179 research outputs found
KOSAKATA SISWA SEKOLAH DASAR KELAS RENDAH (KAJIAN JENIS KATA, BENTUK KATA, JENIS MAKNA, DAN MEDAN MAKNA)
This study aimed to describe the vocabulary of low grade primary school students based on the type and form of the word, and also the type and semantics domain. Source of research data is in the form of students written language derived from the essays of graders 2 and 3 from 6 elementary schools in Bandung. The data were analyzed qualitatively. The results showed: 1) the type of words made up of nouns (37%), verbs (35%), adverbial (10%), function words (9%), pronouns (5%), numeralia (3%), and adjectives (1%); 2) forms of words consist of basic words (62%), derivational words (28%), particle (0.8%), reduplicative words (0.2%), compound words, (0.01); 3) classification of the meaning consists of referential meaning (87%) and nonreferential meaning (13%); and 4) semantics domain include: motion-employment (29%), function words (13%), personal pronouns /reference (10%), nature (7%), tempe-rament/properties/color (5%), animals ( 4.7%), the life of the community (4.6%), games (2.7%), home/parts (2.4%), numeral words (2.3%), food/beverages (1.8%), body parts (1.4%), disease-treatment 91.3%).
Permalink/DOI: dx.doi.org/10.17977/um015v45i12017p09
Hubungan antara tingkat penalaran moral dengan sikap terhadap perilaku seks pranikah pada siswa kelas IX MAN "X" Garut
Fenomena seperti terdapatnya beberapa siswa yang membawa VCD dan Video porno ke dalam kelas, terdapatnya beberapa siswa yang ketika diajak untuk melakukan seks pranikah oleh pacarnya tidak bisa menolak dengan alasan takut ditinggalkan, bahkan diantara mereka ada yang sampai hamil di luar nikah, adalah sebagian fenomena yang ditemukan pada siswa kelas IX MAN “X� Garut. Hal tersebut menunjukkan rendahnya tingkat penalaran moral yang mereka miliki (berada pada tingkat prakonvensional) dan bersikap positif terhadap perilaku seks pranikah, dimana seharusnya pada usia remaja, mereka harus sudah berada pada tingkat konvensional dan bersikap negatif terhadap perilaku seks pranikah. hal tersebut menunjukkan adanya kesenjangan antara fenomena dengan teori yang ada.
Adapun pengertian dari penalaran moral menurut Kohlberg (1995: 161) adalah kemampuan yang dimiliki oleh seorang individu untuk melakukan penilaian atau pertimbangan terhadap nilai-nilai perbuatan atau perilaku baik-buruk atau positif-negatif, yang timbul dari hati nurani dan bukan paksaan dari luar, yang disertai pula dengan rasa penuh tanggung jawab. Sedangkan pengertian sikap menurut Sears (1985: 138) adalah orientasi yang bersifat menetap dengan komponen-komponen kognitif, afektif dan perilaku. Komponen kognitif terdiri dari seluruh kognisi yang dimiliki seseorang mengenai objek sikap tertentu-fakta, pengetahuan, dan keyakinan tentang objek. Komponen afektif terdiri dari seluruh perasaan atau emosi seseorang terhadap objek, terutama penilaian. Komponen perilaku, terdiri dari kesiapan seseorang untuk bereaksi atau kecenderungan untuk bertindak terhadap objek. Sedangkan seks pranikah menurut Menurut Kartono (1997: 188), adalahhubungan seks yang dilakukan di luar ikatan pernikahan yang syah dengan banyak orang dan merupakantindakan hubungan seksual yang tidak bermoral, dilakukan dengan terang-terangantanpa ada rasa malu sebab didorong oleh nafsu seks yang tidakterintegrasi, tidak matang, dan tidak wajar.
Pendekatan yang digunakan dalam penelitian ini adalah pendekatan kuantitatif dengan menggunakan metode korelasional.Sampel pada penelitian ini adalah siswa kelas IX MAN “X� Garut sebanyak 51 orang dengan kriteria berjenis kelamin laki-laki dan perempuan, berusia 16-17 tahun dan berada di kelas IX MAN “X� Garut.Metode analisis data yang digunakan dalam penelitian ini menggunakan fasiltas program SPSSversi 18.0 untuk menguji ada tidaknya hubungan antara tingkat penalaran moral dengan sikap terhadap perilaku seks pranikah pada siswa kelas IX MAN “X� Garut. Uji hipotesis dalam penelitian ini menggunakan teknik korelasi pearson.
Hasil analisis data menunjukkan rxy = -0.163 dan p= 0.126>α 0.05, hal ini menunjukkan bahwa tidak terdapat hubungan negatif anatara tingkat penalaran moral dengan sikap terhadap perilaku seks pranikah. Keeratan hubungan dalam penelitian ini sebesar 3,5%, artinya bahwa sikap negatif atau positif yang ditunjukkan siswa terhadap perilaku seks pranikah tidak hanya berhubunga
MODEL PELATIHAN ASPEK KEBAHASAAN DALAM BIMBINGAN MEMBACA SEBAGAI UPAYA UNTUK MENINGKATKAN PEMAHAMAN BACAAN : Studi Eksperimen terhadap Siswa Peserta Program Bimbingan Membaca di SMA Albidayah Batujajar Kabupaten Bandung Tahun Ajaran 1993/1994
Intercultural Communicative Language Teaching in China: Highlight or Addendum?
AbstractInternational students were frequently reported of culture shock issues when entering a new cultural environment. Cultural knowledge was often treated as an addendum which focused on learning facts about the target country. This article demonstrated culture shock that experienced by 7 international students, and also reviewed intercultural communicative language teaching (ICLT) in Indonesian language classrooms practiced by 6 language practitioners from 3 different universities in China. Using findings that emerged from a series of one-to-one interviews, the research explored practitioners’ current perspective of ICLT and how these understandings influenced their practices, including teaching materials, methods, and activities. The researcher discussed the possible causes of the status quo of ICLT in China, and went on to put forward suggestions that ICLT should be promoted in foreign language teaching as a successful mediator of intercultural dimension.AbstrakMahasiswa internasional sering dilaporkan tentang masalah kejutan budaya ketika memasuki lingkungan budaya baru. Pengetahuan budaya sering diperlakukan sebagai tambahan yang berfokus pada mempelajari fakta tentang negara sasaran. Artikel ini menunjukkan kejutan budaya yang dialami oleh 7 siswa internasional, dan juga mengulas pengajaran bahasa komunikatif antarbudaya (ICLT) di ruang kelas bahasa Indonesia yang dipraktikkan oleh 6 praktisi bahasa dari 3 universitas berbeda di Tiongkok. Menggunakan temuan yang muncul dari serangkaian wawancara satu-ke-satu, penelitian mengeksplorasi perspektif praktisi saat ini tentang ICLT dan bagaimana pemahaman ini mempengaruhi praktik mereka, termasuk bahan ajar, metode, dan kegiatan. Peneliti membahas kemungkinan penyebab status quo ICLT di Cina, dan kemudian mengajukan saran bahwa ICLT harus dipromosikan dalam pengajaran bahasa asing sebagai mediator sukses dimensi lintas budaya. How to Cite :, Wang, Q., Syihabuddin., Mulyati, Y., Damaianti, V. S. (2018). Intercultural Communicative Language Teaching in China: Highlight or Addendum?. TARBIYA: Journal of Education in Muslim Society, 5(2), 155-165. doi:10.15408/tjems.v5i2.9732
Variasi bahasa dan fungsi ragam bahasa pada iklan10.10 aplikasi belanja daring dalam perspektif sosiolinguistik
Sistem belanja daring di Indonesia semakin menunjukkan perkembangan yang signifikan, mulai dari penjualan sandang, pangan, maupun papan. Berbagai aplikasi belanja daring berusaha mempromosikan produk dan jasanya dengan cara-cara yang menarik, unik, dan kreatif; termasuk dalam penggunaan bahasanya. Sumber data pada penelitian ini diambil dari aplikasi Shopee, Lazada, Blibli, Tokopedia dan Bukalapak edisi 10.10 tahun 2022. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan metode deskriptif-analitis. Pengumpulan data dengan dokumentasi. Prosedur yang dilakukan terhadap data yaitu: 1) mengumpulkan iklan produk periode 10.10 yang ada dalam aplikasi Shopee, Lazada, Bli-Bli, Bukalapak dan Tokopedia, 2) mendata dan mencatat iklan yang menunjukkan variasi bahasa, 3) menentukan fungsi variasi bahasa yang ada pada iklan tersebut, 4) menganalisis masing- masing variasi dan fungsi bahasa,5) Mengkategorikan variasi bahasa kemudian mendeskripsikan dan menyimpulkan secara fakta sesuai dengan hasil penelitian, 6) membuat kesimpulan. Hasil penelitian ini ditemukan 7 data yang termasuk dalam variasi bahasa Indoglish, 1 data variasi bahasa Tiongkok, 4 data variasi bahasa gaul/slang dan variasi bahasa akronim dan singkatan sebanyak 2 data. Selanjutnya juga ditemukan fungsi ragam bahasa yaitu fungsi informatif, fungsi direktif dan fungsi membangun citra
Makna Kata dalam Bahasa Indonesia (Salah Kaprah dan Upaya Perbaikannya)
Often in understanding or interpreting words in the Indonesian language mistaken or mistaken things are considered as truth so that it often makes the understanding of the Indonesian language wrong. This research is here to describe the perception of Indonesian language users about words that are often misunderstood and their efforts to improve them. This research is in the form of descriptive qualitative research and questionnaire as the main instrument. Data is presented by the method of referring to the technique of listening and note-free. This research gives the result that (1) out of 10 words that are interpreted by Indonesian users, only 3 words are interpreted following Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI, 2013) and 7 other words are interpreted incorrectly. The words that are interpreted according to KBBI (2013) are absen, absensi, and kosong. Words that are interpreted incorrectly are acuh, bergeming, nuansa, seronok, carut-marut, notulen, and rempong. Some of the factors that cause the meaning are seeing in the mass media, often hearing from other people (the public), becoming a daily habit, and seeing the meaning in the dictionary. (2) Efforts to improve the interpretation by requiring the mass media to use the meaning appropriate to the KBBI (2013), improve the quality of the Indonesian language of educators, foster a positive attitude towards the Indonesian language, and establish binding rules for Indonesian language users. AbstrakSeringkali dalam memahami atau memaknai kata dalam bahasa Indonesia terjadi salah kaprah atau kesalahan yang dianggap sebagai kebenaran sehingga hal itu acap kali membuat pemahaman terhadap bahasa Indonesia keliru. Penelitian ini hadir untuk mendeskripsikan persepsi pengguna bahasa Indonesia mengenai kata-kata yang sering disalahkaprahkan maknanya dan upaya memperbaikinya. Penelitian ini berwujud deskriptif kualitatif dengan peneliti dan angket sebagai instrumen utama. Data disajikan dengan metode simak dengan teknik simak bebas cakap dan catat. Penelitian ini memberikan hasil bahwa (1) dari 10 kata yang dimaknai oleh pengguna bahasa Indonesia, hanya 3 kata yang dimaknai sesuai dengan Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI, 2013) dan 7 kata lainnya dimaknai salah kaprah. Kata-kata yang dimaknai sesuai dengan KBBI (2013) adalah absen, absensi, dan kosong. Kata-kata yang dimaknai keliru adalah acuh, bergeming, nuansa, seronok, carut-marut, notulen, dan rempong. Beberapa faktor yang menjadi penyebab pemaknaan tersebut adalah melihat di media massa, sering mendengar dari orang lain (masyarakat), menjadi kebiasaan sehari-hari, dan melihat makna dalam kamus. (2) Upaya memperbaiki pemaknaan itu dengan cara mewajibkan media massa untuk menggunakan makna yang sesuai dengan KBBI (2013), meningkatkan kualitas bahasa Indonesia para pendidik, menumbuhkan sikap positif terhadap bahasa Indonesia, dan menetapkan aturan yang mengikat bagi pengguna bahasa Indonesia
ANALISIS TINDAK TUTUR ILOKUSI PADA PERCAKAPAN SIDANG KASUS PEMBUNUHAN BERENCANA
Penelitian ini menganalisis tindak tutur ilokusi dalam persidangan kasus “polisi tembak polisi” (Ferdy Sambo). Metode penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah analisis percakapan. Data dalam penelitian ini tindak tutur ilokusi yang digunakan oleh partisipan sidang dalam kasus “polisi tembak polisi” (Ferdy Sambo). Sumber data dalam penelitian ini diperoleh dari kanal youtube KompasTv, yakni persidangan kasus “polisi tembak polisi” (Ferdy Sambo) pada tanggal 17 Oktober 2022, 20 Oktober 2022 dan 31 November 2022. Ditemukan lima tindak tutur ilokusi, yakni tindak tutur asertif 41 data, tindak tutur direktif 38 data, tindak tutur komisif 3 data, tindak tutur deklaratif 2 data dan tindak tutur eskpresif 10 data. Tindak tutur yang paling banyak digunakan adalah tindak tutur direktif
Penerapan Model Sosiokognitif Berbantuan Multimedia Interaktif dalam Pembelajaran Menulis Teks Deskripsi di Sekolah Dasar
Tujuan dalam penelitian adalah untuk menganalisis model sosiokognitif berbantuan multimedia interaktif dalam pembelajaran menulis teks deskripsi di sekolah dasar. Teks deskripsi adalah salah satu jenis teks yang dipelajari siswa di sekolah dasar. Teks deskripsi memberikan gambaran yang jelas mengenai suatu objek atau suasana. Metode penelitian ini menggunakan pendekatan deskriptif kualitatif. Dalam penelitian ini, pembelajaran menulis teks deskripsi di kelas 2 SD dilakukan dengan menerapkan Model Sosiokognitif Berbantuan Multimedia Interaktif. Pembelajaran dilakukan dalam dua siklus, masing-masing terdiri dari dua pertemuan, terhadap 90 orang siswa kelas 2 SD. Analisis statistik deskriptif kemudian digunakan untuk menilai kemampuan siswa menulis teks deskripsi sederhaan. Penilaian kemampuan siswa didasarkan pada tiga aspek, yaitu kejelasan penggambaran (deskripsi), tata bahasa (tanda baca dan struktur kalimat), dan ejaan/kosakata. Hasil temuan penelitian menunjukkan bahwa nilai rata-rata kemampuan siswa menulis teks deskripsi sederhana adalah 74 pada siklus I dan 87 pada siklus II. Artinya, penerapan model sosiokognitif berbantuan multimedia interaktif dalam pembelajaran menulis teks deskripsi di kelas 2 SD dapat meningkatkan kemampuan siswa menulis teks deskripsi sederhana. Berdasarkan hasil penelitian, direkomendasikan untuk mengembangkan model SKBMI agar dapat digunakan dalam pembelajaran membaca/menulis di tingkat yang lebih lanjut dengan teks yang lebih kompleks
- …
