286 research outputs found

    Support for “Islamic State” in Indonesian prisons

    No full text
    This report examines how alliances for and against the "Islamic State" developed among inmates in Indonesian prisons. Introduction A study of networks in Indonesian prisons that support the Islamic State (IS) suggests that relatively simple interventions by prison officials may be able to limit the influence of hardline ideologues. Only a minority of those convicted of terrorism in Indonesia support IS openly, and there is nothing to suggest that their numbers are increasing. If anything, they are declining. The need to understand the dynamics of prison networks is still urgent, however, because pro-IS inmates can constitute key nodes for encouraging or facilitating travel to Syria and because those who support IS generally support the use of violence at home.1 Preventing the growth of IS influence in prisons is therefore a way of reducing the security threat more generally. Indonesian officials are well aware of the problem, and there have been noticeable improvements in supervision of extremist inmates. The challenges are huge, however, and resources are limited. It may be time to take another look at donor assistance in a way that would avoid some of the problems that have plagued past efforts and see if there is a way to encourage local initiatives, locally developed. Indonesia also needs to adopt a law that would make it a crime to travel abroad to join or assist foreign terrorist organisations, although some makeshift solutions are planned that would draw on existing provisions of the Criminal Code. Without such a ban, however, the triangular link between prisons, extremist groups and groups like IS will persist. After the announcement on 29 June 2014 that the organisation called Islamic State of Iraq and Greater Syria (ISIS) had changed its name to Islamic State and declared its leader to be the caliph of all Muslims, ceremonies to pledge loyalty took place in jihadi communities around Indonesia, including in several prisons. The most publicised of these ceremonies took place in Pasir Putih Prison, a “super maximum security” facility on the island of Nusakambangan off the southern coast of Java, where 24 prisoners, including Indonesia’s best known extremist cleric, Abu Bakar Ba’asyir, swore allegiance on 2 July 2014. This report examines the process by which inmates in two prisons in the Nusakambangan complex, Pasir Putih and Kembang Kuning, chose sides after IS was established. For some, choosing for or against was a question of principle, but for many, more personal and pragmatic interests came into the calculus, such as access to extra food. The most militant inmates often have the best supply networks, with donations and contributions coming in on a regular basis through visitors. If that supply dries up, a leader’s hold on his followers can weaken, as Ba’asyir found when his organisation, Jamaah Anshorul Tauhid (JAT), splintered as a result of his oath to IS. When JAT members stopped sending extra provisions, the less ideologically inclined of Ba’asyir’s followers were willing to align with whoever could fill the gap. For many of the extremists, separation from their families and particularly from their children is the hardest part of incarceration, and desire for contact can be a powerful incentive for cooperation. Personal feuds are also important. On the principle of “the enemy of my enemy is my friend”, some inmates joined the IS camp because they had a dispute with someone who was anti-IS. Again, it is critically important for prison officials to try to understand who is on the outs with whom over what, so they can assess the consequences and use it to their advantage. Differences over points of theology and doctrine do of course take place—one of most heated is between takfir mu’ayyan and takfir am, basically whether one brands individuals as nonbelievers (kafir) by virtue of their membership in a group or on the basis of their own misdeeds. The IS supporters are proponents of takfir mu’ayyan and thus see all agents of state, including police and prison officials, as enemies. But while such ideological convictions are deeply held by a few, many in the pro-IS camp have only a weak grasp of doctrine and their decision to join was influenced by more mundane factors. The Nusakambangan case studies show how alliances can change as the result of the arrival of new inmates, a fight, or a change in government policy. Prison officials need to understand the circumstances that can lead to solidarity among inmates in the face of a perceived threat or the break-up of once-solid friendships. And crucially, they need to realise that no matter how well they understand individuals and alliances in prison, everything can change once a prisoner is released

    HISAB BUANG LIMA SEBAGAI METODE PENENTUAN AWAL BULAN RAMADHAN DAN SYAWAL DI DESA TANJUNG MAS ACEH

    No full text
    Penentuan awal bulan Ramadhan atau penentuan 1 Syawal kerap kali terjadi perbedaan, yang mengakibatkan tidak serentaknya puasa Ramadhan dan hari raya idul fitri termasuk di sebuah daerah wilayah Aceh Singkil tepatnya di desa Tanjung Mas, disana sering kali lebih dahulu melaksnakan puasa Ramadhan dibandingkan dengan desa lainnya. Tujuan dalam pembahasan ini untuk menjelaskan bagaimaana penetapan awal bulan Ramadhan dan penentuan hari raya idul fitri di desa Tanjung Mas. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif dengan pendekatan sosiologis, data diambil dari hasil wawancara yang mendalam. Hasil penelitian bahwa masyarakat desa Tanjung Mas Kecamatan Simpang Kanan Kabupaten Aceh Singkil dalam menentukan awal bulan Ramadhan dengan menggunakan metode hisab buang lima, metode ini merupakan sebuah metode dari nenek moyang mereka, termasuk Syekh Abdur Rauf dan Abu Pinto.begitu juga penentuan dengan 1 Syawal, mereka hanya menghitung 30 hari kedepannya, itulah 1 Syawal. Konsep hisab buang lima menganggap bahwa bulan Ramdhan berjumlah 30 hari dan tidak boleh kurang. Metode yang digunakan masyarakat Tanjung Mas berbeda dengan penentuan pemerintah. Penentuan buang lima-lima lebih cepat puasa satu hari dibanding dengan pemerintah

    KOMUNIKASI DAKWAH DALAM PROGRAM MUTIARA RAMADHAN: STUDI ISI PADA SERIAL HAPPINESS

    No full text
    Penelitian ini mengkaji komunikasi dakwah dalam serial "Happiness" yang ditayangkan dalam program "Mutiara Ramadhan" melalui pendekatan analisis isi. Fokus kajian adalah bagaimana pesan dakwah mengenai kesehatan mental dan nilai-nilai Islam disampaikan secara efektif kepada generasi muda, khususnya Gen Z, melalui karakter dan konflik realistis dalam cerita. Hasil analisis menunjukkan bahwa keberagaman karakter dan perkembangan cerita yang autentik mampu membangun keterhubungan emosional dengan audiens, sementara penyampaian pesan secara halus dan tidak menggurui meningkatkan penerimaan pesan dakwah. Respon positif dari penonton menandakan bahwa media hiburan dapat menjadi sarana yang efektif untuk pendidikan dan inspirasi spiritual, menggabungkan hiburan dan dakwah dalam konteks modern yang relevan dengan kehidupan sehari-hari

    Hari Raya Aidilfitri Celebrating Faith, Gratitude, and Compassion

    No full text
    Blessings and salutations to the Prophet Muhammad PBUH, his families, companions, and all those who follow his teachings to the day of judgment. First and foremost, hope it is not too late to wish رَمَضان المُبارَك ‘Blessed Ramadhan’ to UMPSA staff and students. May Allah reward us with التَّقْوَىٰ so that we may express our gratitude for the blessing of guidance Allah has blessed us all with

    Perlindungan Hukum atas Pembukaan Restaurant Dan Warung Makan Pada Siang Hari Saat Bulan Ramadhan

    No full text
    Di Indonesia agama mayoritas yang banyak dianutnya adalah agama islam dengan prosentase 86,93% sisanya ada agama lain seperti kristen 7,47%, hindu 3,08%, budha 0,74%, konghucu 0,03%.[1] Negara Indonesia sangat menghormati penduduknya dalam menjalani kepercayaan beragama yang dianutnya dalam perihal menjalankan kepercayaan beragama di Negara Indonesia, [2] sudah diatur pada pasal 29 ayat (2) Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945 amandemen ke 5, yang berbunyi “ Negara menjamin kemerdekaan tiap-tiap penduduk untuk memeluk agamanya masing-masing dan untuk beribadat menurut agamanya dan kepercayaan itu”. Menurut tafsiran dari pasal 29 ayat (2) secara harfiah bahwa “ Kemerdekaan kepercayaan beribadah dan melakukan amal-amal ibadah sesuai yang dipercayai dan diyakini masyarakat adalah hak prerogatif masing-masing individu, negara menjamin serta melindungi setiap masyarakat untuk memeluk agamanya agar dapat beribadah menurut keyakinannya masing-masing”. [3] Contoh konteks kepercayaan beribadah yang lazim dilakukan setiap setahun sekali satu bulan penuh oleh mayoritas penduduk indonesia yang beragama islam adalah puasa. Persoalan pada konkritnya, Ketika bulan puasa ada restaurant dan warung makan yang buka saat jam orang yang masih berpuasa yaitu pada siang hari. Pemerintah menghimbau bahkan menindak tegas menyangkut restaurant atau warung makan yang melayani pengunjung yang ingin makan ditempat. Karena belum adanya undang-undang yang mengatur tentang pengaturan pembukaan restaurant dan warung makan pada siang hari saat bulan ramadhan. Hanya peraturan-peraturan dilingkup daerah kabupaten atau kota yang mengaturnya. Ada juga daerah-daerah yang tidak memiliki peraturan daerah tentang hal tersebut. Hal itu membuat kekaburan hukum berskala daerah dan nasional yang berdampak pada keadilan sosial bagi masyarakat

    ANALISIS ANOMALI RETURN SAHAM DI BULAN RAMADHAN (STUDI EMPIRIS PADA JAKARTA STOCK EXCHANGE & JAKARTA ISLAMIC INDEX)

    No full text
    Pasar modal merupakan suatu mekanisme ekonomi dengan aktivitas perdagangan surat berharga yang memungkinkan perusahaan atau organisasi untuk mendapatkan keuntungan melalui transkasi jual-beli sekuritas. Salah satu dari anomali return saham yang akan diteliti dalam penelitian ini adalah Religius Calendar Effect. Religius Calendar Effect adalah penelitian yang difokuskan pada kalender keagamaan yang paling berpengaruh di suatu Negara tertentu yang memiliki penduduk dengan mayoritas agama atau keyakinan tertentu, misalnya penelitian Ramadhan Effect yang hanya dapat dilakukan pada Negara tertentu yang mayoritas penduduknya adalah muslim, atau penelitian pada Hari Natal dan Tahun Baru yang dapat diteliti pada Negara tertentu yang mayoritas penduduknya adalah Kristiani. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh bulan Ramadhan atau yang biasa disebut dengan Ramadhan Effect terhadap return saham di Jakarta Stock Exchange dan Jakarta Islamic Index pada periode Januari 2011 – Desember 2016. Metode analisis menggunakan analisis Uji beda dua rata-rata (t-test) yaitu dependent sample t-test atau paired sampel t-test serta Independent sample t-test dengan bantuan program SPSS. Hasil penelitian mengungkapkan bahwa tidak terdapat pengaruh Ramadhan Effect pada anomali return saham di Jakarta Stock Exchange dan Jakarta Islamic Index periode 2011 sampai dengan 2016, tetapi pada periode sebelum dan selama bulan ramadhan 2013 menunjukkan adanya pengaruh Ramadhan Effect dengan nilai signifikansi sebesar 0,519 lebih besar dari tingkat signifikansi 0,05 di Jakarta Stock Exchange dan nilai signifikansi sebesar 0,099 lebih besar dari tingkat signifikansi 0,05 di Jakarta Islamic Index.Kata Kunci : Anomali, Ramadhan Effect, Return Saham dan Uji Beda Dua Rata-rata (t-test)

    Rukyat global sebagai upaya penyatuan awal puasa dan hari raya (studi pemikiran Abû al-Faîdh Ahmad bin Muhammad al- Ghumari dalam kitab Taujîh al-Andhâr li Tauhîd al-Muslimîn fi al-Shaum wa al-Ifthâr)

    No full text
    Penelitian ini terinspirasi dari salah satu kitab karya salah satu ulama Yordania yaitu Abû al-Faîdh Ahmad bin Muhammad al-Ghumari dalam Kitab Taujȋh al-Andhȃr li Tauhȋd al-Muslimȋn fi al-Sȃumi wa al-Ifthȃr. Kitab tersebut membahas salah satu metode penentuan awal bulan Kamariah, khususnya penentuan awal bulan Ramadhan, Syawal dan Dzulhijjah, yaitu rukyat global. Dalam skripsi ini akan dijelaskan teori rukyat global yang diusung oleh Abû al-Faîdh al-Ghumari dalam menetapkan awal puasa dan hari raya serta bagaimana implementasinya. Penelitian ini bersifat penelitian kepustakaan (library research), yang mengambil kitab Taujȋh al-Andhȃr li Tauhȋd al-Muslimȋn fi al-Sȃumi wa al-Ifthȃr sebagai data primer. Kitab tersebut membahas persoalan penetapan awal puasa dan hari raya. Penulis juga mengambil data-data pendukung lainnya seperti kamus, ensiklopedi dan wawancara. Penelitian ini mengkaji pemikiran Abû al- Faîdh al-Ghumari dalam menetapkan awal bulan Ramadhan dan Syawal, kemudian dianalisis dengan pendapat-pendapat dari beberapa tokoh lain yang berkaitan dengan penentuan awal puasa dan hari raya, selanjutnya diterapkan dalam konteks sekarang. Hasil dari penelitian ini adalah rukyat global pemikiran Abû al-Faîdh al- Ghumari tidak tepat digunakan sebagai penentuan awal puasa dan hari raya bersama-sama. Hal itu disebabkan ibadah sangat terkait dengan waktu dan tempat dimana seseorang tinggal. Dalam hal ini kaitanyya dengan garis tanggal pada suatu negara itu tidak sama. Selain itu keputusan hasil penetapan awal bulan Ramadhan dan Syawal juga tidak bisa lepas dari keputusan dari seorang pempin negara. Menurut penulis, penyatuan dalam memulai dan mengakhiri puasa Ramadhan sangat diperlukan, untuk menjaga tali persaudaraan antar umat islam. Penyatuan yang dimaksud juga tidak bisa hanya dimaknai dengan melakukan puasa pada hari dan waktu yang sama, karena itu tidak mungkin terjadi. Yaitu dengan mengadakan konferensi-konferensi, seminar serta pertemuan-pertemuan internasional guna membahas penyeragaman metode dan kriteria dalam menetapkan awal dan akhir Ramadhan. Karena dimulai dari penyatuan dalam metode dan kriteria dalam menetapkan awal dan akhir Ramadhan, secara tidak langsung umat islam akan memulai dan mengakhiri puasa secara bersama-sama

    PENGUATAN CIVIC SKILL PARTICIPATORY DI PESANTREN KILAT DALAM MENANAMKAN SIKAP CINTA DAMAI (Studi Kualitatif di SMP YAPPENDA Jakarta)

    No full text
    Penelitian ini mengkaji mengenai penguatan civic skill participatory dalam Pesantren Ramadhan untuk meningkatkan sikap cinta damai. Penelitian ini dilaksanakan di SMP Yappenda Jakarta selama dua hari. Objek dari penelitian yang dilakukan yaitu berupa peserta Pesantren Ramadhan yang terdiri atas kelas tujuh dan delapan. Penelitian ini dilakukan untuk mengetahui apa saja civic skill participatory yang dikuatkan selama Pesantren Ramadhan berlangsung dan bagaimana cara penguatan tersebut dilakukan untuk meningkatkan sikap cinta damai. Metode yang digunakan yaitu deskriptif kualitatif dengan berbagai pendekatan seperti kepustakaan dan pengamatan secara langsung di lapangan. Hasil dari penelitian yang dilakukan yaitu: Pertama, di dalam Pesantren Ramadhan terdapat empat penguatan kecakapan keterampilan kewaganegaraan partisipatif yaitu berinteraksi, memantau kegiatan publik, menerapkan keputusan kebijakan publik, dan mengambil tindakan untuk meningkatkan kehidupan politik dan sipil. Kedua, penguatan tersebut dilakukan dengan dua cara yaitu dengan pemberian materi dan pencontohan sikap dari guru selaku pembimbing. Hal itu dilakukan baik secara langsung dalam materi yang diberikan maupun tidak langsung dari contoh teladan yang ditunjukkan oleh guru selaku pendamping. Dengan demikian, dapat dikatakan dalam Pesantren Ramadhan terdapat penguatan civic skill participatory untuk meningkatkan sikap cinta damai. ***** This study examines the strengthening of participatory civic skills in Islamic boarding schools to improve peace-loving attitudes. This research was carried out at Yappenda Junior High School Jakarta for two days. The object of the research is the participants of the Ramadhan Islamic Boarding School consisting of seventh and eighth grades. This research was conducted to find out what participatory civic skills were strengthened during the Ramadhan Islamic Boarding School and how the strengthening was carried out to increase peaceloving attitudes. The method used is descriptive qualitative with various approaches such as literature and direct observation in the field. The results of the research carried out are: First, in the Ramadhan Islamic Boarding School there are four strengthening of participatory citizenship skills, namely interacting, monitoring publik activities, implementing publik policy decisions, and taking action to improve political and civil life. Second, the strengthening is done in two ways, namely by providing material and modeling the attitude of the teacher as a supervisor. This is done either directly in the material provided or indirectly from the examples shown by the teacher as a companion. Thus, it can be said that in Ramadhan Islamic Boarding School there is a strengthening of participatory civic skills to increase peace-loving attitudes

    Tradisi bantai adat: kearifan lokal menyambut bulan ramadhan masyarakat merangin jambi

    No full text
    Artikel ini bertujuan untuk mendeskripsikan tradisi bantai adat sebagai kearifan lokal menyambut bulan Ramadhan bagi masyarakat Merangin Jambi. Metode kualitatif dengan pendekatan etnografi digunakan untuk mempelajari, memahami serta menganalisis fenomena masyarakat Kabu­paten Merangin khususnya dalam tradisi bantai adat yang berhubungan dengan keagamaan. Artikel ini ditulis secara objektif dari hasil observasi partisipan, wawancara dan studi literatur yang dilakukan pada Masyarakat Merangin. Bantai adat merupakan tradisi penyembelihan hewan ternak seperti sapi dan kerbau yang bertujuan untuk menyambut datangnya bulan Ramadhan dan dilaksanakan beberapa hari sebelum bulan Ramadhan. Nilai-nilai yang terdapat dalam tradisi bantai adat antara lain nilai sosial, nilai religius serta nilai budaya lokal. Dengan dikenalnya tradisi bantai adat masyarakat Merangin, dapat membuat khalayak ramai mengetahui tentang tradisi yang ada di Provinsi Jambi

    TIDAK BERPUASA RAMADHAN BAGI MUSAFIR YANG MEMULAI PERJALANANNYA PADA SIANG HARI (STUDY KOMPARATIF TERHADAP PENDAPAT IBNU QUDDAMAH DAN AN-NAWAWI)

    No full text
    Penilitian ini bertujuan untuk mengetahui bagaimana sebenarnya pendapat Ibnu Quddamah dan An-Nawawi tentang tidak berpuasa Ramadhan bagi musafir yang memulai perjalanannya pada siang hari, baik latar belakang ataupun dalil dan alasan-alasan yang mereka gunakan. Adapun jenis penilitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah Library research yaitu mengumpulkan data yang berhubungan dengan masalah yang dibahas dengan melakukan studi kepustakaan murni. dan yang menjadi sumber data primer dalam penelitian ini yaitu kitab Al-mughni karya Ibnu Quddamah dab Minhaj At-Thalibin karya An-Nawawi, sedangkan dalam teknik analisa data penulis menggunakan metode analisa data Komparatif yaitu dengan mengumpulkan data kemudian membandingkannya (pendapat Ibnu Quddamah dan An-Nawawi), baik dari segi hukum maupun dalilnya. Teknik Penulisan dalam penulisan ini, penulis menggunakan teknik Induktif, melalui metode ini penulis menganalisa data dari yang bersifat khusus kemudian digenerelisasikan untuk mendapatkan kesimpulan yang bersifat umum. dan Deduktif, melalui metode ini penulis menganalisa data darinyang bersifat umum untuk mendapatkan kesimpulan yang bersifat khusus, serta Komparatif, Melalui metode ini penulis membandingkan pendapat Ibnu Quddamah dan An nawawi mengenai masalah baik segi hukum maupun dasar dalil yang digunakan kemudian mengambil pendapat yang terkuat untuk dijadikan dasar kesimpulan dalam penelitian ini. Hasil dari penilitian ini adalah, Ada perbedaan pendapat dalam permasalahan tidak berpuasa bagi musafir yang memulai perjalanan pada siang hari yang menjadi fokus kajian dalam penilitian ini adalah karena adanya pertentangan antara nash dengan pemahaman secara logika. Ibnu Quddamah menjadikan dalil nash dalam mendukung pendapatnya, sedangkan An-Nawawi menggunakan logika (ra’yu
    corecore