101,107 research outputs found

    Kamus Al-Munawir Arab Indonesia terlengkap

    No full text
    xiv, 1634 hlm, 25 c

    Kamus Al-Munawir Arab Indonesia terlengkap

    No full text
    xii, 1012 hlm, 25 c

    Tokoh Liberal Indonesia H. Munawir Sjadzali & Pendekatan Hermeneutik dalam Tafsir

    Full text link
    Islam Liberal adalah satu bentuk pemikiran baru yang dianuti sebahagian besar cendekiawan muslim khususnya yang berlatar belakang pendidikan barat. Penyebaran fahaman Islam liberal ini telah tersebar luas di kalangan cendekiawan muslim Indonesia. Bagi golongan ini agama hendaklah ditundukkan kepada waqi' (realiti) semasa. Penyebar fahaman liberal ini di Indonesia adalah satu jaringan organisasi yang disebut dengan "Jaringan Islam Liberal (JIL). Jaringan Islam Liberal (JIL) berdiri rasmi pada tanggal 8 Mac 2001. Tujuan JIL adalah melawan segala bentuk fundamentalisme dan radikalisme agama. Golongan ini menggunakan metod pentafsiran Al-Quran yang berbeza dengan metod pentafsiran ulama-ulama tafsir sebelumnya dengan menggunakan kaedah Hermeneutika. Hermeneutika adalah merupakan alat yang diguna pakai terhadap teks dalam menganalisis dan memahami maksud teks serta menampakkan nilai yang terkandung di dalamnya. Penelitian kajian ini akhirnya mendapati kaedah Hermeneutika boleh mendekonstruksi (merubah) syariat agama Islam misalnya dengan mengatakan Al-Quran adalah produk budaya, finalitas kenabian Muhammad Saw perlu ditinjau kembali dan lain lain yang sangat menyimpang jauh dari keyakinan Ahli Sunnah wal Jamaah. Peranan Hermeneutika adalah untuk menyingkirkan ilmu alat yang selama ini dipakai dan disepakati ulama tafsir dalam mentafsirkan al-Quran seperti Usul al- Tafsir dan Ulum al-Quran dan beberapa ilmu lain yang telah lama dipakai dalam tradisi Islam. Salah satu tokoh cendekiawan Indonesia yang menggunakan kaedah Hermeneutika dalam pentafsiran ayat al Quran adalah H. Munawir Sjadzali

    Analisis tingkat religiusitas peserta didik di SMA NU Al-Munawir Gringsing

    No full text
    Skripsi ini membahas tentang analisis tingkat religiusitas peserta didik di SMA NU Al-Munawir Gringsing. Kajianya dilatar belakangi oleh perlu adanya pengukuran tingkat religiusitas peserta didik di SMA NU Al-Munawir karena masih banyaknya peserta didik yang melanggar peraturan-peraturan sekolah padahal lembaga tersebut merupakan lembaga pendidikan berbasis pesantren yang menerapkan sistem boarding school. Sekolah tersebut juga mengintegrasikan antara pendidikan umum dan agama. Studi ini dimaksudkan untuk menjawab permasalahan “Bagaimana tingkat religiusitas peserta didik di SMA NU Al-Munawir Gringsing?”. Permasalahan tersebut dibahas melalui studi lapangan yang dilaksanakan di SMA NU Al-Munawir Gringsing yang notabene adalah sekolah berbasis pesantren. Data diperoleh dengan menggunakan angket serta dokumentasi. Jenis penelitian ini adalah penelitian lapangan. Penelitian ini dilakukan untuk mengukur seberapa tinggi tingkat religiusitas peserta didik di SMA NU Al-Munawir Gringsing. Adapun metode yang dilakukan adalah metode kuantitatif. Populasi dalam penelitian ini adalah seluruh peserta didik di SMA NU Al-Munawir Gringsing. Pengambilan sampel dilakukan secara random sampling. Selanjutnya data diuji dengan uji validitas, uji reliabilitas dan uji normalitas. Kemudian diperoleh data rata-rata dan diskalakan menggunakan rumus tabel lima. Berdasarkan hasil penelitian ini dapat disimpulkan bahwa Tingkat Religiusitas Peserta Didik Di SMA NU Al-Munawir Gringsing adalah “cukup” terbukti dari hasil analisis angket yang menunjukkan nilai rata-rata 168,25. Nilai tersebut setelah dikonsultasikan dengan tabel skala, masuk dalam kisaran 164-174 yang termasuk dalam skala “cukup”. Faktor yang paling dominan dalam meningkatkan religiusitas peserta didik di SMA NU AL-Munawir adalah faktor institusional yaitu sekolah sebagai lembaga formal dan pondok pesantren sebagai lembaga non formal

    Munawir dan Isu Mawarith: Sebuah Kajian Linguistik Pada Al-Nisā Ayat 11

    Full text link
    The law of inheritance is a study that has been stipulated in the Qur'an in detail. This study examines how Munawir Syadali thinks about the division of inheritance and the factors behind the emergence of this thought. This study uses a qualitative approach with a literature study type. The data collection method is document analysis and uses content analysis techniques. The results of this study indicate that H. Munawir Sjadzali's thoughts on verse 11 of Surah An-Nisa' are related to the law of inheritance division, namely to equalize the division of inheritance between sons and daughters. Analysis of Munawir's biography, thoughts, and interpretation methods shows his hermeneutic approach, emphasizing the spirit of justice behind the text of the Qur'an compared to mere literal interpretation. This approach, which takes into account the current social and cultural context, differs from traditional interpretations that adhere to the 2:1 ratio stated in the verse. Several factors have shaped Munawir's views, including his educational background, partnership experience, and commitment to Islamic reform. He prioritizes freedom of thought and contextualization of Islamic teachings, so that they are relevant in the modern world. Although his approach is provocative, he conveys to broader and deeper discussions about the interpretation of the Qur'an and the law of mawarith

    MUNAWIR SJADZALI AND THOUGHT

    No full text
    Munawir Sjadzali is known in Indonesia as Minister of Religion of the Republic of Indonesia for two periods (1983-1988 and 1988-1993). Munawir Sjadzali is not only famous for his breakthroughs in government, but also consistent with his thoughts. This is what attracts reviewers of his thought to continue to explore who is Munawir Sjadzali? What are the characteristics of his thoughts, so that the results of his thoughts shake the scientific treasures in Indonesia? At a glance, from the educational aspect, he has made good changes by increasing human resources. Meanwhile, from the aspects of Islam and State Administration, he tends to follow the third stream, a school that on the one hand rejects the notion that Islam contains everything. Likewise, with the issue of bank interest and inheritance, he referred to the spirit of the experience of the caliph Umar bin Khattab. Regarding Munawir's thoughts on the issue of inheritance 2: 2, according to him, this can be accepted because women and men are equal before Allah. What is different is piety and faith

    PRINSIP PRINSIP BERNEGARA MENURUT PANDANGAN MUNAWIR SJADZALI

    Full text link
    Prinsip adalah asas atau aturan dasar dalam bertindak dan berfikir secara benar yang dimiliki oleh seseorang yang bersumberkan dari Al-Qur’an dan As- Sunnah sebagai pedoman dalam kehidupan bermasyarakat dan bernegara. Dalam bernegara ada lima prinsip pertama: Prinsip musyawarah atau konsultasi (Syura), kedua, Prinsip ketaatan kepada pemimpin, ketiga, Prinsip keadilan (Al-‘adalah), keempat, Prinsip persamaan (Al-musawah). kelima, Prinsip hubungan antar umat dari berbagai agama. Rumusan masalah dalam skripsi ini “Pemikiran Munawir Sjadzali tentang Prinsip-prinsip Bernegara dan Relevansi Pemikiran Munawir Sjadzali tentang Prinsip-prinsip Bernegara di Indonesia..?”. Tujuan dari penulisan skripsi adalah untuk mengetahui Bagaimana Pemikiran Munawir Sjadzali tentang Prinsipprinsip Bernegara dan Relevansi Pemikiran Munawir Sjadzali tentang Prinsipprinsip Bernegara di Indonesia.?. Jenis penelitian dalam skripsi ini adalah penelitian pemikiran (pustaka) dimana sifat penelitian ini adalah deskriptif analisis, Metode pengumpulan data yang digunakan adalah dengan membaca, menelaah serta menganalisis buku-buku, majalah, buletin, jurnal dan karya ilmiah lainnya yang berhubungan dengan judul skripsi ini yang kemudian data yang diperoleh diklasifikasikan sesuai dengan permasalahan dalam skripsi ini. Sedangkan metode analisisnya adalah; metode diskriptif-analitis dan metode analisis isi (Content Analysis). Hasil penelitian ini menunjukan bahwa pemikiran Munawir Sjadzali tentang Prinsip-prinsip Bernegara, dapat dikatakan bahwa dalam kitab suci umat Islam itu terdapat seperangkat prinsip-prinsip dan tata nilai etika bagi kehidupan bermasyarakat dan bernegara. Selebihnya baik dalam Al-Qur’an maupun Assunnah Rasul tidak mengajarkan sistem pemerintahan tertentu yang harus di anut, tetapi yang paling pokok dan utama yang harus dimiliki dalam bernegara ialah musyawarah atau syuro. Relevansi Pemikiran Munawir Sjadzali tentang Prinsipprinsip Bernegara di Indonesia adalah bagi Munawir Sjadzali, prinsip utama Islam telah diberlakukan dalam kehidupan bernegara di Indonesia, yaitu terjadinya musyawarah untuk mufakat dalam proses pembentukan dasar negara Indonesia. Melalui musyawarah untuk mufakat itulah menjadi dasar pokok bagi kehidupan bermasyarakat dan berbangsa di Indonesia. Munawir Sjadzali mengatakan bahwa yang paling pokok dan utama yang harus dimiliki dalam bernegara ialah musyawarah atau syuro

    THE EDUCATIONAL IDEOLOGY OF INDONESIAN AND MALAYSIAN PESANTRENS: A STUDY OF AL MUNAWIR AND PASIR TUMBOH

    Full text link
    ABSTRACT The research mainly focuses on the comparative analysis towards the ideology and epistemology applied in Al Munawir Krapyak, Yogyakarta, Indonesia and Pasir Tumboh, Kelantan, Malaysia; both are pesantrens or traditional education institution-also called islamic boarding school. The study denotes that the curriculum utilized in al munawir pesantren is integrated Islam and science. While Pasir Tumboh employs the classical curriculum called kitab Jawi (Melayu). The epistemological base of curriculum of Al Munawir is Burhani-Irfani (demonstrative-gnostic) which in turn leads to transcendental contextual mindsets. It is rational religious ideology that modifies the methodology of Ahlussunnah Waljamaah emphasizing moderate and open-minded islamic teaching. On the other hand, the epistemological base of curriculum of Pasir Tumboh is Bayani-Irfani (explanative-gnostic) producing religious conservative ideology which is textual-trancendental, pseudo-exclusive and normative in observing the methods of ahlussunnah waljamaah. Keywords: Religious-Rational, Conservative-Religious, Bayani-Burhani, and Irfani. ABSTRAK Penelitian ini bermaksud membandingkan ideologi dan epistemologi al-Munawir Krapyak Yogyakarta Indonesia dengan Pasir Tumboh Kelantan Malaysia. Keduanya merupakan pesantren atau institusi pendidikan tradisional atau dikenal dengan pesantren. Penelitian ini menunjukkan bahwa kurikulum di pesantren al-Munawir meliputi kurikulum inti, tambahan, dan integrasi. Sedangkan pondok Pasir Tumboh menggunakan kurikulum klasik (tradisional)yang dinamakan kitab Jawi (Melayu). Basis epistemologi kurikulum al-Munawir adalah burhani-irfani (demonstrasi-gnostik) yang berdampak pada pemikiran rasional-transendental. Ideologi rasional religius ini dimodifikasi dari manhaj Ahlusunnah Waljamaah yang menekankan pada pendidikan Islam yang moderat dan terbuka. Sedangkan basis epistemologi kurikulum Pasir Tumboh adalah bayani-irfani (eksplanatif-gnostik) yang melahirkan ideologi religius konservatif dan berdampak pada pola pemikiran tekstual-transendental, psedo-ekslusif, normatif dalam bingkai manhaj Ahlusunnah Waljamaah. Kata Kunci: Rasional - Religius, Konservatif Religius, Bayani, Burhani, dan Irfan

    Interpretation Of Permission To Fight Kafir People In The Qur'an Surah Al-Hajj Verse 39 (A Reading of Hans George Gadamer's Hermeneutics)

    Full text link
    The Qur'an is a book that must be understood properly and correctly because of its position as a guide for human life. In the process of understanding it, it cannot only be fixed on textual things, but must look at the context that includes the Qur'an. This is so that the Qur'an can be used as a guide that is not limited by time and space, which is suitable in all ages. Some verses of the Qur'an if only understood textually, there will be divisions and acts of violence, for example in Qs. Al-Hajj verse 39 which is one of the legitimacy of radicals to commit acts of violence. Gadamer's hermeneutics with the four concepts offered became one of the blades used to interpret Qs. Al-Hajj verse 39. The author takes two concepts from the four offered, namely the melting of horizons (text, author, reader) and application. Departing from Qs. Al-Hajj verse 39 which is interpreted using Gadamer's Hermeneutics, the author assumes that the verse emphasizes the values of peace and freedom in religion
    corecore