1,721,119 research outputs found
Aplikasi Animasi 3 Dimensi Mendem Ari-Ari Berbasis Android
Mendem Ari-ari merupakan salah satu tradisi umat Hindu yang dilaksanakan saat bayi baru lahir. Banyak kaum muda khususnya pasangan muda belum mengetahui bagaimana prosesi dalam melakukan upacara Mendem Ari-ari. Seiring perkembangan teknologi, permasalahan tersebut dapat ditanggulangi dengan sebuah metode pembelajaran di bidang Teknologi Informasi yaitu dengan memanfaatkan teknologi smartphone berbasis Android sebagai media pembelajaran prosesi upacara Mendem Ari-ari yang diimplementasikan ke dalam sebuah aplikasi animasi 3 dimensi. Aplikasi Mendem Ari-ari yang dibuat dalam aplikasi berbasis Android menggunakan Autodesk Maya sebagai pemodelan dan animasi, sedangkan perancangan aplikasi Android menggunakan Unity. User memberikan input berupa sentuhan pada suatu tombol, aplikasi Mendem Ari-ari kemudian memproses dengan memberikan output sesuai tombol yang disentuh. Hasil dari aplikasi Mendem Ari-ari dapat menjelaskan informasi mengenai prosesi upacara Mendem Ari-ari yang menampilkan objek animasi 3 dimensi dan juga video secara real atau nyata.
Kata kunci: Animasi, 3 Dimensi, Mendem Ari-ari, Androi
A Description of Burying Ari-Ari in Javanese Culture
This paper entitled "A Description of Burying Ari-Ari in Javanese Culture" aims
to describe and elaborate the practice and cultural meaning and function of
burying the ari-ari in Javanese society. The method used in this writing is a
collection technique through reading and understanding books, journals and
articles related to the tradition of burying the ari-ari as well as casual interviews
while observing the process of burying the ari-ari directly and re-watching the
steps for burying the ari-ari through YouTube platform. This research concludes
that the tradition of burying the ari-ari in Javanese culture is not just a ritual, but
is also a reflection of a complex value system that integrates social, spiritual and
health aspects.48 PagesKertas Karya Diplom
MENGUBUR ARI-ARI DALAM PERSPEKTIF 'URF
Mengubur ari-ari telah menjadi tradisi secara turun-temurun dengan berbagai macam prosesi yang dilakukan. Berdasarkan hasil observasi dan wawancara yang dilakukan oleh peneliti pada masyarakat suku Jawa dan Banjar di Kelurahan Selili Kecamatan Samarinda Ilir, mereka melaksanakan penguburan ari-ari dengan menyertakan benda-benda tertentu serta dengan maksud dan tujuan tertentu. penelitian ini adalah penelitian lapangan, dengan menggunakan pendekatan Normatif Empiris. Teknik pengumpulan data pada penelitian ini adalah observasi, wawancara dan dokumentasi. Sumber data primer dalam penelitian ini adalah wawancara kepada masyarakat suku Jawa dan Banjar di Kelurahan Selili Kecamatan Samarinda Ilir. Sedangkan bahan hukum (normatif) akan berangkat dari permasalahan sosial yang terdapat dalam kajian bahan hukum kitab yang berkenaan dengan Bab ‘Urf serta karya ilmiah pendukung lainnya. Berdasarkan Analisa terhadap prosesi mengubur ari-ari dalam perspektif ‘urf terhadap masyarakat suku Jawa dan Banjar di kelurahan Selili Kecamatan Samarinda Ilir, menghasilkan kesimpulan bahwasannya mengubur ari-ari jika ditinjau dari segi jangkauannya, ini termasuk dalam kategori ‘urf al amm, jika ditinjau dari keabsahannya, tradisi mengubur ari-ari ini termasuk ke dalam al- ‘urf ash- shahihah (‘urf yang benar) dan al- ‘urf al-fasidah (‘urf yang salah)
Tinjauan Hukum Islam Mengenai Tradisi Penyimpanan Ari-Ari Di Dalam Kendil (Studi Kasus Desa Karangklesem)
Penelitian ini dilatar belakangi penyimpanan ari-ari di dalam kendil di Desa Karangklesem yang masih melaksanakan tradisinya masing-masing dalam penyimpanan ari-ari di dalam kendil. Pada praktiknya masyarakat Desa Karangklesem menyimpan ari-ari di dalam kendil merupakan suatu tradisi yang sudah turun temurun dari orang tua mereka melalui proses tata cara tertentu seperti meletakkan bumbu-bumbu dengan tujuan mengurangi bau pada ari-ari yang disimpan di dalam kendil. Dalam hal ini pokok dari penelitian ini mengenai pandangan masyarakat tentang tradisi penyimpanan ari-ari di dalam kendil di Desa Karangklesem dan perspektif 'urf mengenai tradisi ini.
Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui pandangan masyarakat Desa Karangklesem mengenai tradisi penyimpanan ari-ari di dalam kendil dan perspektif 'urf mengenai tradisi penyimpanan ari-ari di dalam kendil di Desa Karangklesem. Penelitian ini merupakan penelitian lapangan yang bersifat deskriptif. Informan penelitian ini adalah masyarakat yang berasal dari Desa Karangklesem yang berjumlah lima orang informan penelitian. Adapun pendekatan yang digunakan adalah pendekatan kualitatif dengan teknik pengumpulan data berupa observasi, wawancara dan dokumentasi.
Hasil penelitian: (1) Pandangan masyarakatbDesa Karangklesem mengenai tradisi penyimpanan ari-ari di dalam kendil menurut para informan tersebut adalah suatu tradisi atau kebiasaan yang secara turun temurun sudah diwariskan dari orang tua mereka, dan selalu mereka lakukan melalui proses tertentu sesuai yang diajarkan oleh orang tua mereka. (2) Perspektif 'urf mengenai tradisi penyimpanan ari-ari di dalam kendil di Desa Karangklesem tidak bertentangan dengan ajaran Islam, karena mereka hanya melakukan tradisi tersebut yang telah diwariskan dari orang tua mereka tanpa ada hal-hal yang membuat mereka menjadi berkeyakinan khusus dalam tradisi tersebut.
Kata kunci: Ari-Ari, Penyimpanan Di Dalam Kendil, Hukum Isla
SIMBOLISME QS. AL-FATIHAH DALAM TRADISI PENANAMAN ARI-ARI BAYI DI MASYARAKAT BOMBANA
Penelitian ini membahas tentang tradisi Penanaman ari ari anak bayi dengan menggunakan sobekan Qs Al-Fatihah. Penelitian ini merupakan salah satu bentuk tradisi yang hanya ditemukan di kalangan Masyarakat di Desa Watu-watu Kec Lantari Jaya Kab Bombana. tokoh yang melakukan tradisi ini biasanya disebut sebagai paksandro dengan adanya penomenal tersebut maka peneliti menganggap penting untuk diteliti lebih lanjut, terkait hubungan antara Al Qur’an dengan budaya, tradisi yang di peraktekkan oleh Masyarakat di Desa Watu-watu Kec Lantari Jaya Kab Bombana maka masalah yang di angkat dari penelitian ini bertujuan untuk mengetahui Pertama Bagaimanakah praktik penanam ari ari anak bayi dalam melakukan tradisi dengan menggunakan sobekan Qs Al-Fātiḥah sebagai media penanaman Ari Ari di desa Watu-watu kabupaten bombana kedua Bagaimana resepsi fungsional Al Qur’an dapat berkontribusi dalam mengembangkan wacana dari fungsi Al Qur’an sebagai media tanam ari ari ketiga Bagaimanakah dampak penanaman ari ari dengan menngunakan Qs Al-fatihah sebagai media penanam ari ari Bagaimana resepsifungsional Al-Qur’an dapat berkontribusi dalam mengembangkan wacana fungsi Al-Qur’an. Penelitian ini merupakan penelitian kualitatif dengan menggunakan sumber data primer dan skunder. Penelitian ini menerapkan pendekatan integrasi keilmuan antara studi Al-Qur’an, sosial dan historis Teknik pengumpulan data yang di lakukan didalam penelitian ini yaitu dengan cara observasi, wawancara, dan dokumentasi. Kemudian Teknik analisis data yang digunakan di penelitian ini adalah analisis deskriptif, yang merupakan bentuk penelitian dengan cara mendeskripsikan data yang diperoleh. Hasil penelitian ini menyimpulkan bahwa. Penelusuran penelitian tradisi penanaman Ari-ari bersumber dari turun temurun masyarakat setempat yang hingga saat ini masih ada, di dalam proses tradisi penanaman ari-ari ada beberapa tahapan yang di lakukan oleh pak sandro yakni menanam ari ari yang dalam pelaksanannya tak berhenti melafadzkan Qs Al-fatihah dan wirid hingga ari ari tersebut selesai di tanam.Qs Al-fatihah yang di gunakan sobekan al-Qur’an bisa berupa tulisan tangan dari ayat 1-7. Dalam tradisi tidak semua masyarakat desa melakukan tradisi penanaman ari ari. adapun resepsi Qs Al-fatihah yakni penanaman ari ari yamh melinatkan Qs Al-fatihah boleh dilakukan karena sesuai maknanya yakni sebagai do’a
MAKNA TRADISI LARUNG ARI-ARI PADA MASYARAKAT JAWA : SEBUAH ANALISIS FENOMENOLOGIS ALFRED SCHUTZ
Penelitian ini dilatarbelakangi tentang salah satu aktifitas sosial budaya dalam mayoritas masyarakat yang memperlakukan ari-ari bayi dengan cara dikubur. Akan tetapi, Ada sekelompok masyarakat yang memperlakukan ari-ari bayi dengan cara di larungkan ke sungai. Keaneka ragaman budaya yang dimiliki masyarakat Indonesia dimulai dari kelahiran dan kematian sebagai penutup. Larung dan medhem ari-ari merupakan bagian dari budaya kelahiran sang jabang bayi. Hal ini dilakukan sebagai rasa percaya untuk tidak memisahkan roh dan sosok jabang bayi tersebut. Prosesi ini dipercaya memberikan keselamatan dan kentetraman akan hidup sang jabvang bayi. Adapun proses yang dimulai dengan mencuci ariari tersebut hingga bersih lalu dibungkus kain putih dan diletakkan di dalam kendi. Apabila prosesi berupa larung, maka ari-ari dalam kendi akan dihanyutkan di sungai. Namun jika prosesi berupa mendhem, maka akan dipilih tempat baik di sekitar perkarangan rumah untuk menguburkan kendi berisi ari-ari si jabang bayi tersebut. Budaya ini terus berlangsung turun temurun seusia dengan kepercayaan dan keputusan keluarga yang bersangkutanKata kunci : Antropologi; Budaya Jawa; Larung ari-ari atau Medhem ari-ari</jats:p
NGUBUR ARI-ARI VERSI DESA MEKAR KONDANG KABUPATEN TANGERANG: KAJIAN ANTROPOLINGUISTIK
Tradisi ngubur ari-ari sudah ada sejak dahulu, bagi masyarakat Sunda mengubur ari-ari sebagai rasa syukur karena telah membantu melindungi bayi selama di dalam kandungan. Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan pemaknaan dalam tradisi ngubur ari-ari masyarakat Sunda di Desa Mekar Kondang. Penelitian ini menggunakan pendekatan deskriptif kualitatif dan penelitian ini dilakukan pada masyarakat Sunda di wilayah Desa Mekar Kondang, Kecamatan Sukadiri, Kabupaten Tangerang. Dalam proses ngubur ari-ari terdapat 9 tahap yang harus dilakukan secara sistematis, terdapat satu proses yang menarik dan berbeda dengan wilayah lainnya yaitu sang Ayah menggunakan kopiah atau kerudung berdasarkan jenis kelamin bayi. Terdapat pemaknaan yang menarik dalam setiap proses yang dilakukan saat ngubur ari-ari.Kata kunci: Ngubur Ari-Ari, Antropolinguistik, Semantik Kultura
Adaptasi aqidah masyarakat Desa Kepunten Sidoarjo dalam budaya pendam ari-ari
Skripsi ini bertujuan untuk menjelaskan pemahaman masyarakat terhadap Aqidah masyarakat yang merupakan pelaku budaya pendam ari-ari di Desa Kepunten Sidarjo. Masalah yang akan diteliti adalah: (1) Bagaimana sejarah budaya pendam ari-ari di Desa Kepunten Sidoarjo serta proses pelaksanaanya (2) Adaptasi aqidah masyarakat Desa Kepunten Sidoarjo dalam budaya pendam ari-ari menurut Tallcot Parson. Di dalam menjawab permasalahan tersebut peneliti menggunakan analisa data kualitatif guna untuk memberikan laporan deskriptif. Penelitian ini menyimpulkan bahwa adaptasi aqidah menurut teori Tallcot Parson adalah penyesuaian diri suatu masyarakat tradisional terhadap budaya pendam Ari-ari dengan aqidah melalui dialog tentang budaya pendam ari-ari. Masyarakat tradisional akan mampu menyesuaikan diri terhadap ajaran aqidah. Suatu budaya yang sudah menjadi bagian dari kehidupan masyarakat Desa Kepunten Sidoarjo lambat laun akan bisa menyesuaikan diri terhadap aqidah. Sehingga menciptakan masyarakat yang bisa memahami budaya dengan pemahaman yang luas
Tradisi Larung Ari-ari Sebagai Tanda Kelahiran Bayi Pada Masyarakat di Dusun Dwi Wibowo Desa Ngujang Kecamatan Kedungwaru Kabupaten Tulungagung
ABSTRAK
Skripsi dengan judul “ Tradisi Larung Ari-ari Sebagai Tanda Kelahiran Bayi Pada Masyarakat di Dusun Dwi Wibowo Desa Ngujang Kecamatan Kedungwaru Kabupaten Tulungagung”, yang ditulis oleh Rachma Vaiza Maharani, NIM
12209173033, Jurusan Tradris Ilmu Pengetahuan Sosial, Fakultas Tarbiyah dan
Ilmu Keguruan, IAIN Tulungagung. Pembimbing Dita Hendriani, M.A.
Kata Kunci: Tradisi, Larung ari-ari, Masyarakat
Penelitian ini di latar belakangi tentang salah satu aktifitas sosial budaya dalam mayoritas masyarakat yang memperlakukan ari-ari bayi dengan cara dikubur. Akan tetapi, berbeda dengan masyarakat di Dusun Dwi Wibowo Desa Ngujang yang memperlakukan ari-ari bayi dengan cara di larungkan ke sungai. Tradisi larung ari-ari di Pulau Jawa hanya terdapat di daerah-daerah tertentu, maka hanya minoritas masyarakat yang melakukannya, terutama masyarakat yang bertempat tinggal di dekat sungai besar atau pesisir pantai. Dusun Dwi Wibowo Desa Ngujang Kecamatan Kedungwaru Kabupaten Tulungagung ini berada di wilayah Sungai Brantas, yang merupakan sungai terbesar kedua di Pulau Jawa.
Rumusan masalah dalam skripsi ini adalah bagaimana sejarah proses terjadinya larung ari-ari di Dusun Dwi Wibowo, proses pelaksanaan larung ari-ari, serta makna yang terkandung dalam larung ari-ari di Dusun Dwi Wibowo Desa Ngujang Kec. Kedungwaru Kab. Tulungagung. adapun tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui sejarah proses terjadinya larung ari -ari di Dusun Dwi Wibowo, proses pelaksanaan larung ari-ari, serta makna yang terkandung dalam larung ari-ari di Dusun Dwi Wibowo Desa Ngujang Kec. Kedungwaru Kab. Tulungagung.
Jenis penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah kualitatif deskriptif dengan pendekatan etnografi. Mengambil latar belakang masyarakat Dusun Dwi Wibowo Desa Ngujang Kedungwaru Tulungagung. Pengumpulan data dilakukan dengan teknik observasi, wawancara dan dokumentasi. Keabsahan data dilakukan dengan menggunakan triangulasi data, yaitu mencocokkan data hasil wawancara dan dokumentasi dengan hasil pengamatan langsung.
Hasil penelitian ini adalah 1) sejarah tradisi larung ari-arii di dusun Dwi Wibowo merupakan tradisi yang diwariskan dari nenek moyang atau sesepuh dusun tersebut. Mereka meyakini bahwa ari-ari merupakan sedulur bayi harus diperlakukan secara khusus. 2) proses pelaksanaan larung ari-ari, yang pertama menyediakan perlengkapan-perlengkapan yaitu kendil, kain mori, garam, daun waru, bawang merah, bawang putih, kunyit, jarum dan benang, buku, pensil, bunga mawar merah, mawar putih, kenanga, dan lilin. Setelah ari-ari dimasukkan ke kendil bersamaan dengan perlengkapan tersebut, kemudian bapak dari si bayi membawa ke pinggiran aliran sungai dan melakukan pelarungan. 3) makna dalam larung ari-ari yaitu sebagai rasa syukur telah dilahirkannya bayi di dunia, memberikan keselamatan, kebahagiaan, ketentraman, dan harapan yang baik untuk si bayi dalam kehidupannya
Nilai Karakter dalam Tradisi Ari-ari Megantung di Desa Bayung Gede, Kintamani, Bangli, Bali
Masyarakat desa Bayung Gede yang ada di Kecamatan Kintamani, Bangli, Bali merupakan salah satu masyarakat desa Bali Aga yang memiliki tradisi daur hidup yang sangat unik yaitu Tradisi Ari-Ari Megantung. Tradisi Ari-ari Megantung dilaksanakan ketika ada bayi yang baru lahir kemudian ari-ari pembungkus bayi itu di taruh di dalam kuburan dengan cara digantung dalam sebuah batok kelapa. Tradisi ini sudah ada di desa Bayung Gede sejak keberadaan desa ini dan terus dilaksanakan secara turun temurun hingga saat ini.Tradisi ini memiliki nilai-nilai positif yang mempengaruhi kepribadian atau karakter penduduk di desa Bayung Gede sehingga mereka begitu menghargai kebudayaan dan adat yang dimilikinya
- …
