14,948 research outputs found
PERGUMULAN ORTODOKSI ISLAM DAN BUDAYA JAWA MENURUT KH. ALI MAKSUM
Ortodoksi Islam yang datang dari tanah Arab ke Indonesia berhadapan dengan budaya Jawa yang sudah mengakar dan mentradisi dalam masyarakat. Oleh karena itu, dibutuhkan kearifan dalam memahami pergumulan diantara keduanya supaya dapat mensikapinya secara tepat. Kearifan lokal dibutuhkan dalam menginteraksikan Islam sebagai agama dan budaya baru dalam masyarakat yang sudah lama hidup di dalam tradisi dan budayanya. Demikian pula untuk memahami Islam dalam konteks budaya Jawa, dibutuhkan kearifan aktor yang memiliki capital yang mumpuni di dalam field yang sesuai. KH. Ali Maksum adalah seorang tokoh yang mampu mengakomodir budaya-budaya Jawa dengan pemahamannya terhadap Islam sehingga tidak mengalami benturan yang merugikan kedua belah pihak. Dengan menggunakan pendekatan sosial Pierre Bourdieu, Penelitian ini mengkaji pemikiran KH. Ali Maksum dalam memahami dan mensikapi pergumulan ortodoksi Islam dan budaya Jawa. Beberapa pemikiran KH. Ali Maksum yang dapat dijadikan sebagai pendekatan alternatif dalam memahami dan mensikapi pergumulan ortodoksi Islam dan budaya Jawa adalah: dalam bidang keagamaan KH. Ali Maksum menggunakan pendekatan Manhaj Ushuli ulama’ mazhab, dalam bidang politik KH. Ali Maksum menggunakan pendekatan Revelational, dalam bidang sosial, KH. Ali Maksum menggunakan pendekatan Humanistik. Dengan demikian, pergumulan ortodoksi Islam dan budaya Jawa justru menunjukkan perkembangan Islam PERGUMULAN ORTODOKSI ISLAM DAN BUDAYA JAWA MENURUT KH. ALI MAKSUM Fauziah [email protected] Yayasan Ali Maksum Pondok Pesantren Krapyak Yogyakarta54 Fauziah Salamah, Pergumulan Ortodoksi Islam dan Budaya Jawa ... (53-72)dalam berbagai bidang, tidak hanya dalam bidang keagamaan, namun juga bidang politik dan sosial
KEBIJAKAN PENINGKATAN MUTU MADRASAH ALIYAH ALI MAKSUM BERBASIS KULTUR PONDOK PESANTREN KRAPYAK YOGYAKARTA
Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan : 1) Kebijakan peningkatan
mutu Madrasah Aliyah Ali Maksum yang berbasis kultur pondok pesantren
Krapyak Yogyakarta 2) Faktor-faktor yang mendukung dan menghambat
kebijakan peningkatan mutu Madrasah Aliyah Ali Maksum yang berbasis kultur
pondok pesantren Krapyak Yogyakarta 3) Upaya yang dilakukan oleh Madrasah
Aliyah Ali Maksum dalam mengatasi hambatan-hambatan untuk peningkatan
mutu madrasah yang berbasis pondok pesantren Krapyak Yogyakarta.
Jenis penelitian ini adalah penelitian deskriptif dengan menggunakan
pendekatan kualitatif. Penelitian ini menggunakan teknik purposive. Subjek
penelitian ini adalah kepala sekolah Madrasah Aliyah Ali Maksum Krapyak
Yogyakarta, guru-guru Madrasah Aliyah Ali Maksum Krapyak Yogyakarta,
pengelola Pondok Pesantren Madrasah Aliyah Ali Maksum Krapyak Yogyakarta,
siswa-siswi Madrasah Aliyah Ali Maksum Krapyak Yogyakarta. Teknik
pengumpulan data menggunakan wawancara, observasi, dan dokumentasi. Setting
penelitian bertempat di Madrasah Aliyah Ali Maksum Krapyak Yogyakarta.
Analisis data melalui reduksi data, penyajian data, dan penarikan kesimpulan.
Teknik keabsahan data dilakuakan dengan triangulasi sumber.
Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa 1) Madrasah Aliyah Ali Maksum
Krapyak Yogyakarta dalam kebijakan peningkaran mutu berdasarkan standar
proses, standar kompetensi dan standar sarana dan prasarana yaiitu dalam proses
pembelajaran Madrasah Aliyah Ali Maksum menggunakan kurikulum terpadu
yang termasuk di dalamnya Kurikulum Terpadu Satuan Pendidikan (KTSP/ 2016)
dan Kurikulum 2013 dengan kurikulum yang berbasis pada kurikulum pondok
pesantren. Siswa baru yang berasal dari luar Pondok Peantren Ali Maksum wajib
mengikuti kelas I’Dad. 2) Faktor pendukung dan penghambat dalam
meningkatkan mutu pendidikan yaitu; a) Pembangunan fasilitas pendukung untuk
kegiatan belajar mengajar di Madrasah Aliyah Ali Maksum semakin pesat
sehingga fasilitas kegiatan belajar mengajar sudah memadai. b) Kurangnya minat
dan bakat para siswa serta kualitas dan kuantitas dari para guru. 3) Upaya untuk
mengatasi hambatan-hambatan peningkatan mutu madrasah yaitu pelatihan
secara rutin terhadap guru mengenai taknik pengajaran, diadakanya kelas I’Dad,
peningkatan pengawasan dan pendampingan kepada santri oleh ustad dan
pengurus pondok.
Kata Kunci : Kebijakan, Mutu, Kultu
IMPLEMENTASI PENDIDIKAN MULTIKULTURAL DI PONDOK PESANTREN ALI MAKSUM KRAPYAK YOGYAKARTA
Penelitian tentang nilai-nilai pendidikan multikultural ini berasal dari
fenomena multikulturalisme yang ada di Pondok Pesantren. Pondok Pesantren Ali
Maksum Krapyak Yogyakarta terdiri dari santri yang memiliki keberagaman baik
dari asal daerah maupun latar belakang keluarga. Melalui pengimplementasian
pendidikan multikultural melalui penaman nilai-nilai multikultural akan
membiasakan santri untuk saling menghargai, saling menghormati dengan
keanekaragaman yang ada. Penelitian ini bertujuan untuk menjawab permasalahan
yang telah dirumuskan yaitu tentang pendidikan multikultural di pondok
pesantren serta nilai-nilai pendidikan multikultural apa saja yang ditanamkan
dalam pondok pesantren.
Penelitian ini merupakan penelitian lapangan (field research), yang
menggunakan pendekatan deskriptif kualitatif. Penelitian ini bertempat di Pondok
Pesantren Ali Maksum Krapyak Yogyakarta. Penelitian ini secara khusus akan
membahas mengenai pendidikan multikultural yang ada di pondok pesantren dan
nilai-nilai pendidikan multkultural apa saja yang ditanamkan.
Hasil penelitian ini meliputi: 1. Implementasi pendidikan multikultural
melalui penanaman nilai-nilai multikultural di pondok pesantren Ali Maksum
Krapyak Yogyakarta yaitu dengan menanamkan nilai demokrasi dan kesetaraan
seperti pada kegiatan yang ada di pondok. 2) Secara tertulis kurikulum pondok
pesantren Ali Maksum Krapyak Yogyakarta belum mencantumkan secara jelas
mengenai pendidikan multikultural, namun dapam pelaksanaannya semuanya
mengarah kepada pendidikan yang berbasis multikultural. 3) Pondok pesantren
Ali Maksum Krapyak Yogyakarta telah mengimplementasikan nilai-nilai
pendidikan multikultural yaitu nilai pendidikan multikultural demokrasi,
kesetaraan, dan keadilan; nilai Pendidikan multikultural kemanusiaan,
kebersamaan, dan kedamaian.; Nilai Pendidikan multikultural mengembangkan
sikap mengakui, menerima, dan menghargai keberagaman buday
KEBIJAKAN PENINGKATAN MUTU MADRASAH ALIYAH ALI MAKSUM BERBASIS KULTUR PONDOK PESANTREN KRAPYAK YOGYAKARTA
Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan : 1) Kebijakan peningkatan mutu MadrasahAliyah Ali Maksum yang berbasis kultur pondok pesantren Krapyak Yogyakarta 2) Faktor-faktor yangmendukung dan menghambat kebijakan peningkatan mutu Madrasah Aliyah Ali Maksum yang berbasiskultur pondok pesantren Krapyak Yogyakarta 3) Upaya yang dilakukan oleh Madrasah Aliyah AliMaksum dalam mengatasi hambatan-hambatan untuk peningkatan mutu madrasah yang berbasis pondokpesantren Krapyak Yogyakarta.Jenis penelitian ini adalah penelitian deskriptif dengan menggunakan pendekatan kualitatif.Penelitian ini menggunakan teknik purposive. Subjek penelitian ini adalah kepala sekolah MadrasahAliyah Ali maksum Krapyak Yogyakarta, guru-guru Madrasah Aliyah Ali Maksum KrapyakYogyakarta, pengelola Pondok Pesantren Madrasah Aliyah Ali Maksum Krapyak Yogyakarta, siswasiswiMadrasah Aliyah Ali Maksum Krapyak Yogyakarta. Teknik pengumpulan data menggunakanwawancara, observasi, dan dokumentasi. Setting penelitian bertempat di Madrasah Aliyah AliMaksum Krapyak Yogyakarta. Analisis data melalui reduksi data, penyajian data, dan penarikankesimpulan. Teknik keabsahan data dilakuakan dengan triangulasi sumber.Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa 1) Madrasah Aliyah Ali Maksum Krapyak Yogyakartadalam kebijakan peningkaran mutu berdasarkan standar proses, standar kompetensi dan standar sarana danprasarana yaiitu dalam proses pembelajaran Madrasah Aliyah Ali Maksum menggunakankurikulum terpadu yang termasuk di dalamnya Kurikulum Terpadu Satuan Pendidikan (KTSP/ 2016) danKurikulum 2013 dengan kurikulum yang berbasis pada kurikulum pondok pesantren. Siswa baru yangberasal dari luar Pondok Peantren Ali Maksum wajib mengikuti kelas I’Dad. 2) Faktor pendukungdan penghambat dalam meningkatkan mutu pendidikan yaitu; a) Pembanguna fasilitas pendukung untukkegiatan belajar mengajar di Madrasah Aliyah Ali maksum semakin pesat sehingga fasilitas kegiatanbelajar mengajar sudah memadai. b) Kurangnya minat dan bakat para siswa serta kualitas dan kuantitasdari para guru. 3) Upaya untuk mengatasi hambatan-hambatan peningkatan mutu madrasah yaitupelatihan secara rutin terhadap guru mengenai taknik pengajaran, diadakanya kelas I’Dad, peningkatanpengawasan dan pendampingan kepada santri oleh ustad dan pengurus pondok
PROGRAM TANFĪẒI DI PONDOK PESANTREN ALI MAKSUM YOGYAKARTA
ABSTRAK
LARAS SISILIA LOPPIES. Program Tanfidzi di Pondok Pesantren Ali Maksum Yogyakarta. Skripsi. Yogyakarta: Jurusan Pendidikan Agama Islam Fakultas Ilmu Tarbiyah dan Keguruan UIN Sunan Kalijaga, 2019.
Latar belakang penelitian ini adalah keberadaan pesantren telah diakui sebagai salah satu basis kekuatan islam yang sampai saat ini tetap survive mengemban misi pendidikan dan dakwah islamiyah. Organisasi pesantren harus ada demi mewujudkan visi da misi yang telah disepakati bersama, seperti halnya yang penulis teliti di Pondok Pesantren Ali Maksum Krapyak Yogyakarta. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahuai apa saja program tanfīẓi di pondok pesantren Ali Maksum Yogyakarta, untuk mengetahui bagaimana pelaksanaan program tanfīẓi di pondok pesantren Ali Maksum Yogyakarta, dan untuk mengetahui faktor yang mendukung dan menghambat program tanfīẓi di pondok pesantren Ali Maksum Yogyakarta.
Penelitian ini merupakan penelitian kualitatif dengan mengambil latar Lembaga Pondok Pesantren Ali Maksum Yogyakarta. Pengumpulan data dilakukan dengan melakukan, observasi, wawancara dan dokumentasi. Analisis data dilakukan dengan reduksi data, penyajian data, kesimpulan dan verifikasi. Pemeriksaan keabsahan data dilakukan dengan mengadakan triangulasi sumber.
Hasil penelitian menunjukkan: (1) Program tanfīẓi di pondok pesantren Ali Maksum Yogyakarta yakni, pengoprakan shalat berjamaah, mecari badal (pengganti) imam, piket muṣola, mengecek dan melengkapi kotak P3K, mengadakan penyuluhan kesehatan dan lingkungan, memasang pamflet kesehatan, penjagaan tempat catering, menyediakan kotak saran, membuat mading perangkatan, dan membeli tanaman hias, memantau balkon supaya balkon bebas tanpa jemuran, mengadakan lomba kebersihan, mengomando santri lain untuk ikut serta kerja bakti, pengecekan alat-alat kebersihan, menjaga gerbang, memberikan hukuman bagi santri yang melanggar, melakukan razia atau penggrebekan, dan mengumumkan hukuman, mensosialisasikan buku pretasi mengaji, merekap absen santri, memberikan apresiasi, mengadakan lomba waktu PHBI (Peringatan Hari Besar Islam), Ziarah ke makam para sesepuh, penampilan hadroh, pengajian Jum‟at Legi, tartilan dan tahlilah, membaca Asmaul Husna serta Pidato, mengaktifkan media sosial, selain itu membuat stiker motivasi, mendokumentasikan kegiatan-kegiatan. (2) Pelaksanaan program tanfīẓi yakni pelaksanaan kegiatan sehari-hari santri, kegiatan mingguan, kegiatan bulanan, kegiatan tahunan, serta program-program yang dikelola oleh tanfīẓi. (3) Faktor pendukung program tanfīẓi antara lain kemauan dan minat dari santri ketika mereka terpilih menjadi tanfidzi, sehingga mereka bisa bertahan dan biasanya ketika belajar berorganisasi merka akan semakin berkualitas kepribadiannya. Pengasuh dan pembimbing yang selalu membimbing dan mengarahkan program kerja yang telah direncanakan oleh tanfidzi. Adapun faktor penghambatnya antara lain SDM tanfidzi yang memiliki latar belakang dan karakter yang berbeda. Sesama tanfidzi yang bekerja satu sama bagian belum bisa bekerja sama dalam satu tim, sehingga program kerja yang sudah direncakan kurang maksimal hasilnya
IMPLEMENTASI FULL-DAY SCHOOL DI MADRASAH ALIYAH (MA) ALI MAKSUM KRAPYAK YOGYAKARTA TAHUN PELAJARAN 2016-2017
Ahmad Rifqi, Implementasi Full-Day School di Madrasah Aliyah (MA)
Ali Maksum Krapyak Yogyakarta. Progam Studi Pendidikan Agama Islam
Fakultas Agama Islam Universitas Alma Ata Yogyakarta 2017.
Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan : 1) Implementasi fullday school yang diterapkan di Madrasah Aliyah (MA) Ali Maksum Krapyak
Yogyakarta 2) Faktor-faktor yang mendukung dan yang menghambat
implementasi full-day school di Madrasah Aliyah (MA) Ali Maksum Krapyak
Yogyakarta 3) Upaya yang dilakukan oleh Madrasah Aliyah (MA) Ali Maksum
Krapyak Yogyakarta dalam mengatasi hambatan-hambatan implementasi full-day
school.
Jenis penelitian ini adalah penelitian deskriptif dengan menggunakan
pendekatan kualitatif. Penelitian ini menggunakan teknik purposive sampling.
Subjek penelitian ini adalah Waka Madrasah bagian Kurikulum dan Pengajaran,
Waka Madrasah bagian Kesiswaan, guru-guru MA Ali Maksum Krapyak, siswa
MA Ali Maksum Krapyak. Teknik pengumpulan data menggunakan wawancara,
observasi, dan dokumentasi. Setting penelitian bertempat di MA Ali Maksum
Krapyak Yogyakarta. Analisis data melalui reduksi data, penyajian data, dan
penarikan kesimpulan. Teknik pengumpulan data dilakukan dengan triangulasi
sumber.
Hasil penelitian ini menunjukan 1) MA Ali Maksum Krapyak
Yogyakarta dalam menerapkan kebijakan implementasi full-day school
berdasarkan pada standar proses, standar kompetensi, dan standar sarana
prasarana yaitu dalam proses pembelajaran MA Ali Maksum menggunakan
kurikulum terpadu yang termasuk di dalamnya Kurikulum Terpadu Satuan
Pendidikan (KTSP/2006) dan Kurikulum 2013 dengan kurikulum pondok
pesantren. 2) Faktor pendukung dan penghambat yaitu; a) Motivasi belajar siswa,
hubungan baik dengan guru, dan kurukulum terpadu. b) Waktu belajar yang relatif
lama, dan kejenuhan siswa. 3) Upaya untuk mengatasi hambatan-hambatan yaitu
menggunakan metode mengajar yang sesuai dan interaktif, peningkatan
pengawasan dan pendampingan kepada siswa.
Kata Kunci : Implementasi Full-day Schoo
KONSEP PENDIDIKAN ISLAM TRADISIONAL (STUDI PEMIKIRAN K.H. ALI MAKSUM KRAPYAK)
Pendidikan pada umumnya ditujukan untuk menanamkan nilai-nilai dan norma-norma tertentu sebagaimana yang telah ditetapkan dalam filsafat pendidikan, yakni nilai atau norma yang dijunjung tinggi oleh suatu lembaga pendidikan. Sayangnya, dasar filosofi ini terkadang belum terkonsep secara jelas oleh pelaksana pendidikan. Hal tersebut dapat dilihat pada lembaga pendidikan tertentu di mana. pola dan sistem pendidikan yang dikembangkan cenderung labil. Oleh karena itu, dalam rangka mempersiapkan pendidikan yang maju maka perlu diawali dengan menetapkan dasar filosofi yang mantap dan ditunjang oleh seperangkat teori dan konsep kependidikan yang memadai.
Konsep-konsep pendidikan umum yang tumbuh dan berkembang saat ini, baik di Barat maupun Timur sebenarnya berakar pada konsep pendidikan Islam. Konsep pendidikan umum dan pendidikan Islam sama-sama terikat oleh nilai-nilai universal sebagai ikatan nilai lahi yang bersifat mutlak, demikian juga Pendidikan Agama Islam (PAI). Dengan demikian, nilai-nilai yang harus diintegrasikan ke dalam pendidikan umum tidak hanya berdasarkan baik dan buruk menunut manusia, tapi baik dan buruk itu harus mencapai standar ukuran nilai-nilai ketuhanan yang digariskan oleh Tuhan semesta alam, yaitu nilai-nilai spiritual yang digariskan oleh Al-Qur’an dan al Hadits.
Adapun metode yang akan digunakan adalah metode deskriptif- analitis yaitu ingin mencoba mendeskripsikan konstruksi dasar konsep pendidikan Islam tradisional studi kasus K.H. Ali Maksum.
Salah satu cara agar tercapainya tujuan pendidikan Islam yang sesuai dengan standar nilai-nilai spiritual adalah dengan mendirikan dan mengembangkan pendidikan pesantren. Penelitian ini bertujuan mendeskripsikan latar belakang kehidupan K.H. Ali Maksum dan pemikirannya dalam pendidikan Islam tradisionalnya pada pondok pesantren Krapyak Yogyakarta. K.H. Ali Maksum termasuk salah satu ulama yang cukup sukses mengembangkan pendidikan pesantren dan madrasah. Dengan menggunakan pendekatan kualitatif, dalam penelitian ini diperoleh temuan bahwa metode pendidikan pesantren dan madrasah yang diterapkan K.H. Ali Maksum adalah memadukan sistem pendidikan sorogan, bandongan, dan model diskusi antar santri. Dengan model
pendidikan pesantren dan madrasah tersebut, terbukti pondok pesantren Krapyak banyak melahirkan alumni- alumni yang cukup berpengaruh di Indonesia.
Kata kunci: K.H. Ali Maksum; Biografi; Pemikiran Pendidikan Islam Tradisiona
PERGUMULAN ORTODOKSI ISLAM DAN BUDAYA JAWA DALAM PEMIKIRAN KH. ALI MAKSUM
Islam datang ke tanah Jawa dengan membawa ajaran
normatif diterima sebagai budaya baru yang datang dari tanah
Arab. Pergumulan dan persinggungan diantara Islam dan budaya
masyarakat Jawa tidak dapat dihindari. Untuk memahami dan
menyatukan keduanya, dibutuhkan kearifan lokal yang bergantung
kepada kemampuan tokoh dalam mendialektikkan keduanya.
Dialektika diantara keduanya dapat membawa perubahan budaya
masyarakat Jawa sebagai tanda bagi perkembangan Islam. KH. Ali
Maksum sebagai seorang Ulama yang juga memiliki peran penting
di dalam pemerintahan dan organisasi masyarakat islam terbesar di
Indonesia (NU), dianggap mampu mensikapi islam dalam konteks
budaya Jawa secara arif tanpa menimbulkan benturan yang
merugikan kedua belah fihak. Penelitian ini mengkaji bagaimana
pergumulan ortodoksi islam dan budaya jawa di Indonesia. Apa
saja tindakan KH. Ali Maksum dalam memahami pergumulan
ortodoksi Islam dan budaya Jawa. Pendekatan apa saja yang
dilakukan KH. Ali Maksum dalam mensikapi pergumulan
ortodoksi Islam dan budaya Jawa.
Penelitian ini merupakan penelitian kualitatif yang dikaji
dengan menggunakan teori sosial Pierre Bourdieu. Setidaknya
terdapat enam unsur dalam teori sosial Pierre Bourdieu yang
digunakan untuk menganalisis pemikiran KH. Ali Maksum
sebagai objek kajian. Diantaranya ialah: doxa merupakan suatu pemikiran yang diikuti oleh banyak orang sehingga menjadi satu
kebenaran yang tidak lagi dipertanyakan. Heterodoxa yaitu
pemikiran baru yang berhadapan dengan doxa. Unigasi yaitu
format baru hasil pergumulan antara doxa dan heterodoxa. Aktor
adalah tokoh yang berperan dalam menciptakan doxa sehingga
terjadi perubahan sosial. Arena merupakan lapangan (field) tempat
aktor berperan yaitu dapat berupa arena politik, sosial, keagamaan,
dan lainnya. Kapital merupakan modal yang digunakan aktor
dalam melakukan perubahan sosial yaitu dapat berupa modal
ekonomi, modal sosial, modal budaya, dan lainnya.
Penelitian ini menghasilkan tiga kesimpulan: pertama,
pergumulan ortodoksi islam dan budaya jawa memiliki tiga fase
yaitu fase mitos, fase ideologi, dan fase ilmu. Pemikiran KH. Ali
Maksum berada dalam fase ilmu. Kedua, tindakan-tindakan yang
dilakukan KH. Ali Maksum dalam memahami Pergumulan
ortodoksi Islam dan budaya Jawa digambarkan dalam tiga aspek
yaitu aspek keagamaan, politik dan sosial. Ketiga, KH. Ali
Maksum memberikan pijakan normatif dengan menggunakan
pendekatan manhaj ushuli ulama mazhab baik dengan metode
bayani maupun istishlahi dalam menjelaskan pergumulan
ortodoksi islam dan budaya jawa. Dengan pendekatan tersebut
dihasilkan konstruksi pemikiran KH. Ali Maksum terhadap
pergumulan ortodoksi islam dan budaya jawa yang dituangkan
dalam tipologi pemikiran. Pertama: pada bidang keagamaan, KH.
Ali Maksum memiliki pemikiran Islam Artikulatif sehingga didapat vertikalisasi doa melalui tawassul dalam praktik ziarah
kubur. Pada bidang politik, KH. Ali Maksum menggunakan
metode deformalisasi islam dalam menerima pancasila sebagai
asas tunggal negara. Pada bidang sosial, KH. Ali Maksum
menggunakan rasionalisasi humanistik untuk tercapainya
kemaslahatan dalam praktik berjabat tangan antara lelaki dan
perempuan yang bukan mahram
NILAI-NILAI PENDIDIKAN MULTIKULTURAL DI SMP ALI MAKSUM KRAPYAK (TELAAH TERHADAP PEMBELAJARAN PENDIDIKAN AGAMA ISLAM DI SMP ALI MAKSUM KRAPYAK)
Latar belakang masalah penelitian ini adalah bahwa idealnya dalam pendidikan, semua peserta didik mendapatkan kesempatan yang sama tanpa dibeda-bedakan, baik dari segi suku, bahasa, agama, maupun budayanya. Namun pada kenyataannya masih diketemukan pendidikan yang tidak menghargai keragaman tersebut, khususnya dalam proses pembelajaran. proses pendidikan berjalan secara eksklusif, dogmatik, dan kurang menyentuh aspek moralitas. Kondisi pendidikan yang demikian tidak memadai lagi untuk masyarakat Indonesia yang plural dan multikultural. Maka perlu dilakukan transformasi para digma pendidikan di Indonesia, yakni paradigma pendidikan multikultural. Oleh karena itu perlu dilakukan penelitian tentang nilai-nilai pendidikan multikultural dalam suatu proses pembelajaran. Adapun yang menjadi permasalahan dalam penelitian ini adalah: bagaimana proses pembelajaran di SMP Ali Maksum Krapyak Yogyakarta dan apa nilai-nilai multikultural di dalamnya. Penelitian ini bertujuan untuk mengungkap nilai-nilai multukultural dalam pembelajaran PAI di SMP Ali Maksum Krapyak Yogyakarta. Hasil penelitian ini diharapkan dapat menjadi bahan pertimbangan atau masukan bagi lembaga pendidikan, khususnya bagi SMP Ali Maksum, untuk mengembangkan kurikulum pendidikan multikultural yang dapat mewujudkan generasi penerus Indonesia yang saling memahami dan bekerja sama, meski dengan latar belakang etnik, bahasa, budaya, dan agama yang berbeda-beda.
Penelitian ini merupakan penelitian kualitatif, dengan mengambil SMP Ali Maksum Krapyak sebagai tempat penelitian. Pengumpulan data dilakukan dengan mengadakan pengamatan, wawancara mendalam, dan dokumentasi. Analisis data dilakukan dengan memberikan makna terhadap data yang berhasil dikumpulkan, dan dari makna itulah ditarik kesimpulan.
Hasil penelitian menunjukkan: (1) pembelajaran PAI di SMP Ali Maksum telah memuat nilai-nilai multikultural, antara lain terdapat dalam materi ajar PAI pada topik “memahami Al-Asmaul Husna” dan topik “memahami sejarah Nabi Muhammad SAW”. Nilai-nilai multikultural di dalamnya yaitu: nilai demokrasi, nilai keadilan, nilai kasih sayang dan memaafkan, nilai solidaritas dan kebersamaan, serta nilai perdamaian dan toleransi. (2) nilai multikultural lain─seperti nilai demokrasi dan keragaman─juga ditemukan dalam kegiatan pembelajaran. hal ini terlihat dari keragaman tempat pembelajaran, metode pembelajaran, dan interaksi yang demokratis antara guru dan peserta didik, baik dalam pemilihan metode pembelajaran, kesesmpatan pengajuan pertanyaan, dan pelibatan peserta didik dalam proses pembelajaran. (3) nilai keragaman juga terdapat dalam penggunaan evaluasi pembelajaran. dari pelaksanaannya, ada dua jenis evaluasi pembelajaran, yaitu: ujian akhir semester dan ujian tengah semester. Dari jenis evaluasinya juga beragam, yaitu: tugas individu, tugas kelompok, unjuk kerja/evaluasi tugas, lembar pengamatan, dan lembar kerja
Analisis Fungsi Manajemen Di Madrasah Aliyah (Ma) Ali Maksum Krapyak YOGYAKARTA
This study aimed to: 1) analyze the implementation of the management functions in Madrasah Aliyah Ali Maksum, 2) determine the implementation of the principles of management in the education component in Madrasah Aliyah Ali Maksum, and 3) determine the obstacles faced in the implementation of the management functions in Madrasah Aliyah Ali Maksum.The results of the analysis are as follows: 1) Management functions in Madrasah Aliyah Ali Maksum less effective / less to overall between the lower level with the top level. (2) The application of management principles in an educational component in Madrasah Aliyah Ali Maksum less effective, (3) The internal resistance is caused by the tradition of boarding schools, boarding schools and curriculum curriculum blend government. External barriers caused by the lack of coordination between organizations and Foundations Madrasa
- …
