720 research outputs found
STUDI KOMPARATIF: AKAL DAN WAHYU MENURUT MUHAMMAD ABDUH DAN HASAN HANAFI
JENNI DASMA PUTRI (2022) : STUDI KOMPARATIF: AKAL DAN WAHYU MENURUT MUHAMMAD ABDUH DAN HASAN HANAFI
Penelitian ini dilatarbelakangi adanya perbedaan pemikiran antara dua
tokoh yaitu Muhammad Abduh dan Hasan Hanafi pada persoalan akal dan wahyu.
Pedebatan antara akal dan wahyu sebenarnya bukanlah hal yang yang baru. Dalam
konteks Islam, perdebatan aliran-aliran dalam ilmu kalam atau Teologi Islam
seperti: Mu‟tazilah, Jabariyah, qadariyah dan Asy‟ariyah yang tidak terlepas dari
perbedaan pandangan mengenai akal dan wahyu. Muhammad Abduh sebagai
salah seorang tokoh Teologi Islam memiliki keyakinan bahwa akal merupakan
salah satu sumber ilmu pengetahuan setelah wahyu dan intuisi. Menurut
Muhammad Abduh untuk memperoleh keimanan yang sejati diperlukan
pemikiran yang rasional. Disisi lain, Hasan Hanafi yang juga merupakan tokoh
rasionalis Islam berpandangan bahwa pentingnya akal adalah untuk membangun
pengetahuan keagamaan dan keadilan. Wahyu tanpa akal akan menjadi pandangan
semata, karena akal adalah dasar dari naql. Dalam penelitian ini, dibahas
mengenai akal dan wahyu dalam pandangan Muhammad Abduh dan Hasan
Hanafi, lalu dicari persamaan dan perbedaan pemikiran antara kedua tokoh.
Adapun pertanyaan penelitian yaitu: bagaimana pemikiran Muhammad Abduh
dan Hasan Hanafi tentang akal dan wahyu? Dan bagaimana persamaan dan
perbedaan kedua tokoh tersebut tentang akal dan wahyu? Tujuan dari penelitian
ini adalah untuk mengetahui fungsi akal dan tujuan diturunkan wahyu menurut
Muhammad Abduh dan Hasan Hanafi, dan juga untuk mengetahui perbandingan
pemikiran mengenai akal dan wahyu antara kedua tokoh. Penelitian ini
merupakan penelitian yang berbasis kepustakaan, dan metode yang digunakan
adalah metode penelitian deskriptif kualitatif. Hasil pembahasan dalam penelitian
ini adalah terdapat perbedaan pandangan antara Muhammad Abduh dan Hasan
Hanafi mengenai fungsi akal dan tujuan diturunkannya wahyu. Menurut
Muhammad Abduh fungsi akal adalah untuk mengetahui kewajiban
berterimakasih kepada Tuhan. Dan fungsi wahyu adalah untuk menolong akal
mengetahui alam akhirtat dan juga untuk mengetahui bentuk kesengsaraan dan
bentuk perhitungan yang akan dihadapinya nanti. Sedangkan menurut Hasan
Hanafi, fungsi akal adalah untuk membangun pengetahuan keagamaan dan
menegakkan keadilan. Dan menurut Hasan Hanafi tujuan wahyu adalah untuk
mengungkapkan kehidupan manusia, dan orientasinya adalah kesejahteraan
manusia.
Kata kunci: Muhammad Abduh, Hasan Hanafi, Teologi Islam, akal dan
wahyu, Studi Perbandingan
KONSEP OTENTISITAS WAHYU TUHAN DALAM HERMENEUTIKA HASSAN HANAFI
Kitab suci al-Qur'an, Tamat, Injil, dan kedua Kitab Perjanjian Lama dan Baru
mcrupakan bcntuk dokumcmtasi wabytr Tuhan tertulis yang senantia a memberikan
petunjuk, ajaran moral, scrta memberikan bimbingan kepada manusia. Namun tak bisa
dipungkiti bahwa wahyu Tuhan tersebut -dalam perjalanannya- mengalarni adanya
perubahan dan pergantian serta dcfonna. i ajaran dan alienasi prakl k. Pcrubahan dan
pergantian terscbut, diasumsikan Hassan Hanafi, Lelah dicampuri (intcrvented) oleh p'ihak
laiJl scrnisal dari para nabj, maupw1 dari naratorny.a. Kon eku nsi dari basil pemahaman
yang diperoleh kitab sucileh karenanya- menjadi sia-sia. Mcnafsirkan k.itab suci -
selanjutnya- akan menjadi tidak mungkin terjadi hila tidak ada kepastian mengenai
keaslian redaksi kitab suci. Oleh sebab itu, Hassan Hanafi dengan menggunakan berbagai
langkal1 teori hermeneutikanya, berupaya mengungkap kepalsuan dan ketidak aslian yang
teLjadi, untuk mencnlukan keotentikan wahyu Tuhan tersebut.
Pcrsoalan rnengenai seperti apa gambaran hermeneutika yang digunakan Hassan
Hana:fi yang kcmudian dia umsikannya scbagai langkah-langkah tepat dalam mcmahami
wahytJ uh an dan bagaimana konsersi Hassan Hanafi atas otentisitas wahyu Tuhan
scbagai wujud implikasi dari kajian hermcneutikanya, akan diteliti dan dikaji dalam
skrip< i ini lcngan mcnggunakan model p n lit ian pustaka (library) dan mcngambil
bent ukmel depan lilian yang bcrsifal dcs kriptif-analilis.
Oari r ersoalan yang ada ditem ukan hasil bahwa hermcnutika bagi Hassan Hanafi
bukan hanya ilmu int erpretasi/teori pemahaman an sich, akan tetapi -lebih lanjut,
merupakan ilmu anrb ruf ya menjelaskan pcncrimaan wahyu Tuhan sejak dari tingkat
per 1pai k lin kal dunia. L bih lanjul, hermcneutika menurut Hanafi
m rupa an WUJUd dcsknpsi proses henncnc utik sebagai ilmu pcngetahuan yang rasional,
formal, obyektif dan universal. Hermeneutika Hanafi tidak membatasi perbincangan
mengcnai model dan varian pemahaman tcrtent u at as teks semata, namun,
hcnncncutikanya juga berkaitan dengan upaya pcnyelidikan sejarah teks unt uk menjamin
otentisitasnya sampai penerapan hasil penafsiran dalam kehidupan manusia. Hal ini
dilakukannya, karena Hanafi menginginkan sckaligus rncnawarkan e:H.l any konscpsi
penafsiran yang bersifat objektif, lepat (rigirou. ;), dan universal unluk memahami
beberapa teks suci keagamaan. Konspsi lercbul - berikutnya- mengkonsckucnsi an
akan adanya kritik historis, kritik eidetik dan krilik praksi ', Dcngan ke'liga langkah krilik
tersebut, analisis hermeneutika bisa menjadi langkah anulisis yang aksiomatik.
Menentukan keotentikan kitab suci hanya dapal dibuktikan mclal ui krilik scjarah.
Kritik sejarah haruslah terbebas dari hal yang semata-mata berbau teologis filosofis,
mistik dan spiritual. Keotentikan wahyu Tuhan tidak dijamin oleb takdir T uhan. 13agi
Hanafi, wahyu Tuhan dikatakan sebagai wahyu yang otentik, adalah jika wahyu tersebut
memenuhi persyaratan sebagai berikut; pertama, kata-kata yang diucapkan oleh sang
rasul/nabi adalah kata-kata yang in verbatim (pcrsis dcngan kat a-katti yang diucapkan
pcrtama kali). Kcdua pcrkataan dar· w h u yang diterima ra. ul/nabi tidak rnclcwali
rnaa pcngalihan ·ecara IL an, namun ditulis pada saat pengucapannya. Kctiga, pada
pengalihan melalui l ulisan, teks-teks lersebut harus beri,i kala-ka a yang secant harfiah
sama dengun yang diu apkan Nabi. Keemput, perjalanan dari pengalihan lisan ke tulisan
narus dil.akukan scsuai aturan-aturan pcngalihan lisan. Teks-teksnya harus diketahui dan
harus identik. Degit u juga naratornya haruslah orang yang hid up pada zaman yang sama
di saat dituturkannya kejadian-kejadian dalam teks, serta harus bcrsikap netral dalam
penceritaannya. Dengan kritik historis tcrhadap kitab suci di atas tcrscbut, Hanafi.,
berkesimpulan bahwa hanya kitab suci al-Qur'anlah yang memenuhi semua persyaratan
dan oleh karenanya, ai-Qur'an merupakan kitab suci yang otentik
CORAK TEOLOGI ISLAM AHMAD HANAFI (1929-1968 M)
ABSTRAK
CORAK TEOLOGI ISLAM AHMAD HANAFI (1929-1968 M)
E-mail: [email protected]
Dalam sejarah pemikiran Islam, telah tumbuh dan berkembang berbagai mazhab atau aliran keagamaan, baik di bidang fiqih, hukum maupun akidah/kalam. Di bidang yang terakhir ini, tercatat dalam sejarah adanya aliran-aliran seperti Mu‟tazilah, Asy‟ariyah, Maturidiyah, dan lain-lainnya. Sesuai dengan yang disebutkan di atas bahwa banyaknya aliran-aliran dalam Teologi Islam. Ada aliran yang lebih mengutamakan akal dari wahyu dan ada pula aliran yang mengutamakan wahyu dibandingkan akal. Rumusan masalah dalam penelitian ini adalah bagaimana pemahaman Teologi Islam Ahmad Hanafi dan bagaimana corak pemikiran Teologi Islam Ahmad Hanafi. Adapun jenis penelitian ini adalah penelitian kualitatif deskriftif. Data primer dari penelitian ini adalah buku Teologi Islam (Ilmu Kalam) karya Ahmad Hanafi dan buku Pengantar Teologi Islam karya Ahmad Hanafi. Teknik analisis data yang digunakan penulis adalah dengan mengadakan studi analisa yaitu dengan menggunakan metode analisis. Penulis mencari pemikiran Ahmad Hanafi tentang corak Teologi Islam. Maka disini penulis akan membaca buku primer yang berkaitan dengan fokus penelitian penulis. Setelah itu penulis akan menarik kesimpulan dengan menggunakan metode deduktif (dari umum ke khusus) sehingga penulis menemukan pemikian corak tokoh tersebut. Dari hasil penelitian ditemukan bahwa pemahaman teologi Islam Ahmad Hanafi menyebutkan bahwa teologi adalah ilmu yang membicarakan tentang Tuhan dan pertaliannya dengan manusia, baik berdasarkan kebenaran wahyu ataupun berdasarkan penyelidikan akal murni. Sedangkan corak pemikiran teologi Islam Ahmad Hanafi adalah membicarakan kepercayaan-kepercayaan Islam yang sebagian besar bersumber kepada al-Qur‟an dan Hadits, meskipun tujuannya sama, yaitu mengajak manusia untuk mengakui kepercayaan tersebut namun berbeda cara yang dipakainya. Teologi Islam mengarahkan pembicaraan kepada akal pikiran semata-mata dan serba dirasionilkan dan menganut paham teologi Asy‟ariah, hal ini bisa dilihat dari beberapa karya tulisnya yang mendukung dan sepaham dengan teologi Asy‟ariah.
Kata Kunci: Corak, Teologi, Aliran-aliran, Ahmad Hanafi (1929-1968 M
Model pemikiran kalam Hassan Hanafi
Ilmu kalam lahir dalam konteks sejarah ketika inti keislaman sistem kepercayaan, yakni transendensi Tuhan, diserang oleh wakil dari sekte dan budaya lama. Ilmu kalam dimaksudkan untuk mempertahankan doktrin utama dan memelihara kemurniannya. Ilmu kalam karena itu, dalam pembahasannya hanyalah berkutat pada masalah transenden, tanpa pernah menoleh pada yang imanen yakni bagaimana nasib manusia, sementara kini zaman telah berubah, memasuki era modern yang banyak dihinggapi problematika kehidupan, baik ancaman dari dalam (baca; Islam) seperti kemiskinan, kebodohan dan keterbelakanan, maupun dari luar (baca; Barat) yang tidak hanya dari aspek politik, tetapi juga pendidikan ekonomi dan kultural. Penelitian ini bertujuan untuk memaparkan gagasan teologi Hanafi dalam kaitannya dengan kondisi sosial politik yang mempengaruhinya, sehingga dengan mudah kita dapat memahami pemikiran seseorang dari sudut pandang tersebut. Tujuan lainnya yaitu melengkapi penelitian yang pernah dilakukuan, dengan lebih memfokuskan pada kajian teologi Hassan Hanafi. Metode yang digunakan dalam penelitian ini di antaranya: Pertama, deskripsi yaitu menguraikan secara teratur konsep teologi Hassan Hanafi. Kedua, kesinambungan historis yaitu dilihat benang merah dalam pengembangan pemikiran Hassan Hanafi, baik yang berhubungan dengan lingkungan historis dan pengaruh-pengaruh yang dialaminya maupun dalam perjalanan hidupnya sendiri.
Penelitian ini difokuskan pada salah satu proyek besar Hanafi, yakni sikap kita terhadap tradisi klasik, khususnya pada bidang teologi. Langkah pertama untuk lebih memperjelas pemahaman mengenai teologi yang digagas Hanafi, terlebih dahulu penulis menguraikan perkembangan teologi dari zaman klasik hingga kontemporer. Hal ini bertujuan untuk mencari dan menemukan tolak ukur dari tujuan yang ada dalam studi penelitian ini. Menurut Hanafi, teologi sesungguhnya bukan ilmu tentang Tuhan karena Tuhan tidak tunduk kepada ilmu, melainkan ilmu tentang kata (ilm kalam), yakni kata-kata Tuhan yang termanifestasi dalam firman-Nya melalui wahyu. Ilmu kata adalah tafsir yaitu ilmu hermeneutik yang mempelajari analisis percakapan, bukan hanya dari segi bentuk-bentuk ucapan, melainkan juga dari segi konteksnya, yakni pengertian yang merujuk pada dunia. Karena itu, ilmu kalam yan digagas Hanafi bersifat aksiologis, tujuannya untuk menjadikan teologi sebagai ilmu tentang perjuangan sosia
TEOLOGI ANTROPOSENTRIS (Studi Pemikiran Hassan Hanafi)
Realitas dunia Islam menjadi perhatian dari berbagai kalangan. Termasuk dari para pemikir Islam sendiri. Mereka melihat bahwa umat Islam sudah saatnya membangun kembali dunianya yang telah terkoyak. Mendapatkan kembali kemerdekaannya secara penuh. Serta mengatur kehidupan kembali yang telah terkoyak tersebut. Dalam kenyataan. dunia islam memerlukan perubahan.perubahan untuk memperbaiki keterpurukannya.
Salah satu pemikir pembaharu tersebut adalah Prof. DR. Hassan Hanafi, seorang pemikir kontemporer yang berkebangsaan Mesir. Hassan Hanafi menilai dunia Islam dalam kondisi yang jauh terpuruk, sehingga perlu untuk mengadakan perbaikan. Oleh sebab itu, sang Tokoh ini meluncur gagasan pembaharuannya yang clisebut dengan Proyek Turiis dan Tajdid Proyek tersebut memilki tiga agenda besar yaitu Sikap Kita terbadap Turiis (Tradisi) Klasik, Sikap Kita terhadap Tl!ris (Tradisi) Barat serta yang terakhir adalah Sikap Kita terhadap Realitas. Semua dari agenda proyek tersebut merupakan atwaran bagi permasalahan dalam Dunia Islam.
Dalam penjelasan proyek yang pertama yaitu sikap kita terhadap tradisi klasik, Hanafi melakukan rekonstruksi dalam bidang teologi. Hanafi meniJai teologi klasik masih bersifat teosentris artinya pembahasan teolginya masih berkutat pada wacana ketuhanan semata. Oleh karena itu, bagi Hanafi, teologi sekarang sudah saatnya mengaitkan dirinya dengan realitas manusia. Hingga Hanafi menawarkan konsep teologi yang disebut dengan teologi Antroposentris, yaitu sebuah teologi yang berbasis pada kemanusiaan. Bukannya pada ketuhanan semata.
Makanya dalam teologi Antroposentris memiliki seamangat pembebasan. Menjadikan manusia sebagai landasan bagi sebuah konsepsi teologi. Berarti memahamai realitas manusia sebagai manusia yang hidup. Hanafi berangkat dari sebuah relitas kemanusiaan. Memanusiakan teologi dan membangun teologi yang dapat memberikan landasan. konsepsi bagi kehidupan manusia. Mentrasnformasikan kemanusiaan dalam konsep teologi. Mengaitkan Tuhan dengan. manusia. sejarah dengan ketuhanan. Serta tentunya realitas manusia dengan Wahyu Tuhan. Sebuah teologi yang terbangun dari semangat kemanusiaan danjuga berbasis kepada kemanusiaan. Itulah yang digambarkan dengan Teologi Antroposentris. Fokus pemikiran inilah yang menjadi konsentrasi kajian dalam pembahasa.n bab-bab yang ada didalam skripsi ini
Metode Ushul Fiqih Hasan Hanafi
Ushul Fiqh reconstruction is one of Hassan Hanafi renewal projects branch. To him, ushul Fiqh is ‘revealed' science that means ‘something' which is revealed from Allah to human beings. it is a science which is sent down-oriented for human beings' goodness. Ushul fiqh which is constructed by Hasan Hanafi is different from the previous works on ushul fiqh in four aspects. First, object of discussion is put systematically from mashadir arba'an to adillah syariyyah the ahkam syar'iyah. Second, there are orientation and tendency to give wider space for human being's duty and potential in understanding and implementing God's revelation in real life. Third, hasan hanafi's work gives idioms articulating humanbeing's potential as the practice of second conclusion. Fourth, the work is also deductive explaining general theories and free from mentioning law examples as description for understanding theories towards text content. Rekonstruksi ushul fiqih adalah salah satu cabang dari proyek pembaruan tradisi Hasan Hanafi. Baginya, ushul fiqih adalah ilmu ‘tanzil' yaitu ‘sesuatu' yang berasal dari Allah untuk manusia. ilmu yang berorientasi ke bawah, kepada mashlahah manusia. Ushul fiqih yang dicoba oleh Hasan Hanafi untuk direkonstruksi minimal tampak perbedaannya dengan ushul fiqih karya para ushuli terdahulu pada empat aspek. Pertama, resistematisasi objek pembahasan. Dimulai dari mashadir arba'an, lalu adillah syariyyah kemudian ahkam syar'iyah. kedua, adanya orientasi dan kecenderungan memberi ruang lebar bagi pentransparanan bagi tugas dan potensi manusia dalam menjemput misi wahyu dan pengimplementasiannya dalam kehidupan manusia yang riil. Ketiga, memberikan idiom- idiom (redaksi, ta'bir) yang mengartikulasikan potensi kemanusiaan sebagai tindak lanjut dari kesimpulan nomor dua di atas. Keempat, bersifat deduktif, menjelaskan teori-teori yang bersifat general dan sepi dari penyebutan contoh-contoh hukum sebagai deskripsi bagi teori-teori pemahaman terhadap isi tek
Mencermati Hermeneutika Humanistik Hasan Hanafi
Indonesia:
Hermeneutika yang dikembangkan oleh Hasan Hanafi bukan sekedar sebuah metode untuk memahami teks (al-Qur’an), tetapi mencakup juga penjelasan tentang proses penyampaian wahyu sejak dari Tuhan sampai manusia, dan perubahan yang ditimbulkan dari pemahaman atas teks tersebut. Karena itu, proses pemahaman teks dari hermenutika Hanafi terdiri atas tiga tahapan, yaitu kritik historis, kritik pemahaman, dan kritik praktis. Tahap pertama digunakan untuk memastikan orisinalitas teks, sedang tahap ketiga digunakan untuk memastikan bahwa hasil interpretasi benar-benar dapat digunakan untuk menjawab problem masyarakat. Adapun kritik pemahaman yang berfungsi untuk memahami teks digunakan dengan tiga cara, yaitu analisis linguistic, analisis situasi sejarah, dan generalisasi makna-makna. Selanjutnya, karena tujuan utama hermenutika Hasan Hanafi adalah menjawab problem riil masyarakat, bukan sekedar bermain dalam kata-kata, maka kunci utama metode ini adalah kemanusiaan. Maksudnya, semua interpretasi dan pemahaman harus diarahkan untuk mendorong munculnya gerakan-gerakan yang membela dan mengangkat martabat manusia, bukan membela Tuhan.
English:
Hermeneutics which developed by Hasan Hanafi has not been just a method to understand the texts (the Qur’an), but also includes an explanation of the process of revelation from God to man and the changes resulted from understanding of the text. Therefore, the process of understanding the texts in Hanafi’s hermenutika consists of three stages, namely historical critic, understanding critic, and practical critic. The first stage is used to ensure the authenticity of the texts; the third stage is used to ensure that the result of interpretation really can be used to solve society problems; while the second stage, understanding critic which functioned to understand the text is applied in three ways, namely linguistic analysis, analysis of historical circumstances, and generalization of meanings. Furthermore, because the main purpose of Hasan Hanafi’s hermeneutics is to solve the real problems of society, not just playing the words, then the primary key of this method is the humanity. It means that all interpretation and understanding should be directed to encourage the emergence of movements that defend and raise human dignity, not to defend God
ORIENTASI PENAFSIRAN HASSAN HANAFI (Telaah Kritis Atas Pemikiran Hermeneutika Al-Qur'an-nya)
Sebagai wahyu in verbatim Tuhan, al-Qur'an hadir tidak hanya sebagai
bundelan kertas tanpa pesan yang menyertainya. Oleh karena itu, al-Qur'an sebagai firman Tuhan
memerlukan relawan-relawan yang bertindak sebagai "juru bicara Tuhan". Juru bicara yang sejatinya
menyuarakan apa yang dikehendaki Tuhan. Namun dalarn menyuarakan al-Qur'an ini, para "juru bicara
Tuhan'' seringkali terhenti pada makna objektifuya tanpa ntempedulikan realitas yang ada, padahal
wahyu (al-Qur'an) dan realitas adalah bagaikan dua sisi mata uang yang tidak bisa dipisahkan;
wahyu (al-Qur' an) adalah realitas yang mengejawantah, sedangkan realitas adalah wahyu yang telah
mewujud. Dengan demikian, amatlah 'naif menjadikan wahyu sebagai entitas mutlak di luar ruang dan
waktu. Berangkat dari kegelisahan sepcrti inilah, kiranya pemikiran penafsiran l assan Hanafi layak
dihadirkan. Sebagai pemikir muslim kontcmporer, konstruksi penafsiran yang dibangunnya mempunyai
keistimewaan tersendiri; menafsirkan al-Qur'an dcngan memenuhi tuntutan standar ilmiah penafsiran
sekaligus sejalan dengan kebutuhan umat Islam saat ini. Beberapa hal yang menarik untuk dikaji
dalam penelitian ini adalah bagaimanakah orientasi penafsiran Hassan Hanafi dan bagaimana implikasi
orientasi penafsiran tersebut terhadap metode tafsir tematiknya?
Permasalahan-permasalahan tersebut akan dicarikan jawabannya dengan menggunakan metode deskripti£
Sedangkan, untuk kepentingan analisisnya di digunakan pendekatan historis interpretati£ Pcndckatan
historis artinya mendekati persoalan dengan tekanan khusus pada "proses" dan hubungan scbab akibat,
sedangkan pendekatan interpretatif artinya menyelami karya-karya tokoh, guna mcnangkap arti dan
nuansa yang dimaksudkan tokoh secara khas.
Dengan metode dan pendekatan penelitian di atas, akhimya diketahui bahwa orientasi penafsiran
ijassan ijanafi adalah "orientasi subjektif'. Hal ini karcna seorang 'penafsir (menurutnya)
bukanlah seorang yang netral tetapi seorang yang berpihak. Seorang penafsir adalah seorang
revolusioner, aktor sosial, dan reformis yang sel&.lu mencari solusi dari problem kcmasyarakatan
(sosial) yang dihadapinya. Oleb karena itu, penafsiran adalah kegiatan produksi (dialektika antara
prapaharn penafsir dengan dunia teks) bukan kegiatan reproduksi makna, karena bukan saja sulit
untuk mcnemukan makna awal (objektif), tetap juga makna awal tersebut (jika ditemukan) tidak akan
relevan lagi sebab telah kehilangan konteks eksistensialnya. Konsisten dengan sikapnya, orientasi
subjektif ijassan ijanafi sangat terasa implikasinya terbadap metode tafsir tematik yang
dikcmbangkan. Jika tafsir tematik, pada umumnya hanya menekankan metodologinya tanpa menempatkan
komitmen serta tujuan seorang penafsir dalam penafsiran sebagai sebuah ketentuan metodologis, maka
dalam kctcntuan mctodologis penafsiran tcmatik Hassan Hanafi, komitmen terhadap kepentingan dan
tujuan scorang penafsir sangat ditonjolkan, bahkan dalam kondisi tertentu seorang penafsir juga
harus merumuskan "aksi" (transfonnasi dari teori kc praktik/dari pemahaman ke pernbahan), scbagai
sarana mcnempatkan idealitas agar mendekati realitas dan mcngubah realitas agar mendckati realitas
Pemberdayaan Uang dalam Zakat Fitrah Perspektif Madzhab Hanafi dan Syafi’i
This study was conducted to determine how the legal empowerment of money in tithes whether allowed or prohibited in perspective Hanafi and Shafi'i schools. This study is very important to accommodate the fact that occur in the community-related issues in the use of money to pay tithes. Modern society is now assumed that the use of the money easier and more practical so that they are many who pay tithes using money from the use of rice or other staple foods. From these studies it is known that the Shafi'i schools use money as a tithe is not allowed. Paying tithes should be the staple food, should not be issued in the form of zakat fitrah qimah or money worth. Meanwhile, according to Hanafis use of money in tithes permitted as long as the money is worth the staple food which is used as a tithe. But the important thing to note here, for those who bertaqlid on Hanafi when issuing tithes monetary amount should be within the limit of tithes according to Abu Hanifah
- …
