AGRIFOR
Not a member yet
355 research outputs found
Sort by
ANALISIS PROPORSI KONSUMSI PANGAN RUMAH TANGGA PETANI DI KAWASAN TRANSMIGRASI KECAMATAN WONOSARI, GORONTALO
Program transmigrasi bertujuan untuk pemerataan jumlah penduduk sekaligus peningkatan kesejahteraan masyarakat di wilayah transmigrasi, mendorong pembangunan ekonomi daerah dengan memanfaatkan sumber daya alam salah satunya melalui sektor pertanian. Tujuan penelitian adalah menganalisis proporsi konsumsi pangan rumah tangga petani di kawasan transmigrasi. Lokasi penelitian di Kecamatan Wonosari, Provinsi Gorontalo. Metode penelitian adalah deskriptif kuantitatif dengan menggunakan rumus perhitungan konsumsi pangan rumah tangga. Penelitian dilaksanakan dari bulan Februari sampai Juni 2024. Hasil penelitian adalah pengeluaran tertinggi dalam setiap rumah tangga petani di kawasan transmigrasi adalah rokok dengan rata-rata Rp.784.875/ bulan atau sebesar 29,24%, bumbu dapur Rp 566.250/ bulan (21,9%), dan ayam sejumlah Rp 426.625/ bulan (15,89%)
ANALISIS PERBANDINGAN KOMPOSISI FISIKA, KIMIA DAN AKTIVITAS ANTIOKSIDAN BERBEDA VARIETAS POMELO DARI MALAYSIA
Pomelo Malaysia secara botani diklasifikasikan sebagai Citrus maxima. Ada banyak jenis jeruk bali yang ditemukan di Malaysia. Namun, terdapat penelitian tentang perbandingan komposisi kimia dan aktivitas antioksidan antara berbagai varietas jeruk bali dari Malaysia. Dalam penelitian ini telah dipelajari tiga varietas jeruk bali yang populer dan komersial di Malaysia yaitu Tambun, Melomas dan Shanting dengan mengetahui komposisi fisik, kimia dan aktivitas antioksidannya. Pomelo Shanting memiliki tingkat keasaman titratable yang tinggi namun memiliki kandungan padatan terlarut yang hampir sama dengan Melomas. Pomelo Melomas memiliki kandungan Vitamin C dan senyawa fenolik tertinggi dibandingkan Shantiang dan Tambun. Penelitian ini membantu untuk memahami nilai gizi dan fungsi 3 jenis varietas jeruk bali komersial di Malaysia
PENGARUH PERLAKUAN PENDINGINAN (PRE-COOLING) DAN SANITASI PADA KUALITAS TOMAT SELAMA PENYIMPANAN DI SUHU RUANG
Tomat merupakan tanaman hortikultura yang menguntungkan dan mempunyai potensi ekspor yang besar. Tomat kaya akan nutrisi, termasuk vitamin C, serat, dan antioksidan seperti likopen, akan tetapi tomat merupakan buah yang rentan akan kerusakan dan buah yang cepat busuk, oleh karena itu diperlukan perlakuan pra pendinginan dan sanitasi untu memperpanjang masa simpan. Untuk itu penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh perlakuan precooling dan sanitasi terhadap mutu tomat selama penyimpanan pada suhu ruang. Perlakuan pada penelitian ini ialah kontrol (suhu ruang), pra-pendinginan (hydrocooling), sanitasi klorin 150 ppm selama 1 menit, dan pra-pendinginan (hydrocooling) + sanitasi klorin 150 ppm selama 3 menit. Adapun parameter yang di uji, kimia (total padatan terlarut, pH, total asam tertitrasi, vitamin C), fisika (tekstur dan warna). Penelitian menunjukkan bahwa perlakuan sanitasi dan pra-pendinginan berpengaruh nyata terhadap mutu tomat, karena sampai hari ke 7 tomat yang diberi perlakuan masih dalam kondisi baik, bertekstur padat dan berwarna merah cerah ( tekstur = 14.84, warna = 28.71), Sebaliknya tomat pada perlakuan kontrol (tekstur = 27.71),cenderung lebih lunak dibandingkan tomat lainnya.
TIMBUNAN KARBON BATANG KAYU KARET (HEVEA BRASILIENSIS) DI AREAL HGU PT SUMATERA BARIE PLANTATION TBK AEK SALABAT KABUPATEN ASAHAN
Pemanasan global yang terjadi di permukaan bumi merupakan akibat dari peningkatan suhu atmosfer bumi sebagai akibat intensitas dari penggunaan bahan bakar fosil, penebangan pohon dan perusakan pohon yang sudah tidak terkendali lagi. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui karakter pertumbuhan tanaman karet (Hevea brasiliensis) dan potensi timbunan carbon pada tegakan karet (Hevea brasiliensis.) HGU PT Bakrie Sumatera Plantation Tbk. Metode penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode inventarisasi potensi kayu dengan mengukur diameter, tinggi bebas cabang dan volume kayu. Pengolahan data potensi Carbon dilakukan dengan menggunakan rumus allometric yang digunakan oleh Lubis A.R (2011), Chave et al (2005) dan Khairiah et al (2011). Hasil penelitian menunjukkan bahwa diameter batang pohon karet rata-rata berumur 5 tahun, 10 tahun, 15 tahun dan 20 tahun berturut-turut adalah 15 cm, 18 cm, 22 cm dan 30 cm. Tinggi pohon bebas cabang kayu karet rata-rata berumur 5 tahun, 10 tahun, 15 tahun dan 20 tahun berturut-turut adalah 2,43 m, 4,22 m, 7,08 dan 10,61m. Sedangkan volume kayu pohon karet rata-rata berumur 5 tahun, 10 tahun, 15 tahun dan 20 tahun berturut-turut adalah 9,0955 m3/ha, 21,1723 m3/ha, 57,4295 m3/ha dan 163,5759 m3/ha. Berdasarkan hasil penelitian ini maka dapat disimpulkan bahwa potensi Carbon kawasan HGU Bakrie Sumatera Plantation Aek Salabat Kabupaten Asahan menurut perhitungan rumus Lubis, AR adalah 2,0513 ton/ ha, menurut rumus Chave adalah 3,4290 ton/ ha, menurut perhitungan rumus Khairiah adalah 4,1150 ton/ ha serta potensi Carbon rata-rata dari ketiga rumus tersebut adalah 3,2118 ton/ ha
PENGARUH PUPUK SP-36 DAN PUPUK KCl TERHADAP PERTUMBUHAN DAN HASIL TANAMAN TERUNG HIJAU (Solanum melongenaL.) VARIETAS PATRIOT F1.
Terung merupakan komoditas pertanian yang penting dibutuhkan di Indonesia, hal ini disebabkan karena terung mempunyai kandungan gizi cukup lengkap dan mempunyai nilai ekonomis tinggi. Tujuan penelitian untuk mengetahui pengaruh pupuk SP-36 dan pupuk KCl serta interaksinya, terhadap hasil tanaman terong hijau, dan juga untuk memperoleh dosis pupuk SP-36 dan dosis pupuk KCl yang tepat untuk memperoleh hasil tanaman terong hijau tertinggi. Penelitian dilaksanakan di Desa Ujoh Bilang, Kecamatan Long Bagun, Kabupaten Mahakam Ulu. Pada bulan Juli-November 2022. Penelitian menggunakan rancangan percobaan dengan analisis faktorial 3 x 3 dalam Rancangan Acak Lengkap (RAL), dengan 4 kali ulangan. Terdiri atas 2 faktor perlakuan. Faktor I, Dosis Pupuk SP-36 (P) terdiri dari 3 taraf yaitu: tanpa pupuk SP-36 atau kontrol (p0), dosis pupuk 150 kg/ha atau setara dengan 12 g/polibag (p1), dan dosis pupuk 300 kg/ha atau setara dengan 24 g/polibag (p2). Faktor II, Pupuk KCl (B)) terdiri atas 4 taraf, yaitu: tanpa pupuk SP-36 atau kontrol (n0), dosis pupuk 100 kg/ha atau setara dengan 8 g/polibag (n1), dosis pupuk 200 kg/ha atau setara dengan 16 g/polibag (n2), dan dosis pupuk 300 kg/ha setara dengan 24 g/polibag. Hasil penelitian menunjukkan bahwa perlakuan pupuk SP-36 tidak berpengaruh nyata terhadap umur saat berbunga dan umur saat panen. Berpengaruh nyata terhadap tinggi tanaman. Berpengaruh sangat nyata terhadap tinggi tanaman dan berat buah pertanaman. Perlakuan pupuk KCl berpengaruh nyata terhadap umur saat berbunga, umur saat panen dan jumlah buah per tanaman. Berpengaruh sangat nyata terhadap tinggi tanaman. Interaksi perlakuan tidak berpengaruh nyata terhadap tinggi tanama
IDENTIFIKASI PERUBAHAN TUTUPAN LAHAN DI AREAL PINJAM PAKAI KAWASAN HUTAN DENGAN MENGGUNAKAN SATELIT
Identifikasi Perubahan Tutupan Lahan di Areal Izin Pinjam Pakai Kawasan Hutan dengan Menggunakan Citra Satelit. Pesatnya pembangunan di sektor pertambangan mengakibatkan banyaknya penggunaan kawasan hutan yang dilakukan melalui Izin pinjam Pakai Kawasan Hutan. Pengawasan pemenuhan kewajiban IPPKH dilakukan melalui evaluasi yang memerlukan dana yang besar. Penelitian ini dilakukan untuk menghitung luas perubahan tutupan lahan di areal izin pinjam pakai kawasan hutan dengan menggunakan citra satelit serta menganalisis pelaksanaan reklamasai dan revegetasi kewajiban pemegang izin dengan dokumen matriks baseline dan peta perkembangan kemajuan tambang. AReal penelitian berada pada PT. Singlurus Pratama. Berdasarkan hasil interpretasi visual pada citra, penambahan luas tutupan lahan pada areal PT. Singlurus Pratama terjadi pada klasifikasi tanah terbuka campur semak dengan luas 256,35 ha (21,35 %). Sedangkan pengurangan luas tutupan lahan pada PT. Singlurus Pratama dengan luas sebesar 961.07 ha (80,04%). Berdasarkan hasil analisis perubahan tutupan lahan dan matriks baseline luas reklamasi dan revegetasi sebesar 322,29 ha(26,85%) dan 327,29 ha (27,26%
POTENSI LIMBAH KOTORAN WALET SEBAGAI PENYEDIA UNSUR HARA MAKRO PADA BIBIT TANAMAN PERKEBUNAN
Budidaya walet di Kalimantan Timur berkembang semakin pesat, hal ini berdampak pada peningkatan jumlah limbah kotoran walet dalam jumlah yang cukup besar. Limbah kotoran walet yang tidak dikelola dengan baik berpotensi mencemari lingkungan. Di sisi lain, sektor pertanian khususnya budidaya kopi Arabika (Coffea arabica L) membutuhkan solusi pupuk organik yang berkelanjutan untuk meningkatkan produktivitas. Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji potensi limbah kotoran walet sebagai pupuk organik dalam mendukung pertumbuhan bibit kopi Arabika (Coffea arabica L). Seiring dengan meningkatnya industri budidaya walet di Kalimantan Timur, limbah kotoran walet yang dihasilkan memerlukan pengelolaan yang tepat agar tidak mencemari lingkungan dan dapat memberikan manfaat ekonomi. Rancangan Acak Kelompok (RAK) digunakan dengan empat perlakuan dosis pupuk kotoran walet: K0 (kontrol), K1 (100 g/polybag), K2 (200 g/polybag), dan K3 (300 g/polybag). Hasil laboratorium menunjukkan bahwa kotoran walet mengandung nitrogen tinggi (7,78%), karbon organik (27,53%), dan rasio C/N sangat rendah (3,54), di bawah standar ideal. Bokashi hasil fermentasi menunjukkan peningkatan nitrogen (11,07%) namun rasio C/N menurun menjadi 2,79. Hasil penelitian juga menunjukkan bahwa dosis K3 memberikan pengaruh sangat nyata terhadap pertumbuhan tinggi tanaman kopi Arabika pada 60 dan 90 HST, namun tidak berpengaruh signifikan terhadap jumlah daun dan diameter batang. Rendahnya rasio C/N diduga menjadi salah satu penyebab terbatasnya efektivitas pupuk terhadap parameter lainnya.
PENGARUH CASGOT LARVA BLACK SOLDIER FLY (BSF) SEBAGAI MEDIA TANAM TERHADAP PERTUMBUHAN BIBIT KOPI ROBUSTA (Coffea robusta)
PENGARUH CASGOT LARVA BLACK SOLDIER FLY (BSF) SEBAGAI MEDIA TANAM TERHADAP PERTUMBUHAN BIBIT KOPI ROBUSTA (Coffea robusta). Kotoran larva maggot merupakan residu hasil biokonversi limbah organik dari larva Black soldier fly (BSF). Kotoran larva BSF berkontribusi dalam meningkatkan kemampuan tanah untuk menahan air dan udara, serta meningkatkan retensi nutrisi. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui kandungan dan takaran pupuk organik limbah maggot yang sesuai untuk pertumbuhan bibit Kopi Robusta (Coffea robusta). Kopi Robusta merupakan salah satu komoditas yang memiliki nilai ekonomi yang tinggi. Salah satu kendala dalam pertumbuhan bibit kopi Robusta (Coffea robusta) secara generatif adalah tumbuhnya lambat, kemungkinan diakibatkan karena unsur hara yang terkandung dalam media tanam kurang optimal dan juga benih kopi memiliki kulit biji yang keras. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh interaksi antara media tanam dari kotoran maggot dan takaran pupuk kotoran maggot berapakah yang memberikan pengaruh paling baik terhadap pertumbuhan benih kopi robusta. Metode yang digunakan dalam percobaan adalah Rancangan Acak Kelompok (RAK) yang terdiri dari 6 perlakuan dan diulang sebanyak 4 kali sehingga terdapat 24 petak unit percobaan. Hasil penelitian menunjukkan perlakuan komposisi media tanam yang berpengaruh nyata terhadap pertumbuhan bibit kopi Robusta (Coffea robusta) yaitu pada perlakuan media kotoran larva BSF dan tanah (1:1) dan perlakuan kotoran larva BSF, tanah dan arang sekam (1:1:1) yang memberikan peningkatan pada parameter diameter batang tanaman, jumlah daun, dan tinggi tanaman
The Effect of Areca Nut Husk Compost and Urea Fertilizer on the Growth of Areca Nut (Areca catechu L.) Seedlings in Peat Soil Media
The growth of areca nut (Areca catechu L.) seedlings in peat soil media often faces challenges due to the low nutrient content and less favorable chemical properties of the soil. This study aims to analyze the effect of applying areca nut husk compost and urea fertilizer on the growth of areca nut seedlings in peat soil media. The research was conducted using a factorial randomized complete block design (RCBD) with two factors. The first factor was the dosage of compost (K) with five levels: 0, 0.25, 0.50, 0.75, and 1 kg. The second factor was the dosage of urea fertilizer (N) with four levels: 0.0, 1.5, 3.0, and 4.5 g. The results showed no interaction between the application of areca nut husk compost and urea fertilizer on plant height, stem diameter, and the number of leaves. However, the independent effect of areca nut husk compost significantly influenced the increase in height, stem base diameter, and the number of leaves in areca nut seedlings. Urea fertilizer had a significant effect on the increase in plant height and stem base diameter but did not significantly affect the increase in the number of leaves. The best application dosage for areca nut husk compost was 1 kg, which resulted in the greatest increase in plant height, stem diameter, and the number of leaves. The best urea fertilizer dosage for plant height increase was 4.5 g, while a dosage of 3 g produced the best increase in stem base diameter
PEMETAAN RENCANA TATA RUANG DESA SECARA PARTISIPATIF DI DESA JONGGON JAYA KABUPATEN KUTAI KARTANEGARA
Pertumbuhan jumlah penduduk pada suatu wilayah dari tahun ke tahun akan terus meningkat dengan cukup signifikan hal tersebut membuat kebutuhan akan lahan dan alih fungsi lahan akan terus meningkat. Penelitian ini bertujuan untuk memetakan tutupan lahan eksisting, dan memetakan pola ruang di Desa Jonggon Jaya. Adapun analisis atau metode yang digunakan pada penelitian ini yaitu dengan dilakukannya diskusi secara pasif ataupun aktif dengan melakukan komunikasi dua arah. Dimana pada kegiatan ini fasilitator meminta pandangan dan masukan terkait draft rencana tata ruang wilayah Desa hasil penyusunan peneliti, dari Masyarakat dan Pemerintah Desa Terdapat 30 kelas tutupan Lahan di Desa Jonggon Jaya yang seluas 10.515,82 ha. Adapun tutupan lahan yang paling dominan dalam fungsi kawasan areal penggunaan lain ialah hutan sekunder lahan rendah, kerapatan sedang seluas 1.192,42 ha dikarenakan masyarakat memiliki lahan yang luas namun dengan kemampuan yang terbatas, sehingga banyak lahan yang tidak tergarap, sedangkan tutupan lahan yang dominan pada fungsi kawasan hutan produksi ialah hutan eukaliptus, dikarenakan terdapat kawasan hutan yang merupakan ijin Hutan Tanaman Industri. Rencana tata ruang Desa Jonggon Jaya, terbagi dalam 2 kawasan yaitu kawasan budidaya kehutanan dan kawasan non kehutanan. Rencana tata ruang Desa Jonggon Jaya, terdapat 19 pola. Pola ruang yang dominan pada fungsi kawasan areal penggunaan lain ialah perkebunan dengan persentase 27,00% yang sebagian besar dimiliki oleh perusahaan dan pola ruang yang dominan pada fungsi kawasan hutan produksi ialah kawasan budidaya kehutanan dengan persentase 48,68% yang sebagian besar dimiliki oleh Perusahaan