9 research outputs found

    The Obstacles in Fulfilling Social Protection for Indonesian Women Migrant Workers in Malaysia from 2016 to 2018

    No full text
    According to BNP2TKI, Malaysia is the most popular destination country for Indonesian Women Migrant Workers (IWMW), as well as at the top list of IWMW complaints. One of those complaints is regarding the social protection issue. The provision of social protection for IWMW is still limited while it is part of migrant’s rights. The Malaysian government has put some regulations that command its institutions to provide the protections both to its citizens and non-citizens. This study found three big constraints of procuring social protection to IWMW in Malaysia; they were legal barriers, problems in the regulation of Indonesia, and Malaysia immigration policy. In this article, the author analyzed those constraints using feminist theory. This article found that social protection in Malaysia has not fully considered women’s perspectives and experiences while being critical. Furthermore, migration arrangements, both in Indonesia and Malaysia, are also problematic. Those three factors will be discussed in detail using a feminist perspective in looking at the whole problem and the relationship between the patriarchal system and the economy that suppress women

    Dinamika Islam dalam kebijakan luar negeri Indonesia Pemerintahan Joko Widodo periode 2014-2022 (studi kasus dukungan Indonesia terhadap proses perdamaian di Afghanistan)

    No full text
    Penelitian ini bertujuan untuk menggambarkan perubahan dari seperangkat kebijakan luar negeri Indonesia dalam mendukung perdamaian di Afghanistan pada pemerintahan Joko Widodo periode 2014-2022. Penelitian ini juga menjelaskan bagaimana posisi Islam dalam memengaruhi dan memberi dampak terhadap kebijakan luar negeri Indonesia dalam upaya perdamaian di Afghanistan. Penelitian ini merupakan penelitian kualitatif menggunakan data primer dan sekunder. Data primer diambil dengan melakukan teknik pengumpulan data wawancara secara mendalam (in-depth interview). Sedangkan data sekunder diambil dari beberapa rujukan ilmiah seperti buku dan jurnal yang berhubungan dengan Islam, kebijakan luar negeri, dan upaya Indonesia untuk mendukung perdamaian di Aghanistan. Dengan menggunakan metodologi discourse analysis, penelitian ini mengungkakan bahwa terdapat wacana dominan dan wacana marginal mengenai Islam dalam kebijakan luar negeri Indonesia. Wacana dominan yaitu nilai-nilai Islam yang berkesesuaian dengan prinsip kebijakan luar negeri Indonesia dapat digunakan untuk mendukung perdamaian di Afghanistan. Selain itu, wacana yang terpinggirkan adalah Islam memiliki pengaruh yang tidak signifikan karena dasar kebijakan luar negeri Indonesia adalah UUD 1945, Pancasila, dan prinsip luar negeri bebas aktif yang tidak melihat faktor agama didalamnya. Penelitian ini menghasilkan dua jawaban bagiamana Islam dalam kebijakan luar negeri Indonesia untuk perdamaian di Afghanistan. Pertama, faktor internal dan eksternal. Faktor domestik yaitu kepemimpinan dan rasionalisasi Presiden serta pergantian Wakil Presiden memberi signifikansi terhadap kebijakan luar negeri Indonesia. Selain itu, fakor eksternal seperti Pandemi Covid-19 dan kembalinya Taliban di Afghanistan juga berdampak pada bagaimana Indonesia menjalankan kebijakan luar negeri untuk Afghanistan. Kedua, Islam adalah salah satu aset kebiajkan luar negeri dan bagian dari total diplomacy Indonesia. Lebih lanjut, moderasi Islam dan peran ulama juga Indonesia gunakan untuk menjalankan diplomasi ke Afghanistan. Kerangka teoritis Konstruktivisme yang penulis gunakan melihat bagaimana agen (negara) memiliki pertimbangan internal dan eksternal dalam membentuk kebijakan luar negeri. Selain itu, keterkaitan antar faktor norma domestik dan internasional memengaruhi pembangunan identitas Indonesia sebagai negara mayoritas muslim. Sehingga, Indonesia memajukkan nila-nilai Islam yang berkesesuaian dengan prinsip kebijakan luar negeri untuk mengupayakan perdamaian di Afghanistan. Penelitian ini kemudian membawa keterbaharuan bahwa selama nilai-nilai Islam sejalan dengan prinsip kebijakan luar negeri maka Islam dapat digunakan sebagai aset diplomasi Indonesia

    Konseling individu melalui metafora terapeutik video puisi untuk menstabilkan emosi akibat perceraian orangtua pada Siswa SMAN 6 Pontianak

    No full text
    This research aims to determine the effectiveness of individual counseling using the therapeutic metaphor of poetry videos to increase the meaningfulness of life due to parental divorce in students. The specific target to be achieved in this research is to dig deeper into the workings of individual counseling services with poetry videos through appropriate individual counseling steps so that their effectiveness can be seen. To measure the increased meaning of life due to parental divorce in students, emotional stability instruments were used both before and after treatment. This research uses an experimental design with a pretest posttest group design. The instrument given to the sample was an instrument developed by the author himself. In this design there is one group selected by purposive sampling. Based on data analysis, the average pretest value was 101.25 and after being treated, the posttest value was 57.8 with a Wilcoxon signed-rank test Z value of 118.25, with a p value of 0.006, which means the p value is smaller than 0.05. So it can be concluded that Ha was accepted and Ho was rejected, which means individual counseling through the therapeutic metaphor of poetry videos is effective for stabilizing emotions due to parental divorce

    The human issues on Arthur Miller's "The Crucible"

    No full text
    Literature is an art which illuminates some aspects of human's life or behaviour. Through this art, the students try to learn ways of life and human issues such as the struggle of life, emotions, feelings and dreams. In addition, by studying literature, the students would explore the best in writing, and, in doing so, learn to think, speak and write more effectively. Being aware of those above facts, the writer is interested in studying a literary work, that is drama. Drama, one of literary genres, is a peculiar literary form which describes human characters in action. Unlike a novel, drama is not too long. So it does not take much time to read, besides the language is communicative. Studying human issues and the roles of characters in a literary work is always useful and important since it includes studying the human personalities, their thought, problems, and conflicts. In this thesis the writer studies the human issues and characters' roles in creating those issues in Arthur Miller's The Crucible, a tragic drama which deals with some of the most important human problems in our life. The interesting thing about this play is that it tells a common man's courageous, and never-ending fight against mass pressure to make him bow down in confirmity. The common man who realizes that he can not gratify his enemies by betraying his principle and at the end chooses to be executed. This study can be considered as an example of human issues study. It is expected that the student will have the ability to understand the contents of a literary work they analyze, and to develop their awareness of human characters with their problems. In analyzing this play the writer uses Carney's and Barelson's Content Analysis. The study of human issues and the roles of characters are done by examining the communication content. This communication content is represented by the characters' speeches about themselves or about other characters and above all the description about the characters given by the author. From analyzing The Crucible, the writer finds out some important human issues i.e. whitchery, resentment, adultery, authority, anger, and pity. John Proctor as a church member besides a farmer, plays important roles as the protagonist. First, he has wrong phylosophy of life that is an individual he has to work only for his own individual ends and desires only to live an uninvolved life. This phylosophy makes him be accussed of being a witch. However, at the end, when he insisted to lie, he has his own principles that is abiding need for men to adhere firmly to their principles in the face of oppression. This principle makes his life free from lies and he dies by his own honesty. This is the lesson of human life in The Crucible. The relationship of human being in the society and the community problems are crises which concern each and every human being. Knowing those human issues well one must become part of all humanity, must be committed to the complete society of mankind

    Perancangan Animasi 2D "Pangeran Lembu Peteng" Dengan Teknik Manual Drawing

    No full text
    Tugas akhir ini membahas perancangan kisah Pangeran Lembu Peteng yang berasal dari Kabupaten Tulungagung ke dalam media animasi 2D. Tren animasi mulai meningkat dan berkembang pesat di Indonesia. Seiring perkembangan zaman, cerita rakyat yang mengandung falsafah kehidupan mulai ditinggalkan sehingga terjadilah kemerosotal moral. Berdasarkan hasil kuesioner dengan responden 201 siswa didapatkan bahwa cerita Pangeran Lembu Peteng kurang diminati. Mereka lebih senang cerita dan budaya dari luar negeri, padahal cerita diatas mengandung nilai-nilai kehidupan yang relevan dengan masa kini. Namun, media digital yang menyampaikan cerita Pangeran Lembu Peteng secara menarik belum ada. Penulis merancang animasi ini untuk memperkenalkan budaya lokal cerita rakyat kepada remaja berusia 12-18 tahun. Penulis melakukan penelitian kualitatif dengan metode : 1. Studi literatur, 2. Metode wawancara pada budayawan Tulungagung, 3. Metode observasi lokasi dan busana di Tulungagung untuk mencari referensi visual pada perancangan, 4. Studi eksperimental mulai dari naskah cerita, desain karakter dan lingkungan hingga animatik storyboard, dan 5. Depth interview dengan ahli di bidang animasi untuk mendapatkan konsep desain animasi. Hasil kajian didapatkan desain berupa animasi pendek legenda Pangeran Lembu Peteng berdurasi 7 menit. Animasi tersebut menceritakan tentang perjalanan kehidupan Pangeran Lembu Peteng dari Majapahit ke Bonorowo Tulungagung, hingga berakhir menjadi sebuah nama sungai Lembu Peteng di Kabupaten Tulungagung. Animasi ini sarat akan pelajaran moral, menjaga perdamaian, keberanian, keuletan, belas kasih, pantang menyerah dan kasih sayang. Animasi juga mengajarkan adat berbusana dan bangunan adat Tulungagung. Teknik manual drawing digunakan untuk mendapat hasil animasi yang asli, luwes, dan lancar. =========================================================================================================== This final project discusses the design of the Prince Lembu Peteng story from Tulungagung Regency into 2D animation media. Animation trends began to increase and develop rapidly in Indonesia. Along with the times, folklore containing the philosophy of life began to be abandoned, so that moral degradation occurred. Based on the results of a questionnaire with 201 student respondents, it was found that the story of Prince Lembu Peteng was less in demand. They prefer stories and cultures from abroad, even though the stories above contain life values that are relevant to the present. However, digital media that convey the story of Prince Lembu Peteng in an interesting way do not yet exist. The author designed this animation to introduce the local culture of folklore to adolescents aged 12-18 years. The author conducted qualitative research methods: 1. Literature study, 2. Interview method with Tulungagung culture expert, 3. Location and clothing observation methods in Tulungagung to find visual references in design, 4. Experimental studies ranging from story scripts, character designs and the environment to animatic storyboard, and 5. Depth interview with experts in the field of animation to get the concept of animation design. The results of the study show that the design is a short animation of the legend of Pangeran Lembu Peteng with a duration of 7 minutes. The animation tells about the life journey of the Prince Lembu Peteng from Majapahit to Bonorowo Tulungagung, until it ends up being the name of the Lembu Peteng river in Tulungagung Regency. This animation is full of moral lessons, maintaining peace, courage, tenacity, compassion, unyielding and affection. Animation also teaches traditional dress and traditional buildings Tulungagung. Manual drawing techniques are used to get original, flexible, and smooth animation

    Family planning success stories in Bangladesh and India

    No full text
    The Matlab Project in Bangladesh and the Kundam Project in India have demonstrated that a significant rise in contraceptive prevalence can occur in socioeconomic environments that are generally conducive to high fertility and mortality. The author describes the inputs and outputs of these two projects and tries to identify the factors underlying their success. Both projects are experimental in the sense that in each anintervention area is provided with special inputs that are not provided to a contiguous control area. The special inputs were different for the two projects. In the intervention area in Matlab, the project took responsibility for providing family planning and some rudimentary maternal and child health services that were considerably different from those provided in the national program. In Kundam, the project did not take responsibility for providing services in the intervention area, but rather tried to mobilize the community through various clubs and committees to take the most advantage of the government's family planning and other development programs. The success of the Matlab Project can be attributed to various aspects of the organizational system developed for delivering consumer-friendly services. The success of the Kundam Project can be attributed to various aspects of the system developed for community members'active participation in the program. The projects are not fully replicable because of inadequate human and financial resources, but the lessons learned from them should be useful in improving national programs. The Kundam Project is more realistic in the sense that it focuses on activities that supplement local activities of the national program rather than substitute for them (as in the Matlab Project). Thus the Kundam Project is more likely to be replicable than the Matlab Project.Health Monitoring&Evaluation,Adolescent Health,Reproductive Health,Early Child and Children's Health,ICT Policy and Strategies

    Kisah Ḥadīṡ al-Ifki dalam Al-Qur’an Perspektif Maqāṣid al-Qur’ān Ibn ‘Āsyūr

    No full text
    Cases of fake news have occurred since ancient times, where this act was pioneered by the Devil who made up false information and deceived Prophet Adam so that he was expelled from heaven. From here, fake news continues to grow and has several times affected righteous people such as Juraij, Siti Maryam and Siti 'Āisyah. In this modern era, fake news seems to be public consumption and many members of the public play a role as the main actors and masterminds of this act. Departing from this phenomenon, the author wants to examine the fake news story that happened to Siti ‘Āisyah and was immortalized by Allah in QS. an-Nūr: 11-22. The focus of the study in this article is how the fake news story (ḥadīṡ al-ifki) happened to Siti ‘Āisyah and what maqāṡid is contained in it. Maqāṡid approach used is maqāṡid al-Qurān Ibn 'Āsyūr. The article concludes that the Qur'ānic maqāṣid contained in the hadīth of al-ifki is correcting beliefs and guiding to the right path, moral improvement, establishing religious rulings (in this context, the prohibition of making false news) both general and specific, and giving advice both in the form of warnings and good news

    “Resepsi Khalayak Mengenai Imitasi Pada Tayangan Boyband dan Girlband Indonesia di Media Televisi”

    No full text
    ABSTRAKSI Nama : Amalia Dessy Witari NIM : D2C008007 Judul : “Resepsi Khalayak Mengenai Imitasi Pada Tayangan Boyband dan Girlband Indonesia di Media Televisi” Penelitian ini membahas tentang penerimaan pemirsa mengenai tayangan Boyband dan Girlband Indonesia di media televisi, khsususnya mengenai peniruan yang dilakukan Boyband dan Girlband Indonesia. Tujuan tayangan ini sebenarnya untuk memberi hiburan pada pemirsa dan menonjolkan kekreatifan sebagai aspek penting dalam dunia musik, namun peniruan dan penggunaan suara palsu yang dilakukan Boyband dan Girlband Indonesia menuai baik opini pro maupun kontra dari masyarakat. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui bagaimana penerimaan masyarakat terhadap tayangan Boyband dan Girlband Indonesia. Teori yang digunakan adalah Teori Perbedaan Individual (Melvin D. Defleur, 1970), Teori Belajar Sosial (Albert Bandura, 1977) dan Budaya Populer (Storey, 2007). Penulis menggunakan pendekatan kualitatif dengan metode analisis resepsi untuk meneliti bagaimana interpretasi pemirsa mengenai tayangan Boyband dan Girlband Indonesia di media televisi. Analisis resepsi dipilih karena memiliki cara pandang khusus tentang audiens atau dalam hal ini adalah pemirsa yang menonton tayangan Boyband dan Girlband Indonesia dimana pemirsa dipandang bukan hanya sebagai konsumen dari isi media tetapi juga sebagai producer of meaning. Hasil dari penelitian ini menunjukkan bahwa sebagai bagian dari interpretive communities, perbedaan pemaknaan antara masing-masing informan penelitian turut dipengaruhi oleh faktor psikologis seperti selera dan kebiasaan menonton televisi. Namun latar belakang sosial serta tingkat pendidikan mereka juga menentukan pandangan dan argumen yang mendukung opini mereka. Pembacaan informan dalam memaknai tayangan Boyband dan Girlband Indonesia bervariasi. Informan yang menganggap bahwa tayangan Boyband dan Girlband Indonesia masih dalam batas wajar, memaknai tayangan Boyband dan Girlband Indonesia dengan media memiliki hubungan simbiosis mutualisme (dominant reading). Informan juga ada yang menganggap memilih bersikap negosiatif (negotiated reading). Informan menerima teks tayangan Boyband dan Girlband Indonesia yang ditawarkan tapi juga mengkritisi sesuai dengan kerangka pikir mereka. Namun sebagian informan cenderung berada dalam posisi radikal (oppositional reading). Informan memaknai tayangan Boyband dan Girlband mengandung unsur imitasi dan terdapat pembodohan publik karena dalam tayangannya menggunakan suara palsu atau lypsinc. Implikasi teoritis pada penelitian ini adalah informan terbagi menjadi tiga tipe pemaknaan. Implikasi praktis menunjukan bahwa media harus membuat tayangan atas keasadaran bersama untuk membangun masyarakat yang lebih bermoral dengan penyiaran hiburan yang sehat. Sedangkan implikasi sosial diharapkan dapat memberikan kontribusi bagi para pemirsa untuk dapat melihat sedikit lebih dalam lagi nilai-nilai apa yang dilekatkan oleh media dalam tayangan Boyband dan Girlband Indonesia. ABSTRACT Nama : Amalia Dessy Witari NIM : D2C008007 Judul : “The Audience Reception Regarding to the Imitation of Indonesian Boyband and Girlband Show in Television Media” This study discussed the acceptance of audience impressions of the Indonesian Boyband and Girlband’show in television media, especially the impersonation done by the Indonesian Boyband and Girlband. The purposed of the show was actually to provide entertainment to the audience and highlight creativity as an important aspect in the world of music, but the impersonation and the vocal used by the Indonesian Boyband and Girlband arose both pros and cons opinions of the community. The purposed of the research is to find out how the public acceptance of the impressions of the Indonesian Boyband and Girlband. The author used Individual Differences Theory (Melvin D. Defleur, 1970), Social Learning Theory (Albert Bandura, 1977), and Popular Culture (Storey, 2007). The author used a qualitative approach with the reception analysis method to study how was the audience’s interpretation about the show of the Indonesian Boyband and Girlband in television media. Reception analysis chosen because it had a special perspective on the audience or in this case the audience watching the Indonesian Boyband and Girlband viewed not only as consumers from media content but also as a producer of meaning. The result of this study indicated that as part of the interpretive communities, the difference in meaning of each research informants was influenced by psychological factors such as taste and the habit of watching television. However, their social background and level education also determined the views and arguments that supported their opinions. Readings on the informants in interpreting the show of the Indonesian Boyband and Girlband varied. Informants who assumed that the show of the Indonesian Boyband and Girlband were still within a reasonable limit, interpreted that the Indonesian Boyband and Girlband with the media had a symbiotic relationship mutualism (dominant reading). Informants also assumed to be negosiatif (negotiated reading). Informants received a show text of the Indonesian Boyband and Girlband offered but also criticized according to their frameworks. However, some informants tended to be in a radical position (oppositional reading). Informants interpreted the show of Boyband and Girlband had an imitation and duping the public because they were using fake voice or lip sync. Theoretical implications of this research are divided into three types of informants meanings. Practical implications indicates that the media need to make impressions on mutual awareness to build a more moral society by broadcasting wholesome entertainment. While the social implications are expected to contribute for the viewers to be able to see a little deeper into what values attached by the media impressions of Indonesian Boyband and Girlband’s show. Resepsi Khalayak Mengenai Imitasi Pada Tayangan Boyband dan Girlband Indonesia di Media Televisi SUMMARY SKRIPSI Penyusun Nama : Amalia Dessy Witari NIM : D2C008007 JURUSAN ILMU KOMUNIKASI FAKULTAS ILMU SOSIAL DAN ILMU POLITIK UNIVERSITAS DIPONEGORO SEMARANG 2012 Resepsi Khalayak Mengenai Imitasi Pada Tayangan Boyband dan Girlband Indonesia di Media Televisi Latah di dunia hiburan, khususnya televisi sudah mendarah daging dan menjadi fenomena klasik yang tidak kunjung selesai. Budaya latah ini seakan-akan justru menjadi warisan yang diturunkan dari generasi ke generasi berikutnya. Fenomena ini dapat diamati sejak mulai menjamurnya stasiun televisi swasta baru. Stasiun televisi swasta baru, baik yang bersifat lokal maupun nasional, di satu sisi mampu menghadirkan program tayangan beragam. Variasi ini bisa memberikan keleluasaan penonton untuk memilih program yang sesuai dengan keinginannya. Akan tetapi dilain pihak, tingkat persaingan untuk memperoleh rating dan perhatian penonton juga semakian meningkat. Dampak negatifnya adalah penurunan kualitas tayangan yang disajikan kepada penonton karena hanya berorientasi kepada profit semata. Acara dari sebuah stasiun televisi yang baru dan fenomenal akan disambut masyarakat dengan rasa ingin tahu dan antusiasme yang tinggi. Dengan segera, rating acara tersebut melonjak menduduki peringkat teratas dalam industri hiburan. Tanpa menunggu aba-aba, stasiun televisi lain mulai berlomba-lomba membuat tayangan serupa yang secara langsung mengadopsi tema dasar dari tayangan pendahulunya. Fenomena terkini dari meledaknya populasi Boyband dan Girlband menjadi salah satu contoh nyata. Setelah sempat beberapa tahun media menyajikan hiburan musik dan menjadikan masyarakat demam akan band dan pop melayu, kini Boyband dan Girlband Indonesia hadir menyedot perhatian publik yang sudah mendominasi dan banyak bermunculan di industri musik dan pertelevisian Indonesia. Layaknya jamur yang tumbuh subur di musim hujan, Boyband dan Girlband pun tumbuh subur ditengah kejenuhan masyarakat akan musik melayu, dan seperti yang biasanya sudah terjadi, bila sesuatu tengah melanda negeri ini, maka tidak sedikit pihak yang akan memanfaatkan fenomena tersebut untuk mengambil keuntungan. Demikian pula dengan fenomena Boyband dan Girlband yang tengah membanjiri Indonesia. Media berlomba-lomba untuk mengorbitkan Boyband dan Girlband baru dengan tujuan utama yang tidak lain adalah uang dengan mengesampingkan kualitas, bahkan salah satu stasiun televisi, SCTV membuat program acara pencarian bakat untuk membentuk Boyband dan Girlband baru secara instant, hal itu dibuat untuk memanfaatkan sifat masyarakat Indonesia yang seleranya gampang berubah. Tidak dapat dipungkiri, hubungan media dengan Boyband dan Girlband layaknya suami istri yang saling membutuhkan satu sama lain. Tak mungkin Boyband dan Girlband Indonesia bisa terkenal tanpa bantuan media. Media memang sulit dipisahkan dalam setiap kali membahas persoalan komunikasi dalam masyarakat, yang sudah tentu dalam fenomena ini, terkait dengan media sebagai saluran untuk menyampaikan pesan kepada audiens (publik). Seperti yang dirumuskan Keith Tester, tujuan dari media itu dikembangkan untuk memenuhi suatu kebutuhan informatif, agen perubahan, dan yang tidak kalah penting adalah perubahan. Memang dapat dipahami bahwa media juga memiliki agenda setting yang beragam, tergantung target apa yang ingin dicapai dari agenda itu (Tester, 2003: 53). Seperti yang ditampilkan, media banyak menyuguhi tontonan Boyband dan Girlband, namun secara bersamaan pada sisi yang lain media juga menggelar debat dan kritik akan Boyband dan Girlband. Apa yang dapat dipetik dari tayangan itu adalah, sebenarnya ada semacam agenda yang tersembunyi yang sengaja ditawarkan oleh media kepada pemirsanya. Satu hal yang patut diingat, tingkat terpaan media di Indonesia masih diduduki oleh televisi. Diperkirakan 90% rumah tangga di Indonesia kini memiliki pesawat televisi (Iriantara, 2005: 70). Bayangkan apabila seluruh media menyajikan tayangan Boyband dan Girlband secara terus menerus dan dilihat hampir seluruh rumah tangga di Indonesia. Fenomena Boyband dan Girlband ini sangat menyedihkan sekali karena ini merupakan sebuah tanda bahwa masyarakat Indonesia sudah mulai kehabisan sosok berkualitas yang dapat dijadikan idola. Bayangkan, masyarakat kita sekarang ini lebih mengidolakan para Boyband dan Girlband tersebut, sedangkan rata-rata Boyband dan Girlband yang ada di Indonesia memiliki kualitas yang pas-pasan saja yang hanya mengandalkan ketampanan mereka. Berbeda dengan Indonesia, Boyband dan Girlband di Korea sebelum mereka semua diorbitkan, mereka dilatih dulu oleh perusahaan agensi yang merekrut mereka selama beberapa tahun. Mereka dilatih sejak mereka berumur masih belia, diseleksi dengan ketat. Jadi mereka tidak asal langsung menjadi artis, karena harus melewati waktu bertahun-tahun kemudian memulai debut menjadi artis. Menjamurnya Boyband dan Girlband Indonesia dalam sekali waktu ini merupakan manifestasi budaya latah. Bermodalkan wajah menarik, kemampuan menari yang bisa dilatih dan musikalitas yang pas-pasan, Boyband dan Girlband ternyata mampu menguasai panggung musik Indonesia. Fenomena Boyband dan Girlband ini terinspirasi oleh tren serupa yang sudah menunjukkan eksistensinya di negara tetangga, baik Jepang, Korea dan beberapa negara Asia lainnya. Kesuksesan Boyband dan Girlband di negara asalnya bukan terjadi dalam satu malam, namun melalui proses panjang untuk bisa menunjukkan karakter khas dari musik yang berkembang di negara tersebut. Pegiat musik Indonesia, melihat peluang ini sebagai ladang emas dan mencoba mengadaptasinya dengan menciptakan Boyband dan Girlband dadakan. Ketika Boyband pertama kali muncul di televisi, datang berbagai penilaian. Penilaian yang ada bukan hanya pro melainkan juga kontra. Masyarakat yang mendukung adanya fenomena ini pun berkomentar positif dan ikut serta dalam acara-acara musik yang sedang naik daun ini. Terlebih banyak dari mereka yang mendukung mengikuti trend dan gaya dari para personel Boyband dan Girlband tersebut. Lain lagi dengan yang menolak, masyarakat mengecam dan banyak yang menghina Boyband dan Girlband Indonesia dan dianggap tidak pantas untuk tampil karena sebagian besar dari mereka merupakan imitasi dan juga plagiat. Masyarakat mulai menunjukkan sikapnya dengan membuat forum-forum di jejaring sosial. Bukan hanya forum pendukung Boyband dan Girlband namun juga forum anti Boyband dan Girlband Indonesia. Tayangan Boyband dan Girlband Indonesia mendatangkan permasalahan yang timbul seiring dengan kenyataan tentang dijadikannya tontonan ini sebagai bagian dari sebuah industri pertelevisian yang mendatangkan banyak keuntungan bagi stasiun televisi yang menyiarkan Boyband dan Girlband Indonesia. Pasalnya, Boyband dan Girlband yang banyak tampil di media televisi menunjukkan dengan kualitas mereka yang dianggap buruk. Artinya, mereka tampil dengan suara yang apa adanya, tak jarang mereka memilih lypsinc untuk tampil di depan panggung. Artinya media telah melakukan pembodohan kepada masyarakat yang harusnya mereka menyanyi Live melalui suara asli, justru ditutup dengan lypsinc. Stasiun televisi terkemuka seperti RCTI, SCTV, dan Trans TV setiap pagi hampir menampilkan acara musik Boyband dan Girlband Tanah Air. Tentunya media melakukan ini semua tanpa melakukan penyaringan Boyband dan Girlband yang berkualitas. Jadi perumusan masalah dalam penelitian ini adalah Bagaimanakah resepsi khalayak mengenai imitasi pada tayangan Boyband dan Girlband Indonesia di media televisi? Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui resepsi dari masyarakat mengenai imitasi terhadap tayangan Boyband dan Girlband Indonesia di media televisi. Teori yang dipakai adalah teori pembacaan khalayak dari Stuart Hall, teori budaya pop dari John Storey, dan teori pembelajaran sosial dari Albert Bandura. Penelitian ini menggunakan paradigm interpretif dengan pendekatan kualitatif. Adapun subjek penelitian ini adalah khalayak yang berumur 12-22 tahun yang pernah menonton tayangan Boyband dan Girlband Indonesia di media televisi. Analisis data dalam penelitian ini menggunakan analisis resepsi yang memiliki cara pandang khusus tentang audiens atau dalam hal ini adalah pemirsa televisi dimana analisis resepsi memandang pemirsa sebagai “producers of meaning”, bukan hanya sebagai konsumen media. Teks yang disajikan dalam tayangan tersebut mengarahkan khalayak kearah pembacaan yang diinginkan. Namun adanya perbedaan latar belakang, tingkat pendidikan dan pekerjaan menyebabkan terjadinya perbedaan dalam pembacaan, maka muncul tiga tipe terhadap teks tayangan Boyband dan Girlband Indonesia: 1. Dominant Hegemonic reading, Informan mengambil makna yang mengandung arti dari tayangan televisi dan meng-decode-nya sesuai dengan makna yang dimaksud (preferred reading) yang ditawarkan teks media. Informan sudah mempunyai pemahaman yang sama, tidak akan ada pengulangan pesan, pandangan yang ditampilkan media dengan audiens sama, langsung menerima. Informan yang berada pada posisi ini adalah informan III. Dalam arti, informan ini akan menerima begitu saja teks media sehingga hasil interpretasinya terhadap tayangan Boyband dan Girlband Indonesia sama dengan yang dihadirkan ditelevisi, yaitu tayangan Boyband dan Girlband Indonesia merupakan tayangan yang menyajikan hiburan. Tayangan ini dijadikan alat untuk mendongkrak popularitas para Boyband dan Girlband Indonesia yang sebelumnya tidak terkenal akan menjadi terkenal lewat tayangan ini. Jadi antara tayangan Boyband dan Girlband Indonesia dan televisi mempunyai hubungan simbiosis mutualisme. Tayangan Boyband dan Girlband Indonesia membutuhkan grup Boyband dan Girlband untuk mendapatkan sumber hiburan, begitu juga Boyband dan Girlband membutuhkan program musik sebagai tempat untuk menaikkan popularitasnya sehingga dikomersiilkan oleh media. 2. Negotiated reading, Informan yang masuk posisi ini, akan menginterpretasikan tayangan Boyband dan Girlband Indonesia yang ditontonnya dengan pemaknaan mereka sendiri. Makna yang dimunculkan bersifat negosiatif, dalam arti pemaknaan informan terhadap tayangan Boyband dan Girlband Indonesia tidak berbeda secara keseluruhan dengan makna dominan, tetapi juga tidak sama dengan preferred reading yang ada. Informan menanggapi Boyband dan Girlband Indonesia yang ada sekarang ini bisa dari hasil meniru ataupun tidak, yang menganggap meniru karena karena Boyband dan Girlband Indonesia selalu memberikan tampilan yang dianggap sama dengan Boyband dan Girlband Korea. Sedangkan yang menganggap tidak meniru karena Boyband dan Girlband Indonesia hanya mengambil sesuatu yang positif dari hasil yang sudah ada pada Boyband dan Girlband di Korea 3. Oppositional reding, Informan akan memaknai langsung berlawanan dengan preferred reading, informan memiliki pemaknaan yang berbeda sama sekali dengan makna dominan. Informan secara radikal memunculkan pemaknaan dari tayangan Boyband dan Girlband Indonesia berbeda dan bertentangan dengan preferred reading. Informan menganggap dengan adanya tayangan Boyband dan Girlband Indonesia yang terus menerus justru bukan membuat nama Boyband dan Girlband Indonesia dikenal. Karena apa yang ditampilkan bukanlah suatu hiburan. Tapi suatu pembodohan dengan menyanyikan lagu mereka lewat lypsinc voice. Informan juga menganggap bahwa Boyband dan Girlband Indonesia telah melakukan banyak peniruan lewat tayangan Boyband dan Girlband yang sudah ada di Korea. DAFTAR PUSTAKA Ali, Mohammad dan Mohammad Asrori. (2008). Psikologi Remaja Perkembangan Peserta Didik. Jakarta: PT. Bumi Aksara Barker, Chris. 2009. Cultural Studies, Teori dan Praktek. Yogyakarta: Kreasi Wacana Bulman, Rabbi Shabsi. 2009. Yahudi Infotainment: Benarkah Media Indonesia telah terbuai dan dibeli?. Yogyakarta: Pustaka Solomon Creswell, John W. 2007. Qualitative Inquiry & Research Design: Choosing Among Five Approaches 2nd Edition. Thousand Oaks: Sage Publications. Denscombe, Martyn. 2007. The Good Research Guide for small-scale social research projects. Third Edition. New York-USA: McGraw-Hill Education. Djoha. 2005. Psikologi Musik. Yogyakarta: Penerbit Buku Baik Yogyakarta Downing, John, Ali Mohammadi, Annabelle Sreberny-Mohammadi. 1991. Questioning The Media: A Critical Introduction. California: SAGE Production Effendy,Onong Uchjana. 2003. Ilmu, Teori dan Filsafat Komunikasi. Bandung: PT Remaja Rosdakarya Eko A. Meinarno, Bambang Widianto, Rizka Halida. 2011. Manusia dalam Kebudayaan dan Masyarakat. Jakarta: Salemba Humanika Hall, Stuart. 1997. Representation: Cultural Representations and Signifing Practicies. California: SAGE Production Halim, Syaiful. 2010. Gado-Gado Sang Jurnalis. Jakarta: Gramatama Publishing Hayuningtyas, Jufenda Winursito. 2007. Infotainment dan Televisi Swasta Indonesia, Peiode 01-30 April 2006. Yogyakarta: Skripsi-Ilmu Komunikasi-FISIP-UGM. Hurley, S & Nick Charter. 2005. Perspectives on Imitation. Cambridge, MA: MIR Press. Hurlock, E.B. 2006. Psikologi Perkembangan edisi keenam : Suatu Pendekatan Sepanjang Rentang Kehidupan. Jakarta : Penerbit Erlangga Iriantara, Yosal. 2005. Media Relations; Konsep, Pendekatan, dan Praktik. Bandung: Simbiosa Rekatama Media Jensen, Klaus Bruhn, & Jankowski, Nicholas W (2003). A handbook of qualitative methodologies for mass communication research. London EC4P 4EE : 11 New Fetter Lane John, Fiske. 1990. Cultural & Communication Studies: Sebuah Pengantar Paling Komprehensif: Yogyakarta: Jalasutra Junaedi, Fajar. 2007. Komunikasi Massa: Pengantar Teoritis. Yogyakarta: Penerbit Santusta K. Denzin dan Yvonna S. Lincoln Terjemahan Dariyantno dkk. 1994. Handbook of Qualitative Research. Thousand Oaks, California: SAGE Publications Kriyantono, Rahmat.2006. Teknik Praktis Komunikasi. Jakarta: Kencana Prenada Media Grup Kuswarno, Engkus. 2009. Metode Penelitian Komunikasi Fenomenologi; Konsepsi, Pedoman dan Contoh Penelitiannya. Bandung: Widya Padjajaran Littlejohn, Stephen W.,1999, Theories of Human Communication ed.6rd, California, Wadsworth.. Livingstone, Sonia M. 1991. “Audience Reception: The Role of The Viewer in Retelling Romantic Drama” dalam Mass Media and Society. Edited by James Currran and Michael Gurevitch. GBR: Rowland Photosetting Limited Moleong, Lexy J. 2007. Metode Penelitian Kualitatif. Bandung: Remaja Rosdakarya Morissan. 2005. Media Penyiaran: Strategi Mengelola Radio dan Televisi. Tangerang : Ramdina Prakarsa. Rakhmat, Jalaluddin. 2008. Psikologi Komunikasi. Bandung: Remaja Rosdakarya Richard West & Lynn H. Turner. 2008. Teori Komunikasi Analisis dan Aplikasi. Jakarta: Penerbit Salemba Humanika Ruben, B.D., & Lea P. Stewart. 1998. Communication and Human Behavior. Needham Heights: A Viacom Company Santrock, John, W. 2003. Adolescence: Perkembangan Remaja. Jakarta : Penerbit Erlangga Setiawan, Errie. 2008. Short Music Service Refleksi Ekstramusikal Dunia Musik Indonesia” (Propethic Freedom, 2008). Bandung. Sobur, Alex. 2004. Semiotika Komunikasi cet ke-2. Bandung: PT. Remaja Rosdakarya Sumadiria, AS Haris. 2006. Jurnalistik Indonesia, Menulis Berita dan Feature, cetakan Kedua. Bandung: PT Remaja Rodakarya Offse Tester, Keith 2003. Media, Budaya dan Moralitas. Yogyakarta : Juxtapose dan Tiara Wacana Yusuf, Syamsu, M.Pd., 2008. Psikologi Perkembangan Anak dan Remaja. Bandung: Rosyda Karya, Tobs, Stewart L. & Sylvia Moss. 2005. Human Communication: Konteks-Konteks Komunikasi Buku Ke-2. Bandung: PT Remaja Rosdakarya. Vivian, John. 2008. Teori Komunikasi Massa Edisi Kedelapan. Jakarta: Kencana Winardi. 2003. Enterpreneur & Enterpreneurship. Bogor: Kencana Prenada Media Group Sumber Internet: http://www.kritikmusikindonesia.blogspot.com http://www.tabloidbintang.com/extra/lensa/18747-dari-21-Boyband dan Girlband-a-girlband-indonesia-mana-yang-berpotensi-menand
    corecore