1,714 research outputs found
Phylogenetic Study of Mangifera laurina and its Related Species Using cpDNA trnL-F Spacer Markers
Phylogenetic study of cpDNA intergenic spacer trnL-F of Mangifera laurina and their related species within the genus Mangifera in Indonesia was conducted using Rutaceae as the outgroup. This study was to reconstruct phylogenetic relationships and to understand infraspecific relationships within Mangifera based on cpDNA trnL-F intergenic spacer sequences. The results showed that Mangifera sp. Hiku (mangga hiku) as the basic cultivar in the clade, and it supported the monophyletic group in Mangifera. And phylogenetic construction indicated that Mangifera sp. Hiku was the progenitor of M. laurina and their related species
Coercive solvability of two-interval Sturm-Liouville problems with abstract linear operator
International Conference on Advances in Natural and Applied Sciences (ICANAS) -- APR 18-21, 2017 -- Antalya, TURKEYWOS: 000405093100033In this paper we focus our attention on a new type nonhomogeneous Sturm-Liouville systems with abstract linear operator contained in the equation. A different approach is used here for investigation such important properties as topological isomorphism and coercive solvability. Moreover we prove that the corresponding resolvent operator is compact in a suitable Hilbert space.Agri Ibrahim Cecen Univ, IC Fd
TINGKAT KEBERHASILAN PENGGUNAAN PUPUK HAYATI BIOBOOST DAN INTERVAL PEMBERIAN TERHADAP PERTUMBUHAN DAN PRODUKSI TANAMAN MENTIMUN (Cucumis sativus L.)
Penelitian ini dilaksanakan di Desa Timoro Kecamatan Tabulahan Kabupaten Mamasa yang dilaksanakan pada bulan April sampai Juli 2019. Bertujuan untuk mengetahui tingkat keberhasilan penggunaan pupuk hayati Bioboost dan interval pemberian terhadap pertumbuhan dan produksi tanaman mentimun. Metode rancangan yang digunakan pada pelaksanaan penelitian ini dalam bentuk Rancangan Acak Kelompok dengan pola Rancangan Petak Terpisah (RPT). Petak Utama perlakuan interval waktu pemberian pupuk hayati Bioboost (W) meliputi dua taraf yaitu : W1 = Pemberian Pupuk hayati Bioboost dua minggu sekali W2 = Pemberian Pupuk hayati Bioboost tiga minggu sekali Sedangkan Anak Petak (AP) adalah dosis pupuk hayati Bioboost (F) terdiri dari tiga taraf yaitu : F0 = tanpa pemberian Pupuk hayati Bioboost F1 = dosis Pupuk hayati Bioboost 20 ml + 1000 ml air. F2 = dosis Pupuk hayati Bioboost 40 ml + 1000 ml air. Hasil penelitian menunjukkan bahwa Interaksi interval waktu pemberian dengan dosis pupuk hayati bioboost (Z x F) tidak memberikan pengaruh pada pertumbuhan dan produksi tanaman mentimun pada semua parameter
Efektivitas Penggunaan Pupuk Hayati Pada Pertumbuhan Dan Hasil Tanaman Cabai Besar (Capsicum Annuum L.)
Tanaman cabai besar (Capsicum annuum L.) termasuk kedalam tanaman
sayuran famili Solanaceae yang sangat penting di Indonesia. Kebutuhan cabai besar
di Indonesia semakin meningkat seiring dengan pertumbuhan populasi penduduk.
Tanaman cabai besar banyak dikonsumsi masyarakat di Indonesia dalam bentuk
segar maupun olahan. Produksi cabai besar di Indonesia pada 6 tahun terakhir
cenderung mengalami peningkatan. Namun, pada tahun 2015 produksi cabai
mengalami penurunan sebesar 2,8%. Permintaan komoditas cabai besar di
Indonesia perlu diimbangi dengan menerapkan kegiatan budidaya yang tepat
sehingga hasil dari produksi dan produktivitas yang didapat maksimal. Saat ini
salah satu penyebab turunnya produksi tanaman cabai ialah penggunaan pupuk
anorganik yang salah dan berkelanjutan. Penggunaan pupuk anorganik harus
diimbangi dengan pemberian pupuk hayati yang dapat meningkatkan kesuburan
biologi tanah dan penyediaan unsur hara bagi tanaman. Tujuan dilakukannya
penelitian ini ialah untuk mengetahui efektivitas penggunaan pupuk hayati pada
pertumbuhan dan hasil tanaman cabai besar (Capsicum annuum L.). Hipotesis
penelitian ini ialah pemberian pupuk hayati efektif dalam peningkatan pertumbuhan
dan hasil tanaman cabai besar (Capsicum annuum L.).
Penelitian dilaksanakan pada bulan Maret 2020 sampai bulan Juli 2020 di
Kebun Percobaan Jatimulyo, Kelurahan Jatimulyo, Kecamatan Lowokwaru,
Malang. Penelitian ini menggunakan rancangan Acak Kelompok (RAK) dengan
dua faktor yang terdiri dari 12 perlakuan dosis pupuk hayati dan anorganik dengan
3 ulangan. Perlakuan yang digunakan adalah: P1: NPK 100% (Kontrol); P2: pupuk
hayati 40 kg ha-1; P3: 25% NPK + pupuk hayati 40 kg ha-1; P4: 50% NPK + pupuk
hayati 40 kg ha-1; P5: 75% NPK + pupuk hayati 40 kg ha-1; P6: NPK 100% + pupuk
hayati 40 kg ha-1; P7: pupuk hayati 60 kg ha-1; P8: NPK 25% + pupuk hayati 60 kg
ha-1; P9: NPK 50% + pupuk hayati 60 kg ha-1; P10: NPK 75%+ pupuk hayati 60 kg
ha-1; P11: NPK 100% + pupuk hayati 60 kg ha-1. Data yang telah diperoleh
dianalisis dengan menggunakan analisis ragam (uji F) pada taraf 5%. Apabila
terdapat pengaruh nyata (F hitung > F tabel 5%). Maka dilanjutkan dengan uji BNJ
(Beda Nyata Jujur) pada taraf 5% untuk melihat perbedaan diantara perlakuan.
Variabel pengamatan yang diamati ialah tinggi tanaman, klorofil daun, jumlah
bunga, jumlah buah, bobot buah, kadar hara NPK pada tanah dan serapan hara NPK
tanaman.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa pemberian pupuk hayati mampu
meningkatkan ketersediaan unsur hara, sehingga memberikan hasil yang lebih baik
pada pertumbuhan dan hasil tanaman Cabai Besar dibandingkan dengan perlakuan
NPK 100%. Pemberian pupuk hayati dapat mengurangi penggunaan pupuk NPK
sebesar 25%. Perlakuan NPK 75% + pupuk hayati 40 kg ha-1 memberikan hasil
lebih baik dengan bobot buah 19,29 ton ha-1 dibandingkan dengan perlakuan P1
(NPK 100%) dengan nilai R/C ratio 1,5
A novel wood-based hybrid system for seismic performance increase of mid-rise building structures
A new hybrid system consisting of wood shear walls, concrete columns, bracing system, and viscous damper devices is introduced in this paper. A benchmark wood building is adopted here as a case study, and different configurations of the new hybrid system are applied on it in order to investigate its seismic performance under some near-fault ground motion records. The performance base design method is used to design the considered models. In order to make the models comparable, their performance levels are considered to be identical. Detailed finite element models are built in OpenSees software to conduct nonlinear static and dynamic analyses. The parametric study is done to optimize the viscous damper system parameters. At the end, the damage potential of the models is investigated through their fragilities. The results demonstrate the high potential of the proposed system in improving the seismic performance of the mid-rise wood buildings. It is also observed that the good behavior of the system is achieved when the viscous damper coefficient and its supporting tendon cross-sectional area is dependently increased
Penapisan Aktinomiset Rizosfer Tanaman Liliaceae sebagai Agens Pengendali Hayati Fusarium oxysporum f. sp. cepae
Penyakit moler yang disebabkan oleh Fusarium oxysporum f. sp. cepae merupakan salah satu penyakit penting pada tanaman bawang merah. Aktinomiset memiliki potensi sebagai agens pengendali hayati F. oxysporum f. sp. cepae karena kemampuannya dalam memproduksi senyawa bioaktif. Penelitian ini bertujuan mengevaluasi dan menyeleksi isolat-isolat aktinomiset yang dapat menekan pertumbuhan F. oxysporum f. sp. cepae dan memacu pertumbuhan tanaman bawang merah. Penelitian dibagi menjadi empat tahap, yaitu: isolasi, seleksi, karakterisasi, dan identifikasi isolat aktinomiset yang potensial. Sebanyak 43 isolat berhasil diisolasi dari tanaman Liliaceae dan sebanyak 14 isolat berhasil diseleksi berdasarkan hasil uji keamanan hayati. Hasil uji antagonisme menunjukkan bahwa 14 isolat menghasilkan penghambatan terhadap F. oxysporum f. sp. cepae sebesar 3.67%–53.67%. Di antara 14 isolat tersebut, sebanyak 13 isolat mampu memproduksi enzim kitinase dengan indeks kitinolitik sebesar 0.31–1.38. Lima isolat terpilih yaitu: ABF42, ABF59, ACF45, AEF35, dan AEF45, mampu melarutkan fosfat dan memproduksi IAA dengan konsentrasi 24.82–82.88 ppm, namun hanya tiga isolat yang mampu memfiksasi nitrogen. Berdasarkan sikuen gen 16S rRNA, lima isolat tersebut berturut-turut teridentifikasi sebagai: Streptomyces rameus, S. lydicus, S. panaciradicis, S. seoulensis, dan S. fuscichromogenes.Screening of Liliaceae Rhizosphere Actinomycetes as Biological Control Agents of Fusarium oxysporum f. sp. cepae
Fusarium basal rot caused by F. oxysporum f. sp. cepae is one of the major diseases of shallot in Indonesia. The use of biocontrol agents is one alternative method for controlling this disease. Actinomycetes isolates have the potential as biological control agents for F. oxysporum f. sp. cepae because of its ability to produce bioactive compounds. This study aims to evaluate and select actinomycete isolates with the ability to inhibit the growth of F. oxysporum f. sp. cepae and potentially promote the growth of shallot crops. The study was divided into four stages: i.e. isolation, selection, characterization, and identification of the potential isolates. Forty-three isolates of actinomycetes were successfully isolated from Liliaceae plants, and 14 isolates were selected based on the results of the biosafety test. Antagonism test showed that 14 isolates produced inhibition of F. oxysporum f. sp. cepae by 3.67%–53.67%. Among them, 13 isolates produced chitinase enzyme with a chitinolytic index of 0.31–1.38. Five selected isolates, i.e., ABF42, ABF59, ACF45, AEF35, and AEF45, were able to solubilize phosphate and produced IAA at the concentration range of 24.82–82.88 ppm, but only three isolates were able to grow on media without nitrogen. Based on the sequences of 16S rRNA, the five isolates were identified as Streptomyces rameus, S. lydicus, S. panaciradicis, S. seoulensis, dan S. fuscichromogenes
Respons Fisiologis dan Komponen Hasil Jagung Manis skibat Pemberian Pupuk Hayati dan NPK di Lahan Gambut
Tanaman Jagung Manis merupakan komoditas yang digemari oleh masyarakat dengan permintaan yang tinggi namun produktivitas di masyarakat masih rendah. Salah satu faktor pembatas pertumbuhan tanaman jagung manis adalah kesuburan tanah. Penelitian ini bertujuan untuk mencari efektivitas penggunaan beberapa pupuk hayati yang dapat mengefisienkan penggunaan pupuk NPK terhadap respon fisiologis dan komponen hasil jagung manis pada lahan gambut. Rancangan yang digunakan pada penelitian ini adalah faktorial Rancangan Acak Kelompok perlakuan faktorial (RAK). Faktor pertama adalah pupuk hayati (H) terdiri dari 3 aras yaitu h1 (Pupuk hayati Bio Ekstrim) dengan konsentrasi 5 ml/L, h2 (Pupuk hayati Bio Nano) dengan konsentrasi 1 ml/L dan h3 (Pupuk hayati Bio Optifarm) dengan konsentrasi 2 ml/L. Konsentrasi perlakuan pupuk hayati mengikuti konsentrasi anjuran pada kemasan. Faktor kedua adalah Pupuk NPK Mutiara 16:16:16 (P) terdiri dari 3 aras yaitu p1 (400 kg/ha atau 7,5g/tanaman), p2 (300 kg/ha atau 5,6 g/tanaman) dan p3 (200 kg/ha atau 3,73 g/tanaman). Variabel fisiologis tanaman adalah Indeks Luas Daun, Laju Asimilasi Bersih, Laju Pertumbuhan Tanaman dan variabel komponen hasil meliputi bobot per tongkol tanpa kelobot, panjang tongkol dan diameter tongkol. Data hasil pengamatan dianalisis menggunakan analisis varians (uji F), apabila uji F menunjukkan adanya pengaruh nyata dari masing-masing perlakuan maupun interaksinya maka dilanjutkan dengan uji DMRT pada taraf 5%. Hasil penelitian menunjukkan bahwa Proses fisiologis dan komponen hasil jagung dengan pemberian pupuk hayati Bio Optifarm lebih baik dibandingkan tanaman jagung dengan pemberian pupuk hayati Bio Nano dan pupuk hayati Bio Ekstrim. Perlakuan pupuk NPK takaran 50% dari takaran anjuran (200 kg/ha) menunjukkan proses fisiologis dan komponen hasil jagung yang paling baik dibandingkan dengan pupuk NPK takaran anjuran (400 kg/ha) dan pupuk NPK takaran 75% takaran anjuran (300 kg/ha). Interaksi pupuk hayati Bio Optifarm disertai dengan pupuk NPK takaran 200 kg/ha menunjukkan proses fisiologis dan komponen hasil tanaman jagung yang paling baik pada lahan gambut.Tanaman Jagung Manis merupakan komoditas yang digemari oleh masyarakat dengan permintaan yang tinggi namun produktivitas di masyarakat masih rendah. Salah satu faktor pembatas pertumbuhan tanaman jagung manis adalah kesuburan tanah. Penelitian ini bertujuan untuk mencari efektivitas penggunaan beberapa pupuk hayati yang dapat mengefisienkan penggunaan pupuk NPK terhadap respon fisiologis dan komponen hasil jagung manis pada lahan gambut. Rancangan yang digunakan pada penelitian ini adalah faktorial Rancangan Acak Kelompok perlakuan faktorial (RAK). Faktor pertama adalah pupuk hayati (H) terdiri dari 3 aras yaitu h1 (Pupuk hayati Bio Ekstrim) dengan konsentrasi 5 ml/L, h2 (Pupuk hayati Bio Nano) dengan konsentrasi 1 ml/L dan h3 (Pupuk hayati Bio Optifarm) dengan konsentrasi 2 ml/L. Konsentrasi perlakuan pupuk hayati mengikuti konsentrasi anjuran pada kemasan. Faktor kedua adalah Pupuk NPK Mutiara 16:16:16 (P) terdiri dari 3 aras yaitu p1 (400 kg/ha atau 7,5g/tanaman), p2 (300 kg/ha atau 5,6 g/tanaman) dan p3 (200 kg/ha atau 3,73 g/tanaman). Variabel fisiologis tanaman adalah Indeks Luas Daun, Laju Asimilasi Bersih, Laju Pertumbuhan Tanaman dan variabel komponen hasil meliputi bobot per tongkol tanpa kelobot, panjang tongkol dan diameter tongkol. Data hasil pengamatan dianalisis menggunakan analisis varians (uji F), apabila uji F menunjukkan adanya pengaruh nyata dari masing-masing perlakuan maupun interaksinya maka dilanjutkan dengan uji DMRT pada taraf 5%. Hasil penelitian menunjukkan bahwa Proses fisiologis dan komponen hasil jagung dengan pemberian pupuk hayati Bio Optifarm lebih baik dibandingkan tanaman jagung dengan pemberian pupuk hayati Bio Nano dan pupuk hayati Bio Ekstrim. Perlakuan pupuk NPK takaran 50% dari takaran anjuran (200 kg/ha) menunjukkan proses fisiologis dan komponen hasil jagung yang paling baik dibandingkan dengan pupuk NPK takaran anjuran (400 kg/ha) dan pupuk NPK takaran 75% takaran anjuran (300 kg/ha). Interaksi pupuk hayati Bio Optifarm disertai dengan pupuk NPK takaran 200 kg/ha menunjukkan proses fisiologis dan komponen hasil tanaman jagung yang paling baik pada lahan gambut
Pertumbuhan dan Hasil Tanaman Edamame (Glycine max (L.) Merril) pada Beberapa Dosis Pupuk Hayati
PERTUMBUHAN DAN HASIL TANAMAN EDAMAME
(Glycine max (L.) Merril) PADA BEBERAPA DOSIS
PUPUK HAYATI
Abstrak
Tanaman edamame (Glycine max (L.) Merril) merupakan salah satu tanaman palawija yang tergolong pada famili polong-polongan yang termasuk kedalam kategori sayuran. Penelitian mengenai pemberian beberapa dosis pupuk hayati terhadap pertumbuhan dan hasil tanaman edamame telah dilaksanakan di Kebun UPT dan Laboraturium Fisiologi Tumbuhan, Fakultas Pertanian, Universitas Andalas, Padang pada bulan Agustus - November 2022. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mendapatkan dosis pupuk hayati terbaik untuk tanaman edamame. Penelitian ini menggunakan Rancangan Acak Lengkap (RAL) dengan 5 perlakuan yaitu 5 g/polybag, 10 g/polybag, 15 g/polybag, 20 g/polybag, dan 25 g/polybag. Data hasil pengamatan dianalisis secara statistik dengan uji F taraf nyata 5%, apabila F hitung lebih besar dari F tabel maka dilanjutkan dengan uji Duncan New Multiple Range Test (DNMRT) pada taraf nyata 5%. Hasil penelitian menunjukkan pemberian pupuk hayati dengan dosis 5 g/polybag merupakan dosis terbaik terhadap pertumbuhan tanaman edamame, dan pemberian pupuk hayati dengan dosis 10 g/polybag merupakan dosis terbaik terhadap hasil tanaman edamame.
Kata kunci: kedelai, edamame, pupuk hayati
EFISIENSI PUPUK NITROGEN DAN FOSFOR DENGAN PENAMBAHAN PUPUK HAYATI PADA TANAMAN JAGUNG (Zea mays L.) VARIETAS PERTIWI-3
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui efisiensi substitusi relatif pupuk
hayati pada tanaman jagung. Penelitian dilaksanakan pada bulan Mei - September 2015 di kebun percobaan Universitas Padjadjaran, Jatinangor, Sumedang. Metode penelitian menggunakan Rancangan Acak Kelompok (RAK): A=tanpa pemupukan, B=100% NP, C=100% NP + pupuk hayati 50 kg ha-1, D=75% NP + pupuk hayati 50 kg ha-1, E=50% NP + pupuk hayati 50 kg ha-1, F=25% NP + pupuk hayati 50 kg ha- 1, G=75% NP + pupuk hayati 100 kg ha-1, H=50% NP + pupuk hayati 100 kg ha-1, I=25% NP + pupuk hayati 100 kg ha-1. Parameter pengamatan terdiri atas tinggi tanaman, jumlah daun, berat tongkol berkelobot, berat tongkol tanpa kelobot, berat 100 biji, hasil, relative agronomi effectiveness (RAE) dan efisiensi substitusi relatif
(ESR). Hasil penelitian menunjukkan bahwa pemberian pupuk hayati pada dosis pupuk NP yang lebih rendah dari rekomendasi belum mampu peningkatkan semua parameter pertumbuhan dan hasil. Efektivitas pupuk hayati masih rendah (RA
- …
