15 research outputs found
MODEL KOMUNIKASI PADA PROGRAM CSR PEMBERDAYAAN WIRAUSAHA MUDA PERUSAHAAN MIGAS
The company’s effort in carrying out social responsibility is often challenged by social problems including a gap between the quality of regional human resources and the company workforce. In particular, the challenge faced by Exxon Mobil is the gap between the education level of regional human resources, especially among the local youth and the educational qualifications demanded by Exxon Mobil. In responding to the communities’ demand, Exxon Mobil realizes the importance of communication to roll out CSR programs in providing information, service and business access to develop new young entrepreneurs. This study aims to analyse the way the company conducted the communication model towards the community empowerment. This study used a qualitative method with a descriptive approach. The results of the study showed that the participatory communication model which is conducted by the company has played important role in achieving the objectives of young entrepreneurs’ empowerment as their career choice. AbstrakUpaya perusahaan untuk menjalankan tanggung jawab sosial sering kali terkendala oleh masalah sosial berupa kesenjangan antara kualitas SDM setempat dengan tuntutan kerja perusahaan. Secara lebih spesifik, kendala yang dihadapi perusahaan Exxon Mobil adalah jauhnya kesenjangan antara tingkat pendidikan SDM masyarakat lokal terutama kalangan pemudanya setempat dengan kualifikasi pendidikan yang dituntut oleh Exxon Mobil. Untuk tetap merespons tuntutan masyarakat, Exxon Mobil menyadari pentingnya komunikasi untuk menggulirkan program CSR yang bertujuan memberikan informasi, pelayanan dan akses bisnis untuk membidani kelahiran para wirausaha muda. Penelitian ini bertujuan menganalisis bagaimana model komunikasi yang dilakukan perusahaan untuk memberdayakan masyarakat. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif dengan pendekatan deskriptif. Hasil penelitian menunjukkan bahwa model komunikasi partisipatif yang dilakukan perusahaan memainkan peranan penting dalam mencapai tujuan pemberdayaan wirausaha muda sebagai pilihan karir mereka
MODEL KEMITRAAN PERGURUAN TINGGI-PERUSAHAAN DAN PEMERINTAH DALAM BINGKAI CORPORATE SOCIAL RESPONSIBILITY
Dalam konsep pluralisme kesejahteraan (welfare pluralism), usaha-usaha untuk mewujudkan kesejahteraan sosial dipandang sebagai tanggung jawab bersama, bukan hanya pemerintah saja. Di luar pemerintahan (negara), ada sektor lain yang bertanggung jawab atas kesejahteraan masyarakat yaitu sektor kerelawanan (voluntary), informal, dan komersial. Pandangan ini sedemikian kuat telah mendukung konsep tanggung jawab sosial perusahaan (Corporate Social Responsibility—CSR). Namun, dalam praktiknya upaya mewujudkan CSR tidak berlangsung dengan mudah. Berbagai masalah dapat menjadi kendalanya, misalnya adalah perbedaan pemahaman baik di kalangan internal perusahaan maupun eksternal, adanya ego sektoral dan keterbatasan SDM perusahaan. Dengan demikian, diperlukan kehadiran mediator untuk menyatukan pemahaman serta menyelaraskan kepentingan bersama dalam rangka mewujudkan CSR. Dalam hal ini, perguruan tinggi, termasuk Perguruan Tinggi (PT), sebagai agen pemikiran dan perubahan sosial dapat memegang peranan penting untuk menjalankan fungsi mediasi tersebut melalui suatu model kemitraan. Tulisan ini menganalisis bagaimana model kemitraan antara PT, perusahaan dan pemerintah dalam bingkai CSR yang bermuara pada kesejahteraan masyarakat. Hasil analisis menunjukkan bahwa model kemitraan secara kolaborasi memainkan peran penting dalam menyatukan pemahaman dan menyelaraskan kepentingan bersama guna mewujudkan keberlanjutan bisnis dan kesejahteraan masyarakat
Pemberdayaan Penanganan Banjir Di Desa Dororejo Kecamatan Tayu Kabupaten Pati: Empowering Flood Management In Dororejo Village, Tayu District, Pati District
Dororejo Village is located in a lowland area and is relatively sunken, making it prone to flooding. Therefore, efforts to deal with floods are needed by involving community participation. The purpose of this study was to find out how to empower flood management in Dororejo Village. The research method uses a qualitative descriptive approach. Collecting data using observation and interviews. From the results of data collection, field records were then carried out, validated and presented in a descriptive narrative. The results of the study show that flood management is carried out by identifying the causes and effects of flooding and then handling it by involving the participation of the community, government and volunteers. Community participation is carried out by being actively involved in every flood management effort. There are volunteers and the government as facilitators who provide assistance and provide social assistance to the community.
Desa Dororejo berada di wilayah dataran rendah dan relatif cekung sehingga menjadikanya rentan terhadap banjir saat musim hujan datang. Oleh karenanya, dibutuhkan upaya penanganan banjir dengan melibatkan partisipasi masyarakat. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui bagaimana pemberdayaan penanganan banjir di Desa Dororejo. Adapun metode penelitian ini menggunakan kualitatif dengan pendekatan deskriptif. Pengumpulan data menggunakan observasi dan wawancara. Dari hasil pengumpulan data kemudian dilakukan pencatatan lapangan, divalidasi dan disajikan dalam narasi deskriptif. Hasil penelitian menunjukkan bahwa penanganan banjir dilakukan dengan melakukan identifikasi penyebab dan dampak banjir kemudian dilakukan penanganan dengan melibatkan partisipasi masyarakat, pemerintah dan relawan. Partisipasi masyarakat dilakukan dengan terlibat aktif dalam setiap upaya penanganan banjir. Adapun relawan dan pemerintah sebagai fasilitator yang melakukan pendampingan dan memberikan bantuan sosial masyarakat
Pengantar CSR (corporate social responsibility) sejarah, pengertian dan praktis
xxii, 205 hlm.: 25 c
Pemberdayaan Kampung Iklim dan Dampaknya Terhadap Kesejahteran Masyarakat di Kelurahan Mangunsari Sidomukti Salatiga
Climate villages are efforts and methods carried out by the community as a response to the problem of climate change. The aim of this research is to determine the implementation of climate village empowerment by the community and its impact on community welfare. The research location is Mangunsari Village, Sidomukti District, Salatiga City. The research method uses qualitative with a descriptive approach. Data collection was carried out through observation and interviews with parties directly involved in the formation of climate villages. The research results show that the implementation of climate village empowerment is carried out by implementing various programs, namely creating biopore areas, managing waste through infiltration wells, managing waste and reforestation on limited land. These various programs have had an impact in the form of social protection from the negative impacts of climate change through the formation of social institutions, making the environment greener and healthier and increasing community food security.Climate villages are efforts and methods carried out by the community as a response to the problem of climate change. The aim of this research is to determine the implementation of climate village empowerment by the community and its impact on community welfare. The research location is Mangunsari Village, Sidomukti District, Salatiga City. The research method uses qualitative with a descriptive approach. Data collection was carried out through observation and interviews with parties directly involved in the formation of climate villages. The research results show that the implementation of climate village empowerment is carried out by implementing various programs, namely creating biopore areas, managing waste through infiltration wells, managing waste and reforestation on limited land. These various programs have had an impact in the form of social protection from the negative impacts of climate change through the formation of social institutions, making the environment greener and healthier and increasing community food security
Da\u27wah bi al-Hal in Empowering Campus-Assisted Community through Waste Bank Management
As an institution of education and agent of social change, the Faculty of Da\u27wah, IAIN Salatiga, has Islamic religious characteristics. These characteristics confirm its missionary effort as a part of social responsibility. The Da\u27wah Faculty pursues empowerment by rolling out a program of waste bank management. This program is a manifestation of the application of da’wah bi al-hal (preaching by actuating) to build assisted-communities who are empowered and independent in processing garbage. Furthermore, the program of waste bank management not only provides clean and healthy communities but also increases the community’s ability to gain environmental benefits and improving its economy. This study aims to analyze the implementation of da’wah movement through waste bank management, from assessment, recycling management, construction, to evaluation. The method of research in this study uses a qualitative method, Participatory Action Research (PAR) to make changes and benefits for the community, and empowerment theory as the mainframe of thought in carrying out da’wah bi al-hal. The results of participatory action research showed that preaching by actuating of Da’wah Faculty IAIN Salatiga in the assisted-communities has increased participation, trust, and cooperative relationships among them in managing the waste bank. Fakultas Dakwah IAIN Salatiga sebagai lembaga pemikiran dan agen perubahan sosial, memiliki karakteristik keagamaan Islam. Karakteristik ini meneguhkan upaya berdakwah sebagai tanggung jawab sosialnya. Dalam melakukan dakwah di masyarakat, Fakultas Dakwah menempuh cara pemberdayaan dengan menggulirkan program pengelolaan bank sampah. Hal ini sebagai wujud aplikasi dakwah bi al-hal untuk membangun masyarakat binaan yang berdaya dan mandiri dalam mengolah sampah. Program pengelolaan bank sampah tidak hanya memberikan manfaat lingkungan bersih dan sehat, tetapi juga meningkatkan kemampuan masyarakat untuk mengolah sampah dalam meningkatkan perekonomian. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis tentang implementasi dakwah bi al-hal dengan program pengelolaan bank sampah itu berjalan mulai assesment, manajemen daur ulang, pembangunan sarpras dan evaluasi. Metode dalam penelitian ini menggunakan metode kualitatif Participatory Action Research (PAR) untuk melakukan perubahan dan manfaat bagi masyarakat dengan teori pemberdayaan sebagai kerangka berfikir utama dalam melakukan dakwah bi al-hal. Hasil penelitian aksi partisipatif memperlihatkan bahwa sentuhan pendampingan yang telah dilakukan Fakultas Dakwah IAIN Salatiga terhadap masyarakat binaannya dapat meningkatkan partisipasi, kepercayaan dan hubungan kerja sama diantara mereka dalam pengelolaan bank sampah
Da\u27wah bi al-Hal in Empowering Campus-Assisted Community through Waste Bank Management
As an institution of education and agent of social change, the Faculty of Da\u27wah, IAIN Salatiga, has Islamic religious characteristics. These characteristics confirm its missionary effort as a part of social responsibility. The Da\u27wah Faculty pursues empowerment by rolling out a program of waste bank management. This program is a manifestation of the application of da’wah bi al-hal (preaching by actuating) to build assisted-communities who are empowered and independent in processing garbage. Furthermore, the program of waste bank management not only provides clean and healthy communities but also increases the community’s ability to gain environmental benefits and improving its economy. This study aims to analyze the implementation of da’wah movement through waste bank management, from assessment, recycling management, construction, to evaluation. The method of research in this study uses a qualitative method, Participatory Action Research (PAR) to make changes and benefits for the community, and empowerment theory as the mainframe of thought in carrying out da’wah bi al-hal. The results of participatory action research showed that preaching by actuating of Da’wah Faculty IAIN Salatiga in the assisted-communities has increased participation, trust, and cooperative relationships among them in managing the waste bank. Fakultas Dakwah IAIN Salatiga sebagai lembaga pemikiran dan agen perubahan sosial, memiliki karakteristik keagamaan Islam. Karakteristik ini meneguhkan upaya berdakwah sebagai tanggung jawab sosialnya. Dalam melakukan dakwah di masyarakat, Fakultas Dakwah menempuh cara pemberdayaan dengan menggulirkan program pengelolaan bank sampah. Hal ini sebagai wujud aplikasi dakwah bi al-hal untuk membangun masyarakat binaan yang berdaya dan mandiri dalam mengolah sampah. Program pengelolaan bank sampah tidak hanya memberikan manfaat lingkungan bersih dan sehat, tetapi juga meningkatkan kemampuan masyarakat untuk mengolah sampah dalam meningkatkan perekonomian. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis tentang implementasi dakwah bi al-hal dengan program pengelolaan bank sampah itu berjalan mulai assesment, manajemen daur ulang, pembangunan sarpras dan evaluasi. Metode dalam penelitian ini menggunakan metode kualitatif Participatory Action Research (PAR) untuk melakukan perubahan dan manfaat bagi masyarakat dengan teori pemberdayaan sebagai kerangka berfikir utama dalam melakukan dakwah bi al-hal. Hasil penelitian aksi partisipatif memperlihatkan bahwa sentuhan pendampingan yang telah dilakukan Fakultas Dakwah IAIN Salatiga terhadap masyarakat binaannya dapat meningkatkan partisipasi, kepercayaan dan hubungan kerja sama diantara mereka dalam pengelolaan bank sampah
PEMBERDAYAAN PENANGGULANGAN BANJIR DESA KEMIRI KECAMATAN GUBUG KABUPATEN GROBOGAN
IAIN Salatiga dalam melaksanakan kegiatan pengabdian kepada masyarakat menempuh cara dengan menggulirkan program KKN untuk memberdayakan masyarakat. Tujuan kegiatan ini adalah untuk mengetahui pemberdayaan penanganan banjir di Desa Kemiri, Kecamatan Gubug, Kabupaten Grobogan yang dilakukan oleh Tim pendamping KKN IAIN Salatiga. Adapun metode pengabdian ini menggunakan pendekatan Participatory Action Research (PAR). Melalui pendekatan PAR, tim pendamping KKN melakukan proses assesment bencana, merencanakan dan melaksanakan program pemberdayaan penanganan bencana banjir. Hasil kegiatan pengabdian kepada masyarakat ini menunjukkan bahwa upaya pendampingan tim pendamping KKN dilakukan dengan advokasi, gerakan penghijauan, dan pembersihan lingkungan desa. Melalui berbagai pendampingan tersebut, terlihatlah bagaimana masyarakat terlibat aktif dalam melakukan proses pencegahan dan penanganan bencana banjir
Peran Pengabdian Masyarakat melalui Penguatan Keluarga, Kelembagaan Sosial dan Desa di Masa Pandemi Covid-19
Kegiatan pengabdian kepada masyarakat merupakan kegiatan yang wajib dilaksanakan oleh dosen untuk melaksanakan tri dharma perguruan tinggi. Kegiatan pengabdian kepada masyarakat ini merupakan suatu kegiatan yang sangat berbeda dengan kegiatan sebelumnya, yakni ditengah pandemik Covid – 19 yang menuntut semua harus menggunakan metode daring. Namun itu tidak menghambat adanya kegiatan pengabdian kepada masyarakat. Selanjutnya, tantangan utama dalam kegiatan ini adalah peraturan dari pemerintah daerah untuk melaksanakan semua kegiatan secara daring. Kegiatan yang dilaksanakan saat ini adalah memberikan pelatihan kepada masyarakat dan remaja di Desa Sidomukti Kecamatan Bandungan Kabupaten Semarang. Adapun kegiatan yang dilakukan adalah dibidang keagamaan, kesehatan, ekonomi, social budaya dan pariwisata. Tujuan utama adalah sebagai kegiatan pengembangan masyarakat sesuai arahan pembangunan manusia (Human Development), mencapai target dan sasaran millenium development goals (MDGS), kompetensi, potensi, sumber daya, dan kemampuan lingkungan dalam wadah kerjasama masyarakat, pemerintah, swasta, dan lembaga lainnya. Hasil yang didapat dalam kegiatan ini adalah terciptanya masyarakat yang mandiri yang dapat menggunakan aset disekitarnya untuk meningkatkan perekonomian masyarakat setempat
Empowering Students to Serve Through the Manufacture of Organic Fertilizers at Islamic Boarding Schools
The purpose of the study was to explore (1) how the santri program and the steps of making organic fertilizers as well as the supporting and inhibiting factors using qualitative research methods. The results of this study indicate that: (1) the santri program that devotes life skills and develops nine business units owned by pesantren. (2) the step of making organic fertilizer begins with debriefing and subsequent implementation by preparing the ingredients to be put into a container, mixing the ingredients, stirring until mixed, putting the dough into a large drum tightly closed, waiting for 7 days, packing. (3) There are five supporting factors, namely (a) accompanied by people who have expertise, (b) having adequate facilities. (c) manufacture of independent decomposers as a way to minimize business costs and facilitate the materials needed in the manufacture of organic fertilizers. (d) cooperative relationship. (5) student commitment. While the inhibiting factors in the program of students who devote themselves are (1) the number of students is limited so that it greatly affects the running of the business unit. (2) there are still many students who prefer boyong from pesantren to seek life experiences. (3) Not able to manage properly, (4) there are still many students who are not intereste
