16,799 research outputs found
East-West Center Oral History Project : Muhammad Ibrahim
Interviewed by Dan Berman, March 30, 2006 in Islamabad, Pakistan.For more about the East-West Center, see https://www.eastwestcenter.org/Muhammad Ibrahim was born into a family of farmers near Lahore, Pakistan, where his sisters and brothers still live in the village. After getting his master's degree and while working for Punjab's Department of Agriculture, he applied for an EWC scholarship from an ad in the newspaper. Ibrahim came to EWC in 1977 as an Open Grants grantee and got his M.S. and his Ph.D. in Tropical Agriculture. He remembers running field experiments in Palolo and Waimanalo with UH supervisor Dr. Kanehiro.Click on the PDFs to read more. Includes photograph, interview quotes, and the full interview narrative
Hadis Gerhana dan Wafatnya Ibrahim Ibn Muhammad
Selama periode Nabi Muhammad SAW, yaitu pada kurun waktu 610-632 M, gerhana matahari telah terjadi delapan kali, yaitu empat kali terjadi pada periode Mekah dan empat kali terjadi pada periode Madinah. Gerhana terjadi bukan karena kematian atau kehidupan seseorang, melainkan suatu tanda atas kebesaran dan keagungan Allah. Gerhana terbagi menjadi dua yaitu gerhana matahari atau disebut dengan kusuf asy-syams, dan gerhana bulan atau disebut dengan khusuf al-qamr. Ketika terjadi fenomena gerhana, baik gerhana matahari maupun gerhana bulan maka seorang muslim disyariatkan untuk melaksanakan ibadah shalat gerhana. Gerhana matahari pernah terjadi pada zaman Nabi SAW yaitu ketika meninggalnya putera beliau Ibrahim Ibn Muhammad. Para ahli hadis dan ahli astronom berbeda pendapat terkait waktu meninggalnya Ibrahim Ibn Muhammad, namun berdasarkan riwayat-riwayat hadis dan data astronomi diketahui bahwa Ibrahim Ibn Muhammad meninggal pada hari senin 27 Januari 632 M atau 29 Syawal 10 H dengan usia 1 tahun 10 bulan (22 bulan)
PROSES KREATIF MUHAMMAD IBRAHIM ILYAS DALAM MENCIPTAKAN NASKAH DRAMA "CABIK"
Penelitian ini dilakukan untuk mengetahui dan menguraikan proses kreatif Muhammad Ibrahim Ilyas dalam menciptakan naskah drama Cabik serta faktor-faktor yang memengaruhi proses kreatifnya dalam menciptakan naskah drama tersebut. Untuk menganalisis proses kreatif Muhammad Ibrahim Ilyas dalam menciptakan naskah drama Cabik serta faktor-faktor yang memengaruhi proses kreatifnya dalam menciptakan naskah drama tersebut, dalam penelitian ini dilakukan analisis terhadap unsur instrinsik naskah drama Cabik. Analisis mengenai unsur instrinsik naskah drama Cabik dijadikan sebagai salah satu acuan untuk mengetahui proses kreatifnya. Setelah itu dilakukan analisis terhadap proses kreatif serta faktor-faktor yang memengaruhi proses kreatif Muhammad Ibrahim Ilyas dalam menciptakan naskah drama Cabik.
Penelitian ini menggunakan metode kualitatif. Adapun tahap-tahap dalam penelitian ini adalah tahap pengumpulan data, tahap analisis data, dan tahap penyajian analisis data.
Dari penelitian yang dilakukan diperoleh kesimpulan bahwa Muhammad Ibrahim Ilyas sebagai pengarang sangat disiplin dalam mempersiapkan naskah drama Cabik. Kedisiplinannya dapat dilihat dari target-target yang harus dicapai dan dalam mengendapkan ide yang didapat, yang kemudian mampu ia ‘aduk-aduk’ dengan baik hingga menjadi sesuatu yang utuh di pikirannya. Sehingga ketika menuliskannya ia mampu menulis secara rapi dan ‘mengalir’. Proses yang dilalui Muhammad Ibrahim Ilyas dapat dibagi menjadi lima tahap, yaitu: (1) Tahap Memperoleh Ide, (2) Tahap Inkubasi (Pengendapan), (3) Tahap Penulisan, (4) Tahap Pengomunikasian (Publikasi), dan (5) Verifikasi (Revisi/Evaluasi).
Faktor-faktor yang memengaruhi proses kreatif Muhammad Ibrahim Ilyas dalam menciptakan naskah drama Cabik dapat disimpulkan menjadi dua bagian: (1) Faktor Internal; mampu membuatnya tertekan dan kemudian merangsang daya kreatifnya untuk membuat sesuatu yang lebih. (2) Faktor Eksternal; faktor tersebut terlihat sangat membantu Muhammad Ibrahim Ilyas dalam menciptakan naskah drama Cabik. Faktor eksternal tersebut memiliki titik fokus kepada pengalaman, sehingga naskah drama Cabik sangat dekat dengan persoalan keseharian yang dialami oleh masyarakat.
Kata Kunci : proses kreatif, naskah drama, teater, Cabik, Muhammad Ibrahim Ilyas
Pergerakan Islam dalam sejarah sosial di Malaysia antara tahun 1975 - 1985 / Muhammad Idris bin Ibrahim.
Mufti Muhammad Ibrahim Qadri (2021) in response to queries on ‘forced conversion’ raised Muhammad Ziauddin Siyalwi
Mufti Muhammad Ibrahim Qadri (2021) in response to queries on ‘forced conversion’ raised Muhammad Ziauddin Siyalwi, p.14 . available at Hussain, Ghulam (2021), “Mufti Muhammad Ibrahim Qadri (2021) in response to queries on ‘forced conversion’ raised Muhammad Ziauddin Siyalwi”, Mendeley Data, V1, doi: 10.17632/4mtfdxvp4n.1THIS DATASET IS ARCHIVED AT DANS/EASY, BUT NOT ACCESSIBLE HERE. TO VIEW A LIST OF FILES AND ACCESS THE FILES IN THIS DATASET CLICK ON THE DOI-LINK ABOV
PERKEMBANGAN PENDIDIKAN FORMAL PADA MASA PEMERINTAHAN SULTAN MUHAMMAD MULIA IBRAHIM TSAFIUDIN DI SAMBAS KALIMANTAN BARAT TAHUN (1931 – 1943)
Abstrak
Tujuan penelitian ini adalah untuk melihat pendidikan Islam pada masa pemerintahan Sultan Muhammad Mulia Ibrahim Tsafiuddin tahun 1931-1943, pengaruh Belanda terhadap pendidikan di Sambas pada masa pemerintahan Sultan Muhammad Mulia Ibrahim Tsafiuddin tahun 1931-1943, dan sistem pendidikan Madrasah Al-Sultaniyah. Penelitian menggunakan metode sejarah kritis yang terdiri dari empat langkah, yaitu heuristik, kritik sumber, interpretasi dan historiografi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa Pendidikan Islam pada masa pemerintahan Sultan Muhammad Mulia Ibrahim Tsafiuddin adalah berlanjutnya pendidikan Madrasah Al-Sultaniyah yang masih berorientasi dalam pendidikan agama dan berkembang menjadi Tarbiyatul Islam. Pendidikan Islam di Sambas mendapat pengaruh Belanda terlihat Sekolah Tabiyatul Islam memasukkan semua pelajaran Holland Inlandsche School (HIS) dalam kurikulumnya. Ilmu pengetahuan modern, terutama bahasa Belanda yang diterapkan di sekolah Tarbiyatul Islam dipandang sebagai alat untuk mengejar kemajuan. Sistem pendidikan formal di Sambas melalui Madrasah Al-Sultaniyah mauoun Tarbiyatul Islam menggabungkan pendidikan Islam dan Pendidikan Belanda.
Kata Kunci : Pendidikan Formal, Sultan Mulia Ibrahim Tsafiudin, Sambas.
Abstract
The aim of this research is to find out the islamic education in era of Sultan Muhammad Mulia Ibrahim Tsafiuddin in 1931-1943, the influences of Netherland to the education in Sambas while the government of Sultan Muhammad Mulia Ibrahim Tsafiuddin in 1931-1943, and the system of education Madrasah Al-Sultaniyah. The methods of this research is a historical research. The methods of the research is descriptive-analitic includes four stages; heuristic, verification, interpretation, and historiography. The results of this research show if islamic education in era of Sultan Muhammad Mulia Ibrahim Tsafiuddin is the continous of the education Madrasah Al-Sultaniyah with the orientation in education of religion and developing to be Tarbiyatul Islam. Islamic education in Sambas gain the influences from Netherland, we can see from Tarbiyatul Islam included all of studied from Holland Inlandsche School (HIS) in their curriculum. The modern science, especially Dutch language in Tarbiyatul Islam seeing as a tool for gain the significant progress. The formal system of education in Sambas through Madrasah Al-Sultaniyah or Tarbiyatul Islam combining islamic education and Dutch education.
Keyword: Formal education, Sultan Mulia Ibrahim Tsafiudin, Sambas
Interview with Muhammad Ibrahim Abu Sunna
مقابلة مع الشاعر المصري، محمد إبراهيم أبو سنة، يناقش فيها ديوان ""رماد الأسئلة الخضراء،"" قصائدة، بنيتة اللغوية والشعرية وموضوعاتة التي تشتبك مع أسئلة الوجود. قام بالمقابلة حسن شمس الدين.An interview by Hassan Shams El-Din with Egyptian poet Muhammad Ibrahim Abu Sunna on the collection of ""Ashes of Green Questions""
Interview with Muhammad Ibrahim Abu Senna
مقابلة مع الشاعر المصري، محمد إبراهيم أبو سنة، يناقش فيها حصوله على جائزة الدولة التشجيعية في الشعر، عن ديوان ""البحر من موعدنا."" قام بالمقابلة حسن شمس الدين.An interview with Egyptian poet, Muhammad Ibrahim Abu Senna, in which he discusses receiving the State Encouragement Prize in Poetry, for his collection “The Sea is Our Time.” The interview was conducted by Hassan Shams Al-Din
Millah Ibrahim – Quranic Perspective
This article aims to explain about Millah Ibrahim (peace be upon him) from Quranic perspective. Basically it is a guidance and happiness for humanity. Allah SWT ordered His Messenger, Muhammad (peace be upon him) and his Ummah to follow it. This is the way that Ibrahim (Peace be upon him) was to deny polytheism (shirk) of all kinds, and to avoid idolatry in all its forms. It is also the way in his call and argument of his people, and in the work of Hajj, and in his declaration of innocence of polytheism and polytheists and how to reach the peak of faith and ideal that should be followed. The sacrifices and works done by Ibrahim (peace be upon him) are the models to be followed which demonstrated the sincerity of attachment to the commands of God Almighty. The features of Millah Ibrahim (peace be upon him) can be seen in his struggle and his diligence in communicating the religion of Allah, with the attendant of charity (iḥsān) and sincerity (ikhlās). Its fruit, which Allah SWT promised, obtained happiness in this world and the hereafter.
 
Kisah Nabi Ibrahim dalam tafsir Nurul Ihsan karya Muhammad Said bin Umar
Ilmu tafsir penting dipelajari supaya pesan al-Quran dapat dipahami dengan benar dan dapat diaplikasi dalam kehidupan seharian. Salah satu cara memahami isi al-Quran adalah dengan membaca karya tafsir. Sekiranya berfokus kepada tafsir nusantara karangan ulama Malaysia, yang termasuk karya monumental adalah tafsir Nurul Ihsan karya Muhammad Said bin Umar. Kedudukan tafsir ini sebagai tafsir pertama karangan ulama Malaysia dilihat penting untuk dikaji agar tafsir ini lebih mendapat tempat dalam kalangan masyarakat lokal terutamanya. Penelitian ini fokus untuk mengkaji bagaimanakah kisah Nabi Ibrahim dalam Tafsir Nurul Ihsan dan apakah metodologi yang Muhammad Said gunakan dalam menafsirkan ayat-ayat al-Quran yang menceritakan tentang kisah Nabi Ibrahim pada tafsir karangannya.
Penelitian ini merupakan penelitian kualitatif yang bersifat deskriptif analitis dengan menerapkan metode studi pustaka. Penelitian dilakukan dengan mengumpulkan sumber-sumber kepustakaan baik primer maupun sekunder. Lalu, data yang diperoleh akan disusun sesuai kategori berdasarkan pertanyaan penelitian yang mana hasilnya kelak akan ditampilkan sebagai temuan penelitian. Akhirnya, data-data tersebut diabstraksikan supaya menghasilkan fakta yang kemudian akan diinterpretasi menggunakan pendekatan studi tokoh untuk menghasilkan informasi ataupun pengetahuan.
Muhammad Said membuat tema bahasan kisah Nabi Ibrahim pada kitab tafsir Nurul Ihsan. Tema tersebut adalah: Percubaan Nabi Ibrahim dengan sepuluh perkara, Kisah Nabi Ibrahim dengan bapanya, Berhujah Nabi Ibrahim dan Kisah Ibrahim. Adapun, tema-tema ini membahas tentang Janji Allah kepada Nabi Ibrahim, Agama yang dianut oleh Ibrahim as, Dasar-dasar agama yang dibawa para nabi adalah sama, Penyaksian Allah yang disembunyikan, Cara Nabi Ibrahim membimbing kaumnya kepada agama tauhid, Bukti kebenaran agama tauhid dan batilnya kemusyrikan, Kisah dakwah Nabi Ibrahim as., Dalil tentang adanya hari kebangkitan, Ibrahim dijatuhi hukuman bakar dan Ibrahim hijrah ke Syam.
Metodologi Muhammad Said dalam menafsirkan tema bahasan kisah Nabi Ibrahim pada kitab tafsir Nurul Ihsan adalah menggunakan metode Ijmali, menggunakan sumber bi ar-ra’yi, mengetegahkan corak bahasa serta memasukkan nilai lokal (adabi al-ijtima’i) dan fakta sejarah (tarikhi) dalam penafsiran. Penulis berharap di masa akan datang akan muncul lebih banyak kajian yang menjadikan tafsir Nurul Ihsan sebagai bahan kajian agar tafsir ini lebih dikenali masyarakat umum. Penulis juga berharap semoga kelak akan ada usaha untuk merumikan tafsiran pada kitab ini di samping ada usaha secara legit untuk mengaudit bahasa yang digunakan pada tafsirannya agar lebih mudah untuk dipahami masyarakat
- …
