76 research outputs found

    Penerimaan Petani Terhadap Sistem tanam PadiSebatang (System of Rice Intensification) di Nagari Cupak Kecamatan Gunung Talang Kabupaten Solok.

    No full text
    ABSTRAK HENDRIVAL SEPRI WILDO, BP 1210812016. Jurusan Sosiologi Fakultas Ilmu Sosial Dan Ilmu Politik Universitas Andalas Padang. Judul Skripsi:Penerimaan Petani Terhadap Sistem tanam PadiSebatang (System of Rice Intensification) di Nagari Cupak Kecamatan Gunung Talang Kabupaten Solok. Pembimbing IDr.Jendrius, M.Si. Pembimbing II Drs. Ardi Abbas, MT. Sistem intensifikasi padi merupakan inovasi baru dalam bidang pertanian. Program ini diterapkan pada kelompok tani yang ada di Nagari Cupak. Program ini secara teoritis memiliki banyak keunggulan dibandingkan dengan sistem konvensional. Dengan keunggulan yang ada pada program tanam padi sebatang dan telah dipraktekan juga dalam bertani. Faktanya anggota di kelompok tani “Tabek Murni” masih enggan untuk beralih pada sistem tanam padi sebatang ini. Oleh sebab itu penelitian ini mengkaji apa yang menyebabkan petani tidak menerapkan sistem tanam padi sebatang ini. padahal tanam padi sebatang ini telah dicobakan oleh penyuluh pertanian bersama kelompok tani. Tujuan penelitian ini adalah Mengidentifikasi faktor-faktor yang menyebabkan petani enggan menerima sistem “tanam padi sebatang” pada kelompok tani ”Tabek Murni”. Teori yang digunakan adalah difusi inovasi Rogers dan Shoemaker yang menjelaskan bagaimana suatu inovasi disampaikan (dikomunikasikan) melalui saluran-saluran tertentu sepanjang waktu kepada sekelompok anggota dari sistem sosial. Penelitian dilakukan denganmenggunakan pendekatan kualitatif dengan tipe deskriptif. Informan dipilih dengan menggunakan teknik purposive sampling dan dalam pengumpulan data wawancara mendalam. Dari hasil penelitian dapat disimpulkan bahwa alasan yang dikemukakan oleh petani diantaranya kompleksitas dari sistem tanam padi sebatang. Dalam prakteknya yaitu proses pengerjaan yang lebih lambat sehingga membutuhkan banyak tenaga kerja. Penyebab lain yaitu status petani dalam kepemilikan lahan, kerumitan dalam pengerjaan dan perawatan. Permasalahan dilapangan yang dihadapinya yaitu masalah pengairan di musim kemarau. Selain itu keterbatasan modal, alasannya yaitu biaya untuk tanam padi sebatang lebih besar dibanding cara biasa (konvensional). Biaya tinggi ini disebabkan jumlah tenaga kerjanya lebih banyak dan biaya pemberian pupuk. Faktor lain yaitu kerentanan terhadap serangan hama keong. Kata Kunci: Sistem Tanam Padi Sebatang, Kompleksitas, Sistem Konvensiona

    KAJIAN KERENTANAN DAN KERUSAKAN BERAS LOKAL PROVINSI SUMATERA SELATAN TERHADAP HAMA PASCAPANEN Sitophilus oryzae L. (Coleoptera: Curculionidae)

    No full text
    The aim of this research is to evaluate the level of susceptibility and damage of rice from local in Musi Rawas Regency, South Sumatera Province to S. oryzae. The experiments revealed that the local rice from Musi Rawas Regency has susceptibility category from moderate to susceptible to S. oryzae infestation. Siam and glutinous rice white are classified are classified as moderate category while rice Ratus, Dayang Rindu, Ambai, Pandak, and Seluang are categorized moderate to susceptible. The Glutinous rice black and Wao are categorized as susceptible to S. oryzae. The susceptibility of local rice in Musi Rawas was affected by the number of F1 S. oryzae (r = 0.966**, P < 0.01) and median development time (r = -0,883**, P < 0.01). The damage of rice affects the rice susceptibility to S. oryzae. The result of correlation analysis showed that there was a very significant positive correlation between susceptibility index and percentage of rice weight loss (r = 0.854**, P < 0,01), percentage of perforated rice (r = 0.955**, P < 0,01) and percentage of rice powder (r = 0.953**, P < 0.01). Rice classified as susceptible such as glutinous rice black and Wao cannot be stored for long periods due to high damage caused by S. oryzae pest during storage ric

    Dampak Pemupukan Nitrogen terhadap Hama Penggerek Batang dan Pelipat Daun Padi

    No full text
    The research aims to study the applications of nitrogen fertilizer on pestsstem borers and leaffolders rice. The study was conducted in the subdistrict Syamtalira Aron district North Aceh from November 2013 until April 2014.The research using randomized block design (RBD) with the nitrogen dose treatment is without fertilizer, 45 kg N/ha, 67.5 kg N/ha, 90 kg N/ha, 112.5 kg N/ha, and 135 kg N/ha. Each treatment was repeated doses of nitrogen three times. Variables measured is the component intensity attacks of pests stem borers and leaffolders rice and components yield such as grain dry weight harvest, dry milled grain weight, and weight of 1000 seeds. The results showed that fertilization nitrogen of from dose 45 kg of N/ha to 135 kg N/ha can increase the intensity attacks of pest stem borers and leaffolders rice. The granting of nitrogen with 112.5 kg N/ha to 135 kg N/ha can reduce the weight of dry grain harvest, dry milled grain weight, and grain weight of 1000 seeds

    Kajian Kerentanan Beras Dari Padi Gogo Lokal Jambi Terhadap Sitophilus oryzae L. (Coleoptera: Curculionidae)

    No full text
    Penelitian bertujuan untuk mengetahui tingkat kerentanan beras dari padi gogo lokal Kecamatan Tengah Ilir, Kabupaten Tebo Provinsi Jambi terhadap infestasi hama S. oryzae. Hasil penelitian menunjukkan bahwa beras dari varietas Tuo dan Seribu Naik tergolong dalam katagori moderat, sedangkan beras dari varietas Tapang Bedaro dan Cemplok tergolong dalam katagori moderat sampai rentan. Beras dari varietas Kuku Balam, Rias Besar, Rias Kecil, Korok, Bedaro, Nartih, dan Seni Bungin tergolong dalam kategori rentan terhadap infestasi hama S. oryzae. Hasil analisis korelasi menunjukkan bahwa terdapat korelasi positif yang sangat nyata antara indeks kerentanan beras dengan panjang beras (r= 0,906**; P< 0,01) dan rasio beras (r= 0,771**; P< 0,01) serta terdapat korelasi negatif yang nyata dengan lebar beras (r= -0,630*; P< 0,05). Indeks kerentanan juga dipengaruhi oleh jumlah F1 S. oryzae (r= 0,922**; P< 0,01) dan korelasi negatif yang sangat nyata dengan median waktu perkembangan S. oryzae (r= -0,912**; P< 0,01). Dimensi beras seperti panjang beras (r= 0,898**; P< 0,01), rasio beras (r= 0,911**; P< 0,01), dan lebar beras (r= -0,816**; P< 0,01) juga mempengaruhi jumlah F1 S. oryzae yang muncul. Dimensi beras merupakan sumber kerentanan beras terhadap serangan hama S. oryzae

    Perbandingan Keanekaragaman Hymenoptera Parasitoid Pada Agroekosistem Kedelai Dengan Aplikasi Dan Tanpa Aplikasi Insektisida

    No full text
    Sistem pengelolaan tanaman kedelai dengan penggunaan insektisida sintetik yang intensif akan menurunkan keanekaragaman jenis Hymenoptera parasitoid. Penelitian bertujuan untuk memban-dingkan keanekaragaman Hymenoptera parasitoid pada agroekosistem kedelai dengan dan tanpa aplikasi insektisida sintetik. Pengumpulan data serangga menggunakan perangkap dari jaring serangga dan nampan kuning. Hasil penelitian menunjukkan bahwa indeks keanekaragaman jenis pada fase pertumbuhan vegetatif dan generatif kedelai dengan aplikasi insektisida lebih rendah dibandingkan dengan yang tanpa aplikasi insektisida, yang keduanya tergolong sedang. Indeks kemerataan jenis pada fase pertumbuhan vegetatif dan generatif dari kedua agroekosistem kedelai tergolong tinggi. Indeks kekayaan jenis pada fase vegetatif dari agroekosistem kedelai dengan aplikasi insektisida tergolong rendah (0<2,3955&#8804;2,5), sedangkan pada fase generatif tergolong sedang (0<3,6118&#8804;4). Indeks kekayaan jenis pada fase vegetatif (0<2,6229&#8804;4) dan generatif (0<3,8287&#8804;4) dari agroekosistem kedelai tanpa aplikasi insektisida tergolong sedang. Komunitas Hymenoptera parasitoid pada agroekosistem kedelai tanpa aplikasi insektisida memiliki kemiripan lebih rendah daripada yang dengan aplikasi insektisida. Aplikasi insektisida mempengaruhi indeks kekayaan jenis pada fase generatif dan kemiripan komunitasnya, yaitu nilainya lebih rendah daripada yang tanpa insektisida

    TOKSISITAS INSEKTISIDA NABATI DARI FAMILI ASTERACEAE, ANACARDIACEAE, DAN EUPHORBIACEAE TERHADAP Sitophilus oryzae L. (Coleoptera: Curculionidae)

    No full text
    Sitophilus oryzae merupakan hama utama pada berbagai jenis biji-bijian pangan seperti beras, gabah, gandum, dan jagung di penyimpanan. Pengendalian hama S. oryzae dengan insektisida sintetik banyak dilakukan secara fumigasi secara terus-menerus dapat mengakibatkan berbagai dampak negatif seperti toksisitas pada konsumen dan resistensi S. oryzae. Penelitian bertujuan untuk mengevaluasi toksisitas insektisida nabati dari serbuk daun C. odorata, T. erecta, J. curcas, dan A. occidentale terhadap mortalitas S. oryzae. Konsentrasi serbuk daun C. odorata, T. erecta, J. curcas, dan A. occidentale yaitu 2,5, 5, 10, 20, 40, 80, dan 160 mg/g padi serta kontrol. Hubungan antara konsentrasi serbuk daun C. odorata, T. erecta, J. curcas, dan A. occidentale dan waktu kematian dari konsentrasi serbuk insektisida nabati terhadap kematian imago S. oryzae dianalisis dengan analisis probit. Hasil penelitian menunjukkan bahwa Serbuk daun J. curcas memiliki sekitar 3,59 kali lebih beracun dibandingkan serbuk daun A. occidentale, 4,38 kali lebih beracun dibandingkan serbuk daun T. erecta, 8,04 kali lebih beracun dibandingkan serbuk daun C. odorata terhadap S. oryzae. Serbuk daun J. curcas menyebabkan waktu kematian S. oryzae paling cepat dibandingkan serbuk daun A. occidentale, T. erecta, dan C. odorata. Urutan toksisitas insektisida nabati terhadap imago S. oryzae yaitu J. curcas > A. occidentale > T. erecta > C. odorata

    Aktivitas Insektisida Nabati terhadap Mortalitas dan Penghambatan Kemunculan Imago Sitophilus oryzae L.

    No full text
    Kajian penelitian laboratorium telah dilakukan untuk mengevaluasi efektivitas dari 18 jenis serbuk tanaman sebanyak 2 g/100 g gabah padi terhadap mortalitas dan penghambatan kemunculan imago S. oryzae. Jenis insektisida nabati yang efektif terhadap mortalitas dan penghambatan kemunculan imago S. oryzae adalah serbuk daun jarak dan serbuk kulit jeruk manis. Aktivitas insektisida nabati dari serbuk daun jarak dan serbuk kulit jeruk manis menyebabkan mortalitas sebesar 56,93% dan 55,09% dan penghambatan kemunculan imago S. oryzae sebesar 77,04% dan 77,16%

    Pengaruh Kepadatan Populasi Sitophilus oryzae (L.) terhadap Pertumbuhan Populasi dan Kerusakan Beras

    No full text
    The research aims to study the effect population density of S. oryzae against population growth and damage of rice. The population density of S. oryzae is 5, 10, 15, and 20 pairs of adult per 250 g rice. The results showed that population density S. oryzae affects pest population growth of S. oryzae, characteristics loses weight of rice, percentage powder of rice, and changes content moisture of rice. The population density S. oryzae as many as 20 pairs of adult per 250 g of rice can increase populations pest S. oryzae, characteristics loses weight of rice, percentage powder of rice, and content moisture of rice. The relationship between population density S. oryzae with a growing population, percentage loses weight, percentage rice hollow, percentage powder of rice, and changes content moisture of rice increased linearly. There is a positive correlation between population density S. oryzae with population growth S. oryzae (r = 0.997**; P &lt; 0.01), the percentage loses weight (r = 0.987*; P &lt; 0.05), the percentage of rice perforated (r = 0.998**; P &lt; 0.01), the percentage powder of rice (r = 0.997**; P &lt; 0.01), and changes content moisture of rice (r = 0.964**; P &lt; 0.01)Keywords: Sitophilus oryzae, population density, population growth, damage ric

    TOKSISITAS (LC50 dan LT50) JAMUR ENTOMOPATOGEN Beauveria bassiana (Bals.) Vuill. TERHADAP HAMA ULAT GRAYAK (Spodoptera litura F.)

    No full text
    Toxicity of enthomopathogenic fungi Beauveria bassiana to armyworm (Spodoptera litura) has been investigated in Pest Laboratory of Faculty of Agriculture, Syiah Kuala University, Darussalam, Banda Aceh. This research was aimed at determining lethal concentration (LC50) and lethal time (LT50) of B. bassiana suspensions against third instar larvae of armyworm. The fungi concentration used was in the range 0-6 % (w/v) or equal to 9,33 x 106 45,83 x 106 conidia/ml. The fungi suspension was applied to the larvae by dissolving the larvae into the suspension for 10 seconds. The number of the larvae died and the time required to kill the larvae were recorded everyday starting one day after application (DAA) until pupation. The relation between each observation to the fungi concentration was analyzed using probit analysis. The result showed that B. bassiana suspension caused the death of the larvae beginning 4 DAA with maximum eath on 10 DAA. The death of the larvae caused by the growth and the development of the fungi inside the larvae. The LC50 of the fungi suspension against the larvae was 3,57 % while the LT50 at 4, 5, and 6 % fungi concentration were 9,88; 8,13; and 6,8 days respectively

    KERENTANAN DAN KERUSAKAN BERAS TERHADAP HAMA PASCAPANEN Sitophilus zeamais L. (Coleoptera: Curculionidae)

    No full text
    Damage on rice during storage including damage on quantity and quality is caused by Sitophilus zeamais. The study aim was to evaluate the susceptibility and damage of rice from various rice varieties to the attacks of S. zeamais. Types of rice used in the research were varieties of IR64, IR65, IR66, Ciherang, Mekongga, Rojolele, and Sintanur. The method was with no-choice assay with observed variables were F1 progeny number, the median of development time and rice damage. The results showed that the rice type had different levels on susceptibility to S. zeamais. Rice from IR65, Mekongga, Rojolele, and Sintanur varieties were classified as moderate to susceptible varieties, while IR64 and IR66 were classified as moderate varieties and Ciherang was classified as susceptible variety. A high rice damage occured in the type of rice classified of susceptible to S. zeamais. There was a significant negative correlation between susceptibility index of rice with dimensions of rice width (r = -0.75*, P &lt;0.05) and median of development time of S. zeamais (r = -0.78*, P &lt;0.05) and positive correlation with number of F1 S. zeamais (r = 0.86**, P &lt;0.01) and the percentage of rice powder (r = 0.71**, P &lt;0.01). Rice that is easily attacked by postharvest pest insects should not be stored for long period of time.</p
    corecore