125,174 research outputs found
Going Beyond Counting First Authors in Author Co-citation Analysis
The present study examines one of the fundamental aspects of author co-citation analysis (ACA) - the way co-citation
counts are defined. Co-citation counting provides the data on which all subsequent statistical analyses and mappings
are based, and we compare ACA results based on two different types of co-citation counting - the traditional type that
only counts the first one among a cited work's authors on the one hand and a non-traditional type that takes into
account the first 5 authors of a cited work on the other hand. Results indicate that the picture produced through this non-traditional author co-citation counting contains more coherent author groups and is therefore considerably clearer. However, this picture represents fewer specialties in the research field being studied than that produced through the traditional first-author co-citation counting when the same number of top-ranked authors is selected and analyzed. Reasons for these effects are discussed
Recommended from our members
Calotte hat
Calotte hat of lavender straw cloth encircled with velvet violet flowers around edge of crown. Veil of lavender net. Edge of hat trimmed in lavender velvet. Unlined.
Manufacturer's label: "L & B Karo / New York
Dispelling the Myths Behind First-author Citation Counts
We conducted a full-scale evaluative citation analysis study of scholars in the XML research field to explore just how different from each other author rankings resulting from different citation counting methods actually are, and to demonstrate the capability of emerging data and tools on the Web in supporting more realistic citation counting methods. Our results contest some common arguments for the continued
use of first-author citation counts in the evaluation of scholars, such as high correlations between author rankings by first-author citation counts and other citation
counting methods, and high costs of using more realistic citation counting methods that are not well-supported by the ISI databases. It is argued that increasingly available digital full text research papers make it possible for citation analysis studies to go beyond what the ISI databases have directly supported and to employ more
sophisticated methods
Recommended from our members
Straw hat
Pillbox hat of natural straw trimmed with white seed beads in foliage motif. Rolled brim. Hat pin with teardrop shaped pearl head. Headband of white grosgrain ribbon; lined in net.
Maker's label: L and B / Karo / New Yor
STRATEGI PENGEMBANGAN USAHATANI JAGUNG (Zea Mays L.) DI KABUPATEN KARO, SUMATERA UTARA
Corn (zea mays) is one of the potential food crops aimed at improving the national economy. The increase made in corn production through the suppression of corn imports by the government so that the land for corn development can be utilized. Karo Regency is a corn production center in North Sumatra that has the potential to develop corn farming with a land area of 107,241 ha with a production of 715,940 tons. The purpose of this study was to analyze the corn farming development strategy and the internal and external constraints faced in corn farming activities. The research method used is descriptive method and data collection techniques are carried out using observation, interviews and questionnaires. There are two sub-districts as samples, namely Simpang Empat and Barusjahe Districts. The analysis technique used is descriptive and SWOT analysis. The results of the study indicate that the development strategies that can be carried out in corn farming in Karo Regency are (a) increasing the bargaining power of farmers in the context of industry/traders that impose strict quality requirements; (b) increase productivity to prepare for competition from imported corn products; (c) planning for weather variations to improve the quality of corn produced by farmers; (d) increase the knowledge and capacity of farmers in the context of controlling pests and diseases in maize; (e) reduce corn production costs to reduce fluctuations in production, quality, and pric
Metode Dakwah Muhammadiyah di Kabupaten Karo
Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan sejarah perkembangan Muhammadiyah
di kabupaten Karo; menguraikan metode dakwah yang dilakukan Muhammadiyah pada
masyarakat Muslim di kabupaten Karo; serta menjelaskan pelaksanaan metode dakwah
Muhammadiyah di kabupaten Karo. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah
deskriptif analitis, penganalisaan data menggunakan pendekatan kualitatif. Sumber data
penelitian adalah dai Muhammadiyah di kabupaten Karo yang berjumlah 13 orang, pimpinan
daerah, pimpinan cabang, pimpinan ranting maupun anggota Muhammadiyah di kabupaten Karo. Berdasarkan sejarah, Muhammadiyah di kabupaten Karo telah berdiri sejak tahun 1936
oleh pegawai pemerintahan Belanda (bapak Sujono pegawai kantor pos pada saat itu).
Pada saat ini PDM kabupaten Karo memiliki satu cabang, yakni PCM Kabanjahe, Sembilan
PRM, tujuh Ranting Aisyiyah dengan jumlah anggota sebanyak 326 orang. Metode dakwah yang dilakukan oleh dai Muhammadiyah di kabupaten Karo masih
bertumpu pada metode dakwah bil Lisan (ceramah dan diskusi). Selain itu juga digunakan metode
dakwah kultural dan pendekatan dakwah melalui politik. Hambatan pelaksanaan dakwah di
kabupaten Karo berupa tantangan alam, yakni sebagian besar wilayahnya berada di
pegunungan serta cuaca yang sangat dingin. Selain itu letak satu desa dengan desa lainnya
sangat berjauhan. Hambatan budaya adalah bahasa dan adat istiadat yang demikian kental. Untuk
mengantisipasi hambatan ini PDM kabupaten Karo berupaya memberikan kenderaan roda
dua bagi dai agar dapat menjangkau daerah yang jauh dan sulit dicapai melalui angkutan
umum. Dai giat mempelajari bahasa dan adat istiadat masyarakat setempat yang dapat dijadikan
sebagai kulturalisasi dakwah di daerah ini. Selain itu, PDM kabupaten Karo
merencanakan mengirim sejumlah dai untuk menetap di d e s a - d e s a y a n g m e m b u t u h k a n
t e n a g a p e n y u l u h d a n p e m b i m b i n g keagamaan masyarakat Muslim.Tesis Magiste
Prospek Pengembangan Agribisnis Bunga Potong di Kabupaten Karo
Penelitian ini akan membahas latar belakang sehingga petani mengusahakan usahatani bunga potong, mengetahui perkembangan agribisnis bunga potong di Kabupaten Karo, sisi permintaan bunga potong, aspek teknis dan kesesuaian lahan untuk pengembangan bunga potong, dan peranan kelembagaan dalam agribisnis bunga potong di Kabupaten Karo. Masing-masing kegiatan pendukung dalam agribisnis bunga potong di Kabupaten Karo belum sepenuhnya berperan dengan baik dalam usaha pertanaman bunga potong, baik pemasaran dan pengolahan produksi. Masing-masing permasalah dianalisa dengan analisis deskriptif dari hasil pengamatan di lapangan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa : kendala teknis budidaya dan pemawaran bunga potong menjadi penyebab mengapa masyarakat petani di Kabupaten Karo tidak terlalu berminat dalam berusahatani bunga potong. Usahatani bunga potong di Kabupaten Karo secara ekonomis layak untuk dikembangkan, angka perbandingan penerimaan dan biaya produksi lebih besar dari satu. Nilai ekonomis masing-masing bunga potong dipengaruhi oleh jumlah permintaan yang berkaitan dengan hari besar keagamaan dan event-event budaya pada masyarakat di wilayah sampel. Bunga krisan memiliki nilai ekonomis tertinggi yang disusul oleh gladiol dan sedap malam, sedangkan bunga ester merupakan bunga dengan nilai ekonomis lebih kecil. Namun secara umum tampak bahwa masing-masing jenis bunga potong memiliki prospek yang cukup baik untuk dikembangkan. Hanya saja perlu adanya dukungan dari subsistem secara terpadu. Secara teknis tampak bahwa masyarakat petani di Tanah Karo sudah menguasai tahapan-tahapan kegiatan dalam budidaya bunga potong. Faktor yang menjadi penghalang dalam pengembangan agribisnis bunga potong adalah kurangnya peranan kegiatan pengolahan pasca panen dan pemasaran hasil.94 HalamanTesis Magiste
Profil Meaning of Life Siswa Budaya Karo
Abstract: Meaning of life is values that are used as life guidelines, are important and valuable, sourced from comes from creative values, experential values, and attitudional values. Meaning of life involves all aspects of experience in an individual's life, involving every aspect of value, character, relationships with others, and also the way of life. Culture has a major role in the formation and fulfillment of the profile of the meaning of life of the Karo people. The study of the profile of the meaning of life of Karo culture was carried out through content analysis of the results of interviews with the Karo regional language teachers. Meaning of life Karo culture has eight values compiled according to three sources of value meaning of life.
Abstrak: Meaning of life adalah nilai-nilai yang dijadikan pedoman hidup, bersifat penting, berharga, serta bersumber dari creative values, experential values, dan attitudional values. Meaning of life melibatkan seluruh aspek pengalaman dalam hidup individu, melibatkan setiap aspek nilai, karakter, hubungan dengan orang lain, dan cara hidup. Budaya memiliki peran utama dalam pembentukan dan pemenuhan profil. meaning of life masyarakat Karo. Pengkajian profil meaning of life budaya Karo dilakukan melalui analisis isi terhadap hasil wawancara terhadap guru bahasa daerah Karo. Meaning of life budaya Karo memiliki delapan nilai yang disusun sesuai tiga sumber nilai meaning of life
Analisis Kontrastif Fonologi Bahasa Karo Dan Bahasa Indonesia
Penelitian ini bertujuan untuk menemukan perbedaan antara fonem bahasa
Karo dan Indonesia yang mencakup fonem vokal, konsonan, dan diftong. Metode
yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode deskriptif kualitatif.
Instrumen dalam penelitian ini adalah studi dokumentasi. Sumber data dalam
penelitian ini mengambil dari buku-buku fonologi, linguistik umum, struktur
bahasa Karo dan tata bahasa karo untuk membandingkan fonem bahasa Karo dan
bahasa Indonesia.. Instrumen penelitian yang digunakan adalah buku tata bahasa
Karo dengan cara membacanya terlebih dahulu, selanjutnya memahami gambaran
perbedaan fonem bahasa Karo dan bahasa Indonesia. Hasil dari penelitian ini
dapat disimpulkan bahwa adanya perbedaan fonem bahasa Karo terdiri dari 26
fonem sedangkan bahasa Indonesia terdiri dari 31 fonem. Persamaan vokal bahasa
Karo dan bahasa Indonesia adalah a, i, e, ə, o, u. Perbedaan konsonan bahasa Karo
adalah b, c, d, g, h, j, k, l, m, n, , p, r, s, t, w, bahasa Indonesia adalah b, c, d, f,
g, h, j, k, l, m, n, , p, r, s, t, u, w, y, ny, sy, kh dan diftong bahasa Karo adalah ai,
ue, eo, oi, ui dan diftong bahasa Indonesia adalah ai, au, oi
Komposisi Musik Odak-odak Ras Patam-Patam dalam Format Penggabungan Musik Etnik Karo dan Orkestra
Suku Karo merupakan sebuah suku yang mendiami dataran tinggi karo di Sumatera Utara dan sebagian wilayah Aceh Tenggara. Suku Karo merupakan sebuah suku yang mandiri, memiliki adat istiadat sendiri dengan segala macam kearifan budaya dan kebudayaan yang tinggi baik di bidang arsitektur, makanan, musik dan pertanian. Sebagian besar suku karo bekerja sebagai petani karena tanah tempat tinggal suku karo merupakan tanah yang subur untuk bercocok tanam. Suku Karo juga memiliki kebudayaan yang unik dan khas, khususnya di bidang musik. Sampai saat ini musik karo masih tetap hidup dalam kehidupan orang-orang Karo. Berangkat dari situlah karya ini kemudian bermula dan menjadi sebuah inspirasi untuk membuat kolaborasi musik etnik karo dengan orkestra. Komposisi Odak-odak ras Patam-patam ini merupakan ekspresi untuk menunjukkan kecintaan pada musik karo dan suku Karo. Darah yang mengalir di nadi akan terus mengalir sampai akhir hayat sebagai seorang suku Karo
- …
