1,720,964 research outputs found

    STRATEGI PUBLIC RELATIONS DALAM MEMBANGUN CITRA POSITIF (Studi Sequential Exploratory Mixed Method di MAN Insan Cendekia Pekalongan)

    Get PDF
    Tesis dengan Judul “Strategi public relations dalam Membangun Citra Positif (Studi Sequential Exploratory Mixed Method di MAN Insan Cendekia Pekalongan)” ini ditulis oleh Muhammad Izzul Haq dengan bimbingan oleh Prof. Dr. H. Prim Masrokan Mutohar, M. Pd. dan Prof. Sulistyorini, M.Ag. Kata Kunci : Strategi, Public Relations, dan Citra Positif Penelitian ini dilatarbelakangi pada kenyataan bahwa banyak lembaga pendidikan islam yang belum memaksimalkan peranan public relations. Umumnya public relations berjalan secara natural sehingga citra lembaga pendidikan islam tidak terbentuk positif. Citra lembaga pendidikan Islam bukan sebuah pemberian melainkan persepsi yang dapat dikelola serta diarahkan sesuai dengan nilai fundamental maupun visi dari satuan lembaga pendidikan Islam, oleh sebab itu, peneliti tertarik untuk mengungkap strategi public relations dalam membangun citra positif lembaga pendidikan Islam. Penelitian dengan fokus pada strategi public relations meliputi pendekatan, komunikasi, dan media dalam membangun citra positif. Penelitian ini dilakukan di MAN Insan Cendekia Pekalongan, dengan pertanyaan penelitian yaitu Bagaimana pendekatan, komunikasi, dan media public relations dalam membangun citra positif di MAN Insan Cendekia Pekalongan? Adakah pengaruh secara parsial pendekatan, komunikasi dan media public relations terhadap citra positif? Serta Adakah pengaruh secara bersama antara pendekatan, komunikasi, dan media public relations terhadap citra positif?. Penelitian ini bertujuan mendeskripsikan pendekatan, komunikasi, dan media public relations dalam membangun citra positif di MAN Insan Cendekia Pekalongan, dan menjelaskan pengaruh secara parsial pendekatan, komunikasi dan media public relations terhadap citra positif, serta menjelaskan pengaruh secara bersama antara pendekatan, komunikasi dan media public relations terhadap citra positif. Metode dalam penelitian ini adalah mixed method, dengan desain sequential exploratory design. Jenis penelitian kualitatif yang digunakan dalam penelitian ini adalah studi kasus (case study). Adapun Teknik Pengumpulan data tahap pertama melalui teknik observasi berperan serta (participant observation), wawancara mendalam (indepth interview) dan dokumentasi., dengan teknik analisis data kondensasi data, data display, dan conclusion. Serta analisis keabsahan data melalui teknik trianggulasi. Kemudian pada tahap ke-2 jenis penelitian kuantitatif yang digunakan yaitu jenis penelitian pokok (fundamental research) dengan desain penelitian one shoot case study. Teknik pengumpulan data yang digunakan yaitu tenknik tes. Teknik analisis data yang digunakan peneliti adalah teknik analisis deskriptif dengan menggunakan uji Run Test dan teknik analisis inferensial dengan menggunakan uji statistik Kendal Tau dan ANOVA serta uji Beda T-Test. Hasil penelitian ini menyimpulkan bahwa Pendekatan Public Relations dalam membangun citra positif MAN Insan Cendekia Pekalongan berbentuk madrasah unggul berdaya sanding. Madrasah unggul berdaya sanding ialah madrasah yang mampu memberikan nilai-nilai positif pada sekelilingnya. Adapun bentuk pendekatan diantaranya pertama, pendekatan filosofis, melalui program studi kolaborasi. Kedua, pendekatan fungsionalis, melalui basis akademik, kesiswaan, dan keasramaan. Ketiga, pendekatan manajerial, melalui model konseptual dan operasional. Kemudian juga terdapat pengaruh positif dan signifikan pengaruh Pendekatan Public Relations terhadap Citra Positif di MAN Insan Cendekia Pekalongan. Jadi apabila semakin tinggi Pendekatan Public Relations maka berpengaruh terhadap Citra Positif di MAN Insan Cendekia Pekalongan maupun sebalikanya. Komunikasi public Relations dalam membangun citra positif MAN Insan Cendekia Pekalongan berbentuk keshalehan berkomunikasi diantaranya pertama komunikasi verbal seperti, pertama perkataan benar dan jujur, kedua, perkataan lancar, jelas dan tepat, ketiga perkataan mulia, keempat pesan yang baik, kelima bahasa yang sederhana. Kedua, komunikasi non verbal yaitu komunikasi yang memiliki kesan mendalam dan kasih sayang. Lalu terdapat pengaruh positif dan signifikan pengaruh Komunikasi Public Relations terhadap Citra Positif di MAN Insan Cendekia Pekalongan. Jadi apabila semakin tinggi Komunikasi Public Relations maka berpengaruh terhadap Citra Positif di MAN Insan Cendekia Pekalongan maupun sebalikanya. Media public Relations memiliki peranan yaitu partisipasi, support, appreciation, dan knowledge. Adapun dalam membangun citra positif MAN Insan Cendekia Pekalongan media yang digunakan diantaranya : Media elektronik berupa televise dan radio, Media cetak berupa majalah atau buletin, Media online berupa website dan media sosial. Kemudian terdapat prinsip media public relations diantaranya by establishing a reputations for reliability (Membangun reputasi sebagai orang yang dapat dipercaya), by supplying good copy (Menyediakan salinan yang baik), dan by building personal relationship white the media (Membangun hubungan personal yang kokoh). Lalu terdapat pengaruh positif dan signifikan pengaruh Media Public Relations terhadap Citra Positif di MAN Insan Cendekia Pekalongan. Jadi apabila semakin tinggi Media Public Relations maka berpengaruh terhadap Citra Positif di MAN Insan Cendekia Pekalongan maupun sebalikanya. Kemudian didapatkan bahwa Pendekatan Public Relations, Komunikasi Public Relations, Media Public Relations terhadap Citra Positif di MAN Insan Cendekia Pekalongan dengan hasil pengujian simultan bahwa terdapat pengaruh secara bersama-sama Pendekatan Public Relations, Komunikasi Public Relations, Media Public Relations terhadap Citra Positif di MAN Insan Cendekia Pekalongan

    REFLEKSI KEBUTUHAN BERTAHAN HIDUP TERHADAP PERKEMBANGAN TOKOH GASPARD DAN CAMILLE DALAM LE ZÈBRE KARYA ALEXANDRE JARDIN

    No full text
    Roman Le Zèbre karya Alexandre Jardin menceritakan tentang sebuah pasangan, Gaspard dan Camille, yang telah menjalani hubungan pernikahan selama 15 tahun. Gaspard merupakan seseorang yang berprinsip kuat bahwa kejenuhan dalam sebuah hubungan pernikahan seharusnya tidak terjadi, karena ia berpikir bahwa cinta tidak akan termakan seiring berjalannya waktu. Semenjak Camille mengalami kecelakaan yang hampir membawanya kepada kematian, Gaspard ingin merekonstruksi gairah hubungan mereka yang telah dibangun belasan tahun tersebut. Dengan kepribadiannya yang tak biasa, Gaspard menyusun berbagai strategi permainan untuk Camille agar tujuan yang ia inginkan tercapai. Camille pun ikut berperan besar dalam permainan ini karena responnya akan permainan Gaspard menentukan akhir arah hubungan mereka. Roman Le Zèbre membahas kebutuhan konatif, estetika, kognitif, dan neurotik sebagai bentuk pemenuhan kebutuhan diri sekaligus mematangkan individu dalam menemukan jati diri mereka sebagai individu yang sehat secara utuh, agar dapat menjalani hubungan pernikahan yang sehat. Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan bagaimana identifikasi tokoh Gaspard dan Camille bisa dikatakan sebagai individu yang sehat secara utuh, bagaimana cara kedua tokoh tersebut memenuhi kebutuhan konatif, estetik, kognitif, dan neurotik, dan bagaimana impresi kebutuhan-kebutuhan tersebut pada hubungan kedua tokoh utama dalam roman Le Zèbre karya Alexandre Jardin berdasarkan Pemenuhan Kebutuhan Bertahan Hidup dalam gambaran Abraham Maslow. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif deskriptif. Objek material penelitian ini adalah roman Le Zèbre karya Alexandre Jardin dan objek formal penelitian ini adalah Pemenuhan Kebutuhan Bertahan Hidup Abraham Maslow. Teknik pengumpulan data yang digunakan, yaitu teknik studi pustaka. Teknik analisis data yang digunakan adalah teknik analisis isi. Dari hasil penelitian di atas dapat disimpulkan bahwa kedua tokoh utama memenuhi kebutuhan-kebutuhan konatif, estetika, kognitif, dan neurotik dengan cara masing-masing sebagai pemenuhan bertahap hidup dalam mencapai individu yang memiliki mental yang sehat secara utuh. Dengan begitu, mereka mampu menjadi individu yang matang dengan dukungan motivasi yang holistik sebagai modal utama. Motivasi ini timbul dari dorongan situasi dan kondisi mereka dalam permainan yang sudah diatur Gaspard sehingga kedua tokoh utama dapat memaksimalkan potensi kualitas dir

    Perancangan sport center di UNISS dengan pendekatan arsitektur perilaku landasan program perencanaan dan perancangan arsitektur

    Get PDF
    Perancangan sport center di UNISS dengan pendekatan arsitektur perilaku landasan program perencanaan dan perancangan arsitektu

    ANALISIS UNSUR-UNSUR BUDAYA TARI BAPANG MALANG SEBAGAI MATERI BUDAYA DALAM PEMBELAJARAN BIPA

    Get PDF
    Haq, Muhammad Izzul. 2025. Analisis Unsur-Unsur Budaya dalam Tari Bapang Malang sebagai Materi Budaya dalam Pembelajaran BIPA. Skripsi Tadris Bahasa Indonesia. Fakultas Tarbiyah dan Ilmu Keguruan. UIN Sayyid Ali Rahmatullah Tulungagung. Pembimbing Rahmawati Mulyaningtyas, M.Pd. Kata Kunci: Unsur Budaya, Pembelajaran BIPA, Tari Bapang Kearifan lokal merupakan warisan budaya yang mencerminkan nilai-nilai luhur, norma sosial, serta pemikiran kolektif suatu masyarakat yang berkembang secara turun-temurun. Ia tidak hanya menjadi identitas budaya lokal, tetapi juga menjadi pedoman hidup yang sarat makna filosofis dan etika. Dalam konteks pembelajaran Bahasa Indonesia bagi Penutur Asing (BIPA), kearifan lokal dapat dijadikan sebagai media pembelajaran yang efektif untuk memperkenalkan budaya Indonesia secara lebih otentik dan bermakna. Salah satu wujud kearifan lokal yang potensial untuk dikenalkan adalah Tari Bapang Malang, yang mengandung pesan moral, nilai-nilai kepahlawanan, serta struktur sosial masyarakat setempat. Penelitian ini bertujuan untuk mencapai dua hal utama. Pertama, mendeskripsikan secara mendalam unsur-unsur budaya yang terdapat dalam tari Bapang, termasuk nilai-nilai, simbol, makna, serta konteks sosial yang melatarbelakanginya. Kedua, mengkaji unsur-unsur budaya yang terkandung dalam tari tersebut dapat diadaptasi dan diterapkan sebagai materi ajar dalam pembelajaran Bahasa Indonesia bagi Penutur Asing (BIPA). Sehingga tidak hanya memperkaya kompetensi bahasa peserta didik, tetapi juga memperkenalkan dan menanamkan pemahaman budaya Indonesia secara lebih autentik dan kontekstual. Metode penelitian yang digunakan yakni deskriptif kualitatif dengan pendekatan etnografi. Data dikumpulkan melalui wawancara mendalam, observasi partisipatif, dan dokumentasi, kemudian dianalisis menggunakan model Miles dan Huberman (reduksi data, penyajian data, dan penarikan kesimpulan). Lokasi penelitian berada di Sanggar Tari Topeng “Asmorobangun”, Kabupaten Malang, dengan triangulasi sumber berupa wawancara budayawan dan analisis literatur tentang Tari Bapang. Hasil penelitian menunjukkan bahwa Tari Bapang mengandung lima unsur budaya menurut Koentjaraningrat: sistem teknologi dan peralatan hidup, sistem organisasi masyarakat, sistem pengetahuan, sistem religi, dan sistem kesenian. Unsur-unsur ini dapat diterapkan dalam pembelajaran BIPA pada level C2 untuk memperdalam pemahaman pelajar terhadap bahasa dan budaya Indonesia. Penelitian ini menyimpulkan bahwa pengenalan budaya melalui Tari Bapang dapat memperkaya pembelajaran BIPA

    Kontekstualisasi Hadis Larangan Menggambar Dengan Desain Grafis

    No full text
    Di era kini, desain grafis merupakan disiplin ilmu yang populer dan sangat dibutuhkan dalam berbagai hal. Banyak orang yang mempelajari ilmu ini baik melalui sekolah, kursus, atau bahkan otodidak. Dewasa ini, desain grafis identik dengan menggambar menggunakan software-software dalam media elektronik. Kegiatan ini tentunya tak lepas dari kegiatan menggambar, tak terkecuali menggambar makhluk bernyawa.  Dalam Islam, terdapat beberapa hadist yang berisi pelarangan membuat gambar makhluk bernyawa. Mengenai hal ini, para ulama’ memiliki pendapat yang berbeda-beda. Ada yang melarang secara mutlak melarang, dan ada juga yang memperbolehkan. Adanya pelarangan ini menimbulkan keraguan bagi para desainer Muslim yang biasa menggambar makhluk bernyawa. Padahal kebanyakan dari mereka menggantungkan hidupnya pada pekerjaan tersebut. Artikel ini akan mencoba membahas hadist larangan menggambar dengan melakukan kontekstualisasi melalui pendekatan antropologis. Kontekstualisasi ini sangat penting, mengingat terdapat perbedaan kondisi sosial, budaya, politik, dan sistem nilai pada zaman Rasulullah dengan zaman sekarang. Selain itu, adanya perbedaan waktu dan tempat antara Arab dengan wilayah selain Arab melahirkan perbedaan konteks, sehingga perlu diadakan pemahaman secara kontekstual.  Jika melihat kondisi pada masa Nabi, masyarakat Arab masih berada dalam masa transisi dari kepercayaan animisme dan politeisme menuju kepercayaan monoteisme, sehingga larangan menggambar sangat masuk akal. Kemungkinan hal tersebut bertujuan untuk menjauhkan masyarakat Arab dari kebiasaan menyembah patung, gambar, dan semacamnya. Dari hal ini dapat diketahui bahwa ‘illat hukum larangan menggambar adalah belum hilangnya kebiasaan menyembah patung dan semacamnya. Pada masa sekarang, masyarakat lebih mengedepankan nilai-nilai estetika dalam memandang karya seni seperti patung dan lukisan. Dengan kata lain, masyarakat sekarang sudah tidak dikhawatirkan lagi untuk terjerumus terhadap penyembahan terhadap patung dan gambar. Oleh karena itu, apabila mengacu pada kaidah al-Hukmu Yaduru Ma’a ‘illatihi wujudan wa ‘adaman, maka hukum menggambar di masa sekarang adalah boleh. Hal ini dikarenakan ‘illat hukum dari larangan menggambar telah hilang. Dengan kata lain, mengingat desain grafis memiliki keserupaan dengan menggambar, maka hukum desain grafis di masa sekarang juga diperbolehkan

    Pemberdayaan Santri dalam Bidang Ekonomi di Pesantren As Salaam Ciampea Udik Bogor

    Get PDF
    Pesantren As Salaam di Ciampea Udik, Bogor, menghadapi tantangan dalam kemandirian ekonomi dan pemenuhan gizi santri, meskipun memiliki potensi lahan kosong seluas 1,2 hektare. Pengabdian ini bertujuan untuk merumuskan dan mengimplementasikan model pengembangan masyarakat berbasis ekonomi melalui pendidikan keterampilan agribisnis terpadu. Metode yang digunakan adalah pendekatan pendidikan masyarakat (andragogi dan experiential learning) dengan tahapan perencanaan partisipatif, pelatihan budidaya hidroponik, perikanan bioflok, dan pengolahan hasil, serta pendampingan berkelanjutan. Kegiatan melibatkan 60 santri sebagai subjek utama. Hasil program menunjukkan peningkatan signifikan pada aspek kognitif dan psikomotorik santri, di mana skor post-test pengetahuan agribisnis meningkat dari 45 menjadi 85 (peningkatan 89%), dan keterampilan praktis meningkat sebesar 75%. Secara ekonomi, program ini berhasil membentuk 3 unit usaha agribisnis yang menghasilkan pendapatan bulanan antara Rp 15-20 juta, serta mengoptimalkan 1,2 hektare lahan kosong menjadi pusat produksi dan pembelajaran. Unit hidroponik berhasil memanen sekitar 880 pot sayuran dalam satu siklus, yang secara langsung berkontribusi pada pemenuhan kebutuhan gizi santri. Model ini terbukti efektif dalam mencapai kemandirian ekonomi pesantren sekaligus menguatkan nilai-nilai falah, ta'awun, dan kewirausahaan di kalangan santri

    Going Beyond Counting First Authors in Author Co-citation Analysis

    Get PDF
    The present study examines one of the fundamental aspects of author co-citation analysis (ACA) - the way co-citation counts are defined. Co-citation counting provides the data on which all subsequent statistical analyses and mappings are based, and we compare ACA results based on two different types of co-citation counting - the traditional type that only counts the first one among a cited work's authors on the one hand and a non-traditional type that takes into account the first 5 authors of a cited work on the other hand. Results indicate that the picture produced through this non-traditional author co-citation counting contains more coherent author groups and is therefore considerably clearer. However, this picture represents fewer specialties in the research field being studied than that produced through the traditional first-author co-citation counting when the same number of top-ranked authors is selected and analyzed. Reasons for these effects are discussed

    TOMBS OF IMOGIRI KINGS: COMMUNITY PERSPECTIVE IN THEIR RELATIONSHIP OF FUNCTIONAL THEORY

    Get PDF
    This paper discusses the functional analysis that occurred around the Tombs of Imogiri Kings. It is to examine why many people willingly come to the tombs of Imogiri Kings while there are many objects of the tour in Yogyakarta. The purpose of this study was to determine the community's perspective on the tomb and its functions using Malinowski's theory analysis. Malinowski developed a functional theory with the understanding that culture is a standpoint with all the activities carried out actually intended to satisfy a series of instinctual needs of human beings related to human life. This research uses a qualitative method, which is written descriptively. The methods of data collection include field studies such as data collection methods include field studies by direct observation of the symptoms in the tombs of the Imogiri kings, conducting interviews with people involved in tomb activities, conducting participant-observers, following a number of rituals there, and literature study. The results of this study indicate that some community perspectives on the tombs of Imogiri kings that are considered sacred are formed from several factors such as history and mystical stories. This centralization then forms certain cultures and beliefs that have certain functions to fulfill the needs of human instincts as Malinowski's theory

    Variations on the Author

    Get PDF
    “Variations on the Author” discusses two of Eduardo Coutinho’s recent films (Um Dia na Vida, from 2010, and Últimas Conversas, posthumously released in 2015) and their contribution to the general question of documentary authorship. The director’s filmography is characterized by a consistent yet self-effacing form of authorial self-inscription: Coutinho often features as an interviewer that rather than express opinions propels discourses; an interviewer that is good at listening. This mode of self-inscription characterizes him as an author who is not expressive but who is nonetheless markedly present on the screen. In Um Dia na Vida, however, Coutinho is completely absent form the image, while Últimas Conversas, on the contrary, includes a confessional prologue that moves the director from the margins to the center of his films. This article examines the ways in which these works stand out in the filmography of a director who offers new insights into the notion of cinematic authorship
    corecore