35 research outputs found

    Metodhe Dolanan Peran Kanggo Ngundhakake Kawasisan Micara Basa Krama Alus Siswa Kelas Vii-i SMP Negeri 2 Nganjuk

    Get PDF
    Khoirul Nikmah, Latif  Nur Hasan, S.Pd., M.Pd Pendidikan Bahasa dan Sastra Daerah (Jawa) Fakultas Bahasa dan Seni Universitas Negeri Surabaya [email protected] Abstrak   Pangetrapan unggah-ungguh basa iki isih angel ditrapake dening siswa. Siswa angel mbedakake kosakata basa Jawa ngoko lan basa Jawa krama nalika pacelathon nggunakake unggah-ungguh basa kang trep. Mula saka iku siswa nduweni kawasisan micara sakngisore KKM (Kriteria Ketuntasan Minimal) kang wis ditetapake yaiku 75 ing babagan micara ragam basa Krama. Rata-rata siswa mung nggayuh 65,00. Adhedhasar andharan kasebut, panliti bakal nindakake panliten nggunakake metodhe dolanan peran. Metodhe dolanan peran bisa narik kawigaten siswa kang isih seneng dolanan saengga pasinaon basa Jawa luwih nyenengake. Kanthi metodhe bermain peran pasinaon unggah-ungguh basa bisa langsung dipraktekake ing pasrawungan saben dina lewat peran-peran paraga. Adhedhasar lelandhesaning panliten, underaning panliten iki ana 2, yaiku (1) Kepriye anggone nindakake proses pasinaon micara basa krama alus siswa kelas VII-I SMP Negeri 2 Nganjuk migunakake metodhe dolanan peran, (2) Kepriye undhak-undhakan kawasisan micara basa krama alus siswa kelas VII-I SMP Negeri 2 Nganjuk migunakake metodhe dolanan peran. Tujuan sing pengin digayuh ing panliten, yaiku (1) kanggo mangerteni proses pasinaon micara basa krama alus siswa kelas VII-I SMP Negeri 2 Nganjuk migunakake metodhe dolanan peran, (2) kanggo ngandharake undhak-undhakan kawasisan micara basa krama alus siswa kelas VII-I SMP Negeri 2 Nganjuk migunakake metodhe dolanan peran. Panliten iki, diajab bisa menehi paedah kanggo: (1) ngundhakake kawasisan siswa micara basa krama alus ing pasrawungan saben dina, (2) variasi mulang para guru ing sekolahan, (3) kegiyatan pasinaon ing sekolah ngenani unggah-ungguh basa mligine basa krama alus luwih bisa nyenengake lan narik kawigaten siswa. Tintingan kapustakan ngandharake tintingan panliten kang saemper, lan teori sarta konsep kang gegayutan karo underaning panliten yaiku katrampilan wicara, unggah-ungguh basa lan dolanan peran. Panliten iki nggunakake rancangan penelitian tindakan kelas sing kasusun saka rong siklus lan saben siklus kasusun saka patang tahap. Subjek panliten yaiku guru lan siswa kelas VII-I SMP Negeri 2 Nganjuk kang cacahe 32 siswa. Teknik pangumpulan dhata nggunakake teknik asil tes lan observasi. Teknik analisis dhata nggunakake dheskriptif lan persentase. Asil panliten nudhuhake metodhe dolanan peran bisa ngundhakake kawasisan siswa    micara basa krama yaiku 66% ing siklus 1 dadi 84% ing siklus 2. Saliyane iku, ana undhak-undhakan  kagiatan siswa ing siklus 1 yaiku saka 15 kagiatan, sing tuntas namung 8 kagiatan, mundhak dadi 15 kagiatan sing tuntas ing siklus 2. Undhak-undhakan uga ana ing kagiatan guru yaiku 72% ing siklus 1 dadi 81% ing siklus 2.Dudutane, metodhe dolanan peran bisa ngundhakake kawasisan micara basa krama alus siswa kelas VII-I SMP Negeri 2 Nganjuk

    SISTEM PENILAIAN PENERIMA BANTUAN PANGAN NON TUNAI (BPNT) DITINJAU DARI PERATURAN PEMERINTAH NOMOR 63 TAHUN 2017 TENTANG PENYALURAN BANTUAN SOSIAL SECARA NON TUNAI DAN HUKUM EKONOMI ISLAM (Studi Kasus Desa Ngerdani Kecamatan Dongko Kabupaten Trenggalek)

    Get PDF
    Ana Lailatul Nikmah, 126101203193, Sistem Penilaian Penerima Bantuan Pangan Non Tunai (BPNT) Ditinjau dari Peraturan Presiden Nomor 63 Tahun 2017 Tentang Penyaluran Bantuan Sosial Secara Non Tunai dan Hukum Ekonomi Islam (Studi Kasus Desa Ngerdani Kecamatan Dongko Kabupaten Trenggalek), Jurusan Hukum Ekonomi Syariah, Fakultas Syariah dan Ilmu Hukum, UIN Sayyid Ali Rahmatullah Tulungagung, 2024, Pembimbing: Dr. Kutbuddin Aibak, S.Ag., M.H.I. Kata Kunci: Sistem Penilaian, Bantuan Pangan Nontunai, Peraturan Presiden Nomor 63 tahun 2017, Hukum Ekonomi Islam. Penelitian ini dilatarbelakangi karena salah satu kebijakan pemerintah dalam upaya meningkatkan kesejahteraan masyarakat melalui bantuan sosial non tunai. Pada tahun 2017 pemerintah mengganti Program Rastra atau Beras Sejahtera menjadi Program BPNT seiring berjalanya waktu berbagai masalah muncul diantaranya sistem penilaian terhadap penerima program bantuan pangan nontunai yang mengalami kendala seperti di Desa Ngerdani Kecamatan Dongko Kabupaten Trenggalek program BPNT sudah berjalan namun kurang maksimal. Masih ditemukan beberapa warga yang dirasa mampu namun tetap memperoleh bantuan sedangkan warga yang layak mendapatkan tetapi tidak mendapat bantuan. Sehingga tidak sesuai dengan Peraturan Presiden Nomor 63 tahun 2017 tentang Penyaluran Bantuan Sosial secara Nontunai dan salah satu prinsip dalam hukum ekonomi islam. Fokus penelitian dalam penelitian ini adalah: 1) Bagaimana sistem penilaian penerima Bantuan Pangan Non Tunai (BPNT) di Desa Ngerdani Kecamatan Dongko Kabupaten Trenggalek 2) Bagaimana sistem penilaian penerima Bantuan Pangan Non Tunai (BPNT) ditinjau dari Perpres Nomor 63 Tahun 2017 Tentang Penyaluran Bantuan Sosial Non Tunai 3) Bagaimana sistem penilaian penerima Bantuan Pangan Non Tunai (BPNT) di Desa Ngerdani Kecamatan Dongko Kabupaten Trenggalek ditinjau dari Hukum Ekonomi Islam. Adapun yang menjadi tujuan dari penelitian ini adalah: 1) Untuk mendeskripsikan Sistem Penilaian Penerima Bantuan Pangan Non Tunai (BPNT) di Desa Ngerdani Kecamatan Dongko Kabupaten Trenggalek, 2) Untuk menganalisis Sistem Penilaian Penerima Bantuan Pangan Non Tunai (BPNT) ditinjau dari Perpres Nomor 63 Tahun 2017 tentang Penyaluran Bantuan Sosial Non Tunai di Desa Ngerdani Kecamatan Dongko Kabupaten. 3) Untuk menganalisis Sistem Penilaian Penerima Bantuan Pangan Non Tunai (BPNT) di Desa Ngerdani Kecamatan Dongko Kabupaten Trenggalek ditinjau dari Hukum Ekonomi Islam. Metode penelitian yang digunakan pada penelitian ini adalah metode penelitian kualitatif dengan pendekatan yuridis empiris. Teknik pengumpulan data yang digunakan dalam penelitian ini berupa wawancara mendalam, observasi, dan dokumentasi. Sedangkan teknik analisa data menggunakan kondensasi data, display (penyajian data) dan penarikan kesimpulan. Dalam pengecekan keabsahan, peneliti menggunakan metode triangulasi. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa: 1) Sistem penilaian penerima Program Bantuan Pangan Nontunai (BPNT) di Desa Ngerdani Kecamatan Dongko Kabupaten Trenggalek sudah terlaksana tetapi belum secara maksima hal ini dikarenakan masih ditemukannya beberapa masyarakat yang memenuhi kriteria penerima bantuan yang ditetapkan tetapi tidak mendapatkan bantuan sedangkan masyarakat yang tidak memenuhi beberapa kriteria malah mendapatkan bantuan sehingga muncul kesenjangan sosial ditengah masyarakat karena kurang tepatnya sasaran terhadap penerima bantuan. 2) Penerapan Peraturan Presiden Nomor 63 tahun 2017 tentang Penyaluran Bantuan Sosial secara Nontunai di Desa Ngerdani Kecamatan Dongko Kabupaten Trenggalek berdasarkan data terpadu kesejahteraan sosial (DTKS) telah sesuai ketentuan yang ada. Namun, kenyataan yang terjadi data yang sudah masuk sampai pusat sulit untuk digantikan dengan data baru sehingga akan mempersulit pemerintah desa dalam proses menggantikan penerima yang baru. 3) Sistem penilaian penerima Bantuan Pangan Nontunai (BPNT) di Desa Ngerdani Kecamatan Dongko Kabupaten Trenggalek ditinjau dari hukum ekonomi islam belum sepenuhnya sesuai dengan salah satu prinsipnya yaitu prinsip keadilan dimana rasa adil ditengah masyarakat belum tercipta dikarenakan masyarakat yang berhak menerima tidak menerima bantuan sebaliknya masyarakat yang dirasa mampu tetapi mendapatkan bantuan

    THE IMPLEMENTATION OF ENGLISH LANGUAGE AS THE MEDIUM IN TEACHING SCIENCE TO THE EIGHT GRADERS OF “KELAS UNGGULAN” AT MTSN KEDIRI II

    Get PDF
    THE IMPLEMENTATION OF ENGLISH LANGUAGE AS THE MEDIUM IN TEACHING SCIENCE TO THE EIGHT GRADERS OF “KELAS UNGGULAN” AT MTSN KEDIRI II Ana Khoirun Nikmah English Education Department, Language and Arts Faculty, Surabaya State University. Email: [email protected] Rahayu Kuswardani, S.Pd, M.Appl English Education Department, Language and Arts Faculty, Surabaya State University. Abstrak Sesuai dengan program kelas unggulan, kelas yang semula hanya menerapkan proses kegiatan belajar mengajar dengan menggunakan Bahasa Indonesia sekarang diharapkan bisa menggunakan Bahasa Inggris dalam kegiatan belajar mereka, baik itu dalam hal mengajar maupun dalam pengajaran sesui materi pelajaran. Ini merupakan tantangan bagi seorang guru dalam menghadapi system pembelajaran seperti itu. Kompetensi dan keahlian guru yang baik sangat dibutuhkan dan juga dalam keseluruhan standar pengurangan Bahasa Inggris. Selain itu, system pembelajarn ini juga tidak semudah yang kita pikir.  Mereka diharuskan belajar ilmu pengetahuan menggunakan Bahasa Inggris sebagai media proses belajar mengajar padahal mereka juga masih belajar Bahasa Inggris. Oleh karena itu, dalam penelitian ini, penelti melakukan penelitian yang bertujuan untuk memahami masalah diantara keahlian guru Bahasa Inggris dalam menguasai Bahasa Inggris ketika mengajar ilmu pengetahuan dan masalah siswa dalam memahami ilmu pengetahuan yang menggunakan Bahasa Inggris. Dari latar belakang yang sudah disebutkan tersebut, peneliti tertarik untuk melakukan penelitian berdasarkan situasi yand terjadi dengan judul “The Implementation of English Language as the Medium in Teaching Science to the Eight Graders of “Kelas Unggulan” at MTsN Kediri II”. Obyek penelitian dala penelitian ini adalah kompetensi gur ilmu pengetahuan dalam mengajar ilmu pengetahuan dengan menggunakan media Bahasa Inggris dan penerapannya dalam kegiatan belajar mengajar, masalah yang dihadapi guru ilmu pengetahuan selama kegiatan belajar mengajar di kelas delapan pada kelas unggulan MTsN Kediri II. Penelitian ini menggunakan penelitian deskripif kualitatif. Sedangkan subjek penelitian ini adalah kelas delapan pada kelas unggulan MTsN Kediri II.  Dalam pengumpulan data, peneliti menggunakan dua instrument, yaitu catatan observasi dan wawancara. Catatan observasi dilakukan untuk mengetahui kompetensi guru dalam mengembangkan kemampuan Bahasa Inggrisnya dalam proses belajar mengajar. Sedangkan wawancara dilakukan untuk mengetahui usaha-usaha guru yang telah dilakukan mengembangkan dan mengatasi masalah dalam penggunaan Bahasa Inggris sebagai media pembelajaran. Berdasarkan observasi yang telah dilakukan, peneliti menyimpulkan bahwa kompetensi guru dalam berbahasa inggris harus dikembangkan, terutama kosakata dan strukturnya. Sedangkan dari hasil wawancara, peneliti mengetahui bahwa guru ilmu pengetahuan kelas delapan pada kelas unggulan MTsN Kediri II selalu mengembangkan kompetensinya untuk mengatasi masalah dalam kegiatan belajar mengajar dengan cara mengikuti kursus Bahasa Inggris dan bekerjasama dengan sebuah tempat kursus Bahasa Inggris di Kampung Inggris, Pare. Karena masalah utama di dalam kelas adalah penggunaan Bahasa Inggris pada guru dan pemahaman para murid, maka materi ilmu pengetahuan diberikan dengan tetap menggunakan Bahasa Inggris sebagai medianya.   Keyword: kemampuan guru ilmu pengetahuan dalam  berbahasa inggris pada “kelas unggulan”     Abstract The term of “kelas unggulan”, which has been using teaching and learning in bahasa Indonesia is expected to perform effectively in English, to teach and acquire subject specific knowledge. It is one of challenges of teacher to face this reality. Good teacher’s competency and proficiency are needed and also overall declining standard of English. In the other hand it is not as simple as everyone think. They have to learn science using English as the medium of teaching and learning process whereas they also still learning English. Therefore, to understand the problem between the English teacher’s proficiency in mastery English language to teach science and the problem with the students understanding science in English. From the background above the researcher is interested in conducting research related to the situation, entitled “The Implementation of English Language as the Medium in Teaching Science to the Eight Graders of “Kelas Unggulan” at MTsN Kediri II”.The objective researches of this study are the science teacher competency in explaining science using English as the medium and the implementation of it, the problem faced by science teacher during teaching and learning process at Eight Graders in “kelas unggulan”  at MTsN Kediri II. This research use descriptive qualitative research while the subject is Eight Graders in “kelas unggulan” at MTsN Kediri II. In collecting data the researcher use two instruments, they are observation field note and interview. The observation field note is used to know the teacher competency in improving her English while teaching and learning process. And the interview is used to know the effort of the teacher in improving and also facing the problem in using English as the medium of instruction. Based on the observation, the researcher concludes that the teacher’s competency in English needs to be improved, especially in vocabularies and structure. Then, from the interview the researcher knows that the science teacher of Eight Graders in “kelas unggulan” at MTsN Kediri II always improve her competency just to overcome the problem in teaching and learning process by taking English course and doing cooperation with one of big English course in kampong English, Pare. Because the main problems in the class are the English teacher and the students understanding the science material given using English as the medium.   Keyword: Science Teacher’s competency in English in “kelas unggulan”         INTRODUCTION In the current era of globalization, English language plays an important role in international communication. All of the aspects on live, like technology, economic, politic, art, education etc. use English Language to communicate. For example, in technology, we all know that Yamaha product is made in Japan. But when we read the direction note of Yamaha product, we will find some technical term used is English Language. We also can find this case in economic aspect. In a free market, if there are two seller were not come from English doing transaction, they will decide to use English Language to talk each other. So that is not surprising that English Language is known as the international language. In fact some countries in this world use English language to be their national language, like Singapore. And the other countries use English language as their second language besides their own national language. But in our country, Indonesia is still included in a country that used English as the foreign language. So that way is aware of along with the globalization, the need for an English language skill is increasingly apparent. Therefore, it is not surprising that experts who are involved in education feel the need to provide intensive English lessons and continuing English education to the students in middle school even since the children were still sitting in elementary school. Secondary school level has a lot of junior and senior high school who offer to ​​pioneer international standard school and has a lot of schools that obtain international school status. The schools, which obtain international status, prepare their students for the future so that they can compete globally. Recognizing the importance of quality in education and a desire to catch up education set back with other countries, governments are encouraged to perform a major breakthrough in the field of education by designing international school. The government wants to promote educational programs in the country by turning national schools into international standard schools. Schools must make an effort to improve the quality of teaching  and teachers’ so that teachers’ quality will not be left behind. One of the schools that used international standard is MTsN Kediri II. MTsN Kediri II is a junior high school located in Kediri, East Java. It is included one of the favorite school in Kediri because almost of their students are smart enough and often be the winner in Olympiad. Since some years ago besides use national curriculum, this school also use international standard in their education. Because of that, they divided their class into some kinds of class. That is regular and kelas unggulan. Regular class is a class that use national curriculum in their teaching learning process. In other hand, the kelas unggulan is a class based on international standard. In kelas unggulan, some subjects such as Mathematics, Physics, Chemistry, Biology and Economics should be conducted in English or in a bilingual classroom learning environment. Bilingual education involves teaching academic content in two languages that is, in a native and secondary language with varying amounts of each language used in accordance with the program model. It is an educational approach that not only allows students to master academic content material, but also become proficient in two languages. It is an increasingly valuable skill in the early twenty-first century. It is the program which is intended to help children to keep up with their peers in subject such as math, science and social studies while they study English (Maria.  2001). The purpose of bilingual instruction is to increase academic achievement by using the student’s home language as the main communication medium. Bilingual instruction involves the use of two languages for instructions for part or all of the activities within the classroom. One language is English and the other language is the student’s home language that is the language spoken in the home. English is taught as a second language (James. 1988). Whether teaching a transitional class, a maintenance class, or a two ways bilingual class, the main difference from a monolingual class is the balance in using of the two languages. A second variable which affects the process of classroom organization is who teaches: a team, a teacher and an aide or one teacher alone. The third variable comes from the structure of the program model. There are the three major variations in classroom design which effect use of the two languages in a bilingual classroom. The first is The concurrent approach. In this approach A teacher using concurrent approach may use both languages interchangeable in a teaching content are or two teachers may team teach one lesson, each modeling a different language. The second is Pre-view-pre-view. It involves three steps in a team teaching situation: an introduction to the lesson is first given by one instructor in one language. The lesson is then presented in the other language by the second instructor. Review and reinforcement of the lesson takes place with the whole class using the two languages interchangeably in a concurrent approach, or the class is divided into dominant- language groups, led by each teacher separately. The last approach is Alternate language approach. Clearly structures a separation between the two languages. But for student is so limited proficiency in one of the language instruction, the language chosen for content area instruction can involve complex decision. In early stages, student should receive science lesson in their first language, but as they develop increasing proficiency in a second language, they may introduced to an increasing amount of science instruction in their second language. In the school that uses bilingual classroom system, the teacher must have two levels of language skills sufficient to be able to teach bilingual classes. But here, Sheelagh and Cristine (2007:6) divided two different types of teachers who have very different needs-the expertise of the language may not be shared by the content and vice versa. The first is Teacher of English who now has to teach another subject through English, rather than just teaching the language. And the other is subject teacher who now have to teach their subject through English. In this research, the researcher study about the second type of CLIL, that is subject teacher who now have to teach their subject through English, exactly science teacher. As Henderson and Wellington (2001:23) said that whilst research shows that one of major difficulties in learning science is learning the language of science, to experience the teaching and learning process would suggest that science teachers often consider the use of English in Biology lesson to be of marginal relevance to the learning of science (Henderson & Wellington. 2001:23) . They further add that in general, teachers who teach content do not recognize languages learning opportunities. If there is any effort at all in incorporating language development, they just concentrate on vocabulary development. John (1997:17) also said that some science teachers hope that the vocabulary of science will be recognized by the students as a key to its comprehension and appreciation. The teacher also must make avert efforts to interpret the nature of Biology lesson and the habits of learning Biology through its language or vocabulary. So we can conclude that science teacher must be competence in the both od the biology subject and English Language. The problem that we find in the reality is one cannot confirm that the subject teachers are able to become a bilingual who is ready to teach in two languages, Indonesian and English. How long does it take for a teacher to be ready to teach bilingual? In addition, the level of bilingual skills to a certain level is needed or that must be achieved by a teacher to be able to teach bilingual classes. Those subject teachers mostly of are not graduates of English Education, so maybe they will find difficulty in explaining their material in English. Therefore, the researcher wanted to conduct a research which intends to describe this phenomenon, the implementation of English language as the medium in teaching scdience at eight grade in “kelas Unggulan” at MTsN Kediri II. By conducting this study, the researcher has purpose to find out the implementation of English language in teaching science for eight graders and the teacher’s problems faced during classroom teaching and learning. By knowing the fact or the result of the study, the researcher hoped it will give meaningful contribution for The teacher who uses English, especially science teacher in “kelas unggulan” at MTsN Kediri II, can improve their ability in English and the quality of teaching and learning process, and also the result is expected to contribute development of teaching science by using English in “kelas unggulan” at MTsN Kediri. It is also expected to give meaningful contribution for Indonesian government. It is hoped that the government can consider about the programs to make Indonesia to become international level in education by using English in the process of teaching and learning process. According to the government it can make the education in Indonesia becomes better than before to the international level, people argue that it does not make better education in Indonesia, but it can make the education. Worse, since the students face more problems in their study due to their English ability is still poor. This phenomenon makes the researcher puts her interest to conduct research about it. The researcher questions: (1) how is the implementation of English language in teaching science for eight grader? (2) What problems do the teachers face during classroom teaching and learning? METHOD  Based on the research question and the objective of the study, the researcher used descriptive qualitative. Gay (1992) explained that Descriptive research involves collecting data in order to answer questions concerning the current statues of the subject of the study). In this study, the researcher described the implementation of English language as the medium in teaching scdience at eight grade in “kelas Unggulan” at MTsN Kediri II. She concentrated on the biology class activity and the biology teacher herself. In this research, the researcher chose descriptive qualitative as the research design based on two reasons, which are the objective of this study is to describe the implementation of English language as the medium in teaching scdience at eight grade in “kelas Unggulan” at MTsN Kediri II  and there is no treatment in this study. The subject of this study was the biology teacher of “kelas unggulan” in the 8th at MTsN Kediri II. The researcher chose the biology teacher because three reason. For the first, there are many students who favor Biology lesson. They like biology subject because biology is the easiest among Physic, Chemistry and Biology. The second reason is Biology lesson has a few things to be discussed about numerical, but it has many explanations. To give explanation a material in the Biology, teachers have to explain more. It means the teacher should make long sentences and more languages especially English. And the las reason is there is another language that is in Biology discussion, that is Latin language. Every plant or animals has Latin name, so students have to understand which Latin language is and which is English. This study is taken place in the 8th “kelas unggulan” and the teacher’s office. For the first day, the researcher observes the condition of the school and the Biology teacher’s when she was teaching in the classroom. The researcher recorded the teaching and learning process using vidio camera and tape recorder. And on the next day, the researcher came to the teacher office, actually on the biology teacher’s room to interview her. The interview was used to find the data form the Biology teacher. The purpose of this interview was also to find out the information about teacher’s efforts in developing the English language competency and to find out what the problems she usually faced during teaching and learning Biology by using English language. After knowing the problem, researcher could infer reasonable solution to solve the problems that were faced by the teacher. The data of this study is the condition of the biology class on 8th “kelas unggulan” in MTsN Kediri II. It included the teacher’s competence in giving oral instruction by using English language in her Biology science class, for example asking question in English, giving opinion, giving explanation in English and the students’ expression and utterance during teaching leraning activity. The other data is teachers’ answer in the form of utterances and expressions given by the teachers during interview sessions which are transcribed into written form. Besides the result of the researcher’s observation, the source of the data is the biology teacher herself. In this research, all of the data were collected by using observation field note and interview, were analyzed inductively in order to answer research questions stated in chapter one. The first step was accumulating the data recorded from the result of class observation and the answer of biology teachers through interview given. After all of data accumulated, the researcher studied the data well, she described them by classifying into the finding based on the research question. In addition, all the data were collected thoroughly as happened in the reality. RESULT AND DISCUSSION This chapter presents the result and discussion of the study as the answers for the research questions: (1) how is the implementation of English language in teaching science for eight grades? (2) What problems do the teachers face during classroom teaching and learning? Result Here, the researcher explained about the first and second day observation done by the researcher. On the first day observation, the researcher observed the condition on 8th kelas unggulan of MTsN Kediri II. In the first observation, the researcher noticed some facts happened in their teaching learning activities. Those are: (a) when the teacher explains the material by using English, her explanation is difficult to be understood by her students. (b) The science teacher of “kelas unggulan” in MTsN Kediri II does not always use English in explaining science material. (c) When the teacher wanted to explain about the material, she was consuming too much time to find the proper words makes the students waiting for long time, and also makes them getting bored. (d) the teacher often feels nervous and automatically, she cannot control her speaking, especially in pronunciation and vocabulary. In term of pronunciations, the researcher finds some words mispronounced words form, it was pronounced this word as like forem. In the word size, it is pronounced with sez. (e) The teacher thinks that the use of translation method make the students understands the material well. So that, in the most of the time she explains the material by using mother tongue then translate in to the English. (f) Because the teacher is fully aware that she is not teaching language at all but teaching science. So, she thinks that it’s not to importance to make her English perfect. It is better to teach real science rather than just focusing on the students’ English skil

    HUBUNGAN ANTARA SISTEM PENILAIAN KINERJA DENGAN KEPUASAN KARYAWAN DI PT NUSANTARA MEDIKA UTAMA RUMAH SAKIT PERKEBUNAN

    No full text
    Rumah sakit sebagai organisasi membutuhkan sumber daya manusia (SDM) untuk mendukung kelancaran dalam melaksanakan tugas organisasi. Peran karyawan (SDM) dalam organisasi sebagai penggerak utama, sehingga diperlukan sebuah sistem penilaian terhadap kinerja karyawan untuk mengembangkan hasil kualitas kerja mereka. Peranan organisasi untuk meningkatkan kinerja karyawan sangat tergantung dari sistem dalam standar penilaian kinerja karena sistem penilaian kinerja yang tidak lengkap dan menyeluruh akan mengakibatkan ketidakpuasan bagi karyawan akibatnya menurunkan motivasi kemudian menurunkan produktivitas kerja lebih lanjut menurunkan produktivitas organisasi. Berdasarkan data kinerja karyawan yang ada di divisi rekam medis PT Nusantara Medika Utama Rumah Sakit Perkebunan menunjukkan sebesar 80% karyawan memiliki nilai kinerja kategori cukup, untuk data kinerja di divisi administrasi keuangan dan SDM yang diketahui sebesar 65% belum mencapai standar. Dapat dikatakan bahwa pencapaian kinerja karyawan dari beberapa divisi tersebut belum memenuhi pencapaian standar kinerja yang ditetapkan rumah yakni ≥ 96% - 100% yang berarti istimewa. Menurut studi pendahuluan dengan menggunakan kuesioner kepada 25 karyawan di beberapa divisi mengenai sistem penilaian kinerja diperoleh hasil sebanyak 70% karyawan merasa tidak puas dengan hasil penilaian kinerjanya. Tujuan penelitian ini adalah untuk menganalisa hubungan sistem penilaian kinerja terhadap kepuasan karyawan di PT Nusantara Medika Utama Rumah Sakit Perkebunan. Jenis penelitian ini merupakan penelitian analitik. Lokasi penelitian dilakukan di PT Nusantara Medika Utama Rumah Sakit Perkebunan dengan populasi seluruh karyawan di Nusantara Medika Utama Rumah Sakit Perkebunan. Sampel dalam penelitian ini aseluruh karyawan tetap dan tidak tetap/PKWT sebanyak 159 responden, dengan teknik pengambilan sampel menggunakan Stratified Random Sampling. Pengumpulan data dilakukan dengan menggunakan kuesioner dan dianalisis menggunakan uji korelasi Spearman Rank dengan tingkat kepercayaan sebesar 95%. Hasil penelitian menunjukkan bahwa mayoritas responden menilai sistem penilaian kinerja masuk dalam kategori sedang (92%) dimana indikatornya terdiri dari tujuan penilaian kategori sedang (72%),waktu penilaian kategori sedang (83%), pihak yang menilai kategori sedang (77%),metode penilaian ketegori baik (67%),efektivitas ketegori baik (71%),implementasi penilaian kinerja kategori sedang (91%). Mayoritas karyawan merasa tidak puas (62%) dengan indikator otonomi dan pengendalian organisasi menyatakan tidak puas (57%),interaksi antar penyelenggara menyatakan puas (51%),prestise atau status menyatakan tidak puas (52%), sistem layanan kesehatan menyatakan tidak puas (65%). Terdapat hubungan antara sistem penilaian kinerja dengan kepuasan karyawan di PT Nusantara Medika Utama Rumah Sakit Perkebunan (p-value = 0,003)

    Konsep Pendidik Menurut Pemikiran Syekh Muhammad Bin Jamil Zainu Dalam Kitab Nida' Ila Murabbin Wal Murabbiyat

    No full text
    Tujuan dari penelitian ini adalah: 1) Untuk mengetahui konsep pendidik menurut pemikiran Syekh Muhammad Bin Jamil Zainu dalam kitab Nida’ Ila Murabbin Wal Murabbiyat, 2) Untuk mengetahui relevansinya relevansinya konsep pendidik menurut pemikiran Syekh Muhammad Bin Jamil Zainu dalam kitab Nida’ Ila Murabbin Wal Murabbiyat dalam proses pendidikan modern. Jenis penelitian ini kepustakaan (Library Research), yakni dengan membaca, menelaah dan mengkaji buku-buku dan sumber tulisan yang erat kaitannya dengan masalah yang dibahas. Subjek penelitian ini adalah subjek penelitiannya ialah konsep pendidik menurut pemikiran Syekh Muhammad Bin Jamil Zainu dalam kitab Nida’ Ila Murabbin Wal Murabbiyat. Metode pengumpulan data ini dengan studi dokumenter, yaitu studi yang dilakukan dengan mempelajari sumber-sumber informasi milik objek yang ditulis secara langsung tanpa perantara penulis lainnya. Hasil penelitian menunjukkan bahwa 1) Konsep pendidik menurut pemikiran Syekh Muhammad Bin Jamil Zainu Dalam Kitab Nida’ Ila Murabbin Wal Murabbiyat ialah a) Pentingnya pengajar yang sukses; b) Syarat-syarat pengajar yang sukses; c) Tugas pengajar; d) Kewajiban-kewajiban pengajar; e) Adab-adab pengajar; f) Pengajar seorang muslim adalah seorang da’i; g) Semangat pengajar; h) Metode-metode pengajaran yang sukses; 2) Relevansi Konsep Pendidik Menurut Pemikiran Syekh Muhammad Bin Jamil Zainu Dalam Kitab Nida’ Ila Murabbin Wal Murabbiyat Dalam Proses Pendidikan Modern ialah bahwa seorang pendidik harus dapat mengaplikasi metode pendidikan secara tepat, tidak hanya dilakukan pada saat berlangsung proses pendidikan atau proses belajar mengajar seorang guru saja, dan melatih fisik dan psikis peserta didik itu sendiri sebagai pengguna metode pendidikan. Nilai-nilai kependidikan yang digunakan oleh Muhammad bin Jamil Zainu dapat diterapkan dalam dunia pendidikan globa

    Penerapan Model Pembelajaran Kooperatif Tipe Student Teams Achievement Divisions (STAD) Untuk Meningkatkan Hasil Belajar Matematika siswa kelas IV MI Muhammadiyah Plus Suwaru Bandung Tulungagung Tahun ajaran 2013/2014

    Get PDF
    Kata Kunci: Kooperatif, Student Teams Achievement Divisions (STAD), Hasil Belajar Penelitian ini dilatarbelakangi oleh sebuah fenomena bahwa beberapa penyebab kurangnya hasil belajar yang optimal pada pembelajaran matematika siswa kelas IV MI Muhammadiyah Plus Suwaru Bandung Tulungagung Tahun ajaran 2013/2014 adalah adanya kesan yang kurang baik terhadap pelajaran matematika dan kurangnya motifasi siswa terhadap pelajaran matematika. Selain itu lebih menekankan pada aspek kognitif, yaitu pembahasan dengan teori – teori tentang masalah yang di hadapi, serta lebih menekankan bekerja secara individu. Oleh karena itu peneliti menggunakan Model pembelajaran Kooperatif Tipe Student Teams Achievement Divisions (STAD) dalam pembelajaran matematika pokok bahasan pecahan sebagai upaya meningkatkan hasil belajar matematika siswa. Rumusan masalah dalam penulisan skripsi ini adalah (1) Bagaimana penerapan model pembelajaran kooperatif tipe STAD pada mata pelajaran Matematika materi pecahan pada siswa kelas IV MI Muhammadiyah Plus Suwaru Bandung Tulungagung tahun ajaran 2013/2014? (2) Bagaimana pencapaian hasil belajar matematika materi pecahan siswa setelah mengikuti pembelajaran dengan menggunakan model pembelajaran kooperatif tipe STAD pada siswa kelas IV MI Muhammadiyah Plus Suwaru Bandung Tulungagung tahun ajaran 2013/2014? Adapun tujuan penelitian ini adalah (1) Mendeskripsikan penerapan model pembelajaran kooperatif tipe STAD pada mata pelajaran Matematika materi pecahan pada siswa kelas IV MI Muhammadiyah Plus Suwaru Bandung Tulungagung tahun ajaran 2013/2014. (2) Mendiskripsikan pencapaian hasil belajar siswa dengan menggunakan model pembelajaran kooperatif tipe STAD pada mata pelajaran Matematika materi pecahan pada siswa kelas IV MI Muhammadiyah Plus Suwaru Bandung Tulungagung tahun ajaran 2013/2014. Penelitian ini menggunakan Penelitian Tindakan Kelas (Class Action Research) sebanyak dua siklus. Setiap siklus terdiri dari empat tahap yaitu perencanaan, pelaksanaan, pengamatan dan refleksi. Sasaran penelitian ini adalah siswa kelas IV MI Muhammadiyah Plus Suwaru Bandung Tulungagung. Teknik yang digunakan dalam mengumpulkan data antara lain tes, observasi, wawancara, catatan lapangan dan dokumentasi. Analisis data yang digunakan mencakup reduksi data, penyajian data, dan penarikan kesimpulan. Indikator keberhasilan dalam penelitian ini apabila penguasaan materi siswa mencapai 75% dari tujuan yang seharusnya dicapai, dengan nilai KKM 70. xvii Dari hasil penelitian didapatkan bahwa hasil belajar siswa mengalami peningkatan dari siklus I ke siklus II yaitu, hasil belajar siswa siklus I (46,6 %), siklus II (86,7%). Dari data tersebut terlihat bahwa penerapan model pembelajaran kooperatif tipe STAD dapat meningkatkan hasil belajar matematika materi pecahan siswa kelas IV MI Muhammadiyah Plus Suwaru Bandung Tulungagung tahun ajaran 2013/2014

    Ragam Latihan dalam Buku Teks Siswa Kelas VII SMP

    No full text
    ABSTRAK   Penelitian ini dilakukan dengan tujuan mendeskripsikan keragaman bentuk evaluasi dalam latihan soal, keragaman tingkat latihan soal berdasarkan ranah kognitif Bloom dan kesesuaian latihan soal dengan KD yang perlu dicapai siswa berdasarkan kurikulum yang berberlaku untuk siswa kelas VII SMP. Penelitian kualitatif ini menggunakan pendekatan deskriptif. Hasil penelitian ini adalah (1) bentuk evaluasi dalam latihan soal pada buku teks siswa kelas VII SMP ditemukan dua jenis, yaitu tes dan nontes. Bentuk evaluasi jenis tes berupa bentuk latihan subjektif dan objektif. (2) Keragaman tingkat latihan soal berdasarkan ranah kognitif Bloom ditemukan enam tingkat kognitif yang didominasi tingkat kognitif C2 (memahami). (3) Kesesuaian latihan soal dengan KD yang perlu dicapai siswa berdasarkan kurikulum yang berlaku, ditemukan latihan soal yang sesuai, kurang sesuai dan tidak sesuai yang didominasi oleh latihan soal sesuai dengan KD

    Penggunaan Ragam Bahasa Gaul pada Kolom Komentar Tiktok @Fadiljaidi

    Get PDF
    Slang in 2021 is often used by the public, especially teenagers, this can happen due to the increasingly widespread use of social media. One of them is the Tik Tok application, during the pandemic this application was very popular with all Indonesian people. This study aims to: 1) Describe the forms of slang in @fadiljaidi's TikTok comment column 2) Describe the meaning of slang in @fadiljaidi's TikTok comment column. The data used is slang written in the comments column. Data Collection Techniques using the listen and note technique method, the author carefully reads the comments on the @fadiljaidi account and then records slang words as research data. The data analysis technique used an agih method, by explaining the language with the language itself. The results of this study are to classify slang into 3 forms: 1). Combining words: Nobar, Salfok, Gaptek, Mabar. 2) Reversing words with words: Ucul, Kane, Kuy, Ngab. 3) Phrases: Ngadi-ngadi, Ngakak banget, Bengek, Gemoy, Gumush, Receh, Wadoeh, Mengcap

    Pengaruh perilaku keberagamaan orang tua terhadap akhlak anak-anak : Studi kasus di keluarga muslim Desa Harjawinangun Kecamatan Balapulang, Kabupaten Tegal, Jawa Tengah

    Get PDF
    Perilaku keberagamaan merupakan keadaan yang ada pada diri seseorang yang mendorongnya untuk bertingkah laku sesuai dengan kadar ketaatannya terhadap agama dan segala tindakan perbuatan, sikap atau ucapan yang dilakukan seseorang yang ada kaitannya dengan agama yang semuanya dilakukan karena adanya kepercayaan kepada Tuhan, rasa bakti terhadap Tuhan, dalam menjalankan kewajiban-kewajibannya. Sedangkan Akhlak yaitu suatu ucapan, tindakan atau perbuatan seseorang pada kesehariannya tanpa ada suatu keterpaksaan atau tertekan pada dirinya. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui bentuk perilaku keberagamaan orangtua terhadap akhlak anak-anak, untuk mengetahui perilaku akhlak anak-anak, dan untuk mengetahui perilaku keberagamaan orangtua terhadap akhlak anak-anak yang berada di Keluarga Muslim desa Harjawinangun Kecamatan Balapulang Kabupaten Tegal. Metode dalam penelitian ini yaitu metode kuantitatif, Teknik dalam penelitian ini menggunakan teknik pengumpulan data angket/kuesioner dan dokumentasi dilakukan secara bersama-sama. Semua data dianalis dengan pendekatan kuantitatif dan analisis deskriptif. Berdasarkan penelitian menunjukan bahwa perilaku keberagamaan orang tua terhadap akhlak anak, berdasarkan hasil yang di peroleh dari angket kepada 30 orang responden menunjukan bahwa antara keberagamaan orang tua dengan akhak anak di Desa Harjawinangun RT 04 RW 01 Kecamatan Balapulang Kabupaten Tegal diketahui nilai F hitung = 0,002 dengan tingkat signifikasi sebesar 0,968 > 0,05, maka dapat disimpulkan bahwa tidak adanya pengaruh variabel X (Keberagamaan Orang tua) terhadap variabel Y (Akhlak Anak). Kata kunci : keberagamaan orang tua, akhlak ana

    البنية السردية في قصة القصيرة " التاج المسحور" لهدي مصطفى عبد الحميد دراسة أدبية فلاديمير ياكوفلفتيش بروب

    Get PDF
    مستخلص البحث اهتمام قصة القصيرة موجودة، خاصة في المحتوى الذي يكتبه المؤلف في شكل قصة السردية للاهتمام. تملك كل قصة السردية على الشخصيات متنوعا، التي تدورها السلوكيات التي تجعل القصة كاملة. يقدم كل المؤلف قصة السردية للاهتمام حتى تسهيل معنى القصة التي موجّها إلى القارئ. قصة القصيرة "التاج المسحور" لهادي مصطفى عبد الحميد هي قصة القصيرة عربية لها عقدة القصة التي سهل الفهم. تحتوي هذه القصة القصيرة على الإجراءات من شخصيات تجعل الباحثة المهتمة بدراسة السردية مع نظرية فلاديمير بروب. وأهداف البحث هي تحليل وظيفة الشخصية، تحليل توزيع الوظيفة، ومعرفة عقدة القصة، وتحليل عناصرالجوهرية في قصة القصيرة التاج المسحور. كان البحث هو النوعي و الوصفي. تستخدم مصدر البيانات الرئيسية هي قصة القصيرة "التاج المسحور" لهادي مصطفى عبد الحميد جملة هذه القصة القصيرة 41 صفحة نشرتها دار العارف. أما مصدر الثانوية هو كتب التي تتعلق بنية السردية عند فلاديمير بروب. تستخدم تقنية جمع البيانات هي قراءة و الكتابة. و أما تقنية تحليل البيانات هي تقليل البيانات، عرض البيانات، والإستنتاج البيانات. نتائج البحث على 19 وظائف.1). وظائف شخصيات هي الإبتعاد β، الحظر γ، التاجوز δ، الإستخبار ᴱ، الإخبار ζ، الخديعة ƞ، التوطؤ O، الإساءة A، الوساطة B، فعل المعاكس C، الرحيل ↑، الإنتقال المملك G، المعاركة أو جهد H، الإنتصار I، السمة J، الإصلاح K، العدوة ↓، التحول T، العقاب U. ولكن تتكرار في وظيفة الحظر γ، والتجاوز δ، والخداعة ƞ. ذلك وظائف توزيع في 5 بيئات الإجراءات. 2). توضخ عقدة القصة هي حبكة الأمامية حتي ليفهم القارئ في محتوى القصة. ABSTRACT Short stories must be considered its exclusivity, especially in the content written by the author in the form of interesting narrative stories. Each narrative story has a variety of characters played by behaviors that make a story complete. Each author presents an interesting narrative so that it can facilitate the meaning of the story that will be conveyed to the reader. At Taju Mashur by Hadi Mustafa Abdul Hamid is an Arabic short story that has an easy-to-understand story scheme. This short story contains actions from figures who makes researcher interested in studying his narrative with the narrative theory of Vladimir Propp. The purpose of this study is to analyze the distribution of functions and find out the scheme of movement of stories, analyze functions, and analyze instrinsic elements in the short story At taju Mashur.This research is qualitative-descriptive research. The primary data source is Hadi Must afa Abdul Hamid's At Taju Mashur Short Story and the secondary data source comes from Vladimir Propp's Morphology of the folktale book. Data collection techniques use reading and record techniques. Data analysis technique is through 3 stages, namely data reduction, data presentation, and conclusion drawing. The result of this study is 1). This short story has 19 functions of the perpetrator, namely the function of absence of β, obstruction of γ, violation of δ, reconnaissance E, delivery of information ζ, deceit ƞ, involvement O, crime A, mediation B, countermeasure C, departure ↑, transfer of space G, struggle H, victory I, Cap J, needs fulfilled K, back ↓, change of appearance T, punishment U. But in the barrier function, violation, deceit there are two actors who show the function and the distribution of the function into five action environments. 2). This story has a scheme that shows the movement of the story that leads with the forward plot. ABSTRAK Cerpen harus diperhatikan keeksistensiannya, terlebih pada isi dengan ditulis oleh pengarang dalam bentuk cerita naratif yang menarik. Setiap cerita naratif memiliki karakter yang bermacam-macam dengan diperankan oleh perilaku yang membentuk sebuah cerita menjadi utuh. Setiap pengarang cerita menyajikan narasi dengan menarik sehingga dapat memudahkan maksud dari cerita yanga kan disampaikan kepada pembaca. Cerpen At Taju Mashur karya Hadi Mustafa Abdul Hamid adalah cerita pendek Arab yang memiliki skema cerita yang mudah dipahami. Cerpen ini terdapat aksi-aksi dari tokoh yang menjadikan peneliti tertarik untuk menelaah narasinya dengan teori naratologi Vladimir Propp. Tujuan penelitian ini adalah untuk menganalisis distribusi fungsi dan mengetahui skema pergerakan cerita, menganalisis fungsi, dan menganalisis unsur instrinsik dalam cerpen At taju Mashur. Penelitian ini adalah penelitian kualitatif- deskriptif. Sumber data primer adalah Cerpen At Taju Mashur karya Hadi Must afa Abdul Hamid dan sumber data sekunder berasal dari buku Morphology of the folktale karya Vladimir Propp. Teknik pengumpulan data menggunakan teknik baca dan catat. Teknik analisis data melalui 3 tahap yakni reduksi data, penyajian data, dan penarikan kesimpulan. Hasil dari penelitian ini adalah 1). Cerpen ini memiliki 19 fungsi pelaku yakni fungsi ketidakhadiran β, penghalang γ, pelanggaran δ, pengintaian ᴱ, penyampaian informasi ζ, tipu daya ƞ, keterlibatan O, kejahatan A, mediasi B, tindakan balasan C, kepergian ↑, pemindahan ruang G, perjuangan H, kemenangan I, Cap J, kebutuhan terpenuhi K, kembali ↓, perubahan rupa T, hukuman U. Namun pada fungsi penghalang, pelanggaran, tipu daya terdapat dua pelaku yang menunjukkan fungsi tersebut dan distribusi fungsi ke dalam lima lingkungan aksi. 2). Cerita ini memiliki skema yang menunjukkan pergerakan cerita yang runtun dengan alur maju
    corecore