1,721,245 research outputs found
MENGINDUSTRIALISASIKAN ONDEL-ONDEL (STUDI TENTANG STRATEGI KEBERTAHANAN ONDEL-ONDEL DI SANGGAR BETAWI AL FATHIR)
ABSTRAK
Febi Laila Syarif, Mengindustrialisasikan Ondel-ondel (Studi tentang Strategi Kebertahanan Ondel-ondel di Sanggar Betawi Al Fathir). Skripsi. Program Studi Sosiologi, Fakultas Ilmu Sosial, Universitas Negeri Jakarta, 2022.
Penelitian ini memiliki 2 tujuan, pertama bertujuan untuk mendeskrpisikan strategi Sanggar Betawi Al Fathir dalam mempertahankan kebudayaan Ondel-ondel. Kedua, mendeskripsikan faktor-faktor yang mendorong dan menghambat Sanggar Betawi Al Fathir dalam mempertahankan kebudayaan ondel-ondel.
Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan metode deskriptif. Adapun pengumpulan data dilakukan melalui data primer dengan cara observasi, dan wawancara baik terstruktur maupun tidak terstruktur kepada ketua sanggar, 3 pengelola sanggar, 4 anggota Sanggar Betawi Al Fathir, dan 1 orang pencetus nama Kampung Ondel-ondel. Sedangkan data sekunder diperoleh dari jurnal terkait, buku, dokumentasi sanggar, literatur terkait, dan penelitian sejenis. Penelitian ini dilakukan pada bulan Desember 2020 dan Juni 2021. Penelitian dilakukan di Sanggar Betawi Al Fathir yang berlokasi di wilayah jalan Kramat Pulo Gang 3 Rt 0011/ RW 003 Kelurahan Kramat, Kecamatan Senen, Jakarta Pusat.
Hasil penelitian Hasil penelitian menunjukan Sanggar Betawi Al Fathir melakukan proses kebertahanan Ondel-ondel dengan sistem industri budaya Paul Hirsch. Dalam sistem industri tersebut, produk budaya yang berkaitan dengan Ondel-ondel seperti Ondel-ondel dalam berbagai variasi ukuran, miniatur, baju Ondel-ondel, kerangka Ondel-ondel, alat musik, kedok, foto, dan video pementasan Ondel-ondel yang disebarkan melalui media sosial diproduksi dan dipasarkan ke masyarakat oleh Sanggar Betawi Al Fathir. Bentuk pemasarannya secara langsung maupun media sosial. Dengan cara tersebut mereka bisa mempertahankan Ondel-ondel hingga saat ini. Faktor pendorong kebertahanan Sanggar Betawi Al Fathir adalah kesadaran keturunan untuk melestarikan dan memperbaiki citra ondel-ondel. Faktor penghambatnya masih banyak ondel-ondel yang tidak sesuai pakemnya, lambannya dukungan dari pemerintah, terkendala pandemi covid-19, dan diberhentikan petugas satpol pp.
Kata Kunci: Strategi, Ondel-ondel, Sistem Industri Budaya
ABSTRACT
Febi Laila Syarif, Industrializing Ondel-ondel (Study on Ondel-ondel Defense Strategy at Betawi Al Fathir Studio). Essay. Sociology Study Program, Faculty of Social Sciences, Jakarta State University, 2022.
This study has 2 objectives, the first is to describe the strategy of the Betawi Al Fathir Studio in maintaining Ondel-ondel culture. Second, describe the factors that encourage and hinder the Betawi Al Fathir Studio in maintaining the ondel-ondel culture.
This study uses a qualitative approach with a descriptive method. The data collection was carried out through primary data by means of observation, and both structured and unstructured interviews with the head of the studio, 3 studio managers, 4 members of the Betawi Al Fathir Studio, and 1 originator of the name Kampung Ondel-ondel. While secondary data was obtained from related journals, books, studio documentation, related literature, and similar research. This research was conducted in December 2020 and June 2021. The research was conducted at the Betawi Al Fathir Studio, which is located in the area of Jalan Kramat Pulo Gang 3 Rt 0011/ RW 003 Kramat Village, Senen District, Central Jakarta.
The results of the study The results showed that the Betawi Al Fathir Studio carried out the Ondel-ondel survival process with the Paul Hirsch cultural industry system. In this industrial system, cultural products related to Ondel-ondel such as Ondel-ondel in various sizes, miniatures, Ondel-ondel clothes, Ondel-ondel skeletons, musical instruments, masks, photos, and videos of Ondel-ondel performances are distributed through Social media is produced and marketed to the public by the Betawi Al Fathir Studio. The form of direct marketing and social media. In this way they can maintain Ondel-ondel to this day. The driving factor for the survival of the Betawi Al Fathir Studio is the awareness of descendants to preserve and improve the image of ondel-ondel. The inhibiting factors are still many ondel-ondel that are not in accordance with the standard, slow support from the government, constrained by the Covid-19 pandemic, and being dismissed by Satpol PP officers.
Keywords: Strategy, Ondel-ondel, Cultural Industry Syste
STRATEGI MEMPERTAHANKAN KEBUDAYAAN BETAWI MELALUI PELESTARIAN ONDEL-ONDEL (Studi Kasus : Sanggar Betawi Al-Fathir, Jakarta Pusat)
Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan bagaimana Strategi Sanggar Betawi Al-Fathir dalam mempertahankan kebudayaan Betawi melalui pelestarian ondel-ondel dan juga memaparkan apa saja faktor pendorong dan penghambat Sanggar Betawi Al-Fathir dalam mempertahankan kebudayaan Betawi melalui pelestarian ondel-ondel. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan metode studi kasus. Subjek penelitian terdiri dari 9 orang. Informan kunci dalam penelitian ini adalah kepala Sanggar Betawi Al-Fathir yaitu Bapak Deny Eliyansyah, wakilnya dengan Zainal Arivin, sekretaris dan juga bendahara dengan Muhammad Idham dan juga anggota Sanggar Betawi Al-Fathir lainya yaitu Muhammad Rafli. Informan pendukung dalam penelitian ini terdiri dari 3 orang yang diantaranya 3 anggota masyarakat yaitu Ibu Hartini, Ibu Ailiah dan juga Ibu Susan, informan pendukung lainnya yang menjadi triangulasi data saya berasal dari satu tokoh masyarakat setempat yaitu dengan Bapak Yuswan selaku kepala RW di daerah tersebut dan juga penulis sekaligus sejarawan yaitu Bapak Hendaru.
Lokasi penelitian ini dilakukan di Sanggar Betawi Al-Fathir, terletak di Jalan Kramat Pulo RT. 011 RW. 003 Kelurahan Kramat, Kecamatan Senen 10450, Jakarta Pusat, DKI Jakarta. Penelitian ini berlangsung sejak Maret 2020-Juni 2021. Penelitian ini menggunakan Analisis Edward Shils mengenai kesamaan unsur-unsur budaya di mana ketika tradisi-tradisi yang terpisah bertemu satu sama lain, beberapa hasil mungkin terjadi.
Hasil penelitian bahwa Sanggar Betawi Al-Fathir melakukan berbagai macam strategi dalam mempertahankan kebudayaan Betawi melalui pelestarian ondel-ondel. Sanggar Betawi Al-Fathir juga memaparkan apa saja faktor pendorong dan penghambat dalam melakukan starategi mempertahankan kebudayaan Betawi di era modern saat ini, yang bertujuan untuk terus mempertahankan eksistensi kebudayaan Betawi khususnya ondel-ondel agar tetap bertahan dan tidak punah dimakan oleh zaman.
*****
This study aims to describe how the Betawi Al-Fathir Studio's strategy in maintaining Betawi culture through ondel-ondel preservation and also to explain what are the motivating and inhibiting factors of Al-Fathir Betawi Studio in maintaining Betawi culture through ondel-ondel preservation. This research uses a qualitative approach with a case study method. The research subjects consisted of 9 people. The key informants in this study were the head of the Betawi Al-Fathir Studio, namely Mr. Deny Eliyansyah, his deputy with Zainal Arivin, the secretary and also the treasurer with Muhammad Idham and also another member of the Betawi Al-Fathir Studio, namely Muhammad Rafli. The supporting informants in this study consisted of 3 people, including 3 community members, namely Mrs. Hartini, Mrs. Ailiah and also Mrs. Susan, other supporting informants who triangulated my data came from one local community leader, namely Mr. Yuswan as the head of the RW in the area and also a writer and historian, namely Mr. Hendaru.
The location of this research was carried out at the Betawi Al-Fathir Studio, located on Jalan Kramat Pulo RT. 011 RW. 003 Kramat Village, Senen District 10450, Central Jakarta, DKI Jakarta. This research takes place from March 2020-June 2021. This study uses Edward Shils' analysis of the similarities of cultural elements where when separate traditions meet each other, several outcomes may occur.
The results showed that the Betawi Al-Fathir Studio carried out various strategies in maintaining Betawi culture through ondel-ondel preservation. The Betawi Al-Fathir studio also explained what the driving and inhibiting factors were in carrying out a strategy to maintain Betawi culture in the current modern era, which aims to continue to maintain the existence of Betawi culture, especially ondel-ondel so that it survives and is not eaten away by the times
MAKNA ULAMA DALAM Q.S. FATHIR 27-28 (ANALISIS SEMIOTIKA FERDINAND DE SAUSSURE)
Tesis ini mendiskusikan makna ulama dalam Q.S. Fathir: 27-28. Berangkat dari pemaknaan ulama oleh Nur Sugik dengan berbasis pada makna literal Q.S. Fatir: 28 kemudian menyimpulkan bahwa; “siapa pun mereka baik orang alim, orang bodoh, manusia bahkan sekelas hewan pun jika ia memiliki rasa takut kepada Allah maka dapat dikategorikan sebagai ulama”. Selanjutnya, perebutan makna ulama dalam kontestasi politik tahun 2019 baik pilkada DKI Jakarta maupun pilpres yang dominan menggunakan simbol agama sebagai alat politik yakni penyematan gelar ulama kepada calon yang diusung. Dan penafsiran yang literal-parsial atas konsep ulama dalam Q.S. Fathir: 28 oleh beberapa mufasir sebelumnya sehingga menghasilkan penafsiran yang cenderung membatasi makna ulama dengan ilmu agama. Berdasarkan ketiga problem tersebut penulis melihat pemaknaan terhadap ulama menjadi ambigu dan tidak jelas. Dengan demikian, pemaknaan terhadap konsep ulama perlu ditafsirkan melalui sudut pandang semiotika atau ilmu tanda, karena pembahasan secara tekstual membutuhkan pembahasan yang lebih mendetail.
Oleh karena itu untuk dapat membahas secara mendetail dan mengungkap makna ulama dalam Q.S. Fathir: 27-28 digunakan pendekatan semiotika Ferdinand de Saussure yang memuat empat langkah; Pertama, analisis sintagmatis, yakni analisis hubungan sintaksis (tarkib) dari susunan kata atas Q.S. Fathir: 27-28. Kedua, analisis paradigmatis yakni analisis kata-kata yang memiliki makna yang berdekatan dengan beberapa kata yang telah ditentukan untuk dianalisis. Ketiga, analisis oposisi biner yakni analisis kata-kata yang kontradiktif maknanya dengan beberapa kata yang telah ditentukan untuk dianalisis. Keempat, pembacaan aspek sejarah, baik mikro dan makro.
Penelitian ini menunjukkan. Pertama, Q.S. Fathir: 28 tidak dapat dipisahkan dalam kaitannya dengan Q.S. Fathir: 27. Karena antara Q.S. Fathir: 27 dengan Q.S. Fathir: 28 memiliki unsur kohesi yang menjadikan kedua ayat tersebut menjadi koheren. Hal tersebut ditunjukkan dengan adanya wawu ‘atf pada awal Q.S. Fathir: 28. Kekoherenan tersebut mengindikasikan pengetahuan dalam ayat tersebut bersifat universal, dan tidak dapat dibatasi dengan suatu disiplin ilmu tertentu. Sehingga pemaknaan terhadap ulama pun menjadi universal, dan dapat diberlakukan dalam banyak aspek disiplin keilmuan. Adapun penggunaan kata ulama dalam Q.S. Fathir 28 disandarkan kepada orang yang memiliki ilmu atau pengetahuan yang mendalam. Dengan demikian, ulama merupakan orang yang memiliki pengetahuan yang beragam serta mendalam terkait suatu disiplin keilmuan berdasarkan kajiannya sendiri, dan tidak berlandasakan pada sikap taklid. Pengetahuan tersebut melahirkan rasa takut kepada Allah. Kedua, mempertimbangkan situasi dan kondisi kontemporer yang berbeda, ditandai dengan beragamnya ilmu pengetahuan beserta cabang-cabangnya. Tentunya pemakanaan terhadap ulama pun akan berkembang dan bersifat universal. Dengan demikian, ulama merupakan orang yang memiliki pengetahuan yang mendalam dalam disiplin keilmuan yang beragam tersebut beserta ragam cabangnya, dan melahirkan rasa takut kepada Allah
Pemahaman Siswa terhadap Q.S. Fathir: 29 dan Hubungannya dengan Motivasi Belajar Mereka dalam Mata Pelajaran Pendidikan Agama Islam (Penelitian di Kelas VII SMP Negeri 8 Bandung)
Dalam pembelajaran Pendidikan Agama Islam Guru sudah menjelaskan materi tentang Q.S. Fathir: 29 yang menerangkan tentang motivasi dan balasan-balasan bagi orang yang rajin belajar. Sebagian besar siswa sudah memahami materi tersebut dengan baik, hal ini seharusnya diikuti dengan motivasi belajar yang tinggi. Siswa yang memahami Q.S. Fathir: 29 seharusnya menjadikan ayat tersebut sebagai motivasi belajar mereka dalam mata pelajaran Pendidikan Agama Islam, akan tetapi pada kenyataannya motivasi siswa dalam mata pelajaran Pendidikan Agma Islam masih relatif rendah. Berdasarkan latar belakang masalah tersebut terdapat kesenjangan antara pemahaman siswa terhadap Q.S. Fathir: 29 dengan motivasi belajar siswa dalam mata pelajaran Pendidikan Agama Islam. Pemahaman yang baik terhadap Q.S. Fathir yang menjelaskan tentang motivasi belajar diharapkan dapat meningkatkan motivasi belajar mereka dalam mata pelajaran Pendidikan Agama Islam.
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pemahaman siswa terhadap Q.S. Fathir: 29, motivasi belajar siswa dalam mata pelajaran Pendidikan Agama Islam, dan hubungan pemahaman siswa terhadap Q.S. Fathir: 29 dengan motivasi belajar mereka dalam mata pelajaran Pendidikan Agama Islam.
Penelitian ini didasarkan pada asumsi teoretis bahwa semakin tinggi pemahaman siswa terhadap Q.S. Fathir: 29, maka semakin tinggi pula motivasi belajar siswa dalam mata pelajaran Pendidikan Agama Islam dan sebaliknya semakin rendah pemahaman siswa terhadap Q.S. Fathir: 29, maka semakin rendah pula motivasi belajar siswa dalam mata pelajaran Pendidikan Agama Islam.
Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode deskriptif. Cara pengumpulan datanya dengan tes, angket, observasi, wawancara, dan studi kepustakaan. Sampel dalam penelitian ini adalah 42 siswa. Kemudian untuk analisis datanya menggunakan dua pendekatan yaitu analisis deskriptif dan analisis korelasi.
Dari hasil analisis, diketahui bahwa pemahaman siswa terhadap Q.S. Fathir: 29 sebesar 73,73 termasuk ke dalam kategori baik karena berada pada interval 70-79. Adapun motivasi belajar siswa dalam mata pelajaran Pendidikan Agama Islam sebesar 3,82 termasuk pada kategori tinggi karena berada pada interval 3,40-4,19. Hubungan antara keduanya ditunjukkan dengan koefisien korelasi sebesar 0,97, yakni termasuk pada kategori sangat tinggi. Hasil uji hipotesis pada taraf signifikansi 5% menunjukkan t hitung 25,54 > t tabel 1,65. Artinya Ha diterima yaitu terdapat hubungan yang signifikan antara pemahaman siswa terhadap Q.S. Fathir: 29 dengan motivasi belajar siswa dalam mata pelajaran Pendidikan Agama Islam. Kemudian kadar pengaruh variabel pemahaman siswa terhadap Q.S. Fathir: 29 terhadap motivasi belajar siswa dalam mata pelajaran Pendidikan Agama Islam tajwid sebesar 78%. Ini berarti masih ada faktor lain sebesar 22% yang mempengaruhi motivasi belajar siswa dalam mata pelajaran Pendidikan Agama Islam
PEMBINAAN DAN PENGEMBANGAN USAHA ICE CREAM ALPUKAT AL-FATHIR DI MEDAN
Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) memegang peran penting sebagai penggerak roda ekonomi lokal, termasuk di sektor kuliner Kota Medan yang terus berkembang. Salah satu contoh menarik adalah Ice Cream Alpukat Al-Fathir, sebuah UMKM inovatif yang menghadirkan minuman alpukat segar berpadu dengan es krim lembut dan sentuhan manis gula aren. Kombinasi unik ini berhasil menarik perhatian konsumen dan memiliki potensi pasar yang menjanjikan. Namun, seperti banyak pelaku usaha lainnya, Ice Cream Alpukat Al-Fathir juga dihadapkan pada berbagai tantangan. Mulai dari ketatnya persaingan pasar, fluktuasi harga dan cuaca yang mempengaruhi bahan baku, hingga keterbatasan dalam penggunaan teknologi serta permasalahan operasional sehari-hari. Penelitian ini dilakukan melalui observasi langsung, wawancara mendalam, dan dokumentasi terhadap pelaku usaha. Tujuannya adalah untuk mengidentifikasi permasalahan yang dihadapi sekaligus merumuskan solusi yang aplikatif dan berkelanjutan. Hasil pembinaan menunjukkan bahwa berbagai kendala tersebut dapat diatasi dengan strategi yang tepat, seperti diferensiasi produk yang menarik, optimalisasi penggunaan media sosial untuk pemasaran, peningkatan kualitas layanan pelanggan, pemanfaatan teknologi digital sederhana, serta pembenahan manajemen usaha dan fasilitas pendukung. Dengan pendekatan yang adaptif dan inovatif, Ice Cream Alpukat Al-Fathir berpeluang besar tumbuh menjadi UMKM yang tidak hanya bertahan di tengah persaingan, tetapi juga mampu berkembang secara kompetitif dan berkelanjutan.
Kata Kunci: Inovasi Produk, Strategi Pemasaran, Pembinaan UMKM
Abstract
Micro, Small, and Medium Enterprises (MSMEs) play a crucial role in driving the local economy, including in Medan's growing culinary sector. One compelling example is Al-Fathir Avocado Ice Cream, an innovative MSME that offers a refreshing avocado drink combined with soft ice cream and a sweet touch of palm sugar. This unique combination has successfully captured consumers' attention and offers promising market potential. However, like many other businesses, Al-Fathir Avocado Ice Cream faces various challenges. These include intense market competition, price fluctuations and weather impacting raw materials, as well as limitations in technology and daily operational issues. This research was conducted through direct observation, in-depth interviews, and documentation of business owners. The goal was to identify the challenges faced and formulate applicable and sustainable solutions. The results of the coaching program indicate that these obstacles can be overcome with appropriate strategies, such as attractive product differentiation, optimizing the use of social media for marketing, improving customer service quality, utilizing simple digital technology, and improving business management and supporting facilities. With an adaptive and innovative approach, Al-Fathir Avocado Ice Cream has a great opportunity to grow into an MSME that not only survives the competition but also develops competitively and sustainably.
Keywords: Product Innovation, Marketing Strategy, MSME Developmen
Sebuah Epilog Tanpa Prolog
Sebuah Epilog Tanpa Prolog
©️Penulis
Fathir Muhammad Anwar
Muhammad Nazhan Baihaqi
“Sebuah Epilog tanpa Prolog” merupakan produk
karya antalogi cerpen, puisi, dan quotes yang merupakan tantangan dari Ustadz Ali Usman S.S., M.Pd. kepada kami selaku Duta Baca SMP Perguruan Islam Ar Risalah Tahun Pembelajaran 2022/2023. Alhamdulillah kami berdua, Fathir Muhammad Anwar dan Muhammad Nazhan Baihaqi bisa menyelesaikan karya ini. Tentunya hal ini tidak lepas dari arahan dan saran dari Ustadz Ali usman S.S., M.Pd. serta support dari orang tua, keluarga, Ustadz/ah, dan teman-teman.
Cetakan 1: Januari 2024
Ukuran: 14 x 21 cm
ISBN: 978-623-09-8891-2
-Harga Cetak: Rp. 80.000
Available on Shopee:
https://id.shp.ee/yrxo31P
-Harga E-Book: Rp. 35.000
Available on Gramedia Digital:
https://ebooks.gramedia.com/id/buku/penerbit/pt-revormasi-jangkar-philosophia
-Kontak Kami:
WhatsApp: 0851-7963-2023
Instagram: @penerbitrevormasi
Facebook: Penerbit Revormasi
Website: revormasi.co
Going Beyond Counting First Authors in Author Co-citation Analysis
The present study examines one of the fundamental aspects of author co-citation analysis (ACA) - the way co-citation
counts are defined. Co-citation counting provides the data on which all subsequent statistical analyses and mappings
are based, and we compare ACA results based on two different types of co-citation counting - the traditional type that
only counts the first one among a cited work's authors on the one hand and a non-traditional type that takes into
account the first 5 authors of a cited work on the other hand. Results indicate that the picture produced through this non-traditional author co-citation counting contains more coherent author groups and is therefore considerably clearer. However, this picture represents fewer specialties in the research field being studied than that produced through the traditional first-author co-citation counting when the same number of top-ranked authors is selected and analyzed. Reasons for these effects are discussed
Variations on the Author
“Variations on the Author” discusses two of Eduardo Coutinho’s recent films (Um Dia na Vida, from 2010, and Últimas Conversas, posthumously released in 2015) and their contribution to the general question of documentary authorship. The director’s filmography is characterized by a consistent yet self-effacing form of authorial self-inscription: Coutinho often features as an interviewer that rather than express opinions propels discourses; an interviewer that is good at listening. This mode of self-inscription characterizes him as an author who is not expressive but who is nonetheless markedly present on the screen. In Um Dia na Vida, however, Coutinho is completely absent form the image, while Últimas Conversas, on the contrary, includes a confessional prologue that moves the director from the margins to the center of his films. This article examines the ways in which these works stand out in the filmography of a director who offers new insights into the notion of cinematic authorship
- …
