558 research outputs found
Konsep Kafir dalam Alquran: Studi Atas Penafsiran Asghar Ali Engineer
Konsep kafir pada umumnya hanyalah berbicara tentang penolakan keyakinan terhadap Allah Swt. dan Muhammad saw. Asghar Ali Engineer salah satu pemikir Islam kontemporer menawarkan konsep baru tentang kafir. Penafsiran Asghar terhadap alquran atas konsep kafirnya sangat menarik. Hal ini tidak lain karena kebaruannya. Dalam penafsirannya, Asghar sangat terpengaruh oleh teologi pembebasan. Penelitian ini bertujuan untuk menentukan hasil penafsiran Asghar atas konsep kafirnya. Penelitian ini adalah kajian kepustakaan, oleh karena itu metode yang penulis gunakan adalah studi pustaka atau library research. Sumber data untuk penelitian ini adalah buku-buku karya Asghar dan sumber-sumber lain yang relevan dengan fokus penelitian. Berdasakan hasil penelitian, konsep kafir dalam penafsiran Asghar sangat transformatif. Menurutnya, kafir adalah bukan saja mereka yang tidak beriman secara formal kepada Allah Swt. dan Muhammad saw. serta yang lainnya, tetapi juga secara tidak langsung menantang terhadap terciptanya masyarakat yang adil dan egaliter yang bebas dari segala bentuk eksploitasi dan penindasan, dalam artian mereka yang tidak mendukung terciptanya masyarakat yang adil dan egaliter, tidak membela kaum yang lemah dan tertindas.
Keywords: Alquran, Tafsir, Teologi Pembebasan, Kafir, Asghar Ali Enginee
Gender roles attitude among high school teachers of Lahore, Pakistan: traditional vs. egalitarian
The gender roles attitude is behaviour towards allocated roles to males and females in a society or culture at a particular time. Teachers significantly influence shaping gender roles and attitudes in students and parents. The study is designed to investigate gender roles and attitudes among high school teachers. The study is focused on the positivist trend of quantitative research, and a cross-sectional survey was applied. The main objective is to examine gender roles and attitudes, both traditional and egalitarian, among teachers from Govt. higher secondary schools in Lahore, Pakistan. A multi-stage stratified random sampling procedure sampled a total of N=304 teachers. A gender roles attitude scale was adopted for data collection on traditional and equalitarian gender roles attitudes. Statistical independent t-tests and frequencies/percentages were applied to investigate the data and were systematically tabulated. The findings showed substantial variances in the attitudes of female and male teachers toward gender roles, as female teachers showed an egalitarian attitude toward gender roles. In contrast, male teachers showed a traditional gender roles attitude. The study recommended that awareness campaigns be organised at the school level, and the media should raise awareness about gender roles and attitudes among people
Takdir Perempuan (STUDI ATAS PEMIKIRAN ASGHAR ALI ENGINEER)
Ahmad Maulani: TAKDIR PEREMPUAN (STUDI ATAS PEMIKIRAN ASGHAR ALI ENGINEER), Pembimbing I Drs. Abd. Sani, M. Pd Pembimbing II Dr. M. Rusydi, M. Ag
Kata Kunci: Takdir Perempuan, Asghar Ali Engineer
Masalah ini diangkat karena takdir perempuan untuk menjadi setara dengan laki-laki tanpa ada subordinasi. yang banyak menjadi perdebatan baik itu dalam Al-Qur’an maupun secara global. Permasalahan yang diteliti adalah bagaimana Bagaimana konsep takdir perempuan menurut Asghar Ali Engineer. Tujuan yang ingin dicapai dalam penelitian ini adalah untuk mengetahui pemikiran Asghar Ali Engineer tentang takdir Perempuan berdasarkan analisis teologi Islam. Penelitian ini merupakan penelitian kepustakaan (library research) di mana sumber-sumber datanya diperoleh dari buku-buku dan tulisan Asghar Ali Engineer. Kemudian data itu dianalisis dengan menggunakan metode deskriftif kualitatif.
Asghar Ali Engineer adalah seorang feminis India yang melontarkan berbagai ide tentang pembebasan perempuan. Asghar mencoba menunjukkan alternatif tafsiran atas beberapa ayat Al-Qur’an yang selama ini digunakan untuk mengekalkan subordinasi perempuan, yakni berkaitan dengan posisi perempuan dalam keluarga, poligami, hak waris, kesaksian.
Dalam perspektif teologi Islam, posisi pemikiran asghar tentang takdir perempuan, adalah dia tidak sepakat dengan para teolog abad pertengahan yang memusatkan kajian pada konsep akhirat. Baginya hal itu merupakan reduksi agama menjadi murni oleh spiritual yang tidak mempunyai muatan kemasyarakatan. Dari pokok-pokok pemikiran di atas inilah yang melandasi Engineer untuk mengkonstruksi teologi pembebasan dalam Islam. Tujuan dasarnya adalah persaudaraan yang universal, kesetaraan, dan keadilan sosial. Ciri yang membedakan teologi pembebasan Islam dan sistem teologi lain. Pertama, berangkat dari realitas kekinian, didunia ini, kemudian baru kehidupan akhirat. Kedua, teologi ini tak akan mendukung status quo, bahkan akan selalu menjadi antitesis kemapanan, baik yang bersifat politik maupun keagamaan. Ketiga, ia akan menjadi ideologis bagi masa tertindas untuk menghadapi penindas, khususnya subordinasi terhadap perempuan Keempat, teologi ini menekankan adanya pengakuan terhadap perlunya memperjuangkan secara serius problem polaritas spiritual material kehidupan manusia dengan penyusunan kembali tatanan sosial sekarang ini menjadi tatanan yang tidak eksploitatif, adil dan egaliter
Teologi Pembebasan dalam Pendidikan Islam Perspektif Asghar Ali Engineer
DEDEH AZIZAH :Teologi Pembebasan dalam Pendidikan Islam Perspektif
Asghar Ali Engineer.
Dalam halmencerdaskan kehidupan bangsa pemerintah melalui
pendidikan berupaya untuk dapat menghasilkan insan-insan yang berkualitas,
akan tetapi apa yang terjadi jika pendidikan justru ditumpangi oleh kepentingan kepentingan sehingga tidak membebaskan anak didiknya dan menghasilkan
kehidupan yanglebih baik. Inilah yang belakangan sering terjadi. Pendidikan
hanya sekedar mencerdaskan sisi intelektual saja. Anak didik tidak dibebaskan
menjadi manusia seutuhnya.Menurut pandangan teologi pembebasan, pendidikan
islam harus mampu menghasilkan manusia yang mengambil peran dalam sistem
sosial yang mengedepankan keadilan sebagai warga negara dan warga dunia
dalam pandangan agama (manusia yang adil, tidak tertindas) yang dirusak oleh
manusia sendiri.
Dari paparan di atas, penulis ingin mengetahui lebih luas dan lebih
dalam tentang teologi pembebasan yang dikemukakan oleh tokoh-tokoh teologi
terutama tokoh Islam,maka penulis merasa tertarik untuk melakuakan penelitian
“Teologi Pembebasan dalam Pendidikan Islam Perspektif Asghar Ali Engineer”.
Rumusan masalah penelitian ini adalah : 1. Apa makna Teologi
Pembebasan dalam Pendidikan Islam? 2. Bagaimana Teologi Pembebasan
Persepektif Asghar Ali Engineer? 3. Bagaimana Implikasi Teologi Pembebasan
Bagi Pendidikan IslamPersepektif Asghar Ali Engineer?
Penelitian ini dilakukan dengan penelitian literatur ( Library research
).Metode penelitiannya mencakup sumber data, pengumpulan data, dan analisis
data.
Hasil penelitian disimpulkan bahwaTeologi Pembebasan dalam
Pendidikan Islam menurut Asghar Ali Engineer adalah diartikan sebagai
kebebasan yang menitik beratkan pada aspek akal atau konstruk berpikir dalam
menafsirkan kitab (teks suci).Metode pemikiran Asghar bersifat normatif,
kontekstual dan transendental.Implikasi Teologi Pembebasan Bagi Pendidikan
Islam diantaranya; Pendidikan Islam Merupakan Praktik Pembebasan,
Pengembangan kurikulum dilakukan searah dengan perkembangan faktor Non Kurikulum, antara lain akibat perubahan ekonomi, politik, sosial, budaya, hukum
dan lain-lain, termasuk faktor akademik kurikuluymnya, Asghar Ali Engineer
memandang Qur’an, sebagaimana teks-teks lain, bisa diinterpretasikan dengan
berbagai metode
TEOLOGI PEMBEBASAN DALAM PERSPEKTIF ASGHAR ALI ENGINEER
Usaha untuk menghidupkan kembali wacana teologi yang lebih rasional praksis dikalangan pemikir-pemikir Islam masih menjadi pekerjaan yang serius terutama jika dikaitkan dengan paham Jabariyah-fatalistis yang slama ini dianggap melahirkan sikap pasif, pasrah dan menyerah terhadap suratan takdir.
Dasar konteks ini pesan keadilan dan anti-kezaliman tuhan yang dibawa oleh agama menjadi kering adanya.
Salah satu pemikir Islam yang mempunyai perhatian besar terhadap persoalan diatas adalah Asghar Ali Engineer, seorang sarjana yang dikenal adalah sosok yang mcmpunyai perhatian besar tcrhadap problematika social dan pembebasan. Menurut Asghar memahami teologi dalam Islam tidak harus melulu ngurusi Tuhan, tetapi bagaimana teologi itu hidup di tengah-tengah masyarakat untuk berdialog dengan masalah sosial, politik, ekonomi sehari-sehari dan
menjadi spirit bagi terciptanya tatanan masyarakat yang adil. Bukan sebagai teologi yang terpisah dalam kehidupan, tetapi yang menyatu dengan kehidupan itu sendiri, maka pertanyaan yang muncul kemudian adalah bagaimana teologi seharusnya dipahami dalam Islam menurut Asghar? Dalam hal ini adalah Teologi pembebasan.
Fokus dalam penelitian ini sendiri adalah lebih kepada ide pemikiran Asghar Ali Engineer tentang Teologi Pembebasanya dan bagaimana ide itu dijadikan perangkat analisis terhadap persoalan-persoalan dehumanisasi terutama masalah kemiskinan, ketertindasan dan ketidakadilan dalam masyarakat, yang dalam konteks ini adalah Islam di Indonesia. Sedangkan jenis penelitaian ini adalah penelitian kepustakaan yaitu dengan mengumpulkan semua data baik
primer maupun sekunder dan analisis data terhadap wacana Teologi Pembebasan Asghar Ali Engineer dengan menggunakan pendekatan sosiologi pengetahuan yang pertanyaan mendasar dalam pendekatan ini adalah apa dasar pertimbangan intelektual ( ideologi, sosiologi, ekonomi, dan lain-lain) dalam menghasilkan prodak pemikiran.
Teologi pembebasan sendiri menurut Asghar adalah teologi yang berusaha memaknai kembali konsep kunci dalam Islam yaitu Tauhid, Jihad, Sabar, Iman, dan Kafir, agar sesuai dengan konteksnya dan kebutuhuan zaman. Teologi yang ciri utamanya adalah berusaha secara serius memperjuangkan problem bipolaritas spiritual-material kehidupan manusia dengan menyusun kembali mcnjadi tatanan yang tidak eksploitatif. Teologi Pembebasan menurut Asghar adalah teologi yang tidak sepi dari orientasi sosial dan teologi yang tidak tidur disaat umat membutuhkanya. Untuk konteks Islam Indonesia sendiri tentunya teologi pembebasan akan menjadi wacana altematif sekaligus menjadi pisau analisis di tengah-tengah maraknya globalisasi dan modemisasi yang membuatnya menjadi Negara yang terkorup dengan urutan yang mengkhawatirkan sekaligus menjadi Negara yang merasa kesulitan dalam mengurangi angka kemiskinan. Hadirnya teologi pembebasan dalam wacana Islam Indonesia tentunya akan member secercah harapan untuk keluar dari segala bentuk penyelewengan kemanusiaan
Teologi Pembebasan Dalam Pendidikan Islam Perspektif Asghar Ali Engineer
According to the view of liberation theology, Islamic education must be able to produce people who take a role in the social system that promotes justice as citizens and citizens of the world in the view of religion (just, not oppressed) who are damaged by humans themselves. From the explanation, the author was interested in conducting a study "Liberation Theology in Islamic Education Perspective of Asghar Ali Engineer".The formulation of the research problem is: 1. What is the meaning of Liberation Theology? 2. What is the Asghar Ali Engineer's Perspective Liberation Theology? 3. How is the Liberation Theological Implication for Islamic Education Asghar Ali Engineer Perspective? This research was conducted with literature research. His research methods include data sources, data collection and data analysis. The results of the study concluded that the Liberation Theology according to Asghar Ali Engineer was interpreted as freedom that emphasizes the aspect of reason or construct of thinking in interpreting the book (holy text). For him, theology is a reflection of existing social conditions, and thus a theology is socially constructed. Asghar's method of thinking is normative and transcendental. Theological Implications of Liberation for Islamic Education include; Islamic Education is a practice of liberation, curriculum development is carried out in line with the development of non-curriculum factors, including the effects of economic, political, social, cultural, legal and other changes, including the academic factors of the kurikuluym, Asghar Ali Engineer views the Qur'an, as well as the text other texts, can be interpreted by various methods.Menurut pandangan teologi pembebasan, pendidikan Islam harus mampu menghasilkan manusia yang mengambil peran dalam sistem sosial yang mengedepankan keadilan sebagai warga negara dan warga dunia dalam pandangan agama (manusia yang adil, tidak tertindas) yang dirusak oleh manusia sendiri. Dari paparan tersebut penulis merasa tertarik untuk melakuakan penelitian “Teologi Pembebasan dalam Pendidikan Islam Perspektif Asghar Ali Engineerâ€. Rumusan masalah penelitian ini adalah : 1. Apa makna Teologi Pembebasan? 2. Bagaimana Teologi Pembebasan Persepektif Asghar Ali Engineer? 3. Bagaimana Implikasi Teologi Pembebasan Bagi Pendidikan Islam Persepektif Asghar Ali Engineer? Penelitian ini dilakukan dengan penelitian literatur (Library research). Metode penelitiannya mencakup sumber data, pengumpulan data, dan analisis data. Hasil penelitian disimpulkan bahwa Teologi Pembebasan menurut Asghar Ali Engineer adalah diartikan sebagai kebebasan yang menitik beratkan pada aspek akal atau konstruk berpikir dalam menafsirkan kitab (teks suci). Baginya, teologi adalah refleksi dari kondisi sosial yang ada, dan dengan demikian suatu teologi adalah dikonstruksi secara sosial. Metode pemikiran Asghar bersifat normatif, kontekstual dan transendental. Implikasi Teologi Pembebasan Bagi Pendidikan Islam diantaranya; Pendidikan Islam Merupakan Praktik Pembebasan, Pengembangan kurikulum dilakukan searah dengan perkembangan faktor Non-Kurikulum, antara lain akibat perubahan ekonomi, politik, sosial, budaya, hukum dan lain-lain, termasuk faktor akademik kurikuluymnya, Asghar Ali Engineer memandang Qur’an, sebagaimana teks-teks lain, bisa diinterpretasikan dengan berbagai metode
Konsep kesetaraan gender Asghar Ali Engineer : perspektif teori keadilan John Rawls
Di Indonesia, ketidaksetaraan gender masih terjadi di masyarakat pedesaan khususnya pedalaman. Dalam kenyataannya, laki-laki dan perempuan dalam hal tingkatan pendidikan sudah setara, namun partisipasi di lapangan masih sedikit. Misal dalam kepemimpinan, perempuan masih sedikit andil dikarenakan banyak kecaman kaum Islam konservatif bahwa perempuan tidak diperbolehkan menjadi pemimpin. Sedangkan dalam masalah yang lain yaitu pembuatan akta tanah dalam pengurusan akta tanah Letter C yang dulunya dalam jual beli tanah masih menggunakan hukum adat. Islam yang dipahami oleh masyarakat desa yang masih konservatif memahami bahwa perempuan menjadi seorang pemimpin maupun dalam hal kesaksian masih letter lux dengan dogma agama. Hal di atas sama halnya dengan wacana Asghar Ali Engineer terkait masalah tersebut, penulis menganalisis kesetaraan tersebut dengan Teori Keadilan dari John Rawls..
Untuk mengkaji penelitian ini, peneliti menggunakan metode yang bersifat analisis deskriptif, yang menjelaskan mengenai kesetaraan gender Asghar Ali Engineer, kemudian dianalisis dengan menggunakan teori keadilan dari John Rawls. Metode penelitian yang digunakan adalah kepustakaan, dengan kesetaraan gender Asghar Ali Engineer dari buku Hak-hak Perempuan dalam Islam sebagai sumber utama dan dianalisis dari pendapat John Rawls mengenai konsep keadilan dalam bukunya Teori Keadilan.
Hasil dari analisis kesetaraan gender Asghar Ali Engineer dalam teori keadilan John Rawls:
1.Posisi asali, laki-laki maupun perempuan diberikan hak setara sesuai dengan kodrat awalnya.
2.Selubung ketidaktahuan laki-laki maupun perempuan meniadakan perbedaan yang dimiliki seperti kekayaan, jabatan dan kekayaan.
3.Equal Liberty Principle, dalam masalah kepemimpinan maupun kesaksian menurut prinsip pertama, laki-laki maupun perempuan berhak memilih dan dipilih, berhak menjadi saksi.
4.Inequality Principle, dalam masalah kepemimpinan maupun kesaksian hak laki-laki maupun perempuan hal tersebut dibedakan karena memang peran vital.
5.Keadilan sebagai kesetaraan versi Asghar adalah keadilan yang dapat menyelesaikan masalah kepemimpinan dan kesaksian secara adil tanpa ada pihak yang merasa dirugikan.
Implementasi dari keadilan yang setara tidak selalu seimbang. Namun, Keadilan yang setara adalah adil sesuai dengan porsi dan tidak merugikan banyak pihak
Pembaharuan Diskursus Teologi Islam: Studi atas Pemikiran Asghar Ali Engineer
Islam has undergone significant changes and has disregarded these values. The liberation theology formulated by Asghar Ali Engineer is a necessity to awaken Muslims from stagnation and to realize the inherited values of justice from Prophet Muhammad (PBUH). Furthermore, liberation theology serves as a critique of traditional scholars who prioritize metaphysical issues and neglect human concerns. Therefore, this study aims to provide a comprehensive analysis of the theology of liberation constructed by Asghar Ali Engineer. The qualitative method, specifically a literature review, is employed in this research. The qualitative approach allows researchers to deeply comprehend and elucidate the concepts within liberation theology through the analysis of relevant texts. The primary data sources for this study consist of the writings of Asghar Ali Engineer and other related works on liberation theology. The findings of this study reveal three key points in the construction of Asghar Ali Engineer's liberation theology. Firstly, the concept of tawhid is interpreted as the unity of humanity, emphasizing that all individuals are fellow believers and share equal rights and dignity. Secondly, the liberation movement should be grounded in strong faith to advocate for justice and confront oppressive rulers. Lastly, Asghar Ali Engineer's liberation theology emphasizes the importance of economic justice in liberating the exploited lower class from an unjust capitalist system.
Abstrak
Islam saat ini telah mengalami perubahan secara total dan mengabaikan nilai-nilai tersebut. Teologi pembebasan yang dirumuskan oleh Asghar Ali Engineer merupakan suatu keniscayaan untuk menyadarkan umat Islam dari kejumudan dan merealisasikan nilai-nilai keadilan yang diwariskan oleh Nabi Muhammad Saw. Selain itu, teologi pembebasan menjadi kritik bagi kalangan ulama tradisional yang hanya mengutamakan persoalan metafisika dan mengabaikan persoalan kemanusiaan. Dengan demikian, penelitian ini bertujuan untuk mengangkat secara mendalam mengenai konstruksi teologi pembebasan yang dikembangkan oleh Asghar Ali Engineer. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode kualitatif dengan jenis studi kepustakaan. Pendekatan kualitatif memungkinkan peneliti untuk memahami dan menjelaskan konsep-konsep dalam teologi pembebasan secara mendalam melalui analisis terhadap teks-teks yang relevan. Studi kepustakaan menjadi sumber data utama dalam penelitian ini, yang melibatkan kajian terhadap tulisan-tulisan Asghar Ali Engineer dan karya-karya lain yang berkaitan dengan teologi pembebasan. Hasil penelitian ini mengungkapkan tiga poin utama dalam konstruksi teologi pembebasan Asghar Ali Engineer. Pertama, tauhid dimaknai sebagai kesatuan manusia, yang mengajarkan bahwa semua manusia adalah saudara seiman dan memiliki kesamaan hak dan martabat. Kedua, gerakan pembebasan harus dilandasi dengan keimanan yang kuat, agar mampu memperjuangkan keadilan dan melawan penguasa yang zalim. Ketiga, teologi pembebasan Asghar Ali Engineer menekankan pentingnya keadilan dalam bidang ekonomi, guna membebaskan rakyat kecil yang dieksploitasi oleh sistem kapitalisme yang tidak adil
Keadilan sosial pancasila dalam perspektif teori pembebasan Asghar Ali Engineer
Keadilan sosial menjadi isu yang penting dalam kehidupan masyarakat terutama dalam kehidupan berbangsa dan bernegara, banyak ketimpangan dalam kehidupan sosial, dimana seorang penguasa atau orang kaya mendapat prioritas utama dalam keadilan dan orang miskin atau rakyat biasa tidak menjadi prioritas dalam keadilan sosial. Keadilan sosial juga menjadi dasar utama dalam kehidupan berbangsa dan bernegara Indonesia. Keadilan sosial merupakan sila kelima dalam asas dasar ideologi negara (pancasila) dan hal ini menjadi konsen dari tokoh Islam Asghar Ali Engginer yang memperjuangkan secara serius problem bipolaritas spiritual-material kehidupan manusia dengan menyusun kembali tatanan sosial sekarang dengan cara yang lebih baik, lepas dari sifat eksploitatif, adil dan egaliter guna memperjuangkan harkat kemanusiaannya Permasalahan yang diteliti adalah 1) Bagaimana konsep keadilan sosial Pancasila?. 2) Bagaimana konsep teori pembebasan Asghar Ali Engineer?. 3) Bagaimana konsep keadilan sosial Pancasila menurut teori pembebasan Asghar Ali Engineer? Jenis penelitian ini adalah penelitian kepustakaan (library research) dengan menggunakan pendekatan deskriptif analitis, dengan sumber data primer yaitu buku Islam dan Theologi Pembebasan Asghar Ali Engineer dan buku filsafat pancasila dan sumber data sekunder yaitu buku, jurnal dan artikel tentang terapi sufistik. Metode pengumpulan data yang digunakan adalah library research. Data yang terkumpul kemudian di analisis menggunakan metode content analysis dan metode deduktif. Hasil penelitian menyimpulkan bahwa: 1) Konsep keadilan sosial Pancasila mengandung makna keadilan yang berupa nilai, tentunya harus diwujudkan dalam kehidupan bersama. Keadilan tersebut didasari dan dijiwai oleh hakekat keadilan sosial yaitu keadilan dalam hubungan manusia dengan dirinya sendiri, hubungan manusia dengan sesama, hubungan manusia dengan bangsa dan negaranya kemudian yang terakhir adalah hubungan manusia dengan Tuhannya, 2) Konsep teori pembebasan Asghar Ali Engineer mentuk bentuk ide dan gerakan sosial yang menempatkan teologi ke dalam ideologi gerakan, ilmu teologi dengan aksi sosial, tauhid dan persatuan umat, keadilan kenabian dan gerak sejarah, manusia dan sejarah, sistem dan kemanusiaan, sehingga tidak seorang pun yang diam dan terbelakang dengan mewujudkan Nilai-nilai kebaikan, keadilan, kebenaran dan kesucian itu perlu ditegakkan dalam kehidupan sosial dari masa ke masa. 3) Konsep keadilan sosial Pancasila menurut teori pembebasan Asghar Ali Engineer mengarah pada terciptanya keadilan sosial bagi warga negara Indonesia yang sangat sensitif terhadap penderitaan orang lain, terutama penderitaan orang-orang yang tertindas, menciptakan kesetaraan, kebaikan, kasih sayang keadilan, kebenaran dan kesucian, menghargai pluralitas, menghargai kesetaraan gender dan menjunjung tinggi kehidupan spiritual yang memiliki sensitifitas dan empati terhadap sesama. Keadilan sosial dibangun dengan prinsip kemaslahatan, keadilan dan kesetaraan gender, penegakan HAM, pluralisme, nasionalitas dan demokratis
Komparasi pandangan Asghar Ali Engineer dan Wahbah Az-Zuhaili tentang konsep poligami
Ada beberapa bentuk ikatan perkawinan, yang paling banyak dijumpai di masyarakat adalah perkawinan monogami; perkawinan antara satu laki-laki dengan satu perempuan. Selain itu ada yang dinamakan perkawinan poligami, poligini, dan poliandri. Namun dalam pembahasan ini istilah poligami dimaknai dengan perkawinan satu laki-laki dengan istri lebih dari satu. Dan jenis perkawinan ini yang menjadi kontroversial di masyarakat. Secara tekstual dalam Q.S. Annisa ayat 3 mengungkapkan kebolehan poligami dengan batas maksimal empat orang istri. Hal inilah yang dijadikan
pedoman bagi sebagian pemikir yang membolehkan poligami. Padahal keberadaan ayat ini bukan merupakan perintah umum atau anjuran yang bersifat umum untuk poligami melainkan perintah untuk berbuat adil terhadap anak yatim dan para janda. Penulis menghadirkan dua tokoh pemikir kontemporer yang memiliki corak berbeda. Asghar Ali Engineer memiliki corak histori-kontektual, yaitu menggunakan konteks sosial pada masa ayat itu diturunkan sebagai latar belakang
yang menentukan pemikirannya. Sedang Wahbah Az-Zuhaili lebih cenderung tidak memiliki corak tertentu dan tidak fanatik pada satu mazhab. Maka akan terbaca sedikit banyak perbedaan keduanya. Penelitian ini adalah library research yang menggunakan metode kualitatif dengan pendekatan deskriptif normatif. Yaitu mengkaji hukum Islam dalam kedudukannya sebagai aturan, baik yang ada dalam nas maupun yang sudah
menjadi produk pemikiran tokoh. Penelitian ini mencari perbedaan dan persamaan pemikiran kedua tokoh tentang poligami. Hasil dari penelitian ini, Asghar Ali Engineer menolak adanya poligami, sedangkan Wahbah Az-Zuhaili memperbolehkan. Perbedaan ini hadir karena beberapa faktor; pertama, adanya perbedaan metode yang digunakan dalam
menafsirkan ayat. Asghar Ali Engineer menggunakan metode sosio-historis turunnya ayat dalam memahami suatu ayat. Sedangkan Wahbah Az-Zuhaili menggunakan metode tahlili, yaitu metode yang menjelaskan ayat Alquran dalam berbagai aspek. Kedua, kondisi sosio-politis yang melatar belakangi seorang tokoh. Asghar Ali Engineer dihadapkan pada penindasan serta nilai negatif perempuan oleh kaum laki-laki, sedangkan Wahbah Az-Zuhaili dihadapkan pada kondisi masyarakat patriarkat
- …
