1,721,204 research outputs found
TENGOK BUSTAMAN: MEMPERTAHANKAN KAMPUNG BUSTAMAN DARI WAKTU KE WAKTU DI KOTA SEMARANG
Zsa Zsa Wulan Permatasari. D0312083. 2016. “Tengok Bustaman: Mempertahankan Kampung Bustaman Dari Waktu ke Waktu di Kota Semarang”. Skripsi. Pembimbing: Akhmad Ramdhon, S.Sos.,M.A. Program Studi Sosiologi. Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik. Universitas Sebelas Maret. Kota merupakan tempat bagi masyarakat tinggal, tumbuh, berkembang, dan melangsungkan kehidupan di dalamnya. Kota pada awalnya adalah sebuah kampung yang mengalami perubahan terus menerus mengikuti perkembangan zaman sehingga menjadi kota, setelah itu kota akan terus tumbuh dan berkembang. Kota dianggap sebagai sarana bagi manusia untuk memperoleh ilmu pengetahuan, tempat tinggal, lapangan pekerjaan, bahkan kehidupan sosial yang lebih baik. Saat ini, kota memang dianggap sebagai tempat dengan kemajuan yang lebih pesat dibandingkan kampung. Lebih banyak masyarakat yang berpindah dari desa ke kota dibandingkan kota ke desa. Hal itu disebabkan oleh warga desa atau kampung yang ingin mendapatkan kehidupan yang lebih layak dan lebih baik dari kehidupan di kampung tempat mereka tinggal. Setiap kota tentunya memiliki identitas dan sejarah yang berbeda. Kampung Bustaman menjadi salah satu kampung yang harus dipertahankan identitas kampungnya di tengah maraknya pembangunan kota di Semarang. Dalam pengumpulan data, dilakukan magang di sebuah komunitas, observasi dan wawancara mendalam terhadap warga Bustaman serta dokumentasi berupa foto lama dan foto terbaru untuk mengetahui sejarah yang terdapat di dalamnya. Metode penelitian grounded dirasa mampu menggali informasi lebih dalam tentang kampung Bustaman dari sebelum hingga setelah adanya festival. Teknik pengambilan sampel snowball merupakan teknik yang digunakan untuk memilih informan yang tepat dengan penelitian. Kampung dengan warga sebanyak 325 jiwa dengan luas rumah 4 hingga 5 meter bisa dihuni lebih dari dua Kepala Keluarga. Kampung yang terletak di Jln. MT Haryono, berusaha mempertahankan wilayahnya dengan membuat festival yang rutin dilaksanakan selama dua tahun sekali yang dibantu komunitas seperti Tengok Bustaman sejak tahun 2013 dan akan segera diselenggarakan pada tahun 2017 mendatang. Warga Bustaman juga mengajak masyarakat Semarang untuk ikut merasakan budaya di dalamnya yaitu Gebyuran Bustaman serta identitas kampung Bustaman yang terkenal dengan olahan kambing. Tentunya Bustaman mengalami banyak perubahan dari waktu ke waktu baik perubahan fisik ataupun mental warga. Secara fisik, bangunan-bangunan sudah mengikuti perkembangan zaman sehingga bangunan asli dari MCK yang merupakan peninggalan Belanda sudah berubah menjadi lebih nyaman digunakan. Namun secara mental, warga Bustaman mengalami penurunan dikarenakan kurangnya kesadaran dalam mengelola kampung. Kata kunci: Kampung, perubahan, identitas kampung
PEMAKNAAN PENGHUNI TERHADAP KAMPUNG BUSTAMAN DI KOTA SEMARANG
Kampung Bustaman merupakan salah satu kampung lama yang berada di pusat Kota Semarang. Keberadaan Kampung Bustaman tidak terlepas dari ancaman akibat dari perkembangan kota. Penting bagi masyarakat Kampung Bustaman untuk memaknai tempat tinggalnya. Pemaknaan masyarakat terhadap lingkungan tempat tinggalnya dikenal dengan istilah sense of place. Penelitian ini bertujuan untuk menemukenali sense of place masyarakat Kampung Bustaman di Kota Semarang. Penelitian ini menggunakan teknik analisis deskriptif kuantitatif dengan teknik pengumpulan data kuesioner, observasi lapangan, dan studi literatur. Hasil penelitian menunjukkan bahwa sense of place masyarakat Kampung Bustaman memiliki karakter dan identitas tersendiri yang memberikan ciri khas lingkungan (place identity). Masyarakat juga memiliki keterikatan (place attachment) terhadap Kampung Bustaman karena adanya ikatan secara personal seperti ikatan biografi terhadap Kampung Bustaman dimana masyarakat menganggap Kampung Bustaman bukan sekedar tempat tinggal saja namun juga sebagai tempat yang memiliki arti baginya. Selain itu ketergantungan masyarakat (place dependence) yang tinggi terhadap Kampung Bustaman sebagai tempat yang mampu untuk memenuhi kehidupan sehari-hari
Teknik dan Strategi Video Editor dalam Film Dokumenter "Telisik Bustaman"
Hubungan kekerabatan adalah salah satu prinsip mendasar untuk mengelompokkan tiap orang ke dalam kelompok sosial, peran, kategori, dan silsilah. Hubungan kerabat dapat dihadirkan secara nyata seperti ibu, saudara, kakek atau secara abstrak menurut tingkatan kekerabatan. Dalam film dokumenter “Telisik Bustaman” ini mempunyai tujuan memberikan unsur edukasi terhadap masyarakat Kota Semarang, agar masyarakat Kota Semarang dapat terus menjalin hubungan kekerabatan antar warga ditengah maraknya perkampungan bersejarah di Kota Semarang yang pelan-pelan mulai hilang akibat banyaknya pembangunan gedung-gedung pencakar langit. Hingga saat ini kampung Bustaman merupakan salah satu kampung yang masih mempertahankan eksistensi sebuah kampung dan masih terus menjaga hubungan kekerabatan yang terjalin didalamnya. Film dokumenter “Telisik Bustaman” ini dibuat di kampung Bustaman Semarang yang mana lokasi tersebut merupakan lokasi utama dalam pembuatan film dokumenter “Telisik Bustaman”. Pembuatan film dokumenter “Telisik Bustaman” memerlukan waktu satu minggu untuk pengambilan gambar suasana dan kegiatan yang ada di kampung Bustaman. Di dalam film dokumenter “Telisik Bustaman” juga diperkaya dengan narasi, sehingga penonton dapat lebih memahami cerita dari film dokumenter tersebut. Tidak lupa dalam film dokumenter ini menampilkan narasumber-narasumber yang berkompeten dalam tema yang diambil dalam film dokumenter “Telisik Bustaman”, yaitu kekerabatan
Living Hadīṣ dalam tradisi gebyuran di Kampung Bustaman Kota Semarang
Tradisi adalah suatu kebiasaan yang telah dilakukan sejak lama, seperti adat, kebiasaan ajaran dan sebagainya yang turun temurun dari nenek moyang yang dilestarikan terus hingga sekarang. Sedangkan Gebyuran atau perang air merupakan bagian dari tradisi Jawa Tengah khususnya di Kampung Bustaman Kota Semarang, Gebyuran (perang air) adalah tradisi yang diajarkan olek Kyai Kertoboso Boestam agar menjalin tali silaturaḥim serta penyucian diri, tujuh hari atau seminggu sebelum datangnya Puasa dibulan suci Ramadhan, yang dipercaya masyarakat Kampung Bustaman adalah tradisi yang positif untuk menjalin tali silaturaḥim dan melakukan ritual membersihkan diri baik jasmani maupun rohani. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui bagaimana living ḥadīṣ dalam tradisi gebyuran di Kampung Bustaman Kota Semarang. Penelitian ini merupakan penelitian kualitatif. Jenis penelitian lapangan (field research), dengan pendekatan living ḥadīṣ. living ḥadīṣ adalah ilmu tentang ḥadīṣ- ḥadīṣ yang hidup atau ilmu yang mengkaji tentang gejala-gejala ḥadīṣ ditengah kehidupan umat manusia. Alat pengumpul data wawancara dan observasi. Analisis data dalam penelitian ini menggunakan deskriptif kualitatif yakni data yang dikumpulkan, disusun kemudian ditafsirkan kemudian diambil kesimpulan. Dari hasil penelitian ini latar belakang living ḥadīṣ dalam tradisi gebyuran di Kampung Bustaman Kota Semarang. Untuk meneruskan kebiasaan Kyai Kertobodo Boestam atau Kyai Bustam yang sudah ada sejak tahun 1743. Tradisi gebyuran ini sebagai simbol mensucikan diri dan tradisi gebyuran Bustaman memiliki makna wadah untuk menjalin tali silaturaḥim sekaligus alat untuk untuk mensucikan diri, berbuat kebaikan kepada sanak saudara, saling mengasihi degan lemah lembut, saling memuliakan dan menghormati sesama masyarakat Kampung Bustaman Kota Semarang. Dapat disimpulkan bahwa tradisi gebyuran masyarakat Kampung Bustaman Kota Semarang sangatlah kental. Masyarakat percaya bahwa tradisi yang diajarkan ole Kyai Kertoboso Boestam membawa berkah kepada masyarakat, sehingga pada saat masyarakat bersatu sama lain dapat terjalin hubungan baik dan silaturaḥim dapat terjalin diantara masyarakat Kampung bustaman
EKSISTENSI KAMPUNG LAMA MELALUI KEARIFAN LOKAL DI KAMPUNG BUSTAMAN SEMARANG
Kampung Bustaman is an old kampong in the center of Semarang City that still can exist. The research aims to find the factors that influence the existence of Kampung Bustaman and to give the strategy to strengthen the existence of Kampung Bustaman through its local wisdom. The research was conducted using qualitative research with case study approach. The sampling technique used is snowball sampling. Analysis was conducted using descriptive qualitative analysis which aims to provide in-depth descriptions of the conditions of existence of Kampung Bustaman through local wisdom. The results shows that Kampong Bustaman still able to exist in the middle of urban development using local wisdom. Local wisdom has manifested in the daily life, consist of physical artifacts, economic activity, religious traditions, and social life. Local wisdom in the form of economic activity has been the spirit for the Bustaman’s occupants. The existence of the diversification activities related to the goats and culinary business that was involved Bustaman’s occupants were able to enliven kampung space condition and the most of Bustaman’s occupants. Local wisdom possessed also continued to strengthen in line with the times and the increasing need for people who require the existence of space and the role of the various parties to reinforce it
PERANAN SUTRADARA DALAM FILM DOKUMENTER "TELISIK BUSTAMAN"
Hubungan kekerabatan adalah salah satu prinsip mendasar untuk mengelompokkan tiap orang ke dalam kelompok sosial, peran, kategori, dan silsilah. Hubungan kekerabatan dapat dihadirkan secara nyata seperti ibu, saudara, kakek atau secara abstrak menurut tingkatan kekerabatan. Dalam pembuatan film dokumenter Telisik Bustaman ini mempunyai tujuan memberikan unsur edukasi terhadap masyarakat Kota Semarang, agar masyarakat Kota Semarang dapat terus menjalin hubungan kekerabatan antar warga ditengah maraknya perkampungan bersejarah di Kota Semarang yang pelan-pelan mulai hilang akibat banyaknya gedung-gedung pencakar langit. Hingga saat ini kampung Bustaman merupakan salah satu kampung yang mempertahankan eksistensi sebuah kampung dan masih terus menjaga hubungan kekerabatan yang terjalin didalamnya. Film dokumenter Telisik Bustaman ini memiliki bentuk dokumenter berdasarkan stock shot karena pembuatan film ini sudah direncanakan sebelumnya dan pengambilan gambar berdasarkan treatment yang sudah dibuat oleh penulis. Selain itu penulis menitiberatkan pada kekuatan gambar dan narasi, sehingga penonton akan semakin jelas dengan adanya gambar yang bercerita serta ditambah dengan narasi sebagai pelengkap informasi. Hasil dari film dokumenter ini diharapkan mampu memberikan informasi tambahan bagi pemangku kepentingan yang tertarik menelisik hubungan kekerabatan yang ada di suatu perkampungan dan masih belum dikenal oleh masyarakat di Kota Semarang
Strategi Komunitas Peka Kota Hysteria dalam Pelestarian Kampung Kota (Studi Kasus: Kampung Bustaman Kota Semarang)
ABSTRACTKampung is an embryo of a city. Metropolitan city is growing from a kampung. The city growth has good and bad impacts. Semarang City has 6.6 million population and in the process of its development, four old kampungs have been evicted by the developer during 2005 to 2018, either for hotel or apartment. A kampung whose population is middle to lower economy is an easy target for developer. This condition has triggered Peka Kota Hysteria community which focuses on the issue of arts and urban youth to preserve kampungs in the urban area i.e kampung Bustaman. This study revealed KPK Hysteria’s internal and external factors in preserving kampung Bustaman and will reveal strategies used by KPK Hysteria. Through the strategy implemented namely 1. Based on local culture, 2. Optimizing the involvement of the resident of kampung Bustaman and 3. Using art movement through internal network. These tree strategies are implemented by KPK Hysteria with systematic steps. KPK Hysteria is considered capable and succeeded in preserving kampung Bustaman with the supporting for 6 years. This success can bee seen from the increasing social captal of kampung Bustaman : changes in social norm, the existence of social control, network, trust , and the most impact for the resident is the improvement of Human Resources, especially for the youth in kampung  Bustaman .Keywords: Strategy, Community, Urban Kampung.ABSTRAKKampung merupakan embrio dari sebuah kota. Berawal dari sebuah kampung lalu tumbuh menjadi kota metropolitan. Pertumbuhan kota memang berdampak baik namun juga ada dampak buruknya. Kota Semarang dengan populasi 6,6 juta jiwa dalam proses pembangunannya didapati ada empat kampung lama yang digusur oleh developer dalam kurun tahun 2005 hingga 2018, baik itu dibangun hotel maupun apartemen. Keberadaan kampung yang penduduknya berekonomi menengah ke bawah merupakan sasaran empuk bagi developer. Kondisi ini memicu komunitas Peka Kota Hysteria yang fokus pada isu anak muda seni dan perkotan untuk bergerak melestarikan kampung-kampung di perkotaaan salah satunya kampung Bustaman. Penelitian ini mengungkap faktor internal dan eksternal KPK Hysteria dalam melestarikan kampung Bustaman. Serta akan mengungkap strategi yang digunakan oleh KPK Hysteria. Melalui Strategi yang diterapkan yaitu 1. berbasis budaya lokal, 2. pengoptimalan keterlibatan warga kampung Bustaman, dan 3. menggunakan gerakan seni melalui jaringan internal. Tiga hal tadi diterapkan oleh KPK hysteria dengan langkah-langkah yang sistematis. KPK hysteria dinilai mampu dan berhasil melestarikan kampung Bustaman dengan pendampingan selama 6 (enam) tahun. Keberhasilan ini dapat dilihat dari peningkatan modal sosial yaitu : perubahan norma sosial, adanya kontrol sosial,jaringan , trust, dan yang paling dirasakan yaitu peningkatan Sumber Daya Manusia khususnya remaja pada kampung Bustaman.Keyword : Strategi, Komunitas, Kampung kota
PERANAN PENULIS NASKAH DALAM FILM DOKUMENTER TELISIK BUSTAMAN
Hubungan kekerabatan adalah salah satu prinsip mendasar untuk mengelompokkan tiap orang ke dalam kelompok sosial, peran, kategori, dan silsilah. Hubungan kekerabatan dapat dihadirkan secara nyata seperti ibu, saudara, kakek atau secara abstrak menurut tingkatan kekerabatan. Dalam pembuatan film dokumenter “Telisik Bustaman” ini mempunyai tujuan memberikan unsur edukasi terhadap masyarakat Kota Semarang, agar masyarakat Kota Semarang dapat terus menjalin hubungan kekerabatan antar warga ditengah maraknya perkampungan bersejarah di Kota Semarang yang pelan-pelan mulai hilang akibat banyaknya gedung-gedung pencakar langit. Hingga saat ini kampung Bustaman merupakan salah satu kampung yang mempertahankan eksistensi sebuah kampung dan masih terus menjaga hubungan kekerabatan yang terjalin didalamnya. Film dokumenter “Telisik Bustaman” ini memiliki bentuk dokumenter berdasarkan stock shot karena pembuatan film ini sudah direncanakan sebelumnya dan pengambilan gambar berdasarkan treatment yang sudah dibuat oleh penulis. Selain itu penulis menitiberatkan pada kekuatan gambar dan narasi, sehingga penonton akan semakin jelas dengan adanya gambar yang bercerita serta ditambah dengan narasi sebagai pelengkap informasi. Hasil dari film dokumenter ini diharapkan mampu memberikan informasi tambahan bagi pemangku kepentingan yang tertarik menelisik hubungan kekerabatan yang ada di suatu perkampungan dan masih belum dikenal oleh masyarakat di Kota Semaran
Saratok District Office Administrative Department / Nurasyikin Bustaman
Saratok is one of the districts in Betong Administration. Saratok has an area of 1.686.68 sq km and has two (2) Sub-District, namely “Daerah Kecil Roban” and “Daerah Kecil Kabong". Saratok District Office is located in the heart of the city on the SAGATOK Hill which is a historic building of Saratok District Office. Saratok District Office has been in operation since before independence which is estimated to have been in existence since 1888 in the same building until 2008. The office has moved to a new office which is about 200 meters from the original building and was officially launched on August 30, 2009 on land Lot 42 Saratok Town District
The Impact of MCK+ Prangkuti Luhur towards the Improvement of Community Life Quality in Bustaman Village
At the global level, many efforts to fulfil the availability and access to sanitation have always been the main focus of human development goals and framework at every level of government. In the city level (Semarang), access to sanitation has already started since 2005 when the city government launched a community-based sanitation program in Bustaman Village. There are four locations become pilot project Bustaman village, Plombokan village, Bandarharjo district and Kebonharjo district, and till now only Bustaman village are still running and successful. Based on management in sanitation, this study aims to know the impact of community-based sanitation and how a community in self-reliance manage MCK+. The method used is a qualitative approach. The analysis conducted is an analysis of knowledge on the impact and how the community manage the sanitation facilities. Research findings showed that the impact of MCK+ are the improved public awareness for healthy and clean living, conscious effort to manage MCK+, making wastes into renewable energy becoming biogas. The existence of an institution named Prangkuti Luhur, which overshadowed the existence of MCK+, continuously form strong social ties, besides cohesion, due to the similarity of fortune. It also strengthened the framework of communal MCK+ institutions in Bustaman Village
- …
