2,733 research outputs found
Hasan Hanafi
Hasan Hanafi From Fundamentalism to Post Fundamentalism Gorter Distinguished Scholar Lecture, 04/09/200
Tafsir transformatif Hasan hanafi
Tafsir transformative ini dengan karakter yang sama dengan penafsiran yang lainnya yaitu tafsir yang realitis, dari tafsir ini mengutamakan dengan tafsir transformative. Dalam metodologi ini yang ditawarkan oleh hasan Hanafi sendiri dalam menunjukan suatu bingkai pembaharuan suatu pemikiran yang sekaligus juga untuk menampakan digiringnya sebagaimana melegimitasikamn suatu proyek pembaharuan yang bercorak kiri. Dalam penafsiran dalam penafsiran ini perlu juga dipertimbangkan oleh adanya sebab pada kenyataan hasan Hanafi yang terjebak oleh suatu problem-problem social yang bernuansa pembebasan, dan juga problem problem yang menang selalu dihadapi dalam kehidpuanya
Epistemologi dan Pendekatan-pendekatan Hermeneutika Hasan Hanafi
This research aims to explore Hasan Hanafi\u27s hermeneutics in interpreting the Al-Qur\u27an through a liberation and emancipatory interpretation approach. Hasan Hanafi wants to describe humans in their capacity as humans, involving linguistic, historical, social and geographical aspects. Hanafi\u27s motivation comes from concerns about the crisis of interpretive orientation and the weakening of epistemological reasoning. By combining phenomenology, Marxism, Ushul Fiqih, and hermeneutics, Hanafi created a practical hermeneutic theory to provide solutions to the problems of Muslims, creating a normative-ideological basis for fighting repression, exploitation, and injustice. The recommendation from this research is to continue further research regarding Hasan Hanafi\u27s practice of interpreting the verses of the Al-Qur\u27an
REKONSTRUKSI PEMIKIRAN HASAN HANAFI DALAM BIDANG TEOLOGI ISLAM
Secara teoritis Teologi Islam yang bersifat dialektis menurut Hasan Hanafi lebih mengarah pada mempertahankan doktrin dan memelihara kemurniannya. Teologi tidah hanya merupakan ide-ide kosong, tetapi memiliki ide kongkrit yang mampu membangkitkan dan menuntun umat dalam mengharungi kehidupan nyata. Namun teologi tidak bisa dibuktikan secara filosofis, sebagaimana yang pernah dikemukakan Al-Farabi, metodologi teologi tidak bisa mengantarkan pada keyakinan atau pengetahuan yang meyakinkan tentang Tuhan, tetapi baru pada tahap pengetahuan tentang Tuhan dan wujud-wujud spritual lainya.
Dari sisi metodologis, Hasan Hanafi memiliki kesamaan dengan cara berfikir Barat, terutama pemikiran Marxis dan Husserl. Ketika Hasan Hanafi meletakan persoalan Islam dalam konteksnya sendiri. Menurutnya, kemajuan Islam tidak dapat dilakukan dengan mengadopsi pemikiran Barat, tetapi lahir dari khazanah pemikiran Islam itu sendiri. Adapun kesamaannya dengan pemikiran Marxis terlihat ketika Hasan Hanafi menempatkan persoalan sosial praktis, sebagai dasar dari pemikiran teologinya. Penggunaan dialektika Marxis terlihat ketika Hasan Hanafi menjelaskan perkembangan pemikiran Islam dan usaha yang dilakukannya merekonstruksi pemikiran teologinya, dengan menggunakan metode filsafat Barat, kemudian mensitetiskannya. Bedanya, Marxis didasarkan kepada materi keduniaan, sedangkan Hasan Hanafi bersifat kerohanian atau religiusitas.
Rekonstruksi kalam Hasan Hanafi dalam mendiskripsikan dzat dan sifat Tuhan, merupakan pendiskripsian tentang manusia ideal, hal ini sebenarnya bukanlah hal baru, karena telah disampaikan oleh mu’tazilah dan kaum sufis sebelumnya. Konsepnya tentang tauhid telah disampaikan juga oleh tokoh Murtadha Muthahari. Kelebihan Hasan Hanafi ia mampu mengemas konsep-konsepnya tersebut secara lebih utuh, sehingga merasa lebih baru. Gagasan rekonstruksi teologis Hasan Hanafi lebih berorientasi pada rasionalitas Mu’tazilah. Dan Hasan Hanafi mengkritik kalam Asy’ari, menurutnya penyabab kemunduran umat Islam.
Kata Kunci: rekonstruksi, pemikiran, hasan hanafi, teologi, isla
Metode Ushul Fiqih Hasan Hanafi
Ushul Fiqh reconstruction is one of Hassan Hanafi renewal projects branch. To him, ushul Fiqh is ‘revealed' science that means ‘something' which is revealed from Allah to human beings. it is a science which is sent down-oriented for human beings' goodness. Ushul fiqh which is constructed by Hasan Hanafi is different from the previous works on ushul fiqh in four aspects. First, object of discussion is put systematically from mashadir arba'an to adillah syariyyah the ahkam syar'iyah. Second, there are orientation and tendency to give wider space for human being's duty and potential in understanding and implementing God's revelation in real life. Third, hasan hanafi's work gives idioms articulating humanbeing's potential as the practice of second conclusion. Fourth, the work is also deductive explaining general theories and free from mentioning law examples as description for understanding theories towards text content. Rekonstruksi ushul fiqih adalah salah satu cabang dari proyek pembaruan tradisi Hasan Hanafi. Baginya, ushul fiqih adalah ilmu ‘tanzil' yaitu ‘sesuatu' yang berasal dari Allah untuk manusia. ilmu yang berorientasi ke bawah, kepada mashlahah manusia. Ushul fiqih yang dicoba oleh Hasan Hanafi untuk direkonstruksi minimal tampak perbedaannya dengan ushul fiqih karya para ushuli terdahulu pada empat aspek. Pertama, resistematisasi objek pembahasan. Dimulai dari mashadir arba'an, lalu adillah syariyyah kemudian ahkam syar'iyah. kedua, adanya orientasi dan kecenderungan memberi ruang lebar bagi pentransparanan bagi tugas dan potensi manusia dalam menjemput misi wahyu dan pengimplementasiannya dalam kehidupan manusia yang riil. Ketiga, memberikan idiom- idiom (redaksi, ta'bir) yang mengartikulasikan potensi kemanusiaan sebagai tindak lanjut dari kesimpulan nomor dua di atas. Keempat, bersifat deduktif, menjelaskan teori-teori yang bersifat general dan sepi dari penyebutan contoh-contoh hukum sebagai deskripsi bagi teori-teori pemahaman terhadap isi tek
Pemikiran Hasan Hanafi dan Hasan Al-Banna tentang konsep teologi: Studi komparatif
Studi ini bertujuan untuk membandingkan konsep teologi antara dua tokoh penting dalam dunia Islam, yakni Hasan Hanafi dan Hasan al-Banna. Hasan Hanafi, seorang pemikir kontemporer dari dunia Arab, dan Hasan al-Banna, pendiri Gerakan Ikhwanul Muslimin, memiliki pengaruh yang signifikan dalam membentuk pemahaman teologi dalam masyarakat Muslim. Meskipun berasal dari konteks dan periode yang berbeda, keduanya mengajukan pandangan yang unik tentang Islam dan hubungannya dengan realitas sosial dan politik. Studi ini menggunakan pendekatan komparatif untuk menganalisis persamaan dan perbedaan dalam pandangan teologis keduanya. Dalam kajian ini, akan diuraikan poin-poin sentral dari pemikiran teologi Hasan Hanafi, yang menekankan konteks sosial dalam interpretasi agama, dan Hasan al-Banna, yang mengusulkan Islam sebagai solusi komprehensif untuk semua aspek kehidupan. Dalam konteks ini, perbandingan akan difokuskan pada pandangan mereka mengenai konsep Tuhan, manusia, hukum Islam, dan peran umat Muslim dalam masyarakat. Metode yang digunakan dalam studi ini adalah analisis teks, dengan merujuk pada karya-karya tulisan keduanya. Hasil analisis ini akan mengungkapkan kesamaan dalam penekanan pada pentingnya pengaplikasian prinsip-prinsip agama dalam konteks kehidupan sehari-hari. Namun, perbedaan juga akan terlihat dalam cara pandang keduanya terhadap interaksi antara agama dan politik, serta peran individu dalam menjalankan tugas-tugas keagamaan. Melalui pendekatan komparatif ini, studi ini berharap dapat memberikan wawasanyang lebih mendalam tentang bagaimana pandangan teologi dari Hasan Hanafi danHasan al-Banna memberikan kontribusi terhadap perkembangan pemikiran Islam.Selain itu, studi ini juga akan memberikan pemahaman lebih baik tentang peran agama dalam membentuk pandangan sosial dan politik dalam masyarakat Muslim.Kata kunci: Teologi, Hasan Hanafi, Hasan Al-Banna, Studi Komparati
Mencermati Hermeneutika Humanistik Hasan Hanafi
Indonesia:
Hermeneutika yang dikembangkan oleh Hasan Hanafi bukan sekedar sebuah metode untuk memahami teks (al-Qur’an), tetapi mencakup juga penjelasan tentang proses penyampaian wahyu sejak dari Tuhan sampai manusia, dan perubahan yang ditimbulkan dari pemahaman atas teks tersebut. Karena itu, proses pemahaman teks dari hermenutika Hanafi terdiri atas tiga tahapan, yaitu kritik historis, kritik pemahaman, dan kritik praktis. Tahap pertama digunakan untuk memastikan orisinalitas teks, sedang tahap ketiga digunakan untuk memastikan bahwa hasil interpretasi benar-benar dapat digunakan untuk menjawab problem masyarakat. Adapun kritik pemahaman yang berfungsi untuk memahami teks digunakan dengan tiga cara, yaitu analisis linguistic, analisis situasi sejarah, dan generalisasi makna-makna. Selanjutnya, karena tujuan utama hermenutika Hasan Hanafi adalah menjawab problem riil masyarakat, bukan sekedar bermain dalam kata-kata, maka kunci utama metode ini adalah kemanusiaan. Maksudnya, semua interpretasi dan pemahaman harus diarahkan untuk mendorong munculnya gerakan-gerakan yang membela dan mengangkat martabat manusia, bukan membela Tuhan.
English:
Hermeneutics which developed by Hasan Hanafi has not been just a method to understand the texts (the Qur’an), but also includes an explanation of the process of revelation from God to man and the changes resulted from understanding of the text. Therefore, the process of understanding the texts in Hanafi’s hermenutika consists of three stages, namely historical critic, understanding critic, and practical critic. The first stage is used to ensure the authenticity of the texts; the third stage is used to ensure that the result of interpretation really can be used to solve society problems; while the second stage, understanding critic which functioned to understand the text is applied in three ways, namely linguistic analysis, analysis of historical circumstances, and generalization of meanings. Furthermore, because the main purpose of Hasan Hanafi’s hermeneutics is to solve the real problems of society, not just playing the words, then the primary key of this method is the humanity. It means that all interpretation and understanding should be directed to encourage the emergence of movements that defend and raise human dignity, not to defend God
Biografi Karya dan Pemkiran Hasan Hanafi
Hasan Hanafi mengenal Tokoh-tokoh ikhwanul Muslimin seperti Hasan Al-Banna, Sayyid Qutb, Abdul Qadir Audah, Sa’id Ramadan, Alal Al-Fasi, Hasan Al-Asymawi, Abdul Hakim ‘Abidin, maupun tokoh revolusioner Islam dan barat seperti Muhammad Iqbal, Edmund Husserl dan Descartes. Inilah yang selanjutnya banyak memberi pengaruh pada cara berfikir Hanafi.
Selain tokoh-tokoh di atas, Sayyid Qutb meninggalkan pengaruh yang sangat besar kepada diri Hanafi. Hal ini terbukti dari pernyataannya
“Jikalau Sayyid Qutb masih hidup waktu itu, saya pasti akan menjadi murid terbaiknya, dan jika dakwah Ihhwanul Muslimin berlanjut, niscaya saya akan menjadi pemikir dan konseptornya”.
Pemikiran Hasan Hanafi terdiri dari : pertama, Logika Pembaharuan Bahasa. Kedua, Turas Dan Tajdid serta Penyatuan Ilmu-Ilmu. Turas adalah sesatu yang sampai kepada kita dari masa lalu dalam peradaban dominan, sehingga merupakan masalah yang diwarisi sekaligus mesalah penerima yang hadir dalam berbagai tingkatan. Turas merupakan titik awal sebagai tangungjawab kebudayaan bangsa. Tajdid adalah penafsiran ulang atas turas sesuai kebutuhan zaman, karena yang lama mendahului yang baru. Turas adalah pranata sedangkan tajdid adalah tujuan. Ketiga, Kiri Islam (Al-Yasar al-Islami). Istilah ‘Kiri’ bermakna pengambilan bentuk perlawanan terhadap pihak yang bersinggungan yaitu kanan. Dalam arti lain kata kiri disini adalah oposisi dari kanan. Kata kiri selalu lekat dengan identitas sosialisme, marxisme, dan komunisme. Identitas tersebut lebih condong kepada pemikiran dan gerakan sosial yang timbul karena pemikiran karl marx, yang kemudian dibakukan oleh fredrich engels menjadi Marxisme.
Demikian kuatnya keyakinan Hanafi akan pentingnya orientasi ke-Islam-an sebagai ideologi populis, ia mencetuskan gagasan Kiri Islam (al-yasar al-Islami atau Islamic Left). Terminologi “kiri” dalam banyak hal mengandung kesan stigmatik, terutama ketika dihadapkan kepada konstruksi dasar pengetahuan konservatif memahami Islam.
Secara substansial istilah ini merupakan gagasan berbasis sistem epistemology rasional-kritis yang bertujuan untuk bersikap kritis terhadap bangunan pengetahuan dominan yang membelenggu dan manipulatif. Dalam pengetahuan yang dominan seringkali bersembunyi berbagai kepentingan ideologis. Pada arah inilah, gagasan Kiri Islam yang diperkenalkan Hanafi memberi ruh gerakan yang bertujuan untuk selalu melihat realitas obyektif untuk melakukan penelitian terhadap kegagalan idelogi modern
SOCIAL APPROACH IN TAFSIR AL-QUR’AN PERSPECTIVE OF HASAN HANAFI
Hasan Hanafi states that a thorough revival in religious reforms affects social revolution and Muslims’ politics, interpretation methodologies are needed go beyond the textual and historical interpretations, which do not take al-Qur’an in a narrow space and time in Rasulullah period, Hasan Hanafi gave a social approach in interpreting the Qur’an (almanhaj al-ijtima’i Fi at-Tafsir). With this interpretation, according to Hanafi, an exegete who want to find the meaning of al-Qur’an do not only deduce the meaning of the text, but on the contrary, can induce the real meaning into the text. Interpret according to Hasan Hanafi means looking for something, object focus. Interpreting is to find something new among language text. It uses thematic method that is characteristic of interpretation by the scientific paradigm, which expresses the subjectivity emphasis of commitment interests and interpreter objective sociall
SOCIAL APPROACH IN TAFSIR AL-QUR’AN PERSPECTIVE OF HASAN HANAFI
Hasan Hanafi states that a thorough revival in religious reforms affects social revolution and Muslims’ politics, interpretation methodologies are needed go beyond the textual and historical interpretations, which do not take al-Qur’an in a narrow space and time in Rasulullah period, Hasan Hanafi gave a social approach in interpreting the Qur’an (almanhaj al-ijtima’i Fi at-Tafsir). With this interpretation, according to Hanafi, an exegete who want to find the meaning of al-Qur’an do not only deduce the meaning of the text, but on the contrary, can induce the real meaning into the text. Interpret according to Hasan Hanafi means looking for something, object focus. Interpreting is to find something new among language text. It uses thematic method that is characteristic of interpretation by the scientific paradigm, which expresses the subjectivity emphasis of commitment interests and interpreter objective socially</jats:p
- …
