82 research outputs found

    PENGEMBANGAN MEDIA PERATURAN PERMAINAN BULUTANGKIS DALAM BENTUK ELEKTRONIK BOOK (E-BOOK) UNTUK ATLET BULUTANGKIS PB GANESHA KOTA BATU

    No full text
    ABSTRAK Dewantara, Gunawan. 2017. Pengembangan Media Peraturan Permainan Bulutangkis dalam Bentuk E-Book  (Elektronik Book) untuk Atlet Bulutangkis PB Ganesha Kota Batu. Skripsi, Jurusan Pendidikan Jasmani dan Kesehatan, Fakultas Ilmu Keolahragaan, Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (1) Drs. Oni Bagus Januarto, M.Kes., (2) Drs. Agus Tomi, M.Pd. Kata kunci: pengembangan, E-book, Bulutangkis Berdasarkan observasi awal dan wawancara yang dilakukan peneliti dengan pelatih dan atlet bulutangkis PB Ganesha Kota Batu pada tanggal 22 Desember 2016, bahwa atlet mengalami kesulitan dalam memahami peraturan permainan bulutangkis yang disampaikan oleh pelatih karena pelatih tidak menggunakan media dalam penyampaiannya. Selain itu, pelatih mengatakan bahwa dalam menyampaikan materi peraturan permainan bulutangkis juga membutuhkan media agar atlet lebih mudah memahami dan mempelajari kembali peraturan permainan bulutangkis. Namun di PB Ganesha belum ada media untuk materi peraturan permainan bulutangkis.                                                              Penelitian ini bertujuan untuk menemukan jalan keluar dari permasalahan yang ada yaitu dengan mengembangkan buku peraturan permainan bulutangkis dalam bentuk E-book untuk atlet bulutangkis PB Ganesha Kota Batu. Diharapkan, pengembangan ini dapat membantu atlet lebih mudah memahami materi peraturan permainan bulutangkis. Diharapkan dengan adanya E-book peraturan permainan bulutangkis ini pelatih juga dimudahkan dalam menyampaikan materi peraturan permainan bulutangkis.                                                                            Penelitian yang dilakukan di PB Ganesha Kota Batu ini termasuk penelitian dan pengembangan. Dalam penelitian pengembangan ini teknik analisis data yang digunakan adalah teknik analisis deskriptif dengan persentase. Teknik ini digunakan untuk menganalisis data yang diperoleh dari hasil penyebaran angket.                                                                                                                                    Dari validasi ahli materi permainan bulutangkis diperoleh hasil 84,37%, sangat valid dan dapat digunakan, dari ahli peraturan permainan bulutangkis diperoleh hasil 68,05%, valid dan dapat digunakan dengan revisi kecil, dari ahli media diperoleh hasil 100%, sangat valid dan dapat digunakan. Dari uji coba kelompok kecil diperoleh hasil 86,87%, sangat valid dan dapat diuji cobakan, serta dari uji coba lapangan (kelompok besar) diperoleh hasil 83,54%, sangat valid dan dapat digunakan.                                                                                          Revisi terhadap produk yang dikembangkan berdasarkan dari saran para ahli adalah sebagai berikut: (1) pembenahan pada cover, (2) penambahan kata pengantar, (3) penambahan gambar pada materi tertentu, (4) penambahan daftar rujukan

    MODEL KEPEMIMPINAN KI HAJAR DEWANTARA DALAM MANAJEMEN PENDIDIKAN

    Get PDF
    Penelitian ini menggunakan metode penelitian kualitatif dengan jenis pendekatan yaitu (library research) atau studi pustaka dengan menggali informasi melalui literatur berkenaan dengan model kepemimpinan ki hajar dewantara dalam manajemen pendidikan untuk menjawab fokus kajian pada penelitian ini. Penelitian ini mengkaji tentang definisi kepemimpinan, teori kepemimpinan ki hajar dewantara dalam perspektif sejarah, model kepemimpinan ki hajar dewantara dalam pendidikan. Kepemimpinan ialah salah satu hal yang sangat penting yang dimiliki oleh setiap individu. Pemimpin yang baik dan bijaksana akan berpengaruh terhadap suatu hal dalam menentukan suatu tindakan. Adapun model kepemimpinan Ki Hajar Dewantara dalam konteks pendidikan biasanya mencakup prinsip-prinsip diantaranya: 1) Pendidikan untuk semua. 2) Pendidikan berbasis kebudayaan lokal. 3) Pendidikan humanis dalam pendidikan. 4) kemerdekaan dalam pendidikan 5) Pendidikan sebagai sarana perubahan sosial

    Uji Efektivitas Daya Hambat Ekstrak Kunyit Putih (Curcuma zedoaria Rosc.) Terhadap Bakteri Staphylococcus aureus Dari Kerokan Kulit

    No full text
    UJI EFEKTIVITAS DAYA HAMBAT EKSTRAK KUNYIT PUTIH (Curcuma zedoaria Rosc.) TERHADAP BAKTERI Staphylococcus aureus DARI KEROKAN KULIT Yudhi Dewantara Gunawan*, Asrawati Sofyan**, Christin R. Nayoan*** *Mahasiswa Program Studi Kedokteran , Fakultas Kedokteran, Universitas Tadulako **Bagian Farmakologi, Fakultas Kedokteran , Universitas Tadulako ***Bagian Farmakologi, Fakultas Kedokteran, Universitas Tadulako ABSTRAK Latar belakang : Staphylococcus aureus adalah bakteri aerob yang bersifat gram-positif dan merupakan salah satu flora normal manusia pada kulit dan selaput mukosa. Staphylococcus aureus memiliki kemampuan adaptasi yang luar biasa sehingga bisa resisten pada banyak antibiotic. Kunyit putih (Curcuma zedoaria Rosc.) adalah salah satu jenis dari keluarga Zingiberaceae yang sangat penting dalam pengobatan tradisional dan industri obat. Tujuan : Untuk mengetahui konsentrasi ekstrak kunyit putih (Curcuma Zedoaria Rosc.) yang paling efektif sebagai daya hambat terhadap bakteri Staphylococcus aureus dari kerokan kulit. Metode : Jenis penelitian true experimental, dengan sampel berjumlah 24 yang terdiri dari 6 kelompok perlakuan yaitu ekstrak kunyit putih (Curcuma zedoaria Rosc.) dengan konsentrasi 40%, 20%, 10%, 5%, kontrol positif (Amoxicillin), dan kontrol negative (Aquades), yang lakukan pengulangan sebanyak 4 kali. Analisis data dengan menggunakan SPSS dengan uji One Way ANOVA dan Uji LSD. Hasil penelitian : Ekstrak kunyit putih (Curcuma Zedoaria Rosc.) memiliki daya hambat terhadap bakteri Staphylococcus aureus dari kerokan kulit. Rata-rata diameter zona hambat yang terbentuk dengan konsentrasi 40% adalah 21,35 mm, konsentrasi 20% adalah 18,13 mm, konsentrasi 10% adalah 14,77 mm, dan konsentrasi 5% adalah 12,49 mm. Kontrol positif adalah 25,42 mm sedangkan untuk kontrol negatif adalah 0,00 mm. Kesimpulan : Ekstrak kunyit putih (Curcuma Zedoaria Rosc.) memiliki efek daya hambat terhadap bakteri Staphylococcus aureus dari kerokan kulit dengan kadar Hambat Minimal (KHM) adalah konsentrasi 5%. Kata Kunci : Daya Hambat, Ekstrak kunyit putih (Curcuma zedoaria Rosc.), Staphylococcus aureus

    Implementasi Tri Pusat Pendidikan (Ki Hajar Dewantara) di SLB Negeri Purworejo

    No full text
    Implementasi Tri Pusat Pendidikan (Ki Hajar Dewantara) di SLB Negeri Purworejo sudah cukup baik. Hal ini dapat diuraikan sebagai berikut: (1) Lingkungan keluarga anak berkebutuhan khusus di SLB Negeri Purworejo berusaha memberikan jaminan emosional kepada anak dengan membantu anak agar mendapatkan haknya untuk memperoleh pendidikan secara layak. Oleh karena itu, banyak orang tua yang rela meluangkan waktu untuk mengantar jemput anak serta memenuhi kebutuhan sekolah anak agar mereka nyaman. Mereka juga berupaya menanamkan dasar pendidikan moral bagi anaknya agar sejalan dengan program di sekolah tersebut. Akan tetapi, dukungan masyarakat setempat untuk menyelenggarakan pendidikan formal maupun non formal bagi anak maupun biaya, serta sarana dan prasarana bagi pendidikan anak berkebutuhan khusus juga masih minim. (2) Faktor-faktor yang mendukung dalam implementasi Tri Pusat Pendidikan (Ki Hajar Dewantara) di SLB Negeri Purworejo meliputi: adanya dukungan penuh dari pemerintah daerah Provinsi dan pemerintah daerah Kabupaten/Kota, terjalinnya kerjasama yang baik antara guru, siswa, orang tua siswa, dan masyarakat, serta didukung dengan adanya dana BOS serta beasiswa untuk anak kurang mampu secara ekonomi tidak terkecuali anak Anak Berkebutuhan Khusus. (3) Faktor-faktor yang menghambat meliputi: kurangnya guru yang khusus memiliki keahlian untuk mendidik anak berkebutuhan khusus serta kurangnya kedisiplinan siswa dalam mematuhi peraturan sekolah. Abstract: the implementation of the Tri Center for Education (Ki Hajar Dewantara) at Purworejo State SLB is quite good. This can be explained as follows: (1) The family environment of children with special needs at Purworejo State SLB seeks to provide emotional security to children by helping children to get their rights to get a proper education. Therefore, many parents are willing to take the time to take their children to pick up and fulfil their children's school needs so that they are comfortable. They also try to instil the basis of moral education for their children to be in line with the program at the school. However, the support of the local community to organize formal and non-formal education for children and the costs, as well as facilities and infrastructure for the education of children with special needs is also still minimal. (2) The supporting factors in the implementation of the Tri Education Center (Ki Hajar Dewantara) at Purworejo State SLB include: full support from the provincial government and the regency/city government, establishing good cooperation between teachers, students, parents of students and the community, and supported by the presence of BOS funds and scholarships for economically disadvantaged children, including children with special needs. (3) The inhibiting factors include lack of special teachers who have the expertise to educate children with special needs and lack of student discipline in complying with school regulations

    Ki Hadjar Dewantara et l'association des civilisations

    No full text
    2) Ki Hadjar Dewantara jang diagungkan sebagai pahlawan kemer- dekaan, pendidikan dan kebudajaan nasional, sudah selajaknja pula lebih dikenal diluar negeri. Setelah mengutarakan garis besar kehidupan, amal serta pemikiran Bapak Taman Siswa itu, Bénédicte Milcent menjuguhkan pada kami terdjemahan empat artikel jang kurang dikenal. "Penjatuan antara Barat dan Timur" jang ditem- patkan pada konteks kolonial tahun 1929 dimana bahasa Belanda dipergunakan hampir se-mata2 sebagai mata rantai untuk segala hubungan dengan dunia luar. Dalam artikel berikutnja tentang "Hubungan Kebudajaan antara Indonesia dan negara2 lain" pe- nulis menjatakan dukungannja dengan penuh semangat adanja pertukaran kebudajaan; asal sadja berdasarkan prinsip persamaan hak. Setelah sebuah petikan jang menarik tentang tjiri2 chas musik timur, karangan itu berachir dengan "Hubungan2 kami dengan Rabindranath Tagore". K.H.D. dan Tagore mempunjai hubungan sebagai teman jang dipupuk o!eh adanja saling harga menghargai.2) Venerated as a pioneer of independence, education and national culture in Indonesia, Ki Hadjar Dewantara merits to be better known abroad. After having recalled the major moments in the life, action and thought of the father of the Taman Siswa. Bénédicte Milcent gives us a translation of four lesser-known texts. "The Partnership of East and West" must be situated in the colonial context of 1929 where Dutch served almost exclusively as the link for all contact with the outside world. In the following article "Cultural Relations between Indonesia and other Countries", concerning the same theme, the author declares his enthusiastic support for cultural exchanges, provided that they are founded on the principal of parity. After an interesting text on oriental music, the article ends with "Our Relations with Rabindranath Tagore", who had with Ki Hadjar Dewantara a warm relationship nourished by mutual admiration.Milcent Bénédicte. Ki Hadjar Dewantara et l'association des civilisations. In: Archipel, volume 1, 1971. pp. 67-87

    Sufisme Ki Hajar Dewantara

    No full text
    This article explores how Ki Hajar Dewantara has built his world of reality formulation. He has a sufism epistemology in establishing of his thinking. His sufism epistemology built evidently buried by well-established theories stating that Islam in Indonesia is a syncretic Islam, then labeled as religion Kejawen initiated as a religion abangan. But others say that the history of Islam in Java is not Islam Kejawen. On the contrary, it is Islam that affiliated with Sufism. This fact becomes important when the author had to review epistemology of Ki Hajar Dewantara. Because the reality is open to the fact that his epistemology is Sufism epistemology that puts knowledge about the duality of unity. Based on the epistemology, he give a clear interpretation of the relationship between man and nature that leads to the divine reality. Theoretically God created the universe as evidence or sign of existence and people should know about it. Armed with the epistemology, Manunggaling Kawula Gusti term can be interpreted in two ways, first it means that humans have the values of divinity, second, it means united with nature

    Memanusiakan Manusia Melalui Pendidikan di Dalam Keluarga Menurut Pemikiran Driyarkara dan Ki Hajar Dewantara

    Get PDF
    Article written by the author focuses on explaining about Driyarka and Ki Hajar Dewantara’s ideas and taught about education in the family. Ki Hajar Dewantara, put forward the concept of the Three Centers of Education, which states that education occurs in the family, school and social community, with the family as the first and main educational environment. His famous principle, "Ing Ngarso Sung Tulodo, Ing Madyo Mangun Karso, Tut Wuri Handayani," describes the role of parents in various positions to educate children: providing example, and encouragement. According to Ki Hajar Dewantara, education in the family must also foster children's independence and responsibility, as well as giving them the freedom to explore their interests and talents. Meanwhile, Driyarkara emphasized that the family is the first place of a persons's presence as a human being, and the family is the first step in the process of his journey towards becoming a full human being. Overall, Driyarkara and Ki Hajar Dewantara's ideas about education in the family are related each other. Both agree that effective education starts from the family with an active and loving role of parents. While Driyarkara places more emphasis on holistic education and love, Ki Hajar Dewantara focuses on independence, freedom and the role of parents in supporting children from various educational positions. This writing uses a library research method sourced from both books and journals regarding the concept of family education according to Driyarkara and Ki Hadjar Dewantara. Through library sources, the author reads, adapts, summarizes and reports back ideas related to this article. Library study is also called text study. Using this method is very important because it is able to understand deeply and comprehensively the concept of family education according to Driyarkara and Ki Hajar Dewantara.AbstrakArtikel ini menampilkan pemikiran serta gagasan Driyarkara dan Ki Hajar Dewantara tentang pendidikan di dalam keluarga. Ki Hajar Dewantara, mengemukakan konsep Tri Pusat Pendidikan, yang menyatakan bahwa pendidikan terjadi di keluarga, sekolah, dan masyarakat, dengan keluarga sebagai lingkungan pendidikan pertama dan utama. Prinsipnya yang terkenal, "Ing Ngarso Sung Tulodo, Ing Madyo Mangun Karso, Tut Wuri Handayani," menggambarkan peran orang tua dalam berbagai posisi untuk mendidik anak: memberi teladan, semangat, dan dorongan. Pendidikan dalam keluarga menurut Ki Hajar Dewantara juga harus menumbuhkan kemandirian dan tanggung jawab anak, serta memberikan kebebasan untuk mengeksplorasi minat dan bakat mereka. Secara keseluruhan, pandangan Driyarkara dan Ki Hajar Dewantara mengenai pendidikan dalam keluarga saling melengkapi. Keduanya sepakat bahwa pendidikan yang efektif dimulai dari keluarga dengan peran orang tua yang aktif dan penuh kasih sayang. Sementara Driyarkara lebih menekankan pada pendidikan holistik dan cinta kasih, Ki Hajar Dewantara fokus pada kemandirian, kebebasan, dan peran orang tua dalam mendukung anak dari berbagai posisi pendidikan

    KONSEP PEMIKIRAN PENDIDIKAN KI HADJAR DEWANTARA DALAM MEMBENTUK KARAKTER

    Get PDF
    ABSTRAK Peneliitian ini bertujuan untuk mengetahui konsep pendidikan pemikiran Ki Hadjar Dewantara dalam membentuk karakter. Sedangkan yang menjadi permasalahan dalam peneltian ini adalah keprihatinan penulis mengenai krisis multidimensional yang dihadapi oleh bangsa Indonesia terutama dalam problem moral, jika kita mengamati kehidupan umat Islam pada masa kini, maka tidaklah sedikit yang berkepribadian buruk dan tidak berkarakter seperti seks bebas dikalangan para remaja, peredaran narkoba dikalangan para remaja, peredaran foto dan video porno dikalangan pelajar dan sebagainya. Apabila sikap diatas semakin membudaya, maka jelaslah akan berdampak negatif pada anak-anak yang masih dalam proses pembinaan moral agama, oleh karena itu untuk mengatasi permasalahan tersebut diperlukan pendidikan karakter. Pendidikan karakter merupakan solusi atas berbagai permasalahan anak bangsa, khususnya dalam degredasi moral. Oleh karena itu penulis tertarik untuk mengkaji Konsep Pendidikan pemikiran ki hadjar dewantara dalam membentuk karakter. Adapun rumusan masalah dalam penelitian ini adalah seperti apa konsep pendidikan pemikiran ki hadjar dewantara dalam membentuk karakter? Jenis penelitian yang penulis gunakan adalah penelitian kepustakaan ( Library Research) dengan fokus penelitian pada konseppendidikan pemikiran ki hadjar dewantara dalam membentuk karakter. Sumber data dalam penelitian ini adalah sumber data primer dan skunder. Teknik pengumpulan data yang peneliti gunakan adalah dokumentasi. Kemudian langkah akhir peneliti menggunakan teknik content analysis yang merupakan analisis ilmiah mengenai isi pesan suatu komunikasi untuk memecahkan atau mencari solusi suatu permasalahan. Hasil penelitian menunjukan bahwa konsep pendidikan pemikiran ki hadjar dewantara dalam membentuk karakter merupakan konsep pendidikan karakter yang bersandarkan pada pancadarma yaitu. Sehingga dengan bersandar pada tiga pilar itu proses pendidikan karakter akan berjalan dengan efektif dan efisien serta tujuan pembentukan karakter itu sendiri dapat tercapai dengan baik. Kata kunci: pendidikan karakter, pembentukan karakter, ki hadjar dewantara. iv ABSTRACK This research aims to determine the educational concept of Ki Hadjar Dewantara's thought in forming character. While the problem in this research is the author's demands regarding the multidimensional crisis faced by the Indonesian people, especially in terms of morals, if we observe the life of Muslims today, there are not a few who have bad personality and no character, such as free sex among teenagers, the circulation of drugs among teenagers, vortex of pornographic photos and videos among students and so on. If the above attitude becomes more entrenched, then it is clear that it will have a negative impact on children who are still in the process of developing religious morals, therefore character education is needed to overcome these problems. Character education is a solution to various problems of the nation's children, especially in moral degradation. Therefore, the writer is interested in studying the Concept of Educational Thought of ki hadjar Dewantara in forming character. The formulation of the problem in this study is what is the concept of educational thought of Ki Hadjar Dewantara in forming character? The type of research that the author uses is library research (Library Research) with a focus on research on the educational concept of ki hadjar Dewantara's thought in shaping character. The data sources in this study are primary and secondary data sources. The data collection technique that researchers use is documentation. Then the final step of the researcher uses the content analysis technique which is a scientific analysis of the contents of a communication message to solve or find a solution to a problem. The results of the study show that the concept of educational thought of Ki Hadjar Dewantara in forming character is a concept of character education that relies on the Pancadarma, namely. So that by relying on the three pillars, the character education process will run effectively and efficiently and the purpose of character formation itself can be achieved properly. Keywords: character education, character building, ki hadjar Dewantar

    VERBA TRANSITIF PADA TEKS BIOGRAFI KI HAJAR DEWANTARA DAN IMPLIKASINYA TERHADAP PEMBELAJARAN MENGANALISIS TEKS BIOGRAFI

    Get PDF
    Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui penggunaan verba transitif dalam teks biografi Ki Hajar Dewantara ditinjau berdasarkan bentuk verba transitif yang muncul dalam teks biografi Ki Hajar Dewantara. Verba transitif adalah verba yang memerlukan nomina sebagai objek dalam kalimat aktif. Verba transitif dalam teks biografi Ki Hajar Dewantara yang diteliti dibagi berdasarkan ketiga jenisnya yaitu, verba ekatransitif, verba dwitransitif, dan verba semitransitif. Fokus penelitian adalah verba transitif pada teks biografi Ki Hajar Dewantara ditinjau berdasarkan bentuk kebahasaannya yaitu kalimat dan berdasarkan jenisnya yaitu verba ekatransitif, verba dwitransitif, dan verba semitransitif yang termasuk ke dalam verba transitif. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode deskriptif kualitatif dengan teknik analisis isi, maka penelitian ini tidak dibatasi tempat. Penelitian ini dilakukan pada bulan Januari 2017 sampai dengan selesai. Berdasarkan hasil analisis yang dilakukan, ditemukan 19 kalimat verba ekatransitif, 35 kalimat verba dwitransitif, dan 6 kalimat verba semitransitif. Disimpulkan bahwa dari ketiga jenis verba transitif, teks biografi Ki Hajar Dewantara didominasi oleh verba dwitransitif yang selalu digunakan oleh penulis. Jenis verba ekatransitif juga mendominasi verba transitif yang ada di dalam teks biografi Ki Hajar Dewantara, namun jenis verba semitransitif sangat sedikit ditemukan. Penelitian ini dapat diimplikasikan kepada guru dan siswa di dalam pembelajaran kurikulum 2013 pada KD 3.15 yang berbunyi menganalisis aspek makna dan kebahasaan dalam teks biografi. Terkait dengan pembelajaran bahasa Indonesia di sekolah, guru diharapkan mampu menyajikan materi teks biografi dengan menarik, sehingga dapat mengarahkan siswa kepada kemampuannya menuangkan ide, gagasan, dan pemikiran dengan cara menulis dan melisankan, dengan demikian pembelajaran tersebut dapat meningkatkan keterampilan menulis dan berbicara siswa. This research aims to know the use of transitive verbs in the text of the biography of Ki Hajar Dewantara reviewed based on the form of the transitive verbs appear in the text of the biography of Ki Hajar Dewantara. Transitive verbs are verbs that require a noun in a sentence as an object is active. Transitive verbs in the text of the biography of Ki Hajar Dewantara studied is divided based on the third kind�that is, the verb ekatransitif, dwitransitif, verbs and verb semitransitif. The focus of the research is the transitive verbs in the text of the biography of Ki Hajar Dewantara reviewed based on form kebahasaannya i.e. sentences and based on its kind i.e. verbs ekatransitif, dwitransitif, verbs and verb semitransitif which belong to the verb transitive. The methods used in this research is qualitative, descriptive methods with content analysis techniques, so this research is not restricted to the place. This research was conducted in January 2017 until finished. Based on the results of the analysis conducted, found 19 sentence verbs ekatransitif, 35 dwitransitif, verbs and sentences 6 sentence the verb semitransitif. It was concluded that of the three types of transitive verbs, the text of the biography of Ki Hajar Dewantara dominated by dwitransitif verbs are always used by the author. Types of ekatransitif verbs transitive verbs also dominates in the text of the biography of Ki Hajar Dewantara, however these types of verbs semitransitif very little is found. This research can be implied to teachers and students in learning the curriculum 2013 on KD 3.15 that read analyze aspects of linguistic meaning and in the text of the biography. Related to language learning in school, teacher Indonesia expected to present text with biographical material of interest, so that it can direct students to the idea of pouring his abilities, ideas, and thoughts by way of writing and melisankan, Thus the learning can improve writing skills and talk to students

    EFEKTIVITAS METODE PEMBELAJARAN KI HAJAR DEWANTARA DALAM MENINGKATKAN KESADARAN TERHADAP IBADAH HARTA BAGI SISWA SMA PGII 2 BANDUNG

    Get PDF
    Penelitian ini dilatarbelakangi oleh keinginan penulis untuk menerapkan metode pembelajaran Ki Hajar Dewantara pada tingkat Sekolah Menengah Atas (SMA) di dalam proses pembelajaran Pendidikan Agama Islam, dikarenakan ingin memunculkan kembali metode pembelajaran yang pernah digunakan Ki Hajar Dewantara dalam mendidik siswa/siswi pada Tamansiswa di Yogyakarta. Tujuan dari penelitian ini untuk mengetahui keefektivitasan metode pembelajaran Ki Hajar Dewantara dalam meningkatkan kesadaran tehadap ‘Ibādaħ harta yaitu zakat, wakaf dan sedekah dalam pembelajaran Pendidikan Agama Islam di SMA PGII 2 Bandung. Selain itu, peneliti juga mencoba untuk mengetahui respon siswa terhadap pembelajaran Pendidikan Agama Islam dengan menggunkan metode pembelajaran Ki Hajar Dewantara dengan aspek ngerti, memahami dan kesadaran. Dalam penelitian ini, yang menjadi subjek penelitian adalah kelas X yang terdiri kelas X1 eksperimen 27 siswa dan kelas X2 kontrol 24 siswa, jadi jumlah semua kelas X adalah 51 siswa. Adapun metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode kuasi eksperimen (non-equivalent contol group design) yang dimana untuk pengambilan sampelnya untuk kelompok eksperimen dan kelompok kontrol tidak dipilih secara random, untuk teknik dan pengumpulan data dalam penelitian ini menggunakan dua instrumen yaitu instrumen sikap skala Likert (angket) dan skala semantic defferensial, sedangkan untuk analisis data yang digunakan adalah uji t. Hasil dari analisis dengan menggunakan uji t menghasil bahwa pembelajaran Pendidikan Agama Islam dengan menggunkan metode pembelajaran Ki Hajar Dewantara mampu meningkatkan kesadaran terhadap ‘Ibādaħ harta yaitu zakat, wakaf dan sedekah bagi siswa kelas X-1 SMA PGII 2 Bandung. Selain itu, hasil penelitian ini menunjukan bahwa sebagian besar siswa memberikan respon yang positif terhadap penggunaan metode pembelajaran Ki Hajar Dewantara dalam pembelajaran Pendidikan Agama Islam. Berdasarkan penjelasan di atas dapat disimpulkan bahwa dalam pembelajaran Pendidikan Agama Islam dengan menggunakan metode pembelajaran Ki Hajar Dewantara dapat menjadi salah satu alternatif metode pembelajaran yang digunakan dalam proses pembelajaran di sekolah karena dapat meningkatkan kesadaran siswa dalam materi ‘Ibādaħ harta zakat. wakaf dan sedekah. This research is motivated by the author desire to apply the Ki Hajar Dewantara learning methods at the level of High School (SMA) in the Islamic education learning process, due to wish of arising back the learning method that has been used by Ki Hajar Dewantara to educate students on Tamansiswa Yogyakarta. The purpose of this study is to determine the effectiveness of Ki Hajar Dewantara learning methods in increasing the awareness of alms worship, which are zakat, waqaf and sadaqah in Islamic religious education lessons in school PGII 2 Bandung. In addition, researchers are also trying to discover students' response to Islamic religious education learning by using Ki Hajar Dewantara learning methods. The subject of this study is class X consisted of 27 students of experiment class X1 and of 24 students of control classes X2. the student of all X class in total are 51 students. The method used in this study is quasi-experiment method (non-equivalent control group design) in which to collect sample from both groups are not chosen randomly. Data collection technic of this study is using two instruments, namely Likert scale attitude instrument (questionnaire) and semantical differential scale. While the test used to analyze data is the T test. T test Results in this study found that Islamic religious education learning by using Ki Hajar Dewantara learning methods can increase understanding and awareness of alms worship, they are zakat, waqaf and sadaqah in Islamic religious education lessons in school PGII 2 Bandung. In addition, the results of this study indicate that the majority of students responded positively to the use of Ki Hajar Dewantara learning methods in Islamic religious education learning. Based on the explanation above it can be concluded that in Islamic religious education learning using Ki Hajar Dewantara learning methods can be an alternative learning methods that is used in the learning process because it can increase students' understanding and awareness of alms workship; zakat, waqaf and sodaqah
    corecore