlah 277 orang yaitu kelas 1 sampai dengan kelas 6. Sedangkan sampelnya berjumlah 25 orang yaitu kelas III.B yang terdiri dari 16 orang laki-laki dan 9 orang perempuan. Teknik pengumpulan data yang digunakan dalam penelitian ini adalah, observasi, tes (pretest dan posttest), wawancara dan dokumentasi. Sedangkan teknik analisa data yang digunakan adalah analisa uji test ”t”. Dari analisis tersebut maka diperoleh kesimpulan yaitu: pertama hasil belajar siswa (pretest) sebelum menggunakan media berbasis komputer memiliki rata-rata nilai yaitu sebesar 58,4 dan hasil belajar siswa (posttest) setelah menggunakan media berbasis komputer memiliki rata-rata nilai yaitu sebesar 80. Kedua penggunaan media berbasis komputer pada mata pelajaran Al-Quran Hadits di Madrasah Ibtidaiyah Az-Zahir Palembang dari hasil observasi guru semua indikator terlaksana dan dari hasil observasi siswa tergolong baik. Ketiga dari hasil uji hipotesis dengan merujuk pada uji ”t” di dapatkan besarnya t yang diperoleh dalam perhitungan (t0 = 9,15) dan besarnya t yang tercantum pada tabel (tt.ts.5% = 2,06 dan tt.ts.1% = 2,80) maka dapat diketahui bahwa t0 lebih besar daripada tt yaitu 2,06 2,80. Dengan demikian dari hasil uji hipotesis yang diperoleh dengan menggunakan rumus test t diatas dapat disimpulkan bahwa H0 yang diajukan ditolak. Ini berarti Ha diterima, bahwa terdapat peningkatan yang signifikan antara sebelum menggunakan media berbasis komputer dan sesudah menggunakan media berbasis komputer dalam meningkatkan hasil belajar siswa pada mata pelajaran Al-Quran hadits di Madrasah Ibtidaiyah Az-Zahir Palemban

    PENGARUH PELAKSANAAN MODEL PEMBELAJARAN BRAIN BASED LEARNING TERHADAP AKTIVITAS BELAJAR SISWA KELAS V MATA PELAJARAN IPA DI MIN 2 PALEMBANG. (Skripsi)

    Full text link
    Judul penelitian ini adalah Pengaruh Penerapan Model Pembelajaran Brain Based Learning Terhadap Aktivitas Belajar Siswa Kelas V Mata Pelajaran IPA di MIN 2 Palembang. Peneliti mengangkat judul tersebut dikarenakan pelaksanaan pembelajaran IPA di MIN 2 Palembang selama ini memiliki banyak kelemahan antara lain, proses pembelajaran IPA masih kurang melibatkan siswa pada aktivitas keterampilan proses atau kerja ilmiah IPA, terbatasnya alat – alat praktikum dan waktu yang dimiliki guru. Rumusan masalah dalam penelitian ini adalah bagaimana penerapan model pembelajaran brain based learning pada Mata Pelajaran IPA, bagaimana aktivitas belajar siswa kelas V Mata Pelajaran IPA, dan apakah ada pengaruh penerapan model pembelajaran brain based learning terhadap aktivitas belajar siswa kelas V Mata Pelajaran IPA di MIN 2 Palembang. Alat pengumpul data dalam penelitian ini yaitu observasi, angket, dan wawancara. Dalam pengolahan data ini penulis menggunakan cara pengolahan data statistik, karena data yang digunakan adalah data kuantitatif. Untuk menganalisa data dalam penelitian ini maka penulis menggunakan teknik analisa kualitatif dan statistik. Dengan rumus TSR dan korelasi. Berdasarkan permasalahan di atas, penerapan model pembelajaran brain based learning di MIN 2 Palembang, dapat dilihat dari hasil analisa angket sebagai berikut: sampel penelitian terdiri dari 60 (100%) orang siswa, sebanyak 47 (78,33%) menyatakan bahwa pelaksanaan model pembelajaran brain based learning terkategori Sedang. Sedangkan 9 (15%) siswa menyatakan pelaksanaan model pembelajaran brain based learning terkategori tinggi. Dan 4 (6,67%) menyatakan pelaksanaan model pembelajaran brain based learning dikategori rendah. Jadi penerapan model pembelajaran brain based learning di MIN 2 Palembang masuk dalam kategori sedang, hal ini dilihat dari jumlah responden (siswa) sebanyak 47 (78,33%). Dan aktivitas balajar siswa di MIN 2 Palembang adalah dalam kategori sedang. Dalam hal ini siswa sebagai sampel penelitian jumlahnya sebanyak 60 (100%) orang siswa. Ternyata sebanyak 52 ( 86,67%) orang siswa memiliki aktivitas belajar pada kategori sedang. 6 (10%) memiliki aktivitas belajar tinggi, dan 2 (3,3%) siswa memiliki aktivitas belajar buruk (rendah). Adanya hubungan yang signifikan antara pelaksanaan model pembelajaran brain based learning terhadap aktivitas belajar siswa di bidang studi Ilmu Pengetahuan Alam, Hal ini dilihat dari hasil rxy yang besarnya 1,115 tersebut lebih besar dari harga r tabel baik pada taraf signifikan 5% yaitu 0,250 maupun pada taraf signifikan 1% yaitu 0,325. Oleh karena itu taraf signifikasi 5% (0,250) (0,325) pada tarag signifikasi 1%

    Qira’at Diversity in Islamic Family Law Verses: Implications for Indonesian Marriage Law

    No full text
    This study addresses the principal issue of Qira'at diversity in the Qur’anic verses pertaining to family law and its impact on legal interpretation, alongside its relevance to Law Number 1 of 1974 concerning Marriage in Indonesia. The research aims to conduct a thorough analysis of Qira'at variations within family law verses, explore their influence on legal interpretations, and identify key themes that demonstrate this diversity. This study uses a normative juridical method with a descriptive-analytical approach, while the data analyzed is literature related to various Qira'at in the verses of the Qur’an regarding Islamic family law. The research results show that there are eight main themes in the Al-Qur'an related to Islamic family law which show significant variations in Qira'at. Namely: dowry and temporary marriage (mut'ah),muhallil, family interaction, waiting period (iddah), khulu' (divorce initiated by the wife), divorce (talaq), ethics after divorce, and  reconciliation (ruju'). Based on the research conducted, it can be concluded that the diversity of Qira’atverses from the Qur’an relating to family law has a significant influence on its interpretation and application, especially in the context of the Marriage Law in Indonesia. The practical implication of this research is to provide readers with in-depth insight into how the diversity of Qira'at influences the interpretation of family law in the Indonesian context, as well as its relevance to the practice of marriage law that applies in the Religious Courts. This research is expected to provide significant theoretical and practical contributions in the field of Islamic family law studies and Al-Qur'an studies in general

    ANALISIS KEBERHASILAN MANAJEMEN PONDOK PESANTREN DALAM PEMBENTUKAN KARAKTER SISWA

    No full text
    Rumusan masalah dalam penelitian ini, meliputi: (1) Bagaimana keberadaan manajemen pondok pesantren Sobarul Yaqin; (2) Langkah-langkah apa yang dilakukan pondok pesantren Sobarul Yaqin dalam membina dan membentuk karakter para santrinya; dan (3) Faktor-faktor apa saja yang mempengaruhi keberhasilan manajemen pondok pesantren Sobarul Yaqin dalam pembentukan karakter para santrinya. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode penelitian deskriptif kualitatif. Karena penggunaan metode tersebut, merupakan metode yang memusatkan perhatian pada asfek-asfek tertentu yang sedang berlangsung pada saat penelitian dilakukan. Adapun tujuannya adalah mendeskripsikan sesuatu secara sistematis, faktual, komprehensif, dan akurat mengenai berbagai faktor serta hubungan antar fenomena yang diselidiki. Adapun hasil penelitian yang diperoleh memberikan kesimpulan bahwa: (1) Keberadaan manajemen pondok pesantren meliputi; kurikulum dan sistem pengajaran, pola kepemimpinan, perekrutan tenaga pengajar (guru dan ustadz), sistem kaderisasi santri, dan sistem pengelolaan keuangan. (2) Langkah-langkah yang dilakukan pondok pesantren dalam membina dan membentuk karakter santrinya, dengan melalui: a) pengembangan dan pelestarian nilai-nilai kultur pondok pesantren, b) peningkatan kemampuan manajerial pimpinan pondok pesantren, c) peningkatan kualifikasi akademik dan kompetensi guru/ustadz, d) pengembangan kurikulum pondok pesantren, dan e) pengembangan sistem pengajaran pondok pesantren. (3) Faktor-faktor yang mempengaruhi keberhasilan pondok pesantren dalam pembentukan karakter para santrinya adalah: a) bren image Salafiyah, b) manajemennya yang sistematis dan disiplin, c) program pendidikannya yang beragam dan aplikatif, d) memiliki pimpinan yang karismatik dan responsif, e) keberhasilan alumni, dan f) tingkat kepercayaan dan dukungan stikholer (alumni, wali santri, dan masyarakat) yang kuat terhadap keberadaan lembaga pondok pesantren.Kata kunci: manajemen, pondok pesantren, karakter sisw

    Akhlak Mulia dalam Pandangan Masyarakat

    Full text link
    This paper elaborate on views of the community on a noble character. Categori-zation of noble character is different in view of the public. This study used a qualitative approach which is the data derived from the literature and society. The results of this study indicate that the noble character in view of the public looks through oral and actions and it is always behaved by someone, and it is not temporary. Normative morality is embedded in the inner nature of the soul that gives rise to act with ease. Morals reflected in a person in relation to God and the community. It was influenced by heredity, environment, and both formal and non-formal education. Individually, moral goodness cause calmness and serenity in a person and make it easier to interact socially with the community.AbstrakTulisan ini menguraikan pandangan masyarakat tentang akhlak mulia. Kategorisasi akhlak mulia berbeda-beda dalam pandangan masyarakat. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif yang sumber datanya berasal dari literatur dan masyarakat. Hasil kajian ini menunjukkan bahwa akhlak mulia dalam pandangan masyarakat tampak melalui lisan dan perbuatannya dan selalu ada pada seseorang, dan tidak bersifat temporer. Akhlak secara normatif merupakan sifat batin yang tertanam dalam jiwa yang memunculkan perbuatan dengan mudah. Akhlak terpantul dalam diri seseorang dalam hubungannya dengan Tuhan dan masyarakat. Hal itu dipengaruhi keturunan, lingkungan, dan pendidikan baik formal maupun nonformal. Secara individual, kebaikan akhlak menyebabkan ketenangan dan ketenteraman pada diri seseorang dan secara sosial memudahkan berinteraksi dengan masyarakat
    corecore