1,721,194 research outputs found
Mahmud Muhammad Taha: l'altra cara de l'Islam
L'autor presenta un personatge islàmic pràcticament desconegut en el món occidental i que representa, segons el seu criteri, una cara desconeguda de l'Islam. Després d'una presentació biogràfica de l'autor en qüestió, el treball recull sintèticament el pensament filosòfic i teològic de Mahmud Muhammad Taha
Mahmud Muhammad Taha: l'altra cara de l'Islam
L'autor presenta un personatge islàmic pràcticament desconegut en el món occidental i que representa, segons el seu criteri, una cara desconeguda de l'Islam. Després d'una presentació biogràfica de l'autor en qüestió, el treball recull sintèticament el pensament filosòfic i teològic de Mahmud Muhammad Taha
Gagasan Mahmud Muhammad Taha tentang Evolusi Syariah
This article discusses the thought of Mahmud Muhammad Taha in methodology of istinbat or legal interpretation in ‎Islamic law which emphasizes on the egalitarian values of Islamic law. In his interpretation, he uses the naskh or ‎abrogation method, a method used by pioneering Islamic jurists to find solution for conflicting Qur’anic verses. It is ‎employed by applying the relevant verses revealed latter and postponing the application of other irrelevant verses. ‎However, Mahmud Muhammad Taha convinces that the abrogation method he has proposed is an enabling ‎method for the evolution of Islamic law. It is basically a flexible interpretation of the text that allows movement ‎from one Qur’anic text to another on the basis of relevance. As a result, the application of certain Qur’anic text and ‎abandonment of another is temporary and not conclusive. On other occasion, the abandoned text can be applied ‎whenever it becomes relevant. This study is based on egalitarian values of Islamic law which has been proposed by ‎Taha. He asserts that currently shari’ah or Islamic law is seen as discriminative and incapable of fulfilling the true ‎mission of Islam which is just, prosperous welfare and compassionat
Pemikiran Mahmud Muhammad Thaha dan Theodor Noldeke tentang ayat-ayat Makkiyah dan Madaniyah
Banyak kontroversi diantara para ahli tentang konsep ayat-ayat Makkiyah dan Madaniyah, baik dikalangan para sarjana muslim maupun orientalis. Penelitian ini membandingkan Pemikiran Mahmud Muhammad Thaha dan Theodor Noldeke Tentang Makkiyah dan Madaniyah. Dari hasil penelitian ini menunjukkan bahwa pemikiran Mahmud Muhammad Thaha dan Theodor Noldeke tentang ayat-ayat Makkiyah dan Madaniyah ada beberapa titik persamaan dan perbedaan. Keduanya memiliki banyak persamaan terkait dengan karakteristik ayat-ayat Makkiyah dan Madaniyah. Sedangkan perbedaannya, Mahmud Muhammad Thaha dalam menentukan ayat Makkiyah dan Madaniyah didasarkan pada kriteria isi kandungan dalam ayat dan melihat subjek atau siapan yang disebutkan dalam ayat al-Qur’an. Berbeda dengan Theodor Noldeke, ia membagi ayat al-Qur’an yang Makkiyah dan Madaniyah dalam empat bagian. Bagian pertama periode Makkah awal, kedua Makkah tengah dan ketiga Makkah akhir, yang keempatnya periode Madinah. Noldeke dalam menentukan suatau ayat didasarkan pada waktu diturunkannya ayat al-Qur’an, yang digunakan sebagai tolak ukurnya yaitu saat hijrahnya nabi ke Madinah. Surat yang diturunkan sebelum nabi melakukan hijrah ke Madinah dalam teori ini disebut surat Makkiyah, begitu juga sebaliknya. Kemudian, adanya perbedaan pada kedua tokoh dilatar belakangi pemikiran, riwayat pendidikan, lingkungan serta keilmuan dan cara pandang keduanya dalam memahami ayat Makkiyah dan Madaniyah. Penelitian ini tidak semerta-merta mengulas semua aspek ilmu Makkiyah dan Madaniyah, tulisan ini hanya mengulas sedikit bagian itu. Maka dari itu, pemahaman tentang masalah ini perlu diperdalam lagi guna memberikan pemahaman yang konkrit
PEMIKIRAN PEMBAHARUAN HUKUM ISLAM MAHMUD MUHAMMAD THAHA
Mahmud Muhammad Thaha, pemikir Islam asal Sudan, memberikan perspektif baru dalam melihat Islam dan produk syariatnya. Beliau membagi Islam pada dua periodesasi, yaitu periode Mekkah (610-622 M) yang disebut dengan “ar-risalah al-ula” (The First Message) dan periode Madinah (622-632 M) yang disebut dengan “ar-risalah ats-tsaniyah” (The Second Message). Karakter Islam yang terbangun dalam Misi Pertama adalah ajaran-ajaran yang bernuansa universal, substantif, penuh dengan semangat perlindungan HAM, semangat egaliter, dan bercirikan sistem yang demokratis. Sedangkan Islam pada masa Misi Kedua sudah menjadi bangunan keislaman yang cenderung mapan, berorientasi penuh ke dalam (in wordly), dan penuh dengan aturan-aturan “syariat” kolektif. Ia berpendapat banyak konsep-konsep hukum Islam yang berkembang bukanlah murni dari ajaran Islam yang bersumber dari al-Qur’an dan Sunnah tapi merupakan kebudayaan yang sudah berkembang pada masa ataupun masyarakat sebelum datangnya Islam sehingga memungkinkan untuk dilakukan perubahan agar tercapainya keadilan bagi masyarakat
Coretan Muhammad Muaz Bin Mahmud / Muhammad Muaz Mahmud
Terima kasih yang tidak terhingga diucapkan kepada warga kerja penerbitan majalah ini, yang telah sudi mengizinkan saya mengisi beberapa helai muka surat dalam majalah EON, untuk berkongsi pengalaman suka dan duka saya sepanjang menuntut di Institusi ini. Sesungguhnya, sukar untuk saya lupakan pengalaman yang telah dilalui disini. Seterusnya, saya melanjutkan pengajian dalam bidang Ijazah Sarjana Muda di UiTM Kampus Shah Alam melalui system penerapan UiTM dalam bidang Kimia (Analisis Forensik). Saya merupakan Yang Dipertua Jawatankuasa Perwakilan Komander Kesatria (JPKK) UiTM Cawangan Negeri Sembilan (UiTMCNS), Kampus Kuala Pilah dahulu. Sepanjang saya dan rakan-rakan memimpin Badan Beruniform ini, banyak kejayaan yang telah kami capai. Antaranya, kami telah dinobatkan sebagai pemenang Anugerah Pemimpin Badan Beruniform Anugerah Tokoh Siswa 2016 yang mana ia adalah julung kalinya dimenangi oleh Komander Kesatria UiTMCNS Kampus Kuala Pilah. Seterusnya, kami telah berjaya merangkul pingat emas untuk acara Tempur Tanpa Senjata dan tempat ketiga keseluruhan acara Komander Kesatria Endurance Challenge (KKEC), yang disertai oleh Komander Kesatria UiTM seluruh Malaysia
KONSEP NASKH DALAM TEORI HUKUM MAHMUD MUHAMMAD THAHA
Tulisan ini berusaha menelusuri metode naskh dalam pemikiran hukum Islam Mahmud Muhammad Thaha, baik landasan konseptual yang ia bangun, maupun implikasinya terhadap permasalahan-permasalahan hukum. Dari hasil kajian yang telah dilakukan, ditemukan tiga karakteristik metode nasakh Thaha yaitu: Pertama, peralihan dari satu teks ke teks lain, di mana antara satu teks dengan teks lainnya tidak dalam satu ayat, atau bahkan berbeda surat. Kedua, peralihan dari satu teks ke teks lainnya, tapi masih dalam satu ayat. Thaha pernah menjelaskan, bahwa penyebutan atau pembagian makkiyah dan Madaniyah hanya menunjukkan keumumannya saja, sebab ada pula ayat-ayat Madaniyah yang memiliki kandungan semangat atau sifat Makkiyah dan begitu juga sebaliknya. Ketiga, Thaha terkadang dengan kedalaman ilmu tasawufnya, memiliki pandangan sendiri mengenai suatu pemasalahan yang di dalam Al-Qur’an tidak dinyatakan secara tegas mengenai hukum dari persoalan tersebut. Sebab memang Thaha biasanya menggunakan pandangannya ini dalam persoalan-persoalan yang bersifat “keduniaan”, misalnya pendapat dan pandangannya mengenai masalah keadilan ekonomi, politik dan lain-lai
Kebebasan manusia dalam pandangan Mahmud Muhammad Taha
Konsep kebebasan manusia merupakan salah satu tema penting dalam filsafat dan pemikiran Islam kontemporer, terutama ketika dikaitkan dengan upaya menafsirkan ulang ajaran Islam dalam konteks modern. Kebebasan manusia dapat menjadi angin segar di tengah masyarakat muslim hari ini yang mengalami sektarian, ketimpangan sosial, dan kemandekan dalam memahami ajaran agama. Konsep kebebasan manusia dapat dipahami melalui dua pendekatan. Pertama, pendekatan ateistik yang membahas kebebasan manusia tanpa melibatkan Tuhan. Kedua, pendekatan teistik yang menjadikan hubungan dengan Tuhan sebagai bagian penting dari kebebasan manusia.
Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengkaji tentang kebebasan manusia menurut Mahmud Muhammad Taha, serta menganalisis bagaimana kondisi sosial dapat menjadi faktor pendukung dalam pencapaian kebebasan tersebut. Taha dalam pemikirannya sangat menekankan individu, karena bertanggung jawab pada diri sendiri merupakan suatu kedewasaan. Ketika manusia tidak menggantungkan segalanya pada kelompok, maka ia masih kekanak-kanakan, karena membebankan tanggung jawab pada orang lain. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan metode studi pustaka. Teknik pengambilan data dalam penelitian ini menggunakan teknik dokumentasi dan teknik analisis data memakai teks analisis isi.
Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa menurut Taha, kebebasan manusia adalah ketika kepentingan individu dan kelompok berjalan beriringan menuju kesempurnaan. Kebebasan manusia tersebut hanya dapat dihasilkan jika masyarakat dapat menerapkan kesetaraan ekonomi, kesetaraan politik, dan kesetaraan sosial
KONSEP NASKH DALAM TEORI HUKUM MAHMUD MUHAMMAD THAHA
Tulisan ini berusaha menelusuri metode naskh dalam pemikiran hukum Islam Mahmud Muhammad Thaha, baik landasan konseptual yang ia bangun, maupun implikasinya terhadap permasalahan-permasalahan hukum. Dari hasil kajian yang telah dilakukan, ditemukan tiga karakteristik metode nasakh Thaha yaitu: Pertama, peralihan dari satu teks ke teks lain, di mana antara satu teks dengan teks lainnya tidak dalam satu ayat, atau bahkan berbeda surat. Kedua, peralihan dari satu teks ke teks lainnya, tapi masih dalam satu ayat. Thaha pernah menjelaskan, bahwa penyebutan atau pembagian makkiyah dan Madaniyah hanya menunjukkan keumumannya saja, sebab ada pula ayat-ayat Madaniyah yang memiliki kandungan semangat atau sifat Makkiyah dan begitu juga sebaliknya. Ketiga, Thaha terkadang dengan kedalaman ilmu tasawufnya, memiliki pandangan sendiri mengenai suatu pemasalahan yang di dalam Al-Qur’an tidak dinyatakan secara tegas mengenai hukum dari persoalan tersebut. Sebab memang Thaha biasanya menggunakan pandangannya ini dalam persoalan-persoalan yang bersifat “keduniaanâ€, misalnya pendapat dan pandangannya mengenai masalah keadilan ekonomi, politik dan lain-lain This article attempts to explore the method of naskh in Mahmud Muhammad Thaha’s Islamic legal thought, both its conceptual foundation he built, and the implications for legal issues. From the studies that have been conducted, it is found that there are three characteristics of nasakh method according to Thaha, namely: firstly, the transition from one text to another, where the text and the other is not in one paragraph, or even a different letter. Secondly, the transition from one text to another, but still in one paragraph. Thaha once explained, that the mention or division between Meccan surah and Madaniyah only showed generalization only, because there are also passages in Madaniyah which contains the spirit or nature of Meccan surah and vice versa. Thirdly, Thaha sometimes with a depth in a mystical science, has his own view about a problem that the Qur'an does not explicitly stated in the law on the issue. Thaha usually use these views in matters that are "mundane" such as his opinions and views on issues of economic justice, political and others
Taha's vision:The modern Sufi theology of Mahmud Muhammad Taha, 1909-1985
The Sudanese Muslim reformer Mahmud Muhammad Taha was executed in 1985 for his opposition to the introduction of Islamic criminal law in his country. His martyrdom in opposing traditional shari‘a and his radical project of Islamic legal reform have been described or mentioned in many books on modern Islam. But the mystical theology underlying his legal reform has been largely overlooked. This book describes Taha’s Sufi-inspired modernist theology in its premodern and modern intellectual context. It argues that his unique reliance on premodern Sufi thought allowed him to go further than his contemporaries in bringing Islam into the modern age, especially with his theory of spiritual evolution and his views on democratic governance and the rights of women and non-Muslims. Taha’s modern understanding of premodern Sufism may be viewed both as a Muslim version of contemporary New Age spirituality and as a Sufi reply to the fundamentalist Salafi interpretations of Islam that have gained worldwide ascendancy in the past few decades
- …
