30 research outputs found
Analisis penetapan Hakim dalam perkara permohonan perkawinan beda agama menurut perspektif maslahah Said Ramadhan Al-Buti: Studi kasus perkara nomor 333/Pdt.P/2018/Pn.Skt
ABSTRAK
Perkawinan beda agama termasuk salah satu polemik yang tak kunjung ada penyelesaiannya meskipun di Indonesia telah mempunyai Undang-Undang Nomor 16 Tahun 2019 tentang Perkawinan. Sedangkan perkawinan beda agama dalam pandangan masyarakat Islam di Indonesia telah ditentang keras. Namun pada kenyataannya masih terdapat perkawinan beda agama sebagaimana pada penetapan nomor 333/Pdt.P/2018/PN.Skt yang berisi tentang permohonan izin kawin beda agama yang kemudian dikabulkan oleh Pengadilan Negeri Surakarta.
Fokus dari penelitian ini adalah (1) bagaimana analisis penetapan nomor 333/Pdt.P/2018/PN.Skt tentang izin perkawinan beda agama dalam perspektif hukum positif di Indonesia, (2) bagaimana analisis penetapan nomor 333/Pdt.P/2018/PN.Skt tentang izin perkawinan beda agama perspektif Maslahah Said Ramadhan Al-Buti.
Penelitian ini berjenis penelitian hukum yuridis normatif dengan menggunakan pendekatan kasus dan pendekatan konseptual. Data yang diperoleh berasal dari salinan penetapan pada website Mahkamah Agung yaitu penetapan nomor 333/Pdt.P/2018/PN.Skt di Pengadilan Negeri Surakarta. Sedangkan analisisnya berupa penjelasan analisis deskriptif berdasarkan perspektid Hukum Positif dan maslahah Said Ramadhan Al-Buti terkait penetapan nomor 333/Pdt.P/2018/PN.Skt.
Hasil penelitian ini: (1) berdasarkan hukum positif, menunjukkan bahwa menurut Undang-Undang Dasar 1945, Undang-Undang Perkawinan dan Kompilasi Hukum Islam bahwa pada tiap-tiap pasal yang berkaitan dengan perkawinan beda agama telah menjelaskan larangan adanya perkawinan beda agama tersebut, baik secara langsung ataupun secara tersirat. (2) berdasarkan Maslahah Said Ramadhan Al-Buti, menunjukkan adanya pertentangan dengan tiga poin maslahah yang dikemukakan Al-Buti yakni Maqasyid As-Syari’ah, Al-Qur’an, dan Hadis. Dalam penetapan mengenai izin perkawinan beda agama tersebut, telah ditemukan adanya mafsadat dari pada maslahah. Saran dari penulis adalah agar hakim Pengadilan Negeri sebelum mengadili diwajibkan untuk memahami semua ketentuan tentang perkara perkawinan beda agama, baik hukum positif maupun hukum agama dari para pihak, agar dapat memberikan keseimbangan hukum antara hukum negara dan hukum agama serta memberikan keputusan yang paling adil bagi semua pihak terkait.
ABSTRACT
Interfaith marriages are one of the polemics that have never been resolved even though Indonesia already has Law Number 16 of 2019 about Marriage. Meanwhile, interfaith marriage in the view of the Islamic community in Indonesia has been strongly opposed. However, in reality there are still interfaith marriages as stated in the stipulation number 333/Pdt.P/2018/PN.Skt which contains an application for an interfaith marriage permit which was later granted by the Surakarta District Court.
The focus of this research is (1) how to analyze the determination of number 333/Pdt.P/2018/PN.Skt regarding interfaith marriage permits in a positive legal perspective in Indonesia, (2) how to analyze the determination of number 333/Pdt.P/2018/ PN.Skt regarding permission for interfaith marriage from the perspective of Maslahah Said Ramadhan Al-Buti.
This research is a normative juridical law research using a case approach and a conceptual approach. The data obtained comes from a copy of the determination on the website of the Supreme Court, namely determination number 333/Pdt.P/2018/PN.Skt at the Surakarta District Court. While the analysis is in the form of an explanation of descriptive analysis based on the perspective of Positive Law and the maslahah of Said Ramadhan Al-Buti regarding the determination of the number 333/Pdt.P/2018/PN.Skt.
The results of this study: (1) based on positive law, it shows that according to the 1945 Constitution, the Constitution of Marriage and the Compilation of Islamic Law that in each article relating with interfaith marriages, which has explained the prohibition of interfaith marriages, both directly or implicitly. (2) based on Maslahah Said Ramadhan Al-Buti, it shows that there is a conflict with the three points of maslahah put forward by Al-Buti, namely Maqasyid As-Shari'ah, Al-Qur'an, and Hadith. In the determination of the interfaith marriage permit, it has been found that there is mafsadat rather than maslahah. The recommendation from the author is that the District Court judges before trying are required to understand all the regulations of interfaith marriage cases, both positive law and religious law from the parties, in order to provide a legal balance between state law and religious law and provide the fairest decision for all related parties
مستخلص البحث
تعد الزيجات بين الأديان واحدة من الجدل الذي لم يتم حله أبدًا على الرغم من أن إندونيسيا لديها بالفعل القانون رقم 16 لعام 2019 بشأن الزواج. في غضون ذلك ، لاقى الزواج بين الأديان من وجهة نظر الجالية الإسلامية في إندونيسيا معارضة شديدة. ومع ذلك ، في الواقع ، لا تزال هناك زيجات بين الأديان كما هو مذكور في الشرط رقم 333/Pdt.p/2018/PN.Skt الذي يحتوي على طلب للحصول على تصريح زواج بين الأديان تم منحه لاحقًا من قبل محكمة مقاطعة سوراكارتا.
يركز هذا البحث على (1) كيفية تحليل تحديد الرقم 333/Pdt.p/2018/PN.Skt بخصوص تصاريح الزواج بين الأديان من منظور قانوني إيجابي في إندونيسيا ، (2) كيفية تحليل تحديد الرقم 333/Pdt.p/2018/PN.Skt بخصوص الإذن بالزواج بين الأديان من وجهة نظر مصلحة سعيد رمضان البطي.
هذا البحث هو بحث في القانون القانوني المعياري باستخدام منهج الحالة ومنهج مفاهيمي. تأتي البيانات التي تم الحصول عليها من نسخة من القرار على الموقع الإلكتروني للمحكمة العليا ، وتحديداً رقم القرار 333/Pdt.p/2018/PN.Skt في محكمة مقاطعة سوراكارتا. بينما جاء التحليل في شكل شرح للتحليل الوصفي مبني على منظور القانون الوضعي ومصلحة سعيد رمضان البوطي بخصوص تحديد الرقم 333/Pdt.p/2018/PN.Skt.
نتائج هذه الدراسة: (1) بناءً على القانون الوضعي ، تبين أنه وفقًا لدستور عام 1945 وقانون الزواج وتجميع الشريعة الإسلامية أنه في كل مادة تتعلق بالزواج بين الأديان ، أوضحت حظر الزواج بين الأديان ، سواء بشكل مباشر أو ضمني. (2) استنادًا إلى مصلحة سعيد رمضان البطي ، فإنه يدل على وجود تعارض مع نقاط المصلحة الثلاث التي طرحها البطي ، وهي مقاصيد الشريعة ، والقرآن ، والحديث. عند تحديد تصريح الزواج بين الأديان ، وجد أن هناك مفسدات بدلاً من المصلحة. اقتراح صاحب البلاغ هو أن قضاة المحكمة المحلية قبل المحاكمة مطالبون بفهم جميع الأحكام المتعلقة بقضايا الزواج بين الأديان ، سواء القانون الوضعي أو القانون الديني من الطرفين ، من أجل توفير توازن قانوني بين قانون الولاية والقانون الديني وتقديم القرار الأكثر إنصافًا لجميع الأطراف ذات الصلة
FENOMENA CHILDFREE PERSPEKTIF KONSEP MASLAHAT SAID RAMADHAN BUTHI: CHILDFREE PHENOMENA PERSPECTIVE OF THE MASLAHAT CONCEPT OF SAID RAMADHAN BUTHI
Every married couple who gets married definitely has the goal of having children in the hope of being the successor to the family. However, along with the development of the times, a person or couple chooses to make the decision not to have children or childfree. The decision certainly raises polemic and also debate in society. From the childfree phenomenon, the author attempts to analyze childfree actions from the perspective of the Maslahat sa'id Ramadhan Al-buthi concept. Said Ramadhan al-Buthi is a Syrian scientist in the field of Islamic religious sciences and is also a very prolific writer. Al-buthi limits the use of the concept of benefit more systematically. The limitations are first, that maslahat is still within the scope of syari' goals (Maqashid al-Syar'iyyah). Second, it does not conflict with the Qur'an. Third, it does not conflict with as-sunnah. Fourth, it does not conflict with qiyas, and fifth, it does not conflict with higher benefits. If the childfree phenomenon in marriage is analyzed based on the perspective of Said Ramadhan Al-buthi's maslahat concept, then this action shows a conflict with the three points of maslahah put forward by Al-buthi namely Maqasyid As-Syari'ah, Al-Qur'an, and Hadit
IMPLIKASI PELAKSANAAN NIKAH DI BAWAH UMUR TERHADAP TINGKAT PERCERAIAN (Studi Kasus di Desa Bayalangu Kidul Kec. Gegesik Kab. Cirebon)
MOH SAID RAMADHAN
NIM: 14122110864
: “Implikasi Pelaksananaan Nikah di Bawah Umur
Terhadap Tingkat Perceraian (Studi Kasus di Desa
Bayalangu Kidul Kec. Gegesik Kab. Cirebon)”
Pernikahan bertujuan menciptakan sebuah keluarga yang sakinah,
mawaddah, dan raḥmah. Untuk mewujudkan tujuan pernikahan maka pemerintah
telah menetapkan undang-undang yang mengatur tentang batasan usia perkawinan
yaitu undang-undang perkawinan No. 1 tahun 1974. Batasan usia tidak diatur
secara spesifik dalam Islam akan tetapi Islam mengatur batas kemampuan bagi
seorang yang akan melakukan pernikahan. Akan tetapi masih terdapat masyarakat
yang kurang memahami aspek kedewasan dan batasan usia karena pengaruh
lingkungan dan sosial di kalangan mereka sehingga pelaksanaan pernikahan di
bawah umur masih terjadi di kehidupan masyarakat hingga saat ini khususnya di
desa Bayalangu Kidul.
Dari deskripsi masalah tersebut yang menjadi pokok permasalahan dari
penelitian ini adalah bagaimana pelaksanaan nikah di bawah umur di desa
Bayalangu Kidul kec. Gegesik kab. Cirebon? Kemudian bagaimana tingkat
perceraian yang terjadi sebagai akibat dari pernikahan di bawah umur di desa
Bayalangu Kidul kec. Gegesik kab. Cirebon?. Tujuan dari penelitian ini untuk
mengetahui bagaimana pelaksanaan nikah di bawah umur di desa Bayalangu
Kidul kec. Gegesik kab. Cirebon dalam melangsungkan pernikahan di bawah
umur. Serta untuk mengetahui tingkat perceraian sebagai akibat dari nikah di
bawah umur di desa Bayalangu Kidul kec. Gegesik kab. Cirebon.
Penelitian ini merupakan penelitian lapangan dan metode yang digunakan
dalam penelitian ini yaitu pendekatan empirik dan yuridis, dianalisis secara
kualitatif dengan menggunakan metode deskriptif dan dianalisis dengan
menggunakan metode induktif.
Hasil dari penelitian ini menunjukan bahwa pelaksanaan nikah di bawah umur
di desa Bayalangu Kidul ditempuh dengan berbagai cara, antara lain: Mengajukan
dispensasi nikah ke pengadilan, melakukan manipulasi umur pasangan calon
pengantin dan melakukan cara nikah di bawah tangan. Adapun Penyebab
terjadinya pernikahan di bawah umur di desa Bayalangu Kidul 80% diakibatkan
karena hamil di luar nikah, sedangkan sisanya sebanyak 20% karena khawatir
timbulnya fitnah. Selain itu usia yang masih muda pada pasangan nikah di bawah
umur menyebabkan mereka kurang memahami hak dan kewajiban sebagai suami
dan isteri, sehingga dalam menjalani kehidupan rumah tangga sering mengalami
pertengkaran dan perselisihan yang mengakibatkan rumah tangganya tidak
harmonis. Akan tetapi angka perceraian yang terjadi terbilang cukup rendah, dari
15 pasangan yang menikah di bawah umur hanya 4 yang memutuskan bercerai.
Hal ini menunjukkan ketidakharmonisan pasangan nikah di bawah umur tidak
selalu berujung pada perceraian
Kepemimpinan Perempuan Dalam Konsep Negara Modern Perspektif Maqasid Al-Syariah: Studi Komparatif Pemikiran Yusuf Al-Qardhawi Dan Said Ramadhan Al-Buthi
Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji pemikiran Yusuf al-Qardhawi dan Said Ramadhan al-Buthi tentang hukum kepemimpinan publik seorang perempuan dalam konsep negara modern. Penelitian ini merupakan penelitian pustaka dengan pendekatan deskriptif-kualitatif. Adapun pisau analisis yang digunakan untuk menguji pendapat kedua tokoh tersebut adalah pendekatan Maqasid Shariah. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa Yusuf al-Qardhawi memiliki pendapat yang berbeda dengan Ramadhan al-Buthi. Al-Qardhawi dengan pertimbangan-pertimbangan maslahat membolehkan kepemimpinan perempuan namun al-Buthi masih terlihat hati-hati untuk mengatakan boleh. Bahkan al-Buthi memilih untuk tidak membedakan antara konsep negara modern dan negara khilafa
Rekonstruksi Makna Jihad di Era Modern: Telaah Muhammad Ramadhan Al-Buthy Atas Ayat-Ayat Jihad
Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui pendapat yang terjadi pada Muhammad Said Ramadhan Al-Buthy tentang konsep jihad. Jenis penelitian ini menggunakan penelitian pustaka (library pustaka), yang mana penulis mengumpulkan data dan informasi yang bersumber dari data kepustakaan seperti buku, jurnal maupun artikel yang mendukung penelitian ini. Sumber data primer yang digunakan yaitu buku Muhammad Sa’id Ramadhan Al-Buthy yang berjudul “Menjadi Mujahid Sejati“. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa jihad menurut Muhammad Sa’id Ramadhan Al-Buthy memiliki banyak bentuk seperti jihad menafkahkan harta, waktu dan mengajarkan ilmu pengetahuan dengan tujuan untuk menegakkan agama Islam dan menurut Muhammad Sa’id Ramadhan Al-Buthy jihad Qital bisa terjadi dalam rangka mempertahankan tanah air, rakyat, dan system pemerintahan. Simpulan jihad adalah upaya kolektif untuk mencapai hasil yang baik dengan mempromosikan Islam dengan mendidik dan membimbing para pengikutnya untuk memperoleh pengetahuan dan waktu untuk menyebarkan Islam.
Kata Kunci: Jihad, Muhammad Sa’id Ramadhan Al-Buthy
PERAN GANDA PEREMPUAN DALAM BUDAYA PATRIARKI DI INDONESIA MENGGUNAKAN ANALISIS SAID RAMADHAN AL-BUTHI
This paper aims to strengthen the opinion or concept of the dual role of a woman in the public and domestic spheres. This research uses normative descriptive research with juridical-empirical analysis. Based on the results of the study, the author will discuss the patriarchal culture in Indonesia and then examine it using the perspective of Said Ramadhan Al-Buthi. Regarding the dual role of women in the public and domestic spheres, it is a woman's choice. The existing regulations in fiqh, the Compilation of Islamic Law, and the Civil Code in general indicate that one of the obligations of a wife is to obey her husband. Therefore, it is important to have a husband's permission when his wife wants to increase her role in the public sphere. While the obligation to take care of the household is a shared responsibility. Al-Buthi explained that the division of roles in taking care of housework is a contract that must be discussed before marriage. If there is no contract, then customary law applies in that country.
Kontribusi Muhammad Said Ramadhan al-Buthy dalam Pemikiran Hukum Publik Islam
Hukum pidana Islam merupakan salah satu kajian dalam Islam yang mendapat perhatian besar dari para intelektual Muslim karena diklaim sedah tidak relevan dengan zaman. Al-Buthi salah satu tokoh yang mengkritik para pengkritik hukum pidana Islam. Tulisan ini akan mengupas pemikiran al-Buthi di bidang hukum pidana Islam. Al-Buthi menyimpulkan bahwa para pengkritik hukum pidana Islam terlalu simplifikatif dan dangkal. Karena hukum pidana Islam sejatinya mengakomodasi kepentingan korban tindak kriminalitas dan juga bertujuan menciptakan masyarakat yang kondusif dan produktif. Pada konteks ini, al-Buthi menegaskan bahwa pelaksanaan hukuman dalam pidana Islam dilakukan secara prosedural melalui pembuktian yang ketat. Selain itu, juga memperhatikan aspek lain, misalnya kondisi dan situasi dimana tindak pidana tersebut terjadi. Secara filosofis, hukuman dalam Islam harus mengandung dua unsur: ibrah dan zajr. Al-Buthi menilai hukuman dalam pidana Islam relevan dengan tujuan maqasid syariah untuk menciptakan masyarakat yang aman dan kondusif.
 
Dialektika konsep Maslahah Najmuddin Al-Thufi dan Sa'id Ramadhan al-Buthi: Studi analisis wacana kritis
ABSTRAK
Maslahah adalah tujuan dalam pembentukan hukum, Allah tidak menurunkan suatu hukum kecuali terdapat kebaikan di dalamnya. Pada tahap ini seluruh ulama’ sepakat bahwa orientasi produk hukum Islam adalah kemanfaatan, akan tetapi maslahah sebagai penggalian hukum terdapat dua ulama besar yang kontras. Pertama Najmuddin al-Thufi, ia berpendapat bahwa maslahah adalah tujuan sedangkan nash adalah alat, maslahah adalah dalil independen dari nash, jika terdapat pertentangan antara maslahah dan nash maka didahulukan maslahah. Kedua Said Ramdhan al-Buthi, maslahah adalah dalil dari beberapa dalil untuk menggali hukum Islam, ia bukan dalil yang independen sehingga maslahah tidak bisa dibuat hujjah, jika tidak dalam bayang-bayang nash. Penulis menggunakan pendekatan wacana kritis yang di bawa oleh Van Dijk untuk melihat perbedaan dan persamaan dari konsep maslahah Najmuddin al-Thufi dan Sa’id Ramdhan al-Buhti.
Dari perbedaan pendapat di atas penelitian ini berusaha mengungkap pemikiran Najmuddin al-Thufi dan Said Ramadhan al-Buthi tentang konsep maslahah dengan mengajukan tiga pertanyaan utama 1). Apa perbedaan dan persamaan konsep maslahah Najmuddin al-Thufi dan Said Ramadhan al-Buthi perpektif wacana kritis? 2). Apa yang melatar belakangi perbedaan konsep maslahah Najmuddin al-Thufi dan Said Ramadhan al-Buthi? 3). Bagaimana implementasi konsep maslahah Najmudin al-Thufi dan Said Ramadhan al-Buthi?
Hasilnya, Analisis wacana kritis sebagai sebuah pendekatan dapat dilihat dari dua tahap yaitu teks dan kognisi sosial untuk menjawab rumusan masalah pertama dan kedua, pada tahapan teks telihat pebedaan keduanya dalam menggunakan konsep maslahah yaitu al-Thufi memahami maslahah sebagai tujuan syariat serta mendahulukan maslahah dari pada nash sedangakan al-Buthi memandang maslahah sebagai alat untuk mewujudkan tujuan. persamaan konsep keduanya bisa dilihat dari epistemologi yang dibangun dari keduanya yaitu maslahah hanya bisa digunakan dalam bidang mu’amalah. Tahapan kognisi sosial terlihat perbedaaan konsep maslahah dari keduanya, yaitu dilatar belakangi oleh sosio keagamaan yang berbeda, sikap taqlid dan fanatisme mazhab menjadi ciri pada zaman al-Thufi, sehingga ia berusaha keluar dari hegemoni teks, akibatnya al-Thufi memberikan kebebasan akal. sedangkan masa al-Buthi ditandai dua keadaan yaitu berkembangnya pemikiran liberal dan radikal. Hal ini yang membuat al-Buthi meberikan counter terhadap kelompok liberal seperti al-Thufi. Implementasi konsep maslahah al-Thufi terlihat pada putusan konstitusi tehadap pasal 43 ayat 1 UU. No. 1 tahun 1974, yaitu status anak yang lahir di luar perkawinan mempunyai hubungan perdata kepada ibu dan bapaknya. Implementasi dari al-Buthi terlihat pada putusan mahkamah islam tinggi tahun 1953 tentang perintah pencatatan nikah dan dikenakan denda bagi yang tidak mendaftarkan nikah.
ABSTRACT
Maslahah is the goal in establishing law, Allah doesn’t establish a law unless there is good in it. At this stage, all scholars agree that the orientation of Islamic law products is expediency, but maslahah as a legal excavation has two major scholars who are in contrast. First, Najmuddin al-Thufi, he argues that the maslahah is the goal while the text is a tool, the maslahah is an independent argument from the text, if there is a conflict between the maslahah and the text then the maslahah takes precedence. Second, Said Ramdhan al-Buthi, maslahah is the argument from several arguments to explore Islamic law, it isn’t an independent argument so that maslahah can’t make proof, if it isn’t confirmed by texts. The author uses the critical discourse approach brought by Van Dijk to see the differences and similarities of the concept of maslahah Najmuddin al-Thufi and Sa'id Ramdhan al-Buhti.
With these differences of opinion, this study tries to reveal the thoughts of Najmuddin al-Thufi and Said Ramadhan al-Buthi about the concept of maslahah by asking three main questions. 1). What are the differences and similarities between the concepts of maslahah Najmuddin al-Thufi and Said Ramadhan al-Buthi citical discours analysis pespektive? 2). What lies behind the difference in the concept of maslahah by Najmuddin al-Thufi and Said Ramadhan al-Buthi citical discours analysis pespektive? 3). How is the implementation of the maslahah concept of Najmudin al-Thufi and Said Ramadhan al-Buthi?
As a result, critical discourse analysis as an approach can see from two stages, namely text and social cognition to answer the first and second problem formulations. At the text stage, there are a difference between the two in using the concept of maslahah, that is, al-Thufi understands maslahah as the aim of the Shari'a and prioritizes maslahah over texts, while al-Buthi sees maslahah as a tool to realize the goal, namely maslahah itself. The similarity of the two concepts can see from the epistemology built from both, namely maslahah can only be used in the field of mu'amalah. The stages of social cognition show the difference in the concept of maslahah from the two, that is, against a different socio-religious background, the attitude of taqlid and school of fanaticism characterized al-Thufi's time, so that he tried to get out of text hegemony, as a result al-Thufi gave freedom to reason. Meanwhile, al-Buthi's period was marking by two conditions, namely the development of liberal and radical thinking. This is what makes al-Buthi give a counter to liberal groups like al-Thufi. The implementation of the maslahah al-Thufi concept can see in the constitutional decision on article 43 paragraph 1 of the law. No. 1 of 1974, namely the status of children born out of wedlock have civil relations with their mothers and fathers. The implementation of al-Buthi can see in the decision of the high Islamic courty in 1953 regarding orders to register married and imposed fines for those who didn’t register married.
مستخلص البحث
مصلحة هي الهدف الأسمى في التشريع، فالله لا ينزل قانونًا إلا إذا كان فيه صلاح. فيتفق جميع العلماء على أن الهدف من الأحكام هو الاستفادة والمنفعة، ولكن هناك تناقض بين اثنين من العلماء الكبار في فهم المصلحة. أولًا، يعتقد نجم الدين الطوفي بأن المصلحة هي الهدف مع أنّ النص هو الوسيلة. وأن المصلحة هي حجة مستقلة عن النص. حتّى إذا حدث تعارض بين المصلحة والنص فإن المصلحة هي الأولى أن يؤخذ. ثانيًا، يعتبر سعيد رمضان البوطي بأنّ المصلحة حجة من حجج شرعية. وهي ليست حجة مستقلة، بحيث لا يمكن استخدام المصلحة كحجة إذا لم يكن بينها وبين النصّ صلة. يستخدم الكاتب نهج الخطاب النقدي الذي أحضره فان دايك لاستكشاف الاختلافات والتشابهات في مفهوم المصلحة بين نجم الدين الطوفي وسعيد رمضان البوطي.
ومن خلال الاختلافات المذكورة، يحاول هذا البحث على كشف أفكار نجم الدين الطوفي وسعيد رمضان البوطي حول مفهوم المصلحة من خلال طرح ثلاثة أسئلة رئيسية: 1) ما هي الاختلافات والمساواة في مفهوم المصلحة بين نجم الدين الطوفي وسعيد رمضان البوطي من وجهة نظر التحليل النقدي؟ 2) ما هو الخلف الذي يقف وراء الاختلاف في مفهوم المصلحة بين نجم الدين الطوفي وسعيد رمضان البوطي؟ 3) كيف تنفيذ مفهوم المصلحة لنجم الدين الطوفي وسعيد رمضان البوطي؟
يرى هذا البحث أنّ إمكان رؤية التحليل النقدي يتكون من مرحلتين، وهما النص والوعي الاجتماعي . في جهة النص، تظهر الاختلافات بينهما في استخدام مفهوم المصلحة. حيث يفهم الطوفي المصلحة كمقصد الشريعة ويقدّم المصلحة على النص. بينما ينظر البوطي إلى المصلحة كوسيلة لتحقيق هذا المقصد التشريعي. وأمّا المساواة في مفهوم المصلحة بينهما أنّ تطبيق المصلحة في مجال المعاملات المالية والاقتصادية ممكن. ويظهر في مرحلة الوعي الاجتماعي الاختلاف في مفهوم المصلحة بينهما، حيث يتم تأثيره بالخلفية الاجتماعية والدينية المختلفة. وتصبح التقليد والتعصب للمذهب سمة لعصر الطوفي. وبالتالي يحاول الطوفي الخروج من تقييد النص، مما يؤدي إلى حرية التصرف العقلي. أما في عصر البوطي، يتميز بتطور الفكر الليبرالي والراديكالي، وهذا ما يجعل البوطي يقدم ردًا على الفرقة الليبرالية مثل الطوفي. تطبيق المصلحة عند الطوفي ظهر في قرار المحكمة الدستورية الإندونيسية في المادة 43 آية 1 من القانون رقم 1 لعام 1974، حيث يتم منح الأطفال الذين ولدوا خارج الزواج حقوقًا قانونية تجاه والدتهم وأبائهم. ويمكن رؤية تنفيذ المفهوم للبوطي في قرار المحكمة الإسلامية العليا في عام 1953 بشأن أمر تسجيل الزواج وفرض غرامة على من لا يسجل الزواج
Konstruksi interpretasi Q.S. Al Ahzab ayat 59 menurut Syaikh Ramadhan Bouthi dan Dr. Yusuf Qardhawi
ABSTRAK
Penelitian ini muncul dari adanya anggapan berbeda mengenai surah al Ahzab ayat 59. Namun, tidak sedikit juga yang memiliki pendapat yang sama mengenai surah al Ahzab ayat 59 seperti pendapat dari Syaikh Ramadhan Bouthi dan Dr. Yusuf Qardhawi. Di mana keduanya sepakat dengan para ulama yang menyatakan hanya wajah dan kedua telapak tangan saja yang wajib ditutupi oleh wanita muslimah. Maka dari itu, dari pendapat yang sama mengenai surah tersebut muncullah rumusan masalah sebagai berikut: 1) Bagaimana konstruksi Syaikh Ramadhan Bouthi dan Dr. Yusuf Qardhawi mengenai surah al Ahzab ayat 59, 2) Bagaimana persamaan dan perbedaan pendapat mengenai Syaikh Ramadhan Bouthi dan Dr. Yusuf Qardhawi mengenai surah al Ahzab ayat 59.
Penulis menggunakan jenis penelitian library research dengan pendekatan tafsir dengan corak Tahlili dan Muqarran atau bisa disebut Analitis dan Komparatif. Di mana metode Analitis digunakan untuk menguraikan beberapa komponen yang ada dalam penafsiran yaitu, Bunyi dan Makna ayat, Asbabun Nuzul, Munasabah ayat, Pendapat para tokoh serta Biografi dari tokoh yang sedang dikaji. Sedangkan metode Komparatif digunakan untuk membandingkan pendapat dari kedua tokoh dengan cara menghimpun ayat, melacak pendapat para ulama dan membandingkan pendapat tersebut.
Dari penelitian yang penulis lakukan, penulis dapat menyimpulkan kajian tersebut menjadi dua hal. Pertama, Syaikh Bouthi mengatakan bahwasanya selain wajah dan telapak tangan wajib ditutupi dan itu merupakan kesepakatan para ulama (ijma’), sedangkan Qardhawi berpendapat bahwa jilbab yang digunakan wanita muslimah minimal menutupi hingga dada saja. Kedua, Persamaan pendapat tersebut timbul karena keduanya menjadikan Q.S. al Ahzab ayat 59 sebagai salah satu landasan penentuan aurat wanita muslimah. Tidak hanya itu saja, keduanya juga memperkuat pendapatnya dengan dalil-dalil lain yang mendukung disertai pendapat ulama lainnya. Sedangkan, perbedaan dari kedua ulama’ tersebut terdapat pada tiga pokok yaitu, Syaikh Bouthi mengatakan wanita muslimah tidak boleh membuka aurat dihadapan orang yang dikecualikan, wanita muslimah tidak diperbolehkan membuka wajah dan kedua telapak tangan di depan orang yang memandangnya dengan nafsu birahi dan boleh membuka wajah jika menempuh pendidikan, berobat, muamalah dan menjadi saksi. Sementara Dr. Yusuf Qardhawi mengatakan bahwa membuka wajah bukan berarti memoles wajah dengan berbagai macam bedak dan parfum, wanita tidak dilarang menutup wajah serta tidak ada kaitan antara membuka wajah dan kebolehan melihatnya.
ABSTRACT
This research arose from the existence of different assumptions about surah al Ahzab verse 59. However, not a few also have the same opinion about surah al Ahzab verse 59 as the opinion of Shaykh Ramadhan Buthi and Dr. Yusuf Qardawi. Where both agree with the scholars who state that only the face and the palms of the hands must be covered by Muslim women. Therefore, from the same opinion regarding the surah, the following formulation of the problem emerged: 1) How was the construction of Shaykh Ramadhan Bouthi and Dr. Yusuf Qardhawi regarding surah al Ahzab verse 59, 2) What are the similarities and differences of opinion regarding Shaykh Ramadhan Buthi and Dr. Yusuf Qardhawi regarding surah al Ahzab verse 59.
The author uses a type of library research with an interpretation approach with Tahlili and Muqaran patterns or can be called Analytical and Comparative. Where the analytical method is used to describe several components that exist in the interpretation, namely, the sound and meaning of the verse, Asbabun Nuzul, Munasabah verse, the opinions of the characters and the biography of the character being studied. While the comparative method is used to compare the opinions of the two figures by collecting verses, tracking the opinions of the scholars and comparing these opinions.
From the research that the author did, the author can conclude the study into two things. First, Shaykh Buthi said that apart from the face and palms, it is obligatory to cover it and that is the consensus of the scholars (ijma'), while Qardhawi is of the opinion that the hijab worn by Muslim women should cover at least the chest. Second, the similarity of opinion arises because both of them make QS al Ahzab verse 59 as one of the foundations for determining the genitalia of Muslim women. Not only that, the two of them also strengthened their opinion with other supporting arguments accompanied by the opinions of other scholars. Meanwhile, the differences between the two scholars' are on three points, namely, Shaykh Buthi said Muslim women should not open their genitals in front of excluded people, Muslim women are not allowed to open their faces and both palms in front of people who look at them with lust and may open their faces. if you take education, seek treatment, muamalah and become a witness. While Dr. Yusuf Qardhawi said that opening the face does not mean polishing the face with various kinds of powder and perfume, women are not prohibited from covering their faces and there is no connection between opening their faces and being able to see them.
مستلخص البخث
نشأ هذا البحث من وجود افتراضات مختلفة حول سورة الأحزاب الآية 59. ومع ذلك ، ليس هناك قلة لديهم نفس الرأي حول سورة الأحزاب الآية 59 كما رأي الشيخ رمضان بوثي ود. يوسف القرضاوي. حيث يتفق كلاهما مع العلماء الذين يصرحون بأن الوجه والكفين فقط يجب أن تغطيه المرأة المسلمة. لذلك ومن نفس الرأي بخصوص السورة ظهرت الصيغة التالية للمشكلة: 1) كيف كان بناء الشيخ رمضان البوثي ود. يوسف القرضاوي في سورة الأحزاب الآية 59 ، 2) ما أوجه الشبه والاختلاف في الرأي حول الشيخ رمضان بوثي ود. يوسف قرداوي بخصوص سورة الأحزاب ، الآية 59.
يستخدم المؤلف نوعًا من البحث البحثي في المكتبات مع منهج تفسير بنمطي التحليلي والمقرن أو يمكن تسميته تحليليًا ومقارنًا. حيث تم استخدام المنهج التحليلي لوصف عدة مكونات موجودة في التفسير وهي: صوت الآية ومعناها ، وأصبابون نزل ، وآية المناصب ، وآراء الشخصيات ، وسيرة الشخصية محل الدراسة. بينما تستخدم طريقة المقارنة لمقارنة آراء الشخصين من خلال جمع الآيات وتتبع آراء العلماء ومقارنة الآراء.
من البحث الذي قام به المؤلف ، يمكن للمؤلف أن يختتم الدراسة إلى شيئين. أولاً : قال الشيخ البطحي أنه فيما عدا الوجه والنخيل يجب ستره ، وهذا إجماع العلماء،بينمايرى القرداوي أن حجاب المرأة المسلمة يجب أن يغطي على الأقل الحجاب. صدر. ثانيًا ، يظهر التشابه في الرأي لأن كليهما جعل من سورة الأحزاب الآية 59 من أسس تحديد الأعضاء التناسلية للمرأة المسلمة. وليس ذلك فحسب ، بل عزز الاثنان رأيهما بالحجج الداعمة الأخرى المصحوبة بآراء علماء آخرين. في حين أن الخلاف بين العالمين ينحصر في ثلاث نقاط ، وهي أن الشيخ بطحي قال إن المرأة المسلمة يجب ألا تفتح أعضائها التناسلية أمام المستبعدين ، ولا يسمح للمرأة المسلمة بفتح وجهها وكفيها أمام من ينظر. عليهم بشهوة وقد تفتح وجوههم.إذا تلقيت التعليم ، فاطلب العلاج ، واعمل على أن تصبح شاهداً. بينما قال د. وقال يوسف القرضاوي إن فتح الوجه لا يعني تلميع الوجه بمختلف أنواع البودرة والعطور ، فليس ممنوعا على المرأة من تغطية وجهها ولا علاقة بين فتح الوجه والقدرة على رؤيتها
Madrasah dan Jenjang Karir di Negara Usmani pada Masa Klasik (1300-1600)
This article focuses on history of education in Muslim world in from fourteenth until seventeenth centiuries in Ottoman state. As the most important Muslim state in the world during classical period (1300-1600), Ottoman state became the role model of education system for Muslims. Influenced by Seljuk Anatolia state, Ottoman built education through medrese system controlled by state. The system supported the state to design career development for its subject. In addition to devşirme system, medrese system provided large opportunity for its subject to obtain career as teacher and professor (müderris), judge (kadı), and bureaucrat (kalemiye). Research method in this article are qualitative and bibliographical research. Author examines historical reseources to analyze research problem. The aim of research is to observe and analyze relationship between education system and career development in Ottoman state. According to this research, author concludes that medrese system in Ottoman state provided opportunity for its subject to participate in social mobility thorugh its career in government circle
