1,721,133 research outputs found
M. ZAINUDDIN KAYUBI DAN PERJUANGANNYA DALAM MELAWAN PEMBERONTAKAN PKI DI BLITAR (1964-1968 M)
M. Zainuddin Kayubi adalah tokoh pejuang dalam melawan pemberontakan
PKI di Blitar dan Tulungagung, dimana PKI menjadi isu nasioanal ketika itu. Selain
itu, M. Zainuddin Kayubi termasuk pendiri Barisan Serba Guna (Banser) yang
berguna untuk memperkuat pengamanan dari pemberontakan PKI serta memiliki
peranan penting dalam berbagai bidang, baik itu politik, pendidikan, dan sosial
kemasyarakatan.
Alasan peneliti menulis M. Zainuddin Kayubi dan Perjuangannya adalah
pertama, belum secara luas mengetahui siapa pendiri Banser. Kedua, gaya
kepemimpinan M. Zainuddin Kayubi yang tegas dan berani dalam melawan
pemberontakan PKI. Ketiga, menjaga kesadaran berbangsa dan bela negara
kesatuan republik Indonesia.
Penelitian ini merupakan kajian mengenai tokoh, sehingga penelitian ini
menggunakan pendekatan biografis yang memberikan pengertian tentang subyek,
berusaha menetapkan dan menjelaskan dengan teliti kenyataan-kenyataan hidup
dari subyek yang diselidiki, pengaruh subyek dalam masa formatif kehidupannya,
sifat dan watak serta nilai subyek terhadap perkembangan aspek kehidupan.
Kerangka teori yang dipakai adalah teori peranan sosial yang dikemukakan oleh
Erfing Goffman, bahwa peranan sosial adalah pola-norma perilaku dari orang yang
menduduki posisi tertentu dalam struktur sosial.
Hasil Penelitian ini menunjukkan bahwa M. Zainuddin Kayubi melakukan
perjuangan melawan pemberontakan PKI secara totalitas dan pantang menyerah
baik di Ponorogo maupun di Blitar. Selain itu dijelaskan aktifitas M. Zainuddin
Kayubi yang membawa perubahan terhadap lingkungannya yaitu dengan berjuang
di bidang politik bersama NU, aktif dalam usaha memperjuangkan dan
mempertahankan kemerdekaan dengan mendirikan Banser dan menjadi seorang
tentara, berjuang di bidang sosial masyarakat, khususnya melawan pemberontakan
PKI
TGH. M. Zainuddin, AM: Tuan Guru Abad XX yang Paling Berpengaruh Dalam Masyarakat Sasak
TGH. M. Zainuddin Abdul Majid is a highly respected figure, both in the fields of education, politics, the general public, and military affairs, as well as in the realm of peer-to-peer cooperation. This article will discuss how TGH. M. Zainuddin Abdul Majid became the most influential person in the Sasak community. Since many of the articles in this series use statistical data, the statistical derivation that is used is the statistical derivation. This text confirms that TGH. M. Zainuddin Abdul Madjid succeeded in becoming the most influential person in the Sasak community. This is demonstrated by the following: first, a large number of madrasahs and mesjids built in the pulau Lombok; second, a large number of Tuan Gurus who are Muslim scholars who teach the Islamic teachings of Ahlussunnah wal Jamaah; and third, a large number of Sasak people who identify as Muslim women who live in the desa-desa of Lombok.TGH. M. Zainuddin Abdul Majid adalah sosok yang banyak diperbincangkan, baik dari sisi kiprahnya di dunia pendidikan, pemerintahan, politik, dan masyarakat, maupun pemikiran-pemikirannya. Artikel ini akan mengungkap bagaimana TGH. M. Zainuddin Abdul Majid menjadi orang yang paling perpengaruh dalam masyarakat Sasak. Karena artikel ini banyak menggunakan data-data sejarah, maka pendekatan yang digunakan adalah pendekatan sejarah. Tulisan ini membuktikan bahwa TGH. M. Zainuddin Abdul Madjid sukses menjadi orang yang paling berpengaruh di Masyarakat Sasak. Hal ini dibuktikan, pertama, banyaknya madrasah dan mesjid yang dibangun di kampung-kapung, yang tersebar di pulau Lombok; Kedua banyaknya Tuan Guru yang merupakan murid-muridnya yang mengajarkan ajaran Nahdlatul Wathan yang bermazhab Islam Ahlussunnah wal Jamaah; Ketiga, banyak masyarakat Sasak yang menyatakan dirinya sebagai murid maulana Syeikh yang tersebat di desa-desa di Lombok.
Relasi Makna dalam Lirik Lagu Perjuangan Nahdlatul Wathan Karya TGKH. M. Zainuddin Abdul Majid (Kajian Semantik)
This study aimed to describe the semantic relation of words in the lyrics of Struggle song of Nahdlatul Wathan worked TGKH. M. Zainuddin Abdul Majid with semantic study. The method used in this research is descriptive method with a form of qualitative research. The data in this study are the words that contain the semantic relationships in lyrics of Struggle song of Nahdlatul Wathan worked TGKH. M. Zainuddin Abdul Majid with semantic study. Sources of data in this study is the lyrics of Struggle song of Nahdlatul Wathan created by TGKH. M. Zainuddin Abdul Majid. Technique used in this research is interview and documentary studies. Data analysis technique is done through a phase of data reduction, data presentation, and concluded the data. Based on the results of data analysis, it can be deduced that the lyrics of Struggle song of Nahdlatul Wathan worked TGKH. M. Zainuddin Abdul-Majid are synonyms, antonyms, homonyms, hyponymy and hypernymy, redundancies and polysemy. Every relationship has a meaning that can be a lesson in social life. The songs contained on the teachings and exhortations, that as Muslims must maintain, strengthen faith and piety to Allah. In addition, as a citizen of Nahdlatul Wathan should be invited to foster a spirit of faith and devotion as a support to form the spirit of diversity and nationality.Keywords: Meaning Relationship; Semantic Study; Struggle Song
Kurikulum Pendidikan Islam di UIN Malang: Studi Pemikiran Imam Suprayogo dan M. Zainuddin
In fact, the world of Islamic education has full of problems, both the dichotomy of sciences and the decline in morality and religiosity of Muslims, so efforts are needed to resolve these problems. In this article, the authors analize two figures from UIN Malang, namely Imam Suprayogo and M. Zainuddin towards this goal. The authors conclude that both thoughts are progressive and dynamic, have proactive and anticipatory educational insights in facing the accelerated development of science and technology, the demands of change, and are future oriented. The characteristics of his thinking appear in the need to develop an Islamic education curriculum into an integrated curriculum. Imam Suprayogo with his tree of knowledge, and M. Zainuddin with his Point Vortex Theory. Furthermore, their thoughts related to the Islamic education curriculum can be used as a consideration and reference to be actualized and implemented in the development of Islamic education institutions
Analisis Semantik Nasihat Pendidikan Moral dalam Kitab Mi’raj as-Sibyan Karya TGKH. M. Zainuddin Abdul Majid
Minimnya kajian semantik terhadap karya ulama lokal terutama kitab mi’raj as-sibyan karya TGKH. M. Zainuddin Abdul Majid menyebabkan nilai-nilai pendidikan moral yang terkandung dalam teks klasik kurang tergali secara ilmiah, padahal karya-karya tersebut menyimpan kekayaan makna yang relevan dengan pendidikan karakter masa kini. Artikel ini bertujuan mengungkap bentuk dan struktur semantik, relasi makna antar konsep moral, serta relevansi nilai-nilai tersebut dalam kitab Mi’raj as-Sibyan karya TGKH. M. Zainuddin Abdul Majid. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif-deskriptif dengan teknik analisis semantik konotatif terhadap kata, frasa, dan syair yang memuat pesan moral. Data diperoleh melalui dokumentasi dan dianalisis dengan pendekatan linguistik semantik. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kitab ini memuat nilai-nilai pendidikan moral seperti tawadhu’, adab terhadap guru, semangat belajar, syukur, serta pengagungan terhadap ilmu dan guru. Semua nilai tersebut disampaikan dalam bentuk bahasa simbolik yang kaya makna dan kontekstual dengan tradisi pesantren. Nilai-nilai itu terbukti masih relevan sebagai fondasi pendidikan karakter di era digital dan globalisasi
Kurikulum pendidikan Islam menurut tokoh UIN Maulana Malik Ibrahim Malang: Studi pemikiran Imam Suprayogo dan M. Zainuddin
INDONESIA:
Dewasa ini, kondisi pendidikan di Indonesia masih belum mencapai tujuan dan cita-cita yang diinginkan. Hal ini karena adanya faktor yang menghambat tercapainya cita-cita tersebut, dimulai dari masih belum diintegrasikannya antara ilmu pengetahuan agama dan ilmu pengetahuan umum, proses edukatif yang hanya sebatas transfer of knowledge dan lain sebagainya. Pendidikan Islam sebagai agen perubahan sosial yang berada dalam atmosfer globalisasi dan modernisasi dewasa ini dituntut untuk mampu memainkan perannya secara proaktif dan juga dinamis. Hal ini tidak terkecuali dalam bagaiman memerankan kurikulum yang dimilikinya dengan baik. Menanggapi hal ini, Imam Suprayogo dan M. Zainuddin mengemukakan gagasannya mengenai kurikulum pendidikan Islam, dan kehadirannya diharapkan mampu membawa perubahan dan memberikan kontribusi bagi perbaikan Pendidikan Islam, baik dalam tataran teoritis, maupun praktis.
Adapun tujuan dari penelitian ini, Pertama adalah untuk mendeskripsikan konsep kurikulum pendidikan Islam Imam Suprayogo dan M. Zainuddin. Kedua, menganalisis persamaan dan perbedaan pemikiran kedua tokoh. Ketiga, menganalisis relevansi kurikulum pendidikan Islam Imam Suprayogo dan M. Zainuddin dengan kondisi pendidikan saat ini. Jenis penelitian ini adalah penelitian kepustakaan (library research). Adapun pengumpulan data dilakukan dengan metode dokumentasi dan wawancara. Adapun teknik analisis datanya menggunakan content analysis dan historis dimana semuanya ditujukan untuk menjawab permasalahan penelitian tentang kurikulum pendidikan Islam menurut Imam Suprayogo dan M. Zainuddin.
Dalam penelitian ini penulis menemukan bahwa (1) konsep kurikulum pendidikan Islam Imam Suprayogo masuk pada kategori perennial- esensial- kontekstual-falsifikasi. Sedangkan M. Zainuddin masuk pada konsep integrasi-interkoneksi. (2) Adanya persamaan dan perbedaan pemikiran kedua tokoh dalam memformulasikan kurikulum pendidikan Islam (3) adanya relevansi antara kurikulum pendidikna Islam Imam Suprayogo dan M. Zainuddin dengan kondisi pendidikan saat ini.
ENGLISH:
Today, the condition of education in Indonesia has not yet reached the desired goals and ideals. This is because there are factors that hinder the achievement of these ideals, starting from the integration of religious knowledge and general science, the educational process which is only limited to the transfer of knowledge and so on. Islamic education as an agent of social change in the atmosphere of globalization and modernization today is demanded to be able to play its role proactively and dynamically. This is no exception in how it plays its curriculum well. Responding to this, Imam Suprayogo and M. Zainuddin expressed their ideas about the curriculum of Islamic education, and its presence is expected to be able to bring change and contribute to the improvement of Islamic Education, both on a theoretical and practical level.
The purpose of this study, first is to describe the concept of the Islamic education curriculum of Imam Suprayogo and M. Zainuddin. Second, analyze the similarities and differences in the thoughts of the two figures. Third, analyze the relevance of Imam Suprayogo and M. Zainuddin's Islamic education curriculum to the current state of education. This type of research is library research (library research). The data collection is done by the method of documentation and interviews. The data analysis technique uses content analysis and historical where everything is aimed at answering research problems about Islamic education curriculum according to Imam Suprayogo and M. Zainuddin.
In this study the authors found that (1) the concept of Imam Suprayogo's Islamic education curriculum was included in the perennial-essential-contextual-falsification category. Whereas M. Zainuddin entered the concept of integration-interconnection. (2) There are similarities and differences in the thoughts of the two figures in formulating an Islamic education curriculum (3) there is relevance between the Islamic education curriculum of Imam Suprayogo and M. Zainuddin with the current educational conditions.
ARABIC:
اليوم ، لم تصل حالة التعليم في إندونيسيا بعد إلى الأهداف والمثل المطلوبة. وذلك لأن هناك عوامل تعوق تحقيق هذه المثل ، بدءاً من دمج المعرفة الدينية والعلوم العامة ، العملية التعليمية التي تقتصر فقط على نقل المعرفة وما إلى ذلك. إن التربية الإسلامية كعامل للتغيير الاجتماعي في أجواء العولمة والتحديث مطلوب اليوم لتكون قادرة على لعب دورها بشكل استباقي وديناميكي. هذا ليس استثناء في كيفية لعب منهجها بشكل جيد. ورداً على ذلك ، عبر الإمام سوبراوغو و محمد زين الدين عن أفكارهما حول مناهج التربية الإسلامية ، ومن المتوقع أن يكون وجوده قادراً على إحداث التغيير والمساهمة في تحسين التعليم الإسلامي ، سواء على المستوى النظري أو العملي.
الغرض من هذه الدراسة ، أولاً ، وصف مفهوم منهج التربية الإسلامية للإمام سفرايوكوا و محمد زين الدين. ثانيًا ، تحليل أوجه التشابه والاختلاف في أفكار الرقمين. ثالثًا ، تحليل مدى صلة مناهج التربية الإسلامية للإمام سوبرايوغو و محمد زين الدين بالحالة التعليمية الحالية. هذا النوع من البحث هو بحث المكتبة (بحث المكتبة). يتم جمع البيانات بطريقة التوثيق والمقابلات. تستخدم تقنية تحليل البيانات تحليل المحتوى والتاريخي حيث يهدف كل شيء إلى الإجابة على مشاكل البحث حول مناهج التربية الإسلامية وفقًا للإمامين سفرايوكوا و محمد زين الدين.
في هذه الدراسة وجد المؤلفون أن (1) تم تضمين مفهوم منهج التربية الإسلامية للإمام سفرايوكوا و محمد زين الدين في فئة التزوير الدائمة - الأساسية - السياقية. في حين دخل السيد زين الدين في مفهوم التكامل والترابط. (2) هناك أوجه تشابه واختلاف في أفكار الشخصين في صياغة منهج التربية الإسلامية (3) هناك صلة بين منهج التربية الإسلامية للإمام سوبريوغو و محمد زين الدين بالظروف التعليمية الحالية.الكلمات الرئيسية: مناهج التعليم الإسلامي ، قادة الجامعة مولانا مالك إبراهيم مالانج، الإمام سفرايوكوا و محمد زين الدين
Metodologi penelitian: pendekatan praktis dan aplikatif/ Masyhuri; (M. Zainuddin)
x, 234 hal. : ill.; 23 cm
Metodologi penelitian: pendekatan praktis dan aplikatif/ Masyhuri; (M. Zainuddin)
x, 234 hal. : ill.; 23 cm
Metodologi penelitian: pendekatan praktis dan aplikatif/ Masyhuri; (M. Zainuddin)
x, 234 hal. : ill.; 23 cm
Metodologi penelitian: pendekatan praktis dan aplikatif/ Masyhuri; (M. Zainuddin)
x, 234 hal. : ill.; 23 cm
- …
