23,834 research outputs found
Gloses sur un traité de jurisprudence shafiʿite, par Molla Mohammad ʿAbd al-Khalik Warrak, fils du shaïkh al-Islam Molla Salih Mohammad.
Numérisation effectuée à partir d'un document de substitution.Le titre de ces gloses a été laissé en blanc dans la souscription ; elles ont été terminées en l'année 820 de l'hégire ; l'auteur est nommé, dans un titre inscrit sur l'une des feuilles de garde, Molla ʿAbd al-Khalik Warrak, et, dans la souscription (folio 588 verso), Molla Mohammad Khan, fils de Molla Salih Mohammad, shaïkh al-Islam ; les sources principales de Molla Mohammad Khalik Warrak sont le al-Rafiʿi, c'est-à-dire le commentaire sur le al-Wadjiz de Abou Hamid al-Ghazali, par Aboul-Qāsim ʿAbd al-Karim ibn Mohammad al-Rafiʿi, le al-Rauza de Mohyi al-Din Abou Zakaria Yahya ibn Sharaf al-Nawawi, le Khadim al-Rafiʿi, c'est-à-dire le Khadim al-Rafiʿi wal-Rauza de Badr al-Din Mohammad, le Mokhtasar al-Kafi fi sharh mokhtasar al-Mouzani ; ce manuscrit a été copié sur un exemplaire daté de 893 de l'hégire / 1487-1488
The Concept of Land Ownership in Islam and Poverty Alleviation in Pakistan
Land ownership—in its ethico-legal and historical manifestations, reflects the importance of being a politico-economic institution. In the process of its development, it includes various heterogeneous elements of different systems of ownership. With the growth of the Ummah, the principles of laws of ownership represent and embody the relations, rights and duties to form the general law of obligations at the state as well as individual level. This is the case of economic and legal theory, regarding the ownership of land with implicative infrastructure to build social welfare institutions of Islam. It is generally and basically have been ordained that according to the teachings of Islam, Real ownership belongs to Allah Almighty. Man being the vicegerent holds property in trust for which he is accountable to him in accordance with the clearly laid down economic philosophy of Islam. Ownership of man is a concept alien to Islam as it belongs to Allah Almighty only.
Biografi pemikiran mohammad natsir (1929-1992)
Latar belakang penelitian dalam penelitian ini penulis melihat sosok Mohammad Natsir yang banyak menerohkan prestasi dalam dunia sejarah Indonesia, terutama dalam sejarah Politik, Pendidikan Islam dan Agama, prestasi
ini terlihat dari seorang Mohammad Natsir yang banyak menulis karya-karya yang berbentuk buku atau artikel yang banyak dimuat diberbagai majalah kala itu. Melihat dari banyaknya karya-karyanya seperti buku Capita selecta, Fiqhu
Da’wah, Islam Sebagai Dasar Negara, Dunia Islam Dari Masa ke Masa. Dari tulisan inilah membuat seorang Mohammad Natsir banyak dikenal oleh berbagai belahan masyarakat yang nampak dalam pemikirannya yang meliputi pemikran Mohammad Natsir mengenai Politik, Pendidikan Islam, dan Agma. Kiprah
Mohammad Natsir dalam sejarah Indonesia ini terjadi pada periode (1929-1992). Adapun untuk rumusan masalah dalam penelitian ini berbicara tentang 1. Bagimana Riwayat Hidup Mohammad Natsir? 2. Bagaimana Perkembangan
Pemikiran Mohammad Natsir dalam Politik, Pendidikan Islam, dan Agama (1929-1992)?. Adapun untuk Tujuan penelitian ini adalah 1. untuk mengetahui riwayat hidup Mohammad Natsir, dan 2. perkembangan pemikiran Mohammad Natsir
pada (1929-1993)?. Dalam penulisan ini, penulis menggunakan metode penulisan sejarah yang meliputi empat tahapan kerja yaitu: Heuristik (tahapan pengumpulan sumber), Kritik (tahapan ini sering disebut dengan tahapan pengujian data yang meliputi tahapan kritik ekstren dan Kritik Interen), Interpretasi (penafsiran akan makna fakta dan hubungan antara satu fakta dengan fakta lainnya), dan Historiografi (penyusunan dan penuangan seluruh hasil penelitian menjadi satu kisah sejarah dalam bentuk karya ilmiah).
Hasil dari penelitia menunjukan bahwa Mohammad Natsir adalah salah seorang tokoh politik, pencetus pendidikan Islam, selain itu juga seorang pendakwah yang lahir dan berkembang pada masa kolonialisme yang melanda Indonesia, pada saat itu Mohammad Natsir mendapatkan pendidikan dari pihak
barat dan pihak tradisonal Islam yaitu sekolah di HIS yang didirikan oleh Belanda dan belajar kepada tokoh-tokoh Islam pada masa itu yaitu Ahmad Hasan, H.O.S. Tjokroaminoto, H. Agus Salim, Ahamad Syurkati, sehingga menghasilkan corak
pemikiran yang mempunyai semangat barat tapi tidak melupakan asas-asas yang ada dalam pedoman Islam. Adapun untuk Perkembangan pemikiran Mohammad Natsir dimulai pada tahun 1930-1959, periode ini Mohammad Natsir berbicara
tentang perpolitikan Indonesia, pemikiran Mohammad Natsir selanjutnya yaitu pada periode 1930-1945, periode ini Mohammad Natsir banyak membicarakan tentang pendidikan Islam, periode selanjutnya yaitu pada 1930-1992, periode ini
yaitu berbicara tentang pemikiran Mohammad Natsir mengenai agama
En boksamlings väg till Umeå universitetsbibliotek
Om boksamlingar och synen på islam. Rapporten består av två föredrag av Sigrid Kahle i samband med förvärvet av Sigrid och John Kahles boksamling till Umeå universitetsbilbliotek med en inledning av Mohammad Fazlhashemi</p
KONSEP PENDIDIKAN ISLAM INTEGRAL MENURUT MOHAMMAD NATSIR
Abstract: The research entitled Concept of Integral Islamic Education According to Mohammad Natsir, aims to find out how the concept of integral education is applied by Mohammad Natsir. This type of research is library research because the data in this study were taken from library materials. This study uses several methods, including: Content, historical and descriptive. The data sources are taken through primary data and secondary data. The results obtained from this study are Mohammad Natsir's thoughts on integral education, which is an educational model that combines Islamic education and general education, this is evidenced by not contrasting the west with the east. Islam only recognizes the antagonism between right and falsehood. Everything that is right is accepted, even if it comes from the west, all that is false will be removed even if it comes from the east. With the creation of integral education, students can prioritize between spiritual and physical. The implementation of Mohammad Natsir's integral education is that the curriculum used is the national curriculum and the religious curriculum. And balance between worldly life and hereafter, balance between physical and spiritual. In public schools, Islamic Religious Education must be included in a balanced manner. Likewise, Islamic boarding schools must also include general education in a balanced way. Keywords: Islamic Education, Integral, Mohammad Natsir Abstrak: Penelitian yang berjudul Konsep Pendidikan Islam Integral Menurut Mohammad Natsir, bertujuan untuk mengetahui bagaimana konsep pendidikan integral yang diterapkan oleh Mohammad Natsir. Jenis penelitian ini merupakan penelitian studi kepustakaan (library research) karena data-data dalam penelitian ini diambil dari bahan-bahan pustaka. Penelitian ini menggunakan beberapa metode antara lain: Content, historis dan deskriptif. Adapun sumber data yang diambil melalui data primer dan data sekunder. Hasil yang diperoleh dari penelitian ini adalah pemikiran Mohammad Natsir tentang pendidikan integral adalah model pendidikan yang memadukan antara pendidikan Islam dan pendidikan umum, ini dibuktikan dengan tidak mempertentangkan antara barat dengan timur. Islam hanya pengenal antagonisme antara hak dan bathil. Semua yang hak diterima, biar pun datangnya dari barat, semua yang bathil akan disingkirkan biarpun dari timur datangnya. Dengan terciptanya pendidikan integral peserta didik dapat mementingkan antara ruhani dan jasmani. Implementasi pendidikan integral Mohammad Natsir itu adalah kurikulum yang dipakai adalah kurikulum nasional dan kurikulum agama. Serta menyeimbangkan antara kehidupan duniawi dan ukhrawi, keseimbangan antara jasmani dan ruhani. Pada sekolah umum, Pendidikan Agama Islam harus dimasukkan secara seimbang. Begitu pula dengan pesantren juga harus memasukkan pendidikan umum secara seimbang pula. Kata kunci: Pendidikan Islam, Integral, Mohammad Natsi
Islam dan akal merdeka : kritik atas pemikiran soekarno tentang "islam sentoloyo" dan seputar pembaruan pemikiran islam tahun 2018
Buku ini memuat pikiran dari mohammad natsir tentang pembaruan pemikiran islam, terutama kritiknya terhadap pembaruan pemikiran yang digulirkan oleh soekarno. Penulis memberikan kritik dan koreksi terhadap pemikiran soekarno.172 hlm, 20,2 x 14,4 c
Transformasi Islam Moderat Mohammad Natsir Dalam Bernegara
This article aims to reveal the transformation of moderate Islam by Mohammad Natsir in the state. Where Natsir who lives not only as a statesman, but also in Islam is a Muslim thingker and scholar. Movements and upheavals of thought whose source is Islam, makin Natsir a militant fighter and statesmen in the fiht for Islam and the state. The primary sources in this study are: 1) M. Natsir, Fiqhud Da’wah, cet. Ke-10, (Jakarta: Capita Selecta,1996), 2). M. Natsir, Capita Selecta I-III (Bandung: Sumur Bandung, 1961), dan 3), M. Natsir, Islam dan akal merdeka, (Bandung: Sega Arsy, 2015), 4). M. Natsir, Islam sebagai Dasar Negara, (Bandung: Sega Arsy, 2014), dan 5) M. Natsir, Revolusi Indonesia, (Bandung: Sega Arsy, 2016). Next, the date were analyzed using the method content analysis and critical discourse analysis. The result showed that the transformation of moderate Islam by Mohammad Natisr was reflected in Natsir is political style, where Natsir combines the concept of state with religion, Islam as the core in politics. So it can concluded that Natsir’s transformation of moderate Islam in the state uses the concept of an Islamic democration state
Pemikiran Mohammad Hatta Tentang Pendidikan Islam
This paper analyzes Mohammad Hatta's idea of modern Islamic education. Mohammad Hatta is not only known as a national figure and the first Indonesian vice president, but also a faithful, active individual in the field of Islamic education. He also expresses his idea regarding Islamic education in papers. Islamic education discourse still emerges as an important discussion topic today. This paper is the result of a qualitative study with literature review. The study aimed to discover Mohammad Hatta’s idea of modern Islamic education, which still emerges as a problem in today's Indonesian Islamic education. In this case, it is necessary to provide a representative, modern Islamic education in order to deliver ideal Muslim scholars. The study found that the construct of Mohammad Hatta’s idea on modern Islamic education was to create coherence between religion and modern science, comprising sociology, history, and philosophy. Such an idea is not merely an abstract, it was applied through the establishment of Sekolah Tinggi Islam (Islamic College) in 1945 as a modern Islamic higher education
IKHTIAR AKADEMIK MOHAMMAD ILYAS MENUJU UNIFIKASI KALENDER ISLAM INTERNASIONAL
Pemikiran perumusan Kalender Islam Internasional Mohammad Ilyas menjadi sangat penting untuk dikaji melalui pendekatan ilmiah menuju unifikasi Kalender Islam Internasional yang mapan. Pemikiran Islam fenomenal ketika berhadapan dengan perubahan teknologi dan pengembangan sains, maka kajian tentang tren pengembangan Islam kontemporer menjadi isu menarik dan up to date dikarenakan pemikiran dalam Islam bersifat dinamis dan unik. Salah satu tokoh pemikiran kontemporer yang fenomenal pemikirannya, yang berkaitan perumusan Kalender Islam Internasional adalah Mohammad Ilyas. Artikel ini bertujuan untuk melihat ikhtiar akademik Muhammad Ilyas mewujudkan kalender Islam internasional dari berbagai upaya akademik dengan berbagai karya monumentalnya.Pemikiran perumusan Kalender Islam Internasional Mohammad Ilyas menjadi sangat penting untuk dikaji melalui pendekatan ilmiah menuju unifikasi Kalender Islam Internasional yang mapan. Pemikiran Islam fenomenal ketika berhadapan dengan perubahan teknologi dan pengembangan sains, maka kajian tentang tren pengembangan Islam kontemporer menjadi isu menarik dan up to date dikarenakan pemikiran dalam Islam bersifat dinamis dan unik. Salah satu tokoh pemikiran kontemporer yang fenomenal pemikirannya, yang berkaitan perumusan Kalender Islam Internasional adalah Mohammad Ilyas. Artikel ini bertujuan untuk melihat ikhtiar akademik Muhammad Ilyas mewujudkan kalender Islam internasional dari berbagai upaya akademik dengan berbagai karya monumentalny
ISLAM DAN PANCASILA DALAM PEMIKIRAN MOHAMMAD NATSIR
This research was conducted to see how Mohammad Natsir thought about the relationship between Islam and Pancasila. This study also explains the causes of Natsir's change of mind which initially supported Pancasila as part of Islam and later turned into an opponent of Pancasila in Konstituante on 11 November to 6 December 1957. The methodology used was a qualitative method by describing the results of the analysis carried out. The research data is obtained through a review of documents and scientific literature. The results of the study show that Mohammad Natsir's change of mind regarding the relationship between Islam and Pancasila was influenced by Mohammad Natsir's political socialization which began from Natsir's view of Islam influenced by the childhood environment (conditional and socio-cultural) in Minangkabau; direct influence from national figures such as Ahmad Hassan, H. Agus Salim, Sheikh Ahmad Syurkati and H. O Tjokroaminoto; the indirect influence of international figures throughout reading book such as Hassan Al-Banna, Amir Syakib Arselan, Rashid Ridha and Muhammad Abduh; the influence of Natsir's organization and political parties, namely Jong Islamieten Bond (JIB), Islamic Unity (Persis), and Masyumi political parties; and the influence of the political conditions at that time which made Natsir's views change, which initially accepted Pancasila and then became an opponent of the Pancasila. This research shown there are two patterns of Natsir's relationship with Pancasila, namely (1) Natsir accepted Pancasila and, (2) Natsir opposed Pancasila
- …
