1,721,234 research outputs found

    Pesan-Pesan Edukatif Tgk. Muhammad Daud Beureueh

    No full text
    Tgk. Muhammad Daud Beureueh adalah salah seorang tokoh yang banyak mewarnai perkembangan peradaban Aceh. Selain dikenal sebagai ulama, dia juga dikenal sebagai sosok yang gencar menggemakan pengembangan pendidikan di Aceh. Ide-ide pendidikan yang dicetuskannya bukan saja sekedar untuk mendidik anak bangsa agar menjadi insan akademis, namun di balik itu terselip tujuan politis untuk menjadi pionir kemerdekaan negara. Dalam pendirian sejumlah lembaga pendidikan, ide penentangan terhadap kolonialisme Belanda disebarkan oleh Tgk. Muhammad Daud Beureueh

    TGK. MUHAMMAD DAUD BEUREUEH: TOKOH MODERNIS PENDIDIKAN ISLAM ACEH (1930 - 1945)

    Full text link
    Penelitian ini menggunakan metode historis dengan teori perubahan sosial. Awal tahun 1900 Aceh merupakan kawasan yang belum bisa ditaklukan secara penuh. Namun, pasca peperangan dengan penjajah Belanda menyebabkan pendidikan Islam di Aceh mengalami kemunduran. Kebijakan politik etis mewarnai proses pendidikan Islam di Aceh. Islam adalah ruh dan budaya yang sudah mendarah daging bagi kehidupan sosial masyarakat Aceh. Pelaksanaan pendidikan Islam di Aceh hanya diikuti oleh keturunan para bangsawan. Sedangkan, proses pendidikan dimulai dengan dihilangkannya nuansa Islam dan pelajaran agama, hal ini tentu memicu keresahan di masyarakat. Hadirnya seorang tokoh modernis mampu memberikan semangat baru dalam wajah pendidikan Islam di Aceh. Tokoh modernis tersebut bernama Tgk. Muhammad Daud Beureueh. Memetik semangat dari Tgk. Muhammad Daud Beureueh dalam melaksanakan pendidikan dengan model Madrasah, dimana diajarkannya ilmu eksakta dan juga pendidikan agama untuk seluruh anak-anak Aceh tanpa ada pengecualian. Tgk. Muhammad Daud Beureueh merupakan salah seorang tokoh yang menggagas konsep pendidikan Islam Madrasah dengan memodernisasikan sistem dan kurikulum pendidikan Islam di Aceh. Pasca kemerdekaan Aceh seluruh pengelolaan Madrasah dialihkan menjadi milik Negara dengan nama Sekolah Rendah Islam, dibawah tanggung jawab residen Aceh Tgk. Muhammad Daud Beureueh. Penelitian ini menggunakan Metode Historis serta menggunakan analisis teori Modernisasi dan Perubahan sosial. Kata Kunci: Madrasah, Pendidikan Islam, Tgk Muhammad Daud Beureueh   This study uses the historical method with the theory of social change. In early 1900, Aceh was an area that could not be fully conquered. However, Islamic education in Aceh suffered a setback after the war with the Dutch colonialists. Ethical political policies color the process of Islamic education in Aceh. Islam is a spirit and culture ingrained in the Acehnese people's social life. The implementation of Islamic education in Aceh was only followed by the descendants of the nobility. Meanwhile, the education process begins with the elimination of Islamic nuances and religious studies, this certainly triggers unrest in society. The presence of a modernist figure was able to provide new enthusiasm in the face of Islamic education in Aceh. The modernist figure named Tgk. Muhammad Daud Beureueh. Get the spirit from Tgk. Muhammad Daud Beureueh in carrying out education with the Madrasah model, where exact sciences and also religious education is taught to all Acehnese children without exception. Tgk. Muhammad Daud Beureueh is one of the figures who initiated the concept of Madrasah Islamic education by modernizAceh's Islamic education system and curriculumAceh. After Aceh's independence, all Madrasah management was transferred to the property of the State under the name Islamic Low School, under the responsibility of Aceh resident Tgk. Muhammad Daud Beureueh. This research uses the historical method and uses the analysis of the theory of modernization and social change. Keywords: Islamic Education, Madrasah, Tgk. Muhammad Daud Beureue

    PEMIKIRAN POLITIK TEUNGKU MUHAMMAD DAUD BEUREUEH TENTANG KONSEP NEGARA ISLAM ACEH

    No full text
    ABSTRAKTeungku Muhammad Daud Beureueh merupakan seorang ulama besar, seorang pemimpin rakyat, mantan Gubernur Militer Aceh mempunyai keinginan untuk membentuk Negara Islam Aceh. Perjuangan beliau mempertahankan Republik ini dengan maksud mengislamkan seluruh pelosok Negera Indonesia khususnya Aceh. Namun dalam perjalanannya hal itu gagal dicapai dikarenakan Indonesia menganut ideologi nasionalisme. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui Pemikiran Teungku Muhammad Daud Beureueh Tentang Konsep Negara Islam Aceh dan mengetahui faktor kegagalan Teungku Muhammad Daud Beureueh dalam mengimplementasikan Konsep Negara Islam Aceh. Teknik pengumpulan data yang digunakan yaitu penelitian lapangan dan penelitian kepustakaan. Studi lapangan untuk memperoleh data primer yang dilakukan dengan cara wawancarai informan. Sedangkan penelitian kepustakaan untuk memperoleh data sekunder dengan mengkaji literature dan buku-buku serta bacaan terkait. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa Konsep Negara Islam Aceh dalam perspektif pemikiran politik Teungku Muhammad Daud Beureueh adalah Islam sebagai dasar Negara dan Syariat Islam sebagaimana yang telah diperintahkan oleh Allah SWT dan dijalankan oleh Rasulullah SAW. Faktor yang menyebabkan kegagalan dalam mengimplementasikan konsep Negara Islam Aceh adalah propaganda yang dilakukan oleh pihak pemerintah pusat, perpecahan dalam kubu DI/TII, tidak adanya dukungan dari pemerintah pusat. Kesimpulan menunjukkan bahwa Negara Islam Aceh adalah cita-cita dari pemikiran Teungku Muhammad Daud Beureueh karena Islam tidak dapat dipisahkan dengan Aceh karena Islam pula Aceh akan menjadi wilayah yang subur, makmur aman dan sejahtera.Kata Kunci : Pemikiran Politik, Teori Negara dan Negara Islam

    THE KINGDOM OF ACEH DARUSSALAM AFTER THE EXILING OF SULTAN MUHAMMAD DAUD SHAH (1906-1942): KERAJAAAN ACEH DARUSSALAM PASCA PENGASINGAN SULTAN MUHAMMAD DAUD SYAH (1906-1942)

    No full text
    This study aims to examine the extent of Dutch intervention in destroying Aceh's sovereignty, and what efforts were attempted by Sultan Muhammad Daud Syah in restoring the sovereignty after his exile. The methods used are heuristics, critical interpretation, and historiography. The results showed that the Dutch violated the laws of war by kidnapping the two consorts and their children so that the Sultan would surrender. The contribution of Sultan Muhammad Daud Syah in his exile to restore Aceh's sovereignty was to provide financial support and hold communication with the fighters in the interior. In addition, he also asked for reinforcements from foreign powers (Japan) to expel the Dutch colonialists in Aceh

    PESAN-PESAN EDUKATIF TGK. MUHAMMAD DAUD BEUREUEH

    No full text
    Tgk. Muhammad Daud Beureueh was one of the leaders of Aceh who had a great contribution in developing Acehnese civilization. Besides known as an Islamic scholar, he was also known as a key person who developed education in Aceh. His educational ideas were not merely to educate young people to become academic community, but have political goals to provoke them to become a pioneer of the independence. Through the establishment of educational institutions, he propagated the idea of rebellion against Dutch colonialism. Keywords

    Gerakan dan Pemikiran K.H. Muhammad Daud Arif (Studi Pengembangan Dakwah Perguruan Hidayatul Islamiyah di Kuala Tungkal Jambi)

    Full text link
    Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji, menganalisis, serta mengungkapkan Gerakan dan Pemikiran K.H. Muhammad Daud Arif (Studi Pengembangan Dakwah Perguruan Hidayatul Islamiyah di Kuala Tungkal Jambi)? Pokok masalah tersebut dibagi dalam tiga sub masalah atau pertanyaan penelitian yaitu: 1) Apa keunikan dakwah K.H. Muhammad Daud Arif?, 2) Bagaimana pola gerakan dan pemikiran K.H. Muhammad Daud Arif? Jenis penelitian ini tergolong penelitian lapangan/kualitatif deskriptif dengan pendekatan penelitian yang digunakan adalah pendekatan dakwah, sejarah dan sosiologi. Adapun sumber data penelitian diperoleh langsung dari beberapa guru dan murid K.H. Muhammad Daud Arif di PHI, Selanjutnya metode pengumpulan data yang digunakan adalah observasi, wawancara, dan dokumentasi serta penelusuran berbagai literatur atau refrensi. Lalu teknik pengolahan dan analisis data dilakukan melalui tiga tahapan, yaitu reduksi data, penyajian, dan pengambilan kesimpulan. Hasil penelitan ini menujukkan bahwa: 1) prinsip yang dimiliki setiap individu seorang pendakwah adalah sebuah anugrah yang luar biasa, sepeti K.H. Muhammad Daud Arif dalam berinteraksi lemah lembut menyeruh masyarakat kepada kema’rufan, mencegah kemunkaran, dan memperbaiki sistem sosial mereka. Pengulangan materi dalam berdakwah serta gaya penyampaiannya berapi-api dengan keberanian yang dimilikinya adalah modal utama dalam mengusai masyarakat dan mempermudah dirinya dalam berdakwah dalam lingkup Kuala Tungkal dan sekitarnya, 2) Pola gerakan dakwah K.H. Muhammad Daud Arif tidak terlepas dari pendahulunya yang mementingkan keselamatan umat manusia, karena dakwah kewajiban setiap manusia untuk menyampaikan pesan-pesan yang berdasarkan alQur’an dan hadis. Pola dakwahnya diantaranya adalah pola dakwah desa-kedesa, masjid-kemasjid serta pola dakwah di bidang politik semua itu demi menyampaikan ajaran agama Islam serta pengembangan dakwah Islamiyah. Pemikiran dakwah yang diutarakan K.H. Muhammad Daud Arif adalah sebuah bentuk penyemangat dalam berjuang mempertahankan tanah Kuala Tungkal serta penyemangat dalam menyampaikan dakwahnya, 3) lembaga pendidikan Islam yang di dirikan oleh K.H. Muhammad Daud bentuk kepedulian terhadap masyarakat Kuala Tungkal supaya terhindar dari kebodohan tentang ajaran agama Islam, dan juga suatu kesadaran akan adanya tempat untuk menimbah ilmu agama Islam. Implikasi penelitian ini adalah: Islam merupakan agama keselamatan bagi seluruh ummat. Olehya itu, perlu adanya dakwah, dakwah yang merupakan pesanpesan moral yang disampaikan untuk membangun suatu daerah yang tertinggal serta kurangnya pemahaman akan agama Islam. Inilah yang di sampaikan oleh K.H. Muhammad Daud Arif dalam pola dan pergerakan dakwahnya di Kuala Tungkal, melihat hal demikian K.H. Muhammad Daud Arif mampu mengubah pola hidup masyarakat Kuala Tungkal yang dahulunya kurang tampaknya akan pemahaman agama Islam sehigga mampu mengamalkan kaidah-kaidah agama Islam

    Batasan aurat wanita menurut Syekh Akbar Muhammad Daud Dahlan (Pimpinan Pondok Pesantren Fathiyyah Al-idrisiyyah Tasikmalaya)

    Full text link
    Wanita adalah makhluk yang diciptakan oleh Allah yang mempunyai kelebihan-kelebihan dari laki-laki. Islam sangat peduli terhadap keberadaan wanita, oleh karena itu Islam mengatur hak-hak wanita agar keberadaan wanita diakui, dan dianjurkan agar wanita dapat menjaga dirinya dengan dapat menutup auratnya dengan baik, karena wanita adalah aurat, seluruh tubuh wanita dari mulai ujung rambut sampai ujung kaki mempunyai daya tarik, sehingga wanita harus dapat menjaganya. Penelitian ini memiliki tujuan untuk mengetehui pendapat Syekh Akbar Muhammad Daud Dahlan tentang batasan aurat wanita dan dasar hukum yang digunakannya sehingga ia dapat mengeluarkan pendapat seperti itu, serta implikasinya terhadap kehidupan masyarakat yang berada disekitar Pondok pesantren Fathiyyah Al- Idrisiyyah. Penelitian ini bertolak dari adanya perbedaan pendapat para ulama dalam menentukan batasan aurat wanita ketika ia keluar rumah atau berada diantara bukan muhrimnya, dimana pada umumnya para ulama sepakat bahwa aurat wanita itu adalah seluruh tubuh kecuali muka dan telapak tangan, hal ini berbeda dengan pendapat Syekh Akbar Muhammad Daud Dahlan yang mengatakan bahwa aurat wanita itu seluruh tubuh tanpa terkecuali Penelitian ini mengunakan metode deskriptif agar dapat menghasilkan data secara cermat dan bisa mendapatkan gambaran yang akurat dari penomena yang ada. Adapun secara garis besamya jenis data yang digunakan dalam penelitian ini adalah data kualitatif. Syekh Akbar Muhammad Daud Dahlan adalah pimpinan Pondok Pesantren Fathiyyah Al-Idrisiyyah di Tasikmalaya. Hasil penelitian menunjukan bahwa menurut Syekh Akbar Muhammad Daud Dahlan aurat wanita itu adalah seluruh tubuh tanpa terkecuali, hal ini sesuai dengan perintah Allah yang tertera dalam Al-Quran surat Al- Ahzab ayat 59. ia berpendapat demikian karena menurutnya wajah adalah merupakan hal yang paling pokok dari wanita, oleh karena itu apabila wajah wanita diperlihatkan begitu saja maka akan mengakibatkan malapetaka terhadap kehidupan umat, sehingga mencegah keburukan lebih diutamakan agar umat selamat dari bahaya. Dalam beristinbath al-ahkam Syekh Akbar Muhammad Daud Dahlan berlandaskan pada Al-Qur’an dan Hadits shahih. Dalam memandang batasan aurat wanita ia menggunakan metode istidlal, menurutnya bahwa menutup seluruh tubuh bagi wanita adalah perintah yang sesuai dengan Al-Qur’an, sunah dan fakta sejarah yang telah dipraktekan oleh wanita-wanita muslimah pada masa Nabi. Implikasi pendapat Syekh Akbar Muhammad Daud Dahlan terhadap masyarakat yang berada disekitamya adalah: wanita jemaahnya mau melaksanakan perintah itu, sedangkan para wanita yang bukan jemaahnya tidak melaksanakan perintah itu, para wanita tidak berani keluar rumah jika tidak menggunakan jilbab dan memakai pakaian yang tipis dan ketat, sedikit demi sedikit para Ibu mau melaksanakan perintah itu walaupun hanya ketika mengikuti pengajian yang dilaksanakan oleh pihak pesantren

    The Traces of KH. Muhammad Daud Arif’s Thoughts and Works as a Pioneer of Education in Jambi Province, Indonesia

    Full text link
    Abstract: This study aims to reveal the traces of KH. Muhammad Daud Arif’s thoughts and works as a pioneer of education in Jambi Province, Indonesia, the initiator of the Islamic Education Institute establishment at Madrasah Hidayatul Islamiyah (MHI) in 1936.This study is analyzed based on biographical and historical approaches, analyzed through text analysis, context studies and studies of the relationship between text and society. The research findings conclude that KH. Muhammad Daud Arif has made a major contribution to the development of Islamic education in Jambi Province, especially Kuala Tungkal. The Madrasah Hidayatul Islamiyah (MHI) educational institution was founded by combining the modern education concepts of its time, has produced many graduates and educated people who take part in society. The values of women's equality (gender) in education and moderation in religion are messages that have been instilled by KH. Muhammad Daud Arif in education since the establishment of Madrasah Hidayatul Islamiyah until today. Keywords: KH. Muhammad Daud Daud Arif, Thought & Work, Islamic Education

    Peran Teungku Muhammad Daud Beureueh Dalam Pemberontakan Di Aceh 1953-1962

    No full text
    Masa awal kemerdekaan di Aceh tahun 1953-1962 menjadi awal meletusnya peristiwa berdarah yang dipimpin oleh Teungku Muhammad Daud Beureueh dalam menegakkan Syariat Islam di Aceh. Perjuangan yang dianggap suatu pemberontakan timbul akibat kekecewaan rakyat Aceh terhadap Pemerintah Pusat akibat dari janji-janji semu yang di ucapkan oleh Soekarno yang menjabat Presiden saat itu tidak kunjung terwujud. Rakyat Aceh yang sebelumnya berjuang mempertahankan kedaulatan RI dengan seluruh jiwa raganya, sangat geram karena salah satu keinginan untuk mendirikan negara yang berlandaskan Syariat Islam tidak kunjung tercapai, dan berujung pada pemberontakan rakyat Aceh dalam Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI). Pasca kemerdekaan, konflik terjadi antar kedua belah pihak yaitu pemerintah pusat dan rakyat aceh dibawah pimpinan Daud Beureueh bertikai mempertahankan ideologinya untuk dijadikan sebuah landasan suatu negara. Sesuatu hal yang sangat menarik, dan dalam kajian ini penulis ingin mengetahui bagaimana latar belakang pemberontakan serta usaha dan upaya yang dilakukan pihak Daud Beureueh dalam memperjuangkan dan mempertahankan ideologi Islam yang menjadi cita-cita rakyat Aceh

    KONSEP NEGARA ISLAM DALAM PANDANGAN TEUNGKU MUHAMMAD DAUD BEUREUEH (TINJAUAN FIQIH SIYASAH)

    Full text link
    Skripsi ini merupakan upaya ilmiah untuk memahami pemikiran Teungku Muhammad Daud Beureueh dalam kiprahnya mewujudkan negara yang sesuai dengan syari' at Islam. Di mana hal terse but merupakan cita-cita yang tinggi, sekaligus keinginan masyarakat Aceh pada umumnya yang diwujudkan dalam pengorbanan yang tidak sedikit. Dalam hal ini Daud Beureueh memberikan indikasi bahwa negara Islam merupakan bentuk negara yang sangat strategis dan dinamis, di mana asas dasarnya bertumpu pada Al-Qur'an dan Hadits. Dengan demikian dapat dipastikan bahwa bentuk dan sturktur di dalamnya dicondongkan pada ajaran Islam yang dalam hal ini mengacu pada gambaran Nabi Muhammad, Khulafaur Rasidin, dan wakil-wakil Islam sesudahnya. Daud Beureueh berkeyakinan bahwa dengan sistem islami tersebut dapat membawa rakyat menuju pada kebahagiaan yang sesungguhnya. Daud Beureueh di dampingi oleh para ulama berjuang dalam mempertahankan negara Islam, hal tersebut di landasi oleh beberapa faktor: Pertama, Daud Beureueh mendambakan masa kekuasaan Sultan Iskandar Muda yang pada waktu itu seutuhnya bercorak pada ajaran Islam, diterapkan kembali di Aceh. Dimana asumsi pemerintahan pada zaman dahulu bertumpu pada dua cabang, yakni pemerintahan sipil dan militer. Keduanya didirikan dan dijalankan menurut ajaran agama Islam. Kedua, rakyat Aceh dari . zaman dahulu telah menganut ajaran agama Islam dengan sepenuhnya, sehingga sangatlah wajar jika hal tersebut menjadi sebuah landasan utama untuk merealisasikan bentuk sebuah negara yang sesuai koridor dan bentuk islami. Ketiga, hal-hal yang mendorong Teungku Muhammad Daud Beureueh mendirikan negara Islam di Aceh adalah rakyat Aceh merasa tidak puas dengan sikap pemerintahan Republik yang pada waktu itu dalam keadaan hampir hancur, Aceh disanjung-sanjung sebagai negara modal dan Aceh memang menjadi modal bagi tegaknya negara Indonesia. Akan tetapi setelah Republik tegak kembali, Aceh dilupakan dan dibiarkan terlantar. Dalam perwujudan menuju Aceh menjadi bentuk negara Islam, maka konsep yang Teungku M. Daud Beureueh ambil adalah menggunakan konsep demokrasi dalam sebuah Republik Islam Aceh. Daud Beureueh memegang peranan sangat penting dalam pergolakan-pergolakan di Aceh, beliau mengejar cita-citanya menegakkan keadilan di bumi Allah dengan dilandasi ajaran syariat Islam. Sehingga, umat Islam dapat hidup rukun, damai dan sentosa sebagaimana yang dulu pemah diperbuat oleh raja-raja Islam sebelum mereka. Daud Beureueh menilai bahwa pergolakan dalam mempertahankan syariat di Aceh di istinbatkan sebagai jihad ''Fi sabilillah ", dalam artian berjuang menegakan agama Allah yang imbalanya tidak lain adalah ''jannatul ma 'wa
    corecore