1,721,319 research outputs found

    HUBUNGAN LATIHAN PEMANASAN DENGAN TERJADINYA CEDERA YANG PERNAH DIALAMI PADA PEMAIN TIM FUTSAL PRODI PENDIDIKAN DOKTER FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS ANDALAS

    Full text link
    ABSTRAK HUBUNGAN LATIHAN PEMANASAN DENGAN TERJADINYA CEDERA YANG PERNAH DIALAMI PADA PEMAIN TIM FUTSAL PRODI PENDIDIKAN DOKTER FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS ANDALAS Oleh MUHAMMAD FURQAN Cedera merupakan suatu hal yang dapat menganggu performa seorang atlit karena dapat menghilangkan kesempatan atlet tersebut untuk meraih prestasi yang terbaik. Semua olahraga dapat beresiko untuk terjadinya cedera termasuk olahraga futsal. Terdapat berbagai faktor yang dapat menyebabkan terjadinya cedera, salah satu nya pemanasan (warm up) sebelum olahraga. Telah dilakukan penelitian dengan menggunakan pendekatan Cross Sectional Study mengenai hubungan pemanasan sebelum olahraga dengan cedera yang pernah dialami oleh pemain tim futsal Program Studi Pendidikan Dokter Fakultas Kedokteran Universitas Andalas Padang. Penelitian dilakukan pada bulan September 2016 terhadap responden yang berjumlah 31 orang. Hasil penelitian menunjukkan 29 orang responden yang melakukan pemanasan (warm up) 26 orang diantaranya pernah mengalami cedera. Berdasarkan hasil uji statistik dengan chi-square didapatkan tidak ada hubungan yang signifikan (p>0,05) antara pemanasan sebelum olahraga dengan cedera yang pernah dialami. Kata kunci : Pemanasan (warm up), cedera, olahraga futsa

    PARTISIPASI MASYARAKAT DALAM PEMBANGUNAN DESA DI DESA RANAH KECAMATAN KAMPAR KABUPATEN KAMPAR

    Full text link
    ABSTRAK PARTISIPASI MASYARAKAT DALAM PEMBANGUNAN DESA DI DESA RANAH KECAMATAN KAMPAR KABPATEN KAMPAR MUHAMMAD FURQAN 11675101886 Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui partisipasi masyarakat dalam pembangunan di Desa Ranah Kecamatan Kampar Kabupaten Kampar. Untuk mengetahui tingkat partisipasi masyarakat dalam pembangunan acuan atau teori yang digunakan dalam penelitian ini adalah Permendagri Nomor 114 Tahun 2014 tentang Pedoman Pembangunan Desa Dengan Rahmat Tuhan Yang Maha Esa Menteri Dalam Negeri Republik Indonesia, dan yang digunakan sebagai indikator yaitu partisipasi dalam perencanaan, pelaksanaan, dan pemantauan. Metode penelitian yang digunakan adalah kualitatif dan jenis dan sumber datanya menggunakan data primer dan skunder, Adapun pengumpulan data dalam penelitian yaitu Dokumentasi, Wawancara, dan Observasi lapangan. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa partisipasi masyarakat dalam pembangunan di Desa Ranah masih tergolong rendah, yakni partisipasi masyarakat dalam perencanaan dan pelaksanaan. Pertama partisipasi masyarakat dalam perencanaan di Desa Ranah belum sepenuhnya bemberikan ide-ide dan saran dalam musyawarah serta kehadiran masyarakat dalam Musrenbang masih banyak tidak hadir. Kedua, partisipasi masyarakat dalam pelaksanaan di Desa Ranah masih banyak masyarakat yang tidak mengikuti program gotong royong dan dalam menyumbang materi dikarnakan faktor ekonomi menurun. Sedangkan faktor penghambatnya yaitu adanya dana Desa dan rendahnya tingkat pendidikan masyarakat. Kata Kunci : Partisipasi, Masyarakat, Pembangunan, Des

    Relay node selection and power allocation for distributed self-concatenated convolutional codes

    No full text
    In this contribution, the performance of a Distributed Self-Concatenated Convolutional Coding (DSECCC) scheme is analyzed by using Iterative Decoding (ID) for cooperative communications (CC) with the aid of relay selection (RS) and power allocation (PA). In the RS based DSECCC-ID scheme, where the transmit Signal to Noise power Ratio (SNR) is equal for both source and relay, we can achieve the minimum value of the required SNR at both destination and relay simultaneously by choosing a relay at an appropriate geographical location. By contrast, in the PA based DSECCC-ID scheme, where the position of the relay is in the middle, minimum required transmit SNRs are used both at the source and the relay. These schemes are analyzed with the help of binary Extrinsic Information Transfer (EXIT) charts. From our simulation results, we found that the RS based DSECCC-ID scheme outperforms the PA based DSECCC-ID scheme

    Artificial intelligence and companion animals: Perspectives on digital healthcare for dogs, cats, and pet ownership

    No full text
    The exponential increase in global pet ownership has been creating an urgent demand for novel solutions to upgrade care for companion animals, particularly dogs and cats. Similar to its impact on other domains, artificial intelligence (AI) delivers an alternative solution to this pressing requirement. Profound transformation in pet care management is underway with the application of cutting-edge AI technologies incorporating various machine learning (ML) algorithms. This thorough review highlights the expanding potential of AI in reshaping the pet industry and will embark on a two-fold exploration. The first section offers a brief explanation of AI paradigms, outlining essential concepts and presenting examples of their use in the management of companion animals. A more extensive second section provides a meticulous exploration of the diverse applications of AI for pets including health monitoring, behaviour monitoring, feed and feeding systems, parasite detection, artificial, virtual, and robotic pets, and veterinary care and support. It can be easily predicted from the ongoing research that the continuous integration of AI-driven innovations in the pet care sector will result in a balanced blend of compassion and technology offering optimized pet care. Currently, this integration still faces inherent challenges, and it is imperative to navigate them in order to leverage full potential of AI for companion animals

    Parasitic risks and One Health implications of valorising slaughterhouse animal by-products in raw meat-based diets for pets

    Full text link
    The increasing popularity of raw meat-based diets (RMBDs) for companion animals has raised One Health concerns regarding their microbiological and parasitological safety, particularly when raw diets are used at home without following standard safety precautions. These diets may serve as a transmission route for zoonotic parasites, posing risks not only to animal health but also to human health and the environment. This study aimed to assess the parasitic risk of animal by-products (ABP's) from sheep and cattle slaughtered in Sardinia, with a focus on zoonotic parasites of veterinary and public health significance. A total of 672 sheep and 503 cattle were examined in seven slaughterhouses between March 2021 and July 2023. Organs were inspected macroscopically, with representative samples subjected to laboratory parasitological analysis. In sheep, Echinococcus granulosus was detected in 67.7 % of animals, with the liver being significantly more affected than the lungs (54.8 % vs. 49.1 %; P = 0.038). Fertile hydatid cysts were more prevalent in the lungs (9.5 %) than in the liver (5.5 %). Cysticercus tenuicollis and Dicrocoelium dendriticum were observed in 2.4 % and 14.7 % of sheep, respectively. Bronchopulmonary nematodes were detected in 44.8 % of cases, and macroscopic Sarcocystis gigantea cysts were identified in 27.7 % of examined oesophagi. In contrast, cattle showed a significantly lower parasitic burden, with E. granulosus detected in only 2.0 % of animals and fertile cysts being rare. Fasciola hepatica was found in 0.4 % of cattle livers, and no Dicrocoelium or bronchopulmonary nematodes were detected. The results demonstrate a high parasitological load in sheep-derived ABPs, reinforcing the need for strict sanitary controls before their inclusion in RMBDs. Given the zoonotic potential of the detected parasites, particularly in endemic regions, the adoption of targeted decontamination measures is essential. These findings underscore the importance of integrating a One Health approach into raw pet food safety, public health and ABP management strategies

    PEMETAAN SENTRA PRODUKSI KOMODITI ANDALAN PERKEBUNAN RAKYAT DI PROVINSI NANGGROE ACEH DARUSSALAM

    Full text link
    Muhammad Furqan dengan juduJ skripsi "Pemetaan Sentra Produksi Komoditi Andalan Perkebunan Rakyat Di Provinsi Nanggroe Aceh Darussalam". Dibawah bimbingan Bapak Dr. Ir. Romano, M.P sebagai pembimbing utama dan Bapak Dr. Ir. Azhar Muslim, M.S sebagai pembimbing kedua.Sub sektor tanaman perkebunan adalah sebagai penghasil devisa negara, penyedia bahan baku bagi industri dan membuka lapangan kerja bagi rakyat. Sub sektor tanaman perkebunan di Indonesia dalam pengusahaannya dikenal dengan adanya perkebunan rakyat dan perkebunan besar.Nanggroe Aceh Darussalam adalah salah satu provinsi yang memiliki potensi yang sangat besar untuk pengembangan sub sektor perkebunan baik perkebunan rakyat maupun perkebunan besar. Komoditi yang diusahakan oleh perkebunan rakyat yang ada di Aceh mencapai 23 macam. Komoditi tersebut adalah karet, kelapa dalam, kelapa hybrida, kelapa sawit, kopi, cengkeh, pala, pinang, kapuk/randu, kakao, jambu mete, kemiri, lada, sagu, aren, cassiavera, gambir, nilam, tembakau, tebu, kunyit, jahe dan serewangi. Komoditi andalan adalah komoditi yang memiliki pangsa pasar, keuntungan kompetitif, nilai ekonomis, sebaran wilayah produksi dan kesesuaian agroklimat serta diharapkan dapat menjadi tumpuan daerah maupun petani. Berdasarkan hal tersebut maka komoditi andalan perkebunan rakyat ditetapkan menjadi 8 komoditi yaitu kopi, karet, kelapa sawit, kelapa dalam, kakao, kemiri, paJa dan pinang. Pernasalahan yang timbul adalah bagaimana keadaan pengembangan komoditi andalan pada perkebunan rakyat di NAD. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk menggambarkan keadaan perkebunan rakyat yang mengusahakan komoditi andalan di seluruh wilayah Nanggroe Aceh Darussalam.Luas lahan untuk 8 komoditi andalan yaitu kopi, karet, kelapa sawit, kelapa dalam, kakao, kemiri, pala dan pinang di Provinsi Nanggroe Aceh Darussalam pada tahun 2006 mencapai 515.533 Ha. Total produksinya sebanyak 808.604 ton. Jumlah petani sebanyak 571.398 KK serta total nilai produksi setiap hektarnya mencapai Rp 76.282.250. Untuk Kabupaten Aceh Besar, dapat ditetapkan sebagai daerah prioritas sentra produksi utama perkebunan rakyat bagi komoditi kelapa dalam, kemiri, kopi dan pinang.Untuk Kabupaten Pidie, dapat ditetapkan sebagai daerah prioritas sentra produksi utama perkebu.nan rakyat bagi komoditi kakao, kelapa dalam, pinang dan kopi.Untuk Kabupaten Bireuen, dapat ditetapk.an sebagai daerah prioritas sentra produksi utama perkebunan rakyat bagi komoditi pinang, kelapa sawit, kelapa dalam, kakao dan karet. Untuk Kabupaten Aceh Tengah, dapat ditetapkan sebagai daerah prioritas sentra produksi utama perkebunan rakyat bagi komoditi kopi, kemiri , pinang dan kakao. Untuk Kabupaten Aceh Utara, dapat ditetapkan sebagai daerah prioritas sentra produksi utama perkebunan rakyat bagi komoditi kelapa sawit, kelapa dalam, kakao, pinang dan karet. Untuk Kota Lhokseumawe, dapat ditetapkan sebagai daerah prioritas sentra produksi utama perkebunan rakyat bagi komoditi kelapa sawit, pinang, kakao dan kelapa dalam.Untuk Kabupaten Aceh Timur, dapat ditetapkan sebagai daerah prioritas sentra produksi utama perkebunan rakyat bagi komoditi karet, kelapa sawit, kelapa dalam dan kakao. Untuk Kota Langsa, dapat ditetapkan sebagai daerah prioritas sentra produksi utama perkebunan rakyat bagi komoditi karet, kelapa sawit, kelapa dalam dan kakao. Untuk Kabupaten Aceh Tamiang, dapat ditetapkan sebagai daerah prioritas sentra produksi utama perkebunan rakyat bagi komoditi kelapa sawit, karet, kakao dan pinang. Untuk Kabupaten Aceh Tenggara, dapat ditetapkan sebagai daerah prioritas sentra produksi utama perkebunan rakyat bagi komoditi kakao, kemiri, karet, kelapa sawit dan pinang.Untuk Kabupaten Gayo Lues, dapat ditetapkan sebagai daerah prioritas sentra produksi utama perkebunan rakyat bagi komoditi kemiri, kopi, kelapa dalam dan kakao

    Efektifitas Penggunaan VR dan AR untuk Meningkatkan Motivasi dan Hasil Belajar Mahasiswa Pertanian Universitas Islam Kebangsaan Indonesia

    Full text link
    Penggunaan media ajar VR (Virtual Reality) dan AR (Augmented Reality) merupakan salah satu perpaduan media ajar dan model pembelajaran yang dapat diterapkan dalam pembelajaran. Penelitian ini bertujuan untuk melihat penerapan bahan ajar berbasis VR dan AR dalam meningkatkan hasil belajar dan motivasi belajar, serta respon mahasiswa pertanian pada materi biologi tumbuhan. Penelitian ini menggunakan metode eksperimen dengan desain penelitian one group pretest-postest design. Subjek penelitian adalah 66 mahasiswa pertanian, dengan seluruh mahasiswa mendapatkan perlakuan. Parameter yang diukur adalah hasil belajar, motivasi belajar, respon peserta mahasiswa, serta hubungan antara motivasi belajar dan hasil belajar. Data hasil belajar dianalisis dengan statistik parametrik yaitu Paired Sample Test, tingkat motivasi belajar dan respon mahasiswa dianalisis menggunakan pedoman skor motivasi dan respon. Hubungan antara motivasi belajar dan hasil belajar dilihat melalui analisis korelasi dan regresi. Uji beda dua rata-rata pretes dan post test thit (32,24) ttab (1,997), Uji beda dua rata-rata pretes dan N-gain thit (17,43) ttab (1,997). Hasil penelitian menunjukkan bahwa antara pretes dan posttest mahasiswa, serta antara pretes dan N-gain terdapat perbedaan rata-rata yang signifikan. Koefisien korelasi menunjukkan terdapat hubungan positif antara motivasi belajar dan hasil belajar. Penerapan bahan ajar berbasis VR dan AR pada materi biologi tumbuhan dapat meningkatkan hasil belajar dan motivasi belajar, motivasi belajar memiliki pengaruh positif terhadap hasil belajar, serta mendapatkan respon yang baik dari mahasiswa

    Going Beyond Counting First Authors in Author Co-citation Analysis

    Full text link
    The present study examines one of the fundamental aspects of author co-citation analysis (ACA) - the way co-citation counts are defined. Co-citation counting provides the data on which all subsequent statistical analyses and mappings are based, and we compare ACA results based on two different types of co-citation counting - the traditional type that only counts the first one among a cited work's authors on the one hand and a non-traditional type that takes into account the first 5 authors of a cited work on the other hand. Results indicate that the picture produced through this non-traditional author co-citation counting contains more coherent author groups and is therefore considerably clearer. However, this picture represents fewer specialties in the research field being studied than that produced through the traditional first-author co-citation counting when the same number of top-ranked authors is selected and analyzed. Reasons for these effects are discussed
    corecore