1,721,376 research outputs found

    PENGELOLAAN GELANGGANG OLAHRAGA H. AGUS SALIM PADANG

    Get PDF
    Gelanggang Olahraga H. Agus Salim merupakan sarana dan prasarana olahraga di Kota Padang untuk melaksanakan urusan wajib pemerintahan daerah di bidang keolahragaan.Sebagai barang milik daerah, Gelanggang Olahraga H. Agus Salim bukanlah milik Pemerintah Kota Padang, Pemerintah Kota Padang hanya diberikan hak pengelolaannya saja, sementara asetnya dimiliki oleh Pemerintah Provinsi Sumatera Barat,sehingga Pengelolaan Gelanggang Olahraga tidak berjalan maksimal.Penulis mengemukakan beberapa rumusan permasalahan, yakni : 1) Bagaimana pengelolaan Gelanggang Olahraga H. Agus Salim 2) Apa saja kendala yang dihadapi dalam pengelolaan Gelanggang Olahraga H. Agus Salim. Adapun pendekatan masalah yang Penulis gunakan adalah pendekatan yuridis sosiologis dengan deskriptif-analitis. Berdasarkan penelitian yang dilakukan diperoleh hasil, yakni: Dalam Pengelolaan GOR H. Agus Salim dalam ruang lingkup pemanfaatan, ditemukan adanya disfungsi dan inkonsistensi pengelolaan barang milik daerah yang harusnya digunakan sebagai sarana dan prasarana olahraga namun digunakan untuk tempat tinggal,tempat berjualan,dan untuk kegiatan lain yang tidak berhubungan dengan keolahragaan, sehingga pemanfaatan Gelanggang Olahraga belum sepenuhnya sesuai dengan Undang- Undang Nomor 3 Tahun 2005 tentang Sistem Keolahragaan Nasional, Peraturan Pemerintah Nomor 27 Tahun 2014 tentang Pengelolaan Barang Milik Negara/ Daerah. Masalah yang dihadapi terkait pengelolaannya yaitu masih ada bangunan di GOR H. Agus Salim yang digunakan sebagai tempat tinggal dan berjualan meskipun sudah disurati oleh Dinas Pemuda dan Olahraga Kota Padang, belum adanya pagar atau tanda batas GOR H. Agus Salim sehingga pungutan liar kerap terjadi. Anggaran yang minim menyebabkan sarana dan prasarana olahraga banyak yang terbengkalai dalam pembangunannya, hal itu juga dikarenakan karena status kepemilikan GOR. H. Agus Salim masih merupakan aset milik Pemerintah Provinsi Sumatera Barat

    MASTERPLAN PENATAAN KAWASAN GOR H. AGUS SALIM

    Get PDF
    Gelanggang Olah Raga (GOR) H Agus Salim merupakan GOR kebangaan Urang Minang, juga merupakan kandang dari Klub Sepak Bola Semen Padang FC dan PSP Padang. Stadion yang dibangun tahun 1983 ini punya sejarah panjang bagi persepakbolaan Ranah Minang, pernah direnovasi setelah gempa besar tahun 2009. Sebagai GOR yang multifungsi sekarang kondisinya sangat memprihatinkan seiring melorotnya prestasi Semen Padang FC dan PSP Padang, seakan tak terawat dan tak tertata dengan baik, Banyak bangunan penunjang yang tidak layak dan tak terawat, beralih fungsi, tata letak lapangan cabang olah raga yang terlalu dekat, para pedagang yang mendominasi hampir semua kawasan GOR sehingga memerlukan penataan kembali kawasan GOR H. Agus Salim agar stadion yang banggakan tersebut bisa kembali menjadi kawasan olahraga yang representatif. Kegiatan ini bertujuan untuk merancang Masterplan Penataan Kawasan GOR H. Agus Salim yang menjadi acuan (guideline) dan pedoman bagi Pemerintah Provinsi Sumatera Barat sebagai pihak pengelola melalui Dinas Bina Marga Cipta Karya dalam pelaksanaan pembangunan kawasan GOR H, Agus Salim. Masterplan ini menjadi solusi permasalahan sarana, prasarana, infrstruktur, fasilitas dan utilitas kawasan GOR H. Agus Salim sehingga terwujudnya suatu desain kawasan (masterplan) yang komprehensif baik ditinjau dari aspek teknis, sinergisitasnya dengan kawasan sekitarnya, maupun aspek ekonomis sebagai panduan pelaksanaan pengembangan GOR H. Agus Salim agar memenuhi standar dan aturan teknis yang berlaku, termasuk database asset yang valid dan pengaturan kelembagaan penyelenggaraan pengelolaan pembangunan Kawasan GOR H. Agus Salim

    PERANAN K. H. AGUS SALIM DALAM KANCAH PERPOLITIKAN INDONESIA MASA REVOLUSI FISIK (1945-1950)

    No full text
    K. H. Agus Salim dilahirkan pada tanggal 8 Oktober 1884 di Kota Gadang, Kabupaten Agam (Bukittinggi), Sumatera Barat. Ia adalah putra dari Sutan Mohamad Salim dan Siti Zainab. K. H. Agus Salim adalah salah satu anak pribumi dari Kota Gadang yang telah berhasil menamatkan pendidikan formal di ELS dan HBS. Ia merupakan seorang tokoh yang pandai dalam hal mengarang sehingga banyak sekali tulisan-tulisan yang telah dihasilkan. Setelah kemerdekaan tahun 1945-1950 Ia masuk sebagai anggota Dewan Pertimbangan Agung, kemudian duduk sebagai menteri dalam beberapa kabinet hingga kepercayaan yang diberikan kepadanya sebagai penasihat Menteri Luar Negeri. Berbagai usaha perjuangan diplomasi yang dilakukan K. H. Agus Salim selama revolusi fisik (1945-1950) antara lain yaitu melalui meja perundingan, menghadiri Inter Asian Conference, misi diplomasi ke negara-negara Timur Tengah, dan meminta dukungan PBB dalam penyelesaian masalah Indonesia-Belanda. Kata Kunci: K. H. Agus Salim, Politik, Indonesia (1945-1950

    Peran kepemimpinan K. H. Agus Yudhi Mubaarak dalam pengelolaan pesantren: Penelitian di Pondok Pesantren Sabiilunnaja Bandung Barat

    Get PDF
    Pondok pesantren merupakan warisan para ulama tempo dulu yang keberadaannya sampai saat ini masih ada. Keberadaannya itu tidak akan terlepas dari peran pendiri pondok pesantren tersebut. Sebab berkembang tidak nya suatu ogranisasi atau lembaga faktor utamanya adalah siapa yang menjadi top leader nya atau pimpinannya. Sama halnya dengan pondok Pesantren Sabiilunnaja, berkembangnya karena ada peran kepemimpinan K. H. Agus Yudhi Mubaarak dalam mengelola pondok Pesantren. Hal ini menjadi sasaran peneliti mencari tahu strategi apa yang telah dirumuskan oleh pimpinan, program apa yang telah dirancang oleh pimpinan serta bagaimana implementasi dari program tersebut. Tujuan dari dilaksanakannya penelitian ini adalah untuk mengetahui strategi yang telah dirumuskan K. H. Agus Yudhi Mubaarak dalam pengelolaan pesantren, untuk mengetahui program K. H. Agus Yudhi Mubaarak dalam pengelolaan pesantren, dan untuk mengetahui implementasi program K. H. Agus Yudhi Mubaarak dalam pengelolaa pondok pesantren. Penelitian ini menggunakan metode deskriptif dengan pendekatan kualitatif. Adapun jenis data yang digunakan yakni data primer dan data sekunder. Sedangkan teknik pengambilan data yaitu observasi, wawancara, angket dan dokumentasi. Penelitian ini berpijak pada teori peranan seorang pemimpin yang dikemukakan oleh Kartono bahwa peran seorang pemimpin adalah sebagai pelaksana, perencana, sebagai seorang ahli, sebagai pengawas, bertindak sebagai pemberi gambaran atau pujian atau hukuman, pemegang janggung jawab dan bertindak sebagai seorang ayah. Kemudian ditegaskan dalam teori kepemimpian, yaitu sebagai perilaku yang dikemukakan oleh Sweenwy dan McFarlin (2002) bahwa kepemimpinan melibatkan seperangkat proses pengaruh antar orang. Proses tersebut bertujuan memotivasi bawahan, menciptakan visi misi masa depan, dan mengembangkan strategi untuk mencapai tujuan. Hasil penelitian yang ditemukan menunjukan bahwa kemajuan pondok Pesantren Sabiilunnjaa tidak terlepas dari strategi yang telah dirumuskan K. H. Agus Yudhi Mubaarak yaitu dengan pengenalan sifat Rububiyah, juga mengenakan pembiasaan mensinergikan antara hubungan horizontal dan vertikal serta meningkatkan intelektulisme dan spiritualisme. Kemudian strategi tersebut dipolakan kepada program-program kegiatan santri. Diantaranya ada program jangka pendek, jangka menengah dan program jangka panjang. Implementasi dari program tersebut berjalan dengan lancar yang tentunya melibatkan seluruh santri dan dewan guru. Dengan demikian, hasil dari penelitian maka seluruh kegiatan santri menjadi dasar berkembangnya pondok pesantren Sabiilunnaja yang dikelola oleh K. H. Agus Yudhi Mubaarak dalam pengelolaan pondok pesantren

    JALUR PEJALAN KAKI DI KAWASAN RUANG PUBLIK Pendekatan Perilaku Pejalan Kaki (Studi kasus : Koridor Talan H. Agus Salim Semarang)

    Get PDF
    ABSTRAKST Pada tahun 1500 Central. Business District (CBD) Semarang berada di kawasan Pasar Johar, namun dengan perkembangan waktu Central Business District Kota. Semarang bergeser menuju Simpang Lima, namun kawasan Pasar Johar masih ramai dikunjmngi dan masih sebagai pusat perdagangan kota. Semarang. Jalur pejalan kaki pada koridor Jalan H. Agus Salim merupakan Lingkage System, namun kenyataannya pejalan kaki jarang menggunakannya, mereka lbih menyukai berjalan di jalan raya. Hal ini semakin memperburuk kondisi jalur pejalan kaki tersebut. Salah satu upaya untuk mengetahui atribut dan properti jalur pdjalan kaki yang diinginkan pada koridor Jalan H. Agus Salim melalui pendekatan perilaku dengan penekanan pada interaksi antara manusia dan ruang. Pendekatan ini cenderung menggunakan istilah setting dari pada ruang. Komponen setting meliputi : (a) jalur pejalan kaki sebagai setting, (b) pejalan kaki sebagai pemakai, (c) atribut, yaitu kualitas hubungan setting' dan perilaku. Properti adalah karakter atau kualitas dari komponen. Pendekatan perilaku menggunakan teknik Behavioral Mapping, melalui teknik ini didapatkan suatu bentuk informasi mengenai suatu fenomena terutama perilaku individu/kelompok manusia yang terkait dengan sistem spasialnya. Terdapat dua cara melakukan Behavioral Mapping, yakni : (1) Place-Centered Mapping dan (2) Person-Centered Mapping. Pengumpulan data penelitian dengan dua cara yaitu komonikasi terdiri dari observasi di lapangan dan wawancara. Kesimpulan dari penelitian adalah : 1. Atribut yang diinginkan pejalan kaki koridor Jalan H.Agus Salim adalah atribut aksesibilitas, visibilitas, kenyamanan, keamanan dan kesesakan. Atribut aksesibilitas lebih diminati oleh pejalan kaki. 2. Adanya properti yang mendukung atribut yang diinginkan pejalan kaki koridor Jalan H. Agus Salim. 3. Adanya jalur pejalan kaki yang diinginkan pejalan kaki koridor Jalan H. Agus Salim Semarang berdasarkan pendekatan perilaku. 4. Penggunaan fasilitas yang sudah ada pada koridor Jalan H. Agus Salim tidak dimanfaatkan secara. maksimal Olen pengguna karena adanya akumulasi kepadatan yang ditimbulkan oleh PKL, penarik becak, sopir taksi, sopir kendaraan - pribadi, sopir angkot dan bus kota serta sopir omprengan. ABSTRACT In the year 1500, Central Business District of Semarang City was located in Johar Area. Buat with the time went on, Central Business District of Semarang City shifted to Simpang Lima area., although Johar area is still crowded and is still to he trading centre of Semarang. Pedestrian road in coridor H. Agus Salim street is still to -linkage system", but in daily life is rarely used by pedestrians theirself. They preffered to walk in the body of street. This condition make the pedestrian road worst. The purpose of this research is to investigate the "atribute" and "property" preffered in pedestrian road in coridor. of H. Agus Salim strett, which is looked from behaviour theory, stressed on interaction between human and space. The component of -setting" covers : (a) pedestrian road as "setting", (b) pedestrians as user, (c) at•ibute is quality of relation between "setting" and behavior. Property is the characteristic or quality of component. Study of the behaviour is through "Behavioral Napping" method, which is by this method we could get an information about a phenomena, especially the behaviour of a human or a group of people, which is linked with the spatial system. There are two ways of "Behavioral Mapping", i.e. : (1) Place-Centered Mapping and (2) Person Centered Mapping. Research Data are collected in two ways, communication of observation in site, and interview. T

    Thermal Comfort Level and the Ability of Trees to Reduce Temperature at H. Agus Salim Sports Hall, Padang City

    Get PDF
    Changes in land cover are thought to be the main factor in the Urban Heat Island (UHI) phenomenon. UHI is a form of local climate change which is characterized by an increase in temperature reaching 6oC in central urban areas compared to vegetated areas on the outskirts of the city. Compact vegetated land or Green Open Space (GOS), which is able to avoid increasing the surrounding temperature. GOR H. Agus Salim as one of the GOS in Padang City is a place for residents to have recreation and fill their free time by enjoying various culinary delights with friends and family as well as sports activities. This research aims to measure the benefits of tree canopies as climate amelioration in the H. Agus Salim GOR area. The research was conducted in September 2023, with 7 repetitions at 5 measurement points (3 under the tree canopy and 2 in the open field). Data is measured directly in the field with a thermohygrometer. The cooling effect provided by trees was analyzed using a difference approach between measurements in shade and open areas. Thermal comfort level is measured using the empirical formula Temperature Humidity Index (THI). The results showed that there was a decrease in temperature under the tree from 2,0oC (in the morning) to 2,9C (in the afternoon). However, THI calculations show that GOR H. Agus Salim is in the Uncomfortable criteria both under a canopy and in open areas

    Going Beyond Counting First Authors in Author Co-citation Analysis

    Get PDF
    The present study examines one of the fundamental aspects of author co-citation analysis (ACA) - the way co-citation counts are defined. Co-citation counting provides the data on which all subsequent statistical analyses and mappings are based, and we compare ACA results based on two different types of co-citation counting - the traditional type that only counts the first one among a cited work's authors on the one hand and a non-traditional type that takes into account the first 5 authors of a cited work on the other hand. Results indicate that the picture produced through this non-traditional author co-citation counting contains more coherent author groups and is therefore considerably clearer. However, this picture represents fewer specialties in the research field being studied than that produced through the traditional first-author co-citation counting when the same number of top-ranked authors is selected and analyzed. Reasons for these effects are discussed

    Variations on the Author

    Get PDF
    “Variations on the Author” discusses two of Eduardo Coutinho’s recent films (Um Dia na Vida, from 2010, and Últimas Conversas, posthumously released in 2015) and their contribution to the general question of documentary authorship. The director’s filmography is characterized by a consistent yet self-effacing form of authorial self-inscription: Coutinho often features as an interviewer that rather than express opinions propels discourses; an interviewer that is good at listening. This mode of self-inscription characterizes him as an author who is not expressive but who is nonetheless markedly present on the screen. In Um Dia na Vida, however, Coutinho is completely absent form the image, while Últimas Conversas, on the contrary, includes a confessional prologue that moves the director from the margins to the center of his films. This article examines the ways in which these works stand out in the filmography of a director who offers new insights into the notion of cinematic authorship

    Appropriate Similarity Measures for Author Cocitation Analysis

    Get PDF
    We provide a number of new insights into the methodological discussion about author cocitation analysis. We first argue that the use of the Pearson correlation for measuring the similarity between authors’ cocitation profiles is not very satisfactory. We then discuss what kind of similarity measures may be used as an alternative to the Pearson correlation. We consider three similarity measures in particular. One is the well-known cosine. The other two similarity measures have not been used before in the bibliometric literature. Finally, we show by means of an example that our findings have a high practical relevance.information science;Pearson correlation;cosine;similarity measure;author cocitation analysis
    corecore