1,720,964 research outputs found
Epistemologi NaHW Ta'Lîmî Dalam Persepektif Linguis Arab Kontemporer
Tujuan tulisan ini adalah menganalisis hakikat, sumber, pendekatan danv aliditas nahwta'lîmî dalam perspektif linguis kontemporer. Ini berangkat dari para linguis yang berpegang nahw klasik yang mengatakan pembaruan nahw di era kontemporer, termasuk nahw ta'lîmî belum bersifat epistemologis, karena hanya meredefinisi dan menyimplifikasi nahw klasik. Dengan pendekatan filsafat pendidikan bahasa dan teori linguistik edukasional berbasis data pustaka disertai analisis wacana ditemukan bahwa nahw ta?lîmî adalah kaidah-kaidah bahasa Arab yang digunakan untuk pembelajaran bahasa agar pembelajar mahir berbahasa. Nahw ini bersumber dari Alquran, hadis, puisi dan nahw mazhab-mazhab klasik serta tulisan Arab fushha modern. Pendekatan yang digunakan untuk menyusunnya adalah struktural-behavioral dengan prinsip preskriptif, relevansi, gradasi, struktural, kejelasan dan sederhana. Sedangkan metodenya yaitu naqd, damj,tarjîh al-?arâ?, ziyâdah, tabwîb danikhtishâr. Sementara validitas nahw ta?lîmî bersifat pragmatis.Atasdasarini, nahwta?lîmîmemilikiepistemology tersendiri yang berbeda dengan nahw klasik
Kontekstualisasi Filologi dalam Teks-teks Islam Nusantara
This paper aims to explore the concepts, methods and significance of philology Islam Nusantara and contextualization in manuscripts from Indonesia. It departs from the problems that the Islamic manuscripts archipelago that has not been widely studied, whereas in it save the value, thought and culture of the past scholars Nusantara which would clarify the concept of Islam Nusantara itself. With the approach of descriptive data-based literature and discourse analysis found that the concepts, methods and significance of philology Islam Nusantara almost the same as philology in general and the only difference being the object of study, in addition to the contextualization as an approach to the study of Islam in Indonesia, particularly related to Islamic manuscripts archipelago could be advised to use The new philology without leaving classical philology.
Tulisan ini bertujuan mengeksplorasi konsep, metode dan signifikansi filologi Islam Nusantara serta kontekstualisasinya dalam pernaskahan Indonesia. Ini berangkat dari persoalan bahwa manuskrip Islam Nusantara yang belum banyak dikaji, padahal di dalamnya menyimpan nilai, pemikiran dan budaya ulama Nusantara masa lampau yang tentunya akan menjernihkan mengenai konsep Islam Nusantara itu sendiri. Dengan pendekatan deksriptif berbasis data pustaka dan analisis wacana ditemukan bahwa konsep, metode dan signifikansi filologi Islam Nusantara hampir sama dengan filologi pada umumnya dan yang membedakan hanya objek kajiannya, selain itu kontektualisasinya sebagai pendekatan studi Islam di Indonesia, terutama terkait manuskrip Islam Nusantara bisa disarankan menggunakan filologi baru tanpa meninggalkan filologi klasik.
METODOLOGI DAN KONTEKSTUALISASI FILOLOGI DALAM KAJIAN TEKS-TEKS ISLAM NUSANTARA
This paper aims to explore the concepts, methods and significance of philology Islam Nusantara and contextualization in manuscripts from Indonesia. It departs from the problems that the Islamic manuscripts archipelago that has not been widely studied, whereas in it save the value, thought and culture of the past scholars Nusantara which would clarify the concept of Islam Nusantara itself. With the approach of descriptive data-based literature and discourse analysis found that the concepts, methods and significance of philology Islam Nusantara almost the same as philology in general and the only difference being the object of study, in addition to the contextualization as an approach to the study of Islam in Indonesia, particularly related to Islamic manuscripts archipelago could be advised to use The new philology without leaving classical philology.
Tulisan ini bertujuan mengeksplorasi konsep, metode dan signifikansi filologi Islam Nusantara serta kontekstualisasinya dalam pernaskahan Indonesia. Ini berangkat dari persoalan bahwa manuskrip Islam Nusantara yang belum banyak dikaji, padahal di dalamnya menyimpan nilai, pemikiran dan budaya ulama Nusantara masa lampau yang tentunya akan menjernihkan mengenai konsep Islam Nusantara itu sendiri. Dengan pendekatan deksriptif berbasis data pustaka dan analisis wacana ditemukan bahwa konsep, metode dan signifikansi filologi Islam Nusantara hampir sama dengan filologi pada umumnya dan yang membedakan hanya objek kajiannya, selain itu kontektualisasinya sebagai pendekatan studi Islam di Indonesia, terutama terkait manuskrip Islam Nusantara bisa disarankan menggunakan filologi baru tanpa meninggalkan filologi klasik
KAJIAN MORFO-SEMANTIK KONTEKSTUAL PADA RAGAM PERBEDAAN AL-QIRA’AT AL-SAB‘ DALAM AL-QUR’AN
Mushaf Usmani yang sejatinya mampu mengakomodasi tujuh wajah bacaan, secara tidak sadar oleh sebagian umat Islam hanya dijadikan satu wajah bacaan. Kemudian, adanya penyempitan dan pengurangan bacaan ini pada gilirannya akan berimplikasi terhadap makna atau semantik. Menurut prinsip umum semantik, jika bentuk katanya berbeda maka maknanya pun berbeda, walaupun perbedaannya hanya sedikit. Hal ini juga pernah diungkapkan oleh ulama klasik dan modern yang menolak adanya sinonim.
Kajian al-Qirā’āt al-Sab‘ adalah salah satu contoh yang mencoba mengeksplorasi perbedaan wajah bacaan tersebut. Namun, kajian ini lagi-lagi hanya berhenti pada perbandingan antar bacaan Qira’āt saja tanpa menyentuh atau menyinggung implikasi makna yang diakibatkan oleh perbedaan bacaan tersebut. Belum ada kajian yang secara spesifik mencoba mengkomparasikan makna-makna yang diakibatkan oleh perbedaan di antara bacaan-bacaan al-Qirā’āt al-Sab‘.
Akan tetapi, karena luasnya cakupan materi al-Qirā’āt al-Sab‘, dalam tesis ini hanya akan difokuskan pada perbedaan Qira’āt pada kaidah-kaidah al-farsyi di antara imam al-Qirā’āt al-Sab‘ yang terkait dengan aspek tasrif al-fi‘l dalam ayat-ayat yang terdapat pada al-Qur’an ditinjau dari morfosemantik kontekstual.
Oleh karena itu, tesis ini merupakan penelitian dengan pendekatan Metode Triangulasi, artinya data diperoleh dari sumber tulisan dan penutur bahasa. Sementara itu, analisis dalam penelitian ini menggunakan metode deskriptif-komparatif-semantik-kontekstual, yakni memaparkan dan membandingkan bacaan di antara al-Qirā’āt al-Sab‘ melalui analisis semantik kontekstual.
Berdasarkan data yang diperoleh serta penelitian yang sudah dilaksanakan, dapat disimpulkan bahwa perbedaan-perbedaan Qira’āt pada kaidah-kaidah al-farsyi di antara imam al-Qirā’āt al-Sab‘ yang terkait dengan aspek tasrif al-fi‘l dalam ayat-ayat yang terdapat pada al-Qur’an ditinjau dari morfosemantik kontekstual, maknanya dibagi menjadi dua.
Pertama, makna di antara perbedaan al-Qirā’āt al-Sab‘ itu berbeda dan tidak bisa disatukan, karena ada perbedaan penekanan makna dari masing-masing Qira’āt. Kedua, makna di antara perbedaan al-Qirā’āt al-Sab‘ itu mempunyai makna yang sama.
Sedangkan dari segi morfologi, dalam perbedaan al-Qirā’āt al-Sab‘ tidak ditemukan bentuk-bentuk al-ruba‘ī baik mujarrad maupun mazīd, sehingga perbedaan ini hanya terjadi pada bentuk al-thulāthī, baik mujarrad maupun zawa’id. Bentuk-bentuk tersebut, perpaduan wazn dan sigah fi'ilnya terdiri dari al-mādī, al-mudāri‘, dan al-amr. Namun demikian, tidak semua wazn memiliki perbedaan yang mencakup tiga sigah sekaligus. Selain itu, bentuk al-thulāthī tersebut ada yang mendapatkan tambahan al-ilsāq, yang terbagi menjadi dua, yakni yang berpengaruh terhadap makna dan yang tidak berpengaruh terhadap makna, serta ada juga yang tanpa al-ilsāq
EPISTEMOLOGI NAH{W MODERN DAN KONTRIBUSINYA DALAM PENGEMBANGAN SINTAKSIS ARAB PEDAGOGIS (Studi Perbandingan antara Syauqi> D{aif [1910-2005] dan Tamma>m H{assa>n [1918-2011])
A classical Arabic syntax crisis, that is philosophicaltheological-
prescriptive, makes it difficult for learners to
learn. Hence, modern linguists reconstruct it, and offer the
Arabic syntax that is scientific-descriptive-pedagogical.
Among the linguists, Syauqī D{aif [1910-2005] and Tammām
H{assān [1918-2011] are the most influential ones because of
composing the new Arabic syntax and at the same time
explaining the epistemology in the whole work. However, not
a few people consider that they only simplify and redefinethe
classical Arabic syntax so that it is not epistemological.
Moreover, in the context of Arabic language education in
Indonesia, the epistemology of Arabic syntax, both classic and
modern, requires a proper portion. As a result, the Arabic
syntax is compiled or is used by following the classical Arabic
syntax, and less concerned on the epistemological foundations
of Arabic syntax. Consequently, pedagogical syntax for
Indonesian learners is quite difficult to learn because it is
philosophical-theological. Based on the problem, this study
aims to compare the epistemology of Arabic syntax composed
by Syauqī and the one by Tammām, and to relate the
epistemology from both of them in preparing pedagogical
syntax for Indonesian learners.
The scientific approach used to solve the problems is
the philosophy of language education with the epistemology
theory of classic and modern nah{w, educational linguistics,
and pedagogical grammar. As for the methodological
approach, this research used synthetic-heuristic approach
through library data. While for the data analysis, this
studyapplied the internal discourse of the text with linguistic
analysis methods, intertectual and comparative.
Based on the finding of the research, it was found that
epistemologically, Syauqī composed pedagogical grammar by
using educational linguistic approach, and Tammām, with an
integrative approach between classical and Western Arabic
linguistics, composed pedagogical syntax and scientific
syntax. In developing Arabic syntax, both used the source of
classical texts, turās\ and modern texts. The method used by
Syauqī was the naqd and tajdi>d an-nah{w in order to produce the theory of taisi>r an-nah{w, and Tammām applied istis{h{a>b
method and was{fiyyah in order to find the tad{a>fur al-qara>’in
and zaman wa jihah. As viewed from educational linguistics,
the pedagogical syntax developed by Syauqī is a criticalstructural-
behavioris-mediation, while Tammām is a criticalfunctional-
constructivist-social. In developing this
pedagogical syntax, both used the method naqd al-us{u>l, tas{ni>f
al-qawa>‘id; tansi>q an-nah{w at-ta‘li>mi> li an-na>t{iqi>n, tansi>q annah{
w at-ta‘li>mi> li gair an-na>t{iqi>n; dan ta‘ri>d{ al-mawa>d. Based
on the epistemology, Arabic syntax developed by the two so
that it produced pedagogical syntax, the arrangement of the
pedagogical syntax for the most relevant novice Indonesian
learner is the Indonesian-Arabic approach model. The results
of this study are different from the educational linguistics in
general that are "passive" on the discussion of the process in
producing the scientific grammar of the linguist
“AKTIVASI” MAKNA-MAKNA TEKS DENGAN PENDEKATAN KONTEMPORER: Epistemologi Hermeneutika Subjektif-Fiqhiyyah El-Fadl
Abstract: This paper aims to review the use of hermeneutics Khaled M. Abou El-Fadl in finding a potential meaning of the text Quran and the hadith in terms of epistemology. It departs from El-Fadl is one of the contemporary Muslim intellectuals who has criticized the authoritarianism of most Muslims to be removed because against God and just believe in the single meanings. Though the text made by God to contain the potential meanings can be harmonized and contextualize the demands of the times. In addition, hermeneutic departing from the study of Islamic law or fiqh, which is often confused with the Quranic text or as fiqh is the text itself. With a philosophical approach based on literature data and discourse analysis found that El-Fadl offers hermeneutics subjective-fiqhiyyah based on the interaction between the text and the interpretive community and "a little concerned" about the role of the author or the Lord so as to present a reinterpretation of the text in the form of the potential meaning of the text which at the same time avoiding the imposition of the single meaning that generally do lending institutions fatwa. Besides that distinguishes it from other contemporary hermeneutics Muslim intellectuals or philosophers west are El-Fadl did not recognize the individual's ability to interpret text, but "community" or in the language of jurisprudence called mujtahid jam'ī and was able to explain the position of God in the stage of interpreting the text without having to remove it as subjective hermeneutics of the West.
Abstrak: Tulisan ini bertujuan mengulas hermeneutika yang digunakan Khaled M. Abou El-Fadl dalam menemukan potensi-potensi makna dalam teks Alquran dan hadis ditinjau dari epistemologi. Ini berangkat dari El-Fadl merupakan salah satu intelektual muslim kontemporer yang kritis atas otoritarianisme sebagian umat muslim harus dihilangkan karena melawan Tuhan dan hanya percaya terhadap pemaknaan tunggal. Padahal teks yang dibuat oleh Tuhan mengandung potensi-potensi makna yang bisa diselaraskan dan dikontekstualisasikan dengan tuntutan zaman. Selain itu hermeneutikanya berangkat dari kajian hukum Islam atau fikih yang sering tertukar dengan teks Alquran atau seolah fikih adalah teks itu sendiri. Dengan pendekatan filosofis berbasis data pustaka dan analisis wacana, ditemukan bahwa El-Fadl menawarkan hermeneutika subjektif-fiqhiyyah yang berbasis pada interaksi antara teks dan komunitas interpretasi dan “sedikit peduli” terhadap peran pengarang atau Tuhan sehingga mampu menghadirkan pemaknaan ulang terhadap teks berupa potensi-potensi makna teks yang sekaligus menghindari pemaksaan terhadap pemaknaan tunggal yang umumnya dilakukan lembaga pemberi fatwa. Selain itu yang membedakannya dengan hermeneutika intelektual muslim kontemporer lain atau filosuf Barat adalah El-Fadl tidak mengakui kemampuan individu dalam menafsirkan teks, melainkan “komunitas” atau dalam bahasa fikih disebut mujtahid jam’ī dan mampu menjelaskan posisi Tuhan dalam tahapan menafsirkan teks tanpa harus menghilangkannya sebagaimana hermeneutika subjektif dari Barat
Islam Nusantara: Relasi Islam dan Budaya Lokal
The objective of this article is to explore the concept of Islam Nusantara (IN) observed from the structural theory of Islam and local culture relation, along with the reason why IN is developed into the concept of the Islamic proselytizing Rahmatan lilalamin by the intellectual Nahdhatul Ulama (NU). It comes from the NU Intellectuals claim that IN is the mediator in the controversy of Islam and local culture relation, moreover in the global scale it is going to be proselytized in the International, whereas the IN is still regarded as an issue and has not fulfilled the knowledge standard yet. Through philosophical approach, socio-anthropolinguistics based on the data in www.nu.or.id and topic analysis as its data analysis, it is found that the intellectual of NU used eight approaches to concept the IN. The IN set that Islam influences Indonesian culture and the INs success and ability to dialogue with Indonesian culture trigger the intellectual NU to promote it to the International
IDEALISME TAFAQQUH FI> AD-DI>N
Judul Buku : Madrasah Para Kiai: Refleksi Untuk Satu Abad Perguruan Islam athali’ul Falah
Penulis : M. Imam Azis, dkk.
Penerbit : Keluarga Mathali’ul Falah Yogyakarta
Tahun terbit : I, 2012
Halaman : xvi + 187 halaman
Setiap lembaga pendidikan tentu memiliki orientasi keilmuan yang telah dipilih guna mengantarkan peserta didiknya menuju pintu kesuksesan masing-masing. Ada lembaga yang hanya berorientasi dunia kerja (ekonomi). Ada pula lembaga yang hanya melulu hanya mengejar akhirat, dengan sedikit mempertimbangkan dunia. Kedua model lembaga ini cenderung mendikotomikan agama dan dunia. Selain itu, ada suatu lembaga pendidikan yang mencoba memadukan kedua tujuan pembelajaran sebelumnya. Namun, di era serba instan dan pragmatis ini model lembaga yang ketiga ini sudah mulai ditinggal oleh masyarakat. Padahal sebagai umat muslim seharusnya mampu mengintegrasikan antara dunia dan akhirat sebagai tujuan pendidikan.
Salah satu lembaga pendidikan Islam yang istiqa>mah memadukan keilmuan yang bersifat agama dan duniawi adalah Mathali’ul Falah (selanjutnya disingkat Mathali’). Lewat buku berjudul “Madrasah Para Kiai; Refleksi Untuk Satu Abad Perguruan Islam Mathali’ul Falah” para alumninya ingin mengenalkan dan membuktikan sisi idealitas keilmuan itu. Sehingga meskipun berada di tengah-tengah perubahan arus lembaga pendidikan yang berorientasi pada dunia kerja, Mathali’ mampu konsistensi dan bersaing. Bahkan dalam kurikulum pendidikan -yang setara dengan MI/SD sampai MA/SMK/SMA-Mathali’ tidak mengikuti Sistem Pendidikan Nasional yang dianggap sementara ahli-pendidikan ‘gagal’ membentuk peserta didik yang berkarakter dan berwawasan moral-agamis
- …
