197 research outputs found

    Sadriddin Aini: Author, Scholar and Journalist

    No full text
    Biography of Sadriddin Aini, a key intellectual and cultural figure in Tajikistan

    TUGAS DAN TANGGUNG JAWAB WAITER/SS DI RESTORAN WHITE HOUSE SURABAYA

    Full text link
    The purpose of writing this final project is to find out the duties and responsibilities of the waiter/ss at the White House Surabaya restaurant. The author made observations at the White House restaurant to make observations on the duties and responsibilities of the waiter/ss. At the White House Jl. Sulawesi No. 61 Gubeng Surabaya. The author can conclude that from the discussion in the previous chapter the duties and responsibilities of the waiter/ss include duties when the restaurant opens until the restaurant closes

    REFLEKSI FEMINISME DALAM NOVEL GURU AINI KARYA ANDREA HIRATA

    No full text
    Discussions about gender equality and feminism are always interesting topic to discuss. This phenomenon of gender imbalance or inequality often occurs in social life. Women receive subordinate treatment compared to men. Often the discriminatory treatment is raised through various literary works, such as novels. This research will discuss about the issue of feminism raised by a well-known author in Indonesia, Andrea Hirata, in her latest novel entitled Guru Aini. The research design is using qualitative descriptive

    NILAI KEARIFAN LOKAL UPACARA ADAT URI-URI RUWAT SUMBER PERTIRTAAN CANDI JOLOTUNDO DESA SELOLIMAN KECAMATAN TRAWAS KABUPATEN MOJOKERTO

    No full text
    ABSTRAKPenelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan: asal mula upacara uri-uri ruwat sumber pertirtaan Candi Jolotundo, pelaksanaan upacara uri-uri ruwat sumber pertirtaan Candi Jolotundo, nilai-nilai kearifan lokal apa saja yang terkandung dalam upacara uri-uri ruwat sumber pertirtaan Candi Jolotundo, upaya melestarikan upacara uri-uri ruwat sumber pertirtaan Candi Jolotundo. Jenis penelitian yang digunakan deskriptif kualitatif, dengan pendekatan kualitatif. Hasil dari penelitian menunjukkan bahwa (1) Asal mula upacara uri-uri ruwat sumber pertirtaan Candi Jolotundo meliputi pengetahuan, sikap, pola prilaku yang merupakan kebiasaan yang dimiliki dan diwariskan oleh anggota masyarakat. Tujuan dari upacara tersebut agar kehidupannya menjadi lebih baik dari sebelumnya terhindar dari segala rintangan, penyakit dan balak termasuk agar terhindar dari sumber-sumber mampet ataupun kekeringan (2) Pelaksanaan upacara uri-uri ruwat sumber pertirtaan Candi Jolotundo  meliputi 3 tahapan yaitu: persiapan, pelaksanaan, dan penutupan (3) Nilai-nilai yang terkandung dalam upacara uri-uri ruwat sumber pertirtaan Candi Jolotundo meliputi nilai luhur pelestarian adat dan budaya, nilai keagamaan atau religius, nilai pelestarian alam, nilai kebersamaan, nilai  gotong royong, nilai sosial, nilai tanggung jawab (4) Upacara adat uri-uri pertirtaan Candi Jolotundo dilakukan oleh masyarakat dan pemerintah desa saja dimana upaya tersebut meliputi pelestarian dari Dusun Biting Desa Seloliman, pelestarian dari pengelola pertirtaan Candi Jolotundo, dan pelestarian dari pemerintah Desa Seloliman serta menjadikan Jolotundo sebagai wisata religi.Kata  kunci:  Pelaksanaan, Upacara, Nilai, Pelestarian, Kebudayaa

    Nilai Estetika Yang Terkandung Dalam Lagu Marhaban Ya Nurul Aini Di Desa Bencah Kelubi Kecamatan Tapung Kabupaten Kampar Provinsi Riau

    Full text link
    The title of this research is "Aesthetic Value Contained in the Marhaban Ya Nurul Aini Song in Bencah Kelubi Village, Tapung District, Kampar Regency, Riau Province", the research objective discussed in this study is to see the Aesthetic Value Contained in the Marhaban Ya Nurul Aini song in the village. Disaster Kelubi, Tapung District, Kampar Regency, Riau Province. The theory used is the theory of Jakob Sumardjo (2000: 142) which discusses aesthetic values which are divided into two values, namely intrinsic value and extrinsic value. The method used in this research is descriptive analysis research method using qualitative methods, which are the subjects in this study, namely the chairman of the Al-Berkah tambourine group, namely Helvi Desra and several members of the Al-Berkah tambourine group Nurlaila and Yuni, lovers of the song Marhaban Ya Nurul Aini, namely Nelamani and Dahyuli, along with the singer outside the Al-Berkah tambourine group, Mr. Khabil, the village head bencah kelubi Mr, Yuasmar. The data techniques used in this study were observation, interviews, and documentation. From the results of the research that the author has done on the aesthetic value of the Marhaban Ya Nurul Aini song, that the aesthetic value of the Marhaban Ya Nurul Aini song can be seen from the first, namely its intrinsic value or tangible value with its extrinsic value, namely supporting value or can be called value proponents of intrinsic value. This tangible value can be seen from the musical instruments or musical instruments used, such as bass 1,bass 2,bass 3, rhythm 1, rhytim 2, ketipung 1,ketipung 2, ketipung 3 and tambourine. Furthermore, this implementation is usually adjusted to the tambourine group invited by the community who hold events such as circumcision events, weddings, and offerings name of the child or take a bath. Furthermore, the extrinsic value can be seen from the meaning of the song Marhaban Ya Nurul Aini, the message of the Marhaban Ya Nurul Aini song and the value of life contained in the song Marhaban Ya Nurul Aini, which can make an impression on everyone who witnesses the song Marhaban Ya Nurul Aini

    Implementasi Teori Belajar Humanistik sebagai Hukum Dasar dalam Pembelajaran Pendidikan Kewarganegaraan

    No full text
    Implementasi Teori Belajar Humanistik sebagai Hukum Dasar dalam Pembelajaran Pendidikan KewarganegaraanAini Magfiroh Hukum dan Kewarganegaraan Fakultas Ilmu Sosial Universitas Negeri Malang Abstrak : Teori belajar humanistik ialah proses belajar harus berawal pada manusia (individu) itu sendiri. Tujuan utama teori humanistik ialah membantu peserta didik untuk mengembangkan dirinya, agar individu lebih mengenal diri mereka sendiri untuk menemukan bakatnya. Dalam hal ini teori ini dianggap berhasil apabila peserta didik memahami lingkungan sekitarnya serta dirinya sendiri. Teori belajar humanisik jika dihubungkan dengan mata pelajaran PKn memiliki hukum dasar yang bertujuan untuk memanusiakan manusia. Implementasi hukum dasar humanistik menurut pandangan Hamacheek adalah menghormati, menghargai dan menerima peserta didik apa adanya. Selain itu dalam pendidikan PKn ini mengutamakan pada pembentukan karakter warga negara yang baik. Sesuai dengan nilai-nilai pancasila dan UUD 1945. Dalam hal ini terdapat tiga pilar kunci utama dalam pembekalan pesrta didik yakni : pengetahuan, ketrampilan dan karakter warga negara yang baik.            Kata kunci : Teori Humanistik, Hukum Dasar, Implementasi dalam PKn. Pendahuluan Implementasi humanistik dalam dunia pendidikan menekankan pada perkembangan hal yang positif. pendekatan humanistik yang memfokuskan diri pada hasil afektif, belajar tentang cara bagaimana belajar yang baik, manfaat belajar dalam humanistik ialah untuk mengembangkan potensi dan kreativitas untuk mencari serta menemukan kemampuan yang mereka miliki.  Hal ini mencakup kemampuan seseorang dalam menjadi pribadi/individu sosial dan untuk pengembangan potensi diri dalam kehidupan bermasyarakat, berbangsa, dan bernegara. Dalam teori belajar humanistik, belajar dianggap berhasil jika peserta didik dapat memahami lingkungan sekitar serta dirinya. Peserta didik dalam berproses belajar harus berusaha, agar cepat atau lambat peserta didik  memperoleh manfaat yang sebaik-baiknya. Hukum dasar humanistik melihat pemeran utama terdapat pada pelaku, bukan pengamat. Oleh karna itu, menimbulkan indikator utama dalam hukum dasar humanistik yaitu yang diamati ialah prilaku dari manusia.Melihat hasil penelitian Carl Rogers (1969,1983) ia berpendapat bahwa pendekatan dalam pendidikan sebaiknya membuat belajar dan mengajar lebih manusiawi, lebih bersifat personal, dan bermakna. Agar hal tersebut dapat terealisasikan dengan baik maka sebagai pendidik harus memahami unsur-unsur humanistik. Walau banyak pendidik yang dapat menerapakan hal tersebut, namun masih banyak yang menyepelehkan mata pelajaran PKn.PKn ialah mata pelajaran sebagai sarana pengembangan nilai-nilai budaya indonesia yang terdapat pada pancasila yang dapat diterapkan pada kehidupan sehari-hari, berbangsa maupun bernegara, baik individu dengan individu, individu dengan kelompok, individu dengan yang maha kuasa. Dalam pembelajaran PKn memiliki tujuan sebagai pembekalan peserta didik dengan budi pekerti yang baik, pengetahuan serta bela negara yang suatu saat dapat diandalkan oleh bangsa dan negara. Maka, diperlukanlah proses pembentukan karakter yang baik agar dapat mengembangkan SDM yang berkualitas baik, demokratis dan bertanggung jawab. Oleh karenanya, PKn merupakan usaha untuk sadar, yang sudah terancang melalui pendidikan umum untuk membentuk nilai-nilai yang ada pada pancasila. Dalam membentuk nilai-nilai dalam pancasila peserta didik tidak hanya mengamalkan dalam kehidupan sehari-hari namun peserta didik harus menjiwai  nilai-nilai pancasila. Hal ini dilakukan agar menumbuhkan jiwa rasionalisme mengenai pancasila sehingga memiliki nilai moral yang baik.Tiga pilar dalam PKn yang harus dimiliki oleh peserta didik yaitu : pengetahuan tentang kewarganegaraan , ketrampilan tentang kewarganegaraan, dan sikap tentang kewarganegaraan. Ada pula manfaat menggunakan pendekatan humanistik dalam pembelajaran PKn ialah memberi kesempatan pada pesertadidik agar dapat menerima pelajaran dengan baik dan mudah untuk dikembangkan.  PembahasanPengertian HumanistikTeori belajar humanistik ialah proses belajar harus berawal pada manusia (individu) itu sendiri. pendekatan humanistik memfokuskan pada hasil afektif yang lebih mengutamakan betapa pentingnya isi dari proses belajar. Tujuan utama para pendidik adalah membantu peserta didik untuk mengembangkan dirinya, maksudnya ialah membantu individu untuk mengenal diri mereka sendiri guna membantu menemukan bakat dan mewujudkan melalui potensi-potensi yang ada dalam diri tiap individuPada teori humanistik memiliki tujuan yang mulia yaitu untuk “memanusiakan manusia” dalam hal ini teori ini dianggap berhasil apabila peserta didik memahami lingkungan sekitarnya serta dirinya sendiri. Untuk mencapai keberhasilan yang sempurna tidak diperoleh peserta didik secara instan namun mengutamakan proses yang lambat laun peserta didik akan memperoleh hasil yang sempurna. Teori humanistik melihat bahwa proses belajar yang berusaha memahami sudut pandang pelaku bukan pengamat.Maka, teori belajar humanistik merupakan teori belajar dan pembelajaran yang mengutamakan memanusiakan manusia serta diharapkan mampu untuk mengembangkan potensi diri. Dalam teori humanistik terdapat hukum dasar. Hukum dasar ini memiliki makna bahwa belajar bertujuan untuk memanusiakan manusia. Berikut hukum dasar dalam teori humanistik :a. Hukum dasar humanistik mementingkan proses belajar dari individu itu sendiri. Hukum dasar humanistik ini menjelaskan mengenai konsep pendidikan untuk membentuk manusia yang dicita-citakan. Artinya hukum dasar lebih menekankan pemahaman tentang proses belajar yang apa adanya.b. Humanistik mengatakan bahwa martabat dan nilai-nilai kemanusiaan ialah yang tertinggi dan sebagai salah satu cara untuk menyatakan diri. Teori ini menentang rasa tidak percaya diri. Teori ini mengatakan bahwa manusia memiliki potensi untuk berkembang dengan baik. Dalam pendidikanteori ini menekankan pendidikan yang utama dan paling utama ialah bagaimana berinteraksi untuk menjalin hubungan (komunikasi) yang baik dengan individu, kelompok dan masyarakat. c. Hukum dasar humanistik jika dalam pendidikan yaitu mengembangkan aspek individu secara fisik, kecerdasan, emosi dan sosial yang berpengaruh pada proses interaksi serta motovasi dalam belajar. Teori ini melihat bahwa tiap individu memiliki kekanyakan berupa potensi-potensi yang harus dikembangkan. Oleh karenanya, teori humanistik lebih manusiawi dalam mempelajari masalah kemanusiaan. Ciri-ciri HumanistikCiri-ciri humanistik menurut pandangan Hamacheek ialah :1. Pendidik mampu menghormati, menghargai dan menerima peserta didik apa adanya. 2. Pendidik harus mampu menciptakan lingkungan kelas yang kondusif untuk melakukan proses belajar mengajar.Implementasi Hukum Dasar HumanistikImplementasi hukum dasar humanistik menurut pandangan Hamacheek dalam menghormati, menghargai dan menerima peserta didik apa adanya ialah : 1. Menghormati peserta didik sebagai suatu upaya yang dapat dilakukan oleh pendidik dalam menghormati dan menghargai yang dilakukan oleh peserta didik untuk keperluan peserta didik dengan kata lain dalam memenuhi hak agar saling menghormati. Menghargai peserta didik merupakan upaya pendidik untuk memberikan gambaran pada apa yang dilakukan peserta didik melalui penghargaan. Dengan kata lain, menerima peserta didik apa adanya ialah  pendidik harus mampu menerima keberagaman SARA dari peserta didik, pendidik harus bisa menerima kelebihan dan kekurangan yang dimiliki dalam proses belajar dan pembelajaran.2. Menciptakan lingkungan kelas yang kondusif dalam proses belajar mengajar untuk keberhasilan proses belajar yang tentram, aman dan nyaman dalam proses pembelajaran. Hal ini dilakuakan sebagai agar peserta didik mendapat hak pembelajaran yang baik untuk mengembangkan kreatifitas.  Pengertian Mata Pelajaran PKn Pendidikan Kewarganegaraan ialah pendidikan yang menggali serta berbicara mengenai pemerintahan, konstitusi, lembaga-lembaga demokrasi, HAM,  serta hak dan kewajiban dalam proses demokrasi.Pada Pasal 37 ayat (1) dinyatakan bahwa PKn ialah salah satu pelajaran wajib dalam kurikulum pendidikan dasar dan pendidikan menengah serta perguruan tinggi. Sedangkan pada pasal 39 UU No 20 Tahun 2003 menegaskan bahwa PKn ialah sebagai langkah untuk pembekalan serta menebengi peserta didik dengan ilmu pengetahuan mengenai bela negara agar nantinya dapat menjadi warga negara yang baik. Jadi, dalam pendidikan PKn ini mengutamakan pada pembentukan karakter warga negara yang baik. Disebut warga negara yang baik apabila mampu memahami serta melaksanakan hak dan kewajibanya secara baik, cerdas, terampil dan berkarakter nilai-nilai pancasila dan UUD 1945. Dalam hal ini terdapat tiga pilar kunci utama dalam pembekalan pesrta didik yakni : pengetahuan, ketrampilan dan karakter warga negara yang baik.            Tujuan Mata Pelajaran PKnDalam Mata Pelajaran PKn terdapat Tujuan diantaranya sebagai berikut:1. Peserta didik maupun warga negara diharapkan mampu untuk berfikir kritis, rasional bedasar logika serta kreatif untuk menghadapi isu kenegaraan atau kewarganegaraan.2. Peserta didik maupun warga negara dapat berperan aktif dan bertanggung jawab serta mampu bertindak cerdas dalam kegiatan berbangsa dan bernegara yang baik. Dalam hal in dibutuhkan partisipasi sebagai warga negara yang baik.3. Mampu berkembang dengan baik untuk membentuk negara demokrasi dengan pribadi karakter yang pancasilais. Serta dapat berinteraksi dengan baik.Implementasi Hukum Dasar Humanistik dalam PKn Implementasi hukum dasar humanistik ialah pendidik harus mampu memperlakukan peserta didik sebagai individu yang memiliki hak dan kewajiban yang harus terpenuhi, dengan kata lain mampu memanusiakan manusia. Pendidik harus membantu menggali potensi-potensi yang harus dikembangkan oleh peserta didik dengan maksimal. Selanjutnya pendidik harus menerima serta menghargai pencapaian peserta didik dalam proses belajar, dengan kata lain dapat menerima peserta didik apa adanya. Implementasi humanistik cenderung memfokuskan peserta didik untuk berfikir kritis secara induktif serta, mementingkan pengalaman individu dalam proses belajar. Disini peserta didik sebagai pemeran utama dalam mengartikan proses pengalaman dalam belajrnya sendiri. Peserta didik sebagai manusia (makhluk individu) memiliki kebutuhan yang harus terpenuhi misalnya saja dalam memahami potensi diri. Dalam hal ini diharapkan peserta didik dapar mengmbangkan potensi dirinya secara positif serta mengurangi potensi yang bersifat negatif dengan berpedoman pada nilai-nilai pancasila yang terkandung dalam mata pelajaran PKn. Oleh karenanya pembelajaran yang baik ialah yang mengutamakan proses dalam belajar dari pada hasil belajarnya.   Langkah Implementasi Hukum Dasar Humanistik dalam PKn langkah-langkahnya sebagai berikut:1. Pendidik harus menghormati dan menghargai hasil kerja peserta didik dalam proses pembelajarn PKn. 2. Pendidik harus menghargai hasil kerja peserta didik misalnya denga memberikan penghargaan kepada peserta didik karna apa yang telah ia lakukan. Penghargaan ini tidak selalu berupa piala dan hadiah namun bisa berupa pujian untuk memotivasi peserta didik dalam pembelajaran PKn.3. Pendidik harus mampu menerima peserta didik apa adanya manakala terdapat perbedaan unsur SARA pendidi harus bisa menerima itu baik kelemahan maupun kelebihan peserta didik dalam proses pembelajaran PKn.4. Pendidik harus mampu menciptakan suasana kelas yang kondusif yang tenang dan nyaman dalam proses pembelajaran PKn.   Daftar PustakaDr.C.Budiningsih, Asri. 2005. Belajar dan Pembelajaran. Jakarta: PT Rineka Cipta Hadis, Abdul.  2006.  Psikologi Dalam Pendidikan.  Bandung:  Alfabet

    Studi analisis ketentuan Kompilasi Hukum Islam pasal 102 tentang batas waktu suami mengingkari anak dalam li’an

    No full text
    Menurut istilah syara’, li’an berarti sumpah seorang suami di muka hakim bahwa ia benar tentang sesuatu yang dituduhkan kepada istrinya perihal perbuatan zina. Jadi, suami menuduh istrinya berbuat zina dengan tidak mengemukakan saksi, kemudian keduanya bersumpah atas tuduhan tersebut. Tuduhan itu dapat ditangkis oleh istri dengan jalan bersumpah pula bahwa apa yang dituduhkan suami atas dirinya adalah dusta belaka. Dalam Kompilasi Hukum Islam dijelaskan pasal 102 bahwa, Suami yang akan mengingkari anak yang lahir dari istrinya, mengajukan gugatan kepada Pengadilan Agama dalam jangka waktu 180 hari sesudah hari lahirnya atau 360 hari sesudah putusnya perkawinan atau setelah suami itu mengetahui bahwa istrinya melahirkan anak dan berada di tempat yang memungkinkan dia mengajukan perkaranya kepada Pengadilan Agama. Dan Pengingkaran yang diajukan sesudah lampau waktu tersebut tidak dapat diterima. Fuqaha berbeda pendapat mengenai masalah ini, ada yang menyebutkan bahwa waktu untuk mengingkari anak yaitu saat istri mengandung anak itu dan ada pula yang berpendapat bahwa pengingkaran anak dilakukan saat anak itu lahir. Dalam KUH Perdata merinci dengan detail waktu pengingkaran anak yang berbeda dengan pendapat fuqaha dan ketentuan KHI. Adapun permasalahan yang akan dibahas penulis yaitu bagaimana ketentuan KHI pasal 102 tentang batas waktu suami mengingkari anak dalam kasus li’an dan bagaimana pandangan hukum Islam mengenai batas waktu suami mengingkari anak. Skripsi ini merupakan jenis penelitian doktrinal, sumber data penelitian ini adalah sumber data sekunder yang terdiri dari data primer dan sekunder. Adapun analisis yang digunakan penulis dalam penelitian ini adalah metode deskriptif analisis. Dalam analisis ini hasilnya yaitu ketentuan kompilasi hukum Islam pasal 102 belum sesuai dengan pendapat fuqaha yang berlandaskan hadist, dimana waktu pengingkaran anak harus segera dilakukan saat istri hamil atau saat anak itu dilahirkan. Hukum perdata hampir sama ketentuan fuqaha dimana suami hanya diberi waktu 1 bulan untuk mengingkari anak yang dilahirkan istri. Hasil dari penelitan menunjukkan bahwa ketentuan kompilasi hukum Islam pasal 102 yaitu adanya jeda waktu yang panjang dalam batas waktu suam mengingkari anak sehingga dapat dikatakan pasal 102 KHI tidak memberi ketegasan waktu suami mengajukan gugatan pengingkaran anak ke Pengadilan Agama dan pasal 102 KHI tidaklah sesuai dengan pendapat Imam Madzhab yang dianut umat Islam di Indonesia karena dalam pendapat Imam Madzhab menyatakan bahwa pengingkaran anak harus segera dilakukan sementara ketentuan KHI pasal 102 memberikan jeda waktu yang sangat panjang dalam pengajuan gugatan pengingkaran anak

    ANALISIS KONTRASTIF ONOMATOPE BAHASA JEPANG DAN BAHASA JAWA

    Full text link
    ABSTRACT Supangat, Nur Aini Satyani Putri. "Contrastive Analysis of Onomatopoeia in Japanese and Javanese". Thesis Department of Japanese Studies Faculty of Humanities. Diponegoro University. The First Advisor Dra. Sri Puji Astuti, M. Pd. Second Advisor Elizabeth IHANR, S.S., M. Hum. In writing this essay the author discusses the 'Contrastive Analysis of Onomatopoeia in Japanese and Javanese'. The author chose this title because of the lack of discussion about the comparison between the onomatopoeic Japanese and Javanese. To write this thesis, firstly, the author collected data, and then analyze the data, after that, the dat presented in a descriptive form. Onomatopoeia in Japanese consists of two types, namely giseigo (giongo) and gitaigo incorporated in onshouchougo. Giseigo (giongo) are words that express mock voices or sounds of living beings and inanimate objects, while gitaigo are words that express the state.Classification giseigo (giongo) is divided into two, namely giseigo stating voice imitation of living things, and giongo stating imitation sounds of inanimate objects. Just as giseigo (giongo), gitaigo divided into three classifications. The classifications, namely gitaigo who declared a state of inanimate objects, giyougo who declared a state (state behavior) of living creatures, and gijougo who declared a state of heart (feeling) human. Of all these classifications outline has ten different meanings classification. Moreover, the characteristic forms contained on onomatopoeia also affect its meaning. Keywords: Onomatopoeia, Onshouchougo, Giseigo (Giongo), Gitaigo, Giyougo, Gijoug

    Preface

    No full text
    The University of Pennsylvania Working Papers in Linguistics (PWPL) is an occasional series published by the Penn Graduate Linguistics Society. The series has included volumes of previously unpublished work, or work in progress, by linguists with an ongoing affiliation with the Department, as well as volumes of papers from NWAV and the Penn Linguistics Conference. This volume contains selected papers from New Ways of Analyzing Variation 49 (NWAV 49), held virtually October 19-24, 2021, by the University of Texas at Austin. Thanks go to George Balabanian, May Pikyu Chan, Yiran Chen, Xin Gao, Karen Li, Lefteris Paparounas, and Christine Soh Yue for their help in editing. Since Vol. 14.2, PWPL has been an internet-only publication. As of September 2014, the entire back catalog has been digitized and made available on ScholarlyCommons@Penn. Please continue citing PWPL papers or issues as you would a print journal article, though you may also provide the URL of the manuscript. An example is below: Legerme, Christopher. 2022. The Effect of Vowel Height on the Nasalization of Postponed Determiners in Haitian Creole (Kreyòl Ayisyen). In University of Pennsylvania Working Papers in Linguistics 28.2, ed. Aini Li and Gwendolyn Hildebrandt, 71-80. Available at: http://repository.upenn.edu/pwpl/vol28/iss2. Publication in the University of Pennsylvania Working Papers in Linguistics (PWPL) does not preclude submission of papers elsewhere; copyright is retained by the author(s) of individual papers. The PWPL editors can be contacted at: U. Penn Working Papers in Linguistics, Department of Linguistics, 3401-C Walnut Street, Suite 300, C Wing, Philadelphia, PA 19104-6228 and [email protected]. Aini Li and Gwendolyn Hildebrandt, Issue Editor

    A study on enforcement of Joint Management Body (JMB) establishment in Selangor / Muhamad Azri Aini

    Full text link
    The implementation of Building and Common Property (Maintenance and Management) 2007 Act, 663 Act which is came into force in the aspect of property maintenance and management on 12 April 2007 is one of the latest government’s mechanism in order to increase government’s delivering systems which is to improve development and property maintenance and management matters especially to overcome all the problem that existed all this while in the strata properties. Nevertheless, the execution that just came into force for only 2 years already creates their own problems and need special attention in order to overcome these problems early as possible. Main objective for this Academic Project (PA) research is to look into execution of the 663 Act in general and specially will be focus on the problems that create and exist in the execution and setting up of the Joint Management Body (JMB) due to these entities are just being introduced in the strata properties and also to give the reasonable suggestions that could be taken in order to overcome all these problems. Information are gathered from previous researches, various academic papers, related issued articles, newspapers, journals, internet, professionals and peoples’ opinions who are either directly or indirectly involved in the execution of the 663 Act apart interviews and structured research involving questionnaire form that has been conducted to many of the respondents. The author hope this PA research will be a guidance and reference to the respective parties in order to know how these problems give their effects to the effective and efficient execution of the 663 Act and further could be a reference to these respective parties in order to look the best solutions to overcome these created and existed problems
    corecore