59 research outputs found

    Tabu dalam Bahasa Karo

    No full text
    This study aimed to examine and to make pattern of verbal and nonverbal taboo expression in Karo language, that are considered breaking the language rules and can result in "loss of face" or cause harm to both of speakers and listeners. Based on the anthropolinguistics approach and ethnographic method, taboo was analyzed through the prism of the core anthropological concept, culture, and, as such, seeks to uncover the meaning behind the use, misuse, non-use of language, its different forms, registers and styles based on the local community understandings. This research was conducted in five sub-districts in Tanah Karo District, North Sumatra Province, namely Berastagi, Kabanjahe, Tiga Panah, Barus Jahe, and Simpang Empat Districts. Data were collected by participantobservation and interview method. The data were words, phrases, and clitics and that were considered taboo both lexically and culturally, and kinship relationship that were considered taboo to make direct communication, strategy to avoid the tabooness, punishment for taboo violators, expression meanings and functions of taboo, values, norms, and shift of taboo. Data were analyzed by domain, taxonomy, componential, and theme analysis. The results showed that Karo taboo expression could be classified into three categories, namely: kinship taboo, context-specific taboo, and general taboo. The tabooness was not only based on the lexical aspect or the text used, but also because of the context and co-text used in the expression process. Taboo expressions in kinship could be avoided by intermediary strategies, and context-specific taboos and general taboos could be avoided by their forms of euphemism. The meanings of the taboo were: insulting, demeaning honor, arrogance, increasing others’ sadness, triggering disgraceful deeds, opening up disgrace, and harassing a glorified person. Taboo rules served to maintain relationships, show the same rights and desires, educate to be humble, and avoid people from disputes. The taboo value in the Karo language is 'peace', while the norm is to maintain self-respect and create a peaceful life using selected methods and languages. The shift in the meaning of taboos has begun to occur due to factors of education, environment, globalization, and marriage, however, the preservation of the taboo is still being maintained for its functions to preserve harmonious sustainability in the society.Penelitian ini bertujuan untuk menelaah dan memolakan ekspresi tabu dalam bahasa Karo, yaitu ekspresi verbal dan nonverbal yang dianggap melanggar aturan bahasa, dan ekspresi verbal yang dapat mengakibatkan “kehilangan muka” atau menimbulkan bahaya bagi penutur dan pendengarnya. Berdasarkan ancangan antropolinguistik dan metode etnografi, tabu dianalisis dengan mencari makna di balik penggunaan, kesalahpenggunaan, ketidakpenggunaan, bahasa dan di balik bentuk dan gayanya yang berbeda berdasarkan pemahaman masyarakat setempat. Penelitian ini dilakukan di lima kecamatan di Kabupaten Tanah Karo, Provinsi Sumatera Utara, yakni Kecamatan Berastagi, Kabanjahe, Tiga Panah, Barus Jahe, dan Simpang Empat. Pengumpulan data menggunakan metode pengamatanpartisipatif dan wawancara terhadap sembilan orang informan. Datanya adalah kata, frasa, dan klitik yang dianggap tabu secara leksikal maupun budaya, ekspresi dan hubungan kekerabatan yang dianggap tabu dalam komunikasi, strategi menghindari tabu, sanksi pelanggar tabu, makna ekspresi tabu, fungsi aturan tabu, nilai dan norma tabu, dan pergeseran tabu. Data dianalisis dengan analisis domain, taksonomi, komponensial, dan tema. Hasilnya menunjukkan bahwa tabu bahasa Karo digolongkan ke dalam tiga golongan, yaitu: tabu ekspresi dalam hubungan kekerabatan, tabu ekspresi konteks-spesifik, dan tabu ekspresi umum. Ketabuan tidak hanya berdasarkan aspek leksikal atau teks yang digunakan, namun juga karena konteks dan ko-teks dalam proses ekspresinya. Ekspresi tabu dalam hubungan kekerabatan dapat dihindari dengan strategi perantara, dan tabu konteksspesifik dan tabu umum dapat dihindari dengan bentuk eufemisme masing-masing. Ekspresi tabu bermakna: menghina, merendahkan kehormatan, kesombongan, menambah kesedihan orang lain, memicu perbuatan tercela, membuka aib, dan melecehkan orang yang dimuliakan. Aturan tabu berfungsi untuk menjaga hubungan, menunjukkan hak dan keinginan yang sama, mendidik untuk rendah hati, dan menghindarikan orang dari perselisihan. Nilai tabu dalam bahasa Karo adalah „kedamaian‟, sedangkan normanya adalah menjaga kehormatan diri dan menciptakan kehidupan yang damai dengan menggunakan cara dan bahasa yang terpilih. Pergeseran makna tabu telah terjadi disebabkan faktor pendidikan, lingkungan, globalisasi, dan perkawinan, namun pelestariannya masih terus dilakukan karena berfungsi untuk menjaga keharmonisan dalam masyarakat.329 HalamanDisertasi Dokto

    Tabu dalam Bahasa Karo

    No full text
    This study aimed to examine and to make pattern of verbal and nonverbal taboo expression in Karo language, that are considered breaking the language rules and can result in "loss of face" or cause harm to both of speakers and listeners. Based on the anthropolinguistics approach and ethnographic method, taboo was analyzed through the prism of the core anthropological concept, culture, and, as such, seeks to uncover the meaning behind the use, misuse, non-use of language, its different forms, registers and styles based on the local community understandings. This research was conducted in five sub-districts in Tanah Karo District, North Sumatra Province, namely Berastagi, Kabanjahe, Tiga Panah, Barus Jahe, and Simpang Empat Districts. Data were collected by participantobservation and interview method. The data were words, phrases, and clitics and that were considered taboo both lexically and culturally, and kinship relationship that were considered taboo to make direct communication, strategy to avoid the tabooness, punishment for taboo violators, expression meanings and functions of taboo, values, norms, and shift of taboo. Data were analyzed by domain, taxonomy, componential, and theme analysis. The results showed that Karo taboo expression could be classified into three categories, namely: kinship taboo, context-specific taboo, and general taboo. The tabooness was not only based on the lexical aspect or the text used, but also because of the context and co-text used in the expression process. Taboo expressions in kinship could be avoided by intermediary strategies, and context-specific taboos and general taboos could be avoided by their forms of euphemism. The meanings of the taboo were: insulting, demeaning honor, arrogance, increasing others’ sadness, triggering disgraceful deeds, opening up disgrace, and harassing a glorified person. Taboo rules served to maintain relationships, show the same rights and desires, educate to be humble, and avoid people from disputes. The taboo value in the Karo language is 'peace', while the norm is to maintain self-respect and create a peaceful life using selected methods and languages. The shift in the meaning of taboos has begun to occur due to factors of education, environment, globalization, and marriage, however, the preservation of the taboo is still being maintained for its functions to preserve harmonious sustainability in the society.Penelitian ini bertujuan untuk menelaah dan memolakan ekspresi tabu dalam bahasa Karo, yaitu ekspresi verbal dan nonverbal yang dianggap melanggar aturan bahasa, dan ekspresi verbal yang dapat mengakibatkan “kehilangan muka” atau menimbulkan bahaya bagi penutur dan pendengarnya. Berdasarkan ancangan antropolinguistik dan metode etnografi, tabu dianalisis dengan mencari makna di balik penggunaan, kesalahpenggunaan, ketidakpenggunaan, bahasa dan di balik bentuk dan gayanya yang berbeda berdasarkan pemahaman masyarakat setempat. Penelitian ini dilakukan di lima kecamatan di Kabupaten Tanah Karo, Provinsi Sumatera Utara, yakni Kecamatan Berastagi, Kabanjahe, Tiga Panah, Barus Jahe, dan Simpang Empat. Pengumpulan data menggunakan metode pengamatanpartisipatif dan wawancara terhadap sembilan orang informan. Datanya adalah kata, frasa, dan klitik yang dianggap tabu secara leksikal maupun budaya, ekspresi dan hubungan kekerabatan yang dianggap tabu dalam komunikasi, strategi menghindari tabu, sanksi pelanggar tabu, makna ekspresi tabu, fungsi aturan tabu, nilai dan norma tabu, dan pergeseran tabu. Data dianalisis dengan analisis domain, taksonomi, komponensial, dan tema. Hasilnya menunjukkan bahwa tabu bahasa Karo digolongkan ke dalam tiga golongan, yaitu: tabu ekspresi dalam hubungan kekerabatan, tabu ekspresi konteks-spesifik, dan tabu ekspresi umum. Ketabuan tidak hanya berdasarkan aspek leksikal atau teks yang digunakan, namun juga karena konteks dan ko-teks dalam proses ekspresinya. Ekspresi tabu dalam hubungan kekerabatan dapat dihindari dengan strategi perantara, dan tabu konteksspesifik dan tabu umum dapat dihindari dengan bentuk eufemisme masing-masing. Ekspresi tabu bermakna: menghina, merendahkan kehormatan, kesombongan, menambah kesedihan orang lain, memicu perbuatan tercela, membuka aib, dan melecehkan orang yang dimuliakan. Aturan tabu berfungsi untuk menjaga hubungan, menunjukkan hak dan keinginan yang sama, mendidik untuk rendah hati, dan menghindarikan orang dari perselisihan. Nilai tabu dalam bahasa Karo adalah „kedamaian‟, sedangkan normanya adalah menjaga kehormatan diri dan menciptakan kehidupan yang damai dengan menggunakan cara dan bahasa yang terpilih. Pergeseran makna tabu telah terjadi disebabkan faktor pendidikan, lingkungan, globalisasi, dan perkawinan, namun pelestariannya masih terus dilakukan karena berfungsi untuk menjaga keharmonisan dalam masyarakat.329 HalamanDisertasi Dokto

    TABOO AVOIDANCES IN KARO LANGUAGE

    Full text link
    Civilized society like Karo knows taboo culture and how to avoid it well, so that they can be avoided from social conflict and can live peacefully. However, taboo in language and the way to avoid them are considered increasingly scarce as globalization develops among the current millennial generation. As an effort to provide an understanding about the matter concerned towards future generations, this study describes various ways of avoiding the three types of taboo in Karo: taboo in kinship, i.e. among bengkila and permain, turangku and turangku, and mami and kela; context-specific taboos, i.e. words derived from non-taboo words, and words related to social and physical defects; and general taboos, i.e. swearing and unmentionable words. This research was conducted using descriptive qualitative with ethnographic method. The data were obtained from the key informants who were from indigenous people of Tanah Karo Regency.  It is found that taboos in kinship can be avoided by strategy of third-person intermediary, strategy of metaphor through object, and strategy of using the word nina. Context-specific taboo and general taboo can be avoided by various forms of euphemism. However, taboo of swearing type does not have form of refinement because of its purpose and function as emotive expression

    Peran Da’i dalam Membina Akidah Masyarakat Muslim Minoritas di Desa Sukajulu Kecamatan Barus Jahe Kabupaten Karo

    Full text link
    Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui Peran da’i dalam Membina Akidah Masyarakat Muslim Minoritas di Desa Sukajulu Kecamatan Barus Jahe Kabupaten Karo. Melalui sejauh mana peran da’i, bagaimana akidah masyarakat muslim minoritas, bagaimana faktor pendukung dan penghambat yang dihadapi da’i di lokasi penelitian. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah kualitatif. Metode ini dilakukan terkait fenomena yang ada dilapangan dengan cara mengumpulkan data, terutama dari informan penelitian. Teknik pengumpulan data yang digunakan ialah wawancara dan dokumentasi, subjek penelitian adalah Peran da’i di Desa Sukajulu. Hasil penelitian menunjukkan bahwa peran da’i yang digunakan adalah mengajak dan membujuk masyrakat untuk berbuat kebaikan dengan mengisi pengajian-pengajian, khutbah jumat, mendidik anak-anak dengan membaca Alquran, menyampaikan ceramah agama yang berlandaskan Alquran dan Hadits, yang merupakan suatu landasan dari Allah Subahanahuwataala. Hasil yang dicapai da’i di Desa Sukajulu dalam meningkatkan akidah masyarakat mengalami kemajuan dan memberi perubahan yang cukup drastis sehingga da’i dinyatakan berhasil dalam pencapaian berdakwah dengan menggunakan peranya tersebut

    PERSON DEIXIS USED IN THE PURSUIT OF HAPPYNESS MOVIE

    Full text link
    Deixis plays a crucial role in language by pointing or referring to specific people, places, or times. The study specifically focuses on personal deixis, which is essential for effective communication in daily conversations, as it helps avoiding misunderstandings regarding references made by the speaker. The objective of this study is to analyze the types of deixis present in the movie The Pursuit of Happyness. This research uses a descriptive qualitative analysis method. The data collected for analysis follow thematic analysis which is a qualitative data analysis that focuses on identifying, analyzing, and interpreting data. The findings of this research reveal numerous instances of deixis in the movie. Among the 898 instances of personal deixis identified, singular first-person deixis accounts for 180 occurrences, plural first-person deixis 107 instances, singular second-person deixis 375, singular third-person deixis 195, and plural third-person deixis 33. This study contributes to the understanding of deixis in movie discourse and provides insights into the pragmatic use of language in the movie. It enhances our knowledge of how deixis functions within a specific cinematic context and highlights the significance of personal deixis in shaping effective communication. The findings can be valuable for linguistic analysis, film studies, and contribute to the broader understanding of deixis in various forms of media

    VALIDITAS HADIS-HADIS PADA BUKU “MATERI KHOTBAH JUMAT SETAHUN” KARYA AHMAD YANI

    No full text
    Many books about religious sermon for Jumat prayer contain many hadiths and are popular among khatib (preachers). Ideally, the hadiths derive from standard books of hadith written by recognised imams. However, some authors incorporating hadiths into the religious sermon books neglect therules of hadith quotation. They include hadith without attaching hadith resources (transmitters). As a result, the hadiths doubtful in terms of authenticity and validity. As the religious sermon books become vouge among khatib (preachers), many khatibs uncritically quote the hadiths and deliver them to jamaah during Jumat prayer. This paper aims to examine the method of the hadiths incorporation and their authenticity in the religious sermon book of Materi Khotbah Jumat Setahun written by Ahmad Yani. This book is selected as it becomes vogue among khatib (preachers). This study constitutes library research employing hadith science approach as data analysis. The findings of this study are presented descriptively and qualitatively. This paper finds that firtsly, the writer of the book partly comply with the methods of hadith quotation as required by ilmu hadith (the prophet tradition science). Secondly, the authenticity of the hadith the author quotes varies from shahîh, hasan, dhaîf, and laysa bihadith. However, the hadith that shahîh (authentic) outnumbers the others, i.e. 34 out 49 hadiths examined are authentic (69%). This paper recommends that the book of Materi Khotbah Jumat Setahun is appropriate for khatib guidance in delivering religious sermon for Jumat prayer

    Ketentuan dan Pasal Menyewakan Tanah dan Bangunan (Perjanjian Sewa Nomor 61)

    No full text
    6 HalamanPada hari ini, Jumat, tanggal 12-06-2020 (duabelasJuni duaribu duapuluh Jam 10.00 WIB (sepuluh Waktu Indonesia Barat); Berhadapan dengan saya, TUAN. ARIANTO BARUS, Sarjana Hukum, Magister Kenotariatan, Notaris berkedudukan di kabupaten Serdang Bedagai, dengan wilayah jabatan seluruh Sumatera Utara, dengan dihadiri oleh saksi-saksi yang akan disebut dan telah dikenal oleh saya, Notaris : I.Tuan FAHRIN, lahir di Lubuk Pakam, pada tanggal 03-12-1950 (tigaDesemberseribu sembilanratus lima puluh), Warga Negara Indonesia, Wiraswasta, bertempat tinggal di desa Cintaman Jernih, pemegang Kartu Tanda Penduduk tertanggal 09-10-2012 (sembilan Oktober duaribu duabelas), dengan Nomor Induk Kependudukan (NIK) : 354502940910800003, yang berlaku hingga tanggal 09-10-2020 (sembilan Oktober duaribu dua puluh); selanjutnya disebut juga PIHAK PERTAMA atau PIHAK YANG MENYEWAKAN. II.TUANFAREL HALAWA, lahir di Medan, pada tanggal 28-04-1999 (duapuluh delapan April seribu sembilan ratus sembilanpuluh sembilan), Warga Negara Indonesia, Swasta, untuk sementara bertempat tinggal di Medan, pemegang Kartu Tanda Penduduk tertanggal 03-10-2020 (tiga Oktober dua ribu dua puluh), dengan Nomor Induk Kependudukan (NIK) : 354502940910800061, yang berlaku hingga seumur hidup. selanjutnya disebut juga PIHAK KEDUA atau PENYEWA. Para Penghadap telah dikenal oleh saya, Notaris. Pihak Pertama menerangkan dalam surat akta ini telah menyewakan kepada Pihak Kedua, yang menerangkan telah menerima persewaan dari Pihak Pertama, berupa: Sertifikat tanah Hak Milik Nomor :262/Cintaman Jernih seluas 528 m2 (lima ratus dua puluh delapan meter persegi) yang diuraikan dalam Surat Ukur tertanggal 17-02-2003 (tujuhbelas Februaridua ribu tiga) Nomor : 247/2003, sertifikat tertanggal 17-02-2003 ((tujuhbelas Februaridua ribu tiga) tertulis atas nama Tuan FAHRIN, terletak di dalam Provinsi Sumatera Utara, Wilayah Kabupaten Deli Serdang, Kecamatan Perbaungan

    TRANSFORMATIONAL LEADERSHIP OF DAYAH: EMPOWERMENT OF DAYAH COMMUNITY IN DEVELOPING TOTAL QUALITY MANAGEMENT

    Full text link
    Abstract:This study aims to explain the transformational leadership of Dayah in empowering the Dayah community, which is focused on empowering the quality of teungku, santri, and administrative personnel for the development of Total Quality Management (QTM). The research method used was library research with a transformational leadership approach to educational institutions. Data sources consisted of books, journals, and other literacy sources related to Dayah educational institutions and transformational leadership. Data analysis used was content analysis by determining, describing, and interpreting the data. The result indicated that to empower teungku quality, Dayah leaders carry out the management, guidance and development of all teungku in the intellectual, spiritual, emotional and social dimensions. To empower the quality of students, Dayah leaders organize all activities related to the students, from input to output, with a series of cognitive, affective, and psychomotor activities. Empowerment of administrative personnel, Dayah leaders take steps to develop self-potential, fostering and increasing performance productivity, including scientific, loyal, skilled, and evaluating their performance to be measured.Abstrak:Penelitian ini bertujuan untuk menjelaskan kepemimpinan transformasional Dayah dalam pemberdayaan masyarakat Dayah yang difokuskan pada pemberdayaan mutu teungku, santri, dan tenaga administrasi untuk pengembangan Total Quality Management (QTM). Metode penelitian yang digunakan adalah penelitian kepustakaan dengan pendekatan kepemimpinan transformasional pada lembaga pendidikan. Sumber data terdiri dari buku, jurnal, dan sumber literasi lainnya yang terkait dengan lembaga pendidikan Dayah dan kepemimpinan transformasional. Analisis data yang digunakan adalah content analysis dengan menentukan, mendeskripsikan, dan menginterpretasikan data. Hasil dari penelitian ini menunjukkan bahwa dalam memberdayakan mutu teungku, pimpinan Dayah melakukan pengelolaan, pembinaan, dan pengembangan terhadap seluruh teungku dalam dimensi intelektual, spiritual, emosional, dan social. Untuk memberdayakan mutu santri, pimpinan Dayah melakukan penataan segala aktivitas yang berkaitan dengan santri mulai dari input sampai dengan out put dengan serangkaian aktivitas cognitif, afektif, dan psikomotorik. Untuk memberdayakan tenaga administrasi, pimpinan Dayah melakukan langkah-langkah dengan usaha pengembangan potensi diri, pembinaan dan peningkatkan produktivitas kinerja yang meliputi keilmuan, loyal, terampil, dan mengevaluasi kinerjanya agar dapat terukur

    AFFECTIVE DOMAIN DEVELOPMENT: REALITY AND EXPECTATION

    No full text
    Pengembangan Ranah Afektif: Kenyataan dan Harapan. Pendidik masa kini mendambakan perhatian yang seimbang terhadap pengembangan ranah kognitif, psikomotorik dan afektif dalam mendidik generasi muda. Namun, di dalam pelaksanaannya sedikit sekali penghargaan yang diberikan kepada anak-anak yang telah menunjukkan perkembangan ranah afektif secara baik. Hal ini terjadi karena tolok ukur keberhasilan pendidikan selalu mengacu kepada prestasi siswa yang terkait dengan ranah kognitif atau psikomotorik. Selain itu, banyak contoh ambivalensi dalam kehidupan nyata di masyarakat yang dapat melemahkan pondasi bagi pengembangan ranah afektif. Apabila generasi muda diharapkan berkembang menjadi manusia seutuhnya, penghargaan yang layak seharusnya diberikan kepada mereka yang berhasil dalam mengembangkan ranah afektifnya, dan harus ada teladan yang dapat mereka acu. Selain itu, pendampingan perlu dilakukan oleh orang tua dan guru. Kata kunci : pengembangan ranah afektif, penghargaan, teladan, pendampinga

    PEMBELAJARAN PROJECT BASED LEARNING UNTUK MENINGKATKAN HASIL BELAJAR SISWA PADA PEMBELAJARAN IPAS KELAS V SEKOLAH DASAR (SD) NEGERI BLANG KUCAK

    Full text link
    He results of the preliminary observations in class V at SD Negeri Blang Kucak showed that many students had not reached the Minimum Completeness Criteria (KKM) in the IPAS subject. Therefore, an innovative approach is needed to increase student activity and learning outcomes. This study aims to describe teacher activities, student activities, and analyze student learning outcomes using the Project Based Learning (PjBL) model. This research is a Classroom Action Research (CAR) conducted in two cycles involving 13 students. Data were collected using observation sheets and tests. The results showed that teacher activity increased from 82.14% in the first cycle to 93.75% in the second cycle, and student activity increased from 77.86% to 94.64%. Student learning outcomes increased from 67.30% in the first cycle to 81.53% in the second cycle. The findings suggest that the implementation of the Project Based Learning model can improve student learning outcomes in IPAS for fifth-grade students at SD Negeri Blang Kucak
    corecore