1,724,636 research outputs found
FARALIPBUTTER.MY / Siti Suraya Ashar
FARALIPBUTTER.MY is a cosmetics brand that provides cosmetics products to the customers. We are stockists under a company named Fara Hanim Beauty. It was founded by an influencer and TV Presenter, Fara Hanim Razak. First product produced by her is Faraalipbutter.
Faralipbutter is the main product by Fara Hanim Beauty and the stockists under the company. It is a lip care product that is unique and formulated as naturally as possible. This product offers moisture and healthy lips to the customers. It is also a safe product that contains good and natural ingredients and also avoids the ingredients that might be harmful to the consumer.
Our target audience is women, especially students, working women, wife, mother and many more. It is because this product is a cosmetics product which the consumer mostly is women.
Marketing strategy that is used by FARALIPBUTTER.MY is to offer customers free gift, discount and promotion during special occasions such as Hari Raya, Mother Day and International Women Day. It can attract regular customers to buy the product and also the first-time buyer that wants to try the product first.
At the moment, FARALIPBUTTER.MY is owned by Siti Suraya Binti Ashar as one of the stockists of Fara Hanim Beauty company. The business is using Facebook page as a platform to attract and promote customers online as more people are now using social media every day. The business is promoted by doing teaser, soft sell and hard sell on Facebook page postings
Takhrij Hadis Larangan Shalat Setelah Shalat ashar
Shalat merupakan ibadah paling utama yang diwajibkan bagi setiap muslim. Dalam al-Qur’an dan hadis banyak dalil yang menerangkan perintah agar manusia mendirikan shalat. Dalam praktiknya shalat dibagi menjadi dua macam, yaitu shalat fardu (wajib) dan shalat sunnah. Shalat fardu wajib dikerjakan lima waktu dalam dua puluh empat jam, sedangkan shalat sunnah dikerjakan diluar shalat fardu. Salah satu shalat sunnah yang dianjurkan oleh Rasulallah adalah shalat sunnah rawatib, yaitu shalat sunnah yang mengikuti shalat fardu dan dikerjakan sebelum dan setelah shalat fardu. Namun, terdapat dua waktu shalat fardu yang tidak ada shalat sunnah rawatib, yaitu setelah shalat subuh dan ashar dan pada dua waktu tersebut dilarang untuk mendirikan shalat yang berdasarkan hadis nabi saw.
Bagaimana shalat tahiyatul masjid, shalat sunnah wudhu, shalat jenazah jika dikaitkan hadis nabi tentang shalat setelah subuh dan ashar. Kajian ini menggunakan metode takhrij al-hadis bil lafdzi, Takhrij al-hadis digunakan untuk mengetahui letak hadis yang setema dalam kitab hadis lain.
Shalat yang dimaksud adalah shalat sunnah yaitu larangan shalat setelah subuh dan ashar. Maksud dari larangan adalah setelah shalat subuh sampai matahari meninggi dan setelah shalat ashar sampai matahari terbenam. Shalat tahiyatul masjid, shalat syukrul wudhu merupakan sebagian shalat sunnah yang tidak bergantung kepada waktu, dan boleh dilakukan kapan saja, begitu juga dengan shalat jenazah. Jika dikaitkan dengan hadis Nabi tentang larangan shalat setelah subuh dan ashar tidak terdapat pertentangan
Sejarah perkembangan yayasan al-Ashar Rungkut Kidul Surabaya (1981-2016)
Untuk mengetahui beberapa permasalahan yang terdapat dalam penelitian tersebut maka dirumuskan beberapa masalah antara lain: (1)Bagaimana sejarah berdirinya yayasan Al-ashar? (2)Bagaimana perkembangan yayasan Al-ashar 1981-2016? (3)Apa kontribusi yayasan Al-ashar terhadap peningkatan taraf hidup masyarakat? Skripsi ini menggunakan metode penelitian sejarah yang terdiri dari lima tahap yaitu pemilihan topik, heuristik (mencari dan mengumpulkan sumber), verifikasi atau kritik sumber (yang terdiri dari kritik ektern dan intern), interpretasi (penafsiran sumber), dan historiografi (penulisan sejarah). Metode pengumpulan data dilakukan dengan cara studi kepustakaan, studi lapangan atau wawancara dan studi kearsipan. Skripsi ini menggunakan pendekatan historis dan sosiologi, serta menggunakan teori Continuity and Change teory menurut Claire Holt. Hasil penelitian dari skripsi ini yaitu, (1) Yayasan Al-ashar berdiri pada tahun 1981, dimulai perintisanya pada tahun 1980 oleh H. Hilmy Nuchalawani beserta para pewaqof. (2) Yayasan Al-ashar mengalami perkembangan yang cukup pesat beberapa tahun ke belakang ini, pada beberapa aspek seperti perkembangan pengasuh, jumlah anak asuhan dan fasilitas yang disungguhkan.(3) Yayasan Al-ashar memiliki peran dan kontribusi dalam pendidikan yaitu adanya TPQ beserta kegiatan ketrampilan untuk anak asuhan, dalam bidang keagamaan memiliki peran dengan kegiatan-kegiatan agamis baik untuk anak asuhan maupun masyarakat sekitar dan untuk bidang sosial Yayasan PSAA Al-ashar bersosialisasi dengan membantu kaum dhuafa’, janda maupun masyarakat sekitar yang tidak mampu
PENERAPAN KEDISIPLINAN SHALAT ASHAR BERJAMAAH DI MADRASAH TSANAWIYAH DARUL ILMI LIANG ANGGANG BANJARBARU
MTs Darul Ilmi adalah salah satu madrasah yang menerapkan kedisiplinan
shalat ashar berjamaah kepada peserta didiknya. Namun masih banyak yang
melanggar disiplin ini dan juga waktu shalat ashar yang bersamaan dengan waktu
belajar juga membuat sebagian tidak shalat ashar berjamaah. Hal ini
melatarbelakangi penulis untuk meneliti permasalahan ini mengenai penerapan
kedisiplinan shalat ashar berjamaah di MTs Darul Ilmi.
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui penerapan kedisiplinan shalat
ashar berjamaah di MTs Darul Ilmi yang meliputi persiapan pelaksanaan shalat
ashar berjamaah, penerapan kedisplinan shalat ashar berjamaah, serta faktor yang
mempengaruhi kedisplinan shalat ashar berjamaah yang terdiri dari pengajar/guru,
peserta didik, sarana dan prasarana, serta lingkungan.
Penelitian ini menggunakan jenis penelitian lapangan (field research)
dengan pendekatan kualitatif. Metode yang digunakan adalah penelitian deskriptif.
Subjek dalam penelitian ini adalah Kepala Madrasah, guru, OSIS dan 6 siswa,
sedangkan objek penelitian ini adalah penerapan kedisiplinan shalat ashar
berjamaah serta faktor yang mempengaruhi kedisiplinan shalat ashar berjamaah di
MTs Darul Ilmi. Sumber data berasal dari responden, informan dan dokumen.
Teknik pengumpulan data menggunakan observasi, wawancara dan dokumentasi.
Setelah data terkumpul, selanjutnya diproses melalui editing, klasifikasi, dan
deskripsi lalu dianalisis secara deskriptif kualitatif dengan metode induktif.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa penerapan kedisiplinan shalat ashar
berjamaah di MTs Darul Ilmi dilaksanakan setiap hari. Guru melakukan berbagai
persiapan sebelum menerapkan kedisiplinan shalat ashar berjamaah, diantaranya
menentukan jadwal muadzin dan imam dibantu oleh OSIS, memberitahukan ketika
waktu ashar hampir tiba, memberhentikan pembelajaran sejenak, serta
memperhitungkan waktu untuk pembelajaran. Dalam pelaksanaannya penulis
mendapati masih ada beberapa pelanggaran yang dilakukan oleh sebagian peserta
didik sehingga bagi mereka yang melanggar akan diberikan hukuman. Faktor yang
mempengaruhi penerapan kedisiplinan shalat ashar berjamaah di MTs Darul Ilmi
yaitu pengajar/guru dalam mengarahkan peserta didik untuk melaksanakan shalat
ashar berjamaah, kedisiplinan peserta didik dalam mengikuti kegiatan shalat ashar
berjamaah, sarana dan prasarana yang menunjang kelancaran kegiatan shalat ashar
berjamah, serta lingkungan yang kondusif untuk pelaksanaan shalat ashar
berjamaah
PENGENDALIAN SOSIAL WAKA KESISWAAN PADA SISWA YANG TIDAK SHALAT ASHAR BERJAMAAH DI SMA ISLAMIYAH
AbstractThe thesis discussed “Pengendalian Sosial oleh Waka Kesiswaan Pada Siswa yang Tidak Melaksanakan Shalat Ashar Berjamaah di SMA Islamiyah Pontianak”. The problem of this research was that Social control by headmaster-vice by the student did not practice Ashar prayer in SMA Islamiyah Pontianak with the sub problems how the social control preventif, curative, repressive by headmaster-vice to the student did not practice Ashar prayer in SMA Islamiyah Pontianak. This research used descriptive method in qualitative. The result shoed that (1) preventive social control has been done by headmaster-vice. Before Ashar prayer, the vice-headmaster usually asked to the students and gave instruction to the students to Ashar prayer in the mosque; he gave verbally guidance when in Islam religion subject, and then counseled to his students that never Ashar prayer in the mosque. (2) Curative social control has been done by the vice-headmaster. The evidence that he would gave the warning to the students if they do not Ashar prayer together. (3) Repressive social control has been done by the vice-headmaster. The evidence that he would gave twice punishment to the students if they do not Ashar prayer together in the mosque.Keywords: Ashar Prayer together, Social Control, the students, the Vice-Headmaste
Ashar Farooq, COVID-19 reflection and images, 2020 March - June
For more information about this item, visit https://archivesspace.mit.edu/repositories/2/archival_objects/350231Description by the author "One written document presents a short introductory summary about the shift to quarantine and its impact on my schedule. This also talks about the intersection of quarantine with the month of Ramadan. This was written around June 2020 as a reflection. These experiences took place in Huntington Station, New York. 8 photographs are a mix of on-campus immediately leading up to the departure from campus. Those last days before Pi Day 2020, the day I left campus, were captured by interacting with friends and campus happenings for the last time for a while. Some photographs depict the state of my MIT Masee Hall dorm room after packing everything up in a hurry and clearing out the room. Some photographs depict the iconic Purell stand that seemingly took over MIT's campus in March of 2020. The photographs at home are from Huntington Station, NY in my room as this has become the place of work, learn, and mostly everything during the qurantine period.
Unveiling the Cultural Impact of 'Ashar': A Societal Perspective
‘Ashar’, also referred to as Hashar, stands as a prevalent tradition deeply ingrained within Afghan culture, characterized by collective voluntary labor directed towards specific communal tasks or projects. This research endeavors to delve into the urgent necessity of addressing the potential decline of this significant social activity and to propose diverse solutions for its preservation. With its unique capacity to nurture unity and cohesion among communities, ‘Ashar’ yields a myriad of benefits that resonate across individuals and groups. Even the simplest act of aiding a single person exemplifies the profound impact and intrinsic value of this communal tradition. Through an exploration of its multifaceted implications, this study aims to illuminate the critical importance of safeguarding ‘Ashar’ to perpetuate its invaluable contributions to Afghan society
Pengaruh Plus-minus bayang-bayang matahari terhadap penerusnya waktu shalat dzuhur dan ashar
This study discusses the shadow of the sun with the main problem, namely whether the plus-minus of the shadow of the sun affects the determination of the time of dzuhur and ashar prayers? The author uses a qualitative type of descriptive research with syar'i shorts based on the Qur'an and hadith as well as an astronomical approach by making direct observations using the istiwa' stick to find out the shadow of objects during dzuhur and ashar prayers. This method of determining the time of prayer using the shadow of the sun and the istiwa stick tool is considered that the resulting level of accuracy is very high. And it can be used as an alternative in determining the time of dzuhur and ashar prayers with the shadow of the sun. As for this study, we must pay attention to the plus-minus where what is meant is when the weather is cloudy and sunny which can be used as a standardization in determining the time of dzuhur and ashar prayers. Researchers hope that in the future, they will increase knowledge related to the influence of plus-minus solar shadows on determining the time of prayers dzuhur and ashar yan can be used as a reference in determining the time of prayer, the most important thing is that the object has a shadow in this case the sun. This study discusses the shadow of the sun with the main problem, namely whether the plus-minus of the shadow of the sun affects the determination of the time of dzuhur and ashar prayers? The author uses a qualitative type of descriptive research with syar'i shorts based on the Qur'an and hadith as well as an astronomical approach by making direct observations using the istiwa' stick to find out the shadow of objects during dzuhur and ashar prayers. This method of determining the time of prayer using the shadow of the sun and the istiwa stick tool is considered that the resulting level of accuracy is very high. And it can be used as an alternative in determining the time of dzuhur and ashar prayers with the shadow of the sun. As for this study, we must pay attention to the plus-minus where what is meant is when the weather is cloudy and sunny which can be used as a standardization in determining the time of dzuhur and ashar prayers. Researchers hope that in the future, they will increase knowledge related to the influence of plus-minus solar shadows on determining the time of prayers dzuhur and ashar yan can be used as a reference in determining the time of prayer, the most important thing is that the object has a shadow in this case the sun. This study discusses the shadow of the sun with the main problem, namely whether the plus-minus of the shadow of the sun affects the determination of the time of dzuhur and ashar prayers? The author uses a qualitative type of descriptive research with syar'i shorts based on the Qur'an and hadith as well as an astronomical approach by making direct observations using the istiwa' stick to find out the shadow of objects during dzuhur and ashar prayers. This method of determining the time of prayer using the shadow of the sun and the istiwa stick tool is considered that the resulting level of accuracy is very high. And it can be used as an alternative in determining the time of dzuhur and ashar prayers with the shadow of the sun. As for this study, we must pay attention to the plus-minus where what is meant is when the weather is cloudy and sunny which can be used as a standardization in determining the time of dzuhur and ashar prayers. Researchers hope that in the future, they will increase knowledge related to the influence of plus-minus solar shadows on determining the time of prayers dzuhur and ashar yan can be used as a reference in determining the time of prayer, the most important thing is that the object has a shadow in this case the sun.  
Uji akurasi mujtama'aini dalam penentuan awal waktu Shalat Ashar
Mujtama’aini karya Fika Afhamul Fuscha, Youla Afifah Azkarrula, Moch. Mailan Nahdloh. Alat ini merupakan alat baru yang memiliki banyak fungsi seperti dalam penentuan arah kiblat, penentuan deklinasi matahari, penentuan equation of time, penentuan awal waktu shalat, mengetahui ketinggian benda langit dan memiliki fungsi-fungsi lainnya.
Dalam penetapan awal waktu shalat, data posisi matahari dalam koordinat horizon terutama ketinggian atau jarak zenit sangat dibutuhkan. Hal tersebut mengindikasikan bahwa penetapan awal waktu Ashar dimulai ketika panjang bayangan suatu benda sepanjang dua kali panjang benda aslinya ditambah dengan panjang bayangan saat kulminasi. Hal inilah yang menjadi landasan oleh peneliti untuk meneliti dan mengkaji lebih dalam tentang penentuan awal waktu shalat Ashar, karena shalat Ashar memiliki bebereapa perbedaan pendapat antara para ulama’ dan fuqaha’. Dalam penelitian ini Peneliti menggunakan jenis penelitian lapangan (field research) dengan pendekatan penelitian kualitatif.
Dari penelitian ini peneliti menemukan bahwa Mujtama’aini kurang akurat dalam penentuan awal waktu ashar karena peneliti menemukan selisih 3 menit, sedangkan waktu ikhtiyat hanya bernilai 1-2 menit. pada data waktu perkiraan Ashar tanggal 22 Mei yaitu 13 detik pada instrumen mujtama’aini 14:57:47,39 yang kemudian dibulatkan menjadi 14:58 WIB sedangkan jadwal pada BIMAS Islam menunjukkan 14:57 WIB. Kemudian, selisih tertinggi data pada tanggal 25 Mei memiliki
selisih 2 menit 5 detik pada instrument Mujtama’aini menunjukkan 14:58:55.92 WIB dan pada jadwal BIMAS Islam menunjukkan
14.57 WIB. Selanjutnya, pada data observasi saaat waktu Ashar selisih tertinggi terdapat pada tanggal 21 Mei yaitu pukul 14:55:23 WIB, kemudian dibulatkan 14.55 WIB pada hasil hisab mujtama’aini dan pukul 14:58:36 WIB kemudian di bulatkan 14.58 pada hasil panjang bayangan menggunakan waktu BIMAS Islam dengan selisih keduanya 3 Menit 12 detik. Kemudian selisih waktu terendah terdapat pada tanggal 22 Mei yaitu pukul 14:58:19 WIB dengan selisih 1 menit 57 detik pada hasil panjang bayangan instrumen mujtama’aini dan pada hasil panjang bayangan waktu BIMAS Islam yaitu pukul 14:56:44 WIB
- …
