30 research outputs found

    ASPEK SOSIAL BUDAYA DALAM CERITA RAKYAT ENYENG DI DESA CIPANCAR

    No full text
    ABSTRAK   Semakin derasnya arus teknologi informasi yang membuat cerita rakyat menghadapi tantangan untuk tetap tumbuh dan berkembang di masyarakat. Kurang menariknya penyajian materi cerita rakyat di sekolah membuat cerita rakyat semakin terabaikan. Untuk mendongkrak hal tersebut maka perlu adanya analisis terhadap karya sastra, agar karya sastra tersebut dapat digunakan sebagai pemilihan bahan pembelajaran yang menarik dan menyenangkan. Dalam penelitian ini menunjukkan bahwa terdapat aspek sosial dan budaya. Aspek sosial yang paling banyak muncul dalam cerita rakyat “Enyeng” adalah karakteristik masyarakat pedesaan yang mencerminkan jika diberi janji akan selalu diingat dengan frekuensi 3 buah. Hal ini membuktikan bahwa warga desa Cipancar sangat memegang teguh janji dan amanah dari leluhurnya. Sedangkan nilai budaya yang paling banyak muncul dalam cerita rakyat “Enyeng” adalah sistem religi dengan frekuensi 3 buah. Ini membuktikan bahwa mayarakat desa Cipancar masih memegang teguh ajaran tentang apa yang harus dipercayai, diyakini dan diimani oleh setiap orang Islam. Tradisi lisan untuk mengganti nama hewan kucing/ucing dengan ènyèng/emèng/mèong merupakan hasil budaya dari generasi-kegenerasi, kemudian mereka memegang teguh pada keyakinannya yang dikukuhkan oleh legenda dan mitos dalam bentuk tradisi lisan. Walaupun mereka menerima budaya luar yang datang dan mereka mengikuti kemajuan/budaya modern, namun mereka tetap memegang teguh keyakinannya, dimanapun mereka berada atau sekalipun dalam perantauan.   Kata Kunci: aspek sosial budaya, cerita rakyat, enyeng Cipanca

    Data Pattern Of Computer Maintenance Management System With Eclat Algorithm

    No full text
    Decision support system, basically used to help choosing some solution for stakeholde to take the best decision in manufacturer. In manufacturer company using Enterprise Resource System (ERP)  that has Work Oder (WO) modul as request maintenance from user. But many of data from WO still didn’t use to help decision making and only as warehouse data about infrastructure maintenance from last time. Because that, author use that data to help technician to take decision making by using association rule as pattern processing. This is because WO has unique pattern that has problem (p), symptom (s), and root cause (r). Previous research (Sukmana, Rozi, 2017) was proved if association rule can use to help people to take decison making, it is just involved two variable, that is symptom (s), root cause (r) and using apriori algorithm as association rule. And focussing in this research is using that three variable and eclat algorithm as association rule methode. Result of this research has purpose to take the best pattern when using eclat algorithm

    Aspek Sosial Budaya dalam Cerita Rakyat Enyeng di Desa Cipancar

    No full text
    ABSTRAK Semakin derasnya arus teknologi informasi yang membuat cerita rakyat menghadapi tantangan untuk tetap tumbuh dan berkembang di masyarakat. Kurang menariknya penyajian materi cerita rakyat di sekolah membuat cerita rakyat semakin terabaikan. Untuk mendongkrak hal tersebut maka perlu adanya analisis terhadap karya sastra, agar karya sastra tersebut dapat digunakan sebagai pemilihan bahan pembelajaran yang menarik dan menyenangkan. Dalam penelitian ini menunjukkan bahwa terdapat aspek sosial dan budaya. Aspek sosial yang paling banyak muncul dalam cerita rakyat “Enyeng†adalah karakteristik masyarakat pedesaan yang mencerminkan jika diberi janji akan selalu diingat dengan frekuensi 3 buah. Hal ini membuktikan bahwa warga desa Cipancar sangat memegang teguh janji dan amanah dari leluhurnya. Sedangkan nilai budaya yang paling banyak muncul dalam cerita rakyat “Enyeng†adalah sistem religi dengan frekuensi 3 buah. Ini membuktikan bahwa mayarakat desa Cipancar masih memegang teguh ajaran tentang apa yang harus dipercayai, diyakini dan diimani oleh setiap orang Islam. Tradisi lisan untuk mengganti nama hewan kucing/ucing dengan ènyèng/emèng/mèong merupakan hasil budaya dari generasi-kegenerasi, kemudian mereka memegang teguh pada keyakinannya yang dikukuhkan oleh legenda dan mitos dalam bentuk tradisi lisan. Walaupun mereka menerima budaya luar yang datang dan mereka mengikuti kemajuan/budaya modern, namun mereka tetap memegang teguh keyakinannya, dimanapun mereka berada atau sekalipun dalam perantauan. Kata Kunci: aspek sosial budaya, cerita rakyat, enyeng Cipanca

    REPRESENTASI KEARIFAN LOKAL DALAM KEPEMIMPINAN PADA CERITA RAKYAT SASAKALA GUNUNG TAMPOMAS

    No full text
    Penelitian ini memaparkan nilai kearifan lokal dalam kepemimpinan dalam cerita rakyat Sasakala Gunung Tampomas. Cerita rakyat Sasakala Gunung Tampomas dalam penelitian ini ditelaah untuk memeriksa nilai kearifan lokal yang merepresentasikan kepemimpinan masyarakat Sumedang. Dalam penelitian ini, metode yang digunakan adalah metode kualitatif. Penelitian ini menganalisis objek menggunakan teori analisis naratif Vladimir Propp untuk mengupas struktur cerita dan fungsi cerita. Semiotika Roland Barthes untuk mengupas nilai-nilai kearifan lokal berdasarkan tanda dan makna, kemudian menggunakan teori Representasi Stuart Hall untuk melihat representasi kepemimpinan. Hasil analisis dari penelitian ini, yaitu: 1) terdapat delapan fungsi cerita dan tindakan setiap karakter mengartikulasikan nilai-nilai kepemimpinan, 2) tanda-tanda dalam Sasakala Gunung Tampomas berkaitan dengan nilai kepemimpinan menurut kearifan lokal; dan 3) kebijakan yang dikeluarkan pemimpin Sumedang dalam sejarah kepemimpinan ditampilkan dalam cerita rakyat Sasakala Gunung Tampomas

    Menulis Cerita Pendek dengan Metode Outdoor Learning

    No full text
    Dalam meningkatkan kemampuan menulis cerpen, seorang guru harus pintar merancang suatu strategi belajar dengan pemilihan model pembelajaran yang tepat. Salah satu cara yang dapat dilakukan seorang guru adalah menciptakan suasana belajar yang lebih inovatif terhadap pembelajaran sastra, maka dipilihlah metode outdoor learning sebagai salah satu upaya meningkatkan kemampuan pemahaman menulis cerpen. Penelitian ini menggunakan metode eksperimen pada siswa kelas VII SMPN 1 Sumedang, sebanyak 32 siswa. Hasil analisis data tanggapan siswa dari 32 responden dapat dilihat bahwa, sebagian besar siswa menyatakan positif dan sebagian kecil menyatakan hal yang negatif terhadap pembelajaran menulis cerpen dengan metode outdoor learning. Berdasarkan hasil pengolahan data dari populasi yang berdistribusi normal maka perhitungan dilanjutkan dengan menggunakan uji z, diperoleh bahwa z hitung = 0,50 sedangkan z tabel untuk taraf signifikan 1% ialah 2,33. karena z hitung terletak di dalam interval “ z 0,4900 s.d z 0,4900 atau (-2,33 < 0,50 < 2,33), maka hipotesis yang diajukan dalam penelitian ini diterima. Dengan demikian, dapat penulis simpulkan bahwa hasil pembelajaran menulis cerpen dengan menggunakan metode outdoor learning pada siswa kelas VII SMPN 1 Sumedang

    KAJIAN SEMIOTIKA DALAM NOVEL INDONESIA: Penelitian Kualitatif

    No full text
    This study aims to reveal the meaning of signs in three Indonesian novels, The name are Tenggelamnya Kapal Van Der Wijck by Hamka, Pada Sebuah Kapal by Nh. Dini, and Susuk Kapal Borobudur by Mujoko, through Charles Sanders Peirce's semiotic approach. The focus of the study is directed at the analysis of icons, indexes, and symbols in the narrative, using descriptive qualitative methods through intensive reading and data categorization based on Peirce's semiotic theory. The results of the study show that in Tenggelamnya Kapal Van de Wijck, icons appear through descriptions of ships and ports; indexes are seen from natural signs such as storms and ocean currents that reflect the characters' inner conflicts; while symbols appear in the form of ships as symbols of destiny and customary conflicts. In Pada Sebuah Kapal, icons are present through the physical details of the ship and the activities within it; indexes are seen from the weather, sounds, and movements of the sea that describe psychological dynamics; symbols are manifested in ships as a metaphor for women's search for identity and freedom. Meanwhile, Susuk Kapal Borobudur displays icons in the form of ship artifacts and cultural ornaments; indexes through natural phenomena and rituals that hint at supernatural events; and symbols in the form of implants and ships, representing ancestral heritage and the maritime spiritual power of the Indonesian archipelago. All three novels utilize ships and the sea not only as settings but also as centers for constructing moral, cultural, and philosophical meanings. The analysis confirms that icons, indices, and symbols function to construct complex layers of meaning related to identity, cultural values, and the collective experiences of the community. Keywords: Semiotic studies, signs, icons, indexes, symbols

    UNSUR PENOKOHAN DALAM KUMPULAN CERPEN SENYUM KARYAMIN KARYA AHMAD TOHARI SEBAGAI PENYUSUNAN BAHAN PEMBELAJARAN APRESIASI SASTRA DI SMA

    No full text
    Penelitian ini dilatarbelakangi oleh pentingnya sebuah karya sastra dalam mendukung peserta didik untuk mengembangkan empat kemampuan berbahasanya. Penelitian ini dilakukan untuk mendeskripsikan unsur intrinsik pada cerpen khususnya unsur penokohan. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode deskriptif kualitatif dengan sebuah pendekatan kajian sastra secara ekspresif untuk menganalisis unsur ekstrinsiknya. Teknik penelitian dalam melaksanakan analisis adalah dengan menggunakan teknik analisis teks yang peneliti gunakan untuk menganalisis unsur intrinsik dalam cerpen, serta studi dokumentasi untuk mendapatkan riwayat hidup pengarang. Berdasarkan hasil analisis, setiap unsur nama yang terdapat dalam ke-13 cerpen yang ada menggunakan nama-nama yang sangat identik dengan penduduk desa, khusunya yang tinggal di daerah Jawa. Ini sangat berpengaruh terhadap penokohan yang ada pada setiap cerita. Yakni dalam penggambaran karakter dan pekerjaan tokoh. Unsur penokohan tersebut sangat berkaitan erat dengan unsur intrinsik yang lain. Semua unsur pendukung dalam penokohan yang menggambarkan kehidupan dan masalah sosial di pedesaan ini, tidak terlepas dari latar belakang pengarang, yakni Ahmad Tohari yang lahir dan besar di sebuah desa di bagian tengah pulau Jawa. Sehingga hampir semua tema yang diangkat dalam cerpen pada kumpulan ini menceritakan tentang permasalahan sosial masyarakat ekonomi rendah yang kebanyakan hidup di pedesaan

    CITRA PAHLAWAN DALAM TOKOH CERITA RAKYAT “CIUNG WANARA” DAN RELEVANSINYA SEBAGAI PENGUATAN PENDIDIKAN KARAKTER DI SEKOLAH

    No full text
    Penelitian ini bertujuan mendeskripsikan citra pahlawan dalam cerita rakyat Ciung Wanara serta relevansinya terhadap penguatan pendidikan karakter di sekolah. Metode yang digunakan adalah deskriptif kualitatif dengan analisis isi. Tahapan analisis meliputi pemilihan cerita Ciung Wanara, identifikasi struktur naratif dengan teori Propp, telaah perjalanan tokoh melalui kerangka The Hero’s Journey Campbell, interpretasi citra pahlawan dengan delapan klaster Goethals dan Allison, serta kategorisasi nilai karakter sesuai dimensi Penguatan Pendidikan Karakter (PPK). Hasil penelitian menunjukkan bahwa Ciung Wanara digambarkan sebagai sosok pahlawan yang berani, tangguh, bijaksana, adil, dan berbakti. Karakter tersebut sesuai dengan nilai karakter PPK, yaitu religius, nasionalis, mandiri, gotongroyong, dan integritas. Citra pahlawan dalam cerita tidak hanya merefleksikan idealisme moral masyarakat Sunda, tetapi juga dapat dijadikan teladan konkret bagi peserta didik. Dengan demikian, Ciung Wanara memiliki nilai strategis sebagai media pembelajaran. Integrasi cerita rakyat ini di sekolah mampu memperkuat pendidikan karakter, menumbuhkan rasa cinta tanah air, dan memperkokoh identitas budaya bangsa. &nbsp

    KAJIAN NILAI MORAL PADA NOVEL PERJALANAN MENUJU LANGIT KARYA MUHAMMAD MUHSIN LAHAJJI

    No full text
    Penelitian ini dilatarbelakangi oleh upaya meningkatkan minat baca siswa terhadap karya sastra sekaligus menumbuhkan kematangan jiwa melalui pembelajaran yang bermuatan nilai moral. Novel Perjalanan Menuju Langit karya Muhammad Muhsin Lahajji dipilih karena memuat gambaran kehidupan tokoh yang sarat dengan pesan moral dan relevan dengan perkembangan psikologis peserta didik SMA. Permasalahan penelitian difokuskan pada bagaimana nilai moral tercermin melalui keterkaitan antara perilaku dan ucapan tokoh-tokoh dalam novel tersebut. Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan jenis dan wujud nilai moral serta menilai kelayakan novel sebagai bahan pembelajaran sastra di SMA. Metode yang digunakan adalah metode deskriptif dengan teknik analisis teks. Data penelitian berupa kutipan-kutipan naratif dan dialog tokoh yang mengandung nilai moral. Data dianalisis melalui tahapan pengumpulan, pengklasifikasian, penafsiran, serta perbandingan data dengan kategori nilai moral guna memperoleh gambaran yang sistematis dan objektif. Pendekatan ini memungkinkan peneliti mengungkap nilai moral secara mendalam berdasarkan konteks cerita. Hasil penelitian menunjukkan bahwa novel Perjalanan Menuju Langit mengandung dua jenis nilai moral, yaitu nilai moral yang baik dan nilai moral yang tidak baik. Nilai moral yang baik lebih dominan dengan persentase 65%, meliputi sikap penyayang, patuh kepada orang tua, saling menolong, kerja sama, dan tanggung jawab. Sementara itu, nilai moral yang tidak baik sebesar 35% ditunjukkan melalui perilaku egois, sombong, cemburu, serta tindakan semaunya sendiri. Dominasi nilai moral yang baik mencerminkan pandangan hidup pengarang tentang perjalanan manusia dari kehidupan dunia menuju kehidupan akhirat. Berdasarkan temuan tersebut, novel ini dinilai layak digunakan sebagai alternatif bahan pembelajaran sastra di SMA karena memiliki nilai edukatif dan mampu membangun karakter siswa. Kata kunci: nilai moral, novel, Perjalanan Menuju Langit, pembelajaran sastra, SM

    Assessment strategy based on authentic assessment to identify high school students' ability in assessing drama texts and drama performances

    No full text
    Drama learning plays an important role in training students to sharpen their expressive abilities in performing arts.  This study aims to develop and implement an authentic assessment-based assessment strategy to identify high school students' ability to assess drama texts and drama performances. The research method used is research and development (R&D) which involves several stages, namely needs analysis, instrument design, and assessment model development. The R&D model used in this research is the ADDIE model (Analysis-Design-Develop-Implement-Evaluate). The results showed that the developed authentic assessment model can improve students' ability to assess drama texts and performances. Teachers who use this model find it helpful in developing more effective and comprehensive assessment instruments. In addition, students showed improvement in critical thinking and evaluation skills, as well as the ability to identify and assess important elements in drama and performance texts. This study suggests that the implementation of authentic assessment strategies can make a positive contribution towards improving the quality of assessment in a secondary school setting
    corecore