1,720,976 research outputs found

    NILAI MORAL DALAM CARITA RAKYAT TOLAKI “OHEOâ€

    No full text
    Penelitian ini mengkaji tentang Nilai Moral dalam Cerita Rakyat Tolaki “Oheoâ€adalah bagaimana kah nilai moral yang terkandung dalam cerita rakyat Tolaki Oheoâ€?. Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan nilai moral yang terkandung dalam cerita rakyat Tolaki Oheoâ€. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode kualitatif. Jenis penelitian ini tergolong penelitian kepustakaan. Teknik yang digunakan dalam pengumpulan data adalah teknik baca dan teknik catat. Data penelitian dianalisis menggunakan pendekatan objektif. Berdasarkan hasil analisis data, disimpulkan bahwa hasil penelitian ini menunjukkan wujud nilai-nilai moral meliputi: (a) hubungan manusia dengan diri sendiri (individual) berupa sikap; kepatuhan, pemberani, rela berkorban, jujur, adil bijaksana, menghormati dan menghargai, bekerja keras, menepati janji, tahu balas budi, baik budi pekerti, rendah, hati, dan hati-hati dalam bertindak. Perwujudan yang paling dominan adalah kepatuhan, bekerja keras. (b) hubungan manusia dengan manusia lain (sosial) berupa kasih sayang, tolong menolong. Kata Kunci: Cerita Rakyat dan Nilai Moral

    Upaya Menumbuhkan Kreativitas Siswa Kelas IV SDN 168 Sumbang Kecamatan Curio Kabupaten Enrekang pada Pembelajaran Matematika Melalui Metode Discovery Learning

    Get PDF
    Skripsi ini membahas tentang upaya menumbuhkan kreativitas belajar matematika siswa kelas IV SDN 168 Sumbang Kec. Curio Kab. Enrekang dengan menggunakan metode discovery learning (penemuan) dengan rumusan masalah: 1) Bagaimanakah kreativitas belajar matematika siswa kelas IVb SDN 168 Sumbang Kabupaten Enrekang tanpa penerapan metode discovery learning?, 2) Bagaimanakah kreativitas belajar matematika siswa kelas IVa SDN 168 Sumbang Kabupaten Enrekang setelah diterapkan metode discovery learning?, 3) Apakah metode discovery Learning efektif dalam menumbuhkan kreativitas siswa kelas IV SDN 168 Sumbang?. Tujuan dari penelitian ini adalah: 1) Untuk mengetahui kreativitas belajar matematika siswa kelas IVb SDN 168 Sumbang Kabupaten Enrekang tanpa penerapan metode Discovery Learning, 2)Untuk mengetahui kreativitas belajar matematika siswa kelas IVa SDN 168 Sumbang Kabupaten Enrekang setelah penerapan metode Discovery Learning, dan 3) Untuk menumbuhkan kreativitas belajar matematika dengan menggunakan metode discovery Learning. Jenis penelitian ini adalah True-eksperimental Desain penelitian ini merupakan jenis penelitian eksperimen mutlak (sungguh-sungguh). Desain penelitian yang digunakan adalah Posttest-Only Control Design. Subjek penelitian yaitu siswa kelas IV SDN 168 Sumbang Kecamatan Curio Kabupaten Enrekang dengan jumlah siswa 60 orang yaitu 30 siswa kelas IVa sebagai kelas eksperimen dan 30 siswa kelas IVb sebagai kelas kontrol. Pengambilan data dilakukan dengan menggunakan lembar observasi dan tes hasil belajar matematika. Data yang diperoleh dianalisis dengan menggunakan statistik deskriptif dan statistik inferensial dengan menggunakan rumus uji t. Hasil analisis data tes kreativitas belajar menunjukkan bahwa tingkat kemampuan siswa kelas IVb sebagai kelas kontrol tanpa penerapkan metode discovery Learning dikategorikan kurang kreatif dengan presentase 56,7% dengan rata-rata skor kreativitas belajarnya 66,2%. Kreativitas belajar setelah diterapkan metode discovery learning dikategorikan kreatif dengan presentase sebesar 66,7% dan rata-rata skor kreativitas belajarnya 84,76%. Hasil analisis statistik inferensial menggunakan rumus uji t, diketahui bahwa nilai tHitung yang diperoleh adalah 6,53. Dengan frekuensi db= 30-1 = 29, pada taraf signifikansi 5% diperoleh tTabel = 1,70. Karena tHitung > ttabel maka dapat ditarik kesimpulan bahwa hipotesis nol (H0) ditolak dan hipotesis alternative(Ha) diterima. Hal ini membuktikan bahwa penerapan metode discovery learning efektif dalam menumbuhkan kreativitas belajar matematik

    Inventarisasi Geoheritage Potensi Kawasan Geowisata Daerah Tongkuno, Pulau Muna, Provinsi Sulawesi Tenggara

    Get PDF
    Daerah Tongkuno yang termasuk dalam Peta Geologi Lembar Buton Formasi Wapulaka dan merupakan bagian dari kars Pulau Muna, Provinsi Sulawesi Tenggara, memiliki potensi keanekaragaman fenomena geologi yang dapat dikembangkang sebagai kawasan geowisata. Tujuan penelitian ini untuk menginventarisasi geoheritage potensi geowisata dan menentukan site (lokasi) serta geotrek yang ada di daerah Tongkuno Kabupaten Muna, Provinsi Sulawesi Tenggara. Metode yang digunakan terdiri dari pengamatan dan pengambilan data lapangan. Pengambilan data lapangan meliputi data litologi penyusun geosite, data geomorfologi/topografi geosite, titik koordinat geosite, akses menuju lokasi geosite, kondisi infrastruktur daerah geowisata, serta kesampaian waktu menuju geosite. Hasil studi ini menunjukkan bahwa Daerah Tongkuno memiliki 3 (tiga) geosite yakni Geosite Walengkabola, Geosite Labora dan Geosite Kotanowuna. Geosite Walengkabola memiliki keunikan berupa danau dolin, pantai bergisik, gua mata air, gua bawah laut serta hamparan terumbu karang yang indah serta terdapat stalagtit dan stalagmit, limestone cliff, gordyn karst, ponor, pits, serta karren. Geosite Labora memiliki keunikan berupa tanjung yang memiliki bentuk memanjang dan mendatar membentuk teras yang dibatasi oleh tebing-tebing gamping yang terjal. Pada dinding tebing terdapat ornamen-ornamen berupa fitur geologi minor seperti pits dan pans, rill karren, protocave, gordyn, dan karst dan pada kaki tebing dekat pantai terdapat gua dengan ornamen berupa stalagtit dan stalagmit, kristal kalsit dan mata air. Geosite Kotanowuna memiliki keunikan berupa perbukitan karst dengan berbagai macam bentuk seperti menara kars, bukit kars terisolir, bukit yang menyerupai kapal, bukit poligonal dan terdapat pedataran kars, karren field dan terraa rosa serta uvala juga fitur-fitur budaya  seperti Masjid Muna yang merupakan pusat kerajaan Muna di masa lampau, Benteng kota muna yang mengelilingi kerajaan muna, makam raja dan keluarga raja, serta batu pelantikan raja. Site/lokasi geowisata di daerah penelitian dapat ditempuh dengan penjalanan darat menggunakan kendaraan roda empat. Kajian potensi geowisata daerah  Tongkuno diharapakan dapat menjadi suatu upaya dalam menggali informasi mengenai potensi-potensi geologi yang dapat dikembangkan sebagai objek geowisata

    The Metamorphic Rocks-Hosted Gold Mineralization At Rumbia Mountains Prospect Area In The Southeastern Arm of Sulawesi Island, Indonesia

    Get PDF
    Recently, in Indonesia gold exploration activities  are not only focused along volcanic-magmatic belts, but also starting to shift along metamorphic and sedimentary terrains. The study area is located in Rumbia mountains, Bombana Regency, Southeast Sulawesi Province. This paper is aimed to describe characteristics of alteration and ore mineralization associated  with metamorphic rock-related gold deposits.  The study area is found the placer and  primary gold hosted by metamorphic rocks. The gold is evidently derived from gold-bearing quartz veins hosted by Pompangeo Metamorphic Complex (PMC). These quartz veins are currently recognized in metamorphic rocks at Rumbia Mountains. The quartz veins are mostly sheared/deformed, brecciated, irregular vein, segmented and  relatively massive and crystalline texture with thickness from 1 cm to 15.7 cm. The wallrock are generally weakly altered. Hydrothermal alteration types include sericitization, argillic, inner propylitic, propylitic, carbonization and carbonatization. There some precious metal identified consist of native gold and ore mineralization including pyrite (FeS2), chalcopyrite (CuFeS2), hematite (Fe2O3), cinnabar (HgS), stibnite (Sb2S3) and goethite (FeHO2). The veins contain erratic gold in various grades from below detection limit <0.0002 ppm to 18.4 ppm. Based on those characteristics, it obviously indicates that the primary gold deposit present in the study area is of orogenic gold deposit type. The orogenic gold deposit is one of the new targets for exploration in Indonesi

    Going Beyond Counting First Authors in Author Co-citation Analysis

    Get PDF
    The present study examines one of the fundamental aspects of author co-citation analysis (ACA) - the way co-citation counts are defined. Co-citation counting provides the data on which all subsequent statistical analyses and mappings are based, and we compare ACA results based on two different types of co-citation counting - the traditional type that only counts the first one among a cited work's authors on the one hand and a non-traditional type that takes into account the first 5 authors of a cited work on the other hand. Results indicate that the picture produced through this non-traditional author co-citation counting contains more coherent author groups and is therefore considerably clearer. However, this picture represents fewer specialties in the research field being studied than that produced through the traditional first-author co-citation counting when the same number of top-ranked authors is selected and analyzed. Reasons for these effects are discussed

    Separation Of Copper And Chromium Metal In Ultrabasic Rocks From Top Of Manoapa Region, Subdistrict Of Lasusua Southeast Sulawesi By Ligand of 2 - (Aminometil) Pyridine

    Get PDF
    Study on separation of ions chromium metal and copper in ultrabasic material located in the village to of Monapa subdistrict Lasusua Regency Kolaka Utara Province Sulawesi Tenggara was conducted. The aim of this study was to determine the ability of the ligand 2-(aminometil) pyridine to separate chromium metals and copper to pure metals and its application to separate the chromium metals (Cr) and copper (Cu) in ultrabasic material from the village of Puncak Monapa subdistrict Lasusua Regency Kolaka&nbsp; Utara Province Sulawesi Tenggara by means of extraction method. The concentration of ions chromium metal (Cr) and copper (Cu) of the pure metals are extracted respectively 10 ppm, and the concentration of the ligand 2-(aminometil) pyridine is 10 ppm. For concentration ion chromium metal (Cr) and copper (Cu) in ultrabasic material with 20x and 30x dilution is 8.3875 and 1.3590 and 3.50 ppm and 2,001 ppm for the ions copper metal (Cu). Results of this research shomush that the ability of ligand 2-(aminometil) pyridine for extracting chromium metals (Cr) and copper (Cu) for a single pure metal has a percent extraction (%E) are respectively 79.375 % and 82.37 %. Separation ability of ions chromium metal (Cr) and ions copper (Cu) mixed are 77.625% and 79.96%. For its application in separating ions chromium metal (Cr) and copper (Cu) in ultrabasic material to 20 time dilution extraction are 74.51% and 71.35%, and 30 time dilution are 69.28% and 69.71%. Based on the results of the study ligand 2-(aminometil) pyridine is relatively better for ions copper metal (Cu) for extraction ions of pure metal and relatively similar to ultrabasic material

    LIMBAH KULIT PISANG KEPOK (Musa acuminate) SEBAGAI BIOFILTER ZAT BESI (Fe) DAN ZAT KAPUR (CaCO3)

    No full text
    Air tanah atau air sumur merupakan sumber air bersih terbesar yang digunakan. Kendala yang paling sering ditemui dalam menggunakan air tanah adalah masalah kandungan zat besi (Fe) dan zat Kapur (CaCO3) yang terdapat dalam air baku. Air yang tercemar logam Fe dan zat kapur yang tinggi, bila akan dikonsumsi maka perlu dilakukan pengolahan terlebih dahulu. Pengolahan air untuk menurunkan kadar Fe dan zat kapur dalam air dapat dilakukan secara kimia dan fisika. Proses adsorpsi zat besi (Fe) dan zat kapur (CaCO3) dalam air secara alami dapat dilakukan menggunakan tempurung kelapa, arang sekam padi, biji kelor, maupun kulit pisang. Oleh karena itu, penelitian ini bertujuan untuk mengetahui apakah limbah kulit pisang Kepok (Musa acuminate) dapat digunakan sebagai biofilter zat besi dan zat kapur pada air. Penelitian ini menggunakan metode eksperimen yang akan melihat efektifitas perlakuan limbah kulit pisang kepok sebagai biofilter zat besi dan zat kapur pada air bersih. Penelitian ini akan dilakukan di Laboratorium Kesehatan Daerah Provinsi Sulawesi Tengah mulai dari bulan Januari sampai Juli tahun 2018. Hasil penelitian menunjukkan bahwa Limbah kulit pisang Kepok (Musa acuminate) efek-tif sebagai biofilter zat besi (Fe) dan tidak efektif sebagai biofilter zat kapur (CaCO3)

    The Metamorphic Rocks-Hosted Gold Mineralization At Rumbia Mountains Prospect Area In The Southeastern Arm of Sulawesi Island, Indonesia

    No full text
    Recently, in Indonesia gold exploration activities  are not only focused along volcanic-magmatic belts, but also starting to shift along metamorphic and sedimentary terrains. The study area is located in Rumbia mountains, Bombana Regency, Southeast Sulawesi Province. This paper is aimed to describe characteristics of alteration and ore mineralization associated  with metamorphic rock-related gold deposits.  The study area is found the placer and  primary gold hosted by metamorphic rocks. The gold is evidently derived from gold-bearing quartz veins hosted by Pompangeo Metamorphic Complex (PMC). These quartz veins are currently recognized in metamorphic rocks at Rumbia Mountains. The quartz veins are mostly sheared/deformed, brecciated, irregular vein, segmented and  relatively massive and crystalline texture with thickness from 1 cm to 15.7 cm. The wallrock are generally weakly altered. Hydrothermal alteration types include sericitization, argillic, inner propylitic, propylitic, carbonization and carbonatization. There some precious metal identified consist of native gold and ore mineralization including pyrite (FeS2), chalcopyrite (CuFeS2), hematite (Fe2O3), cinnabar (HgS), stibnite (Sb2S3) and goethite (FeHO2). The veins contain erratic gold in various grades from below detection limit &lt;0.0002 ppm to 18.4 ppm. Based on those characteristics, it obviously indicates that the primary gold deposit present in the study area is of orogenic gold deposit type. The orogenic gold deposit is one of the new targets for exploration in Indonesia</jats:p

    The Quartz Veins, Hydrothermal Alteration and Ore Mineralization of Orogenic Gold Deposit at Mendoke Mountains, Southeast Sulawesi, Indonesia

    No full text
    The research at Mendoke Mountains, Southeast Sulawesi Province, particularly for the study of gold deposits, becomes a new challenge because there is no previous detailed study. This study aims to analyze the characteristics of orogenic gold deposits, which include the type and texture of quartz veins, alteration and hydrothermal mineralization with hosted metamorphic rocks. The research methods used include fieldwork and laboratory analysis. The type and texture of quartz veins were identified based on the field observations. The hydrothermal alteration was analyzed using X-ray diffraction analysis, and hydrothermal mineralization which analyzed by ore microscopy. The results showed that there are three types of quartz veins parallel and crosscut to the direction of foliation, and laminated quartz veins. The quartz veins’ texture is deformed, segmented, brittle, sheared, laminated, sheeted, irregular veins, brecciated, massive and sigmoidal. The hydrothermal alteration consists of sericitization, argillic, propylitic and carbonization alterations. The hydrothermal mineralization consists of native gold, chalcopyrite, pyrite, stibnite, covellite, cinnabar, galena, arsenopyrite, chrysocolla, magnetite, hematite and goethite. The host rock of gold mineralization in the study area is classified into the greenschist facies. Based on these characteristics, it shows that gold deposits in the Mendoke Mountains are orogenic gold deposits. © 2022, Union of Iraqi Geologists. All rights reserved
    corecore