21 research outputs found

    Hukum Pengangkatan Anak Melalui Akta Pengakuan Pengangkatan Anak Yang Dibuat Oleh Notaris

    Get PDF
    Penelitian ini bertujuan untuk meneliti permasalahan terkait dengan hukum pengangkatan anak melalui Akta pengakuan pengangkatan anak  yang dibuat oleh Notaris dan mengetahui akibat hukum pengangkatan anak bagi pihak yang tidak memenuhi kewajiban sesuai perjanjian. Penelitian ini menggunakan metode yuridis normatif yang menggunakan sumber  yang diperoleh dari Peraturan perundang-undangan, literatur dan karya tulis ilmiah. Analisa data yang digunakan adalah menggunakan deskriptif analitis yaitu metode yang menggunakan analisis terhadap peraturan perundang-undangan yang berlaku. Hasil penelitian ini dapat disimpulkan pada dasarnya pengangkatan anak harus dengan penetapan Pengadilan, hal tersebut didasarkan pada surat edaran mahkamah agung tanggal 7 April 1979 No. 2 tahun 1979 tentang Pengangkatan Anak dikatakan antara lain bahwa pengesahan pengangkatan anak warga negara Indonesia hanya dapat dilakukan dengan suatu penetapan di Pengadilan negeri, dan tidak dibenarkan apabila pengangkatan anak tersebut dilakukan dengan Akta yang dilegalisir oleh Pengadilan negeri. Sehingga dengan demikian, kasus pengangkatan anak harus melalui penetapan Pengadilan negeri dan Akta yang dibuat dihadapan notaris terkait dengan pengakuan anak hanya bersifat pengikatan terhadap apa yang dikehendaki para pihak secara privat terkait hubungan hukum masing-masing pihak tersebut terhadap pengangkatan anak dan tidak memiliki kekuatan hukum mutlak terkait dengan legalitas status pengangkatan anak tersebut jika tidak didaftarkan dan mendapat penetapan Pengadilan negeri

    UJRAH DALAM KARTU PEMBIAYAAN SYARIAH (SYARIAH CARD)

    Get PDF
    Karakteristik pada kartu kredit konvensional adanya penerapan bunga berupa persentase dari yang ditagihkan pada nasabah terkecuali apabila adanya kerja sama bunga 0% antara bank dengan pelaku usaha, sedangkan dalam kartu pembiayaan berbasis syariah (syariah card) tidak mengenal bunga melainkan ujrah dari transaksi yang dilakukan, ujrah sendiri sudah ditetapkan secara pasti besaran angka nominalnya dari katagori transaksi yang dilakukan, sehingga adanya kepastian diawal dari bank syariah agar nasabah mengetahui berapa ujrah yang harus dibayar sehingga tidak ada unsur riba dan gharar. Pada kartu kredit konvensional terdapat satu perjanjian, yaitu perjanjian penerbitan kartu kredit sedangkan pada kartu pembiayaan syariah terdapat tiga akad, yaitu akad kafalah, akad qard dan akad ijarah. Terkait dengan penyelesaian apabila terjadi sengketa maka diutamakan penyelesaian secara musyawarah, bilamana tidak membawa hasil maka pihak yang dirugikan dalam hal ini perbankan syariah selaku penerbit syariah card dapat mengajukan penyelesaian sengketa melalui Badan Arbitrase Syariah Nasional atau melalui pengadilan agama

    Perlindungan Konsumen Pangan Pada Negara Mayoritas Muslim Ditinjau dari Peraturan Pemerintah Nomor 69 Tahun 1999 Tentang Label Dan Iklan Pangan

    Get PDF
    Perkembangan teknologi pengolahan pangan khususnya pada makanan dan minuman yang begitu pesat membuat umat Islam perlu meningkatkan kewaspadaan dan menuntut kejelasan kehalalan setiap produk, demi ketenangan dalam mengkonsumsi dan mempergunakannya. Sebagai negara dengan mayoritas Muslim perlunya juga pengaturan mengenai label non halal, agar masyarakat lebih mendapat kepastian informasi terkait haknya sebagai konsumen produk halal. Adapun cara yang digunakan untuk mengambil hasil penelitian normatif agar menjadi lebih faktual dalam penjelasannya, maka diperlukan pendekatan hukum yang dilakukan dalam setiap pembahasannya. Sehingga peneliti mengambil bahasan Rekonstruksi Penormaan Label Sertifikasi Makanan dalam Upaya Perlindungan Konsumen Pada Negara Mayoritas Musli

    Business Actors Liability to Consumers of Beverages and Food Containing Liquid Nitrogen

    Get PDF
    Technological advances that are developing at this time do not only occur in telecommunication equipment and transportation equipment, but also develop in the food and beverage sector. Where in the near future, food and drinks that can emit smoke have been circulating . Foods and drinks that emit smoke contain liquid nitrogen. However, it is very unfortunate that these food and beverage trends have not been accompanied by the knowledge of business actors and consumers whether these nitrogen-containing foods and beverages are safe for consumption or not. Based on the description of the background above, several problem formulations can be drawn as follows: What are the criteria for drinks and food containing liquid nitrogen consumed by consumers according to the Law on Food Safety and Food Standards? And what is the liability of business actors towards consumers who drink and food containing liquid nitrogen? The type of legal research used in this research is normative juridical (normative legal research method). Liquid nitrogen in food can actually be used as an auxiliary substance. However, if used without adhering to food safety standards, it may cause harm to consumers. This is in accordance with the regulations of the Food and Drug Supervisory Agency (BPOM RI) Number 20 of 2020, liquid nitrogen is used as a processing aid, not a food additive. Liquid nitrogen is used to speed up the process of freezing a product by lowering the very low temperature to minus -200, much lower when using a freezer (around -20 to -40 ) so that liquid nitrogen is very easy to freeze food. If the production process is complete, nitrogen should be removed as much as possible from a product, no residue left. Liability on a contractual basis and unlawful acts in BW, product liability in consumer law is regulated in Article 19 of the UUPK with the burden of proof reversed. The business actor accountability forum is subject to general civil proceedings with the exception of relative competency at the consumer's place of domicile, while compensation in this context is not only in the form of returning goods and demands for reductions or price discounts as in the contractual, or limited to compensation for economic losses as an unlawful act, but also includes compensation for actual damages

    IMPLEMENTATION OF URGENT REASONS FOR MARRIAGE DISPENSATION APPLICATIONS IN THE JUDGES' CONSIDERATIONS AT THE BOJONEGORO RELIGIOUS COURT

    No full text
    Early marriage is a significant issue in Indonesia, especially for young women, with efforts such as granting marriage dispensations for couples underage by law. This study examines the application of urgent reasons in marriage dispensation requests at the Bojonegoro Religious Court and how judges consider these factors in their decisions. Using empirical legal research, data was collected through interviews with judges and analysis of regulations like Supreme Court Regulation No. 5 of 2019 and Law No. 16 of 2019. Findings reveal that common urgent reasons include premarital pregnancy, relationships resembling marriage, and having children before marriage. However, reasons based on closeness, though frequent, don’t meet legal criteria but are considered based on the couple's physical and mental readiness. Key obstacles in applying urgent reasons involve legal, law enforcement, societal, and cultural factors. The study recommends enhancing oversight and educating the public on the consequences of early marriage

    Perlindungan Hukum Bagi Pemegang Saham Yang Pailit Pada Perseroan Terbatas

    No full text
    Limited liability company is a subject of law protected by civil law. There is a separation of property between a limited company and its directors and shareholders. So the liability of the founder of the Limited Association is the limit of the capital deposited and does not include their personal property. This research method uses a juris-normative legal approach to study the norms that exist in positive law. The focus of the research is on the subjects of civil law, especially the Limited liability company (PT), where the responsibility of the founders of PT is limited only to the capital they invest in the company, which is clearly regulated in positive laws. In addition, in the context of a legal entity, a corporation may also be subject to a state of insolvency, which is governed by the Insolvency and Delayed Payment of Debt (CPPU) Act. However, in a case of pailit, there is no explicit legal protection for shareholders, either in the Act on Limited Entities or in the Bankruptcy Act and the CPPU Act. This suggests that the legal protection of the shareholder in the case of a pailit needs to be further examined and may require changes or additions to existing regulations

    Dispensation of Marriage in The Perspective of Children's Rights: Best Interest of The Children

    Get PDF
    Underage marriage with marriage dispensation is very influential on the lives of children and adolescents. The Convention on the Rights of the Child has determined that the best interest of the child is the primary interest in any action concerning the child. This study uses a normative juridical method based on a statutory approach. The purpose of this research is to find out the judge's considerations and what factors cause the rise of early marriage. This study concludes that the number of marriage dispensations in Indonesia continues to increase from 2016-2018, and is stagnant in 2019-2020. This figure increases because awareness of the meaning of marriage is reduced and many people in Indonesia think that adat must still be maintained. The high dispensation of marriage is caused by economic factors, pregnancy out of wedlock, and cultural factors. Thus, the judge assessed that the granting of a marriage dispensation had the best impact on the child in accordance with the theory of the best interests of the child. The implementation of the regulations that have been implemented still requires derivative regulations that regulate the basics of granting marriage dispensations in court. In order for the application for a marriage dispensation to be granted wisely, it is recommended to refer to Law Number 16 of 2019 concerning Marriage and PERMA Number 5 of 2019 concerning Guidelines for the Termination of Marriage Dispensation. So that judges avoid subjective considerations in adjudicating marital dispensation cases

    Implikasi Klausula Baku terhadap Perlindungan Konsumen dalam Pengembalian Barang

    Get PDF
    Legal protection for consumers harmed by standard clauses in e-commerce, particularly regarding returns, has become a crucial issue with the rise in online sales transactions. Standard clauses are often unilaterally included by businesses and often limit or eliminate consumers' right to return goods if the product received is not suitable or damaged. This contradictory practice is based on consumer protection principles stipulated in the Consumer Protection Law (UUPK), specifically Article 18, which prohibits the inclusion of standard clauses because they can eliminate consumers' right to return goods.Perlindungan hukum bagi konsumen yang dirugikan oleh klausula baku dalam e-commerce, khususnya mengenai tentang pengembaluan barang, menjadi isu penting seiring dengan maraknya transaksi pada jual beli. Klausula baku, sering dicantumkan dengan secara sepihak oleh para pelaku usaha, serta sering untuk membatasi atau meniadakan hak untuk konsumen dalam mengembalikan barang jika produk yang diterima tidak sesuai atau mengalami kerusakan. Praktik yang bertentangan ini memliki prinsip perlindungan konsumen yang telah diatur dalam Undang-Undang Perlindungan Konsumen (UUPK), khususnya pasal 18 yang melarang untuk mencantumkan klausula baku karena dapat menghapus hak konsumen atas pengembalian barang

    PENGARUH GLOBALISASI TERHADAP REFORMASI REGULASI ARBITRASE DI INDONESIA TERKAIT PERAN STRATEGIS BADAN ARBITRASE NASIONAL INDONESIA (BANI)

    Get PDF
    Proses penyelesaian sengketa seperti arbitrase juga mengalami transformasi substansial sebagai akibat dari dampak globalisasi terhadap sistem hukum internasional. Tren ini mengharuskan pemutakhiran undang-undang arbitrase Indonesia agar lebih konsisten dengan norma global dan memberikan perlindungan yang lebih besar kepada para pelaku bisnis. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk melihat bagaimana Badan Arbitrase Nasional Indonesia (BANI) secara strategis menanggapi perubahan yang ditimbulkan oleh globalisasi melalui reformasi undang-undang arbitrase di Indonesia. Penelitian ini, yang menggunakan teknik yuridis normatif di samping metode perundang-undangan dan konseptual, menyimpulkan bahwa sistem arbitrase nasional memerlukan reformasi untuk memperbaiki kekurangannya, terutama yang berkaitan dengan keterlibatan peradilan dan pelaksanaan putusan arbitrase. Selain fungsi vitalnya dalam administrasi prosedur arbitrase, tugas BANI sebagai lembaga arbitrase domestik adalah untuk mendorong harmonisasi prinsip-prinsip hukum nasional dan internasional, meningkatkan daya saing sistem hukum Indonesia, dan sebagainya. Untuk menciptakan sistem arbitrase yang dapat beradaptasi, adil, dan dapat bersaing di seluruh dunia, negara dan lembaga arbitrase harus melakukan reformasi bersama secara menyeluruh dan kooperatif. Kebijakan negara dan kemampuan kelembagaan organisasi arbitrase nasional harus bekerja sama agar perubahan regulasi dapat berhasil, menurut hasil yang diperoleh. Sangat penting untuk menyelaraskan undang-undang prosedur arbitrase dengan norma-norma internasional tanpa mengabaikan prinsip-prinsip dan fitur-fitur penting hukum nasional. Sistem arbitrase yang kontemporer, dapat dipercaya, dan kompetitif secara global adalah apa yang diharapkan oleh masyarakat Indonesia melalui inisiatif-inisiatif ini.   Kata Kunci:  Arbitrase, BANI, Globalisasi, Reformasi Regulasi, Peran Strategis BANI

    Rebranding Ilegal: Tinjauan Hukum Etika Bisnis dan Unsur Perbuatan Melanggar Hukum Ditinjau Melalui Perspektif Perlindungan Konsumen

    Get PDF
    Rebranding is a business activity carried out by business actors to make changes with the aim of improving the company's image. Rebranding becomes a problem when the rebranding is done illegally. Illegal rebranding activities by business actors not only affect intellectual property, but also consumers as product user. In the legal context, illegal rebranding can be categorized as an unlawful act because it can cause harm to consumers as stated in Article 1365 of the Burgerlijk Wetboek. Whereas business actors in carrying out business activities must implement business ethics and good faith. The results of this study show the importance of consumer protection in overcoming the problem of illegal rebranding.Rebranding merupakan kegiatan bisnis yang dilakukan oleh pelaku usaha untuk melakukan perubahan  dengan tujuan perbaikan citra perusahaan. Rebranding menjadi masalah ketika rebranding tersebut dilakukan secara ilegal. Kegiatan rebranding ilegal oleh pelaku usaha ini tidak hanya berdampak terhadap kekayaan intelektual saja, tetapi juga konsumen sebagai pihak pengguna barang. Dalam konsteks hukum, rebranding ilegal dapat dikategorikan sebagai perbuatan melanggar hukum karena dapat menimbulkan kerugian bagi konsumen sebagaimana yang telah tertuang pada Pasal 1365 KUHPerdata. Padahal pelaku usaha dalam menjalankan kegiatan usaha harus mengimplementasikan etika bisnis dan beritikad baik. Hasil penelitian ini menunjukkan pentingnya perlindungan konsumen dalam mengatasi permasalahan rebranding ilegal
    corecore