8 research outputs found
Perbaikan Gerak Dasar Lokomotor dan Nonlokomotor Melalui Permainan Modifikasi untuk Kelas III SDLB C di SLB Pembina Tingkat Nasional Lawang Kabupaten Malang.
ABSTRAK Ali Hasan, Noky. 2012. Perbaikan Gerak Dasar Lokomotor dan Nonlokomotor Melalui Permainan Modifikasi untuk Kelas III SDLB C di SLB Pembina Tingkat Nasional Lawang Kabupaten Malang. Skripsi, Jurusan Pendidikan Jasmani dan Kesehatan. Fakultas Ilmu Keolahragaan. Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (1) Prof. Dr.H.M.E. Winarno, M.Pd, (2) I Nengah Sudjana, S.Pd., M.Pd Kata Kunci: meningkatkan, gerak lokomotor dan nonlokomotor, permainan modifikasi. Gerak dasar lokomotor dan nonlokomotor merupakan komponen dalam gerakan dasar atletik, diajarkan mulai jenjang SDLB/MILB. Gerak lokomotor adalah gerak memindahkan tubuh dari suatu tempat ke tempat lain misalnya berjalan, berlari dan melompat sedangkan gerakan nonlokomotor adalah aktivitas yang menggerakan anggota tubuh pada porosnya dan pelaku tidak pindah tempat misalnya memutar, mendorong dan menarik. Melalui pembelajaran gerak dasar lokomotor dan nonlokomotor, diharapkan siswa mampu melakukan gerak dasar lokomotor dan nonlokomotor dengan benar. Berdasarkan observasi awal, Siswa masih mengalami kesalahan dalam melakukan gerak berjalan, berlari, melompat dan memutar. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui: (1) peningkatan gerak lokomotor dan, (2) peningkatan gerak nonlokomotor. Instrumen yang digunakan dalam penelitian ini Adalah lembar observasi dan catatan lapangan. Rancangan penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah penelitian tindakan kelas (PTK). Melalui PTK ini dilaksanakan pembelajaran gerak dasar lokomotor dan nonlokomotor dengan permainan modifikasi. Melalui permainan modifikasi ini, siswa melakukan gerak lokomotor dan nonlokomotor sambil bermain dalam melaksanakan pembelajaran. Hal ini penting mengingat siswa SDLB C mengalami kekurangan dalam gerak dasar. Dalam penelitian ini, peneliti berkolaborasi dengan guru merencanakan tindakan pembelajaran yang berlangsung selama 2 siklus. Hasil penelitian menunjukan bahwa keterampilan melakukan mengalami peningkatan. Berdasarkan hasil observasi dari gerak lokomotor sikap kaki 71,36%, sikap badan 66,54%, sikap kepala 71,24%, dan sikap lengan 76,06%, dan gerak nonlokomotor sikap kaki 71,24%, sikap badan 85,75%, sikap kepala 71,14%, dan sikap lengan 71,24%, Dan mengalami peningkatan pada siklus 1 gerak lokomotor pada sikap kaki 43,16%, sikap badan 52,43%, sikap kepala 44,41% dan sikap lengan 55,13%, dan gerak nonlokomotor pada sikap kaki 57,06%, 52,31%, sikap kepala 33,72%, dan sikap lengan 66,51%, dan mengalami peningkatan pada siklus 2 gerak lokomotor pada sikap kaki 11,06%, sikap badan 12,69%, sikap badan 12,69% dan sikap lengan 23,52%, pada gerak nonlokomotor pada sikap kaki 14,28%, sikap badan 19,10%, sikap kepala 14,28%, dan sikap lengan 23,80%. Berdasarkan hasil penelitian dapat disimpulkan bahwa gerak dasar lokomotor dan nonlokomotor dengan permainan modifikasi dapat meningkatkan hasil belajar siswa kelas III SDLB C di SLB Pembina Tingkat Nasional Lawang Kabupaten Malang.
Perbaikan Gerak Dasar Lokomotor dan Nonlokomotor Melalui Permainan Modifikasi untuk Kelas III SDLB C di SLB Pembina Tingkat Nasional Lawang Kabupaten Malang
ABSTRAK Ali Hasan, Noky. 2012. Perbaikan Gerak Dasar Lokomotor dan Nonlokomotor Melalui Permainan Modifikasi untuk Kelas III SDLB C di SLB Pembina Tingkat Nasional Lawang Kabupaten Malang. Skripsi, Jurusan Pendidikan Jasmani dan Kesehatan. Fakultas Ilmu Keolahragaan. Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (1) Prof. Dr.H.M.E. Winarno, M.Pd, (2) I Nengah Sudjana, S.Pd., M.Pd Kata Kunci: meningkatkan, gerak lokomotor dan nonlokomotor, permainan modifikasi. Gerak dasar lokomotor dan nonlokomotor merupakan komponen dalam gerakan dasar atletik, diajarkan mulai jenjang SDLB/MILB. Gerak lokomotor adalah gerak memindahkan tubuh dari suatu tempat ke tempat lain misalnya berjalan, berlari dan melompat sedangkan gerakan nonlokomotor adalah aktivitas yang menggerakan anggota tubuh pada porosnya dan pelaku tidak pindah tempat misalnya memutar, mendorong dan menarik. Melalui pembelajaran gerak dasar lokomotor dan nonlokomotor, diharapkan siswa mampu melakukan gerak dasar lokomotor dan nonlokomotor dengan benar. Berdasarkan observasi awal, Siswa masih mengalami kesalahan dalam melakukan gerak berjalan, berlari, melompat dan memutar. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui: (1) peningkatan gerak lokomotor dan, (2) peningkatan gerak nonlokomotor. Instrumen yang digunakan dalam penelitian ini Adalah lembar observasi dan catatan lapangan. Rancangan penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah penelitian tindakan kelas (PTK). Melalui PTK ini dilaksanakan pembelajaran gerak dasar lokomotor dan nonlokomotor dengan permainan modifikasi. Melalui permainan modifikasi ini, siswa melakukan gerak lokomotor dan nonlokomotor sambil bermain dalam melaksanakan pembelajaran. Hal ini penting mengingat siswa SDLB C mengalami kekurangan dalam gerak dasar. Dalam penelitian ini, peneliti berkolaborasi dengan guru merencanakan tindakan pembelajaran yang berlangsung selama 2 siklus. Hasil penelitian menunjukan bahwa keterampilan melakukan mengalami peningkatan. Berdasarkan hasil observasi dari gerak lokomotor sikap kaki 71,36%, sikap badan 66,54%, sikap kepala 71,24%, dan sikap lengan 76,06%, dan gerak nonlokomotor sikap kaki 71,24%, sikap badan 85,75%, sikap kepala 71,14%, dan sikap lengan 71,24%, Dan mengalami peningkatan pada siklus 1 gerak lokomotor pada sikap kaki 43,16%, sikap badan 52,43%, sikap kepala 44,41% dan sikap lengan 55,13%, dan gerak nonlokomotor pada sikap kaki 57,06%, 52,31%, sikap kepala 33,72%, dan sikap lengan 66,51%, dan mengalami peningkatan pada siklus 2 gerak lokomotor pada sikap kaki 11,06%, sikap badan 12,69%, sikap badan 12,69% dan sikap lengan 23,52%, pada gerak nonlokomotor pada sikap kaki 14,28%, sikap badan 19,10%, sikap kepala 14,28%, dan sikap lengan 23,80%. Berdasarkan hasil penelitian dapat disimpulkan bahwa gerak dasar lokomotor dan nonlokomotor dengan permainan modifikasi dapat meningkatkan hasil belajar siswa kelas III SDLB C di SLB Pembina Tingkat Nasional Lawang Kabupaten Malang.
Tsulatsiyat Sunan Al-Darimi: Analisis kualitas Sanad Hadis Tsulatsiyat pada Kitab Sunan al-Darimi
Hadis tsulatsiyat termasuk hadis dengan sanad ‘ali, karena jalur periwayatan yang menghubungkan antara mukharrij hingga Nabi Saw hanya melalui tiga rawi. Sanad ‘ali dipandang oleh sebagian ulama lebih utama dibandingkan sanad nazil karena jaraknya yang dekat dengan Rasulullah Saw, sehingga kemungkinan terjadinya kesalahan lebih kecil. Akan tetapi, sebagian ulama lainnya lebih mengutamakan sanad nazil apabila rawinya lebih siqah, faqih, dan kuat hafalannya, serta ketersambungan sanadnya lebih akurat. Dengan demikian, pernyataan bahwa sanad ‘ali lebih utama dibandingkan sanad nazil tidak berlaku secara mutlak, karena keabsahan suatu hadis tetap bergantung pada kualitas para rawinya. Hadis dengan sanad ‘ali tetap perlu diperhatikan dan diteliti kualitas para rawi serta ketersambungan sanadnya.
Penulis merasa tertarik untuk melakukan penelitian terhadap hadis-hadis tsulatsiyat dalam kitab Sunan al-Darimi. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui hadis-hadis tsulatsiyat dalam kitab Sunan al-Darimi dan untuk mengetahui kualitas sanad dari masing-masing hadis tersebut.
Dalam kitab Sunan al-Darimi terdapat beberapa hadis tsulatsiyat yang akan diteliti untuk mengetahui kualitas sanadnya. Upaya yang dilakukan untuk menilai kualitas suatu hadis adalah dengan menggunakan metode takhrij hadis. Takhrij digunakan untuk menelusuri sumber hadis, memeriksa sanad, dan menentukan kualitasnya.
Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode takhrij dengan pendekatan kualitatif serta menerapkan metode deskriptif-analisis. Sumber data primer berasal dari kitab Sunan al-Darimi, sedangkan data sekunder diperoleh dari literatur ilmu hadis, khususnya kitab-kitab rijal seperti Tahzib al-Kamal, Taqrib al-Tahzib, dan Siyar A’lam al-Nubala’. Teknik analisis dilakukan dengan menelusuri biografi rawi, menilai tingkat ke‘adilan dan dabit, serta memastikan kemungkinan pertemuan antara guru dan murid dalam sanad.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa hadis-hadis tsulatsiyat dalam kitab Sunan al-Darimi berjumlah 14 hadis. Adapun kualitas sanad hadis-hadis tsulatsiyat tersebut, di antaranya terdapat yang berkualitas sahih, hasan, dan da’if. Terdapat 10 hadis yang sanadnya berkualitas sahih, di antaranya 6 hadis dengan sanad yang sama yaitu melalui jalur Yazid bin Harun – Humaid al-Tawil – Anas bin Malik dan 4 hadis lainnya dengan jalur periwayatan yang berbeda-beda yaitu hadis kelima, ketujuh, kesembilan, dan keempat belas. Kemudian terdapat dua hadis yang sanadnya berkualitas hasan yaitu hadis keempat dan kedelapan, sedangkan dua hadis lainnya, kualitas sanadnya da’if yaitu hadis pertama dan kedua belas
Physical Activity with Play and Game Model to Improve the Cognitive of Elementary School Students
Elementary school age is a period of physical growth and movement that plays an important role in the formation of quality individuals. Through physical movements in the form of games that continue to provide optimal development in children both cognitive maturity and motor development. Sports with a play-and-game system can increase the growth of neurons in the brain and stimulate the growth of new neurons in the hippocampus. Meanwhile, physical education learning in elementary schools is still teacher-centered and there is still a lack of variety of learning models. Based on the above problems, the play-and-game model can be used as a monotonous and less interesting learning solution. This learning is effective and innovative because it can provide learning experiences both from cognitive, motor, and affective aspects. Engaging in physical activity will positively affect all systems: cardiovascular, respiratory, hormonal, immunological, and nervous systems. In addition, a large development of the frontal and temporal lobes at the age of children 7-12 years. The brain will become more rapidly developed so that it will make faster cognitive improvement. The Play and game model can improve academic performance both in memory, memory, and learning.AbstrakUsia sekolah dasar merupakan masa pertumbuhan dan gerak fisik yang memegang peranan penting dalam pembentukan individu yang berkualitas. Melalui gerak fisik berupa permainan yang terus memberikan perkembangan optimal pada anak, baik kematangan kognitif maupun perkembangan motorik. Olahraga dengan sistem play and game dapat meningkatkan pertumbuhan neuron di otak dan merangsang pertumbuhan neuron baru di hippocampus. Sementara itu, pembelajaran pendidikan jasmani di sekolah dasar masih berpusat pada guru dan masih kurangnya variasi model pembelajaran. Berdasarkan permasalahan di atas, model play and game dapat digunakan sebagai solusi pembelajaran yang monoton dan kurang menarik. Pembelajaran ini efektif dan inovatif karena dapat memberikan pengalaman belajar yang baik dari aspek kognitif, motorik, dan afektif. Terlibat dalam aktivitas fisik akan berdampak positif pada semua sistem: sistem kardiovaskular, pernapasan, hormonal, imunologi, dan saraf. Selain itu, perkembangan lobus frontal dan temporal utama pada anak usia 7-12 tahun. Otak akan berkembang lebih cepat, membuat peningkatan kognitif lebih cepat. Dengan model Play and Game dapat meningkatkan prestasi akademik baik dalam memori maupun pembelajaran.Abstract Elementary school age is a period of physical growth and movement that plays an important role in the formation of quality individuals. Through physical movement in the form of games that continue to provide optimal development in children, both cognitive maturity and motor development. Sports with a play-and-game system can increase the growth of neurons in the brain and stimulate the growth of new neurons in the hippocampus. Meanwhile, physical education learning in elementary schools is still centered on the teacher and there is still a lack of variations in learning models. Based on the above problems, the play-and-game model can be used as a monotonous and less interesting learning solution. This learning is effective and innovative because it can provide a good learning experience from cognitive, motoric, and affective aspects. Engaging in physical activity will positively affect all systems: cardiovascular, respiratory, hormonal, immunological, and nervous systems. In addition, major frontal and temporal lobes development in children aged 7-12 years. The brain will develop more rapidly, making faster cognitive improvement. With the Play and Game model, it can improve academic performance both in memory and learning
SARS-CoV-2 vaccination modelling for safe surgery to save lives: data from an international prospective cohort study
Background: Preoperative SARS-CoV-2 vaccination could support safer elective surgery. Vaccine numbers are limited so this study aimed to inform their prioritization by modelling.
Methods: The primary outcome was the number needed to vaccinate (NNV) to prevent one COVID-19-related death in 1 year. NNVs were based on postoperative SARS-CoV-2 rates and mortality in an international cohort study (surgical patients), and community SARS-CoV-2 incidence and case fatality data (general population). NNV estimates were stratified by age (18-49, 50-69, 70 or more years) and type of surgery. Best- and worst-case scenarios were used to describe uncertainty.
Results: NNVs were more favourable in surgical patients than the general population. The most favourable NNVs were in patients aged 70 years or more needing cancer surgery (351; best case 196, worst case 816) or non-cancer surgery (733; best case 407, worst case 1664). Both exceeded the NNV in the general population (1840; best case 1196, worst case 3066). NNVs for surgical patients remained favourable at a range of SARS-CoV-2 incidence rates in sensitivity analysis modelling. Globally, prioritizing preoperative vaccination of patients needing elective surgery ahead of the general population could prevent an additional 58 687 (best case 115 007, worst case 20 177) COVID-19-related deaths in 1 year.
Conclusion: As global roll out of SARS-CoV-2 vaccination proceeds, patients needing elective surgery should be prioritized ahead of the general population
Characteristics and outcomes of COVID-19 patients admitted to hospital with and without respiratory symptoms
Background: COVID-19 is primarily known as a respiratory illness; however, many patients present to hospital without respiratory symptoms. The association between non-respiratory presentations of COVID-19 and outcomes remains unclear. We investigated risk factors and clinical outcomes in patients with no respiratory symptoms (NRS) and respiratory symptoms (RS) at hospital admission. Methods: This study describes clinical features, physiological parameters, and outcomes of hospitalised COVID-19 patients, stratified by the presence or absence of respiratory symptoms at hospital admission. RS patients had one or more of: cough, shortness of breath, sore throat, runny nose or wheezing; while NRS patients did not. Results: Of 178,640 patients in the study, 86.4 % presented with RS, while 13.6 % had NRS. NRS patients were older (median age: NRS: 74 vs RS: 65) and less likely to be admitted to the ICU (NRS: 36.7 % vs RS: 37.5 %). NRS patients had a higher crude in-hospital case-fatality ratio (NRS 41.1 % vs. RS 32.0 %), but a lower risk of death after adjusting for confounders (HR 0.88 [0.83-0.93]). Conclusion: Approximately one in seven COVID-19 patients presented at hospital admission without respiratory symptoms. These patients were older, had lower ICU admission rates, and had a lower risk of in-hospital mortality after adjusting for confounders
Mapping artificial intelligence adoption in hepatology practice and research: challenges and opportunities in MENA region
BackgroundArtificial intelligence (AI) is increasingly relevant to hepatology, yet real-world adoption in the Middle East and North Africa (MENA) is uncertain. We assessed awareness, use, perceived value, barriers, and policy priorities among hepatology clinicians in the region.MethodsA cross-sectional online survey targeted hepatologists and gastroenterologists across 17 MENA countries. The survey assessed clinical and research applications of AI, perceived benefits, clinical and research use, barriers, ethical considerations, and institutional readiness. Descriptive statistics and thematic analysis were performed.ResultsOf 285 invited professionals, 236 completed the survey (response rate: 82.8%). While 73.2% recognized the transformative potential of AI, only 14.4% used AI tools daily, primarily for imaging analysis and disease prediction. AI tools were used in research by 39.8% of respondents, mainly for data analysis, manuscript writing assistance, and predictive modeling. Major barriers included inadequate training (60.6%), limited AI tool access (53%), and insufficient infrastructure (53%). Ethical concerns focused on data privacy, diagnostic accuracy, and over-reliance on automation. Despite these challenges, 70.3% expressed strong interest in AI training., and 43.6% anticipating routine clinical integration within 1–3 years.ConclusionMENA hepatologists are optimistic about AI but report limited routine use and substantial readiness gaps. Priorities include scalable training, interoperable infrastructure and standards, clear governance with human-in-the-loop safeguards, and region-specific validation to enable safe, equitable implementation
Characteristics and outcomes of an international cohort of 600 000 hospitalized patients with COVID-19
Background: We describe demographic features, treatments and clinical outcomes in the International Severe Acute Respiratory and emerging Infection Consortium (ISARIC) COVID-19 cohort, one of the world’s largest international, standardized data sets concerning hospitalized patients. Methods: The data set analysed includes COVID-19 patients hospitalized between January 2020 and January 2022 in 52 countries. We investigated how symptoms on admission, co-morbidities, risk factors and treatments varied by age, sex and other characteristics. We used Cox regression models to investigate associations between demographics, symptoms, co-morbidities and other factors with risk of death, admission to an intensive care unit (ICU) and invasive mechanical ventilation (IMV). Results: Data were available for 689 572 patients with laboratory-confirmed (91.1%) or clinically diagnosed (8.9%) SARS-CoV-2 infection from 52 countries. Age [adjusted hazard ratio per 10 years 1.49 (95% CI 1.48, 1.49)] and male sex [1.23 (1.21, 1.24)] were associated with a higher risk of death. Rates of admission to an ICU and use of IMV increased with age up to age 60 years then dropped. Symptoms, co-morbidities and treatments varied by age and had varied associations with clinical outcomes. The case-fatality ratio varied by country partly due to differences in the clinical characteristics of recruited patients and was on average 21.5%. Conclusions: Age was the strongest determinant of risk of death, with a ~30-fold difference between the oldest and youngest groups; each of the co-morbidities included was associated with up to an almost 2-fold increase in risk. Smoking and obesity were also associated with a higher risk of death. The size of our international database and the standardized data collection method make this study a comprehensive international description of COVID-19 clinical features. Our findings may inform strategies that involve prioritization of patients hospitalized with COVID-19 who have a higher risk of death
