1,721,248 research outputs found

    Bunga-bunga cantik dari kertas quilling

    No full text
    Quilling adalah kerajinan tangan yang sederhana, ringkas, dan terjangkau. Dengan teknik dan kertas quilling, Anda bisa memindahkan bunga-bunga yang ada di taman itu di atas kartu, dalam pigura, atau sebagai ornamen bingkisan. Buku ini akan mengajak Anda membuat serangkaian bunga menarik seperti sarsaparila liar, passionfruit, geralton wax, swan river daisy, bottlebrush, kaktus, birds of paradise, dafodil, dan banyak lagi dengan komposisi yang memanjakan mata. Penulis buku ini merupakan perajin quilling berpengalaman yang juga mengajar kelas-kelas reguler

    KAJIAN STILISTIKA DALAM KUMPULAN CERPEN DILARANG MENCINTAI BUNGA-BUNGA KARYA KUNTOWIJAYA

    No full text
    Gaya bahasa dalam suatu karya sastra merupakan kajian yang selalu unik untuk dilakukan, hal ini dikarenakan penggunaan gaya bahasa selalu menjadi hal yang menarik bagi pembaca untuk menikmati sebuah karya sastra. Tidak hanya keindahan semata, namun juga dari aspek pendidikan dapat meningkatkan daya imajinasi bagi peserta didik. Tujuan penelitian ini ialah untuk mendeskripsikan dan menjelaskan gaya bahasa yang terdapat dalam kumpulan cerita pendek Dilarang Mencintai Bunga-Bunga karya Kuntowijoyo. Mendeskripsikan dan menjelaskan bentuk citraan yang terdapat dalam kumpulan cerita pendek Dilarang Mencintai Bunga-Bunga karya Kuntowijoyo. Penelitian ini merupakan penelitian deskriptif kualitatif. Teknik pengambilan sampel dilakukan dengan menggunakan purposive sampling. Teknik analisis data dalam penelitian ini menggunakan teknik analisis interaktif. Hasil penelitian ini ialah bahwa penggunaan gaya bahasa dalam kumpulan cerita pendek Dilarang Mencintai Bunga-Bunga Karya Kutowijaya adalah meliputi: (1) gaya bahasa perbandingan, yang meliputi: (a) simile, (b) metafora, (c) personifikasi, (d) pleonasme, (e) alegori, (f) perifrasis. (2) gaya bahasa pertentangan yang meliputi: (a) hiperbola, (b) litotes, (c) klimaks, (d) antiklimaks, (e) ironi, (f) sinisme, dan (g) sarkasme. (3) Gaya bahasa pertautan, yang meliputi penggunaan satu gaya bahasa yaitu epitet. (4) Gaya bahasa perulangan yang meliputi: (a) anafora, dan (b) asonansi. Kedua, penggunaan citraan dalam kumpulan cerita pendek Dilarang Mencintai Bunga-Bunga karya Kuntowijaya meliputi penggunaan citraan penglihatan, pendengaran, penciuman, dan citraan gerak. Penggunaan citraan oleh pengarang dalam kumpulan cerita pendek Dilarang Mencintai Bunga-Bunga menambah daya imajinasi pembaca semakin hidup dan menghayati setiap cerita yang di tulis oleh pengarang

    PROSES ARUS KESADARAN DAN RELIGIUSITAS TOKOH UTAMA DALAM KUMPULAN CERPEN DILARANG MENCINTAI BUNGA-BUNGA KARYA KUNTOWIJOYO

    Full text link
    Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan wujud religiusitas tokoh utama dan proses arus kesadaran tokoh utama dalam kumpulan cerpen Dilarang Mencintai Bunga-Bunga dilihat melalui dinamika kepribadian tokoh utamanya. Sumber data penelitian ini adalah kumpulan cerpen Dilarang Mencintai Bunga-Bunga karya Kuntowijoyo, dengan cerpen “Dilarang Mencintai Bunga-Bunga”, “Sepotong Kayu untuk Tuhan”, dan “Burung Kecil Bersarang di Pohon” sebagai fokusnya. Objek penelitiannya, yaitu religiusitas dan proses kesadaran  tokoh utama yang dianalisis dengan menggunakan teori psikoanalisis Carl G. Jung. Data diperoleh dengan metode simak dengan teknik catat dan teknik riset kepustakan, kemudian data yang diperoleh diidentifikasi dan diklasifikasi sesuai kategori yang telah ditentukan kemudian dilakukan dengan validitas dan reliabilitas kemudian mendiskusikan hasil pengamatan kepada pakar yang memiliki kemampuan sastra yang baik dan menggunakan validitas dari expert-judgement. Hasil penelitian adalah sebagai berikut. Pertama, wujud religiusitas tokoh utama yang muncul dalam kumpulan cerpen Dilarang Mencintai Bunga-Bunga berdasarkan hubungannya dibagi menjadi tiga hubungan, yaitu hubungan manusia dengan Tuhan, manusia dengan manusia, dan manusia dengan alam. a) Hubungan manusia dengan Tuhan yang muncul, yaitu beribadah (mengaji dan shalat, berdoa, menimba ilmu agama, haji), mencintai kebersihan dan menjaga kebersihan, mencari kebenaran, mencari ridho Tuhan, pasrah dan ikhlas, mengingat Tuhan, mengabdi kepada Tuhan, menghindari sifat malas, memohon ampun atau bertaubat, b) hubungan manusia dengan manusia yang muncul, yaitu mematuhi orang tua, toleransi, memberi sedekah, menghindari sifat riya, membahagiakan dan menuruti istri, peduli sesama dan tolong menolong, mengakui kesalahan dan meminta maaf, pluralisme, berbaik sangka dan menjalin silaturahim, c) hubungan manusia dengan alam yang muncul, yaitu mencintai tumbuhan serta menghayati alam dan memanfaatkan alam di jalan Tuhan. Kedua, proses arus kesadaran tokoh utama dalam kumpulan cerpen Dilarang Mencintai Bunga-Bunga dapat dilihat melalui dinamika kepribadian tokoh utamanya, yaitu pada cerpen “Dilarang Mencintai Bunga-Bunga” terdapat proses regresi-progresi, pada cerpen “Sepotong Kayu untuk Tuhan” terdapat proses individuasi, dan pada cerpen “Burung Kecil Bersarang di Pohon” terdapat proses regresi-progresi

    Studi Karakteristik Bunga-Bunga Liar Bernilai Estetik Dan 'Ornamental Grasses' Serta Penggunaannya Sebagai Elemen Lanskap

    No full text
    Tanaman merupakan elemen lanskap yang mempunyai kegunaan, baik secara fungsional (fisik) maupun seara estetik (keindahan). Penggunaannya dalam lanskap menjadi hal yang utama. Banyak tanaman yang sebenarnya potensial digunakan sebagai tanaman lanskap, contohnya saja beberapa jenis bunga-bunga liar dan ornamental grasses. Sayangnya nilai estetik dan fungsional dari tanamantanaman tersebut beturn banyak disadari oleh masyarakat luas. Selama ini tanaman-tanaman tersebut hanya dikenal sebagai tanaman pengganggu yang merugikan, sehingga penggunaan bunga-bunga liar bernilai estetik dan ornamental grasses harus lebih di sosialisasikan ke masyarakat

    KEKERASAN SEKSUAL PADA PEREMPUAN DALAM NOVEL BUNGA-BUNGA KERTAS KARYA KHUSNUL KHOTIMAH

    No full text
    Penelitian ini dilatarbelakangi oleh permasalahan kekerasan seksual, khususnya yang dialami perempuan. Persoalan tersebut juga digambarkan dalam karya sastra, khususnya novel. Objek penelitian ini adalah novel dengan judul Bunga-Bunga Kertas karya Khusnul Khotimah. Penelitian ini bertujuan untuk (1) mendeskripsikan struktur novel Bunga-Bunga Kertas karya Khusnul Khotimah, (2) mendeskripsikan tingkatan kekerasan seksual yang dialami perempuan dalam novel tersebut, (3) mendeskripsikan perlawanan perempuan dalam menghadapi kekerasan seksual pada novel tersebut. Penelitian ini merupakan penelitian kualitatif dengan menggunakan metode deskriptif analisis. Teknik pengumpulan data yang digunakan melalui studi pustaka. Pendekatan penelitian yang digunakan adalah pendekatan kritik sastra feminis. Hasil penelitian menunjukkan struktur novel Bunga-Bunga Kertas berkaitan satu sama lain, dengan latar di Jogja pada tahun 2000-an. Ketidakadilan yang dialami tokoh perempuan dalam novel ini adalah tindakan kekerasan seksual. Kekerasan seksual yang tergambar terbagi pada lima bagian yaitu, gender harresment, seduction behaviour, sexual bribery, sexual coercion, dan sexual imposition. Perlawanan yang dilakukan perempuan meliputi perlawanan fisik dan psikis, verbal dan kemandirian. Kata-kata Kunci: Pelecehan Seksual, Gender Harresment, Seduction Behaviour, Sexual Bribery, Sexual Coercion, Sexual Imposition. This study is based on the sexual viuolence issues, experienced especialy by women. The issues are depicted in literary works, particularly in novel. The object investigation of this study is a novel entitled Bunga-bunga Kertas by Khusnul Khotimah. This study aims to (1) describe the structure of the novel entitled Bunga-bunga Kertas by Khusnul Khotimah ,(2) to describe the level of sexual violence that is experienced by women in particular novel. (3) and to describe women resistance in facing sexual violence in particular novel, This study applies a descriptive qualitative method to analyze data. The data are corrected trhough library study research. Feminist literaly critism is use as the approach of this study. The result of this study show that structure of the novel entitled of Bunga-bunga Kertas is interrelated to each other, with the setting in Jogja in the year 2000. The opperession that experienced by women caracter in This novel is the act of sexual violence. Five types of sexual violence. Five type of sexial violence that are depicted in this novel gender harresment, seduction behaviour, sexual bribery, sexual coercion, dan sexual imposition. The resistance that is done by women are the resistance physical and phychical, oral ada self-reliant. Key words: Sexual Violence, Gender Harresment, Seduction Behaviour, Sexual Bribery, Sexual Coercion, Sexual Imposition

    GAYA BAHASA DAN NILAI PENGUATAN PENDIDIKAN KARAKTER DALAM KUMPULAN CERPEN DILARANG MENCINTAI BUNGA-BUNGA KARYA KUNTOWIJOYO DAN RELEVANSINYA SEBAGAI BAHAN AJAR DI SMP

    Full text link
    ABSTRAK Dimas Pramudya Nugroho, K1211020 GAYA BAHASA DAN NILAI PENGUATAN PENDIDIKAN KARAKTER DALAM KUMPULAN CERPEN DILARANG MENCINTAI BUNGA-BUNGA KARYA KUNTOWIJOYO SERTA RELEVANSINYA SEBAGAI BAHAN AJAR DI SMP. Skripsi, Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan Universitas Sebelas Maret Surakarta. Juni 2018. Tujuan penelitian ini mendeskripsikan dan menjelaskan: (1) gaya bahasa, (2) citraan, (3) nilai-nilai penguatan pendidikan karakter, dan (4) relevansi kumpulan cerpen Dilarang Mencintai Bunga-Bunga karya Kuntowijoyo dengan materi bahan ajar di SMP. Penelitian ini merupakan penelitian deskriptif kualitatif . Teknik pengambilan sampel dilakukan dengan menggunakan purposive sampling. Teknik pengumpulan data menggunakan analisis dokumen dan wawancara. Validitas data menggunakan triangulasi metode. Teknik analisis data dalam penelitian ini menggunakan teknik analisis interaktif. Berdasarkan hasil analisis data, maka penulis dapat memberikan kesimpulan bahwa pemakaian gaya bahasa dalam Kumpulan cerpen “Dilarang Mencintai Bunga-Bunga” karya Kuntowijoyo terdapat berbagai macam gaya bahasa. Gaya bahasa tersebut meliputiHasil penelitian: (1) Penggunaan gaya bahasa dalam kumpulan cerpen Dilarang Mnencintai Bunga-Bunga ditemukan 12 jenis gaya bahasa yang mendominasi dan gaya bahasa simile paling mendominasi; (2) Penggunaan citraan dalam kumpulan cerpen Dilarang Mencintai Bunga-Bunga ditemukan 4 bentuk citraan dan citraan penglihatan yang paling mendominasi.(3)Ditemukan Nilai penguatan pendidikan karakter yang terkandung dalam kumpulan cerpen Dilarang Mencintai Bunga-Bunga yaitu: a) religius b) mandiri c) integritas d) gotong-royong e) nasionalis ; dan (4) Kumpulan Cerpen ‘’Dilarang mencintai Bunga-Bunga” memiliki kriteria kesesuaian cerpen yang dapat digunakan sebagai bahan ajar yaitu: (a) bahasanya tidak terlalu sulit diikuti peserta didik; (b) sejalan dengan lingkungan sosial budaya peserta didik; (c) sesuai dengan umur, minat, perkembangan kejiwaan; dan (d) memupuk rasa keingintahuan. Relevansi hasil penelitian Kumpulan Cerpen ‘’Dilarang mencintai Bunga-Bunga” sebagai materi ajar sastra di SMP relevan kompetensi dasar. Kata kunci : cerpen, gaya bahasa, citraan, nilai penguatan pendidikan karakter, bahan ajar

    Citra Perempuan Dalam Novel Bunga-bunga Rindu Karya Badri Wahab

    Full text link
    This research means to describe the image of women in the novel of Bunga-bunga Rindu by Badri Wahab, that (a) the image of women in term of phsical, (b) the image of women in trem of psychic, and (c) the image of women in trem of social development. This data of reseach is the image of women in the novel of Bunga-bunga Rindu by Badri Wahab iscreated by Libri Publizer in 2008. Based on the analysis of data are found that: (a) the image of women in trem of psycal is beutiful women, (b) the image of women in trem of psychic is diligent and smart women, (c) the image of women in trem of social can see from embrace of a women figure that: (1) as a wife, (2) as a child, (3) as a mother, (4) as a sister, (5) as a friend, (6) as a doktor, (7) as a sister in law, (8) as a house kieper, (9)as a sister in law, (10) as a teacher, (11) and as a mother in law

    PSIKOTIK DAN PEDOFILIA DALAM “MAK IPAH DAN BUNGA-BUNGA” KARYA INTAN PARAMADHITA: KAJIAN PSIKOLOGI SASTRA

    Full text link
    This study aimed at describing mental disorders (psychic) ​​experienced by two characters, Mak Ipah and Pemuda in “Mak Ipah dan Bunga-bunga” written by Intan Paramadhita. The two characters (protagonist and antagonist) of the short story were analyzed using psychoanalysis theory. The theory believes that human being is more influenced by the subconscious than the conscious. Like a psychotic patient with schizophrenia; the patient is unaware of his deviant behavior or pedophilia and only cares about his desire (affecting his sexual behavior) for children, which he considers as something natural. This study used qualitative-descriptive method. The research data were in the form of literary text (short story) that represents a person's mental disorder (the characters). The sources of resesarch data were from the narrative text of the short story "Mak Ipah dan Bunga-bunga" by Intan Paramadhita. The results showed that after the death of his only child, Mak Ipah was considered an insane individual and was then singled out by all the villagers. She became apathetic and chose to interact with the plants in her yard because she forgot the people around her. From this, the hypothesis drawn was that Mak Ipah has a psychological disorder, namely a psychotic type of schizophrenia due to a past trauma. Meanwhile, the other character named Pemuda suffered from a psychological disorder, namely pedophilia. It can be concluded that this short story tells two abnormal characters, and proves that "Mak Ipah and Bunga-bunga" is a short story with psychological disorders in its narration

    Evaluation of the hair growth activity of the seed oil from bunga-bunga, Alternanthera sessilis Linn. (family Amaranthaceae)

    No full text
    Physicochemical evaluation described bunga-bunga seed oil (5%w/v) as smooth, waxy, with a characteristics odor and mustard yellow appearance. A percentage yield fo 1% (w/w) of ricinoleic acid resulted during percolation Although phytochemical analysis showed only the significant presence of alkaloid, the analysis also showed the presence of fixed oil through grease spot test. meanwhile during the animal testing, the fixed oil obtained from bunga bunga showed hair growth activity both in the initiation time and hair length measurement. In the initiation time the bunga bunga seed oil sample registered a shorter growth initiation time compared to the standard and negative control. Meaning it took lesser number of days for the positive observance of hair growth in the denuded area. Results of the blinded hair length measurement of the 25 hairs randomly collected from each rat indicated a comparable effect with the standard ricinoleic acid. Therefore A. sessilis seed oil is effective in potentiating hair growth activity that may be attributed to the ricinoleic acid present in the extract. Initial screening for skin toxicity showed no irritation or allergic reaction

    Analisis Tari Kreasi Nak Petang Di Sanggar Ncik Gemilau Pekanbaru Riau

    No full text
    This study aims to analyze the dance created by Nak Petang at Ncik Gemilau Studio, Pekanbaru, Riau. The Nak Petang dance reveals about the youth of the past when it was dusk, the children had to be at home. Dusk is not allowed to wander outside the house anymore. There are many things for children to do such as maghrib prayers and reciting the Koran. The Nak Petang dance was appointed with an Islamic presentation by the choreographer. In the Nak Petang dance the author tries to analyze in terms of dance moves, themes, floor designs, top designs, music, dynamics, make-up, fashion, props, lighting and stage. Data collection techniques used are observation, interviews, and documentation. The conclusion from the dance created by Nak Petang at the Ncik Gemilau studio, Pekanbaru, Riau, is that this dance uses basic movements that are lifted from the forms of Malay silat movements, Zapin movements and Lenggang movements. The floor patterns used are vertical, horizontal, diagonal, half circle and full circle. The dynamics in the creation of Nak Petang dance are in each part/each floor pattern, namely at the beginning, middle and end. The dynamics used are level, tempo and energy which have been developed based on the science of composition. The properties used are a long cloth and a short cloth or commonly called a black and white shawl. The dance created by Nak Petang uses daily Malay costumes, namely female dancers wear Kebaya Laboh and male dancers wear Cekak Musang clothes. In the Nak Petang dance, beautiful makeup is used for female dancers and dashing makeup for male dancers. The dance created by Nak Petang uses yellow and white lighting. While the stage used is the proscenium stage
    corecore