33 research outputs found

    Pengaruh konsentrasi paclobutrazol terhadap perbanyakan tunas dan biji dahlia (Dahlia sp.) varietas pompon secara in vitro

    Full text link
    Tujuan penelitian ini untuk mengetahui pengaruh pemberian konsentrasi paclobutrazol terhadap perbanyakan tunas dan biji dahlia. Penelitian ini dilaksanakan di Laboratorium Kultur Jaringan Agroteknologi Universitas Islam Negeri Sunan Gunung Djati Bandung, dari Mei sampai dengan Juli 2012. Metode yang digunakan adalah Rancangan Acak Lengkap (RAL) pola faktorial yang terdiri dari dua faktor. Konsentrasi paclobutrazol merupakan faktor pertama yang terdiri dari empat taraf yaitu 0 mg/L (P0), 1 mg/L (P1), 3 mg/L (P2), dan 5 mg/L (P3). taraf kedua terdiri dari dua taraf, yaitu biji (E1) dan tunas (E2). Pengujian lanjut dilakukan dengan uji lanjut jarak berganda Duncan 5%. Hasil penelitian menunjukkan adanya interaksi antara konsentrasi paclobutrazol dengan jenis eksplan pada parameter jumlah tunas, jumlah daun dan tinggi tanaman, dan pengaruh mandiri pada parameter jumlah akar. Paclobutrazol dengan konsentrasi 1 mg/L dan 3 mg/L memberikan pengaruh lebih baik dari konsentrasi 5 mg/L terhadap tinggi tanaman, jumlah tunas, jumlah daun dan jumlah akar. Sementara untuk konsentrasi paclobutrazol 5 mg/L berpengaruh terhadap warna daun dan ketegaran batang. Eksplan biji lebih cepat tumbuh dibandingkan dengan eksplan tunas

    Keberhasilan Persilangan Padi Beras Putih dan Padi Beras Hitam (Oryza sativa L.)

    No full text
    Padi beras hitam merupakan salah satu pangan fungsional yang didalamnya kaya akan antosianin yang berfungsi sebagai antioksidan. Perakitan padi hitam sebagai pangan fungsional menjadi salah satu terobosan dalam menghasilkan calon varietas unggul baru padi hitam. Padi hitam memiliki kelemahan salah satunya adalah umur panen yang dalam. Pembentukan keragaman genetik padi dilakukan dengan melakukan persilangan buatan (hibridisasi). Penelitian ini dilaksanakan pada bulan April - September 2019 di screen house Fakultas Pertanian Universitas Perjuangan Tasikmalaya. Metode yang digunakan adalah dengan teknik persilangan secara single cross antara tetua betina padi beras putih dan tetua jantan padi beras hitam. Bahan yang digunakan adalah 8 aksesi padi beras hitam (PH1, PH2, PH3, PH4, PH5, PH6, PH7, dan PH8) sebagai tetua betina, dan varietas unggul Inpari13, Inpari18, dan Inpari19 sebagai tetua jantan. Setiap genotipe ditanam sebanyak 4 tanaman diulang 3 kali. Setiap ulangan ditanam dengan perbedaan waktu 7 hari agar bunga betina dan bunga jantan dapat tersedia di waktu yang sama. Hasil menunjukkan bahwa persentase keberhasilan persilangan tertinggi terdapat pada persilangan tetua Inpari19 X aksesi padi hitam. Set persilangan Inpari19 XPH3 memiliki jumlah gabah isi terbanyak rata-rata 35 butir dengan persentase keberhasilan persilangan tertinggi sebesar 35% dibandingkan dengan set persilangan lainnya. Karakter warna menunjukkan seluruh set persilangan menghasilkan warna coklat muda. Kata kunci: antioksidan, antosianin, hibridisasi, padi beras hitam, single crossPadi beras hitam merupakan salah satu pangan fungsional yang didalamnya kaya akan antosianin yang berfungsi sebagai antioksidan. Perakitan padi hitam sebagai pangan fungsional menjadi salah satu terobosan dalam menghasilkan calon varietas unggul baru padi hitam. Padi hitam memiliki kelemahan salah satunya adalah umur panen yang dalam. Pembentukan keragaman genetik padi dilakukan dengan melakukan persilangan buatan (hibridisasi). Penelitian ini dilaksanakan pada bulan April - September 2019 di screen house Fakultas Pertanian Universitas Perjuangan Tasikmalaya. Metode yang digunakan adalah dengan teknik persilangan secara single cross antara tetua betina padi beras putih dan tetua jantan padi beras hitam. Bahan yang digunakan adalah 8 aksesi padi beras hitam (PH1, PH2, PH3, PH4, PH5, PH6, PH7, dan PH8) sebagai tetua betina, dan varietas unggul Inpari13, Inpari18, dan Inpari19 sebagai tetua jantan. Setiap genotipe ditanam sebanyak 4 tanaman diulang 3 kali. Setiap ulangan ditanam dengan perbedaan waktu 7 hari agar bunga betina dan bunga jantan dapat tersedia di waktu yang sama. Hasil menunjukkan bahwa persentase keberhasilan persilangan tertinggi terdapat pada persilangan tetua Inpari19 X aksesi padi hitam. Set persilangan Inpari19 XPH3 memiliki jumlah gabah isi terbanyak rata-rata 35 butir dengan persentase keberhasilan persilangan tertinggi sebesar 35% dibandingkan dengan set persilangan lainnya. Karakter warna menunjukkan seluruh set persilangan menghasilkan warna coklat muda. Kata kunci: antioksidan, antosianin, hibridisasi, padi beras hitam, single cros

    Respons karakteristik agronomi, fisiologi, dan biokimia padi (Oryza sativaL.) tercekam salinitas dengan umur bibit berbeda

    Full text link
    Introduction: Salinity is a major constraint in rice crop production through inhibiting the absorption of water and minerals. The seedling age optimally can increase the adaptability of plants under saline conditions. The objective of this study was to examine the agronomic, physiological, and biochemical responses of rice under saline conditions using the different seed age to determine their adaptability to the abiotic stress. Methods: The study used a CRD non-factorial, there is seedling age with three levels including 21, 28, and 35 days after sowing (DAS). The study used rice cv. Banyuasin and salinity stress given is NaCl with the concentration 8 dS m-1. The addition of NaCl when the plants were 12 and 54 days after planting (DAP). Results: The different seed age planted under saline conditions significantly affects to agronomic and physiological characteristics as indicated by shoot dry weight, plant biomass, and chlorophyll content. The different seed age planted under saline conditions significantly affects biochemical characteristics as indicated by proline content and nitrate reductase activity. The rice seedling age of 21 DAS produced the highest biomass and shoot dry weight, the rice seedling age of 28 DAS produced the highest chlorophyll content and nitrate reductase activity, and the rice seedling age of 35 DAS produced the highest proline content. Conclusion: The older rice seedling (35 DAS) increased the higher proline content, while the younger rice seedling (21 DAS) increased the shoot dry weight and plant biomass. In addition, rice seedlings (28 DAS) produced the highest chlorophyll content and nitrate reductase activity

    Tingkat Pencoklatan Eksplan Salak Unggul Harapan Baru Asal Tasikmalaya

    No full text
    Jenis tanaman salak yang baru saja ditemukan oleh tim peneliti dari UNPAD diduga merupakanturunan dari salak manonjaya yang telah banyak dikenal sebagai salak asal Tasikmalaya. Perbanyakansalak pada umumnya menggunakan stek, namun untuk salak baru ini telah dilakukan penelitian denganstek dan belum berhasil. Sehingga perlu adanya teknik perbanyakan lain yang mampu memperbanyakbibit tanaman salak baru ini. Teknik perbanyakan lain yang dapat dilakukan adalah kulturin vitro.Namun pada kultur invitro masih memiliki kendala pada kondisi ekplan yang sering mengalamipencoklatan. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui tingkat pencoklatan eksplan tanaman salak.Penelitian dilaksanakan di Laboratorium Kultur Jaringan Agroteknologi UIN Sunan Gunung DjatiBandung, pada bulan Agustus – Oktober 2018. Metode yang digunakan yaitu RAL Faktorial dengan 3ulangan. Perlakuan menggunakan berbagai konsentrasi BAP dan 2,4-D. Hasil inisiasi eksplan salakmenunjukkan bahwa tingkat pencoklatan eksplan salak sangat tinggi. Dari hasil uji lanjut anova pada 3MSI pemberian BAP dan 2,4-D berpengaruh nyata terhadap pencoklatan. Sementara untuk eksplan yangmengalami pembengkakan (kalus) hanya 12% yaitu pada eksplan dengan konsentrasi BAP 1,5 mg/L dan2,4-D 40 mg/L. Kata kunci : 2,4-D, BAP, in vitro, pencoklatan, sala

    Tingkat Pencoklatan Eksplan Salak Unggul Harapan Baru Asal Tasikmalaya

    No full text
    Jenis tanaman salak yang baru saja ditemukan oleh tim peneliti dari UNPAD diduga merupakanturunan dari salak manonjaya yang telah banyak dikenal sebagai salak asal Tasikmalaya. Perbanyakansalak pada umumnya menggunakan stek, namun untuk salak baru ini telah dilakukan penelitian denganstek dan belum berhasil. Sehingga perlu adanya teknik perbanyakan lain yang mampu memperbanyakbibit tanaman salak baru ini. Teknik perbanyakan lain yang dapat dilakukan adalah kulturin vitro.Namun pada kultur invitro masih memiliki kendala pada kondisi ekplan yang sering mengalamipencoklatan. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui tingkat pencoklatan eksplan tanaman salak.Penelitian dilaksanakan di Laboratorium Kultur Jaringan Agroteknologi UIN Sunan Gunung DjatiBandung, pada bulan Agustus – Oktober 2018. Metode yang digunakan yaitu RAL Faktorial dengan 3ulangan. Perlakuan menggunakan berbagai konsentrasi BAP dan 2,4-D. Hasil inisiasi eksplan salakmenunjukkan bahwa tingkat pencoklatan eksplan salak sangat tinggi. Dari hasil uji lanjut anova pada 3MSI pemberian BAP dan 2,4-D berpengaruh nyata terhadap pencoklatan. Sementara untuk eksplan yangmengalami pembengkakan (kalus) hanya 12% yaitu pada eksplan dengan konsentrasi BAP 1,5 mg/L dan2,4-D 40 mg/L. Kata kunci : 2,4-D, BAP, in vitro, pencoklatan, sala

    Pengaruh aplikasi ekstrak kasar daun Sphagneticola trilobata terhadap pertumbuhan dan perkembangan larva Spodoptera litura

    Full text link
    Spodoptera litura merupakan serangga polifag yang menyerang banyak komoditas tanaman budidaya. Pengendalian dengan menggunakan insektisida nabati merupakan upaya yang dilakukan untuk meminimalkan dampak negatif penggunaan insektisida kimia sintetik. Tumbuhan S. trilobata diketahui memiliki potensi untuk dijadikan sebagai insektisida nabati untuk mengendalikan S. litura. Aktivitas insektisida tidak hanya ditunjukkan oleh tingkat mortalitas dan penghambatan makan, suatu ekstrak tumbuhan dapat pula memengaruhi pertumbuhan dan perkembangan dari serangga sasaran sehingga dapat dikembangkan menjadi insektisida nabati. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui pengaruh aplikasi ekstrak kasar daun S. trilobata terhadap pertumbuhan dan perkembangan larva S. litura. Penelitian terdiri dari tahap pemeliharaan serangga, ekstraksi bagian tumbuhan, dan uji hayati serta analisis fitokimia. Hasil penelitian menunjukkan ekstrak kasar daun S. trilobata yang diaplikasikan memengaruhi pertumbuhan dan perkembangan larva S. litura namun tidak memengaruhi ukuran panjang dan berat pupa yang terbentuk. Hasil analisis fitokimia menunjukkan ekstrak daun S. trilobata mengandung beberapa senyawa metabolit sekunder diantaranya alkaloid, triterpenoid, steroid, flavonoid, tanin dan saponin.                                                                 ABSTRACTSpodoptera litura is a polyphagous insect that attacks many commodities of crops. Control using plant-based insecticides is an effort made to minimize the negative effects of using synthetic insecticides. S. trilobata plant is known to have potential as plant-based insecticides to control S. litura. The effectiveness of an insecticide is not only demonstrated by the level of mortality and feeding inhibition activity, a plant extract can also affect the growth and development of the target insect so that it can be developed into a botanical insecticide. The purpose of this study was to determine the effect of S. trilobata leaf crude extract application on growth and development of S. litura larva.  The study stages consisted of insect rearing, extraction of plant parts, bioassay and phytochemical screening. The results showed that S. trilobata leaf extract which was applied affected the growth and development of S. litura larvae but did not affect the length and weight of the pupae formed. The results of phytochemical analysis showed that S. trilobata leaf extract contained several secondary metabolite compounds including alkaloids, triterpenoids, steroids, flavonoids, tannins and saponins

    Pengaruh aplikasi ekstrak kasar daun Sphagneticola trilobata terhadap pertumbuhan dan perkembangan larva Spodoptera litura

    Full text link
    Spodoptera litura merupakan serangga polifag yang menyerang banyak komoditas tanaman budidaya. Pengendalian dengan menggunakan insektisida nabati merupakan upaya yang dilakukan untuk meminimalkan dampak negatif penggunaan insektisida kimia sintetik. Tumbuhan S. trilobata diketahui memiliki potensi untuk dijadikan sebagai insektisida nabati untuk mengendalikan S. litura. Aktivitas insektisida tidak hanya ditunjukkan oleh tingkat mortalitas dan penghambatan makan, suatu ekstrak tumbuhan dapat pula memengaruhi pertumbuhan dan perkembangan dari serangga sasaran sehingga dapat dikembangkan menjadi insektisida nabati. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui pengaruh aplikasi ekstrak kasar daun S. trilobata terhadap pertumbuhan dan perkembangan larva S. litura. Penelitian terdiri dari tahap pemeliharaan serangga, ekstraksi bagian tumbuhan, dan uji hayati serta analisis fitokimia. Hasil penelitian menunjukkan ekstrak kasar daun S. trilobata yang diaplikasikan memengaruhi pertumbuhan dan perkembangan larva S. litura namun tidak memengaruhi ukuran panjang dan berat pupa yang terbentuk. Hasil analisis fitokimia menunjukkan ekstrak daun S. trilobata mengandung beberapa senyawa metabolit sekunder diantaranya alkaloid, triterpenoid, steroid, flavonoid, tanin dan saponin.                                                                 ABSTRACTSpodoptera litura is a polyphagous insect that attacks many commodities of crops. Control using plant-based insecticides is an effort made to minimize the negative effects of using synthetic insecticides. S. trilobata plant is known to have potential as plant-based insecticides to control S. litura. The effectiveness of an insecticide is not only demonstrated by the level of mortality and feeding inhibition activity, a plant extract can also affect the growth and development of the target insect so that it can be developed into a botanical insecticide. The purpose of this study was to determine the effect of S. trilobata leaf crude extract application on growth and development of S. litura larva.  The study stages consisted of insect rearing, extraction of plant parts, bioassay and phytochemical screening. The results showed that S. trilobata leaf extract which was applied affected the growth and development of S. litura larvae but did not affect the length and weight of the pupae formed. The results of phytochemical analysis showed that S. trilobata leaf extract contained several secondary metabolite compounds including alkaloids, triterpenoids, steroids, flavonoids, tannins and saponins

    Study of Growth and Production of Tomato Cultivars In Response to Fruit Thinning at Tamansari, Tasikmalaya, West Java, Indonesia

    Full text link
    Tomato is a horticultural crop that is widely cultivated in Indonesia because of its multipurpose uses. The prospect of marketing tomatoes is quite promising for local, national and export markets. The demand of tomato consumption has been increasing, but has not been supported by the availability of quality and quantity production. The area for tomato production has even been decreasing, especially in West Java, Indonesia. One of the causes of the low tomato production in Indonesia is due to the unavailability of superior varieties at the farm level, and very limited information on suitable farming technology. In addition, farmers have difficulty meeting supermarket and export standards because of the mismatch of the quality required by the market and the quality of the products. Efforts that can be made to improve the quality of tomato fruits includes the use superior varieties, and to apply better management of crop production. This study aims to determine the tomato variety which is suitable and high yielding to grow in Tamansari sub-district, Tasikmalaya, West Java, Indonesia, and to understand the effects of thinning fruit on tomato production. The study was carried out from August to November 2018 in Taman Sari, Tasikmalaya City, in a completely randomized design with tomato variety and fruit thinning as the treatments. The study used three tomato cultivars, “Betavila”, “Tymoti”, “Martha”. The levels of fruit thinning tested were 15%, 25%, and without fruit thinning as control. The results demonstrated that the choice of tomato variety and fruit thinning had very significant effects on the yield component of tomato. “Marta” is one of the suitable varieties suggested to be cultivated in the area in Tasikmalaya, and fruit thinning at 25% gave the highest fruit yield

    Pertumbuhan dan Produksi Dua Jenis Sawi Menggunakan Perbedaan Nutrisi Secara Aeroponik

    No full text
    Consumer demand for mustard needs in Indonesia is increasing. Efforts to produce mustard greens use an aeroponic system to utilize nutrients in dosage and type correctly. The study aimed to determine the proper type of nutrition for the growth and production of two mustard greens in an aeroponic system. This study used a completely randomized design with two factors. The first factor is the type of mustard which consists of two levels, namely pakcoy and pagoda. The second factor to consider is the nutrition applied at three different levels: AB mix, liquid organic fertilizer, and foliar fertilizer. Mustard greens grew and produced significantly differently when grown in an aeroponics system. Other nutrients greatly affected all observed variables, including plant height, leaf number, leaf color, root length, fresh plant weight, and dry plant weight. The use of pakcoy mustard provides the best growth and production of mustard greens compared to pagoda-type mustard. Giving AB mix nutrition to mustard greens can provide the best growth and production compared to nutrition from liquid organic fertilizers and foliar fertilizers. The AB mix nutritional treatment with pakcoy mustard produced the best results in plant height, leaf number, wet weight, dry weight, and root length. AB mix nutritional showing the best leaf color variable with pagoda mustard greens

    Keberhasilan Persilangan Padi Beras Putih dan Padi Beras Hitam (Oryza sativa L.)

    No full text
    Padi beras hitam merupakan salah satu pangan fungsional yang didalamnya kaya akan antosianin yang berfungsi sebagai antioksidan. Perakitan padi hitam sebagai pangan fungsional menjadi salah satu terobosan dalam menghasilkan calon varietas unggul baru padi hitam. Padi hitam memiliki kelemahan salah satunya adalah umur panen yang dalam. Pembentukan keragaman genetik padi dilakukan dengan melakukan persilangan buatan (hibridisasi). Penelitian ini dilaksanakan pada bulan April - September 2019 di screen house Fakultas Pertanian Universitas Perjuangan Tasikmalaya. Metode yang digunakan adalah dengan teknik persilangan secara single cross antara tetua betina padi beras putih dan tetua jantan padi beras hitam. Bahan yang digunakan adalah 8 aksesi padi beras hitam (PH1, PH2, PH3, PH4, PH5, PH6, PH7, dan PH8) sebagai tetua betina, dan varietas unggul Inpari13, Inpari18, dan Inpari19 sebagai tetua jantan. Setiap genotipe ditanam sebanyak 4 tanaman diulang 3 kali. Setiap ulangan ditanam dengan perbedaan waktu 7 hari agar bunga betina dan bunga jantan dapat tersedia di waktu yang sama. Hasil menunjukkan bahwa persentase keberhasilan persilangan tertinggi terdapat pada persilangan tetua Inpari19 X aksesi padi hitam. Set persilangan Inpari19 XPH3 memiliki jumlah gabah isi terbanyak rata-rata 35 butir dengan persentase keberhasilan persilangan tertinggi sebesar 35% dibandingkan dengan set persilangan lainnya. Karakter warna menunjukkan seluruh set persilangan menghasilkan warna coklat muda. Kata kunci: antioksidan, antosianin, hibridisasi, padi beras hitam, single crossPadi beras hitam merupakan salah satu pangan fungsional yang didalamnya kaya akan antosianin yang berfungsi sebagai antioksidan. Perakitan padi hitam sebagai pangan fungsional menjadi salah satu terobosan dalam menghasilkan calon varietas unggul baru padi hitam. Padi hitam memiliki kelemahan salah satunya adalah umur panen yang dalam. Pembentukan keragaman genetik padi dilakukan dengan melakukan persilangan buatan (hibridisasi). Penelitian ini dilaksanakan pada bulan April - September 2019 di screen house Fakultas Pertanian Universitas Perjuangan Tasikmalaya. Metode yang digunakan adalah dengan teknik persilangan secara single cross antara tetua betina padi beras putih dan tetua jantan padi beras hitam. Bahan yang digunakan adalah 8 aksesi padi beras hitam (PH1, PH2, PH3, PH4, PH5, PH6, PH7, dan PH8) sebagai tetua betina, dan varietas unggul Inpari13, Inpari18, dan Inpari19 sebagai tetua jantan. Setiap genotipe ditanam sebanyak 4 tanaman diulang 3 kali. Setiap ulangan ditanam dengan perbedaan waktu 7 hari agar bunga betina dan bunga jantan dapat tersedia di waktu yang sama. Hasil menunjukkan bahwa persentase keberhasilan persilangan tertinggi terdapat pada persilangan tetua Inpari19 X aksesi padi hitam. Set persilangan Inpari19 XPH3 memiliki jumlah gabah isi terbanyak rata-rata 35 butir dengan persentase keberhasilan persilangan tertinggi sebesar 35% dibandingkan dengan set persilangan lainnya. Karakter warna menunjukkan seluruh set persilangan menghasilkan warna coklat muda. Kata kunci: antioksidan, antosianin, hibridisasi, padi beras hitam, single cros
    corecore