89 research outputs found

    Sintesis Metil Ester dari Minyak Sawit melalui Reaksi Transesterifikasi dengan Katalis Heterogen KCl/CaO dan Uji Potensinya sebagai Biodiesel

    No full text
    ABSTRAK   Bahri, M Syaiful . 2013. Sintesis Metil Ester dari Minyak Sawit melalui Reaksi Transesterifikasi dengan Katalis Heterogen KCl/CaO dan Uji Potensinya sebagai Biodiesel. Skripsi. Jurusan Kimia, Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam, Universitas Negeri Malang. Pembimbing (I) Dr. Aman Santoso, M.Si., (II) Drs. Dermawan Affandy, M.Pd.   Kata kunci: metil ester, minyak sawit, Transesterifikasi, katalis heterogen.   Berbagai upaya telah dilakukan untuk mencari sumber energi alternatif. Salah satu upaya yang dilakukan untuk mencukupi sumber energi adalah memproduksi biodiesel. Biodiesel  dalam ilmu kimia umumnya dikenal dengan metil ester dari asam-asam lemak rantai panjang. Sintesis biodiesel umumnya menggunakan katalis basa homogen. Katalis basa homogen mempunyai kelemahan yaitu pada akhir reaksi sulit dipisahkan dari produk. Katalis basa heterogen sedang dikembangkan untuk mengatasi kelemahan dari katalis basa homogen dalam memproduksi biodiesel. Salah satu katalis basa heterogen yang sedang dikembangkan adalah adalah campuran KCl dan CaO. Oleh karena itu, masih perlu dilakukan penelitian untuk mengetahui aktivitas dari katalis KCl/CaO tersebut. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk (1) mensintesis metil ester dari minyak sawit melalui reaksi transesterifikasi dengan katalis heterogen KCl/CaO dan uji potensinya sebagai biodiesel, (2) mengetahui pengaruh perbandingan mol minyak : metanol terhadap rendemen metil ester yang dihasilkan, (3) mengetahui komponen metil ester yang disintesis dari minyak sawit dengan katalis heterogen KCl/CaO, (4) mengetahui karakteristik metil ester yang disintesis dari minyak sawit dengan katalis heterogen KCl/CaO, (5) mengetahui potensi metil ester hasil sintesis sebagai biodiesel. Penelitian ini merupakan penelitian eksperimental laboratoris. Penelitian ini dilaksanakan di Laboratorium penelitian Jurusan Kimia FMIPA Universitas Negeri Malang, Laboratorium Kimia Organik FMIPA Universitas Brawijaya, dan Laboratorium Pelumas PT. Pertamina Surabaya. Penelitian ini terdiri dari beberapa tahap, yaitu (1) karakterisasi minyak sawit, (2) preparasi aktivasi katalis KCl/CaO, (3) sintesis metil ester melalui reaksi transesterifikasi minyak sawit dengan katalis heterogen KCl/CaO, (4) identifikasi dan karakterisasi metil ester hasil sintesis meliputi uji KLT dan analisis GC-MS, (5) penentuan sifat fisika kimia metil ester hasil sintesis meliputi massa jenis, viskositas, indeks bias, angka asam, indeks setana, dan titik nyala. Hasil penelitian menunjukkan bahwa (1) metil ester dapat disintesis dari minyak sawit menggunakan katalis heterogen KCl/CaO 4% pada suhu 65oC selama 5 jam, (2) rendemen metil ester tertinggi diperoleh pada perbandingan mol minyak: metanol = 1:12, (3) komponen metil ester hasil sintesis adalah metil miristat (3,08%), metil palmitat (37,29%), metil oleat (47,35%), dan metil stearat (8,29%), (4) metil ester hasil sintesis mempunyai karakteristik viskositas 5,45 cSt, massa jenis 0,890 g/mL, indeks bias 1,44, angka asam 0,67, indeks setana 59, dan titik nyala 204oC, (5) metil ester hasil sintesis berpotensi sebagai biodiesel

    Perbedaan Interaksi dan Hasil Belajar Siswa Kelas XI MIA SMAN 10 Malang yang Dibelajarkan dengan Model Pembelajaran Kooperatif Tipe Think Pair Share (TPS) dan Think Pair Square (TPSq) pada Materi Hidrokaron

    No full text
    ABSTRAK   Bahri, M Syaiful. 2014. Perbedaan Interaksi dan Hasil Belajar Siswa Kelas XI MIA SMAN 10 Malang yang Dibelajarkan dengan Model Pembelajaran Kooperatif Tipe Think Pair Share (TPS) dan Think Pair Square (TPSq) pada Materi Hidrokaron. Skripsi, Jurusan Kimia, FMIPA Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (I) Oktavia Sulistina, S.Pd., M.Pd., (II) Dra. Dedek Sukarianingsih, M.Pd., M.Si.   Kata Kunci: Hidrokarbon, interaksi, hasil belajar, Think Pair Share (TPS), Think Pair Square (TPSq).   Hidrokarbon merupakan salah satu materi dalam ilmu kimia yang dianggap sulit oleh siswa. Salah satu upaya untuk mengatasi kesulitan tersebut adalah menggunakan model pembelajaran yang tepat. Salah satu model pembelajaran yang tepat adalah model pembelaran kooperatif tipe Think Pair Share dan Think Pair Square, karena model pembelajaran tersebut menekankan pada interaksi belajar antar siswa. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui:  keterlaksanaan pembelajaran, interaksi belajar, dan ketuntasan belajar; perbedaan hasil belajar kognitif siswa yang dibelajarkan dengan model pembelajaran kooperatif tipe Think Pair Share dan yang dibelajarkan dengan model pembelajaran kooperatif tipe Think Pair Square. Penelitian ini menggunakan rancangan eksperimental semu dan deskriptif. Sampel penelitian ditentukan dengan teknik Cluster Random Sampling. Populasi penelitian ini adalah siswa kelas XI MIA SMAN 10 Malang tahun ajaran 2014-2015. Instrumen penelitian meliputi instrumen pembelajaran (silabus, RPP, handout, dan worksheet) dan instrumen pengukuran (soal kuis, soal tes, dan lembar observasi). Analisis data dilakukan dengan analisis deskriptif dan uji t pada signifikansi α = 0,05. Hasil penelitian menunjukkan bahwa: (1) Pembelajaran kooperatif tipe Think Pair Share dan Think Pair Square telah terlaksana dengan sangat baik dengan rata-rata persentase keterlaksanaan masing masing 92,16% dan 91,20%, (2) interaksi belajar siswa yang dibelajarkan menggunakan model pembelajaran kooperatif tipe Think Pair Square (rerata 69,90%) lebih tinggi dibandingkan dengan interaksi siswa yang dibelajarkan menggunakan model pembelajaran koopertif tipe Think Pair Share (rerata 67,44%), (3) ketuntasan belajar siswa setiap pertemuan yang dibelajarkan menggunakan model pembelajaran kooperatif tipe Think Pair Share (rerata 70,83%) lebih tinggi dibandingkan dengan siswa yang dibelajarkan menggunakan model pembelajaran koopertif tipe Think Pair Square (rerata 65,27%), (4) hasil belajar kognitif siswa yang dibelajarkan menggunakan model pembelajaran kooperatif tipe Think Pair Share (rerata 83,69) lebih tinggi dibandingkan dengan hasil belajar kognitif siswa yang dibelajarkan menggunakan model pembelajaran kooperatif tipe Think Pair Square (rerata78,14)

    PengembanganModelLatihanBertahandalamPermainanSepakbolauntuk SiswaUsia14-16Tahun di Sekolah SepakbolaPumaSitubondo

    No full text
    ABSTRAK   Bahri, Syaiful. 2014. Pengembangan Model Latihan Bertahan dalam Permainan Sepakbola untuk Siswa Usia 14-16 Tahun di Sekolah Sepakbola Puma Situbondo. Skripsi, Jurusan Pendidikan Jasmani dan Kesehatan, Fakultas Ilmu Keolahragaan, Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (I) I Nengah Sudjana, S.Pd, M. Pd, (2) Fahrial Amiq, S.Or, M.Pd.   Kata Kunci: penelitian pengembangan, sepakbola, latihan, bertahan.   Sepakbola adalah olahraga permainan beregu yang dimainkan atas dasar penguasaan teknik dengan bola, kondisi fisik dan semangat bertanding. Berdasarkan hasil observasi dan wawancara dengan pelatih, model latihan bertahan di Sekolah Sepakbola Puma kurang bervariasi dan pelatih juga jarang menerapkan model latihan bertahan. Setelahdilakukananalisiskebutuhan, diperoleh data 87% siswamenyatakanbahwa jarang melakukan latihan strategi bertahan, 83% membutuhkan latihan strategi bertahan, 77% menyatakansiswa tertarik untuk melakukan latihan bertahan. Penelitian ini dilaksanakan dengan tujuan untuk mengembangkan model latihan bertahan di Sekolah Sepakbola Puma Kabupaten Situbondo. Penelitian ini menggunakan rancangan penelitian pengembangan yang mengacu pada teori Research and Development Borg dan Gall yang telah dimodifikasi disesauikan dengan keadaan di lapangan mengacu teori Ardhana.Dari 10 langkah pengembangan yang dikemukakan Borg dan Gall, peneliti menggunakan 7 langkah saja dikarenakan keterbatasan waktu, tenaga, serta biaya. Penelitian ini melalui beberapa tahap, antara lain: 1) evaluasi produk dari 1 ahli sepakbola, 1 ahli kepelatihan sepakbola, 1 ahli media, 2) uji coba kelompok kecil dan uji coba lapangan kelompok besar, 3) tahap pengolahan data. Instrumen yang digunakan dalam penelitian ini adalah kuisioner saat uji coba kelompok kecil dan uji coba kelompok besar. Teknik analisis data yang digunakan adalah analisis kuantitatif. Subjek dalam penelitian ini adalah siswa Sekolah Sepakbola Puma yang berjumlah 30 siswa. Dari evaluasi 1 ahli sepakbola dengan jumlah instrumen sebanyak 25 butir pertanyaan diperoleh hasil 97%, 1 ahlikepelatihan dengan jumlah instrumen  sebanyak 27 butir pertanyaan diperoleh hasil 86,11% dan 1 ahli media dengan jumlah instrumen 31 butir pertanyaan diperoleh hasil 70,97%, sehingga produk dinyatakan layak untuk diujicobakan pada kelompok kecil dan kelompok besar. Dari uji kelompok kecil yang dilakukan oleh 8 siswa Sekolah Sepakbola Puma Kabupaten Situbondo dengan jumlah instrumen untuk uji kelompok kecil sebanyak 28 butir pertanyaan diperoleh hasil 85%, sedangkan dari uji lapangan (kelompok besar) dengan jumlah instrumen sebanyak 28 butir pertanyaan yang dilakukan oleh 22 siswa Sekolah Sepakbola Puma Kabupaten Situbondo diperoleh hasil 88,5%. sehingga produk pengembangan model latihan bertahan yang dikemas dalam bentuk video dinyatakan layak digunakan sebagai model latihan untuk usia 14-16 tahun di Sekolah Sepakbola Puma Kabupaten Situbondo

    KE ARAH PEMBARUAN HUKUM KELUARGA ISLAM: Kontribusi Teori Penyusutan (al-Qabḍ) dan Pengembangan (al-Basṭ) Abdul Karim Soroush

    Get PDF
    This article examines Abdul Karim Soroush's theory of contraction (al-Qabḍ) and expansion (al-Basṭ) in religious interpretation, as well as his contribution to the reform of Islamic Family Law. To address this issue, the author conducted a literature review, examining Soroush's works as well as other data related to the topics discussed. The collected data was analyzed using content analysis techniques. Based on the research, Soroush's theory of contraction (al-Qabḍ) and expansion (al-Basṭ) seeks to demonstrate that religion and understanding of religion are two distinct entities. Religion is absolute and unchanging. Religious understanding, on the other hand, is relative and dynamic. Furthermore, this theory contributes to the renewal of the study of Islamic Family Law, specifically by positioning this knowledge as a result of understanding religion rather than as a religion. Furthermore, in the process of reforming the study of Islamic Family Law, other disciplines outside of the religious sciences, particularly science and social humanities sciences, are involved. Artikel ini membahas teori penyusutan (al-Qabḍ) dan pengembangan (al-Basṭ) dalam interpretasi agama yang digagas Abdul Karim Soroush, sekaligus melihat kontribusinya terhadap pembaruan Hukum Keluarga Islam. Untuk membahas persoalan tersebut, penulis melakukan studi pustaka dengan mengkaji karya-karya yang ditulis Soroush, dan data-data lain yang berhubungan dengan tema yang dibahas. Data-data yang diperoleh dianalisis menggunakan tehnik analisis isi. Artikel ini menghasilkan kesimpulan bahwa teori penyusutan (al-Qabḍ) dan pengembangan (al-Basṭ) yang ditawarkan Soroush berupaya untuk menunjukkan bahwa antara agama dan pemahaman terhadap agama merupakan dua entitas yang berbeda. Agama bersifat absolut dan statis. Sedang pemahaman terhadap agama bersifat relatif dan dinamis. Selain itu, teori ini juga berkontribusi terhadap pembaruan kajian Hukum Keluarga Islam, yakni dalam hal memposisikan ilmu ini sebagai hasil pemahaman agama, dan bukan sebagai agama. Juga dalam hal bahwa dalam proses pembaruan terhadap kajian Hukum Keluarga Islam dilakukan dengan melibatkan disiplin ilmu lain di luar ilmu agama, terutama sains dan ilmu sosial-humaniora

    Karakteristik Penderita Kelainan Refraksi di RSUP. H. Adam Malik Medan Tahun 2013

    No full text
    Background : refractive error is defined as a state of refraction, when the parallel rays of light coming from infinity (with accommodation at rest), are focused either in front or behind the sensitive layer of retina, in one or both the meridians. Refractive error includes myopia, hypermetropia and astigmatism. Refractive error is the most causes of visual impairment in the world and of blindness have been determined. According to WHO, about 43 % of 285 millions of world population which have a visual problem is caused by refractive error and 3 % as cause blindness. In indonesia, refractive error also as cause most causes of visual impairment. Objective: to find out the number of refractive error based on subjective examination and autorefraktometer and the characteristics of the patients with refractive error in General Hospital Haji Adam Malik, Medan 2013. Methods : this research is a descriptive observational prospective. Sample of study is all the patients who have refractive error in out patient clinic at H Adam Malik General Hospital Medan. The number of sample is 67 people. Results : showed the number of myopia and hypermetropia more in the subjective examination than autorefractometer. The number of astigmatism more in the autorefraktometer examination. Myopia highest at age group 21- 40 years ( 50 % ), hypermetropia and astigmatisma highest at age group 41- 60 years ( 75 % and 43,24 % ). From whole patients, predominantly female with abnormality of refraction, the highest Karo and Toba, the level of education high school and colleges, myopia highest in the work connected with near vision and both parents do not suffer an refractive error. Conclusion : Myopia highest at young age group, hipermetropia and astigmatisma in advanced age groups. Myopia highest on the job related to near work and th parents do not suffer from refractive error..Latar Belakang : Kelainan refraksi adalah suatu keadaan refraksi dimana sinar-sinar sejajar yang berasal dari jarak tak terhingga masuk ke mata tanpa akomodasi dibiaskan di depan atau di belakang layer sensitive di retina, di satu atau kedua meridian. Kelainan refraksi dikelompokkan atas miopia, hipermetropia dan astigmatisma. Kelainan refraksi merupakan penyebab terbanyak gangguan penglihatan di seluruh dunia dan merupakan salah satu penyebab kebutaan. Menurut data WHO, 43% dari 285 juta penduduk dunia yang mengalami gangguan penglihatan disebabkan kelainan refraksi dan 3 % merupakan penyebab kebutaan. Di Indonesia kelainan refraksi juga merupakan penyebab terbanyak gangguan penglihatan. Tujuan Penelitian : Mengetahui jumlah penderita kelainan refraksi berdasarkan pemeriksaan subjektif dan autorefraktometer dan untuk mengetahui karakteristik penderita kelainan refraksi di RSUP H. Adam Malik Medan tahun 2013. Metode : Penelitian bersifat deskriptif observasional yang prospektif. Sampel penelitian adalah semua penderita kelainan refraksi yang berobat ke poliklinik mata RSUP. H. Adam Malik Medan tahun 2013 yang memenuhi kriteria inklusi yang telah ditentukan. Besar sampel 67 orang. Hasil Penelitian : Didapatkan jumlah penderita miopia dan hipermetropia lebih banyak pada pemeriksaan subjektif dan jumlah penderita astigmatisma lebih banyak pada pemeriksaan autorefraktometer. Miopia terbanyak pada kelompok umur 21 – 40 tahun (50 %), hipermetropia dan astigmatisma terbanyak pada kelompok umur 41 – 60 tahun (75% dan 43,24%). Keseluruhan penderita kelainan refraksi didominasi perempuan, suku terbanyak Karo dan Toba, tingkat pendidikan SMU dan Perguruan Tinggi, Miopia terbanyak pada pekerjaan yang berhubungan dengan penglihatan dekat dan kedua orangtua tidak menderita kelainan refraksi. Kesimpulan : Miopia terbanyak pada kelompok usia muda, hipermetropia dan astigmatisma pada kelompok usia lanjut. Miopia terbanyak pada pekerjaan yang berhubungan dengan penglihatan dekat dan kedua orang tua tidak menderita kelainan refraksi.65 HalamanTesis Magiste

    Karakteristik Penderita Kelainan Refraksi di RSUP. H. Adam Malik Medan Tahun 2013

    No full text
    Background : refractive error is defined as a state of refraction, when the parallel rays of light coming from infinity (with accommodation at rest), are focused either in front or behind the sensitive layer of retina, in one or both the meridians. Refractive error includes myopia, hypermetropia and astigmatism. Refractive error is the most causes of visual impairment in the world and of blindness have been determined. According to WHO, about 43 % of 285 millions of world population which have a visual problem is caused by refractive error and 3 % as cause blindness. In indonesia, refractive error also as cause most causes of visual impairment. Objective: to find out the number of refractive error based on subjective examination and autorefraktometer and the characteristics of the patients with refractive error in General Hospital Haji Adam Malik, Medan 2013. Methods : this research is a descriptive observational prospective. Sample of study is all the patients who have refractive error in out patient clinic at H Adam Malik General Hospital Medan. The number of sample is 67 people. Results : showed the number of myopia and hypermetropia more in the subjective examination than autorefractometer. The number of astigmatism more in the autorefraktometer examination. Myopia highest at age group 21- 40 years ( 50 % ), hypermetropia and astigmatisma highest at age group 41- 60 years ( 75 % and 43,24 % ). From whole patients, predominantly female with abnormality of refraction, the highest Karo and Toba, the level of education high school and colleges, myopia highest in the work connected with near vision and both parents do not suffer an refractive error. Conclusion : Myopia highest at young age group, hipermetropia and astigmatisma in advanced age groups. Myopia highest on the job related to near work and th parents do not suffer from refractive error..Latar Belakang : Kelainan refraksi adalah suatu keadaan refraksi dimana sinar-sinar sejajar yang berasal dari jarak tak terhingga masuk ke mata tanpa akomodasi dibiaskan di depan atau di belakang layer sensitive di retina, di satu atau kedua meridian. Kelainan refraksi dikelompokkan atas miopia, hipermetropia dan astigmatisma. Kelainan refraksi merupakan penyebab terbanyak gangguan penglihatan di seluruh dunia dan merupakan salah satu penyebab kebutaan. Menurut data WHO, 43% dari 285 juta penduduk dunia yang mengalami gangguan penglihatan disebabkan kelainan refraksi dan 3 % merupakan penyebab kebutaan. Di Indonesia kelainan refraksi juga merupakan penyebab terbanyak gangguan penglihatan. Tujuan Penelitian : Mengetahui jumlah penderita kelainan refraksi berdasarkan pemeriksaan subjektif dan autorefraktometer dan untuk mengetahui karakteristik penderita kelainan refraksi di RSUP H. Adam Malik Medan tahun 2013. Metode : Penelitian bersifat deskriptif observasional yang prospektif. Sampel penelitian adalah semua penderita kelainan refraksi yang berobat ke poliklinik mata RSUP. H. Adam Malik Medan tahun 2013 yang memenuhi kriteria inklusi yang telah ditentukan. Besar sampel 67 orang. Hasil Penelitian : Didapatkan jumlah penderita miopia dan hipermetropia lebih banyak pada pemeriksaan subjektif dan jumlah penderita astigmatisma lebih banyak pada pemeriksaan autorefraktometer. Miopia terbanyak pada kelompok umur 21 – 40 tahun (50 %), hipermetropia dan astigmatisma terbanyak pada kelompok umur 41 – 60 tahun (75% dan 43,24%). Keseluruhan penderita kelainan refraksi didominasi perempuan, suku terbanyak Karo dan Toba, tingkat pendidikan SMU dan Perguruan Tinggi, Miopia terbanyak pada pekerjaan yang berhubungan dengan penglihatan dekat dan kedua orangtua tidak menderita kelainan refraksi. Kesimpulan : Miopia terbanyak pada kelompok usia muda, hipermetropia dan astigmatisma pada kelompok usia lanjut. Miopia terbanyak pada pekerjaan yang berhubungan dengan penglihatan dekat dan kedua orang tua tidak menderita kelainan refraksi.65 HalamanTesis Magiste

    Pengaruh Kosentrasi Asam Klorida (HCl) Terhadap Pembentukan Koagulat pada Kosentrat Protein Daun Pepaya (Carica papaya L.) Sebagai Bahan Pakan

    No full text
    Papaya (Carica papaya L.) leaf contain 21-23% gross protein from its dry weight. The analysed leaf taken from sixth-eighth leaf from apical. Papaya leaf was blend with water in 1:3 ratio until change as a pulp form. Papaya leaf protein was extracted by chloride acid solution in the different concentration. Complete Randomized Design was used with 4 treatment consist of: Y1 (papaya leaf pulp with added by HCl 0,002 M), Y2 (papaya leaf pulp with added by HCl 0,004 M), Y3 (papaya leaf pulp with added by HCl 0,006 M), and Y4 (papaya leaf pulp with added by HCl 0,008 M). The result of research showed that treatments giving the very significant effect (P  0,01) on the protein content and weight of papaya leaf concentrate coagulate. Meanwhile, no significant effect (P0,05) on the content of the dry weight of protein concentrate. Key words : Protein, Carica papaya L., Paka

    STRUCTURALISM OF CHARACTER VALUES IN THE NOVEL “ONE YEAR ACADEMIC†BY JUNIOR DANY WIBISONO

    No full text
    This study aims to determine the value theory of character education and structural theory. In line with the research objectives, this research uses qualitative research using descriptive methods. The data used in this study is a combination of intrinsic and extrinsic elements of literary works which include structural theory and the values of character education contained in the novel. The data source used in this research is the novel "One Academic Year" by Junior Dany Wibisono. The results of the analysis of the One Academic Year novel include structural theories such as intrinsic elements consisting of: (1) theme, namely the intrinsic elements of the novel which are the basis of the story, (2) plot/plot which is the storyline, (3) setting which refers to the background. time, atmosphere, and place of the story, (4) characterization is the determination of the character or character of the character, (5) point of view, namely the direction of a writer's point of view in conveying a story, (6) mandate, which is a moral message written by the author of the story. In addition, there are also extrinsic elements. The extrinsic element is the opposite of the novel's intrinsic element. The extrinsic elements of the novel are elements that are outside the literary work, but indirectly affect the structure of the literary work. The extrinsic element of a literary work depends on the author telling the work. Extrinsic elements for example are the values contained, background, and social situation. After structural theory, there are also character education values contained in the novel

    KONTROVERSI PRAKTEK TAJDI

    Get PDF
    Tajdi>d an-nika>h} is a common tradition practiced by some communities in Indonesia. A controversy on the idea of whether or not the first ‘Akad is married by the second ‘Akad occurs among classical Muslim scholars. This paper attempts to explain the controversy, mainly from point of view of Syafi'iah jurists in various existing references. Therefore, the author did a library research. The author studied various books on Syafi'iah fiqh dealing with the practice of tajdi>d an-nika>h}. The study concluded that the majority of Syafi'iah scholars allowed it and the practice did not destroy the existence of the first contract. The one who rejects the validity of tajdi>d an-nika>h}  practice is Yusuf Ibrahim al-Ardabili. In his book, al-Anwa>r, al-Ardabili states that tajdi>d an-nika>h} practice has an affects the status of the first contract, which undermines the existence of the first ‘akad.[Tajdi>d an-nika>h} merupakan tradisi yang lumrah dipraktekkan oleh sebagian masyarakat Indonesia. Ada kontroversi di balik praktek yang populer di kalangan para sarjana Muslim klasik. Kontroversi tersebut terletak pada akad yang pertama apakah dirusak oleh akad yang kedua. Tulisan ini mencoba untuk mengurai kontroversi tersebut, utamanya dilhat dari pandangan para ahli fikih Syafi’iah dalam pelbagai literatur yang ada. Untuk itu, penulis melakukan kajian kepustakaan dengan mengkaji dan meneliti pelbagai literatur fikih Syafi’iah yang berhubungan dengan praktek tajdi>d an-nika>h} ini. Studi ini menghasilkan kesimpulan bahwa mayoritas ulama Syafi’iah berpendapat bahwa hukum tajdi>d an-nika>h} diperbolehkan dan praktek tersebut tidak merusak keberadaan akad yang pertama. Adapun yang menolak keabsahan praktek tajdi>d an-nika>h} ini adalah Yusuf Ibrahim al-Ardabili. Dalam kitabnya, al-Anwar, al-Ardabili menyatakan bahwa praktek tajdi>d an-nika>h} mempunyai dampak terhadap status akad yang pertama, yaitu merusak eksistensi akad pertama tersebut.

    KONTROVERSI PRAKTEK TAJDI<D AN-NIKA<H{ DALAM PERSPEKTIF FIKIH KLASIK

    No full text
    Tajdi>d an-nika>h} is a common tradition practiced by some communities in Indonesia. A controversy on the idea of whether or not the first ‘Akad is married by the second ‘Akad occurs among classical Muslim scholars. This paper attempts to explain the controversy, mainly from point of view of Syafi'iah jurists in various existing references. Therefore, the author did a library research. The author studied various books on Syafi'iah fiqh dealing with the practice of tajdi>d an-nika>h}. The study concluded that the majority of Syafi'iah scholars allowed it and the practice did not destroy the existence of the first contract. The one who rejects the validity of tajdi>d an-nika>h}  practice is Yusuf Ibrahim al-Ardabili. In his book, al-Anwa>r, al-Ardabili states that tajdi>d an-nika>h} practice has an affects the status of the first contract, which undermines the existence of the first ‘akad. [Tajdi>d an-nika>h} merupakan tradisi yang lumrah dipraktekkan oleh sebagian masyarakat Indonesia. Ada kontroversi di balik praktek yang populer di kalangan para sarjana Muslim klasik. Kontroversi tersebut terletak pada akad yang pertama apakah dirusak oleh akad yang kedua. Tulisan ini mencoba untuk mengurai kontroversi tersebut, utamanya dilhat dari pandangan para ahli fikih Syafi’iah dalam pelbagai literatur yang ada. Untuk itu, penulis melakukan kajian kepustakaan dengan mengkaji dan meneliti pelbagai literatur fikih Syafi’iah yang berhubungan dengan praktek tajdi>d an-nika>h} ini. Studi ini menghasilkan kesimpulan bahwa mayoritas ulama Syafi’iah berpendapat bahwa hukum tajdi>d an-nika>h} diperbolehkan dan praktek tersebut tidak merusak keberadaan akad yang pertama. Adapun yang menolak keabsahan praktek tajdi>d an-nika>h} ini adalah Yusuf Ibrahim al-Ardabili. Dalam kitabnya, al-Anwar, al-Ardabili menyatakan bahwa praktek tajdi>d an-nika>h} mempunyai dampak terhadap status akad yang pertama, yaitu merusak eksistensi akad pertama tersebut.
    corecore