710 research outputs found

    Local Wisdom Pemikiran Sultan Muhammad Idrus Kaimuddin dalam Kitab Kabanti “Bula Malino”

    No full text
    Masuknya agama Islam di Kesultanan Buton, telah membawa kedamaian dan perubahan dalam segala bidang termasuk pada aspek Local Wisdom ( kearifan local).  Hal  ini melahirkan ulama-ulama yang memiliki pemikiran yang cemerlang berusaha menjadikan budaya Islam mewarnai budaya lokal. Salah satu ulama di Buton sekaligus sebagai Sultan yaitu Muhammad Idrus Kaimuddin  Ibnu Badaruddin Al-Buthuni (1824-1851). Pemikiran Sultan Kaimuddin  menemukan  esensi konsep ta krama menurut ajaran leluhur dalam Kabanti Bula Malino. Kabanti yang ditulis menggunakan tulisan Arab berbahasa Wolio menjadi tradisi sekaligus tuntunan norma masyarakat di Kesultanan Buton  yang di dalamnya  banyak berisi petuah falsafah yang bersumber dari ajaran Islam. Jenis penelitian ini ialah  penelitian kepustakaan (library research), di mana data-data yang dipakai adalah data kepustakaan. Data dalam penelitian ini adalah buku induk dan jurnal ilmiah tentang tema terkait. Metode analisis yang digunakan penulis adalah metode deskriptif kualitatif. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui narasi Kabanti dan menelaah nilai-nilai Local Wisdom yang dituangkan oleh Sultan Muhammad Idrus Kaimuddin dalam karyanya Kabanti bula malino. Hasil penelitian menunjukan bahwa Sultan Muhammad Idrus Kaimuddin, melalui  Kabanti  bula  malino  berusaha  menyampaikan  kembali  ajaran-ajaran Islam, yang ia sampaikan dalam bahasa Wolio, bahasa yang dimengerti oleh masyarakat yang ia pimipin pada saat itu. Pemikiran dalam hal religiustas, etika,moral, tata krama, maupun nasehat Sultan Kaimuddin yang dituangkan dalam karyanya tersebut menjadi sebuah tradisi yang mampu menjaga kearifan lokal (Local Wisdom) masyarakat muslim di pulau Buton. Kata Kunci: Sultan Muhammad Idrus, Kabanti, dan Local Wisdom AbstractIslam in the Sultanate of Buton, has brought peace and change in all fields, including aspects of Local Wisdom (Local Wisdom). This gave birth to scholars who have intelligent minds trying to make Islam reflect local culture. One of the scholars in Buton as Sultan was Muhammad Idrus Kaimuddin Ibn Badaruddin Al Buthuni (1824-1851). Sultan Kaimuddin's thought found the essence of the concept of ta manners according to the teachings of the ancestors in the Malanti District. Kabanti, which was written using Wolio in Arabic, became a tradition that was completed in complete community norms in the Buton Sultanate, which contained many philosophical advices derived from Islamic teachings.This type of research is library research, where the data used is library data. The data in this study are the main book and scientific journal on related themes. The analytical method used by the writer is descriptive qualitative method.The purpose of this study is to study the narratives of Kabanti and examine the values of Local Wisdom expressed by Sultan Muhammad Idrus Kaimuddin in his work Kabanti bula malino. The results showed that Sultan Muhammad Idrus Kaimuddin, through Kabanti bula malino, was asked to return to follow the teachings of Islam, which he conveyed in Wolio, the language understood by the people he led at that time. Thought in terms of religiousness, ethics, morals, manners, and the advice of Sultan Kaimuddin which is spoken in his work becomes a tradition that is able to provide Local Wisdom (Local Wisdom) Muslim community on the island of Buton. Keywords: Sultan Muhammad Idrus, Kabanti, dan Local Wisdo

    Dakwah dalam pendekatan Mujadalah : Analisis deskriptif teknik debat Ustad Muhammad Idrus Ramli pada akun Youtube "Muhammad Idrus Ramli

    No full text
    Teknik debat merupakan salah satu metode dakwah yang jarang digunakan oleh kebanyakan mubaligh, hal ini juga didasari oleh penggunaannya yang cukup sulit serta beresiko memunculkan perselisihan antara kedua pihak jika tidak dilakukan dengan cara yang benar. Walaupun tidak banyak yang menggunakan metode ini, faktanya berdakwah dengan debat dapat lebih mempengaruhi jamaah, sebab dalam berdebat harus mengedepankan unsur logis yang dapat diterima oleh akal pikiran. Dalam dakwah sendiri, Teknik debat disebut dengan mujadalah. Namun pada penelitian kali ini, peneliti lebih memfokuskan pada teknik debat dalam lingkup kajian retorika. Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan teknik mujadalah Ustad Muhammad Idrus Ramli dalam kajian Retorika. Dalam debat terdapat beberapa jenis metode yaitu dengan metode problem solving dan metode logic. Penelitian ini menggunakan kajian teori retorika oleh Dori Wuwur Hendrikus. Menurut Hendrikus, terdapat dua jenis retorika yaitu monologika (pidato dan ceramah), kemudian retorika dialogika (diskusi, debat, dan tanya jawab). Pada penelitian ini lebih mengkaji kegiatan instrument debat dalam kegiatan mujadalah Ustad Muhammad Idrus Ramli. Penelitian ini dilakukan dengan cara mengkaji akun youtube Muhammad Idrus Ramli. Secara spesifikasi, penelitian ini membahas teknik debat, maka dari itu penelitian ini lebih mengarah kepada konten-konten debat, diskusi, dan tanya jawab yang pada akun youtube Idrus Ramli. Setelah dianalisa, ditemukan penggunaan instrument-instrument debat pada pelaksanaan kegiatan mujadalah Idrus Ramli pada akun youtube beliau yang berjudul "Debat dengan Salafi Part 1 & 2" menggunakan metode problem solving dan metode logic

    LOCAL WISDOM PEMIKIRAN SULTAN MUHAMMAD IDRUS KAIMUDDIN DALAM KITAB KABANTI “ Bula Malino” (Telaah Kitab Sastra Kabanti “Bula Malino”

    No full text
    Masuknya agama Islam di Kesultanan Buton, telah membawa kedamaian dan perubahan dalam segala bidang termasuk pada aspek Local Wisdom (kearifan local). Hal ini melahirkan ulama-ulama yang memiliki pemikiran yang cemerlang berusaha menjadikan budaya Islam mewarnai budaya lokal. Salah satu ulama di Buton sekaligus sebagai Sultan yaitu Muhammad Idrus Kaimuddin Ibnu Badaruddin Al Buthuni (1824-1851). Pemikiran Sultan Kaimuddin menemukan esensi konsep ta krama menurut ajaran leluhur dalam Kabanti Bula Malino. Kabanti yang ditulis menggunakan tulisan Arab berbahasa Wolio menjadi tradisi sekaligus tuntunan norma masyarakat di Kesultanan Buton yang didalamnya banyak berisi petuah falsafah yang bersumber dari ajaran Islam. Jenis penelitian ini ialah penelitian kepustakaan (library research), dimana data-data yang dipakai adalah data kepustakaan. Data dalam penelitian ini adalah buku induk dan jurnal ilmiah tentang tema terkait. Metode analisis yang digunakan penulis adalah metode deskriptif kualitatif. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui narasi Kabanti dan menelaah nilai-nilai Local Wisdom yang di tuangkan oleh Sultan Muhammad Idrus Kaimuddin dalam karyanya Kabanti bula malino. Hasil penelitian menunjukan bahwa Sultan Muhammad Idrus Kaimuddin, melalui Kabanti bula malino berusaha menyampaikan kembali ajaran-ajaran Islam, yang ia sampaikan dalam bahasa Wolio, bahasa yang dimengerti oleh masyarakat yang ia pimipin pada saat itu. Pemikiran dalam hal religiustas, etika,moral, tata krama, maupun nasehat Sultan Kaimuddin yang di tuangkan dalam karyanya tersebut menjadi sebuah tradisi yang mampu menjaga kearifan lokal (Local Wisdom) masyarakat muslim di pulau Buton. Keywords: Sultan Muhammad Idrus, Kabanti, dan Local Wisdo

    PERJUANGAN LA ODE MUHAMMAD IDRUS EFFENDY DALAM MEMPERTAHANKAN KEMERDEKAAN REPUBLIK INDONESIA DI MUNA: 1945-1949

    No full text
    Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui perjuangan La Ode Muhammad Idrus Effendy dalam mempertahankan  Kemerdekaan Republik Indonesia di Muna: 1945-1949. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode sejarah menurut Kuntowijoyo dengan melalui lima tahapan kerja, yaitu (1) Pemilihan topik, (2) Pengumpulan sumber, (3) Kritik sumber, (4) Interpretasi sumber, (5) Historiografi/Penulisan Sejarah. Hasil penelitian menunjukkan bahwa  (1) Perjuangan La Ode Muhammad Idrus Effendy dalam mempertahankan kemerdekaan RI di Muna dilatarbelakangi oleh penderitaan rakyat Muna pada masa penjajahan, kedatangan tentara sekutu (Australia) yang ikut membonceng personil tentara NICA (Belanda) yang secara terang-terangan hendak menegakkan kembali kekuasaan kolonial Belanda di Indonesia khususnya di Muna, (2) Proses perjuangan La Ode Muhammad Idrus Effendy dalam mempertahankan kemerdekaan Indonesia di Muna berawal dari inisiatif untuk membentuk organisasi Batalyon Sadar sebagai wadah perjuangan di Muna, (3) Akibat perjuangan La Ode Muhammad Idrus Effendy bagi pemertahanan kemerdekaan yaitu, terjadi penggeledahan di markas umum Batalyon Sadar, terjadi penembakan terhadap La Salepa --salah satu anggota batalyon Sadar oleh tentara KNIL Belanda. Perjuangan La Ode Muhammad Idrus Effendy berakhir pada tanggal 20 Oktober 1948 dengan terjadinya penangkapan terhadap pimipinan anggota-anggota Batalyon Sadar. Perjuangan La Ode Muhammad Idrus Effendy telah berhasil membangkitkan semangat nasionalisme dan jiwa patriotisme di kalangan masyarakat Muna. Kata Kunci: Perjuangan La Ode Muhammad Idrus Effendy, Taktik dan Strategi, Nasionalisme, Kemerdekaan R

    Penerapan metode dakwah mujadalah (as-ilah wa ajwibah) Muhammad Idrus Ramli dalam buku Madzhab Al-Asyari benarkah Ahlussunnah wal Jama’ah?

    No full text
    Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui metode yang digunakan oleh Muhammad Idrus Ramli dalam menjawab petanyaan dari seseorang tentang kebenaran Madzhab Asyariah sebagai Ahlussunnah Wal Jamaah. Dalam penelitian ini seluruh data diperoleh melalui proses analisis kualitatif deskriptif dengan pola pikir induktif yaitu buku dianalisis melalui pendekatan-pendekatan ilmiah dalam studi Islam berdasarkan data langsung dari subyek penelitian. Penelitian ini pengumpulan dan analisis data dapat dilakukan secara bersamaan. Hasil yang didapat dari penelitian ini adalah: Hasil akhir penelitian ini menunjukan metode yang dilakukan oleh Muhammad Idrus Ramli adalah dakwah melalui tulisan (dakwah bil qolam), cara menjawab pertanyaaan yang dilakukan oleh Muhammad Idrus Ramli dengan menggunakan pendekatan sejarah (history) dan pendekatan filosofis. Pendekatan tersebut digunakan untuk menjelaskan kembali tentang sejarah dan ajaran-ajaran akidah Islam Ahlussunnah Wal Jamaah. Penggunaan metode dakwah Mujadalah (as-ilah wa ajwibah) yang dilakukan oleh Muhammad Idrus Ramli dengan melalui media buku termasuk dellayed feed-back artinya proses tanya jawab tidak terjadi secara langsung, melainkan antara pertanyaan dan jawaban terjadi rentang waktu yang cukup lama. Keberhasilan dakwah Muhammad Idrus Ramli, disebabkan adanya beberapa pemilihan metode dakwah yang sesuai dengan kondisi masyarakat saat ini terjadi dengan pergeseran akidah akibat banyak aliran-aliran yang ada di Indonesia, sehingga perlu ditekankan adanya akidah yang sesuai dengan masyarakat Indonesia yang memang terdiri dari dari berbagai macam suku, budaya dan agama. Muhammad Idrus Ramli mengambil peran untuk mempertegas akidah Islam rahmatan lil alamin yang dijadikan simbol perjuangan oleh masyarakat nahdliyin. Penjelasan Idrus Ramli mengenai akidah Islamnahdliyin inilah yang menjadi dasar pembuatan buku tersebut. Menurut penulis secara keseluruhan dakwah yang dilakukan Muhammad Idrus Ramli merupakan khazanah dakwah yang harus terus dikembangkan bagi calon da’imasa depan. Karena tantangan kedepan akan semakin kompleks. Sehingga, selain seorang da’imempunyai kemampuan untuk berceramah, juga harus mempunyai kemampuan untuk menulis. Inilah tantangan yang harus dijawab oleh generasi masa depan

    IJITIHAD OF SULTAN MUHAMMAD IDRUS KAIMUDDIN (1824-1851) IN BUTON, SOUTHEAST SULAWESI, INDONESIA

    No full text
    The introduction of Islam in the Sultanate of Buton has brought about changes in the social, political, and even intellectual aspects of the sultanate. This is observable in the thought of local scholars who try to blend Islam and local culture. One of these figures is Sultan Muhammad Idrus Kaimuddin (1824-1851). The thought of Sultan Muhammad Idrus Kaimuddin finds the essence of its concept of manners or etiquette in the teachings of the ancestors in Bula Kabanti Malino and several works of Sultan Muhammad Idrus Kaimuddin. The guidance of the public and court authorities in the Sultanate of Buton was basically and mostly coming from the teachings of Islam. Thinking in terms of ethics, morals, manners, the advice of Sultan Kaimuddin has deep horizons of knowledge and thought. The magnitude of the influence of Islam in the thought of Muhammad Idrus Kaimuddin evidently works, which proves that the process of acculturation between Islam and Butonese culture runs well. The acculturation between Islam and Butonese culture was essentially a formation process of Butonese civilization centered in the palace and passed on to Buton society in general, through the process of cultural dialogue between Buton (Wolio) and Islam.

    Pandangan habib Idrus bin Muhammad Alaydrus terhadap memajang pengantin saat walimatul 'urs dalam perspektif hukum Islam

    No full text
    Pandangan yang dimaksud disini yaitu pendapat Habib Idrus terhadap pemajangan pengantin saat walimatul ‘urs. Adapun pokok masalahnya dalam penelitian ini adalah Bagaimana Pandangan Habib Idrus Bin Muhammad Alaydrus Terhadap Memajang Pengantin Saat Walimatul ‘Urs? dan Bagaimana Analisis Hukum Islam Terhadap Pandangan Habib Idrus bin Muhammad Alaydrus Tentang Memajang Pengantin saat Walimatul ‘Urs?. Penelitian lapangan ini menggunakan metode kualitatif deskriptif untuk menjawab permasalahan yang ada. Dalam pengumpulan data penulis menggunakan metode wawancara, dan studi pustaka untuk mendeskripsikan permasalahan yang ada, untuk mengetahui pendapat Habib Idrus dan perspektif Hukum Islam terhadap memajang Pengantin saat Walimatul ‘Urs. Dan selanjutnya dianalisis dengan pola pikir deduktif untuk memperjelas kesimpulannya. Hasil Penelitian menyimpulkan bahwa memajang pengantin saat walimatul ‘urs menurut Habib Idrus itu tidak diperbolehkan disebabkan seorang perempuan berdiri dengan bersolek yang berlebihan dihadapan tamu yang bukan muhrim, dan semua itu bisa mengakibatkan zina yang semuannya berawal dari mata, Habib Idrus mengatakan jangan sampai berbuat zina apalagi mendekati zina. Beliau mengajak dan juga mengajarkan untuk menjadi manusia yang dicintai Allah dan \Rasul dengan tunduk dan berhati-hati dalam menjalankan perintah-Nya. Namun jika dilihat menurut perspektif hukum Islam terhadap memajang pengantin saat walimatul ‘urs tidak berlaku secara mutlak, sebab keharamanya dikarenakan adanya tabarruj dan mempertontonkan aurat serta bercampur baurnya laki-laki dan perempuan yang bisa menimbulkan fitnah. Kalau semuanya tidak ada, maka hukum Memajang Pengantin saat walimatul ‘urs adalah sah-sah saja. Sejalan dengan kesimpulan di atas, maka kepada seluruh umat Islam disarankan agar lebih berhati-hati dalam menjalankan perintah Allah agar sesuai dengan Syariat Islam, dan jangan sampai kita mendekati dengan hal-hal yang dapat mendekatkan kita pada perbuatan zina apalagi melakukannya

    KONTRIBUSI SULTAN MUHAMMAD IDRUS KAIMUDDIN DI BIDANG ADAB ISLAM DI BUTON SULAWESI TENGGARA (KAJIAN KARYA SASTRA KABANTI BULA MALINO)

    No full text
    In the era of globalization, our next generation adab have been affected by things that are negative, so that leads to deviations behavior and bad character. The influx of Western-derived ideas, such as secularism and freedom, has led to the present generation, no longer making religion as way of life. If we go back to the history of the past, many figures have taught about the adab that a Muslim must have. one of them is Sultan Muhammad Idrus Kaimuddin. Sultan Muhammad Idrus Kaimuddin is the Sultan and ulama. Through his kabanti bula malino, he conveyed how muslim civilized towards himself, civilized towards God, and civilized towards science. The purpose of this study was to find out the contribution of Sultan Muhammad Idrus Kaimuddin in the field of adab in Buton, which he poured in his work kabanti bula malino. The contribution referred to here was the contribution in adab to self, adab towards God and adab towards Science. The result of the research shows that Sultan Muhammad Idrus Kaimuddin, through kabanti bula malino tried to convey the teachings of Islam, which he conveyed in the language of Wolio, a language understood by the people he was leading at the time. Key word : adab, kabanti bula malino, Isla

    Budaya Pendidikan Islam di Kesultanan Buton pada Masa Pemerintahan Sultan Muhammad Idrus Kaimuddin (Abad Ke -19 )

    No full text
    This study aimed to analyze the network of Islamic education in the Sultanate of Buton during the reign of Sultan Muhammad K. Kaimuddin. In addition, this study was also aimed to determine the factors that support public acceptance of the teachings application of Islam in the Sultanate of Buton during the reign of Sultan Muhammad K. Kaimuddin. The method used in this study was the historical method with a qualitative approach. Data collections techniques used were interviews, the study documentation through texts, literature study and observation. The results showed that: 1) a network of Islamic education in the Sultanate of Buton on 19th century had implemented an education system that integrates the local culture with the values ​​of the Qur\u27an based Sufism. The education system had been able to provide the ability for the Sultanate to build a political system, governance and security. Islamic education during the Sultanate still clearly visible on the implementation of the attitudes diversity of Buton society capable in integrating the noble values ​​of local with the noble values ​​of the Qur\u27an that are universal; 2) learning process that starts from the capital city of the Sultanate (the palace) and then spread to Kadie-Kadie onwards to barata region, which was a small kingdoms that had a structure of government and the community itself, take a long time and the process of distribution was quite long. Keywords: cultural education, Islam, Sultanate, ButonPenelitian ini bertujuan untuk menganalisis jaringan pendidikan Islam di Kesultanan Buton selama masa pemerintahan Sultan Muhammad Idrus Kaimuddin. Selain itu, juga bertujuan untuk mengetahui faktor-faktor yang mendukung penerimaan masyarakat terhadap penerapan ajaran Islam di Kesultanan Buton selama masa pemerintahan Sultan Muhammad Idrus Kaimuddin. Metode penelitian ini adalah menggunakan metode sejarah dengan pendekatan kualitatif. Teknik pengumpulan data yang digunakan adalah wawancara, studi dokumentasi melalui naskah-naskah dan studi kepustakaan serta observasi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa: 1) jaringan pendidikan Islam di Kesultanan Buton pada abad ke-19 telah menerapkan sebuah sistem pendidikan yang mengintegrasikan antara budaya lokal dengan nilai-nilai Al-Qur\u27an yang berbasis Tasawuf. Sistem pendidikan ini telah mampu memberikan kemampuan bagi Kesultanan untuk membangun sistim politik, pemerintahan dan keamanan. Pendidikan Islam pada masa Kesultananan masih tampak dengan jelas implementasinya yakni pada sikap keberagaman masyarakat Buton yang mampu mengintegrasikan antara nilai-nilai luhur lokal dengan nilai-nilai luhur Al-Qur\u27an yang bersifat universal; 2) proses pembelajaran yang dimulai dari Ibu Kota Kesultanan (istana) kemudian menyebar ke kadie-kadie dan seterusnya ke wilayah barata, yang merupakan kerajaan-kerajaan kecil yang memiliki struktur pemerintahan dan masyarakat sendiri, memakan waktu yang panjang dan proses penyebarannya cukup lama. Kata kunci: budaya pendidikan, Islam, Kesultanan, Buto
    corecore