1,721,741 research outputs found
Kepemimpinan Syaikh H. Bahruddin Thalib Lubis Dalam Bidang Pendidikan Di Sumatera Utara
Penelitian ini bertujuan untuk mengurai secara konprehenshif (1) Penerapan
Kepemimpinan Syaikh H. Bahruddin Thalib Lubis di Bidang Pendidikan (2) Pengaruh
dan Reputasi Kepemimpinan Syaikh H. Bahruddin Thalib Lubis di Bidang Pendidikan
(3) Dukungan Masyarakat Terhadap Kepemimpinan Syaikh H. Bahruddin Thalib Lubis
di Bidang Pendidikan (4) dan Kekuatan dan Kelamahan Kepemimpinan Syaikh H.
Bahruddin Thalib di Bidang Pendidikan.
Metode penelitian ini menggunakan kualitatif dengan jenis penelitian pustaka
(library research) dengan pendekatan semantik yang berarti kajian bahasa terdiri dari
struktur untuk menampakkan makna, saat makna dihubungkan dengan objek pada
pengalaman manusia. Sementara itu pendekatan kualitatif dengan menekankan teknik
deskriptif analisis pada proses komparasi kualitatif pustaka, terhadap dinamika hubungan
fenomena yang diamati dengan menggunakan logika ilmiah berdasarkan data observasi,
wawancara dan dokumentasi.
Maka penelitian ini menorehkan hasil; 1) Penerapan Kepemimpinan Syaikh H.
Bahruddin Thalib Lubis di Bidang Pendidikan; a) Syaikh berketurunan keluarga
terpandang dan terhormat dengan nuansa keilmuan agama Islam yang kokoh dengan
meneladani ulama pendahulunya, serta dicintai masyarakat di kagumi ulama sezamannya,
b) Syaikh berepemimpinan visionaris, ditandai dengan sistem pendidikan yang diterapkan
melampaui zamannya. 2) Pengaruh dan Reputasi Kepemimpinan Syaikh H. Bahruddin
Thalib Lubis di Bidang Pendidikan; a) Syaikh, berkaliber keilmuan yang sangat luas dan
malaupuai keilmuan dari rata-rata orang sezamannya, b) Syaikh berkarakter tegas,
konsisten serta disiplin. Keras bagi yang selah dan culas, lembut terhadap masyarakat
yang komimen dengan pendidikan dan ajaran keislaman. 3) Dukungan Masyarakat
Terhadap Kepemimpinan Syaikh H. Bahruddin Thalib Lubis di Bidang Pendidikan; a)
Syaikh sangat toleran dan terbuka menerima saran dan kritikan masyarakat, b) Syaikh
berproses pada dakwah dan pendidikan. berdakwah secara personal dan keoragnisasian.
Berpendidikan dengan kultural dan kelembagaan. 4) Kekuatan dan Kelamahan
Kepemimpinan Syaikh H. Bahruddin Thalib di Bidang Pendidikan; a) Kekuatan, karakter
postif, konsisten untuk fokus dalam misi dakwah dan pendidikan. Ulet dan pantang
menyerah dari terpaan problematika tatanan sosial berkehidupan, b) Kelemahan,
mengkaderisasi dan menregenerasi pada pendidikan yang berkelanjutan.
Kata Kunci: Kepemimpinan, Syaikh H. Bahruddin Thalib Lubis, Pendidika
Konsep amar maʻrūf nahi munkar k.h. Sholeh Bahruddin Pasuruan: perspektif tafsir kontemporer
Amar ma’rūf nahi munkar adalah misi pendirian pondok pesantren Ngalah yang diasuh oleh KH. Sholeh Bahruddin. Misi tersebut diwujudkan dengan meningkatkan SDM santri, membentuk karakter santri berakhlak mulia dan taat beribadah. Tiga hal tersebut merupakan tugas dan kewajiban seorang Kiai.Disertasi ini fokus pada tiga masalah, pertama, bagaimana konsep amar maʻrūf nahi munkar K.H. Sholeh Bahruddin?, kedua, bagaimana dampak konsep amar maʻrūf nahi munkar K.H. Sholeh Bahruddin terhadap masyarakat?, ketiga, bagaimana konsep amar maʻrūf nahi munkar K.H. Sholeh Bahruddin perspektif tafsir kontemporer?. Untuk menjawab tiga fokus masalah tersebut, dalam penggalian data penulis menggunakan metode wawancara tidak tersruktur, baik dari sumber utama maupun sumber tambahan. penulis menggunakan analisis tafsir kontemporer. Kesimpulan penelitian ini adalah: (1) Konsep amar ma’rūf nahi munkar KH. Soleh Bahruddin mencari teman tidak mencari lawan adalah dalam bentuk aksi (praktek), yaitu dengan mendirikan Pondok Pesantren dan lembaga, baik lembaga formal (PAUD, TK, MI, SMP, MTS, MA, SMA, SMK DAN UNIVERSITAS) maupun non formal (MADRASAH DINIYAH dan TAREKAT). (2) Dampak konsep amar ma’rūf nahi munkar KH. Sholeh Bahruddin mencari teman tidak mencari lawan ada dua, yaitu dampak positif dan dampak negatif baik internal maupun eksternal. Dampak positif internalnya adalah semakin bertambah banyaknya jumlah santri pondok pesantren dan jama’ah. Dampak negatifnya adalah menjadikan para santri dan jama’ah memiliki sifat fanatik. (3) Konsep amar maʻrūf nahi munkar K.H. Sholeh Bahruddin perspektif tafsir kontemporer adalah saling mendukung diantara keduanya. Amar maʻrūf nahi munkar dalam tafsir kontemporer berbentuk teoritis, sedangkan amar maʻrūf nahi munkar kiai Sholeh Bahruddin dalam bentuk aplikasi. Amar maʻrūf nahi munkar kiai Sholeh Bahruddin dalam bentuk aplikasi ini sesuai dengan penafsiran yang ada dalam tafsir kontemporer. Akan tetapi ada tiga perbedaan yaitu diawali dengan riyāḍah, adanya tarekat dan diakhiri dengan do’a bersama, tiga hal inilah yang berbeda dengan tafsir kontemporer
Resepsi makna manusia bermanfaat dalam hadis: studi naratif biografis Bahruddin Salatiga
Menjadi orang bermanfaat adalah perintah Allah dan Rasulnya. Meskipun di al-Qur’an hanya implisit namun di Hadis sangat eksplisit. Bahruddin adalah satu tokoh yang selalu berjuang untuk menjadi orang yang bermanfaat dan secara terang-terangan mengaku terinspirasi Hadis “Manusia terbaik adalah yang paling bermanfaat bagi orang lain.” Penelitian ini hendak menjawab pertanyaan 1) Bagaimana resepsi Bahruddin terhadap Hadis menjadi manusia bermanfaat? 2) Bagaimana posisi Bahruddin dalam puzzle sejarah yang mengelilinginya? 3) Bagaimana bentuk kestabilan yang akhirnya muncul setelah ada gerakan perubahan Bahruddin dalam upayanya menjadi manusia bermanfaat. Penelitian ini merupakan penelitian kualitatif dalam paradigma living Hadis. Data digali dengan wawancara secara mendalam kepada Bahruddin. Triangulasi dilakukan dengan wawancara multisource kepada beberapa orang yang menyaksikan perjuangannya dan dengan observasi langsung. Semua data dianalisis dengan pendekatan naratif, resepsi Hadis, sosiologi pengetahuan, historis biografis, Studi Islam Kritis, dan fungsionalisme struktural.
Hasil dari penelitian ini menunjukkan bahwa 1) Resepsi yang terbangun dalam diri Bahruddin adalah bahwa manusia bermanfaat itu memberi kontribusi kepada masyarakatnya. Karya dan inovasi menjadi indikatornya. Kemandirian menjadi fondasinya. Berpikir esensial menjadi kunci penyelesaian masalah. Gerakan sosial sebagai alat akselerasinya. Masyarakat terdekat harus diutamakan. Berjuang bersama-sama adalah jalan terbaik untuk ditempuh. Bahruddin kemudian melakukan kongkretisasi dalam beragam hal yang bermanfaat bagi orang lain. Wujud terbesarnya adalah Qaryah Thayyibah. 2) Dalam puzzle sejarah besar, Bahruddin menempati fungsi imperatif goal attainment pada empat struktur penyokong sistem sosial. Keempatnya adalah Koperasi Candak Kulak, sebagai tokoh masyarakat, Serikat Paguyuban Petani Qaryah Thayyibah, dan Komunitas Belajar Qaryah Thayyibah. 3) Keempat struktur tersebut telah stabil, kecuali Serikat Paguyuban Petani Qaryah Thayyibah yang sedang berada dalam proses penyesuaian. Masyarakat di sekitar Bahruddin tetap dalam kondisi stabil
Welcoming the neophytes / Badariah Bahruddin
Among the activities were a brief talk by the Rector and the Top Management of UiTM Perak Branch, an academic registration, an introduction to various departments and their functions, reli-gious talks, an introduction to students leaders (Majlis Perwakilan Pelajar or MPP) and an introduction to different college hostels. Students were assisted and monitored by the student facilita-tors throughout the orientation week
Teologi Islam Moderat Berbasis Intellectual Humility Kiai Sholeh Bahruddin: Perspektif Psikologi Positif
This study explores moderate Islamic theology with a focus on applying the concept of intellectual humility by Kiai Haji Sholeh Bahruddin. Intellectual humility is a humble attitude that acknowledges human knowledge's limitations. The purpose of this study is to explore how the principle of intellectual humility can influence Kiai Haji Sholeh Bahruddin's view of religion and society, as well as its positive impact from a positive psychology perspective. The research method used is a qualitative approach with a phenomenological approach. Data were obtained through in-depth interviews with Kiai Haji Sholeh Bahruddin, as well as analysis of documents related to his views on moderate Islamic theology. Data analysis was carried out in the following steps: first, identifying the beliefs and values of moderate Islamic theology as applied by Kiai Haji Sholeh Bahruddin; second, describing how intellectual humility is reflected in the approach and views of Kiai Haji Sholeh Bahruddin; third, analyze the positive impact of the application of intellectual humility in forming an inter-religious dialogue, tolerance, and harmonious relations in society. The results of this study reveal that Kiai Haji Sholeh Bahruddin applies intellectual humility in his interpretation and communication of Islamic teachings, which opens up space for more open interreligious dialogue and acceptance of different views. This research aims to support the importance of a moderate approach to religion and show that intellectual humility can be an important instrument in building an inclusive and harmonious society
PRAKTIK PEMIKIRAN INKLUSIF-SOSIAL KH M SHOLEH BAHRUDDIN NGALAH SEBAGAI MANIFESTASI PENDIDIKAN MULTIKULTURAL PESANTREN
Abstrak: Dalam sejarah hidupnya, praktik pemikiran inklusif-sosial Kiai Sholeh sangat dipengaruhi oleh beberapa hal. Pertama, atas perintah ayahanda dengan pesan seperti berikut: “sak temene dek pasar, dek masjid, dek dalan, kabeh iku dulurmu (sesungguhnya baik di pasar, di masjid, maupun di jalanan, di seluruh tempat itu ada saudaramu).” Kedua, penerapan teori Abraham, yakni mencontoh perilaku ayahanda KH M Bahruddin Kalam (almarhum) dan juga perilaku kakek KH M Kalam (almarhum). Ketiga, praktik dari rukun Tarekat Naqshabandiyah pada poin kelima dan keenam, yakni “ambugusi kabeh konco, cilik gede, lanang wadon, enom tuo, lan ambagusi kabeh makhluk (bergaul secara baik dengan semua teman, baik kecil maupun besar, laki-laki maupun perempuan, muda maupun tua, dan bergaul secara baik dengan semua makhluk).” Penelitian ini memfokuskan pada praktik pemikiran inklusif-sosial KH M Sholeh Bahruddin dengan model studi kasus, pendekatan yang dipakai adalah expose facto. Data diambil melalui observasi, wawancara serta dokumentasi. Penelitian menyimpulkan bahwa praktik pemikiran inklusif-sosial KH.. M. Sholeh Bahruddin sebenarnya mempertemukan misi perintah masing-masing agama (Islam, Kristen, Katolik, Budha dan Konghucu) untuk membangun perdamaian, keamanan dan memelihara kasih sayang bersama-sama dan meminimalisir terjadinya konflik agama.Abstract: In the history of his life, the practice of inclusive social thought by Kiai Sholeh greatly influenced by several things. First, on the orders of his father with the following message: “In the markets, in the mosques, as well as on the streets, all over the places there are your brothers.” Secondly, the application of Abraham’s theory, which was practiced by KH M Bahruddin Kalam, the father (deceased) of Kiai Sholeh, as well as KH M Kalam, the grandfather (deceased) of Kiai Sholeh. Third, the practice of the Naqshabandi pillars that say: “being good with all friends, both small and great, both men and women, young and old, and being good with all creatures). This study focuses on the practice of inclusive social thought of KH M Sholeh Bahruddin, and the approach used in this study is expose-facto. The data retrieved through observation, interviews and documentation. The study concluded that the practice of inclusive social thought of KH M Sholeh Bahruddin actually tries to unite each mission commanded by religions (Islam, Christianity, Catholicism, Buddhism and Confucianism) that establish peace and security, as well as maintain affection together and minimize religious conflicts
The Leadership of Shaikh H. Bahruddin Talib Lubis in the Education Sector
This research aims to answer the problems: (1) To comprehensively analyze the history and struggle of H. Syaikh Bahruddin Talib Lubis in establishing and carrying out his leadership in the field of education in madrasas in particular and the relevance of the education system in North Sumatra to date, (2) Providing color in the education system and development across generations of different ages and periods, as well as providing learning lessons for the importance of strengthening the foundations of educational leadership that cadres and regenerates. This research method uses qualitative library research with a semantic approach, which means that language studies consist of structures to reveal meaning, when meaning is connected to objects in human experience. Meanwhile, the qualitative approach emphasizes descriptive analysis techniques in the qualitative comparison process of literature, regarding the dynamics of relationships between observed phenomena using scientific logic based on observation data, interviews and documentation . Based on the qualitative comparative research process of literature, this research produces results; 1) Implementation of the Leadership of Shaikh H. Bahruddin Talib Lubis in the Education Sector; a) The Shaikh is descended from a prominent and respected family with a strong Islamic religious knowledge by emulating his predecessors, and is loved by the public and admired by his contemporary ulama. b) The Shaikh has visionary leadership, characterized by an education system that is implemented beyond his time. 2) Influence and Leadership Reputation of Sheikh H. Bahruddin Talib Lubis in the Education Sector; a) The Shaykh has a very broad scientific caliber and exceeds the scientific knowledge of the average person of his contemporaries, b) The Shaykh has a firm, consistent and disciplined character. Be tough on those who are wrong and deceitful, soft on people who are committed to education and Islamic teachings. 3) Community Support for the Leadership of Shaikh H. Bahruddin Talib Lubis in the Education Sector; a) The Shaikh is very tolerant and open to accepting suggestions and criticism from society, b) The Shaikh focuses on da'wah and education. preaching personally and organizationally. Educated culturally and institutionally. 4) Strengths and Weaknesses of Sheikh H. Bahruddin Talib's Leadership in the Education Sector; a) Strength, positive character, consistent focus in the mission of preaching and education. Resilient and never giving up from being hit by the problems of the social order of life, b) Weaknesses, cadre formation and regeneration in sustainable education
Going Beyond Counting First Authors in Author Co-citation Analysis
The present study examines one of the fundamental aspects of author co-citation analysis (ACA) - the way co-citation
counts are defined. Co-citation counting provides the data on which all subsequent statistical analyses and mappings
are based, and we compare ACA results based on two different types of co-citation counting - the traditional type that
only counts the first one among a cited work's authors on the one hand and a non-traditional type that takes into
account the first 5 authors of a cited work on the other hand. Results indicate that the picture produced through this non-traditional author co-citation counting contains more coherent author groups and is therefore considerably clearer. However, this picture represents fewer specialties in the research field being studied than that produced through the traditional first-author co-citation counting when the same number of top-ranked authors is selected and analyzed. Reasons for these effects are discussed
- …
