203 research outputs found

    Dakwah Muhammad Arif Hakim di Perguruan Pencak Silat Laskar Ikhwan As-Shafa

    No full text
    Supriyadi: 1201311278. Dakwah Muhammad Arif Hakim di Perguruan Pencak Silat Laskar Ikhwan As-Shafa. Pembimbing: (1) Dr. H.Ahmad Sagir, M. Ag (2) Syaipul Hadi, S.IP., MA . Kata kunci: kegiatan dan Metode Dakwah Muhammad Arif Hakim di Perguruan Pencak Silat Laskar Ikhwan As-Shafa. Penelitian ini bertolak dari adanya perjuangan seorang da’i muda yang selama lebih dari 12 tahun menggeluti dakwah dikalangan anak muda. Banyaknya kegiatan-kegiatan yang menyimpang pada jaman dahulu dari 2003-2005, lalu adanya perubahan yang terjadi semenjak 2005 hingga ketahun 2018 Perubahan-perubahan ini tentu mempunyai alasan besar dibalik itu semua. Setelah perubahan yang begitu derastis tersebut maka penulis kemudian berasumsi bahwa ada kegiatan dakwah yang dilakukan di kalangan anak muda khususnya generasi muda di wilayah Tamban yang dilakukan oleh da’i muda M.Arif Hakim. Penelitian ini berusaha mengungkap apa saja kegiatan dakwah yang dilakukan oleh M.Arif Hakim melalui media Perguruan Pencak Silat Laskar Ikhwan As-Shafa dan metode dakwah apa aja yang digunakan M.Arif Hakim dalam melaksanakan dakwahnya tersebut. Jenis penelitian ini adalah penelitian lapangan dengan menggunakan pendekatan Kualitatif dalam menemukan dakwah dari seorang M.Arif Hakim di Kecamatan Tamban. Subjek penelitian ini meliputi orang-orang yang berhubungan serta mengetahui proses dakwah dari seorang M.Arif Hakim melalui media Pencaksilat di Perguruan Pencak Silat Laskar Ikhwan As-Shafa. teknik yang di gunakan dalam memperoleh data adalah observasi sistemik wawancara terstruktur dan dokumentasi Hasil penelitian ini dianalisis dengan metode Logika deduktif, dari analisis diperoleh bahwa ada beberapa kegiatan dakwah yang dilakukan oleh M.Arif Hakim melalui media Pencaksilat di Perguruan Pencak Silat LaskarIkhwan As-Shafa. Di antaranya, membentuk majelis ta’lim Ikhwan As-Shafa, yang kedua melaksanakan pelatihan pisik untuk tetap menjaga kesehatan sekaligus juga mengolah pisik dengan metode do’a dan yang ketiga membentuk pola pendidikan mandiri

    Kosmologi Ikhwan al-Shafa’

    No full text
    This article is an attempt to examine and restructurize Ikhwan al-Shafa’s cosmological views. People’s perception of nature developing in the 10th century was that the nature was viewed in a more holistic approach. Nature is perceived as spiritualmetaphysic and material entity. This kind of approach is relevant to the current context after for centuries modern science, especially modern cosmological concept, has neglected spiritual-metaphysical dimension of the nature, and has only recognized the physical-material dimension of the nature. Therefore, over centuries teh meaning of nature has been reduced and this has led to inappropriate treatment toward nature. The author argues that the current perception of nature which neglects spiritual dimension has led to global environment crisis. Therefore, the holistic Ikhwan al-Shafa’s cosmological perspective is worth and relevant to current needs of humankind. Kata Kunci: Ikhwan al-Shafa’, cosmology, spiritual structure, material structure, universal active intellect

    Increasing Novice EFL Learners’ Vocabulary based on Short Islamic Stories in an Islamic Higher Education

    No full text
    The majority of EFL students lack adequate vocabulary knowledge and become frustrated when they cannot comprehend the meaning of key vocabulary terms in a passage. The study aims to determine whether short Islamic stories can improve the vocabulary acquisition of novice EFL learners. It uses quantitative research by applying a pre-experimental design with a pre-test and post-test. The study involves 30 novice EFL students enrolled in the Basic Translation course at the English Language Education department, Islamic State University of Sultan Aji Muhammad Idris Samarinda. To determine the significance of the short Islamic study to the student's vocabulary significance, the study applied a vocabulary test containing a matching test, a word meaning test, a vocabulary test, and a pronunciation and spelling test. The findings of the study revealed a significant difference between the pre-test and post-tests due to the treatment. The study's results refuted the null hypothesis. It was determined that there was substantial evidence regarding the effect of Islamic short stories on vocabulary acquisition. Further studies related to this study are needed considering the data provided in this pre-experimental design is still limited to the number of treatment groups

    Al-Dakhil dalam Penafsiran Ikhwan Al-Shafa terhadap Al-A'raf 50

    No full text
    Artikel ini membahas konsep al-dakhil dalam tafsir Ikhwan al-Shafa terhadap QS. Al-A‘raf ayat 50. Ikhwan al-Shafa adalah kelompok intelektual yang misterius yang muncul di Bashrah, Irak, sekitar abad ke-4 H/10 M. Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji konsepsi al-dakhil sebagaimana tersirat dalam QS. Al-A’raf ayat 50 terhadap keberadaan hadits-hadits maudhu’ (palsu) yang tercantum dalam Rasail Ikhwan al-Shafa. Al-dakhil dalam kajian ilmu hadits merujuk pada segala unsur luar yang disusupkan ke dalam ajaran Islam, baik berupa teks, ideologi, maupun narasi yang tidak memiliki dasar otoritatif dari Al-Qur’an dan sunnah. Metode deskriptif kualitatif digunakan untuk menggambarkan dan memahami fenomena berdasarkan data non-numerik. Penelitian ini mengkaji validitas hadits yang digunakan oleh Ikhwan al-Shafa dalam karya-karya mereka. Hasil penelitian menunjukkan bahwa sebagian besar hadits tersebut tidak hanya berstatus lemah (dha’if) tetapi juga tergolong palsu (maudhu’), mengindikasikan adanya penyisipan (al-dakhil). Secara spesifik, temuan ini mengungkap bahwa Ikhwan al-Shafa mengintegrasikan pemikiran eksternal ke dalam kerangka narasi Islam mereka. Integrasi ini bertentangan dengan prinsip kesahihan dan kemurnian ajaran Islam berdasarkan standar ilmu hadits (ulum al-hadits) dan tafsir Al-Qur'an. Meskipun hadits-hadits tersebut dapat dipahami secara simbolis atau filosofis, namun tidak sah untuk disandarkan sebagai sabda Nabi Muhammad SAW karena ketiadaan sanad yang jelas.Artikel ini membahas konsep al-dakhil dalam tafsir Ikhwan al-Shafa terhadap QS. Al-A‘raf ayat 50. Ikhwan al-Shafa adalah kelompok intelektual yang misterius yang muncul di Bashrah, Irak, sekitar abad ke-4 H/10 M. Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji konsepsi al-dakhil sebagaimana tersirat dalam QS. Al-A’raf ayat 50 terhadap keberadaan hadits-hadits maudhu’ (palsu) yang tercantum dalam Rasail Ikhwan al-Shafa. Al-dakhil dalam kajian ilmu hadits merujuk pada segala unsur luar yang disusupkan ke dalam ajaran Islam, baik berupa teks, ideologi, maupun narasi yang tidak memiliki dasar otoritatif dari Al-Qur’an dan sunnah. Metode deskriptif kualitatif digunakan untuk menggambarkan dan memahami fenomena berdasarkan data non-numerik. Penelitian ini mengkaji validitas hadits yang digunakan oleh Ikhwan al-Shafa dalam karya-karya mereka. Hasil penelitian menunjukkan bahwa sebagian besar hadits tersebut tidak hanya berstatus lemah (dha’if) tetapi juga tergolong palsu (maudhu’), mengindikasikan adanya penyisipan (al-dakhil). Secara spesifik, temuan ini mengungkap bahwa Ikhwan al-Shafa mengintegrasikan pemikiran eksternal ke dalam kerangka narasi Islam mereka. Integrasi ini bertentangan dengan prinsip kesahihan dan kemurnian ajaran Islam berdasarkan standar ilmu hadits (ulum al-hadits) dan tafsir Al-Qur'an. Meskipun hadits-hadits tersebut dapat dipahami secara simbolis atau filosofis, namun tidak sah untuk disandarkan sebagai sabda Nabi Muhammad SAW karena ketiadaan sanad yang jelas

    Peradaban Islam Pada Masa Nabi Muhammad Saw

    No full text
    Islam yang di wahyukan kepada Nabi Muhammad Saw telah membawak bangsa arab yang semula terbelakang, bodoh, tidak beradap dan tidak terkenal,dan di abaikan oleh bangsa lain, menjadi bangsa yang maju, ia dengan cepat bergerak mengembangkan dunia,membina suatu ke budayaan dan peradaban yang sangat penting artinya dalam sejarah manusia hingga sekarang. Peristiwa penting yang memperlihatkan kebijaksanaan Muhammad terjadi pada usia 35 tahun, Waktu itu bangunan Ka'bah rusak berat. Perbaikan ka'bah di lakukan secara gotong royong, para penduduk Mekkah membantu perkerjaan itu dengan sukarela. Tetapi pada saat terahir.ketika perkerjaan tinggal mengangkat dan meletakkan hajarul aswad di tembat semula, timbul perselisihan karena setiap suku merasa berhak melakukan tugas terahir dan terhormat.perselisihan semangkin memuncak maka pemimpin qurais sepakat bahwa orang yang pertama masuk ke ka'bah melalui pintu shafa, akan di jadikan hakim untuk memutuskan perkara. Ternya orang pertama masuk itu adalh nabi Muhammad Saw.Ia pun di percaya menjadi hakim, Ia lantas membentangkan kain dan meletakkan hajar aswad di tengah-tengah, lalu meminta seluruh pemimpin suku memengang tepi kain dan mengangkatnya secara bersama-sama.setelah sampai pada ketinggian tertentu, Muhammad meletakkan batu itu pada tempatnya semula. Dengan demikian, perselisihan dapat di selesaikan dengan bijaksana, dan semua kepala suku merasa puas dengan cara penyelesaian seperti itu. Nabi Muhammad segera kembali ke Madina. Beliau mengatur organisasi masyarakat kabila yang telah memeluk agama islam. Petugas keagamaan dan para dai dikirim ke berbagai daerah dan kabila mengajarkan ajaran-ajaran islam, mengatur peradilan, dan memungut zakat. Dua bulan setelah itu, Nabi menderita sakt demam. Tenaganya dengan cepat berkurang. Pada hari senin 12 Rabi'ul Awal 11 H/8 Juni 632 M., Nabi Muhammad Saw wafat di rumah isterinya aisyah. Dari perjalan sejarah Nabi ini, dapat di simpulkan bahwa Nabi Muhammad Saw, di samping sebagai pemimpin agama, juga seorang negarawan, pemimpin politik dan administrasi yang cakap. Hanya dalam waktu sebelas tahun menjadi pemimpin politik, beliau berhasil menundukkan jazirah Arab ke dalam kekuasaannya

    PERADABAN ISLAM PADA MASA NABI MUHAMMAD SAW

    No full text
    Islam yang di wahyukan kepada Nabi Muhammad Saw telah membawak bangsa arab yang semula terbelakang, bodoh, tidak beradap dan tidak terkenal,dan di abaikan oleh bangsa lain, menjadi bangsa yang maju, ia dengan cepat bergerak mengembangkan dunia,membina suatu ke budayaan dan peradaban yang sangat penting artinya dalam sejarah manusia hingga sekarang.            Peristiwa penting yang memperlihatkan kebijaksanaan Muhammad terjadi pada usia 35 tahun, Waktu itu bangunan Ka’bah rusak berat. Perbaikan ka’bah di lakukan  secara gotong royong, para penduduk Mekkah membantu perkerjaan itu dengan sukarela. Tetapi pada saat terahir.ketika perkerjaan tinggal mengangkat dan meletakkan hajarul aswad di tembat semula, timbul perselisihan karena setiap suku merasa berhak melakukan tugas terahir dan terhormat.perselisihan semangkin memuncak maka pemimpin qurais sepakat bahwa orang yang pertama masuk ke ka’bah melalui pintu shafa, akan di jadikan hakim untuk memutuskan perkara. Ternya orang pertama masuk itu adalh nabi Muhammad Saw.Ia pun di percaya menjadi hakim, Ia lantas membentangkan kain dan meletakkan hajar aswad di tengah-tengah, lalu meminta seluruh pemimpin suku memengang tepi kain dan mengangkatnya secara bersama-sama.setelah sampai pada ketinggian tertentu, Muhammad meletakkan batu itu pada tempatnya semula. Dengan demikian, perselisihan dapat di selesaikan dengan bijaksana, dan semua kepala suku merasa puas dengan cara penyelesaian seperti itu.            Nabi Muhammad segera kembali ke Madina. Beliau mengatur organisasi masyarakat kabila yang telah memeluk agama islam. Petugas keagamaan dan para dai dikirim ke berbagai daerah dan kabila mengajarkan ajaran-ajaran islam, mengatur peradilan, dan memungut zakat. Dua bulan setelah itu, Nabi menderita sakt demam. Tenaganya dengan cepat berkurang. Pada hari senin 12 Rabi’ul Awal 11 H/8 Juni 632 M., Nabi Muhammad Saw wafat di rumah isterinya aisyah.            Dari perjalan sejarah Nabi ini, dapat di simpulkan bahwa Nabi Muhammad Saw, di samping sebagai pemimpin agama, juga seorang negarawan, pemimpin politik dan administrasi yang cakap. Hanya dalam waktu sebelas tahun menjadi pemimpin politik, beliau berhasil menundukkan jazirah Arab ke dalam kekuasaannya

    EFEKTIVITAS MANAJEMEN DALAM MEWUJUDKAN MUTU LEMBAGA MA’HAD BUKIT SHAFA KECAMATAN PINTU RIME GAYO KABUPATEN BENER MERIAH

    No full text
    ABSTRAK Peningkatan mutu merupakan tugas yang paling utama, dan menjadi prioritas utama bagi setiap lembaga, termasuk Ma'had Bukit Shafa. Standar pendidikan ditentukan oleh kualitas yang dihasilkan oleh fasilitas pendidikan. Hal ini dapat diketahui dengan menghitung jumlah santri yang berprestasi, baik akademik maupun ekstrakurikuler, serta lulusan yang sesuai dengan tujuan lembaga. Penelitian ini menggunakan metode penelitian kualitatif. Teknik pengumpulan data melalui observasi, wawancara, dan dokumentasi. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa: (1)  Perencanaan efektivitas manajemen dalam mewujudkan mutu lembaga Ma’had Bukit Shafa Kecamatan Pintu Rime Gayo Kabupaten Bener Meriah menggunakan berbagai startegi diantaranya: startegi evaluasi diri, strategi komunikasi, strategi target mutu, dan startegi kerjasama. (2) Pelaksanaan efektivitas  manajemen dalam mewujudkan mutu lembaga Ma’had Bukit Shafa Kecamatan Pintu Rime Gayo Kabupaten Bener Meriah yang terdiri dari beberapa aspek diantaranya:  aspek kurikulum, aspek penerimaan santri,  pola penempatan guru, sarana dan prasarana, dan anggaran (3) Faktor pendukung efektivitas manajemen dalam mewujudkan mutu lembaga Ma’had Bukit Shafa yaitu: kepemimpian yang kuat, ustadz dan ustadzah, kemauan motivasi belajar santri yang kuat, lingkungan, kemandirian, kerjasama/teamwork, kepercayaan masyrakat, bantuan masyarakat dan pemerintah. Faktor penghambat efektivitas manajemen dalam mewujudkan mutu lembaga Ma’had Bukit Shafa yaitu: minimnya tenaga pengajar,  sarana prasarana, kurangnya sumber belajar, kurangnya kedisiplinan, anggaran belum mencukupi. Kata Kunci: Efektivitas Manajemen, Mutu Lembag

    KONSEP TA'DIB MENURUT SYED MUHAMMAD NAQUIB AL-ATTAS

    No full text
    Penelitian ini dilatar belakangi oleh masalah sekularisasi pendidikan yang mengakibatkan orientasi pendidikan menjadi materialistis. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui konsep Ta’dib yang digagas oleh Syed Muhammad Naquib al-Attas dan implikasi pemikiran Ta’dib yang digagasnya terhadap pembelajaran Pendidikan Agama Islam di sekolah. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode kepustakaan yang merupakan bagian dari pendekatan kualitatif dengan teknik analisis data meliputi reduksi data, penyajian data, dan penarikan kesimpulan. Data pada penelitian ini meliputi data primer berupa buku The Concept of Educationn in Islam, buku Islam and secularism, buku Prolegomena to the metaphysics of Islam, buku ma’na kebahagiaan dan pengamalannya dalam Islam dan juga data sekunder berupa buku terjemahan islam and secularism dan juga buku konsep adab Syed Muhammad Naquib al-Attas dan aplikasinya di perguruan tinggi. Hasil penelitian ini menunjukan bahwa konsep ta’dib yang digagas oleh Syed Muhammad Naquib al-Attas dilatarbelakangi oleh pengaruh sekularisme Barat terhadap peradaban Islam sehingga perlu diwujudkan sebuah paradigma pendidikan yang berlandaskan worldview Islam berupa konsep ta’dib yang merupakan konsep pendidikan ideal yang akan mengantarkan manusia menuju kebahagiaan. Selain itu, penelitian ini juga menghasilkan implikasi konsep ta’dib menurut Syed Muhammad Naquib al-Attas terhadap berbagai komponen pembelajaran pendidikan agama Islam di sekolah yang meliputi tujuan pembelajara, pendidik, peserta didik, materi, metode, evaluasi, dan sarana dalam pembelajaran

    Pengembangan Teori Pendidikan Islam Perspektif Muhammad Jawwad Ridla (Religius Konservatif, Religius Rasional, Pragmatis Instrumental)

    No full text
    Abstract: Development of Islamic Education Theory Perspective of Muhammad Jawwad Ridla (Conservative Religious, Rational Religious, Pragmatic Instrumental) This article discusses the study of the theory of Islamic education in the perspective of Muhammad Jawwad Ridla with six theories of Islamic Education built by Jawwad Ridla and Analysis of Jawwad Ridla concerning the three schools of Islamic education philosophy with the main characters who tend to these schools. The method of writing scientific papers uses library research. Namely, the author looks for data sources by prioritizing concepts and theories that refer to writing literature related to the specific research theme. The approach to writing scientific papers uses a philosophical approach. The results of this study are 1) The theory of Islamic education built by Muhammad Jawwad Ridla has several aspects, among them are the Concept of Teaching / Learning, Psychological Basics of the learning process, Understanding of student subjects, teaching methods, Teaching (teachers) and preparing individuals to participate active in the economic life of the community. 2) Muhammad Jawwad Ridla classifies the three main schools of Islamic education philosophy: 1) Conservative Religious Flow which is only covered by religious teachings. The main figures in this school are al-Ghazali, 2) Religious-rational, Ikhwan al-Shafa considers all disciplines as important with the flow they adhere to, 3) Pragmatic instrumentalism, adherents of this sect, Ibn Khaldun. He revealed that education is to gain worldly expertise and ukhrowi, both of which must provide benefits.Abstrak: Pengembangan Teori Pendidikan Islam Perspektif Muhammad Jawwad Ridla (Religius Konservatif, Religius Rasional, Pragmatis Instrumental). Artikel ini membahas tentang kajian teori pendidikan Islam dalam perspektif Muhammad Jawwad Ridla dengan enam teori Pendidikan Islam yang dibangun oleh Jawwad Ridla dan Analisis Jawwad Ridla mengenai tiga aliran filsafat pendidikan Islam dengan  tokoh utama yang berkecenderungan ke aliran-aliran tersebut. Metode penelitian karya ilmiah ini menggunakan kajian pustaka (library research). Yaitu penulis mencari sumber data dengan mengedepankan konsep dan teori yang mengacu pada literatur-literatur kepenulisan terkait dengan tema penelitian secara spesifik. Adapun pendekatan penulisan karya ilmiah ini menggunakan pendekatan filosofis. Hasil penelitian ini yaitu 1) Teori pendidikan Islam yang dibangun oleh Muhammad Jawwad Ridla terdapat beberapa aspek yaitu diantaranya adalah Konsep Pengajaran/Pembelajaran, Dasar-dasar psikologis proses pembelajaran, Pemahaman tentang subjek didik, metode pengajaran, Ppengajaran (guru) dan penyiapan individu untuk berpartisipasi aktif dalam kehidupan ekonomi masyarakat. 2) Muhammad Jawwad Ridla mengklasifikasikan tiga aliran utama filsafat pendidikan Islam : 1) Aliran Religius Konservatif yang hanya dilingkupkan pada ajaran keagamaan saja. Tokoh utama pada aliran ini yakni al-Ghazali, 2) Religius-rasional, Ikhwan al-Shafa menganggap semua disiplin ilmu adalah penting dengan aliran yang dianutnya, 3) Aliran pragmatis instrumental, penganut aliran ini yakni Ibnu Khaldun. Beliau mengungkapkan pendidikan adalah untuk mendapatkan keahlian duniawi dan ukhrowi, keduanya harus memberikan keuntungan.

    Sistem tanya jawab menggunakan model Bidirectional Encoder Representations from Transformers pada data sejarah hidup Nabi Muhammad

    No full text
    Allah mengutus Nabi Muhammad saw. sebagai suri tauladan dengan akhlakul karimah yang tentunya harus diikuti oleh setiap muslim. Salah satu cara untuk untuk mendapatkan gambaran utuh tentang kehidupan seorang muslim yang ideal adalah mengetahui dan mengkaji sejarah hidup Nabi Muhammad saw. Question answering atau sistem tanya jawab adalah suatu sistem yang dapat menjawab pertanyaan dalam bahasa natural dimana jawaban itu didapat dari dokumen, atau data yang relevan dengan pertanyaannya. Pada penelitian ini digunakan model yang dapat memproses dan mengerti bahasa manusia, yaitu BERT (Bidirectional Encoder Representations from Transformers). Dari pengujian yang dilakukan pada skenario penggunaan partikel -kah pada pertanyaan didapat nilai F1 tertinggi yaitu 82,24% pada pertanyaan yang menggunakan partikel -kah. Sedangkan pada skenario berdasarkan jumlah kalimat yang dibutuhkan untuk menjawab pertanyaan didapat nilai F1 tertinggi yaitu 89,94% pada pertanyaan yang membutuhkan satu kalimat untuk menjawab pertanyaan
    corecore