1,721,327 research outputs found
Kahlil gibran di indonesia
Di antara kesimpulannya, ada lima hal yang dapat dipelajari dari kahlil gibran. Pertama, kahlil gibran menekankan kecintaan kepada tuhan, lebih dari sekadar ritual keagamaan. Kedua, mencintai tanahair tanpa membenci negara lain. Ketiga, mencintai keluarga secara benar, dengan hubungan yang tulus antara anak dan orangtua serta sebaliknya. Keempat, mencintai lingkungan hidup, termasuk kebudayaan dan sejarah yang membentuk peradaban. Dan kelima, yang paling penting menurut fuad hassan adalah mencintai kemanusiaan secara universal.xvi, 175 hlm, 20,9 x 14 c
Kahlil gibran di indonesia
Di antara kesimpulannya, ada lima hal yang dapat dipelajari dari kahlil gibran. Pertama, kahlil gibran menekankan kecintaan kepada tuhan, lebih dari sekadar ritual keagamaan. Kedua, mencintai tanahair tanpa membenci negara lain. Ketiga, mencintai keluarga secara benar, dengan hubungan yang tulus antara anak dan orangtua serta sebaliknya. Keempat, mencintai lingkungan hidup, termasuk kebudayaan dan sejarah yang membentuk peradaban. Dan kelima, yang paling penting menurut fuad hassan adalah mencintai kemanusiaan secara universal.xvi, 175 hlm, 20,9 x 14 c
Kemanusiaan menurut Kahlil Gibran: tinjauan spiritualitas Islam
Skripsi yang berjudul "Kemanusiaan Menurut Kahlil Gibran: Tinjauan Spiritualitas Islam" ini, tergolong dalam jenis penelitian library research (kepustakaan). Mengenai permasalahan yang menjadi bahasan dalam skripsi ini antara lain: (1) konsepsi Kahlil Gibran tentang kemanusiaan? (2) faktor-faktor yang mempengaruhi Kahlil Gibran terhadap kemanusiaan? (3) relevansi pemikiran Kahlil Gibran terhadap problematika kemanusiaan abad ke-21 dan tinjauan kemanusiaannya dalam spiritualitas Islam? Pendekatan yang diterapkan pada penelitian ini, yakni pendekatan kualitatif dan pendekatan sejarah intelektual. Sedangkan metode penelitian yang digunakan ialah, metode analisis isi konten (kajian isi). Lalu perihal teori yang menguatkan penelitian ini, diantaranya (1) teori ekspresif (sastra) (2) teori nilai humanisme atau kemanusiaan (3) teori spirituality 2.o (4) teori spiritualitas Islam dan (5) teori tasawuf. Kesimpulan dari penelitian ini adalah, konsepsi kemanusiaan Kahlil Gibran mendapatkan banyak variasi yang berguna di tiap nilai kemanusiaan. Sedangkan faktor atau inspirasi yang merangkai pemikiran Kahlil Gibran guna membentuk spesialisasinya dalam berkarya, antara lain problematika konflik Lebanon, pergi ke Amerika dan perpaduan Timur-Barat, orang-tua, agama, alam serta kisah cinta. Lalu relevansi pemikiran Kahlil Gibran dalam menjawab peoblematika kemanusiaan abad-21 dengan fenomena yang menghiasinya, yakni keterasingan, yang mana juga telah melemparkan dua dampak, yakni lenyapnya tonggak struktur sosial dan pemburaman makna hidup, bahwa Kahlil Gibran pun mampu memfasilitasinya dengan perbaikan di tiap persoalannya. Kemudian nilai kemanusiaan yang berada pada tinjauan spiritualitas Islam, ialah hurriyah (kebebasan) dan zuhud (menjauh dari nikmat dunia) untuk kebebasan. Wara' (meninggalkan kesamaran) selaras dengan kerjasama. Futuwwah (dermawan) sejalah dengan rela berkorban, tolong menolong dan peduli. Terakhir, istiqamah (sikap lurus) senada dengan solidaritas
The 'Blue Flame': An 'Elliptical' Interaction between Kahlil Gibran and Rabindranath Tagore
This paper focuses on certain aporias in the life and works of a Lebanese American writer, Kahlil Gibran, that reveal his idiosyncratic interest in and preoccupation with India, neither his native nor his adopted country. It also charts out the 'elliptical' connection that this Lebanese immigrant forged with the Indian Nobel laureate, Rabindranath Tagore. A "belated" (Behdad 1) reading of these aspects opens up the possibility of critiquing Gibran's life and writings through the theoretical framework of Nico Israel's "outlandish"-ness (ix), a state that exists between, as Israel has stated, "exilic emplacement" and "diasporic self-fashioning" (16-17). This kind of "reading behind" (Behdad 4) rewrites "a kind of philosophical décalage" (2) that ruptures existing West-centric discourses by destabilizing and displacing them through "other locations…other trajectories of subjectivity, and...forms of knowledge" (Behdad 1). My critiquing of Gibran's life and texts, in this manner, show how his sense of identity, generated out of trans-cultural and transnational spaces, not only engenders a counter discursive practice to the West-centric politics of exclusion but also tries to rescue non-Western writers, and their literatures, from the "anamnesiac order" (Behdad 3) of such politics
Nilai-nilai Tasawuf dalam Kumpulan Puisi Karya Kahlil Gibran
Penelitian ini bertujuan mengkaji lebih dalam nilai-nilai tasawuf dalam kumpulan puisi karya Kahlil Gibran. Hal ini dikarenakan puisi-puisi Kahlil Gibran diduga kuat mengandung nilai-nilai tasawuf meskipun ia bukan seorang muslim. Penelitian ini merupakan penelitian kepustakaan (Libarry Research). Sumber data dalam penelitian berupa primer dan sekunder. Data primer diambil dari tiga puisi Kahlil Gibran dalam buku yang berjudul Setitis Air Mata Seulas Senyum. Sementara data sekunder meliputi dokumentasi berupa buku dan artikel yang berkaitan dengan penelitian. Pengumpulan data dilakukan dengan cara mendokumentasi karya-karya Kahlil Gibran serta berbagai rujukan referensi lainnya. Adapun analisisnya menggunakan metode analisis pesan atau isi yang terkandung dalam puisi-puisi Kahlil Gibran. Hasil dari penelitan ini menunjukkan bahwa ketiga puisi Kahlil Gibran mengandung dua karakteristik yaitu tasawuf akhlaqi dan falsafi. Hal ini diperkuat lagi dengan ditemukannya sembilan nilai-nilai tasawuf di dalamnya. Nilai-nilai tasawuf tersebut adalah mahabbah, zikir, syukur, tafakur, ridho, taubat, tawakal, ikhtiar, dan ittihad
KONSEP KEBEBASAN MENURUT KAHLIL GIBRAN
Kehidupan antar masyarakat dan antar kelompok yang sudah dilingkupi dengan beberapa peraturan dan hukum sesuai prosedural yang berlaku, dan tentunya dengan kesepakatan bersama. Kehidupan tentang kebebasan secara kemanusiaan, hingga saat ini masih banyak dibatasi dengan adanya peraturan serta hukum yang beberapa masih mengatasnamakan agam dan tradisi. Kebebasan yang hingga saat ini masih sangat sulit untuk digenggam oleh setiap masyarakat, terutama beberapa masyarakat kecil yang masih sangat mudah untuk dipralat oleh para petinggi. Kebebasan yang masih diuasahakan supaya bisa dimiliki oleh setiap orang, dan masih banyak diperbincangkan atas nama kebebasan, untuk bisa menjadi sejajar dalam lingkup manusia, tanpa adanya unsur kepentingan sepihak.
Penelitian ini mempunyai dua rumusan masalah, yaitubagaimana konsep kebebasan dalam pandangan Kahlil Gibran?; bagaimana pemikiran eksistensialisme romantik Kahlil Gibran? Adapun tujuan dari penulisan penelitian ini adalah pertama, untuk mengetahui konsep kebebasan Kahlil Gibran dalam karyanya yang berjudul Sang Nabi dan Jiwa-jiwa Pemberontak. Kedua, untuk mengetahui latar belakang serta pemikiran Kahlil Gibran secara eksistensialis dan romantik.
Penelitian ini menggunakan metode deskriptif kualitatif dengan konsep penelitian sacara pustaka (library reseacrh), dengan pengumpulan data dari beberapa literature yang mendukung, seperti buku, ensiklopedi, jurnal, atikel dan beberapa objek lain terkait pembahasan dalam penelitian. Adapun pengolahan datanya adalah pertama, metode deskripsi, penulis mencoba untuk mendeskripsikan teks secara sistematis. Kedua, metode holistika, penulis menguraikan pemikiran Gibran secara komperehensif. Ketiga, metode interpretasi, yang digunakan untuk memahami teks.
Dari analisis dan metode yang sudah diuraikan, dapat diketahui bahwa konsep kebebasan Kahlil Gibran adalah konsep yang membebaskan kehidupan manusia, baik secara hati, jiwa serta pemikirannya dari bentuk aturan yang dipaksakan dan bebas dari semua bentuk belenggu, baik yang mengatasnamakan tradisi atau kelompok yang menindas jiwa manusia. Kebebasan Gibran juga bertautan dengan pemikiran eksistensialisnya, dalam karyanya banyak membahas tentang kritik sosial serta memiliki pemikiran yang bertitik tekan pada keberadaan manusia dan menekankan persepsinya pada sisi kemanusiaan. Kebebasan yang Gibran kehendaki adalah dengan berkembangnya aliran Gibranisme yang memiliki perkenalan sebagai aliran sastra dan filsafat
Perancangan Tipografi Karya Sastra Kahlil Gibran Pada Buku
Ada banyak cara untuk mengurai permasalah sosial budaya. Salah satunya adalah seni. Seni memiliki mekanismenya sendiri seolah terlepas dari suatu hal yang mainstream. Seni bermuara ke berbagai bidang, salah satunya adalah sastra. Kahlil Gibran adalah salah satu sastrawan yang karyanya syarat dengan realitas sosial budaya. Dari petikan karya sastra Kahlil Gibran ini dicoba untuk diterjemahkan kedalam bahasa rupa yang dalam hal ini yaitu tipografi.
Studi mengenai dasar teori yang terkait dalam perancangan ini meliputi tentang perancangan tipografi, warna, dan komposisi. Selain itu juga tentang kaidah-kaidah sastra khususnya karya-karya Kahlil Gibran melalui literasi yang ada. Seluruh data yang ada dianalisis menggunakan teknik 5W+1H untuk memberikan rangkuman dan jawaban dari perancangan ini.
Perancangan tipografi karya sastra Kahlil Gibran ini tidak hanya sekedar menjadi karya belaka. Makna dari setiap kata-kata Kahlil Gibran yang divisualkan sebentuk karya tipografi sudah barang tentu tidak akan mengubah esensi dari kata-katanya. Hal ini setidaknya menjadi cerminan diri untuk membentuk jiwa yang lembut dan berbudaya
Nilai-Nilai Sufistik Konsep Cinta Kahlil Gibran
Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa cinta menurut Gibran
merupakan suatu pembuktian, penderitaan dan pengorbanan, serta
keinginan mengubah diri. Landasan cinta Kahlil Gibran bahwa cinta
merupakan fitrah dan suatu kebebasan dari materi. Tujuan cinta dalam
pandangan Gibran adalah mencapai kebahagiaan, kedamaian batin dan
mendekatkan diri kepada Tuhan. Penelitian ini menunjukkan bahwa meski
tidak secara langsung pemikiran Kahlil Gibran tentang cinta merujuk pada
ajaran sufi, pemikirannya tentang cinta memiliki kesamaan dengan konsep
cinta dalam tasawuf
Kahlil Gibran di Indonesia
Dulu kita tunduk pada raja, dan patuh pada kaisar. Sekarang kita hanya tunduk pada kebenaran dan patuh kepada cinta. Itulah sepenggal kata Kahlil Gibran yang sering dijadikan semboyan. Tapi itu bukan sekadar semboyan, sejarah menunjukkan, bahwa melalui sastra setiap bangsa membangun negara dan kebudayaannya. Gibran memanfaatkan karya sastra itu agar kita bisa menciptakan negara yang abadi, dan mencintainya setulus hati. Dia mengajak kita tunduk kepada kebenaran dan patuh kepada cinta. Sedangkan kita tahu bahwa kebenaran dan cinta membuka peluang untuk ditafsirkan dan dihidupi secara merdeka. Bagaimana pengaruh ajaran Kahlil Gibran kepada bangsa Indonesia? Apakah sesudah dua generasi membaca karya-karyanya, Indonesia tumbuh menjadi masyarakat yang ideal sebagaimana dicita-citakan Gibran? Inilah yang menjadi pertanyaan utama dan berusaha dijawab oleh 22 orang penulis dalam buku ini
THE ENDURING LEGACY OF KAHLIL GIBRAN
Abstract:This year marks the 128th anniversary of the birth of Kahlil Gibran, who was born in 1883, and died tragically at the early age of 48. Few writers are in a position to speak as directly and resonantly to our times as Gibran was. A man of broad human sympathy for all creation, he held a passionate belief in the unity of mankind. His message of peace and reconciliation is more timely and more sorely needed than ever as relations between Christian, Muslim and Jew, between East and West, become ever more pressing matters of concern.Keywords: Kahlil Gibran, East-West relations, Club of Rome, dialogue for con ict resolution, understanding between cultures and religions, spiritual revolution.Título en español: El duradero legado de Kahlil Gibran.Resumen:Este año marca el 128 aniversario del nacimiento de Kahlil Gibran, nacido en 1883 y fallecido trágicamente a la temprana edad de 48 años. Pocos escritores están en posición de dirigirse tan resonantemente a nuestros tiempos como él. Simpatizaba con toda la creación y creía apasionadamente en la unidad de la humanidad. Su mensaje de paz y reconciliación más oportuno y necesario que nunca en estos tiempos en que las relaciones entre cristianos, musulmanes y judíos, entre oriente y occidente se han convertido en grandes materias de preocupación.Palabras clave: Kahlil Gibran, relaciones oriente-occidente, Club de Roma, diálogo para resolución de conflictos, entendimiento entre culturas y religiones, revolución espiritual.</jats:p
- …
