1,729,326 research outputs found

    KREATIVITAS HAPSARI MUSTIKANINGRUM DALAM KARYA TARI ROBYONGAN

    Get PDF
    Penelitian ini mengungkap dua pemasalahan yang berkaitan dengan bentuk tari Robyongan dan Kreativitas Hapsari Mustikaningrum dalam karya tari Robyongan, meliputi: (1) bagaimana bentuk tari Robyongan. (2) Bagaimana kreativitas Hapsari Mustikaningrum dalam karya tari Robyongan. Pendeskripsian mengenai bentuk dalam tari Robyongan menggunakan teori yang dipaparkan Soedarsono. Bentuk yang dimaksud dalam sajian tari meliputi elemen-elemen yang saling berkaitan meliputi: gerak tari, desain lantai, musik atau iringan, rias dan busana, properti, waktu dan tempat pertunjukan. Untuk mengupas tentang kreativitas Hapsari Mustikaningrum dalam karya tari Robyongan menggunakan teori 4P’s Rodhes yang dikutip oleh Utami Munandar yaitu pribadi (person), pendorong (press), proses (process), produk (product). Penelitian ini bersifat kualitatif. Data-data dikumpulkan melalui studi pustaka, wawancara, dan observasi terhadap tari Robyongan karya Hapsari Mustikaningrum. Hasil penelitian menujukkan : pertama, Tari Robyongan merupakan tari kreasi baru yang ditariakan berkelompok oleh tujuh orang penari perempuan. Tari Robyongan berangkat dari ide garap cerita mitos alam yang menghidupi. Gerak pada tari Robyongan merupakan hasil eksplorasi gerak tradisi Jawa Timuran dan Tulungagungan yang dikembangkan perihal unsur-unsurnya yang meliputi volume, dinamika, dan tempo. Kedua, Kreativitas Hapsari Mustikaningrum sebagai seorang koreografer pada karya tari Robyongan tidak telepas dari unsur pribadi, yang di dalamnya memuat faktor internal dan eksternal. Faktor internal dipengaruhi oleh keluarga, bekat, serta pengalaman. Dan faktor eksternal dilatar belakangi oleh lingkungan budaya dan pendidikan. Proses penciptaan karya tari Robyongan ini, melalui beberapa tahapan yang meliputi eksplorasi, improvisasi, dan komposisi. Produk karya tari Robyongan termasuk kedalam produk kreatif, karena menekankan unsur orisinalitas, kebaruan, dan kebermaknaan

    Tumurune Hapsari

    Get PDF
    Kesenian Sintren merupakan kesenian yang hadir di wilayah pantai utara salah satunya terdapat di Kabupaten Indramayu kecamatan Haurgeulis. Terciptanya kesenian Sintren dari cerita percintaan antara Sulasih dan Raden Sulandono. Karya ini diberi judul Tumurune Hapsari, Rangsang awal dalam karya ini yakni rangsang ide kemudian rangsang kinestetik. Tema yang dipilih dalam karya ini yakni koreografi tari yang bersumber dari sikap “Ikhlas” penari sintren yang bernama Ade Nuriya ketika menari. Makna “Ikhlas” dalam penafsiran penata diartikan bahwa tubuh yang bergerak secara kinestetis tanpa ada pemaksaan, mengalir dengan lembut, juga bergerak secara tiba-tiba dan menghentak, semuanya dibungkus dengan suasana yang magis. Komposisi yang digunakan dalam karya ini yakni dengan bentuk dramatik. Karya ini ditarikan oleh 7 orang penari perempuan dewasa dan 10 penari perempuan anak-anak. Karya ini menggunakan properti kurungan. Musik iringan yang digunakan bergaya Indramayuan

    Contributors

    No full text
    Anindya Hapsari, Heru Pradjatmo, Bayu Satria Wiratama, Agung Dewanto, Wenny Artanty Nisman, Hilma Tsurayya Iftitahurroz

    Going Beyond Counting First Authors in Author Co-citation Analysis

    Get PDF
    The present study examines one of the fundamental aspects of author co-citation analysis (ACA) - the way co-citation counts are defined. Co-citation counting provides the data on which all subsequent statistical analyses and mappings are based, and we compare ACA results based on two different types of co-citation counting - the traditional type that only counts the first one among a cited work's authors on the one hand and a non-traditional type that takes into account the first 5 authors of a cited work on the other hand. Results indicate that the picture produced through this non-traditional author co-citation counting contains more coherent author groups and is therefore considerably clearer. However, this picture represents fewer specialties in the research field being studied than that produced through the traditional first-author co-citation counting when the same number of top-ranked authors is selected and analyzed. Reasons for these effects are discussed

    Variations on the Author

    Get PDF
    “Variations on the Author” discusses two of Eduardo Coutinho’s recent films (Um Dia na Vida, from 2010, and Últimas Conversas, posthumously released in 2015) and their contribution to the general question of documentary authorship. The director’s filmography is characterized by a consistent yet self-effacing form of authorial self-inscription: Coutinho often features as an interviewer that rather than express opinions propels discourses; an interviewer that is good at listening. This mode of self-inscription characterizes him as an author who is not expressive but who is nonetheless markedly present on the screen. In Um Dia na Vida, however, Coutinho is completely absent form the image, while Últimas Conversas, on the contrary, includes a confessional prologue that moves the director from the margins to the center of his films. This article examines the ways in which these works stand out in the filmography of a director who offers new insights into the notion of cinematic authorship

    Appropriate Similarity Measures for Author Cocitation Analysis

    Get PDF
    We provide a number of new insights into the methodological discussion about author cocitation analysis. We first argue that the use of the Pearson correlation for measuring the similarity between authors’ cocitation profiles is not very satisfactory. We then discuss what kind of similarity measures may be used as an alternative to the Pearson correlation. We consider three similarity measures in particular. One is the well-known cosine. The other two similarity measures have not been used before in the bibliometric literature. Finally, we show by means of an example that our findings have a high practical relevance.information science;Pearson correlation;cosine;similarity measure;author cocitation analysis

    Status Hukum Perkawinan Yang Dilaksanakan Dalam Masa Iddah (Studi Kasus Putusan Makamah Agung Republik Indonesia No. 134 K/Ag/1996 Perkawinan Antara Tama Nilakanti Dan Waluyo S. Sapardan) Oleh Putri Hapsari

    No full text
    abstrak (A) Nama (NIM) : Putri Hapsari (205020090) (B) Judul Skripsi : Status Hukum Perkawinan Yang Dilaksanakan Dalam Masa Iddah (Studi Kasus Putusan Mahkamah Agung Republik Indonesia Nomor 134 K/AG/1996 Tanggal 8 Januari 1998 Tentang Perkawinan Antara Tamara Nilakanti Dan Waluyo S. Sapardan) (C) Halaman : vii+70+17+2006 (D) Kata Kunci : Perkawinan Dalam Masa Iddah (E) Isi Salah satu syarat perkawinan yang di atur dalam Undang-Undang Perkawinan adalah berlakunya masa iddah bagi seorang wanita yang putus perkawinannya. Lamanya masa iddah tersebut terdapat perbedaan yang didasarkan pada bentuk perceraian dan saat terjadinya perceraian itu. Apabila putus perkawinannya dalam bentuk talaq, masa iddah bagi yang masih haid adalah 3 kali suci dengan sekurang-kurangnya 90 hari dan bagi yang tidak haid adalah 90 hari. Ketentuan tersebut dihitung sejak jatuhnya Putusan Pengadilan yang mempunyai kekuatan hukum tetap. Seorang wanita yang putus perkawinannya tidak boleh melaksanakan perkawinan lagi kecuali telah berakhir masa iddahnya. Dalam hal ini, perkawinan antara Tamara Nilakanti dengan Waluyo S. Sapardan dilaksanakan dalam masa iddah sehingga timbul permasalahan yakni bagaimana keabsahan status hukum bagi perkawinan yang dilaksanakan dalam masa iddah menurut Undang-Undang Perkawinan? Mengapa Pasal 26 Undang-Undang Perkawinan dijadikan dasar oleh Mahkamah Agung untuk menetapkan sahnya perkawinan yang dilaksanakan dalam masa iddah? Metode penelitian yang digunakan adalah penelitian hukum normatif dan empiris. Menurut Undang-Undang Perkawinan, status hukum perkawinan yang dilaksanakan dalam masa iddah adalah sah. Mahkamah Agung menggunakan Pasal 26 Undang-Undang Perkawinan sebagai dasar penetapan sah perkawinan yang dilaksanakan dalam masa iddah dikarenakan selama masa perkawinan tersebut tidak ada pihak-pihak yang membatalkan. Seorang wanita yang putus perkawinannya harus menerapkan secara penuh ketentuan tentang masa iddah yang berlaku sesuai dengan keadaannya pada saat putus perkawinannya tersebut. Agar ketentuan tentang masa iddah dapat berlaku efektif seharusnya terdapat sanksi. (F) Acuan : 22 (1974 ? 2006) (G) Pembimbing Prihatini Adnin, S.H., M.Hum (H) Penulis Putri Hapsar

    Community-Based Recovery for Sexual Violence Victims: The Case of Hapsari

    Get PDF
    Sexual abuse victims experienced physical, psychological, economic and social violence, which lead to trauma. However, there has been no systematic policy to support their recovery. This paper argues for the need for a recovery mechanism system for sexual violence victims, as implemented by Hapsari. This study employs a qualitative approach, with interviews as the means to obtain data. Subjects in this research included women and children in the North Sumatera. This research finds out that community-based recovery has a significant impact on the victims, and is able to empower them to be independent in making a decision and blend with society. As a grassroots organization, Hapsari supports community-based services to reduce violence against women and children, protect victims and gather supports for the sustainability of recovery services. Apart from this, the state should also participate in protecting those people, especially in terms of policy and regulations. AbstrakKorban kekerasan seksual mengalami kekerasan secara fisik, psikologis, ekonomi, dan sosial. Hal itu yang menyebabkan trauma dan mengancam kehidupan mereka. Namun, sampai saat ini belum ada kebijakan yang mendukung proses pemulihan korban kekerasan seksual. Untuk itu,  didirikan organisasi Hapsari yang  mendukung layanan berbasis komunitas untuk menekan kekerasan terhadap perempuan dan anak, melindungi korban, dan mengumpulkan dukungan untuk keberlangsungan layanan pemulihan korban kekerasan. Penelitian ini merupakan penelitian kualitatif dengan menggunakan wawancara sebagai teknik pengambilan data. Subjek dalam penelitian ini terdiri dari perempuan dan anak di Sumatera Utara. Penelitian ini menemukan bahwa upaya pemulihan berbasis komunitas seperti yang dilakukan Hapsari memberikan dampak signifikan terhadap korban dan mampu memberdayakan mereka untuk menjadi mandiri dalam mengambil keputusan dalam berbaur dengan masyarakat. Meskipun demikian  partisipasi negara dalam memberikan perlindungan bagi korban, melalui kebijakan dan peraturan jauh dibutuhkan
    corecore