TARBIYA: Journal of Education in Muslim Society
Not a member yet
225 research outputs found
Sort by
Assessing Gaps between Perception and Implementation of Higher Order Thinking Skills (HOTS) in Islamic Higher Education
Abstract
High-order thinking skills (HOTS) is one of the key competencies in 21st-century education that requires students to be able to think critically, creatively, and solve complex problems. This study aims to assess lecturers\u27 understanding, perceptions, and practices in implementing HOTS-based learning and evaluation in private Islamic higher education institutions (PTKIS) in the KOPERTAIS region I (DKI Jakarta and Banten). This study employed qualitative method with a case study approach. This research utilized two data collection techniques, namely open-ended questionnaires based on Google Forms and document analysis obtained through Semester Learning Plans (RPS) and learning outcome evaluation instruments. The participants in this study were 13 lecturers from PTKIS in the Kopertais region I that were garnered through snowball sampling. The findings of this study uncovered three main areas: lecturers’ understanding of HOTS concepts, implementation of HOTS in teaching, and the relevance of evaluation instruments to HOTS. Based on these three categories, the findings suggest that some lecturers have a good understanding of HOTS concepts, but there are also some who are unable to effectively apply these concepts in teaching and developing HOTS-based evaluation instruments. This study also signifies the importance of aligning the understanding, implementation, and the development of HOTS-based instruments to create high-quality learning.
Abstrak
Keterampilan berpikir tingkat tinggi (Higher Order Thinking Skills/HOTS) merupakan salah satu kompetensi kunci dalam pendidikan abad ke-21 yang menuntut peserta didik untuk mampu berpikir kritis, kreatif, dan memecahkan masalah kompleks. Penelitian ini bertujuan untuk menilai pemahaman, persepsi, dan praktik dosen dalam mengimplementasikan pembelajaran dan evaluasi berbasis HOTS di Perguruan Tinggi Keagamaan Islam Swasta (PTKIS) wilayah KOPERTAIS I (DKI Jakarta dan Banten). Penelitian ini menggunakan metode kualitatif dengan pendekatan studi kasus. Teknik pengumpulan data yang digunakan meliputi kuesioner terbuka berbasis Google Forms dan analisis dokumen yang diperoleh dari Rencana Pembelajaran Semester (RPS) serta instrumen evaluasi hasil belajar. Partisipan dalam penelitian ini adalah 13 dosen PTKIS di wilayah Kopertais I yang dipilih melalui teknik snowball sampling. Temuan penelitian ini mengungkapkan tiga fokus utama: pemahaman dosen terhadap konsep HOTS, implementasi HOTS dalam pengajaran, dan relevansi instrumen evaluasi terhadap HOTS. Berdasarkan ketiga kategori tersebut, hasil penelitian menunjukkan bahwa sebagian dosen memiliki pemahaman yang baik tentang konsep HOTS, namun masih ada yang belum mampu menerapkan konsep tersebut secara efektif dalam pengajaran maupun pengembangan instrumen evaluasi berbasis HOTS. Studi ini juga menegaskan pentingnya penyelarasan antara pemahaman, implementasi, dan pengembangan instrumen berbasis HOTS guna menciptakan pembelajaran yang berkualitas.
How to Cite: Muttaqin, S., Krisnawati, N., Maftuhah3, Syam, M., & Mustolihudin. (2025). Assessing Gaps between Perception and Implementation of Higher Order Thinking Skills (HOTS) in Islamic Higher Education. TARBIYA: Journal of Education in Muslim Society, 12(1), 77-96. doi:10.15408/tjems.v12i1.47314
The Concept of the Perfect Human (al-Insan al-Kamil) in Islamic Education According to al-Ghazali and Its Implementation in Indonesian Islamic Higher Education
Abstract
Human perfection is intrinsically linked to virtues (al-fadhā’il), namely wisdom (al-hikmah), courage (al-syaja‘ah), temperance (al-‘iffah), and justice (al-‘adalah). Through these virtues, individuals attain true happiness, which al-Ghazali in Ma‘arij al-Quds describes as beholding God in the hereafter or attaining divine knowledge (ma‘rifat al-Bāri). This study has three main objectives: first, to explain the concept of the Perfect Human (al-insan al-kamil); second, to analyze al-Ghazali’s perspective on this concept within Islamic education; and third, to examine its implementation at STIT Insan Kamil, Bogor City. The research employs qualitative methods in a descriptive, analytical, implementative, and evaluative approach, drawing on interviews with students, lecturers, and staff, supported by institutional data. For al-Ghazali, the Perfect Human is one who balances morality, intellect, and righteous deeds, achieving harmony in relationships with God, fellow human beings, and the universe. Education should therefore go beyond worldly ambitions and guide individuals toward closeness to God. At STIT Insan Kamil, this concept is applied, although Qur’an memorization targets remain less optimal and require continuous improvement.
Abstrak
Kesempurnaan manusia erat kaitannya dengan kebajikan (al-fadhā’il), yaitu kebijaksanaan (al-hikmah), keberanian (al-syaja‘ah), kesederhanaan (al-‘iffah), dan keadilan (al-‘adalah). Melalui kebajikan tersebut manusia mencapai kebahagiaan sejati, yang oleh al-Ghazali dalam Ma‘arij al-Quds digambarkan sebagai memandang Allah di akhirat atau mengenal-Nya (ma‘rifat al-Bāri). Penelitian ini memiliki tiga tujuan utama, yaitu menjelaskan konsep insan kamil (al-Insan al-Kamil), menganalisis pandangan al-Ghazali tentang konsep ini dalam pendidikan Islam, serta mengkaji implementasinya di STIT Insan Kamil Kota Bogor. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif dengan pendekatan deskriptif, analitis, implementatif, dan evaluatif melalui wawancara dengan mahasiswa, dosen, dan tenaga kependidikan, serta ditunjang oleh telaah data kelembagaan. Bagi al-Ghazali, insan kamil adalah manusia yang mampu menjaga keseimbangan antara akhlak, intelektualitas, dan amal saleh sehingga tercapai keharmonisan hubungan dengan Allah, dengan sesama manusia, dan dengan alam semesta. Pendidikan karena itu tidak hanya berorientasi pada status duniawi atau kekayaan, tetapi bertujuan mendekatkan individu kepada Allah. Di STIT Insan Kamil, konsep ini diterapkan meskipun target hafalan al-Qur’an masih belum optimal dan terus ditingkatkan.
How to Cite: Iskandar S., Saepudin, D., Husaini, A., & Syafrin, N. (2025). The Concept of the Perfect Human (al-Insan al-Kamil) in Islamic Education According to al-Ghazali and Its Implementation in Indonesian Islamic Higher Education. TARBIYA: Journal of Education in Muslim Society, 12(1), 97-114. doi:10.15408/tjems.v12i1.46553
Logic Model Evaluation of Teaching Assistance in Islamic Teacher Education
Abstract
Experiential learning through teaching assistance programs plays a vital role in the professional development of prospective teachers, especially within Islamic higher education contexts. However, few evaluation frameworks comprehensively explore the relationships among program components and their direct effects on educational outcomes. This study employs the Logic Model framework to systematically analyze the Teaching Assistance Program at the Faculty of Tarbiyah and Teacher Training, UIN Kiai Haji Achmad Siddiq Jember, during the 2024–2025 academic year. By mapping inputs, activities, outputs, outcomes, and long-term impacts, the study offers an integrated evaluation of how teaching assistance fosters professional competencies and instructional quality development. Utilizing a qualitative approach, including semi-structured interviews, focus groups, and document analysis, with participation from 114 sixth-semester students across nine study programs, the research uncovers the critical influence of structured mentorship and contextual adaptation across disciplines. It also reveals challenges such as inconsistent supervision and lack of standardized practices. This study contributes to advancing program evaluation methodologies in Islamic teacher education by demonstrating the utility of the Logic Model to reveal program dynamics and inform strategic enhancement of teaching assistance frameworks. The findings carry significant implications for promoting equitable, coherent, and sustainable teacher preparation programs within diverse institutional environments.
Abstrak
Pembelajaran berbasis pengalaman melalui program bantuan pengajaran memegang peranan penting dalam pengembangan profesional calon guru, khususnya dalam konteks pendidikan tinggi Islam. Namun, sedikit kerangka evaluasi yang secara komprehensif mengeksplorasi hubungan antar komponen program dan dampak langsungnya terhadap hasil pendidikan. Studi ini menggunakan kerangka Kerja Logic Model untuk secara sistematis menganalisis Program Bantuan Pengajaran di Fakultas Tarbiyah dan Ilmu Keguruan, UIN Kiai Haji Achmad Siddiq Jember, selama tahun akademik 2024–2025. Dengan memetakan input, aktivitas, keluaran, hasil, dan dampak jangka panjang, penelitian ini menawarkan evaluasi terpadu tentang bagaimana bantuan pengajaran mendorong kompetensi profesional dan pengembangan kualitas instruksional. Menggunakan pendekatan kualitatif yang meliputi wawancara semi-terstruktur, diskusi kelompok fokus, dan analisis dokumen, dengan partisipasi 114 mahasiswa semester enam dari sembilan program studi, penelitian ini mengungkap pengaruh penting pendampingan terstruktur dan adaptasi kontekstual lintas disiplin. Studi ini juga mengidentifikasi tantangan seperti pengawasan yang tidak konsisten dan kurangnya praktik standar. Penelitian ini berkontribusi pada pengembangan metodologi evaluasi program dalam pendidikan guru Islam dengan menunjukkan kegunaan Logic Model untuk mengungkap dinamika program dan memberikan informasi untuk peningkatan strategis kerangka bantuan pengajaran. Temuan penelitian memiliki implikasi signifikan untuk mendorong program persiapan guru yang adil, koheren, dan berkelanjutan dalam lingkungan institusional yang beragam.
Learning Innovation in Islamic Boarding Schools in East Java: Technology’s Role in Enhancing Teaching Effectiveness
Abstract
Despite the increasing adoption of technology in education, Islamic boarding schools (pesantren) remain underexplored in terms of sustainable digital integration aligned with Islamic values. This study offers a comprehensive exploration of technology-based learning innovations within pesantren, examining how these innovations enhance pedagogical effectiveness while integrating principles of Islamic education management. Conducted as an in-depth qualitative case study across three pesantren in East Java, data were gathered through interviews, classroom observations, and documentation analysis. The study identified three core innovations: the use of digital learning media, the implementation of e-learning platforms, and the integration of mobile applications. These approaches have positively impacted student motivation, learning flexibility, and teacher-student engagement. However, challenges such as limited infrastructure and inadequate digital literacy among educators persist. Findings underscore the need for systematic teacher training, infrastructure investment, and culturally relevant digital leadership to ensure sustainable transformation. The study contributes to both academic discourse and practical policy development by offering context-specific recommendations for integrating technology in pesantren education without compromising core Islamic values.
Abstrak
Meskipun adopsi teknologi dalam pendidikan semakin meningkat, pondok pesantren masih relatif kurang dieksplorasi terkait integrasi digital yang berkelanjutan dan selaras dengan nilai-nilai Islam. Studi ini menawarkan eksplorasi komprehensif tentang inovasi pembelajaran berbasis teknologi di lingkungan pesantren, dengan menelaah bagaimana inovasi-inovasi tersebut meningkatkan efektivitas pedagogis sekaligus mengintegrasikan prinsip-prinsip manajemen pendidikan Islam. Penelitian ini dilakukan sebagai studi kasus kualitatif mendalam pada tiga pesantren di Jawa Timur, dengan data diperoleh melalui wawancara, observasi kelas, dan analisis dokumentasi. Studi ini mengidentifikasi tiga inovasi utama: penggunaan media pembelajaran digital, implementasi platform e-learning, dan integrasi aplikasi berbasis mobile. Pendekatan-pendekatan ini berdampak positif terhadap motivasi peserta didik, fleksibilitas belajar, serta interaksi guru dan siswa. Namun demikian, tantangan seperti keterbatasan infrastruktur dan literasi digital pendidik yang belum memadai masih menjadi hambatan. Temuan penelitian ini menekankan pentingnya pelatihan guru yang sistematis, investasi infrastruktur, dan kepemimpinan digital yang relevan secara kultural untuk memastikan transformasi yang berkelanjutan. Studi ini memberikan kontribusi pada wacana akademik maupun pengembangan kebijakan praktis melalui rekomendasi kontekstual terkait integrasi teknologi dalam pendidikan pesantren tanpa mengorbankan nilai-nilai Islam yang esensial
Islamic Education 4.0: Rethinking Moral and Religious Learning for a Socially Conscious Generation
Abstract
Islamic Education 4.0 represents a critical response to the challenges and opportunities brought by the Fourth Industrial Revolution. This study fills a research gap in the comparative analysis of Islamic education systems by examining how Indonesia, Malaysia, and Saudi Arabia integrate digital technology within their educational systems. Using the Systematic Literature Review (SLR) method and a descriptive qualitative approach, this study analyzes 63 scholarly sources published between 2019 and 2025. The results indicate that Malaysia is making progress with structured digital policies and student-centered pedagogy, while Saudi Arabia is leading in artificial intelligence (AI) integration through its Vision 2030 initiative; in contrast, Indonesia continues to face challenges related to infrastructure, digital literacy, and policy implementation. This study suggests a step-by-step plan to improve Islamic education in Indonesia by focusing on building ethical digital skills, updating teaching methods, and preparing institutions better. The study contributes to the discourse on Islamic Education 4.0 by providing a contextual strategic guide to harmonize technological adaptation with Islamic ethical values in today’s digital era.
Abstrak
Pendidikan Islam 4.0 merupakan respons kritis terhadap tantangan dan peluang yang dibawa oleh Revolusi Industri Keempat. Studi ini mengisi kesenjangan penelitian dalam analisis komparatif sistem pendidikan Islam dengan mengkaji bagaimana Indonesia, Malaysia, dan Arab Saudi mengintegrasikan teknologi digital dalam sistem pendidikan mereka. Dengan menggunakan metode Systematic Literature Review (SLR) dan pendekatan kualitatif deskriptif, studi ini menganalisis 63 sumber ilmiah yang diterbitkan antara tahun 2019 hingga 2025. Hasil penelitian menunjukkan bahwa Malaysia mengalami kemajuan melalui kebijakan digital yang terstruktur dan pendekatan pedagogi yang berpusat pada siswa, sementara Arab Saudi memimpin dalam integrasi kecerdasan buatan (AI) melalui inisiatif Vision 2030. Sebaliknya, Indonesia masih menghadapi tantangan yang berkaitan dengan infrastruktur, literasi digital, dan implementasi kebijakan. Studi ini mengusulkan rencana bertahap untuk meningkatkan pendidikan Islam di Indonesia dengan menekankan pada pembangunan keterampilan digital yang etis, pembaruan metode pengajaran, dan peningkatan kesiapan institusi. Studi ini berkontribusi pada wacana Pendidikan Islam 4.0 dengan menyediakan panduan strategis kontekstual untuk menyelaraskan adaptasi teknologi dengan nilai-nilai etika Islam di era digital saat ini.
Evaluating ChatGPT’s Accuracy Across Cognitive Levels in Academic Assessments
AbstractThis study evaluates the accuracy of ChatGPT’s free version in answering academic questions based on Bloom’s Taxonomy cognitive levels (C1–C6) and disciplines (physics, social sciences, and religious studies) at two universities in Jakarta. A mixed-method approach was used, combining statistical and content analyses. Thirty-five lecturers from UIN Jakarta and the University of Indonesia submitted exam questions in Bahasa Indonesia to ChatGPT, and the responses were scored on a 0–100 accuracy scale. Results show that ChatGPT performs well on multiple-choice questions (C1–C3) in physics but struggles with higher-order tasks (C5–C6) requiring synthesis, evaluation, and creativity. In social sciences, accuracy was consistent, particularly in theoretical questions, though ChatGPT faced challenges with data-driven analysis and practical application. Religious studies exhibited high accuracy across all cognitive levels due to the structured and doctrinal nature of the material.Statistical analysis revealed significant differences in accuracy between lower and higher cognitive levels in physics (p = 0.005) and religious studies (p = 0.011), but no significant difference in social sciences (p = 0.137). ANOVA (p = 0.464) showed no significant differences across disciplines. This study highlights ChatGPT’s effectiveness in answering lower to intermediate-level questions (C1–C4) but identifies limitations with higher-level tasks (C5–C6). These findings encourage educators to design questions that assess deeper cognitive skills while utilizing AI’s strengths in supporting learning and knowledge acquisition.AbstrakStudi ini mengevaluasi akurasi versi gratis ChatGPT dalam menjawab pertanyaan akademik berdasarkan tingkat kognitif Taksonomi Bloom (C1–C6) dan disiplin ilmu (fisika, ilmu sosial, dan studi keagamaan) di dua universitas di Jakarta. Pendekatan mixed-method digunakan, menggabungkan analisis statistik dan konten. Sebanyak 35 dosen dari UIN Jakarta dan Universitas Indonesia mengajukan soal ujian dalam Bahasa Indonesia ke ChatGPT, dan jawaban yang dihasilkan dinilai pada skala akurasi 0–100. Hasil penelitian menunjukkan bahwa ChatGPT unggul pada soal pilihan ganda (C1–C3) di bidang fisika, tetapi kesulitan pada tugas tingkat tinggi (C5–C6) yang membutuhkan sintesis, evaluasi, dan kreativitas. Pada ilmu sosial, akurasi cenderung konsisten, terutama pada soal teoretis, meskipun ChatGPT menghadapi tantangan dalam analisis berbasis data dan penerapan praktis. Pada studi agama, ChatGPT menunjukkan akurasi tinggi di semua tingkat kognitif karena struktur materi dan interpretasi doktrin yang jelas. Analisis statistik menunjukkan perbedaan signifikan pada akurasi antara tingkat kognitif rendah dan tinggi di fisika (p = 0,005) dan studi agama (p = 0,011), tetapi tidak pada ilmu sosial (p = 0,137). Hasil ANOVA (p = 0,464) menunjukkan tidak ada perbedaan signifikan antar disiplin ilmu secara keseluruhan. Studi ini menyoroti efektivitas ChatGPT dalam menjawab soal tingkat rendah hingga menengah (C1–C4) tetapi mengidentifikasi keterbatasan pada tugas tingkat tinggi (C5–C6). Temuan ini mendorong pendidik untuk merancang soal yang mengukur keterampilan kognitif mendalam sambil memanfaatkan kekuatan AI dalam mendukung pembelajaran dan akuisisi pengetahuan.How to Cite: Nurhasanah, A., Suralaga, F., Rosyidah, I., Nihayah, Z., Sari, R. F., Solihat, A., & Ernada, N. (2024). Evaluating ChatGPT’s Accuracy Across Cognitive Levels in Academic Assessments. TARBIYA: Journal of Education in Muslim Society, 11(2), 211-224. https://doi.org/10.15408/tjems.v11i2.4470
Deep Learning Engagement as a Predictor of Academic Self-Efficacy and Language Performance
Abstract
This study investigates how deep learning engagement influences academic self-efficacy and language performance among English majors in Indonesia. Deep learning is an active and reflective process that involves critical thinking, conceptual integration, and self-regulated learning. Using a person-centred quantitative design, data were collected from 300 English majors across three universities and analysed through Latent Profile Analysis (LPA). This study applies LPA in English as Foreign Language (EFL) higher education and examines how learner diversity can be observed in a Muslim-majority population. The analysis identified three distinct learner profiles: reflective analysts, strategic learners, and passive processors. Reflective Analysts achieved the highest levels of academic self-efficacy and language performance, as measured by GPA in writing and speaking. In contrast, Passive Processors recorded the lowest scores. Profile membership was significantly influenced by academic year with clear developmental trend, whereas gender had no effect. Overall, the findings confirm that deep learning engagement is a strong predictor of EFL achievement. Theoretically, the study advances understanding of learner diversity of deep learning within Southeast Asian higher education. Practically, The study underscores the need for differentiated instruction (e.g., reflective writing and scaffolding) to help less engaged learners strengthen their critical reflection and self-regulation.
Abstrak
Penelitian ini bertujuan mengungkapkan bagaimana keterlibatan dalam pembelajaran mendalam memengaruhi efikasi diri akademik dan kinerja bahasa di kalangan mahasiswa jurusan Bahasa Inggris di Indonesia. Pembelajaran mendalam merupakan proses aktif dan reflektif yang melibatkan berpikir kritis, integrasi konseptual, dan pembelajaran yang diatur sendiri. Dengan menggunakan desain kuantitatif berpusat pada individu, data dikumpulkan dari 300 mahasiswa jurusan Bahasa Inggris di tiga universitas dan dianalisis melalui Latent Profile Analysis (LPA). Studi ini menerapkan LPA dalam konteks pendidikan tinggi Bahasa Inggris sebagai bahasa asing (EFL) dan menelaah bagaimana keragaman pembelajar dapat diamati pada populasi mayoritas Muslim. Analisis mengidentifikasi tiga profil pembelajar yang berbeda: reflective analysts, strategic learners, dan passive processors. Reflective Analysts mencapai tingkat efikasi diri akademik dan kinerja bahasa tertinggi, diukur berdasarkan IPK dalam keterampilan menulis dan berbicara. Sebaliknya, Passive Processors mencatat skor terendah. Keanggotaan profil dipengaruhi secara signifikan oleh tahun akademik dengan tren perkembangan yang jelas, sedangkan jenis kelamin tidak berpengaruh. Secara keseluruhan, temuan ini menegaskan bahwa keterlibatan dalam pembelajaran mendalam merupakan prediktor kuat terhadap pencapaian EFL. Secara teoretis, penelitian ini memperluas pemahaman tentang keragaman pembelajar dalam konteks pembelajaran mendalam di pendidikan tinggi Asia Tenggara. Secara praktis, penelitian ini menekankan perlunya pembelajaran berdiferensiasi (misalnya, penulisan reflektif dan scaffolding) untuk membantu pembelajar yang kurang terlibat dalam memperkuat refleksi kritis dan pengaturan diri mereka.
How to Cite: Istiara, F., Sutrisno, J., Tama, O. H., Mahrunnisya, D., Ajeng, G. D., Adijaya, N., Saputra, D. W., & Hadi, M. S. (2025). Deep Learning Engagement as a Predictor of Academic Self-Efficacy and Language Performance. TARBIYA: Journal of Education in Muslim Society, 12(1), 115-126. doi:10.15408/tjems.v12i1.46710
Evaluation of Digital-based Al-Qur\u27an Tahfizh Learning in Boarding School
AbstractIslamic boarding schools (pesantren) as traditional Islamic educational institutions in Indonesia face challenges in integrating digital technology into their learning processes. This study aims to analyze the implementation of digital learning evaluation in the Qur\u27anic tahfizh program at Insan Mulia Islamic Boarding School (IMBOS) in Pringsewu, Lampung, and assess its impact on educational quality. The research employs a descriptive qualitative approach, with data collected through in-depth interviews and participatory observation involving 52 tahfizh teachers (muhafizh/muhafizhah) overseeing 104 study groups (halaqah). Findings reveal that IMBOS has adopted two digital evaluation platforms: (1) a web-based system integrated with a mobile application for attendance monitoring, and (2) a spreadsheet application for assessing memorization progress. Data analysis indicates three key benefits of this technological implementation: enhanced evaluation efficiency through real-time monitoring, improved assessment accuracy via data visualization, and early detection of learning difficulties. These findings reinforce the critical role of digital transformation in improving the effectiveness of tahfizh education while providing a practical model for other Islamic boarding schools to adopt educational technology.AbstrakPesantren sebagai institusi pendidikan Islam tradisional di Indonesia menghadapi tantangan untuk mengintegrasikan teknologi digital dalam proses pembelajaran. Penelitian ini bertujuan menganalisis implementasi evaluasi pembelajaran digital dalam program tahfizh Al-Qur\u27an di Pondok Pesantren Insan Mulia (IMBOS) Pringsewu, Lampung, serta mengukur dampaknya terhadap kualitas pendidikan. Metode penelitian menggunakan pendekatan kualitatif deskriptif dengan teknik pengumpulan data melalui wawancara mendalam dan observasi partisipatif terhadap 52 guru tahfizh (muhafizh/muhafizhah) yang membina 104 kelompok belajar (halaqah). Hasil penelitian mengungkapkan bahwa IMBOS mengadopsi dua platform evaluasi digital: (1) sistem web terintegrasi aplikasi mobile untuk monitoring kehadiran, dan (2) aplikasi spreadsheet untuk penilaian pencapaian hafalan. Analisis data menunjukkan bahwa implementasi teknologi ini menghasilkan tiga manfaat utama: peningkatan efisiensi proses evaluasi (real-time monitoring), akurasi penilaian yang lebih baik melalui visualisasi data, serta kemampuan deteksi dini kesulitan belajar. Temuan ini memperkuat argumentasi tentang peran kritis transformasi digital dalam meningkatkan efektivitas pendidikan tahfizh, sekaligus menawarkan model praktis bagi pesantren lain dalam mengadopsi teknologi pendidikan. How to Cite: Masrur, M., Muhtarom, Salamun, Kusuma, N., Wahyudi, A., & Khotimah, S. H. (2025). Evaluation of digital-based Al-Qur\u27an tahfizh learning in boarding school. TARBIYA: Journal of Education in Muslim Society, 12(1), 1-16. doi:10.15408/tjems.v12i1. 44758
Community-based education: The #lesswaste habit formation by the YukNgaji Club as an Environmental Conservation Effort
AbstractThis study explores the YukNgaji community’s #LessWaste campaign as a community-driven Islamic ecotheology model. Amid environmental crises requiring sustainable action, the initiative bridges Islamic stewardship (khalifah) and responsibility (amanah) with ecological awareness. Using qualitative methods—virtual ethnography, community-based education theory, and Living Qur’an-Hadith analysis—data were gathered via observations, interviews, and digital content assessment. Results indicate #LessWaste effectively integrates Islamic ecological values through digital activism and offline practices (e.g., waste donation, reusable items). The campaign functions as both an environmental movement and adaptive educational platform, engaging Muslim youth with modern challenges. It highlights hybrid activism’s role in Islamic education, suggesting applicability across diverse Muslim communities. Future studies should test similar frameworks in varied socio-cultural contexts to evaluate sustained behavioral change.AbstrakPenelitian ini mengkaji kampanye #LessWaste komunitas YukNgaji sebagai model ekoteologi Islam berbasis komunitas. Menghadapi krisis lingkungan yang mendesak kebutuhan aksi berkelanjutan, inisiatif ini menghubungkan prinsip stewardship (khalifah) dan tanggung jawab (amanah) dalam Islam dengan kesadaran ekologis. Dengan metode kualitatif—meliputi etnografi virtual, teori pendidikan berbasis komunitas, dan analisis Living Qur’an-Hadith—data dikumpulkan melalui observasi partisipan, wawancara dengan anggota kunci, dan analisis konten digital. Hasil menunjukkan #LessWaste berhasil mengintegrasikan nilai ekologis Islam melalui aktivisme digital dan praktik offline seperti donasi sampah serta penggunaan barang reusable. Kampanye ini berfungsi ganda sebagai gerakan lingkungan dan platform pendidikan adaptif yang melibatkan generasi muda Muslim dengan isu kontemporer. Temuan menggarisbawahi peran aktivisme hibrid dalam pendidikan Islam serta potensi replikasinya di komunitas Muslim beragam. Studi lanjutan disarankan untuk menguji model serupa dalam konteks sosiokultural berbeda guna menilai dampak jangka panjang pada perubahan perilaku berkelanjutan. How to Cite: Alanazi, M. S. A., Muzakki, M. A., Muslimin, J. M., Hidayat, S. R., Yusof, N. B., & Nukhba, G. M. (2025). Community-based education: The #lesswaste habit formation by the YukNgaji Club as an Environmental Conservation Effort. TARBIYA: Journal of Education in Muslim Society, 11(1), 17-38. doi:10.15408/tjems.v12i1.45474
Initiation and Formulation of Internationalization of Islamic Religious Higher Education
AbstractGlobalisation trends and free trade have emerged as catalysts for the internationalisation of higher education institutions. The internationalisation of PTKI has primarily been spearheaded by State Islamic University (UIN) Syarif Hidayatullah Jakarta and UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta, particularly within their Postgraduate Programs (PPs). However, the efficacy of these initiatives necessitates critical review and evaluation, hence the imperative for this research. This qualitative, multi-case study employs internationalisation as the unit of analysis, gathering data through documentary studies and in-depth interviews. Following verification, reduction, and categorisation, the data were analysed utilising discourse and thematic techniques. This study focuses on the Postgraduate Schools (SPs) of UIN Jakarta and UIN Yogyakarta. The findings reveal that indicators of internationalisation across various dimensions, including management, teaching and educational staff, students, research, collaboration, and international reputation, have been pursued by the SPs of UIN Jakarta. However, one notable absence is the provision of international study programs at both the master’s and doctoral levels, a feature already present within the PPs of UIN Yogyakarta.AbstrakTren globalisasi dan perdagangan bebas telah menjadi salah satu pendorong bagi internasionalisasi lembaga pendidikan tinggi. Internasionalisasi Perguruan Tinggi Keagamaan Islam (PTKI) telah diinisiasi, dirancang, dan bahkan diimplementasikan oleh Universitas Islam Negeri (UIN) Syarif Hidayatullah Jakarta dan UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta, khususnya Program Pascasarjana mereka. Namun, implementasinya perlu ditinjau kembali dan dievaluasi; oleh karena itu, ini adalah urgensi dari penyelenggaraan penelitian ini. Penelitian ini adalah studi kualitatif dan multi kasus di mana internasionalisasi digunakan sebagai unit analisis yang mengarah pada pengumpulan data melalui studi dokumen dan wawancara mendalam. Setelah verifikasi, reduksi, dan kategorisasi, data dianalisis menggunakan teknik diskursus dan tematik. Objek dalam penelitian ini adalah Program Studi (PSs) UIN Jakarta dan UIN Yogyakarta. Penelitian ini menunjukkan bahwa indikator internasionalisasi lembaga pendidikan tinggi dalam Manajemen, pengajaran dan staf pendidik, mahasiswa, penelitian, kerjasama, dan reputasi internasional telah dilakukan dan terus dikejar oleh Program Pascasarjana (SPs) UIN Jakarta. Satu indikator yang absen dari SPs UIN Jakarta adalah program studi internasional baik pada tingkat magister maupun doktoral. Sebagai gantinya, program studi internasional telah ada di PPs UIN Yogyakarta.How to Cite: Saepudin, D., Asmawi, Sujoko, I., & Sapiudin. (2023). Initiation and Formulation of Internationalization of Islamic Religious Higher Education. TARBIYA: Journal of Education in Muslim Society, 10(2), 192-206. doi:10.15408/tjems.v10i2.34551