Jurnal Agro
Not a member yet
    217 research outputs found

    Kajian pengaruh iradiasi gamma cobalt-60 terhadap tanaman kapulaga jawa (Amomum compactum)

    Full text link
    Javanese cardamom plants are mostly propagated vegetatively using its rhizome. Therefore, the genetic variability is quite low so that the variability needs to be enhanced, one of them is by gamma irradiation. The objectives were to reveal the optimal dose (LD20 and LD50) of gamma irradiation on Java cardamom seedlings and to assess the performance of seedlings post irradiation. The experiment was arranged in randomized complete block design with 6 replications. Gamma ray used were 0, 25, 50, 75, 100, 125, 150, 175, 200, 225, 250, 275 and 300 Gy. Survival rate, quantitative and qualitative observation of plant growth were conducted. Irradiation was conducted on mature plant. Result showed the LD20 and LD50 values were 55,89 Gy and 100,75 Gy. Seedling showed necrosis on leaves and stem area after irradiation especially in high gamma ray doses. Until 25 weeks after irradiation, plants irradiated with 50 Gy and 100 Gy produced 16.7% new shoots, but their development was very slow. Control plants produced 5.2 new shoots with good agronomic appearance and 67% produced flowers at 25 weeks after irradiation. Furthermore, the irradiation dose for cardamom cultivation needs to be optimized in the range of 50-100 Gy by using younger plant material. ABSTRAK Tanaman kapulaga jawa sebagian besar diperbanyak secara vegetatif dengan menggunakan rimpangnya. Oleh karena itu, variabilitas genetiknya cukup rendah sehingga variabilitas tersebut perlu ditingkatkan, salah satunya dengan iradiasi sinar gamma. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui dosis optimal (LD20 dan LD50) iradiasi gamma pada bibit kapulaga Jawa dan menilai keragaan bibit kapulaga pasca iradiasi gamma. Percobaan menggunakan rancangan kelompok lengkap teracak dengan 6 ulangan. Iradiasi sinar gamma digunakan adalah 0, 25, 50, 75, 100, 125, 150, 175, 200, 225, 250, 275 dan 300 Gy. Tingkat kelangsungan hidup, pengamatan kuantitatif dan kualitatif pertumbuhan tanaman dilakukan. Iradiasi dilakukan pada tanaman dewasa. Hasil menunjukkan nilai LD20 dan LD50 sebesar 55,89 Gy dan 100,75 Gy. Bibit menunjukkan nekrosis pada area daun dan batang setelah penyinaran terutama pada dosis sinar gamma tinggi. Sampai umur 25 minggu setelah iradiasi (MSI), tanaman yang diiradiasi 50 Gy dan 100 Gy menghasilkan 16,7% tunas baru, namun perkembangannya sangat lambat. Tanaman kontrol menghasilkan 5,2 tunas baru dengan penampilan agronomis baik dan 67% menghasilkan bunga pada umur 25 minggu setelah iradiasi. Selanjutnya dosis iradiasi pada budidaya kapulaga perlu dioptimalkan pada kisaran 50-100 Gy dengan menggunakan bahan tanaman yang lebih muda

    Agronomic characteristics of nagara sweet potatoes (Ipomoea batatas L.) from south kalimantan wetlands

    Full text link
    Understanding the agronomic characteristics of sweetpotato grown in wetland is critical to optimise cultivation and maximise yield. By studying factors such as plant morphology and yield, as well as environmental conditions, is important to identify varieties and cultivation practices that are most suitable for specific agroecological zones. This research aims to study the agronomic characters of nagara sweet potato in South Kalimantan's wetlands and identify abiotic factors that support its growth. A total of 15 sweet potato accessions were randomly sampled in sweet potato cultivation hotspot areas in July 2024. Hierarchical cluster analysis was conducted to see the similarity of the accessions found. The results showed that the agronomic characters of sweet potato accessions differed from the registered variety (Ubi Nagara KB-1), especially in characteristics type & number of leaf lobes, shape and number of tubers. Sweet potato yield was also found to be lower (14 t ha-1) compared to Ubi Nagara KB-1 (20 t ha-1). Abiotic data were found to be favourable for sweet potato agronomy, except for pH. The accessions found are still recommended to be developed in lebak swamp land, due to their adaptability and potential which is still higher than sweet potato in general (in dry land). Genetic testing is needed to prove that morphological differences are caused by different varieties (genetic) or decreased environmental conditions. ABSTRAK Karakteristik agronomi ubi jalar yang ditanam di lahan basah sangat penting dipelajari untuk mengoptimalkan budidaya dan memaksimalkan hasil panen. Pemahaman faktor-faktor seperti morfologi dan hasil tanaman, serta kondisi lingkungan, penting untuk mengidentifikasi varietas dan praktik budidaya yang paling sesuai untuk zona agroekologi tertentu. Penelitian ini bertujuan mempelajari karakter agronomi ubi nagara di lahan rawa lebak Kalimantan Selatan dan mengidentifikasi faktor abiotik yang mendukung pertumbuhannya. Sebanyak 15 aksesi ubi jalar diambil secara acak di area sentra budidaya ubi pada Juli 2024. Analisis kluster hierarki dilakukan untuk melihat kekerabatan aksesi yang ditemukan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa karakter agronomi aksesi ubi jalar berbeda dengan varietas yang terdaftar (Ubi Nagara KB-1), terutama pada ciri tipe, jumlah cuping daun, bentuk dan jumlah umbi. Hasil ubi jalar juga ditemukan lebih rendah (14 t ha-1) dibandingkan dengan Ubi Nagara KB-1 (20 t ha-1). Data abiotik ditemukan mendukung agronomi ubi jalar, kecuali pH. Aksesi yang ditemukan masih direkomendasikan untuk dikembangkan di lahan rawa lebak, karena adaptabilitas dan potensinya yang masih lebih tinggi dibanding ubi jalar secara umum (di lahan kering). Uji genetik diperlukan untuk membuktikan perbedaan morfologi disebabkan oleh varietas berbeda (genetik) atau penurunan kondisi lingkungan

    Daya hasil dan indeks panen ubi jalar (Ipomoea batatas L.) berdaging putih di Rancakalong, Sumedang

    No full text
    Sweet potato (Ipomoea batatas L.) is a nutritionally rich alternative food source with a high starch content and ranks among the world's most important food crops. As a global food commodity, the development of high-yielding cultivars requires the evaluation of promising genotypes. Among the various types, white-fleshed sweet potato (WFSP) is particularly valued due to its suitability as a raw material for flour production. The increasing industrial demand for sweet potato-based flour highlights the urgency to select high-yielding WFSP genotypes to meet market needs. This study aimed to identify WFSP genotypes with superior yield potential and high harvest index. The experiment was conducted from November 2023 to April 2024 in Rancakalong, Sumedang District, West Java, using eight WFSP genotypes and three check varieties (Rancing, Sukuh, and AC Putih). A randomized complete block design (RCBD) with three replications and 11 treatments was employed. Significant variation was observed among genotypes for traits such as number of tubers per plant, tuber weight per plant, number of marketable tubers, total tuber count, and total tuber weight. Six genotypes—Keriting Maja, MZ 154, Sorong, MBD, PR 119, and MNHR—demonstrated high yield performance, with Keriting Maja showing the highest potential at 35.09 t ha-1, making it a strong candidate for future cultivar development.   ABSTRAK Ubi jalar merupakan sumber pangan alternatif yang unggul karena kaya nutrisi dengan kandungan pati tinggi dan termasuk dalam tanaman pangan penting di dunia. Sebagai salah satu komoditas pangan dunia, perlu dikembangkan varietas unggul baru ubi jalar dengan menguji genotip-genotip potensial dan unggul. Salah satu jenis ubi jalar yang memiliki tingkat pemanfaatan yang tinggi adalah ubi jalar berdaging putih karena dapat dimanfaatkan sebagai sumber bahan baku produksi tepung. Permintaan industri untuk memproduksi tepung membutuhkan suplai ubi jalar berdaging putih dalam jumlah besar. Hal ini menjadi pemicu agar kegiatan seleksi genotip unggul ubi jalar berdaging putih berdaya hasil tinggi dilakukan guna memenuhi permintaan konsumen tersebut. Tujuan dari penelitian ini adalah memperoleh ubi jalar berdaging putih dengan daya hasil tinggi dan indeks panen yang tinggi. Penelitian dilakukan di Rancakalong, Kabupaten Sumedang, Jawa Barat dari bulan November 2023 sampai dengan April 2024. Penelitian ini menggunakan delapan genotip ubi jalar dan tiga genotip pembanding (Rancing, Sukuh, dan AC Putih). Metode penelitian yang digunakan adalah Rancangan Acak Kelompok dengan 11 perlakuan yang diulang sebanyak tiga kali. Hasil penelitian diperoleh bahwa terdapat beberapa karakter, yaitu karakter jumlah ubi per tanaman, bobot ubi per tanaman, jumlah ubi ekonomis, jumlah ubi total, dan bobot ubi total yang menunjukkan perbedaan yang signifikan. Terdapat enam genotip dengan daya hasil tinggi, yaitu genotip Keriting Maja, MZ 154, Sorong, MBD, PR 119, dan MNHR, dengan genotip Keriting Maja berpotensi hasil paling tinggi yakni 35,09 t ha-1, yang berpeluang untuk dikembangkan menjadi varietas unggul baru

    Population of vector and tungro disease incidence at dosage of nitrogen fertilizer in rice field

    No full text
    One of the biotic threats that can reduce rice yield is tungro disease. This disease is spread with green leafhopper (Nephotettix virescens) vector. The population density of leafhoppers is one of the factors contributing to the increased incidence of tungro. Excessive nitrogen used in crop cultivation, especially rice, has been known to impact the population dynamics of insect pests. This study aims to determine the population development of green leafhoppers at different nitrogen doses. The study was conducted at the Muara Experimental Field, Bogor. The experimental treatment used three rice varieties representing susceptible varieties, resistant to green leafhoppers and resistant to tungro virus (Ciherang, IR64 and Inpari 36 Lanrang) and four levels of fertilization doses (without additional urea, Urea 250 kg ha-1, 350 kg ha-1 and 500 kg ha-1). The experiment used Split Plot design with three replication. The insect population in the field was found at the beginning of the observation and the peak of insect population density occurred at 6 WAP observationsVariety has a significant effect on insect vector population density and plant growth and yield in the field. The population density of green leafhoppers was higher in the Ciherang and IR 64 varieties than in the Inpari 36 Lanrang variety. Fertilization doses had no significant effect on the population of green leafhopper insects in the field except in the nymph phase in fertilization without the addition of urea and had no effect on growth and yield except on the number of tillers. The combination of resistant varieties and fertilization without the addition of urea reduced the population density of green.   ABSTRAK Cekaman biotik yang dapat menurunkan hasil padi salah satunya penyakit tungro. Penyakit ini disebarkan oleh vektor wereng hijau (Nephotettix virescens). Kepadatan populasi wereng menjadi salah satu faktor penyebab meningkatnya keberadaan penyakit tungro. Penggunaan nitrogen yang berlebihan dalam budidaya tanaman, terutama padi, telah diketahui berdampak pada dinamika populasi serangga hama. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui perkembangan populasi wereng hijau pada pemberian dosis nitrogen berbeda.Penelitian dilakukan di Kebun Percobaan Muara, Bogor. Perlakuan percobaan mengunakan tiga varietas padi yang mewakili varietas rentan, tahan wereng hijau dan tahan virus tungro (Ciherang, IR64 dan Inpari 36 Lanrang) dan lima taraf dosis pemupukan (tanpa tambahan pupuk urea, Pupuk Urea 250 kg ha-1, 300 kg ha-1 dan 500 kg ha-1). Percobaan mengunakan rancanngan Split Plot dalam RAK dengan tiga kali ulangan. Populasi serangga di lapangan ditemukan diawal pengamatan dan puncak kepadatan populasi serangga terjadi pada pengamatan 6 MST. Varietas berpengaruh nyata terhadap kepadatan populasi serangga vektor, pertumbuhan dan hasil tanaman di lapangan. Kepadatan populasi wereng hijau lebih tinggi pada pertanaman varietas Ciherang dan IR 64 dibandingkan pada varietas Inpari 36 Lanrang. Dosis pemupukan tidak berpengaruh nyata terhadap populasi serangga wereng hijau di lapangan kecuali pada fase nimfa pada pemupukan tanpa penambahan urea dan tidak berpengaruh terhadap pertumbuhan dan hasil kecuali pada jumlah anakan. Kombinasi varietas tahan dan pemupukan tanpa penambahan urea mengurangi kepadatan populasi wereng hijau menyebarkan virus tungro.   Kata kunci: Populasi, pupuk nitrogen, wereng hija

    Hasil padi (Oryza sativa l.) pada lahan sub-optimal akibat pemberian pupuk berbasis sensor

    No full text
    Rice (Oryza sativa L.) is a key commodity in maintaining national food security. However, its production increase is still constrained by limited land availability and low fertilization efficiency, particularly in sub-optimal lands with poor soil fertility. This study aimed to evaluate the effectiveness of sensor-based fertilization on the yield of two rice varieties, IPB 9G and Gogo rice, under sub-optimal conditions. The research was conducted in Kembang Kerang Daya Village, East Lombok, using a split-plot randomized block design with two factors: fertilizer dose (6 levels, including sensor-based recommendations) as the main plot, and rice variety as the subplot, with three replications. Yield components observed included the number of grains per panicle, percentage of filled grains, 1000-grain weight, yield per plot, and estimated yields of harvested dry grain and milled dry grain. The results showed that sensor-based fertilization, combining inorganic, organic, and bio-fertilizers, produced the best performance in nearly all yield parameters, particularly in the IPB 9G variety. This system significantly increased GKG yield compared to conventional fertilization methods. The agronomic efficiency of sensor-based fertilization was 27% higher than conventional fertilization, aligning with the principles of precision agriculture. In conclusion, applying sensor-based fertilization on sub-optimal land presents a promising innovative solution to enhance rice productivity and input efficiency, especially in areas with low soil fertility.   ABSTRAK Padi (Oryza sativa L.) merupakan komoditas utama dalam menjaga ketahanan pangan nasional, namun peningkatan produksinya masih terkendala keterbatasan lahan dan rendahnya efisiensi pemupukan, terutama pada lahan sub-optimal yang memiliki tingkat kesuburan rendah. Penelitian ini bertujuan mengevaluasi efektivitas pemupukan berbasis sensor terhadap hasil panen dua varietas padi IPB 9G dan padi Gogo pada lahan sub-optimal. Penelitian dilaksanakan di Desa Kembang Kerang Daya, Lombok Timur, menggunakan rancangan acak kelompok petak terbagi dengan dua faktor: dosis pupuk (6 level, termasuk rekomendasi berbasis sensor) sebagai petak utama, dan varietas padi sebagai anak petak, dengan tiga ulangan. Komponen hasil yang diamati meliputi jumlah gabah per malai, persentase gabah isi, bobot 1000 butir, hasil ubinan, dugaan hasil gabah kering panen (GKP), dan gabah kering giling (GKG). Hasil penelitian menunjukkan bahwa pemupukan berbasis sensor dengan kombinasi pupuk anorganik, organik, dan hayati menghasilkan performa terbaik pada hampir seluruh peubah hasil, terutama pada varietas IPB 9G. Sistem ini mampu meningkatkan hasil GKG dibandingkan metode pemupukan konvensional. Peningkatan efisiensi agronomi dari pemupukan berbasis sensor 27% lebih tinggi dibandingkan pemupukan konvensional, selaras dengan prinsip pertanian presisi. Simpulan dari penelitian ini menunjukkan bahwa penerapan pemupukan berbasis sensor pada lahan sub-optimal berpotensi sebagai solusi inovatif untuk meningkatkan produktivitas padi dan efisiensi input, khususnya pada wilayah dengan kesuburan tanah rendah. Kata kunci: NPK, Padi, Pupuk Organik, Sensor, Sub-optima

    Respon empat varietas bawang putih (Allium sativum L.) lokal Indonesia terhadap media induksi dan proliferasi kalus embriogenik

    Full text link
    Establishing a regeneration media of Indonesian local garlic is necessary for several purposes, including plant breeding and large-scale propagation. This study was aimed to evaluate media formulation on callus induction and proliferation of four local garlic varieties (Geol, Lumbu Hijau, Lumbu Kuning, and Lumbu Putih) using root cuttings as the explants. MS media supplemented with different concentration of picloram (4 and 6 mg L-1) without and in combination with glutamine (100 mg L-1) alone and casein hydrolysate (3 g L-1) were evaluated. The results showed that the responses of induction and proliferation of embryogenic callus were genotype-dependent because there was no significant interaction between varieties and media formulations. Still, the varieties had a significant interaction with the observed variables. The fastest initiation time of callus induction was obtained from Lumbu Putih, less than 2 weeks after culture. Geol showed the highest percentage of callus formation and fresh weight of callus, 59% and 0,92 g respectively. There were three different types of the callus: (1) friable, glossy, clear white, (2) friable, glossy, transparent yellow, and (3) semi compact, glossy, yellowish to milky white. ABSTRAK Pemantapan media regenerasi bawang putih lokal Indonesia penting dilakukan untuk berbagai tujuan, termasuk pemuliaan tanaman dan perbanyakan skala besar. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui respon in vitro empat varietas bawang putih lokal (Geol, Lumbu Hijau, Lumbu Kuning, dan Lumbu Putih) terhadap komposisi media induksi dan proliferasi kalus dengan menggunakan akar sebagai eksplan. Komposisi media yang diujikan meliputi media dasar MS yang mengandung pikloram (4 dan 6 mg L-1), baik tanpa atau dengan penambahan glutamin (100 mg L-1) dan kasein hidrolisat (3 g L-1). Hasil penelitian menunjukkan respon induksi dan proliferasi kalus embriogenik bersifat genotype dependent, sebab tidak terdapat interaksi yang nyata antara faktor varietas dan formulasi media, namun faktor varietas berpengaruh nyata terhadap variabel amatan. Waktu inisiasi kalus tercepat diperoleh dari Lumbu Putih, yaitu kurang dari 2 minggu setelah kultur. Varietas Geol memiliki persentase pembentukan kalus dan bobot segar kalus tertinggi, berturut-turut sebesar 59% dan 0,92 g. Terdapat tiga tipe kalus yang terbentuk, yaitu (1) remah, mengkilap, putih bening, (2) remah, mengkilap, bening kekuningan, dan (3) kompak, mengkilap, kekuningan-putih susu

    Keragaan karakter morfo-agronomi beberapa aksesi bawang merah (Allium cepa L.) lokal jawa berdasarkan analisis multivariat

    Full text link
    Shallot production still fluctuative in several production centers such as Brebes due to the lack of new superior varieties with a high level of adaptation in areas of Indonesia that are prone to damage from land conversion, weather, and low technology application. The study aimed to obtain the best morphological and agronomic appearance of lowland shallots accessions through clustering analysis, and to obtain the limiting characters that provide the highest variation in the population. The research was conducted at the Experimental Farm, Faculty of Agriculture, Singaperbangsa University of Karawang in Pasirjengkol Village, West Java. Field trials were conducted during one growing season using 8 accessions of shallots from different regions, including the accession of Cikijing, Pati, Nganjuk, Trisula, Bima, Berlin, Maja, and Bandung with 15 observed morpho-agro characters. The research was conducted using a single-factor randomized block design with 4 replications, further tested using cluster and principal component analysis (PCA). The results showed that the level of similarity of Trisula accession was very different from other accessions (0.2) for the widest diameter and tuber shape characters. In contrast, the accessions Berlin and Maja have the same morpho-agro appearance (0.8) in tuber diameter, root tip shape, tuber shape, tuber skin thickness, leaf color, crown curvature, and tuber color. The limiting characteristics causing the highest variation in the population are the dry weight of tubers per plant and the shape of the tip tuber stem. ABSTRAK Produksi bawang merah masih fluktuatif di beberapa sentra bawang merah seperti brebes, hal ini akibat belum adanya varietas unggul baru yang memiliki tingkat adaptasi luas pada wilayah di Indonesia yang cenderung mengalami kerusakan akibat alih fungsi lahan, cuaca, dan rendahnya penerapan teknologi. Tujuan penelitian untuk mendapatkan aksesi bawang merah yang memiliki penampilan morfologi dan agronomi terbaik di dataran rendah melalui analisis klaster serta mendapatkan karakter pembatas yang memberikan variasi tertinggi pada populasi. Penelitian dilaksanakan dikebun percobaan Fakultas Pertanian Universitas Singaperbangsa Karawang di Desa Pasirjengkol, Jawa Barat. Percobaan lapangan dilaksanakan selama satu musim tanam dengan 8 aksesi Bawang Merah (Allium ascalonicum L.) yang diambil dari berbagai wilayah diantaranya yaitu aksesi Cikijing, Pati, Nganjuk, Trisula, Bima, Berlin, Maja, dan Bandung berdasarkan 15 karakter morfo-agro yang diamati. Penelitian dilakukan dengan rancangan acak kelompok faktor tunggal dengan 4 ulangan, kemudian diuji lanjut dengan analisis kluster dan komponen utama (principle component analysis). Hasil penelitian menunjukkan bahwa tingkat kemiripan (similarity) aksesi Trisula jauh berbeda dengan aksesi lainnya (0,2) untuk karakter diameter terluas dan bentuk umbi. Berbeda dengan aksesi Berlin dan Maja yang memiliki penampilan morfo-agro yang sama (0,8) pada diameter umbi, bentuk ujung akar, bentuk umbi, ketebalan kulit umbi, warna daun, kelengkungan tajuk, dan warna umbi. Adapun karakter pembatas yang menyebabkan variasi tertinggi pada populasi adalah bobot kering umbi per tanaman dan bentuk ujung batang umbi

    Strategi perbaikan tanah untuk meningkatkan produktivitas tanaman hortikultura di Kawasan penambangan pasir yang terdegradasi

    Full text link
    The addition of ameliorant materials into the soil on former post-rock mining land was identified as one of the potential approaches in improving soil quality. This study aims to determine the effect of ameliorant materials on the growth and yield of horticultural crops. The study used a Randomized Group Design with five treatments and three. Plants used as indicator plants used two types of horticultural crops (spinach and pakcoy). The treatments consisted of KS0 (Control), KS1 (compost at a dose of 10 t ha-1 + biofertilizer 5 ml L-1), KS2 (compost at a dose of 15 t ha-1 + biofertilizer 10 ml L-1), KS3 (compost at a dose of 20 t ha-1 + biofertilizer 15 ml L-1), and KS4 (compost at a dose of 25 t ha-1 + biofertilizer 20 ml L-1). The results of the research showed that the application of ameliorant material had a significant effect on plant height, number of leaves and wet weight of pakchoy plants, but had no significant effect on plant root length. Treatment with a compost dose of 15 t ha-1 + biofertilizer 10 ml L-1 (KS2) gave the highest results for the growth of Pakcoy plants. The provision of ameliorant had a significant effect on all observation parameters (plant height, number of leaves, wet weight and root length) of spinach plants, where treatment with a compost dose of 20 t ha-1 + biofertilizer 15 ml L-1 (KS3) gave the highest results on growth Spinach plant. These results imply that the ameliorant used can be used as an alternative in improving the quality of former sand mining land. ABSTRAK Penambahan bahan amelioran ke dalam tanah di lahan bekas tambang batuan diidentifikasi sebagai salah satu pendekatan yang berpotensi dalam perbaikan kualitas tanah. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh pemberian bahan amelioran terhadap pertumbuhan dan hasil tanaman hortikultura. Penelitian menggunakan Rancangan Acak Kelompok dengan lima perlakukan dan tiga kelompok. Tanaman yang digunakan sebagai tanaman indikator menggunakan dua jenis tanaman hortikultura (bayam dan pakcoy). Adapun perlakuan yang diberikan terdiri dari Kontrol (KS0), kompos ampas sagu dengan dosis 10 t ha-1 + pupuk hayati 5 ml L-1 (KS1), kompos ampas sagu dengan dosis 15 t ha-1 + pupuk hayati 10 ml L-1 (KS2), kompos ampas sagu dengan dosis 20 t ha-1 + pupuk hayati 15 ml L-1 (KS3), dan kompos ampas sagu dengan dosis 25 t ha-1 + pupuk hayati 20 ml L-1 (KS4). Hasil penelitian menunjukkan bahwa pemberian bahan amelioran berpengaruh nyata terhadap tinggi tanaman, jumlah daun, dan bobot basah tanaman pakcoy, tetapi tidak berpengaruh nyata terhadap panjang akar tanaman. Perlakuan dengan dosis kompos ampas sagu 15 t ha-1 + pupuk hayati 10 ml L-1 (KS2) memberikan hasil tertinggi terhadap pertumbuhan tanaman Pakcoy. Pemberian bahan amelioran berpengaruh nyata terhadap semua parameter pengamatan (tinggi tanaman, jumlah daun, bobot basah dan Panjang akar) tanaman bayam, dimana perlakuan dengan dosis kompos ampas sagu 20 t ha-1 + pupuk hayati 15 ml L-1 (KS3) memberikan hasil tertinggi terhadap pertumbuhan tanaman Bayam. Hasil ini memberikan implikasi bahwa bahan amelioran yang digunakan dapat dijadikan sebagai alternatif dalam perbaikan kualitas lahan bekas tambang pasir

    Pertumbuhan dan hasil dua spesies kacang koro (Mucuna pruriens; Canavalia ensivormis) akibat pupuk NPK

    No full text
    Jack bean (Canavalia ensiformis L.) and velvet bean (Mucuna pruriens L.) are local legume species with significant potential as sources of plant-based protein. To date, both species have primarily been utilized as sources of animal feed, green manure, and cover crops. This study aims to evaluate the effects of NPK fertilizer on the growth and yield of the two legume species. The experiment was conducted in Nanggela Village, Mandirancan District, Kuningan Regency, from June to November 2024. The experimental design used was a Randomized complete block design with treatments combining legume species (Jack bean and velvet bean) with NPK fertilizer applied at rates of 150, 225, 300, 375, and 450 kg ha-1. The variables observed were plant height, number of leaves, stem diameter, root length, root volume, leaf area index, relative growth rate, net assimilation rate, number of pods per plot, number of seeds per pod, weight of 100 seeds, and weight of seeds per plot. The results showed that the combination of species and NPK fertilizer doses significantly affected the growth and yield of koro plants. The best results were obtained from the treatment of jack bean with a dose of NPK fertilizer of 300 kg ha-1.   ABSTRAK Kacang koro pedang (Canavalia ensiformis L.) dan koro benguk (Mucuna pruriens L.) merupakan spesies lokal yang memiliki potensi sebagai sumber protein nabati. Selama ini kedua spesies tersebut dimanfaatkan sebagai sumber pakan ternak, pupuk hijau, dan tanaman penutup tanah. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh pupuk NPK terhadap pertumbuhan dan hasil dua spesies koro. Percobaan dilaksanakan di Desa Nanggela, Kecamatan Mandirancan, Kabupaten Kuningan pada bulan Juni sampai November 2024. Rancangan percobaan yang digunakan adalah Rancangan Acak Kelompok dengan perlakuan kombinasi antara spesies koro (koro pedang dan koro benguk) dengan dosis pupuk NPK (150, 225, 300, 375, dan 450 kg ha-1). Semua perlakuan diulang tiga kali sehingga terdapat 30 satuan percobaan. Variabel yang diamati adalah tinggi tanaman, jumlah daun, diameter batang, panjang akar, volume akar, indeks luas daun, laju pertumbuhan relatif, laju asimilasi bersih, jumlah polong per petak, jumlah biji per polong, bobot 100 butir biji, dan bobot biji per petak. Hasil penelitian menunjukkan kombinasi spesies koro dan dosis pupuk NPK berpengaruh nyata terhadap pertumbuhan dan hasil tanaman koro. Hasil terbaik diperoleh dari perlakuan koro pedang dengan dosis pupuk NPK 300 kg ha-1. Dalam budidaya koro pedang, disarankan untuk menggunakan pupuk NPK (16:16:16) dengan dosis 300 kg ha-1, sebagai upaya untuk menggantikan kedelai pada wilayah-wilayah di mana kedelai sulit tumbuh.   Kata kunci: Koro pedang, koro benguk, pertumbuhan, pupuk majemu

    Karakteristik fisik carbon dots dan aplikasinya dengan pemupukan untuk meningkatkan produksi dan mutu benih padi: Physical characteristics of carbon dots and its application with fertilizer to increase rice seed production and quality

    No full text
    Carbon dots (CDs) are nano-sized carbon particles proven to enhance seed germination, plant growth, and yield. This study evaluated CDs in an integrated fertilization system combining macronutrient fertilizers (NPK) and organic matter (OM). The experiment was conducted during the 2023 dry season at the Sukamandi Experimental Station of BBRMP Padi using a Split-split Plot Design. The treatments included NPK combinations (main plot; without NPK, +PK, +NP, +NK, +NPK), OM (sub-plots; manure, straw compost, without OM), and foliar-applied CDs (800 mg L⁻¹) (sub-sub-plots; +CDs, without CDs). The results showed that coffee ground-based CDs from coffee shops were water-soluble, light brown, and had an absorption peak at 300 nm. Nitrogen doping with urea increased the N content from 2,44% to 16,12%. The N and P significantly improved vegetative growth, grain yield, and seed quality, while N and K maintained chlorophyll in the reproductive stage. OM increased NPK efficiency and nutrient availability, with manure more effective than straw compost. CDs enhanced OM in increasing leaf area. The combination of NPK, OM, and CDs shows potential as an efficient and sustainable fertilization strategy to increase rice productivity and seed quality.   ABSTRAK Carbon dots (CDs) adalah partikel karbon berukuran nano yang telah terbukti mampu meningkatkan perkecambahan benih, pertumbuhan, dan hasil tanaman. Penelitian ini bertujuan untuk mengevaluasi CDs dalam sistem pemupukan terintegrasi dengan pupuk hara makro (NPK) dan bahan organik. Penelitian dilaksanakan pada Musim Kemarau 2023 di lahan sawah irigasi Kebun Percobaan Sukamandi BBRMP Padi  dengan Rancangan Petak-petak Terbagi. Kombinasi pupuk NPK (petak utama; tanpa NPK, +PK, +NP, +NK, +NPK), bahan organik (anak petak; pupuk kandang, kompos jerami, tanpa BO), dan aplikasi foliar CDs (800 mg L-1) (anak-anak petak; tanpa CDs, +CDs). Hasil percobaan menunjukkan CDs berbasis ampas kopi dari limbah coffee shop memiliki sifat larut air, berwarna cokelat terang, dan puncak absorbansi pada 300 nm. Pengkayaan nitrogen dengan urea meningkatkan kandungan N dari 2,44% menjadi 16,12%. Kombinasi N dan P sangat mempengaruhi pertumbuhan vegetatif, hasil gabah, dan mutu fisiologis benih. Kombinasi N dan K efektif dalam mempertahankan klorofil pada fase reproduktif. Bahan organik terbukti meningkatkan efisiensi pupuk NPK dan ketersediaan hara, dimana pupuk kandang lebih efektif dibandingkan kompos jerami. Aplikasi CDs meningkatkan efektivitas bahan organik dalam meningkatkan luas daun. Kombinasi pupuk NPK, bahan organik, dan CDs berpotensi menjadi strategi pemupukan efisien dan berkelanjutan untuk meningkatkan produktivitas dan mutu benih padi. Kata kunci: Bahan organik, hasil, luas daun, pupuk NPK, sinergi pupu

    199

    full texts

    217

    metadata records
    Updated in last 30 days.
    Jurnal Agro
    Access Repository Dashboard
    Do you manage Open Research Online? Become a CORE Member to access insider analytics, issue reports and manage access to outputs from your repository in the CORE Repository Dashboard! 👇