1,723,314 research outputs found

    Emergence of Agile Methods: Perceptions from Software Practitioners in Malaysia

    No full text
    Agile methods are an established process for developing software nowadays. There is, however, less evidence on its usage among software practitioners in Malaysia. While the methods have become mainstream in other regions, that is not the case in this country. This paper empirically investigates the perceptions of Agile methods usage from seven organisations involving 14 software practitioners in Malaysia. Our participants are using Scrum and have a maximum of five years experience. We categorised our findings in terms of awareness, introduction, and challenges they are facing, together with the suggested and practiced solution from them. Interestingly, a change in mind set when practicing Agile was identified to be helpful in reducing the challenges. Lastly we present the practices in Agile they perceived to deliver the most benefits. We found that the use of Agile is still emerging in the country, and awareness is still lacking especially within the government sector. Although several challenges have been encountered when introducing Agile in their organisations, the benefits of Agile are reported to be in Agile practices such as: the involvement from all parties from the beginning, daily stand-up meeting, iterative and incremental, applying burn down chart, sprint and continuous integration. We aim to provide awareness and knowledge about Agile methods to the practitioners in the country and the nearby region. This paper can serve as a reference to the early adopters who intend to use Agile methods in the future

    Peran dan Pemikiran Politik K.H.R. Asnawi

    Full text link
    Kiai adalah gelar non formal sekaligus pemimpin spiritual dan posisinya sangat dekat dengan kelompok-kelompok masyarakat di suatu wilayah. Kiai menjadi seseorang yang dituakan oleh masyarakat atau menjadi bapak masyarakat. Selain itu, kiai juga sebagai tokoh yang sangat berpengaruh dalam masyarakat, pemikiran-pemikiran nya banyak mempengaruhi pemikiran masyakarat. Kiai merupakan orang yang memiliki ilmu agama (Islam) dan amal yang sesuai dengan ilmunya. Ada definisi lain juga yang mengatakan kiai merupakan elemen yang paling esensial dari suatu pesantren. Kiai merupakan figur sentral dalam masyarakat. Beliau menjadi rujukan masyarakat dalam berbagai bidang kehidupan, mulai persoalan agama, sosial, politik, ekonomi hingga persoalan budaya. Oleh karena itu kiai tidak hanya berposisi sebagai pemegang pesantren, tetapi juga memiliki peranan untuk melakukan transformasi kepada masyarakat, seperti K.H.R Asnawi. Beliau adalah ulama yang disegani di kota Kudus. K.H.R. Asnawi dikenal oleh masyarakat karena memiliki keunggulan yang daya jangkaunya tidak saja di komunitas pesantren, namun juga menjangkau masyarakat luas di lapis paling bawah. Hal ini karena pilihan dakwahnya yang langsung ke masyarakat bawah. K.H.R Asnawi memilih menjadi da`i, mengambil tanggungjawab untuk mendidik umat yang lebih besar dengan menggarap santri perkotaan. Santri beliau merupakan masyarakat umum yang terbentuk melalui kelompok-kelompok pengajian. K.H.R. Asnawi tidak hanya berdakwah keluar, melainkan dari dalam, beliau pun mendirikan beberapa lembaga pendidikan seperti Pesantren Raudhat Al-Thalibin, Bendan-Kudus dan Madrasah Qudsiyah. Bahkan, kedua lembaga ini masih terus eksis hingga sekarang ini. K.H.R Asnawi juga sering diundang dalam pengajian-pengajian kampung di Kudus, hingga membuat aktivitas dakwahnya makin melebar. Melalui pendekatan dakwah yang demikian hasilnya mulai kelihatan dengan ditandai semakin islamis praktik-praktik keagamaan dalam kehidupan sehari-hari. K.H.R. Asnawi meninggalkan warisan bukan saja berupa lembaga pendidikan, tetapi juga karya-karya tulisan atau syi’ir. Beliau mengarang kitab-kitab yang sekarang masih dikaji dan di pelajari. Salah satu kitab yang masih di pelajari adalah Fashalatan, dan masih banyak lagi. Kiai Asnawi juga merupakan faqih, atau ahli dalam masalah syariat agama. Karakter beliau sangat tegas sehingga tidak banyak orang yang berani membantah, khususnya dalam hukum-hukum Islam. Ketegasan beliau ditempuh guna menghindari qaul dhoif (pendapat lemah) yang hanya menjadi batasan fadhoilu al ‘amal. Kyai Asnawi juga aktif dalam forum munadhoroh yang diselenggarakan oleh kyai-kyai Kudus. Dari data-data sejarah di atas paling tidak dapat penulis ungkap bahwa K.H.R Asnawi adalah tokoh di era awal kemerdekaan Indonesia. Beliau bersentuhan langsung dengan proses dan kondisi kemerdekaan di negeri ini. Kendati tidak berada di pusat ibu kota, dan berada di kota kecil, yakni di Kudus, tetapi keterlibatan beliau terhadap perpolitikan di negeri ini begitu terlihat. Pertama, beliau aktif di Sarikat Islam (SI) Kudus serta aktif di kepengurusan PBNU sejak berdiri NU hingga di era NU menjadi partai politik. Apalagi selama ini belum ada karya ilmiah spesifik yang menggali tentang peran politik K.H.R. Asnawi. Oleh karenanya, dalam konteks memperkenalkan K.H.R. Asnawi, maka sangat tepat apa yang telah dilakukan oleh Saudara Mc. Mifrohul Hana, dkk. Hal ini, menunjukkan betapa besar perjuangan para tokoh ulama seperti K.H.R Asnawi yang karismatik di nusantara yang juga menjadi pendiri Nahdlatul Ulama serta mempunyai karakter dan cara dakwah yang bisa dijadikan sebuah contoh untuk bermasyarakat pada zaman sekaran

    PEMIKIRAN ISLAM K.H.R. ASNAWI KUDUS (1916 – 1959)

    Full text link
    By using historical methods, this paper discusses about Islamic Thougt of K.H.R Asnawi Kudus from 1916 to 1959. K.H.R. Asnawi was born and enlarged in merchant environment at the same time in jelly pesantren’s tradition. Since young age, he studied in various ulama and pesantren. He have learnt and taught in Mecca for 22 years (1894-1916). Also in Mecca, he formed his intellectual network with numerous important ulamas in Nusantara. Islamic thought of K.H.R. Asnawi decanted in so many books and his poems, covering aqidah (tauhid), fiqh, and tasawuf, as according to conception of ahlussunnah wal jama'ah. In area of aqidah (theology), he hold on to conception that was formulated by Imam Al-Asy'ari and Imam Al-Maturidi, in area of fiqh (Islamic law), he followed madzhab of Imam Syafi'i, while in area of tasawuf (sufism), he followed orthodox sufism which formulated by Imam Junaid Al-Baghdadi and Imam Al-Ghazali. Key Words: ulama, tauhid, fikih, tasawuf, ahlussunnah wal jamaa

    PEMIKIRAN TEOLOGI ISLAM K.H.R ASNAWI DALAM KITAB JAWAB SOALIPUN MU’TAQOD

    Full text link
    Penelitian ini berfokus pada Pemikiran Teologi Islam oleh K.H.R Asnawi seorang tokoh ulama tradisional Kudus dalam salah satu karyanya Kitab Jawab Soalipun Mu’taqad. Kyai asnawi salah satu dari ulama yang memperjuangkan Islam ditengah-tengah para penjajah diawal abad 20. Beliau menuliskan kitab dengan judul Jawab Soalipun Mu’taqad, buku yang berisi tentang sifat-sifat Allah dan sifat sifat Rasulullah. Kitab ini ditulis dengan tujuan menanamkan nilai-nilai aqidah kepada masyarakat yang ketika itu sedang dijajah oleh Belanda dan disusul Jepang. K.H.R Asnawi menyebutkan Allah memiliki 20 sifat wajib, 20 sifat muhal, dan 1 sifat jaiz sedangkan rasul memilki 4 sifat yang wajib, 4 muhal dan 1 jaiz. Jumlah sifat yang mesti di imani terdapat 50 jika dijumlahkan. Menurut K.H.R Asnawi Kalimat ‘Laa ilaha Illa Allah wa Asyhadu Anna Muhammadar Rasulullah’ mencakup keyakinan kepada sifat sifat Allah yang 41 tersebut, serta 9 sifat sifat rasul. Kata kunci : Teologi Islam, K.H.R Asnawi, Kitab Jawab Soalipun Mu’taqad

    NILAI-NILAI PENDIDIKAN ISLAM DALAM KARYA-KARYA KH. R. ASNAWI

    Full text link
    This research is focus direction to study about Islamic education values in the KH. R. Asnawi field trip, wich written in the Jawab Soalipun Mu’taqod, Fsalatan and Syi’iran Nasehat holy books. Researcher is tried to bring interpretation toward KH. R. Asnawi think up with looking method his harmony and determine rationale. In the KH. R. Asnawi psychology contemplation and history it’s turn up initial by KH. R. Asnawi field trip. From this holy book too virified about values relevance with Islamic education goal. Researcher used the type of literature research to study in a dept and intensive manner about meaning which consist from that study with to do research approach according to interpretative-descriptive

    H. Asnawi Mangku Alam: Pemikiran dan Pengabdiannya Di Sumatera Selatan Tahun 1921-2001

    No full text
    This paper is entitled about H. Asnawi Mangku Alam\u27s Thought and Devotion in South Sumatra in 1921-2001. In this paper, he explains the biography of social life, environment and education, as well as the thoughts and dedication of the figure H. Asnawi Mangku Alam. This writing uses the historical method, with heuristic stages, source criticism, interpretation, and historiography. The theory used is the social exchange theory put forward by George Casper Homans and the habitus theory put forward by Pierre Bourdieu. H. Asnawi Mangku Alam is a local figure from South Sumatra who made a big contribution to independence. After studying, he devoted himself to being actively involved in the military field and playing a role in the struggle to defend Indonesia\u27s independence in the Palembang and Komering regions in 1947. As well as being a governor, Asnawi Mangku Alam was also the Ambassador for Burma and Nepal. The author describes three areas of contribution from the thought of H. Asnawi Mangku Alam when he was appointed governor of South Sumatra in 1968-1978, namely the fields of religion, economy and politics. As for some of the writings of H. Asnawi Mangku Alam and then the writer made the source in writing. Among them are a collection of Da\u27wah, a collection of sermons, a farmer\u27s son to become a governor, a 120 hour city war in Palembang, Padamu Lies Laitaul Qadar, Cita and Karya, as well as messages and impressions.Tulisan ini berjudul tentang Pemikiran dan Pengabdian H. Asnawi Mangku Alam di Sumatera Selatan Tahun 1921-2001. Dalam penulisan ini memenjelaskan tentang biografi mengenai kehidupan sosial, lingkungan, dan pendidikan, serta pemikiran dan pengabdian tokoh H. Asnawi Mangku Alam. Penulisan ini menggunakan metode sejarah, dengan tahapan heuristik, kritik sumber, interpretasi, historiografi. Adapun teori yang digunakan adalah teori pertukaran sosial di kemukakan oleh George Casper Homans dan teori habitus dikemukakan oleh Pierre Bourdieu. H. Asnawi Mangku Alam merupakan tokoh lokal dari Sumatera Selatan yang memiliki kontribusi besar untuk kemerdekaan. Pasca menempuh pendidikan, ia mengabdikan diri untuk terlibat aktif dibidang militer dan berperan dalam perjuangan mempertahankan kemerdekaan Indonesia didaerah Palembang dan Komering pada tahun 1947. Selain sebagai gubernur, Asnawi Mangku Alam juga pernah menjadi Duta Besar unutuk negara Birma dan Nepal. Penulis menguraikan ada tiga bidang kontribusi dari pemikiran H. Asnawi Mangku Alam ketika diangkat menjadi gubernur Sumatera Selatan pada tahun 1968-1978, yaitu bidang agama, ekonomi, dan politik. Adapun beberapa karya tulis H. Asnawi Mangku Alam dan selanjutnya penulis jadikan sumber dalam penulisan. Diantaranya ialah Kumpulan Dakwah, Kumpulan khotbah, Anak Petani Menjadi Gubernur, Perang kota 120 jam di Palembang, Padamu Terletak Laitaul Qadar, Cita dan Karya, serta Pesan dan Kesan

    Strategi dan metode dakwah KH. Muslihuudin Asnawi dalam pembinaan akhlak di desa Sidorejo

    Full text link
    Penelitian ini berjudul “Strategi Dan Metode Dakwah KH. Muslihuddin Asnawi Dalam Pembinaan Akhlak Di Desa Sidorejo Kecamatan Sedan Kabupaten Rembang”. Yaitu penelitian yang meneliti tentang Strategi Dan Metode Dakwah KH. Muslihuddin Asnawi Dalam Pembinaan Akhlak Di Desa Sidorejo, karena akhlak merupakan salah satu landasan dasar untuk membentuk umat manusia yang baik secara kualitas (dunia dan akhirat). Maka KH. Muslihuddin Asnawi mengadakan sesuatu yang bermanfaat, seperti dibidang agama, pendidikan dan usaha-usaha lain yang bisa membawa manfaat bagi masyarakat banyak, yaitu guna mewujudkan khairu ummat. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui (1) Strategi dakwah KH. Muslihuddin Asnawi dalam pembinaan akhlak di Desa Sidorejo Kecamatan Sedan Kabupaten Rembang. (2) Metode dakwah KH. Muslihuddin Asnawi dalam pembinaan akhlak di Desa Sidorejo Kecamatan Sedan Kabupaten Rembang. (3) Faktor pendukung dan penghambat keberhasilan dakwah KH. Muslihuddin Asnawi. Penelitian ini menggunakan metode penelitian kualitatif. Dan untuk memperoleh data-data tersebut peneliti melakukan observasi, wawancara langsung dengan KH. Muslihuddin Asnawi, keluarga, ustad, santri dan masyarakat, Serta peneliti juga melakukan teknik dokumentasi. Adapun hasil penelitian menunjukan bahwa: (1) Strategi dakwah yang digunakan KH. Muslihuddin Asnawi adalah: (a) Srtategi strategi pendidikan perspektif dakwah. (2) strategi kebudayaan Islam. (2) Sedangkan metode yang digunakan KH. Muslihuddin Asnawi adalah (a) metode ceramah (b) metode tanya jawab. (3) Sedangkan pendukung dan penghambat dari keberhasilan dakwah KH. Muslihuddin Asnawi adalah (a) Pendukungnya adalah: kepribadian da’i yang berakhlak baik, dalam penggunaan metode ceramah tidak memerlukan waktu yang banyak, serta melatih mad’u dalam mendengarkan ceramah. (b) Penghambatnya adalah: fanatisme terhadap peninggalan nenek moyang, kurang sesuainya metode yang digunakan oleh da’i. Mad’u kurang menangkap apa yang disampaikan oleh da’i

    Perjuangan K.H.R. Asnawi Kudus dalam Melawan Penjajah

    Full text link
    Kiai Asnawi merupakan sosok ulama yang menjaga dan melestarikan paham Ahlussunnah wal Jama’ah, terbukti dalam hal berjama’ah ditunjukkan dengan aktivitas keagamaan yang sangat lekat dengan tradisi ulama khas Timur Tengah dan Jawa. Peran beliau mencerdaskan kehidupan bangsa ialah mendirikan sebuah madrasah yang bernama Qudsiyyah. Dalam pengajaran di madrasah tersebut, untuk memperkuat akidah dan syari’at umat Islam, beliau mengarang sebuah kitab akidah yang bernama Mu’taqod Seket dan kitab fikih yang bernama Fasholatan. Tujuan dari penelitian ini ialah untuk lebih memahami nasab K.H.R. Asnawi Kudus, memaparkan pemikiran keagamaan beliau dan menjelaskan  perjuangan dakwah dan perlawanan beliau terhadap penjajah. Penelitian ini adalah penelitian kualitatif dengan jenis penelitian kepustakaan (library research). Kiai Asnawi merupakan seorang ulama kharismatik kelahiran Kudus, yang merupakan keturunan Sunan Kudus. Beliau dikenal sebagai orang yang cerdas, kritis, tegas dan galak. Beliau juga meupakan seorang aktivis sekaligus da’i. Pemikirian K.H.R Asnawi menjadi pengikut dan penyebar ajaran ahlussunnah wal Jama’ah. Hal itu termaktub dalam kitab dan syi’ir karangannya.yang meliputi akidah, fikih dan tasawuf. Perjuangan beliau dalam melawan penjajah baik Jepang maupun Belanda, beliau kobarkan dengan mendirikan dan mengikuti beberapa organisasi yang terkenal yaitu Nahdlatul Ulama dan Sarekat Islam. Dalam organisasi tersebut, beliau di SI pernah menjabat sebagai Komisaris di Makkah dan Penasehat di SI Kudu

    PERANAN SYEIKH KH. ASNAWI DALAM MENYEBARKAN AGAMA ISLAM DI CARINGIN-BANTEN TAHUN 1865-1937

    Full text link
    Skripsi ini berjudul “Peranan Syeikh KH. Asnawi dalam Menyebarkan Agama Islam Di Caringin-Banten Tahun 1865-1937” berisi mengenai kontribusi perjuangan yang dilakukan oleh KH. Asnawi dalam penyebaran agama Islam di Caringin-Banten tahun 1865-1937. Masalah utama yang dibahas dalam skripsi ini adalah adalah “Bagaimana Peranan KH. Asnawi dalam menyebarkan Agama Islam di Caringin-Banten pada Tahun 1865-1937 ?”. Masalah utama tersebut kemudian dibagi menjadi empat pertanyaan penelitian, yaitu (1) Bagaimana latar belakang kehidupan KH. Asnawi dalam menyebarkan agama Islam di Caringin-Banten? (2) Bagaimana upaya KH. Asnawi dalam menyebarkan agama Islam di Caringin-Banten? (3) Bagaimana perkembangan masyarakat Caringin-Banten setelah kedatangan KH. Asnawi dalam menyebarkan agama Islam?. Metode yang digunakan dalam penulisan skripsi ini adalah metode historis dengan langkah-langkah penelitian sebagai berikut: (1) Memilih topik yang sesuai; (2) Mengusut semua evidensi (bukti) yang sesuai dengan topik. Dalam hal ini, penulis mencari dan mengumpulkan data-data yang berhubungan dengan tokoh KH. Asnawi dengan menggunakan studi literatur atau studi kepustakaan dan wawancara; (3) Membuat catatan mengenai hal yang dianggap perlu dan relevan dengan topik yang ditentukan ketika penelitian sedang berlangsung; (4) Mengevaluasi secara kritis semua evidensi yang telah dikumpulkan (melalui kritik sumber). Kritik dilakukan terhadap semua sumber yang dihimpun peneliti mengenai KH. Asnawi untuk memperoleh data yang relevan; (5) Menyusun hasil-hasil penelitian (catatan fakta-fakta) ke dalam suatu pola yang benar dan berarti yaitu sistematika tertentu yang telah disiapkan sebelumnya. Catatan hasil penelitian disusun dalam sebuah sistematika baku yang berpedoman pada buku Pedoman Penulisan Karya Ilmiah UPI 2012; dan (6) Menyajikan dalam suatu cara yang dapat menarik perhatian kepada para pembaca sehingga dapat dimengerti dengan jelas. Teknik pengumpulan data yang digunakan adalah studi literatur dan wawancara. Studi literatur yaitu mengkaji sumber-sumber yang relevan dengan kajian penulis. Berdasarkan hasil penelitian didapat beberapa kesimpulan. Pertama, KH. Asnawi mempunyai pemikiran bahwa agama Islam merupakan ajaran yang jauh dari kemungkaran. Dengan cara memngingat Allah SWT melalui dzikir akan terhindar dari kemungkaran. Riwayat hidup KH. Asnawi, ia dilahirkan tahun 1850 M di Caringin yang berasal dari keluarga ulama. KH. Asnawi menempuh pendidikan di Mekah bahkan pada umur 12 tahun. Disanalah beliau mendapat bimbingan untuk mengaji berbagai cabang Ilmu Agama dari Syeikh Hasabullah Al-A’ma juga salah seorang Ulama Banten Syeikh Nawawi Tanahara. Kedua, langkah-langkah yang dilakukan KH. Asnawi dalam menyebarkan agama Islam di Caringin-Banten melalui ajaran tasawuf Qadiriyah wan Naqsibandiyah dan menggunakan metode dakwah. Ketiga dampak perjuangan yang dilakukan oleh KH Asnawi dengan ajaran Islam dari KH Asnawi membawa masyarakat Caringin-Banten sesuai dengan Syariat Islam selain itu dalam bidang pendidikan juga melalui pondok pesantren
    corecore