1,722,589 research outputs found
Mustapa Terus Laksana Dasar
Menteri Pertanian dan Industri Asas Tani, Datuk Mustapa Mohamed akan meneruskan dasar yang dirangka dan dilaksanakan Tan Sri Muhiddin Yassin, termasuk meningkatkan sinergi antara kementerian dengan universiti tempatan yang membuat penyelidikan dalam sektor pertanian
KEPENGARANGAN HASAN MUSTAPA DALAM DANGDING PANGKUR PANGKURANGNA NYA HIDAYAT UNTUK MENGENAL SASTRA PESANTREN DI JAWA BARAT
Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan kepengarangan Hasan Mustapa terhadap karya sastra dangding sebagai misi dakwahnya di Jawa Barat. Penelitian ini merupakan penelitian deskriptif kualitatif dengan menggunakan metode analisis isi dan studi literatur terhadap dokumen-dokumen yang menceritakan kepengarangan Haji Hasan Mustapa. Objek dalam penelitian ini adalah dangding Pangkur Pangkurangna Nya Hidayat karya Hasan Mustapa. Data penelitian ini berupa identifikasi kepengarangan Hasan Mustapa yang ditemui pada dangding dan literatur terkait. Hasil penelitian ini berupa rangkaian perjalanan kesantrian Hasan Mustapa yang diinterpretasikan dalam dangding sebagai sastra pesantren di Jawa Barat
MARKETING POLITIK MUSTAPA PADA PEMILIHAN KEPALA DESA PULAU LINTANG KECAMATAN BHATIN VIII KABUPATEN SAROLANGUN TAHUN 2021
Skripsi ini ditulis dengan tujuan untuk memberi penjelasan tentang marketing politik Mustapa calon kepala desa Pulau Lintang pada Pemilihan Kepala Desa Pulau Lintang tahun 2021. Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan marketing politik yang diterapkan oleh Mustapa pada Pemilihan Kepala Desa Pulau Lintang tahun 2021. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan jenis penelitian studi kasus. Dalam penelitian ini peneliti menggunakan teori yang dikemukakan oleh Andrew Lock dan Phil Harris (1996) tentang marketing politik yakni product, dimana memiliki arti kandidat atau calon memiliki konsep atau gagasan yang akan ditawarkan kepada masyarakat, promotion yaitu pemilihan metode atau cara-cara melakukan promosi kandidat kepada pemilih, price membahas beberapa hal seperti harga ekonomi hingga harga psikologis kandidat dan place merupakan fokus daerah ditribusi produk politik yang ditawarkan kandidat. Hasil penelitian ini mengungkapkan bahwa yang dilakukan Mustapa pada Pemilihan Kepala Desa Pulau Lintang tahun 2021, dalam pelaksanaannya pertama product politik yang dibawa Mustapa adalah konsep harapan baru dan latar belakang pernah menjabat sebagai anggota dewan perwakilan rakyat menjadi daya tarik produk politik yang dimiliki Mustapa kepada masyarakat. Dari sisi promotion, Mustapa juga melakukan promosi dirinya kepada masyarakat dengan mengadakan pertemuan dengan tokoh-tokoh masyarakat dan mengundang semua lapisan masyarakat dalam pertemuan tersebut hingga mendatangi langsung rumah-rumah masyarakat. Dari sisi price, mengenai pengeluaran biaya yang digelontorkan oleh Mustapa untuk mencukupi kebutuhan kegiatan kampanye yang dilakukannya bersama tim sukses yaitu biaya pertemuan dengan tokoh-tokoh masyarakat dan menyediakan barang olahraga untuk kebutuhan pemuda dan kebutuhan kegiatan kampanye lainnya. Penempatan (place) yang dilakukan Mustapa adalah menargetkan semua kalangan masyarakat yang ada di empat dusun yang ada di desa Pulau Lintang, dengan usaha tersebut sesuai dengan indikator marketing politik hingga Mustapa dapat terpilih setelah beberapa kali pencalonan menjadi kepala desa Pulau Lintang periode 2021-2026
Persahabatan Penjajah Dan Bangsa Jajahan Di Hindia Belanda: C. Snouck Hurgronje Dan Haji Hasan Mustapa
This study aims to analyze the friendship between the colonizer with the colony in the Dutch East Indies. The study focuses on a number of works and letters of Haji Hasan Mustapa to C. Snouck Hurgronje. Mustapa was the Hoofd penghulu (Chief-penghulu) of Aceh and Bandung. He is a close friend of Snouck since his first met in Mecca in 1885. Through the social-intellectual history approach, the study tries to explain their closeness which are no longer merely a relationship between employer and employee, but has penetrated deeply into the true brother- hood and kinship ties. Snouck who representated as a colonial master looked Mustapa as a figure who has unique talent and character which achieve high knowledge about Islamic law and Sundanese customs. Instead, Mustapa looked Snouck as his close friends who have a commitment to defend each other. Mustapa shed his impression and expectation to meet him again someday in his letters. Mustapa often shed tears when remembering the time of togetherness that will not be forgotten throughout his life. It is an interplay friendship that have never imagined in shaping the face of colonialism in Indonesia, which its influence cannot be ignored until now
Persahabatan Penjajah dan Bangsa Jajahan di Hindia Belanda: C. Snouck Hurgronje dan Haji Hasan Mustapa
This study aims to analyze the friendship between the colonizer with the colony in the Dutch East Indies. The study focuses on a number of works and letters of Haji Hasan Mustapa to C. Snouck Hurgronje. Mustapa was the Hoofd penghulu (Chief-penghulu) of Aceh and Bandung. He is a close friend of Snouck since his first met in Mecca in 1885. Through the social-intellectual history approach, the study tries to explain their closeness which are no longer merely a relationship between employer and employee, but has penetrated deeply into the true brother- hood and kinship ties. Snouck who representated as a colonial master looked Mustapa as a figure who has unique talent and character which achieve high knowledge about Islamic law and Sundanese customs. Instead, Mustapa looked Snouck as his close friends who have a commitment to defend each other. Mustapa shed his impression and expectation to meet him again someday in his letters. Mustapa often shed tears when remembering the time of togetherness that will not be forgotten throughout his life. It is an interplay friendship that have never imagined in shaping the face of colonialism in Indonesia, which its influence cannot be ignored until now
SASTRA SUFISTIK SUNDA DI TENGAH ARUS BUDAYA POPULER : PROBLEM PEMBACAAN ATAS KARYA DANGDING HAJI HASAN MUSTAPA (1852-1930)
Tulisan ini memfokuskan pada karya dangding Mustapa dalam kerangka sastra sufistik Sunda dan problematika pembacaannya di era budaya popular. Meski dalam beberapa kajian nama Mustapa sudah mulai dikenal, namun dangding sufistik sebagai wadah interpretasi tasawufnya belum banyak dieksplorasi. Kajian Abas (1976), Jahroni (1999), dan Gibson (2005) misalnya, cenderung melihat sisi pemikiran tasawuf Mustapa dihubungkan dengan genealogi tasawuf yang mempengaruhinya. Sementara Rosidi yang sejak 1970-an cukup intens menelusuri dan mempublikasikan karya-karya Mustapa, kiranya terbatas pada upaya merekonstruksi kepribadiannya dan kemudian menyajikan karyanya yang siap baca. Tulisan ini membahas karakter dangding sufistik Mustapa dan problem pembacaannya di masa kini
Tasawuf Sunda dan Warisan Islam Nusantara: Martabat Tujuh dalam Dangding Haji Hasan Mustapa (1852-1930)
Paper ini membahas martabat tujuh dalam puisi dangding sufistik Haji Hasan Mustapa. Ia merupakan salah satu penerus tradisi tasawuf Nusantara dari Jawa Barat yang menulis lebih dari sepuluh ribu bait dangding. Tema martabat tujuh merupakan poros inti pembahasan dalam hampir keseluruhan puisi dangding-nya. Berbagai kesalahpahaman dan kesulitan para sarjana dalam memahami puisi Mustapa kiranya dilatarbelakangi keterbatasan pengetahuan atas ajaran ini. Kajian ini menggunakan pendekatan interteks atas sejumlah puisi Mustapa yang bertema sama. Kajian ini memfokuskan pada tiga hal: martabat tujuh dalam tradisi tasawuf Nusantara, Mustapa dan posisi dangding-nya dalam sastra Sunda, serta tema martabat tujuh sebagai inti puisinya. Mustapa kiranya dipengaruhi ajaran wahdatul wujud terutama melalui kitab Tuh}fah-nya Al-Burhanfuri. Meski demikian, ia berusaha menjejakkannya dalam latar kekayaan budayanya. Ia menginterpretasikan martabat tujuh, bukan semata-mata sebagai sintesis tajalli Ilahi, tetapi juga merupakan hasil upaya manusia dalam meningkatkan martabat rohani untuk pulang ke tempat di mana ia berasal (nepi kana urut indit). Karenanya tidak tepat bila ia dianggap menyimpang dari nilai-nilai ortodoksi Islam. Ia berada pada arus utama tasawuf Nusantara yang cenderung rekonsiliatif. Signifikansi Mustapa terletak pada kreatifitasnya dalam menggunakan banyak metafor budaya Sunda termasuk dalam menafsir ajaran martabat tujuh. Ia misalnya, menggunakan metafor tubuh (balung, daging, sungsuam, getih), makanan (rujak), sungai (leuwi), dan bukit (lamping) untuk menggambarkan proses panjang dalam meracik asal alam kesejatian. Kajian ini signifikan dalam memperkuat tesis jaringan ulama Nusantara dalam bentuk artikulasi tasawuf lokal Sunda. Sebuah tafsir lain atas martabat tujuh yang muncul dalam rahim alam pikiran budaya Sunda
Persahabatan Penjajah dan Bangsa Jajahan di Hindia Belanda: C. Snouck Hurgronje dan Haji Hasan Mustapa
Kajian ini bertujuan menganalisis tentang persahabatan antara penjajah dengan bangsa jajahan di Hindia Belanda. Studi ini memfokuskan pada sejumlah karya dan surat-surat Haji Hasan Mustapa pada C. Snouck Hurgronje. Mustapa
adalah penghulu Aceh dan Bandung yang berteman dekat dengan Snouck sejak bertemu pertama kali di Mekah pada 1885 hingga akhir hayatnya. Melalui pendekatan sejarah sosial-intelektual, kajian ini berusaha menjelaskan kedekatan
keduanya yang tidak lagi sekedar hubungan tuan dan majikan, tetapi sudah merasuk sedemikian dalam ke dalam ikatan persaudaraan sejati dan kekeluargaan. Snouck sebagai representasi tuan kolonial memandang Mustapa sebagai sosok
yang memiliki bakat dan watak yang langka serta mencapai pengetahuan tinggi tentang syariat Islam dan adat-istiadat Sunda. Sebaliknya, Mustapa memandang Snouck sebagai sahabat dekat yang memiliki komitmen untuk saling membela di
kala dekat maupun jauh. Mustapa menumpahkan pandangan dan kerinduan dirinya untuk bertemu kembali dengannya dalam surat-suratnya. Bahkan Mustapa seringkali meneteskan air mata ketika mengingat masa-masa kebersamaannya yang
tidak akan terlupakan sepanjang hidupnya. Sebuah persahabatan yang tidak pernah terbayangkan dalam membentuk wajah kolonialisme di Indonesia yang pengaruhnya tidak bisa diabaikan hingga sekarang
Pemikiran keagamaan dan sosial budaya Penghulu Haji Hasan Mustapa di Bandung (1895-1918)
Penelitian ini mengambil tema tokoh yang bergerak dalam bidang Agama dan sastra budaya. Sebagian orang masih belum mengetahui tokoh Hasan Mustapa ini. Begitupun Pemikiran Keagamaan Dan Sosial Budaya dari karya-karyanya. Jika di teliti lebih jauh lagi banyak hal-hal yang menarik dari Tokoh Haji Hasan Mustapa. Sehingga peneliti mencoba untuk membahas tokoh Haji Hasan Mustapa dalam Pemikiran Keagamaan Dan Sosial Budayanya pada masa kepenghuluannya di Bandung pada tahun 1895-1918.
Penelitian ini membahas siapa Penghulu Haji Hasan Mustapa, yang dikenal oleh sebagian masyarakat di Indonesia khususnya Priangan. Membeberkan karya-karyanya yang mengandung nilai-nilai sosial budaya dan agama islam yang di balut dalam sebuah karya syair, dangding, ataupun prosa. Peneliti juga membahas bagaimana penyampaian pemikiran syiar Islam yang di lakukan oleh Penghulu Haji Hasan Mustapa di Bandung. Dengan tujuan agar masyarakat luas baik di lingkungan akademisi maupun luar akademisi tahu bahwa di Indonesia ada seorang ulama sastrawan yang memiliki karya sastra yang luar biasa. Dan juga berperan dalam keagamaan Islam di wilayah Priangan.
Metode penelitian yang digunakan adalah metode sejarah yang meliputi empat tahapan yaitu, Heuristik, Kritik, Interpretasi, dan Historiografi. Teknik pengumpulan data yang digunakan melalui studi Kepustakaan, mencari dari website Perpustakaan Universitas Leiden Belanda, wawancara langsung bersama kuncen makam Boepati Bandoeng. Dan mengunjungi beberapa perpustakaan.
Hasil dari penelitian ini, dapat diketahui bahwa Penghulu Haji Hasan Mustapa adalah seorang Penghulu di Bandung pada tahun 1895-1918. Dan dikenal oleh masyarakat luas sebagai ulama, sastrawan sunda bahkan sufi dari tanah Pasundan. Ia banyak menciptakan karya-karya yang luar biasa. Berupa puisi, dangding, dan karya-karya lainnya yang bersifat sufistik. Beliau memiliki ilmu pengetahuan agama dan darah kesenian yang tinggi sehingga menuangkan pikirannya dalam sebuah karya sastra. Ia juga memiliki peranan sebagai seorang penghulu yang berkontribusi dalam mengurusi bidang keagamaan dengan caranya yang menarik. Hasan Mustapa menuangkan pemikirannya itu dalam bentuk lisan seperti mengisi ceramah, diskusi santai dalam sebuah perkumpulan dan dalam bentuk tulisan yang berupa karya sastra
- …
