Jurnal Agro
Not a member yet
    217 research outputs found

    Smart-dose microboost: micronutrient in order to enhance chili growth and yield in tropical farming systems: Smart-dose microboost: mikronutrien untuk meningkatkan pertumbuhan dan hasil cabai pada sistem pertanian tropis

    No full text
    Despite the fact that micronutrients are crucial for the growth, metabolism, and crop yield of plants, they are required in relatively small proportions. The recent advancements in agriculture have resulted in the development of biostimulant products that are abundant in micronutrients which is advantageous. The objective of this investigation was to evaluate the potential of micronutrient-enriched biostimulants (MB) to enhance the quality characteristics of chili fruits. This study was conducted at Jatinangor, West Java. The experimental plots were laid out in a Randomized Block Design (RBD) with seven treatments and repeated four times, so the total number of treatments was 28 units. The treatments consist of farmer practice and doses of 0.75; 1.0; 1.5; 2.0; 2.5 and 3.0 L ha-1 MB. The results of this experiment indicated that the treatments with doses of 2.0–3.0 L ha-1 were consistently preferable in terms of fruit quality, yield, and growth. Plants that were more productive, capable of grading fruit, and had a slightly extended shelf life after harvest were the final result of the biostimulant product, which contained micronutrients. The farmer's practice consistently failed to meet the standards of all the treated sites. The combination of biostimulants and micronutrients significantly enhanced the physiological and reproductive functions of chilies. ABSTRAK Mikronutrien, meskipun dibutuhkan dalam jumlah yang kecil daripada makronutrien, penting untuk perkembangan tanaman, fungsi metabolisme, dan produktivitas tanaman. Perkembangan terkini dalam bidang pertanian telah menghasilkan produk biostimulan yang kaya akan mikronutrien yang sangat penting. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk menilai potensi biostimulan yang diperkaya mikronutrien (MB) dalam meningkatkan kualitas buah cabai. Panelitian ini dilakukan di Jatinangor Sumedang, Jawa Barat. Plot percobaan disusun dalam Rancangan Acak kelompok (RAK) dengan tujuh perlakuan dan diulang empat kali, sehingga total perlakuan adalah 28 unit. Perlakuan tersebut terdiri dari metode konvensional; dosis biostimulan yang diperkaya mikronutrien (0,75; 1,0; 1.5; 2,0; 2,5 and 3,0 L ha-1 MB). Hasil percobaan ini menunjukkan bahwa perlakuan dengan dosis 2,0–3,0 L ha-1 adalah yang paling konsisten unggul di seluruh parameter pertumbuhan, hasil dan kualitas buah. Produk biostimulan dengan tambahan mikronutrien membuat tanaman lebih kuat, lebih produktif, lebih baik dalam kualitas buah, dan memperpanjang masa simpan setelah panen. Dibandingkan dengan semua yang diberi perlakuan pupuk mikronutrien dan biostimulan, perlakuan konvensional memberikan respon yang paling kecil. Secara umum, penambahan mikronutrien dan biostimulan secara bersamaan dapat memberikan dampak besar pada peningkatan fungsi fisiologis dan reproduksi tanaman cabai.   Kata kunci: Biostimulan, Cabai, Keberlanjutan, Produktivita

    Genetic variability in 12 butterfly pea (Clitoria ternatea L.) accessions: a dual approach with cluster and principal component analysis

    Full text link
    Understanding genetic variability is crucial for enhancing the breeding programs of butterfly pea (Clitoria ternatea L.), particularly in the face of the demand for improved crop varieties. This study aims to (i) evaluate the genetic variability of 12 butterfly pea accessions based on 28 agro-morphological traits and (ii) analyze the genetic relationships among these accessions. The research was conducted from December 2022 to October 2023 at the Ciparanje Experimental Field, Faculty of Agriculture, Universitas Padjadjaran. The experimental design employed a Randomized Complete Block Design (RCBD) with 12 accessions and three replications. Observations were made on 28 agro-morphological traits. Data analysis was performed using analysis of variance (ANOVA), principal component analysis (PCA), and agglomerative hierarchical clustering (AHC). ANOVA results indicated significant diversity among the 12 accessions based on 17 agro-morphological traits. PCA results showed that the first six principal components accounted for 89.1% of the total genetic variability and identified all traits as contributing factors to the genetic variability among the accessions. AHC analysis grouped the accessions into two main clusters, with Euclidean distances ranging from 1.00 to 4.00, indicating varying levels of genetic relatedness. These findings underscore the importance of genetic variability in formulating breeding strategies, particularly in the selection of parents based on targeted agro-morphological traits. ABSTRAK Informasi keragaman genetik sangat penting untuk mendukung program pemuliaan tanaman telang (Clitoria ternatea L.), khususnya dalam menghadapi permintaan varietas unggul. Penelitian ini bertujuan untuk (i) mengevaluasi keragaman genetik dari 12 aksesi kembang telang berdasarkan 28 karakter agro-morfologi dan (ii) menganalisis hubungan genetik di antara aksesi-aksesi tersebut berdasarkan 28 karakter agro-morfologi. Penelitian dilaksanakan pada Desember 2022 hingga Oktober 2023 di Kebun Percobaan Ciparanje, Fakultas Pertanian, Universitas Padjadjaran. Desain eksperimen menggunakan Rancangan Acak Kelompok Lengkap (RAKL) dengan 12 aksesi dan tiga ulangan. Pengamatan dilakukan pada 28 karakter agro-morfologi. Analisis data dilakukan dengan analisis varians (ANOVA), analisis komponen utama (PCA), dan pengelompokan hierarki aglomeratif (AHC). Hasil analisis ANOVA menunjukkan bahwa 12 aksesi telang beragam secara signifikan berdasarkan 17 karakter agro-morfologi. Hasil PCA menunjukkan bahwa enam komponen utama pertama menjelaskan 89,1% dari total keragaman genetik dan mengidentifikasi 28 karakter agro-morfologi sebagai karakter yang berkontribusi terhadap keragaman genetik 12 aksesi telang. Analisis AHC mengelompokkan 12 aksesi menjadi dua kelompok utama dengan jarak Euclidean berkisar antara 1,00 hingga 4,00, mengindikasikan tingkat kekerabatan genetik yang jauh. Temuan ini menegaskan pentingnya keragaman genetik dalam merumuskan strategi pemuliaan yang efektif, terutama dalam pemilihan tetua berdasarkan karakter agro-morfologi yang ditargetkan

    Eksplorasi aktinobakteria indigenus untuk Pengendalian penyakit busuk tongkol oleh Fusarium verticillioides pada tanaman jagung

    Full text link
    Fusarium verticillioides is a fungus that causes cob rot disease in corn plants. Control of Fusarium verticilliodes by using biological agents that are antagonistic, namely actinobacteria. The research aims to obtain actinobacteria isolates that can control cab rot disease and increase corn growth. The research consisted of 3 stages, 1.) Isolation of indigenous actinobacteria and F.verticillioides. Variables observed were actinobacteria characteristics and biosafety test. 2.) Selection of indigenous actinobacteria to suppress the growth of fungus F. verticillioides. The observed variable is the percentage of inhibition. 3.) The ability of actinobacteria in controlling cob rot in corn plants with 12 treatments and 3 replications, 10 isolates (selection results of stage II), 1 positive control, and 1 negative control, arranged in a completely randomized design. The variables observed were disease development and plant growth. A total of 20 isolates of actinobacteria were obtained isolation results, and the results of biosafety tests obtained as many as 15 isolates of actinobacteria. Actinobacteria isolates that have the potential to suppress the growth of fungus F. verticillioides are actinobacterial isolates APPB BI7, APPB CS7, APPA BI6, APPA AS7, APBC AS7, APPB AS7, APBA AS7, ALKA AS7, APBB BI6, and ALKB AI7 with an inhibition of 62.22-68%. Actinobacteria isolates that have the potential in suppressing the development of cob rot disease and spurring the growth of corn corn plants are isolates with the code APPB BI7, APBB BI6, ALKB AI7, APPB CS7, APPB AS7, APPA AS7, APBA AS7, and APBC AS7. ABSTRAK Fusarium verticillioides merupakan jamur yang menyebabkan penyakit busuk tongkol pada tanaman jagung. Pengendalian Fusarium verticilliodes dengan menggunakan agensia hayati yang bersifat antagonis yaitu aktinobakteria. Penelitian bertujuan untuk mendapatkan isolat aktinobakteria yang dapat mengendalikan penyakit busuk tongkol serta meningkatkan pertumbuhan jagung. Penelitian terdiri atas 3 tahap, 1.) Isolasi aktinobakteria indigenus dan F.verticillioides. Variabel yang diamati adalah karakteristik aktinobakteria dan uji keamanan hayati. 2.) Seleksi aktinobakteria indigenus untuk menekan pertumbuhan jamur F. verticillioides. Variabel yang diamati adalah persentase daya hambat. 3.) Kemampuan aktinobakteria dalam mengendalikan busuk tongkol pada tanaman jagung dengan 12 perlakuan dan 3 ulangan, 10 isolat (hasil seleksi tahap I dan II), 1 kontrol positif, dan 1 kontrol negatif, disusun dengan Rancangan Acak Lengkap. Variabel yang diamati adalah perkembangan penyakit dan pertumbuhan tanaman. Diperoleh 20 isolat aktinobakteria hasil isolasi, dan hasil uji keamanan hayati diperoleh sebanyak 15 isolat aktinobakteria. Isolat aktinobakteria yang berpotensi dalam menekan pertumbuhan jamur F. verticillioides yaitu isolat aktinobakteria APPB BI7, APPB CS7, APPA BI6, APPA AS7, APBC AS7, APPB AS7, APBA AS7, ALKA AS7, APBB BI6, dan ALKB AI7 dengan daya hambat 62,22-68,06%. Isolat aktinobakteria yang berpotensi dalam menekan perkembangan penyakit busuk tongkol dan memacu pertumbuhan tanaman jagung adalah isolat dengan kode APPB BI7, APBB BI6, ALKB AI7, APPB CS7, APPB AS7, APPA AS7, APBA AS7, dan APBC AS7

    Rhizospheric Bacillus spp. as biocontrol agents against maize downy mildew and growth promoters

    No full text
    Downy mildew is one of the major patogen limiting maize productivity in Indonesia. Effective mitigation strategies are essential due to the significant yield losses it causes. Biological control is an environmentally viable alternative method of disease management. Bacillus spp. are biological control agent capable of producing metabolic chemicals that can inhibit plant infections, hence holding potential for downy mildew management. This study aimed to evaluate the effectiveness of Bacillus spp. from the maize rhizosphere to manage downy mildew and promote maize plant growth. The research employed a completely randomized block design, consisting of four treatments and six replications. The treatments comprised Bacillus amyloliquefaciens BB.R3, B. subtilis BK.R5, Bacillus spp. BK.R9, fungicides treatment (metalaxyl), and control group for comparison. The observed variables included spore germination, incubation period, disease incidence, disease severity, Area Under Disease Progression Curve (AUDPC), number of leaves, plant height, fresh shoot weight, and fresh root weight. The findings revealed that B. amyloliquefaciens BB.R3, B. subtilis BK.R5, and Bacillus spp. BK.R9 effectively inhibited downy mildew by decreasing spore germination by 80.55-100%, prolonging the incubation period, and inhibiting disease incidence by 20.37-53.70%, disease severity by 25.64-62.56%, and AUDPC by 22.21-63.37%. B. amyloliquefaciens BB.R3 can enhance plant growth by augmenting root weight by 122.63% and maize plant weight by 80.26%.   ABSTRAK   Penyakit bulai merupakan salah satu penyakit utama yang menghambat produksi jagung di Indonesia. Upaya pengelolaan penyakit bulai perlu dilakukan mengingat besarnya kehilangan yang ditimbulkan.  Pengendalian hayati merupakan salah satu alternatif pengendalian yang ramah lingkungan dan berkelanjutan. Bacillus spp. adalah bakteri yang mampu menghasilkan senyawa metabolik, dapat mengendalikan pathogen tanaman sehingga berpotensi sebagai pengendali penyakit bulai.  Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui kemampuan Bacillus spp. asal rizosfer untuk mengendalikan penyakit bulai dan mengoptimalkan pertumbuhan tanaman jagung. Penelitian menggunakan Rancangan Acak Kelompok Lengkap, dengan 4 perlakuan dan 6 ulangan. Perlakuan meliputi Bacillus amyloliquefaciens BB.R3, Bacillus subtilis BK.R5, Bacillus spp.. BK.R9, serta fungisida (metalaksil) dan kontrol sebagai pembanding. Variabel yang diamati meliputi perkecambahan spora, masa inkubasi, kejadian penyakit, intensitas penyakit, AUDPC, jumlah daun, tinggi tanaman, bobot tanaman segar, dan bobot akar segar. Hasil penelitian menunjukkan B. amyloliquefaciens BB.R3, B. subtilis BK.R5, Bacillus spp.. BK.R9 mampu menekan penyakit bulai jagung, dengan menurunkan perkecambahan spora 80,55-100 %, menunda masa inkubasi, menurunkan kejadian penyakit sebesar 20,37-53,70 %, intensitas penyakit sebesar 25,64-62,56%, dan AUDPC sebesar 22,21-63,37%. B. amyloliquefaciens BB.R3 dapat memacu pertumbuhan tanaman, dengan meningkatkan bobot akar sebesar 122,63 % dan bobot tanaman jagung sebesar 80,26%.   Kata kunci: Bacillus, jagung, pengendalian hayati,  Peronosclerospora maydis, ramah lingkunga

    Enhancing microbial population and biomass of water spinach grown in tailing and inceptisols by manure amendment

    Full text link
    The impact of tailings accumulated on agricultural land is the loss of soil profile and decreased soil quality, making plants difficult to grow. This study aimed to observe the effect of cow dung manure (CM) doses to gold mine tailings on total fungal and bacterial populations of soil surrounding roots and water spinach biomass and to analyze the correlation between fungal and bacterial populations with water spinach growth parameters. The experiment was designed in a randomized block design with five treatments and five replications. The treatments included without CM (control) and 5, 10, 15, and 20% of CM in tailing. Similar treatments were added to plants grown in mineral soil, i.e. Inceptisols. The results determined the retarded plant growth in tailing compared to that in Inceptisols. The plant grown in tailing was more responsive to manure amendment. The CM increased total fungal and bacterial populations in the soil around the roots, plant height, leaf number, stem thickness, wet weight, and dry weight of intact plants. Applying 5% of CM caused better growth of water spinach than other treatments. Total fungal and bacterial populations were strongly correlated with water spinach height and dry weight. ABSTRAK Dampak negatif penumpukan tailing di lahan pertanian adalah hilangnya profil tanah dan penurunan kualitas tanah sehingga tanaman sulit tumbuh. Penelitian ini bertujuan untuk mengobservasi pengaruh pemberian dosis pupuk kotoran sapi (PKS) pada tailing tambang emas terhadap populasi jamur dan bakteri total biomassa kangkung darat (Ipomoea reptans (L.) Poir.) serta menganalisis korelasi antara populasi jamur dan bakteri di tanah sekitar perakaran dengan parameter pertumbuhan kangkung. Percobaan pot di rumah kaca disusun dalam rancangan acak kelompok dengan lima perlakuan dan lima ulangan. Perlakuan percobaan adalah tanpa dan dengan penambahan 5, 10, 15 dan 20% PKS ke dalam tailing. Perlakuan yang sama diberikan pada tanaman kangkung dengan tanah Inceptisol. Hasil percobaan menunjukkan bahwa pertumbuhan kangkung di tailing terhambat dibandingkan di tanah Inceptisols, tetapi tanaman di tailing lebih responsif terhadap aplikasi PKS. Pupuk kotoran sapi mampu meningkatkan populasi jamur dan bakteri total di sekitar perakaran, tinggi tanaman, jumlah daun, ketebalan batang, bobot basah serta bobot kering tanaman di tailing. Pemberian 5% PKS lebih meningkatkan pertumbuhan tanaman kangkung dibandingkan dengan perlakuan lainnya. Populasi jamur dan bakteri masing-masing berkorelasi positif dengan hubungan yang sangat kuat dengan bobot kering serta tinggi tanaman kangkung. Percobaan ini menjelaskan bahwa bahan organik penting untuk memperbaiki kualitas tailing dan pertumbuhan tanaman

    Pengaruh metode aplikasi pupuk terhadap pertumbuhan dan hasil beberapa varietas bawang merah

    Full text link
    The demand for shallots continues to experience a significant increase in consumption. The use of appropriate varieties and improved nutrition is one of the efforts to increase shallot production. The purpose of the study was to determine the effect of fertilizer application methods on the growth and yield of several shallot varieties. The research was conducted in May-August 2023 in Ngringo Village, Jaten District, Karanganyar, Central Java with an altitude of 119.6 masl. This study used a factorial Complete Randomized Group Design (CRD) with two factors. Fertilizer application method was the first factor, namely: sowing and leaking. Varieties became the second factor, namely: Bima Brebes, Bauji, Tajuk, and Batu Ijo, resulting in eight treatment combinations with four replications. Observation parameters included plant height, number of leaves, fresh stalk weight, dry stalk weight, number of bulb, fresh weight of bulb, dry weight of bulb, dry weight of bulb per hectare, and bulb diameter. The results showed that the application of fertilizer by sowing can increase plant height 2-3 weeks after planting, fresh weight of bulbs, and dry weight of bulbs of shallots. The Tajuk variety produces plant height at 5 weeks, the number of leaves at 5 weeks, the fresh and dry weight of bulbs, the number of bulbs, and the fresh and dry weight stalk of shallots higher than other varieties. Fertilizer application by sowing can be applied to the Tajuk variety of shallots. ABSTRAK Kebutuhan bawang merah terus mengalami peningkatan konsumsi yang cukup signifikan. Penggunaan varietas yang tepat dan perbaikan nutrisi merupakan salah satu upaya untuk meningkatkan produksi bawang merah. Tujuan penelitian yaitu mengetahui pengaruh cara aplikasi pupuk terhadap pertumbuhan dan hasil beberapa varietas bawang merah. Penelitian dilaksanakan pada Bulan Mei-Agustus 2023 di Desa Ngringo, Kecamatan Jaten, Karanganyar, Jawa Tengah dengan ketinggian wilayah 119,6 mdpl. Penelitian ini menggunakan Rancangan Acak Kelompok Lengkap (RAKL) faktorial dengan dua faktor. Cara aplikasi pupuk menjadi faktor pertama, yaitu: ditabur dan dituangkan. Varietas menjadi faktor kedua, yaitu: Bima Brebes, Bauji, Tajuk, dan Batu Ijo, sehingga terdapat delapan petak kombinasi perlakuan yang diulang empat kali. Parameter pengamatan meliputi tinggi tanaman, jumlah daun, berat brangkasan segar, berat brangkasan kering, jumlah umbi per rumpun, berat segar umbi per rumpun, berat kering umbi per rumpun, berat kering umbi per hektar, dan diameter umbi. Hasil penelitian menunjukkan aplikasi pupuk dengan cara ditabur dapat meningkatkan tinggi tanaman 2-3 minggu setelah tanam (MST), berat segar umbi per rumpun, dan berat kering umbi per rumpun bawang merah. Varietas Tajuk menghasilkan tinggi tanaman pada 5 MST, jumlah daun pada 5 MST, berat segar dan kering umbi per rumpun, jumlah umbi per rumpun, serta berat brangkasan segar dan kering bawang merah lebih tinggi dibanding varietas lain. Pemberian pupuk dengan cara ditabur dapat diaplikasikan pada bawang merah varietas Tajuk

    Corn growth on gold-mine tailings inoculated with nitrogen-fixing and phosphate-solubilizing bacteria

    Full text link
    Gold-mine tailings, challenging environment for plant growth, was our study focus. Introducing nitrogen-fixing bacteria (NFB) and phosphate-solubilizing bacteria (PSB) provides nutrients and phytohormones for plant growth. A pot experiment was designed to assess the corn growth on tailing inoculated with NFB and PSB. The research, conducted in a completely randomized block design, was replicated seven times; the treatments were : without inoculation (control), single inoculation of Azo-7.2, single inoculation of BPF-9, a mixture of Azo-7.2 and BPF-9. The results revealed that inoculation of NFB and PSB significantly increased plant height, stem diameter, leaf number, and P-uptake but did not affect leaf area, chlorophyll content, root length, S/R ratio, N-uptake, and plant biomass, and NFB and PSB count in the rhizosphere. Single inoculants of BPF-9 and mixed inoculants increased plant height by 1.2% to 7%, stem diameter, leaves number, and S/R ratio; only mixed inoculation increased N-uptake, however, Azo-7.2 potential to enhance leaf area, chlorophyll content, and corn biomass. The population of NFB and PSB in the rhizosphere of all treated and control plants was slightly lower than the initial population. The research, in particular, verified that the corn growth on tailings inoculated with NFB and PSB was better than that of uninoculated. ABSTRAK Tailing tambang emas yang merupakan tantangan untuk pertumbuhan tanaman, menjadi fokus penelitian ini. Inokulasi bakteri pengikat nitrogen (BPN) dan bakteri pelarut fosfat (BPF) menyediakan nutrisi dan fitohormon yang penting untuk pertumbuhan tanaman. Percobaan pot dirancang untuk mengevaluasi kinerja pertumbuhan jagung (Zea mays L.) pada tailing yang diinokulasi dengan BPN dan BPF. Penelitian dilakukan dengan rancangan acak kelompok yang diulang sebanyak tujuh kali; perlakuan percobaan adalah tanpa inokulasi (kontrol) dan dengan inokulasi tunggal BPN Azo-7.2 dan BPF-9 serta campuran Azo-7.2 dan BPF-9. Hasil penelitian menunjukkan bahwa inokulasi BPN dan BPF dengan nyata meningkatkan tinggi tanaman, diameter batang, dan jumlah daun tetapi tidak mempengaruhi luas daun, kandungan klorofil, panjang akar, biomassa tanaman, serta jumlah BPN dan BPF di rizosfer. Inokulan tunggal BPF-9 dan inokulan campuran campuran meningkatkan tinggi tanaman 1,2% sampai 7%, diameter batang, jumlah daun, dan rasio S/R secara signifikan. Namun Azo-7.2 berpotensi untuk meningkatkan luas daun, kandungan klorofil, dan biomassa jagung. Populasi BPN dan BPF di rizosfer seluruh tanaman yang diberi perlakuan dan kontrol sedikit lebih rendah dibandingkan populasi awal sebelum percobaan. Penelitian ini, secara khusus, memastikan bahwa performansi pertumbuhan jagung pada tailing yang diinokulasi dengan BPN dan BPF lebih baik dibandingkan dengan tanaman di tailing tanpa inokulasi

    Population of P-solubilizer bacteria, available P, P Uptake and chili yield affected by bioameliorants and nutrient

    No full text
    The consumption of red chili (Capsicum annum L.) increased annually, requiring higher productivity. However, this is not supported by optimal soil fertility which has a low nutrient content. This research aimed to examine the interaction between bioameliorant dose (B) and nutrient solution application interval (F) on phosphate solubilizing bacteria (PSB), available P, P uptake, fruit weight per plant, and fruit weight per fruit. The research was conducted using a Factorial Randomized Block Design with two factors and three replications (bioamelioran dosage: 0, 3, 6 t ha-1) and nutrient solution application interval: every one, three, and five days. The results showed an interaction effect on fruit weight with the best treatment being a bioameliorant dose of 3 t ha-1 and a nutrient solution interval once a day. The bioameliorant increased available P and the nutrient solution interval had influenced on soil available P and fruit weight per plant. Application of a bioameliorant dose of 3 t ha-1 and nutrient solution interval once a day produced the highest yield of chili.   ABSTRAK Konsumsi cabai merah (Capsicum annum L.) meningkat setiap tahunnya, sehingga membutuhkan produktivitas yang lebih tinggi. Namun, hal ini tidak didukung oleh kesuburan tanah yang optimal serta memiliki kandungan nutrisi yang rendah. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui interaksi antara dosis bioamelioran (B) dan interval pemberian larutan hara (F) terhadap bakteri pelarut fosfat (BPF), P-tersedia, serapan P, bobot buah per tanaman, dan bobot buah per buah. Penelitian dilakukan menggunakan Rancangan Acak Kelompok Faktorial dengan dua faktor dan tiga ulangan (dosis bioamelioran: 0, 3, 6 t ha-1) dan interval pemberian larutan hara: setiap satu, tiga, dan lima hari. Hasil penelitian menunjukkan adanya pengaruh interaksi terhadap rerata berat buah, dengan perlakuan terbaik adalah dosis bioamelioran 3 t ha-1 dan interval pemberian larutan hara satu kali sehari. Pemberian bioamelioran mampu meningkatkan P-tersedia. Interval pemberian larutan hara mempengaruhi kandungan P-tersedia tanah dan bobot buah per tanaman. Aplikasi bioamelioran dengan 3 t ha-1 dan interval pemberian larutan hara satu kali sehari menghasilkan hasil cabai merah tertinggi.   Kata kunci: Cabai Merah, Mikroba Menguntungkan, Pembenah Tanah, Unsur Har

    Karinding: kearifan lokal budaya Jawa Barat sebagai pengendali hama pada tanaman padi

    No full text
    The green revolution promoted synthetic pesticide use in agriculture, but this practice negatively affects the environment and health. Karinding, a traditional musical instrument from West Java, is believed to offer an eco-friendly alternative for repelling pests in rice cultivation. This study aimed to evaluate the effectiveness of karinding as a pest control method. A non-factorial randomized block design was used with four treatments: control, manual karinding, recorded karinding, and synthetic pesticide. Each treatment involved 10 rice clumps, repeated four times, with 10-m spacing to minimize bias. Parameters observed included pest attack intensity, insect diversity, soil pH, and microorganism population. Results showed no significant difference in pest attacks between weeks 4–12, except in week 7 where synthetic pesticides had the lowest intensity (13.15%). Insect diversity was moderate across treatments, highest in the control (H’=2.083) and lowest in the pesticide treatment (H’=1.595), with no dominant species (C<0.5). The synthetic pesticide reduced overall insect populations, although some species remained. Soil pH in karinding treatments ranged from 5.7–5.8, with higher microorganism populations than in the pesticide treatment. The highest number of panicles per hill was in the control (40.72), and the lowest in the pesticide treatment (22.27), while panicle length and dry grain weight were not significantly different. Although less effective than synthetic pesticides in suppressing pests, karinding helps preserve insect diversity and soil health, making it a promising environmentally friendly pest control alternative.   ABSTRAK Revolusi hijau mendorong penggunaan pestisida sintetik dalam pertanian, namun penggunaannya berdampak negatif bagi lingkungan dan kesehatan. Karinding, alat musik tradisional Jawa Barat, diyakini sebagai alternatif ramah lingkungan untuk mengusir hama pada tanaman padi. Penelitian ini bertujuan menguji efektivitas alat musik karinding sebagai alat untuk mengendalikan hama pada padi. Penelitian ini merupakan penelitian eksperimental yang menggunakan rancangan acak kelompok non-faktorial dengan empat perlakuan: kontrol, karinding manual, karinding rekaman, dan pestisida sintetik. Setiap perlakuan terdiri atas 10 rumpun padi dan diulang sebanyak empat kali. Untuk mengurangi bias, jarak antar perlakuan dibuat sejauh 10 m. Parameter yang diamati meliputi intensitas serangan hama, keanekaragaman serangga, serta kondisi tanah (pH dan populasi mikroorganisme). Hasil penelitian menunjukkan intensitas serangan hama pada 4-12 minggu setelah tanam tidak berbeda signifikan, kecuali pada minggu ke-7, di mana pestisida sintetik memberikan intensitas serangan terendah (13,15%). Keanekaragaman serangga tergolong sedang dengan nilai terendah pada perlakuan pestisida sintetik (H’=1,595) dan tertinggi pada kontrol (H’=2,083), tanpa serangga dominan (C<0,5). Populasi serangga pada perlakuan pestisida sintetik lebih sedikit dibandingkan perlakuan lain, kecuali beberapa spesies tertentu. Karinding memperbaiki kondisi tanah dengan pH 5,7-5,8 dan populasi mikroorganisme lebih tinggi dibanding pestisida sintetik. Hasil tanaman menunjukkan jumlah malai per rumpun tertinggi pada kontrol (40,72) dan terendah pada pestisida sintetik (22,27). Panjang malai dan bobot gabah kering tidak berbeda signifikan antar perlakuan. Kesimpulannya, penggunaan karinding tidak efektif mengendalikan hama seperti pestisida sintetik, namun dapat menjaga keanekaragaman serangga dan kesehatan tanah sehingga berpotensi menjadi metode pengendalian ramah lingkungan.   Kata kunci: Hama padi; intensitas serangan; karinding; pengendalian ramah lingkungan; pertanian berkelanjuta

    Biologi, infestasi dan musih alami Spodoptera frugiperda (J.E.Smith) pada pertanaman jagung di Kabupaten Banggai

    Full text link
    Spodoptera frugiperda has a high potential to cause crop failure in corn plantations. However, information on this pest attack is still very limited in Central Sulawesi and there have been no reports of this pest attack in Banggai Regency. The purpose of this study was to analyze the biology, infestation and natural enemies of S. frugiperda in Banggai Regency. This study was conducted in corn plantations owned by the community in Boras village, Sepe village and Dolom village. Observation of the biology of S. frugiperda was done by calculating the time needed at each stage. Observation of infestation was done by observing sample plants that were attacked and observing natural enemies in the form of parasitoids by taking samples of eggs and larvae then observing the parasitoids that appeared, in observing predators by using pitfall traps to trap insects on the ground which were then identified and in observing entomopathogenic fungi by taking samples of infected S. frugiperda larvae in the field and then identifying them. The results showed that the life cycle of S. frugiperda lasts approximately 45 days. The infestation of S. frugiperda is considered very high with an average infestation in the last observation in Boras Village of 84%, Sepe Village of 76% and Dolom Village of 88%. 5 types of natural enemies were found, namely 1 type of egg parasitoid (Telenomus sp.), 1 type of larval parasitoid (Megaselia sp.), 2 types of predators (Lycosa sp. and Forficula sp.), and 1 type of entomopathogenic fungus (Metarhizium sp.). ABSTRAK Spodoptera frugiperda sangat berpotensi menimbulkan gagal panen pada pertanaman jagung. Akan tetapi, informasi mengenai serangan hama ini masih sangat sedikit di Sulawesi Tengah dan belum ada laporan mengenai serangan hama tersebut di Kabupaten Banggai. Tujuan penelitian ini untuk menganalisis biologi, infestasi dan musuh alami S. frugiperda di Kabupaten Banggai. Penelitian ini dilaksanakan di lahan pertanaman jagung milik masyarakat di Desa Boras, Desa Sepe dan Desa Dolom. Pengamatan biologi S. frugiperda yaitu dengan menghitung waktu yang dibutuhkan pada setiap stadianya. Pengamatan infestasi dilakukan dengan cara mengamati tanaman sampel yang terserang dan pengamatan musuh alami berupa parasitoid yaitu dengan mengambil sampel telur dan larva kemudian diamati parasitoid yang muncul, pada pengamatan predator yaitu dengan menggunakan pitfall-trap untuk memerangkap serangga permukaan tanah yang kemudian diidentifikasi dan pada pengamatan cendawan entomopatogen yaitu dengan mengambil sampel larva S. frugiperda yang terinfeksi di lapangan kemudian diidentifikasi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa siklus hidup S. frugiperda berlangsung kurang lebih selama 45 hari. Infestasi S. frugiperda tegolong sangat tinggi dengan rata-rata infestasinya pada pengamatan terakhir yaitu di Desa Boras sebesar 84%, Desa Sepe sebesar 76% dan Desa Dolom sebesa 88%. Ditemukan 5 jenis musuh alami yaitu 1 jenis parasitoid telur (Telenomus sp.), 1 jenis parasitoid larva (Megaselia sp.), 2 jenis predator (Lycosa sp. dan Forficula sp.), dan 1 jenis cendawan entomopatogen (Metarhizium sp.)

    199

    full texts

    217

    metadata records
    Updated in last 30 days.
    Jurnal Agro
    Access Repository Dashboard
    Do you manage Open Research Online? Become a CORE Member to access insider analytics, issue reports and manage access to outputs from your repository in the CORE Repository Dashboard! 👇